Berry

Content warning : minor character death, mention accident, marriage life, kissing scene, fluff.

Setengah dari narasi adalah flashback yang sengaja dicetak miring. Beware some typos.


Malam itu, tepat setelah dua hari merilis lagu ciptaannya di SoundCloud pemuda itu menyesap tehnya didepan jendela kamarnya. Dengan kesunyian malam yang menyapa, tenang dan damai adalah sesuatu yang ia nantikan disela-sela kesibukannya. Ia adalah Kim Sunwoo, pemuda kelahiran April. Penyanyi solo yang terkenal dengan tangan terampilnya dalam menciptakan lagu. Selain suaranya yang merdu, bakat rapp yang ia milikipun sukses membuat siapapun yang mendengar lagu-lagu ciptaannya menjadi terpesona. Seringkali ia ditanyai tentang lagu yang ia ciptakan. Semuanya memiliki kisah tersendiri. Dari satu lagu ke lagu lain memiliki makna dan ceritanya sendiri. Dan Kim Sunwoo selalu sukses menyihirnya menjadi mahakarya yang selalu dipuja oleh banyak pasang telinga di dunia.

Pemudaㅡ ah bukan. Lelaki April itu mengaduk teh hangat ditangannya lalu menyesapnya sekali lagi. Matanya masih asyik menatap jendela, menyuguhkan pemandangan langit malam gelap dengan pepohonan dan suara jangkrik samar-samar. Sedikit kebisingan kota dan gemerlap lampu lampu mengintip seperti ingin menemaninya menghabiskan malam. Kim Sunwoo, yang kini berusia tiga puluh dua itu menutup buku yang tadi sempat ia baca. Tangannya melepas kacamata baca yang bertengger apik.

Malam tenang tanpa jadwal yang membuatnya pusing adalah impiannya. Dan Kim Sunwoo mengilhaminya dengan baik. Suara ketukan membuat kepalanya menoleh, netranya menangkap sosok gadis cantik menyembul dibalik pintu, “papa? Boleh masuk?”

Sunwoo tersenyum lalu mengangguk. Tangannya melambai menyuruh gadis cantik itu masuk mendekat ke arahnya. Gadis manis itu berlari kecil lalu memeluk Sunwoo erat sambil memekik senang. Perempuan cantik berumur tujuh dengan mata bulat lucu dan bibir merah itu naik keatas pangkuan Sunwoo. Dan dengan telaten Sunwoo melepas ikat rambut yang sudah tak beraturan itu. Tangannya dengan lihai mulai mengikat scrunchies merah muda itu, mengepang rambut hitam legam milik putrinya. Oh iya, kenalkan. Namanya Lee Hyejin, putri Kim Sunwoo. Berusia tujuh, ceria, manis dan banyak bicara. Dan hal yang ia paling banggakan adalah ia sudah masuk sekolah, katanya.

Papa pulang kok gak bilang-bilang?”

Kata nanny Hyejin les menggambar jadi papa tidak bilang, biar kejutan. Eh tapi sudah ketahuan”

Soalnya tadi daddy telfon Nanny katanya papa sudah pulang”

Sunwoo terkekeh saat anaknya mulai bercerita tentang kesehariannya hari ini. Dimulai ia membuka mata, mandi bersama mainan baru, makan nugget dan telur kesukaannya, pergi sekolah pagi-pagi karena belajar upacara, lalu mendapat bintang karena berhasil menjawab pertanyaan, lalu makan siang bersama teman-teman, pulang lalu pergi les menggambar dan akhirnya pulang ke rumah menyambut papa yang sedang senggang. Sunwoo sesekali tertawa saat Hyejin menceritakan hal-hal lucu yang ia alami sepanjang hari. Lalu Sunwoo berakhir memeluk putrinya, menggendongnya dan menidurkannya diatas kasur. “lalu? Kapan Hyejin yang cantik ini mandi?”

Gadis kecil itu mengerucutkan bibirnya, “boleh tidak sih tidak usah mandi, pa?”

Hyejin habis dari luar, bertemu banyak orang. Jangan tidak mandi, nanti ada virus dan kuman menempel, nanti Hyejin sakit. Memangnya mau sakit? Nanti tidak bisa sekolah lho...”

