Our First Night
Mark Lee Oneshot Story written by awnyaii
Mevin dan Grace benar-benar pernah dijauhkan keadaan. Perpisahan yang pernah terjadi di antara mereka bukanlah kehendak mereka tapi itu harus terjadi. Harapan hidup bersama sudah pernah sirna. Perasaan itu belum sempat hilang karena yang hilang adalah kesempatannya. Bahkan jika sudah mulai saling merindu, keduanya tidak bisa mencari keberadaan satu sama lain, karena apa? Tak ada hak atas satu sama lain yang disematkan bagi mereka saat itu.
Mevin tengah duduk diam mengamati sebuah album foto yang ada di pangkuannya. Mevin masih ada di sana di perasaannya yang bertaut dengan Grace. Nyatanya perpisahan kala itu hanya sementara, kali ini ia tengah menikmati bulan madu bersama Grace di negeri kincir angin dimana sedang musim dingin di sana. Mevin sengaja membawa album foto yang berukuran tidak terlalu besar itu, album itu berisi foto-foto tunangan dan pernikahan Grace dan Mevin.
Grace pun mendekati Mevin sambil membawakan secangkir minuman hangat, “ini nanti diminum ya,” kata Grace sambil menaruh secangkir minuman hangat itu di meja. Saat menyadari Grace duduk di sebelahnya, Mevin pun menaruh album foto tadi dan tangannya ia gunakan untuk merangkul Grace.
“Makasih sayang.” Mevin mengecup kening Grace.
“Lagi lihat foto kita?” tanya Grace yang dibalas anggukan Mevin.
“Perjalanan kita sejauh ini, Tuhan baik sama kita ya, Vin.” Grace sedikit mendongak menatap suaminya itu.
“Iya, baik banget.”
Paras yang mendesis di setiap sadar Grace adalah paras Mevin dan begitu juga sebaliknya. Seuntai senyum terbentuk di paras Mevin kala netra mereka bersinggungan. Grace ingat betul bagaimana Mevin selalu ada di saat terendahnya, saat paling depresi dalam hidupnya, bahkan saat Grace hampir kehilangan dirinya dan nyawanya beberapa kali.
Kehidupan bak hutan belantara Mevin dan Grace babat habis dan berhasil lewati. Karena akan selalu ada jawaban doa untuk setiap hati yang lapang dan akan selalu ada jalan bagi siapapun yang berserah. Kali ini hanya ada Mevin, Grace dan pukul sepuluh malam. Udara dingin di luar tidak bisa menerobos masuk karena keduanya berbagi kehangatan dalam rengkuh penuh kasih.
Kepada siapa raga dan jiwa yang sudah terlalu banyak diinjak itu harus mengadu? Wanita cantik bernama Bernadetta Gracelline Courtney yang kerap disapa Grace itu terlalu banyak menahan luka kala sekitar menganggapnya sampah di waktu yang lalu. Kesabaran yang tumbuh dalam hatinya juga bisa gugur lalu hangus jadi abu.
“Grace, you must know that I love you so much, I have no regret after decide all those things.” Mevin meraih kedua tangan Grace lalu menyimpannya dalam satu genggaman keduanya kini saling berhadapan.
“Me too, hari ke depannya nggak mudah tapi jalani bareng, ya?” Tanpa kata, Mevin melayangkan pandangan yang sumringah itu lalu mendaratkan beberapa kecupan ke bibir wanita di depannya itu. Grace hanya mendengus kesal sambil memukul pelan lengan Mevin. Dengan lelaki yang Grace pilih, ia bersedia menjatuhkan hati sejatuh-jatuhnya dan ia dekap seorang yang ia sematkan sebutan suami itu.
“Grace, maaf karena aku, kamu harus dapet banyak kesulitan selama ini,” gumam Mevin yang masih memeluk wanitanya itu erat.
“Mevin,” Grace merenggangkan pelukan lalu meraih rahang Mevin dengan kedua telapak tangannya, lalu ia tatap lekat pria di depannya, “*Don’t be afraid, I’m okay. And thank you for loving and protect me.”
“I will stay here no matter what happened. I will always did, I love you,” balas Mevin. Maka saat itu juga Grace menarik rahang tegas Mevin dan perlahan menyatukan birai mereka dalam sebuah pagutan yang berlangsung lembut untuk beberapa detik, lalu selanjutnya mereka bergantian menghisap belah bibir atas dan bawah masing-masing dari mereka.
