Prelude.
“Yes, I choose to live by my own flow. That's better.” —Yongsun.
Benar saja. Pendapat orang dewasa tentang remaja memang selalu dianggap benar dan akurat sebab mereka memanglah pernah menjadi muda. Mereka lebih dahulu melalui siklus perubahan dari kekanak-kanakan menjadi labil dan mudah marah. Menjadi lebih susah diatur karena keras kepala. Terkadang –atau sering– melukai orang lain karena tindakan cerobohnya. Dan tak jarang mengelak bahwa mereka salah.
Itu betulan terjadi di kebanyakan kasus. Jadi, tak perlu heran atau tak terima saat mereka berasumsi bahwa kamu tidak mengerti apapun di dunia ini. Since you will never know. Kata kebanyakan dari mereka.
Mimpi. Tak lagi menjadi kupasan penting pada setiap percakapan orangtua bersama anaknya. Itu bukan persoalan yang mengejutkan, terlebih bagi mahasiswi seperti Yongsun. Tak lagi menjadi masalah baginya, karena ia pun tak peduli. Namun satu hal yang membuatnya terkejut adalah, bahwa hanya dirinyalah di antara semua temannya yang belum pernah merasakan hangatnya dukungan dari seorang Ibu dan Ayah atas apa yang dia tekuni.
Itu, sedikit banyaknya membuat Yongsun merenung, atas kesalahan yang mungkin telah ia perbuat di kehidupan lalu. Namun ia tak pernah sekalipun mendapatkan jawaban tentang hal itu.
Layaknya kupu-kupu bersayap putih dimana keindahannya terkesan sederhana, Yongsun tetap mengepakkan sayapnya dan terbang mengarungi berbagai 'tidak' dan 'jangan'. Ia bersikeras, kesederhanaannya juga mampu ciptakan berlian yang mahal harganya jika dijual.
Yongsun pergi dan lantunkan surganya.
️***
She lives for her own self. She lives for her happiness. She lives for her beloved people, called Byulyi and family.
Dimana penyangga-penyangga terkokoh memilih setia kepada sosok terbaiknya, maka menjadi sebuah kemungkinan bagi perempuan itu untuk mendaki setinggi yang ia inginkan. Sebuah privilege baginya mempunyai orangtua terbaik di dunia, yang terus kirimkan dukungan di setiap hal, yang membuatnya berpikir betapa berharganya sosoknya di semesta ini.
Byulyi sebenarnya sadar akan hal itu. Tentang bagaimana orang lain mungkin tidak seberuntung dirinya—fakta bahwa orang-orang terdekatnya tak hanya sebatas hadir, namun juga menjadi pemasok kepercayaan dirinya. Pada akhirnya, menjadi orang yang penuh akan perhatian terhadap orang lain adalah pilihannya untuk bersikap, ekspresikan betapa berterimakasihnya ia karena miliki hidup yang cukup menyenangkan dengan sebarkan kebahagiaan.
Hanya saja, duri-duri di tangkai mawar yang indah tetaplah tajam dan menyakitkan jika melukainya.
Tak semua insan menganggap adanya sebagai anugerah. Semakin bertambah umurnya, semakin ia tahu bahwa dirinya tak se-istimewa itu, dan ia tidak peduli hal baik lainnya lagi, meski orangtuanya berkata sebaliknya.
Sebagian membencinya, sebagian percaya bahwa jiwanya hanya dipenuhi bualan. Juga dengan sengaja membuat dirinya merasa amat kecil di dunia yang bahkan sudah terlalu besar untuknya sejak lahir. Sejak ia lantunkan nyanyian pertamanya, tangisan.
Miserably. She stands in smile, friends with pain on the sly.
️ㅤ ️ㅤ ️ㅤ
@byulroom.