Ya sudah, ayo mandi sama papa?!! Mau ya ya ya ya? Aku bosan mandi sama nanny terus...”

Dan Sunwoo adalah orangtua yang tentu saja mengabulkan semua permintaan putri kecilnya.


Sunwoo dengan telaten menggosok punggung putrinya dengan pelan, menuangkan sabun dengan aroma favoritnya, tangan kecil putri manis itu tak hentinya bermain dengan busa-busa yang mengapung diatas air dalam bathtubnya. “Papa.. tadi kata Bu guru lagu baru papa bagus. Bu guru dan teman-temannya suka”

Oh ya? Wah terimakasih banyak gurunya Hyejin.. sebuah kehormatan lagu papa dipuji bagus begitu oleh orang lain”

Lagunya bagus, katanya. Papa keren!!!!!”

Sunwoo tersenyum lagi, lalu mengecup dahi putrinya, “soalnya papa bikinnya dengan hati.”

Ah ah ah!! Aku ingat! Kata Daddy kalau melakukan sesuatu, kita harus melakukannya dengan hati, nanti hasilnya akan sempurna. Iya kan pa?”

Eung! Betul! Kata Daddy, sukai apa yang kamu lakukan, lakukan apapun yang kamu sukai. Hasilnya pasti akan sempurna”

Sunwoo membilas tubuh anaknya yang telah selesai ia sabuni, lalu menggendongnya setelah terlilit handuk dengan rapi.

Papa papa! Ceritakan tentang kisah cinta papa!!! Kata Bu guru lagunya cocok untuk orang jatuh cinta!!”

Sunwoo mengernyit jahil lalu menjawil hidung putrinya main-main, “anak kecil kok cinta-cintaan?”

Kan yang cinta-cintaan papa, aku hanya mendengarkan!!!”

Sunwoo tertawa sambil mengoleskan minyak telon dan bedak bayi diatas perut dan punggung Hyejin, lalu membalutnya dengan piyama Cherry kesukaannya. Baik Sunwoo maupun Hyejin akhirnya naik keatas kasur, berbaring saling memeluk satu sama lain.

Lagu papa tentang jatuh cinta, iya?”

Hm.. bisa jadi. Itu lagu lama, seseorang membuatnya pas kami masih SMA dulu. Dan papa baru bisa menyelesaikannya sekarang setelah ingat nada-nadanya lagi..”

Hahaha papa sudah tua jadi pelupa!”

Sunwoo menggigit hidung kecil itu main-main lalu mengusap surai hitam putrinya, “jadi siapa yang cinta-cintaan pa? Papa atau teman papa yang bikin lagu itu pas sekolah?”

Sunwoo menatap putrinya. Tersenyum penuh teduh. Lalu matanya beralih menatap langit-langit kamarnya yang putih, “kita berdua. Kita berdua yang jatuh cinta. Dan lagu itu, dibuat saat kami berdua jatuh cinta”

Teman papa yang jatuh cinta itu orangnya seperti apa? Baik? Ataukah nakal seperti Youngjae? Ugh! Youngjae tadi siang menyembunyikan crayon biruku, aku sebal!!”

Haha, dia orangnya baik. Dia tidak pernah menyembunyikan apapun, tapi dia suka memberi. Dia memberikan semuanya yang papa mau, yang papa suka, yang papa impikan, bahkan tanpa papa minta”

Kim Sunwoo siang itu pergi ke perpustakaan. Dengan buku tebal dipelukannya, ia berjalan dengan tenang, headsetnya memutar lagu kesukaannya, sesekali ia bergumam dan bersiul mengikuti irama lagu. Ia buru-buru membuka sepatu saat memasuki ruang perpustakaan. Menebar senyum pada penjaga perpustakaan dan mendudukkan dirinya di kursi favoritnya. Sunwoo membuka buku tebal yang sedari tadi ia peluk, mengeluarkan buku catatan kecil dan pulpen dari dalamnya, tangannya membuka lembar demi lembar dan berhenti di lembaran yang ia cari. Matanya menelisik sekitar, kakinya sesekali mengetuk lantai, Sunwoo tengah menunggu.

Menunggu seseorang yang berjanji bertemu di perpustakaan. Seseorang yang akan mengajarkan materi kimia yang tak ia pahami. Setengah jam setelahnya, biasanya mereka akan pergi ke kantin bersama untuk makan siang lalu saat bel berbunyi, mereka akan kembali ke kelasnya masing-masing.