Mevin dan Grace tidak lagi sembunyikan luka dan nelangsa, tapi berbagi kasih dan sayang lewat afeksi candu sebuah lumatan yang ia berikan kepada Grace. Yang menyeruak adalah hanya kebahagiaan hati masing-masing yang ceritakan bagaimana hati tak akan pernah meninggalkan muaranya, untuk sesaat Mevin melepaskan pagutan dan mengusap bibir Grace lembut dengan ibu jarinya.
“I can’t believe that you are my wife right now, one of great blessing from God.” Diucapkannya kalimat itu dengan penuh perasaan yang menghantarkan mata Grace untuk berkaca-kaca. Mevin dan Grace bagai mengurung diri dalam gelap dan saat ini mereka tidak akan pernah kehilangan pagi. Ketidaksanggupan mencintai ditiadakan karena dua tubuh itu saling merengkuh lagi. Mevin bahkan menggendong Grace dan menidurkannya di tempat tidur, Mevin mematikan lampu ruangan dan hanya membiarkan lampu tidur yang menyala.
Salju yang turun di luar bawa suasana sendu tapi pagutan bibir Mevin dan Grace jadi candu. Setelah badai kehidupan, nyatanya keduanya tetap dan menetap. Jika Mevin bebas menuliskan apa saja di buku yang ia punya maka bebaslah juga ia menjaman setiap inchi tubuh Grace.
“Can we do it now? Can I make you mine as a wife, Grace?” tanya Mevin lembut, Grace mengangguk setuju tanda menerima. Kini, Mevin mengukung tubuh Grace dan kembali meraih rahang Grace, ditangkupnya lalu pada malam itu, keduanya saling meraja bahkan Grace kini menjelma menjadi sang juwita di malam yang selalu Mevin nantikan. Tak apa―mereka milik satu sama lain sekarang―begitu umpama dua birai yang bertaut mesra saling mencecap mesra dan berangsur liar malam itu.
Wanita itu mengalungkan tangan di leher Mevin dan memanggil nama sang tuan dalam desahnya. Walaupun ini bukan ciuman pertama mereka, namun bagi Mevin dan Grace inilah ciuman yang menghantarkan mereka menjadi milik satu sama lain dan paling bisa membuat diri mereka merasa saling memiliki dan menggenggam satu sama lain sebagai suami istri. Pagutan berlangsung lama hingga Mevin memberanikan diri menyentuh tiap inchi tubuh indah milik Grace dan membuat Grace sedikit meliukkan tubuhnya kala merasakan sengatan dari Mevin. Leher jenjang Grace jadi tempat peraduan lidah dan bibir Mevin saat itu. Benda licin dan hangat itu berhasil membuat Grace memejam dan melenguh, “Mevin―mmhh,”
Mevin yang mendengar bisikan desah itu semakin terbakar hingga kini kedua tangan Mevin memainkan dua gundukan kenyal di dada Grace yang masih terbalut kain. Hingga Grace merasa sedikit teringat akan suatu hal, ia menahan dada Mevin dan buru-buru mengubah posisinya menjadi duduk yang langsung membuat Mevin kebingungan.
“Grace, kenapa?” tanya Mevin heran, Grace hanya menggigit bibir guna menahan tangisnya yang ingin meledak. Ini memang ia lakukan dalam naungan pernikahan, namun ada satu hal lain yang mengganggu pikirannya.
“Inget waktu dulu, Brandon. I just feel like...traumatic maybe, but I know you are my husband right now. I’m sorry Mevin, I don’t mind to―” Mevin tidak menjawab namun langsung memeluk istrinya itu, “Just cry if you want, Maafin aku. Kalau belum mau nggak papa, sayang.” Tepukan dan usapan lembut Mevin berikan di punggung sang puan hingga ia mendengar isakan pelan dan pelukan erat serta tangan Grace yang meremat kaos yang Mevin kenakan.
Mevin merenggangkan pelukan, “Nggak papa, aku bantu pelan-pelan pergi dari ingatan itu, ya? Kalau kamu belum siap, kita bisa tunda our first night, I wouldn’t go further.”
Grace masih disana tertunduk dan menangis, Mevin hendak bangkit berniat mengambilkan segelas air hangat untuk Grace namun saat Mevin berdiri, tangan Grace menggenggam pergelangan tangan Mevin yang membuat pria itu menoleh ke arah Grace.
“Kenapa, sayang?”
“Disini aja, jangan pergi,” pinta Grace dengan matanya yang memerah dan basah. Mevin luluh, ia kembali duduk di sebelah sang puan lalu menggenggam tangan yang dingin itu.
“Sejak saat itu, sejak kejadian itu, aku ngerasa nggak pantas aja. Tubuhku udah dijamah sama orang lain dengan paksaan. Aku bahkan udah unvirgin sebelum menikah sama kamu.” Tatapan mata sendu Grace menusuk hati Mevin.
“You don’t need to say sorry dan merasa rendah, sekarang kamu istri aku, aku nggak peduli apa yang terjadi di masa lalu, itu juga karena aku nggak sempurna jagain kamu. Kejadian itu bikin aku sadar dan belajar banyak hal perihal menjaga kamu.” Mendengar perkataan yang meluluhkan dari seorang Mevin, Grace menjadi terharu, hatinya berdesir dan ia meneteskan air mata bahagia, sekali lagi, Mevin mengecup lama kening wanitanya sebelum mendekapnya hangat. Tak ada yang lebih indah dari perasaan dua anak adam yang saling berpadu serta berjanji untuk saling mencinta dan menjaga.
Perasaan dan hati Grace adalah sebenar-benarnya sesuatu yang ingin Mevin jaga dengan segala kesungguhan. Maka beristirahatlah sejenak Grace dan Mevin dalam balutan peluk yang mereka bagi berdua. Keinginan dari Mevin untuk menutup luka lama dan trauma Grace semakin menyeruak. Hingga saat Mevin rasa Grace sudah tenang, ia merenggangkan pelukan dan menghapus sisa jejak sungai air mata yang ada di pipi Grace dengan jarinya.
“Jangan nangis lagi, ya? If I can’t make you mine as a wife tonight there’s still another day for us, sayang.” Ucapan itu direspon gelengan oleh Grace dan sebuah lekuk simpul di bibirnya.
“Make me yours tonight, Mevin.” Grace berkata dengan nada penuh penekanan dan keyakinan. Mevin merespon kalimat itu dengan senyum sumringah sebelum detik selanjutnya cerita baru dibuka lagi dengan bibir keduanya yang menyatu dan lidah yang bertaut, tangan Mevin yang memeluk erat pinggang istrinya serta tangan Grace yang menekan tengkuk leher Mevin memperdalam ciumannya. Lumatan dan tempo yang mengalun untuk keduanya menjadi sebuah hal yang memancing keduanya lebih dalam lagi dalam afeksi candu malam itu.
Nyanyian malam itu dibentuk oleh perpaduan lenguh diantara keduanya yang menjelma bak syair indah yang terdengar bagi Mevin maupun Grace. Terdiamlah mereka berdua tanpa suara untuk sesaat karena saling menghisap belah bibir untuk waktu yang lama dengan hati yang masih berdesir hangat. Bibir dicecap, dilumat, dilepas dan dicecap lagi. Bergantian meraja belah bibir yang diikuti liukan lidah yang bertaut satu sama lain yang menginvasi rongga mulut satu sama lain.
“Mevin ahh,” mulut Grace yang biasa kalimat atau omelan kini merapalkan nama sang tuan dalam desahan merdu yang membuat Mevin ingin melakukan lebih lagi.
“Grace―mmhh,” Mevin juga sedikit melenguh saat sisi liar dari istrinya menyala kala Grace menggigit sedikit bibir bawah Mevin. Lumatan di bibir mereka menjadi agresif dan lebih menuntut. Lidah mereka saling beradu didalam rongga mulut Grace saat Grace memberi akses bagi Mevin untuk mengeksplor setiap inci rongga mulutnya dengan mulut yang sedikit terbuka, kesempatan itu langsung dimanfaatkan Mevin sebaik mungkin. Tak bisa lagi Grace sebut nama Mevin hanya sebagai prakata dalam kisahnya namun sudah menjadi bagian dari keseluruhan kisah yang akan mereka torehkan berdua. Mevin membawa sang puan berbaring dengan lembut, ia jaga benar tubuh mungil dalam dekapannya itu dengan hati-hati. Saat sudah mendapatkan posisi terbaik dan menurut mereka paling nyaman untuk saling mengukung, maka bergeraklah lagi birai dan lidah Mevin memimpin pemanasan kala itu.