Bahu sunwoo ditepuk, membuatnya terkejut lalu ia menggigit jari telunjuk orang tadi karena sebal,kakak ih... Kaget tau” Lelaki itu tertawa kecil lalu meminta maaf. Ialah Bae Jacob. Pemuda tampan blasteran Korea Canada yang memiliki pesona luar biasa dalam dirinya. Si pintar yang menjadi ketua OSIS dua periode. Kekasih Kim Sunwoo tentunya.Maaf, maaf. Mana soalnya? Kita hanya punya tiga puluh menit sebelum makan. Menu makan siangnya favoriteku semua”

Dia pintar. Dia mengajarkan banyak hal pada papa. Belajar, bernyanyi, bermain gitar, membuat lagu, dan juga belajar sabar”

Sabar?”

Uhm! Sabar dan tidak mudah marah-marah”

Apa papa dan teman papa itu sering main bersama?”

Eum! Meskipun dia sibuk, dia akan selalu punya waktu untuk papa”

Menjadi seorang ketua OSIS, murid teladan dan juara kelas membuat Jacob menjadi orang yang tentunya menjadi primadona. Semua mata tertuju padanya. Semua puja, semua puji di dunia. Jacob adalah sempurna dalam kamus Kim Sunwoo. Yang selalu memberi dan menemani. Yang dengan senang hati mengabulkan semua permintaan Sunwoo. Bahkan disaat tersulit dan sesibuk apapun, Jacob akan selalu ada untuknya. Karena, Kim Sunwoo benci kesepian. Benci kesendirian. Benci tidak diperhatikan. Dan bertemu juga bisa menggenggam Jacob adalah anugerah yang sangat ia syukuri. “Kakak kalau sibuk gak usah iyain permintaan aku buat nonton, ih! Aku kan gak tahu kalau kakak ada rapat acara milad sekolah”Gak apa-apa, rapatnya bisa besok. Tapi nonton sama kamu, kapan lagi? Soalnya ini hari terakhir filmnya tayang kan?”

Pipi Sunwoo memerah karena malu. Demi Tuhan ia tak pernah menyangka akan menjadi prioritas manusia indah didepannya ini. Jacob mengusak rambutnya gemas lalu merangkulnya dengan hangat. Menyalurkan rasa tenang penuh sayang pada si aries. “Popcorn caramel?” Dan Sunwoo tak bisa tak mengangguk untuk tawaran itu.

Sepanjang film diputar di bioskop, sedikitpun tak pernah tangan Jacob melepas genggamannya dari tangan kiri Sunwoo. Sedikit membuat Sunwoo yang ingin memakan popcorn itu kewalahan, tapi Sunwoo tak keberatan. Selama itu Jacob, selama itu kekasihnya. Ia tak keberatan. Ada kepala yang bersandar di bahu luas pemuda Canada itu. Menghabiskan waktu bersama Sunwoo adalah hal sederhana yang Jacob sukai. Dan berada disamping Jacob, adalah hal yang sangat Sunwoo sukai.

Kalau papa ulangtahun, teman papa kasih kado apa?”

Kue. Kue cheesecake dengan berry diatasnya”

Wiiii! Pasti enak”

Sunwoo mengangguk. Rasanya sangat enak.

Hari itu, sehari sebelum ulangtahunnya, Sunwoo bertengkar dengan mama papanya yang tentu saja masih melarang dan agak tidak setuju dengan hobi yang Sunwoo tekuni, futsal. Mama dan papa Sunwoo lebih suka jika Sunwoo menghabiskan waktu membaca buku dan menonjol di bidang akademik. Bukannya main futsal, katanya. Sunwoo yang hancur dan berantakan itu berkali-kali menghubungi Jacob yang tak jua mengangkat telfonnya. Tentu tak jua membalas pesannya. Sunwoo membanting handphonenya keatas kasur lalu mengacak-acak rambutnya. Berjongkok dengan nafas memburu sebab amarah yang memuncak. Bermain futsal tidak ada salahnya. Namun mengapa mama papanya tidak pernah menyukainya. Maka setelah mengganti baju, Sunwoo segera meraih handphone dan kunci motornya. Pergi menerobos hujan deras menuju satu tempat. Rumah Jacob.