Grace mendesah lirih karena ia hanya ingin desahannya didengar oleh Mevin. Keduanya adalah lakon utama malam ini. Sedangkan tangan dan jemari gagah Mevin menyapa paha dan menyibakkan lingerie yang berbentuk sexy dress milik Grace dan berhasil menjamah pusat tubuh Grace dari luar pantiesnya dan perlahan masuk ke dalam sana. Hingga sesaat Grace merasa tersentak saat jemari gagah itu menyapa lipatan lembab di bawah sana.
“Nggak akan sakit, boleh? Kalau enggak―”
“Boleh, sayang.” Grace memotong ucapan Mevin dengan tersenyum, keduanya kembali melumat dan lumatan kali ini Mevin berikan guna menahan sakit yang mungkin akan Grace rasakan nanti. Ketukan dan gesekan jari gagah Mevin merobohkan dinding pertahanan sang puan. Badan Grace menggelinjang dan meliuk saat mendapat perlakuan dari Mevin maka Mevin melakukannya dengan sangat hati-hati setelahnya. Kata-kata yang menyeruak bukanlah sumpah serapah seperti saat Grace bersama Brandon dulu, namun simfoni dalam desah, sedikit bising dan resah, namun biarlah didengar oleh mereka berdua saja yang memilih untuk saling merebah dengan selaksa cinta yang memenuhi diri mereka malam itu.
Grace tidak menahan pergerakan jemari Mevin karena ia yakin Mevin akan memperlakukannya dengan baik malam ini. Tidak ada potensi rasa sakit dan paksaan yang diciptakan, yang ada hanya potensi keintiman kebersamaan yang Mevin berusaha renda malam itu.
Suasana semakin panas dan perlahan namun pasti, Mevin mulai melucuti pakaian yang ia kenakan dan membantu Grace juga melepaskan dan menanggalkan helai kain yang masih menutupi tubuh Grace hingga tidak menyisakan satu helai pun.
Mevin kembali memainkan liang surgawi milik Grace dengan jarinya. Cahaya lampu kamar memang redup tapi dalam remang barang sejenak mereka tidak memejam, saling memandangi netra satu sama lain dengan posisi Mevin masih menindih sang puan namun ia sangga tubuhnya dengan kedua tumpuan sikunya. Grace dalam puisi Mevin atau Mevin dalam sajak yang Grace senandungkan adalah sama-sama indah.
“I love you wholeheartedly, Grace.” Mevin berucap dengan segala kesungguhannya. Grace mengangguk, “I love you more Graceandru Mevinio Adrian, my husband*.”
Mevin membuka paha Grace lebar, dikecupnya mulai dari lutut dan bagian dalam paha sang puan hingga Grace membusungkan dadanya saat merasa sedikit geli dan nikmat oleh kecupan Mevin itu. Namun, detik selanjutnya Grace kehilangan kata-kata saat pusat pertahanannya diserang lagi oleh Mevin, kini Mevin juga menyerang pusat tubuh Grace dengan lidahnya dengan memberikan gerakan nakal lidahnya menjilat, dengan lembut dan perlahan.
Sekejap, rasa mulai berkuasa, hanya ada cara memberi nikmat satu sama lain di sela otak keduanya. Cinta ang bersemayam di relung hati mereka adalah anugerah Tuhan yang sempurna bagi keduanya saat ini. Saat ia merasakan rambutnya diremas sebagai media menyalurkan nikmat barulah Mevin menusuk bahkan mengoyak dengan jarinya. Grace terengah di atas sana. Mevin mengangkat kaki Grace dan menaruh kedua kaki jenjang itu di pundaknya agar ia bisa leluasa menyerang tembok pertahanan Grace itu.
“Mevin―ahh, babe,”
Mevin menambah kecepatan jari dan lidahnya yang bergantian, Grace sibuk meremas surai Mevin guna menyalurkan nikmat. Detik jam beradu dengan detak jantung Grace dan Mevin yang semakin cepat karena terbakar libido malam itu. Mevin memang pelaku paling ulung dalam memperlakukan Grace dengan sebaik-baiknya. Ada sesuatu dalam diri Grace dan Mevin yang menyala saat itu, terlebih saat Mevin membawa Grace terbang ke awan-awan dengan perlakuannya yang memberikan sapaan dengan hisapan serta liukan lidah di pusat tubuh Grace hingga sang puan melenguh nyaring saat itu. Sungguh, ini yang pertama untuk Grace dan Mevin melakukannya dengan hati-hati dan sangat baik. Mevin singkirkan segala trauma masa lalu dan ketakutan Grace. Nama satu sama lain selama ini memang terpanjat dalam doa masing-masing setiap malam dan kini nama masing-masing terpatri dalam desah dan lenguh yang mereka senandungkan.
Dengan bantuan dua jari Mevin kini ia mengoyak liang surgawi Grace hingga basah mempermudah Mevin mempermainkan Grace habis-habisan. Tubuh Grace hanya untuk Mevin begitu juga sebaliknya. Lenguh nikmat yang Grace senandungkan itu akibat ulah Mevin, tatapan sayu yang Grace berikan itu juga hanya tertuju pada Mevin.
“Mevin―nghh,” Grace memejam sambil menggigit bibir. Sungguh Mevin membuat Grace kewalahan.
“You already wet, can we do it right now?”
“Yas, lemme service you tho, would you?” Mevin tidak pernah menduga Grace akan mengatakan itu, kini Mevin dan Grace mengatur napas mereka sebelum mengubah posisi tubuh mereka agar nyaman saat Grace memberikan pelayanannya kepada Mevin.
Pusaka milik Mevin kini sudah menegang meminta untuk diberi perlakuan lebih. Mevin menuntun tangan Grace agar mulai memainkan kejantanannya dan memberikan gerakan disana dengan tangannya. Benar saja, Grace memberikan gerakan mengurut naik turun perlahan, keduanya saling menatap namun gerakan itu bak sebuah candu hingga Mevin memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya. Tangannya meraih payudara Grace dan sesekali meremas menyalurkan nikmat. Grace iseng dengan memberi perlakuan bak menjilat es krim di pusaka Mevin, lidahnya bergerak memutar di bagian ujung pusaka itu dan bergerak sensual hingga sang tuan kini kewalahan dan mengerang.
“Grace―mmhh... ahh,” desah Mevin. Tatapan mata keduanya bertemu hingga Grace bisa melihat jelas wajah sayu itu namun lidahnya masih menari disana memainkan pusaka Mevin dengan liar hingga kini gerakan tangannya menjadi gerakan naik turun dengan cepat yang membuat sang tuan mengerang dan memekik nama Grace setiap detiknya.
“Hmpph, ahh,” pusaka besar milik Mevin kini memenuhi mulut Grace namun Grace tidak langsung berikan gerakan disana. Grace menahan pusaka tetap di dalam mulutnya namun lidahnya yang bergerak. Hal itu juga membuat Mevin gila, Grace ada dimanapun, di dalam desah, lenguh bahkan erangan saat Mevin memejam. Sunggu Grace menjelma sebagai pemeran utama malam ini.
Kini Grace mulai memaju mundurkan kepalanya bahkan memberi layanan deep throat kepada Mevin. “Slowly Grace, slowly,” racau Mevin di atas sana, Grace melirik sebentar sang tuan yang masih diraja nikmat kala itu. Mevin mulai menggigit bibirnya dan mengerang. Pusaka Mevin semakin mengetat di dalam mulut Grace. Hingga akhirnya Grace memberikan beberapa kali deep throat.
“Jangan―akh! Jangan cepet-cepet, sayang―sshh,” Mevin mengerang, Grace memperlambat gerakan kulumannya hingga Mevin mengerang lebih nyaring dan pusaka milik Mevin semakin menegang. Sebelum mencapai pelepasannya, Mevin meminta Grace berhenti sesaat.
“Let’s do it together,” kata Mevin yang disetujui oleh sang puan. Mevin juga berikan pujaan bagi sang puan dalam lisan dan afeksi. Ia jaga agar Grace tidak merasa sakit atau barang sekadar merintih kesakitan.
Dibaringkannya lagi sang puan dan dicumbunya dengan sepenuh hati hingga kini Grace mengalungkan tangannya di leher Mevin. Lumatan brutal berlangsung lebih lama hingga kedua tangan Mevin menjalankan tugasnya masing-masing dan lidah serta bibirnya memanjakan sang puan dengan sentuhan sensual yang ia buat. Dikecup dan sedikit dihisapnya bagian leher dan berpindah ke puncak payudara membuat sang empu merasakan gelenyar dalam dirinya sedari tadi.
Bergerak dalam muara asa namun tetap menyanjung satu sama lain dalam puja di lisan balutan lenguh dan desah malam itu. Bibir Grace menjadi muara bersemayamnya birai Mevin yang melahap habis ranum Grace saat itu. Saling memeluk hingga tak ada beda dan jarak, mungkin yang berbeda hanya nama yang disenandungkan―sedekat itu. Sisa tangis di pipi Grace kini berubah menjadi tempat beradunya butiran peluh yang mengalir. Balasan lembut pagutan berangsur brutal untuk sang puan diberikan Mevin di detik selanjutnya, pagutan dan lumatan serta sapaan lembut di birai Grace dengan lidahnya yang lihai membuat Grace membuka mulutnya memberikan akses kepada Mevin untuk melakukan lebih.
Mevin dan Grace membiarkan desiran lembut dalam diri mereka merajai tubuh keduanya, meraih puncak libido saat ciuman itu menjadi sangat menuntut lebih. Senandung merdu menjelma dalam desah Grace yang melantunkan nama Mevin. Pertukaran kasih mereka dilanjutkan dengan mengubah posisi mereka. Mevin merajainya, namun, untuk sesaat Mevin melepaskan pagutan dan menatap Grace serta berkata, “Boleh sekarang?”
“It isn’t a lust? Really? Pakai hati ya, Vin. Ya?” kata Grace dengan mata berkaca-kaca. Kalau berani bertaruh kini jantung Grace sudah berdegup tidak karuan.
“With love, Grace.I promise.” Mevin berkata dengan sungguh. Dikecupnya untuk beberapa lama pipi dan kening Grace, bahkan untuk menggilai seorang Grace tidak cukup untuk Mevin sampai di tahap ini. Ia bawa tangan Grace memeluknya.
“I’ll start, please hold even it will be a little bit hurts,” kata Mevin yang dibalas anggukan oleh Grace, kini Grace mulai memejam. Grace juga menarik dagu Mevin saat suaminya itu meminta ijin dan berikan persetujuan lewat kecup yang ia bagi. Dan detik selanjutnya sebuah sanjungan lewat lisan yang memekikkan nama Mevin bersamaan dengan beberapa kali gerakan hentakan oleh pusaka dan pinggul Mevin menusuk rungu pria itu dan saat itulah mereka berdua menyatukan segala sesuatunya malam itu yang sudah resmi dalam naungan pernikahan. Grace merasakan sesuatu memasuki tubuhnya, dahinya mengernyit, ia sedikit mengerang, sungguh sesuatu memenuhi tubuhnya dan seperti membelah tubuhnya saat ini. Grace kali ini sungguh menjadi milik Mevin, persetan dengan virgin atau unvirgin yang selalu orang-orang permasalahkan. Mevin adalah selapang-lapangnya dan sebenar-benarnya sosok yang mencintai Grace apapun keadaannya.
“Mevin―aakhh!” lenguhannya nyaring, bulir air mata keluar dari ekor mata Grace, Mevin yang menyadarinya langsung membelai pipi Grace lembut dan mengecup pipi wanitanya serta menghapus jejak air mata yang terbentuk disana.
“Ahh―sakit...” sungguh, kali ini Grace sudah milik Mevin sepenuhnya dan begitu juga sebaliknya.
“I’m yours, Mevin,” kata Grace berbisik dalam rintihnya. Mevin mengangguk, “You’re mine. Totally mine, not someone else’s, Grace.” Mendengar kalimat itu Grace benar-benar hampir menangis ada suatu perasaan yang meletup di dalam dirinya, tak bisa ia tahan, ia benar-benar bahagia seutuhnya.
Selanjutnya Mevin mulai bersiap bergerak lagi, “Sorry, babe. Nanti nggak sakit lagi kok, can I move?” tanya Mevin, Grace mengangguk―maka bersatulah mereka dalam perasaan yang ruah malam itu. Mevin dan Grace menghela napas panjang kala keduanya bersedia dan Mevin bersiap menyatukan kasih malam itu. Bahu dan leher Mevin menjadi media bagi Grace menyalurkan segenap rasa yang tertahan. Sungguh Mevin melakukannya dengan hati-hati.
Kejantanan Mevin memang sudah masuk dengan sempurna. Butuh waktu Grace menyesuaikan diri dengan rasa sakit dan perih yang berangsur nikmat ini kadang Mevin menggerakkan pelan pinggulnya serta mencumbu bibir ranum Grace lagi. Bibir serta lidah keduanya bertaut, pagutan tak lagi lembut―bertambah panas seiring naiknya gairah mereka berdua.
Grace menyembunyikan wajahnya di sela leher Mevin yang ia peluk. Kata pertama yang terucap adalah nama Mevin lalu diikuti permintaan agar suaminya mulai bergerak perlahan. Semilir hembus napas menerpa cuma-cuma, mereka saling menyapa sedangkan mulut mereka sibuk memuja nama satu sama lain. Bibir dan lidah sibuk dan saling beradu guna meredam sakit, di bawah sana Mevin bergerak sangat perlahan namun gerakannya bisa membuat Grace dimabuk gelora cinta malam itu. Kadang Grace minta jeda sejenak saat ia rasa napasnya mulai tersengal dan sesak maka Mevin beri jeda sejenak agar mereka bisa mengatur napas mereka.
Segenap cinta dan kasih sayang serta kenikmatan ditukar tanpa syarat dan tubuh kedunya saling meraja tanpa celah. Sesekali Mevin melirik dan menilik jam, Mevin kembalikan pandangannya kepada Grace, “Wanna play longer?” Grace hanya tersenyum dan membelai pipi suaminya itu lalu mengangguk, malam ini milik mereka.
Sesekali Mevin membisikkan kalimat “I love you,” bersamaan dengan gerakannya di sekujur tubuh Grace yang membuat hati Grace lebih berdesir lagi. Puncak payudara Grace kini juga sudah dijilat dan dimainkan dengan lihai tanpa henti. Sang puan resah, tubuhnya menggeliat namun tetap ada di dalam kukungan Mevin dan tubuh gagahnya. Lidah yang lincah dan basah itu membuat sebuah desiran di hati Grace. Kadang Grace juga memeluk erat kepala Mevin meminta sang tuan memperdalam dan merajainya. Kepala Grace mendongak mengikuti perlakuan sang tuan di bawah sana. Dalam beberapa detik, sang puan menarik napas panjang.
“I’m yours, Mevin. I’m yours, ahh.” Grace memejam dan melenguh bersamaan karena gerakan lidah naik turun dan memutar, puncak payudara Grace diperlakukan begitu hati-hati oleh Mevin, lembut dan mesra. Perasaan keduanya melebur jadi satu. Diusahakan Mevin agar luka di hati Grace tidak ada lagi yang menganga, akan ia tutup rapat semuanya. Permainan Mevin berangsur pelan tapi sangat nikmat, Grace bak diberi obat penenang dalam diri. Malam panjang terlewati dengan dua anak adam yang saling meraja itu.
Mevin juga tak lupa memutar posisi membiarkan sang puan berganti untuk merajai tubuhnya, tanpa melepas penyatuan di bawah sana. Saat ini pagutan yang dipinjam Grace dikembalikan sang tuan berkali lipat. Kehangatan tubuh keduanya bersatu menjadi sebuah gelenyar panas dan nikmat yang beradu bersamaan dengan geliat tubuh keduanya. Grace bergerak perlahan namun seduktif dan sensul. Tubuh Grace kini berada di atas tubuh Mevin untuk menjalankan pergerakannya, Grace menurunkan ciumannya ke belakang telinga Mevin dan menjilat serta mengulum bagian sensitif telinga Mevin. Grace bisa menjelma menjadi nyala lilin kecil bahkan bara api yang membakar Mevin malam itu. Mevin tidak melawan dan tidak mengelak karena Mevin juga hanyut dalam kenikmatan malam itu.
“Mhh,” lenguh Mevin.
“Ahh, Grace,” lenguh Mevin saat merasakan lidah hangat Grace menyentuh bagian belakang telinganya bahkan menjalari lehernya dengan menghisap dan mencumbu mesra. Tidak Grace biarkan satu inchi pun akan terlewati dari kuasa bibir dan lidahnya. Kobaran api cinta dalam senggama masih terlihat jelas saat sorot netra keduanya bertaut. Isi kepala Mevin yang rumit hanya Grace yang mampu mengerti. Biarlah malam ini mereka sematkan kepemilikan satu sama lain dalam buaian mesra tubuh yang saling meraja dan bersenggama serta menyebut nama masing-masing dalam puja desah karena mereka memang mendeklarasikan kepemilikan yang resmi dalam naungan pernikahan, “It is an amazing first night, forever will be the amazing one and I just want to do this with you Grace.” Bagaimana seorang wanita yang mendengar ucapan yang begitu tulus tidak luruh seluruh dalam hatinya? Mereka bisa menangis sedih namun juga bisa menangis bahagia. Dan untuk malam ini yang hadir adalah tangis bahagia dan senyum sumringah sehangat cahaya rembulan malam itu.
“Ngh—Grace, mhh,” sang tuan masih kembali memanggil lembut sang puan dalam desahnya saat Grace memainkan lidahnya dan mengecupi bagian leher dan dada Mevin, perut sempurna Mevin diraba dengan berbagai gerakan sensual oleh Grace. Keduanya saling menatap dan tersenyum sesaat. Ciuman kembali Grace daratkan di bibir Mevin selagi lidah mereka saling menginvasi satu sama lain, puing pertahanan Mevin juga runtuh kalau Grace memberi perlakuan seperti ini. Bibir rapal hangat bahasa cinta yang mereka tukar malam itu, lumatan brutal dan menuntut menjadi perantara keduanya lebih menyatu lagi. Rasanya Mevin tidak ingin hentikan malam itu begitu saja.
Akhirnya Mevin menidurkan Grace lagi. Grace yang kadang tidak hanya melingkarkan tangan di leher Mevin juga meremas sprei atau ujung bantalnya.
“Grace, you’re so tight, ahh!” Grace menggerakkan kepalanya resah ke kanan dan kiri menahan segala rasa yang ia rasakan dalam sekali serangan kali ini. Gerakan pinggul Mevin semakin cepat dan tak beraturan, napas keduanya tersengal.
“Ahh, Mevin!” pekik Grace saat ia merasakan sesuatu ingin keluar darinya.
“Grace, hold babe―nghh...” erangan Mevin dengan suara beratnya juga memecah hening kala itu. Maka beradulah desahan dan lenguhan mereka berdua malam itu.
“Together babe―” Mevin seakan memohon, maka pada detik selanjutnya,
“Ahhh!” Grace menjerit saat Mevin melepaskan cairan kasihnya di dalam rahim Grace. Tubuh Mevin belum melemas, ia menghentakan lagi pinggulnya dua kali agar menumpahkan semuanya di dalam sana dengan sempurna. Tubuh Mevin meremang, sesekali ia hentakkan kejantananya bermaksud menumpahkan lebih banyak cairan pada rahim Grace, maka usai merasakan semuanya sudah tertumpah disana, tubuh keduanya melemas. Mevin masih kecupi kening Grace karena tubuh Grace masih bergetar dan mengejang pasca pelepasan. Mevin menjatuhkan diri di sebelah Grace dan saling merengkuh menikmati rasa lelah usai kejar surga berdua. Keduanya saling mengecup bibir satu sama lain, menetralkan napas yang berderu dan membiarkan peluh membasahi keduanya.
“Semoga jadi Mevinio junior,” kata Mevin sambil merapatkan selimut lagi untuk menutupi tubuh keduanya. Mevin pun merasakan ada lengan yang melingkar di perutnya, Grace mendongakkan kepalanya agar bisa menatap Mevin.
“Me too, semoga jadi Mevin Grace junior.” Balasan ucapan oleh Grace itu mendapat respon kecupan di dahi Grace dari Mevin.
“Kamu yang terbaik, hadiah terbaik yang pernah ada, my everlasting love, i love you Gracelline,” balas Mevin. Maka bersatulah dalam dekap kedua anak adam yang diraja cinta berdua. Memikirkan bagaimana pertama kali mereka bertemu, bagaimana keduanya harus mengalami kejatuhan memang tidak ada habisnya tapi takdir dan rencana Sang Kuasa memang tidak pernah ada yang tahu. “Hold me tight, Grace until morning comes,” kata Mevin, maka Grace kabulkan untuk memeluk lebih dalam lagi raga suaminya itu. Tak ada yang lebih nyaman dibanding pelukan penuh ketenangan dan penerimaan dari orang yang kita sayang.
KLIK! Lampu dimatikan!
End Jangan lupa baca kisah Mevin dan Grace biar tau apa yang terjadi di masa lalu dan gimana perjuangan mereka okee! You can support me on https://trakteer.id/awnyaii/tip dengan akses trakteer kalian bisa dapet semua pw privatterku dan dapet notif update selama sebulan, jalur VIP ceritanya xixi thank you!