Pintu diketuk buru-buru, Jacob sedikit berlari saat itu, tangannya yang belepotan terigu dengan apron yang masih terikat apik di badannya itu menjadi saksi bagaimana sore itu saat hujan deras, kekasihnya berdiri diambang pintu rumahnya, memeluknya erat sambil menangis.ya Tuhan, Kim Sunwoo?” Dan sore itu, dengan hujan yang masih menjadi saksi, Kim Sunwoo menumpahkan letupan emosi yang bertengger didadanya, menangis diatas kursi sambil memeluk Jacob yang senang hati mendengarkannya.

Kakak lagi apa? Kok belepotan hiks terigu?” Setelah tangisnya mereda, Sunwoo mulai memperhatikan bagaimana belepotannya kekasih yang tengah memeluknya ini. Lalu Jacob tertawa kecil, “kakak tadinya lagi bikin kue buat ulangtahun kamu besok. Eh malah kamu kesini... Gagal deh surprisenya”

Mata Sunwoo berbinar seketika dengan tatapan penuh excited. Sunwoo bertepuk tangan sambil menggoyangkan badannya, meminta pada Jacob untuk ikut serta membuat kue ulangtahunnya esok hari, dan Jacob adalah ia yang akan selalu bilang iya pada semua permintaan Sunwoo

Tepungnya 120gram ya? Lalu gula pasirnya juga. Jangan kelebihan jangan juga kurang!” Sunwoo mengangguk, dengan hati-hati dan telaten memasukkan terigu pada takaran yang tersedia diatas counter. Saat berhitung, tangan mereka akan bersentuhan sebab tak sengaja saling meraih benda di seberang satu sama lain. Hanya bersentuhan ujung jari saja, rasanya cukup untuk memupuk rasa cinta yang ada dalam hatinya, sebab Jacob selalu memberikan semua yang Sunwoo mau dan cari meskipun tanpa ia minta. Cinta yang Jacob hantarkan adalah cinta yang ideal yang selama ini Sunwoo cari. Menjadi anak tunggal dari keluarga Kim yang membuatnya sedikit memiliki tekanan dan ekspektasi tinggi keluarganya membuat Sunwoo mencari apa yang ia rasa kurang. Dan saat bertemu dengan Jacob, kakak pembimbingnya saat MOS dulu, adalah bentuk dan cara Tuhan mengabulkan doa Sunwoo. Tepat delapan bulan setelah berkenalan lebih jauh, Jacob memintanya untuk menjadi kekasihnya yang tentu saja diiyakan Sunwoo karena si aries yakin bahwa ia lebih dulu jatuh cinta pada pemuda Canada itu. Jacob dengan usil mengoleskan tepung pada pipi dan hidung Sunwoo yang membuatnya mengerang tak terima. Akhirnya perang tepung pun tak terelakkan. Meskipun demikian, Sunwoo tak keberatan. Sebab ada peluk hangat dan tawa yang merdu ditelinganya yang diberikan Jacob untuk mengisi harinya yang cukup kelabu.

Dan malam itu Sunwoo memilih tidak pulang. Dengan piyama biru navy yang ia kenakan tentunya milik Jacob, ia tertidur dengan pulas saat jam dinding menunjuk angka sembilan lebih lima belas. Tepat ketika Jacob selesai menyanyikan lagu pengantar tidur untuknya. Jacob yang memang tinggal sendiri itu mematikan lampu kamar. Menaikkan selimut hingga dagu dan memeluk kekasih kecilnya. Jika Sunwoo adalah orang yang setiap hari merasa dipenuhi cinta sebab memiliki Jacob di setiap harinya, maka Jacob adalah ia yang dipenuhi rasa syukur sebab bisa memiliki Sunwoo untuk mewarnai hari-harinya yang terkesan biasa saja

Papa dan teman papa itu pernah bertengkar? Siapa yang nangis? Aku selalu nangis kalau Youngjae menjahiliku lalu ia tidak mau mengaku dan akhirnya kami bertengkar”

Sunwoo tersenyum. Matanya menerawang, kembali ke masa lalu. Masa-masa sekolah yang penuh warna. Ia hanya pernah sekali bertengkar dengan Jacob selama menjalin hubungan, itu membuktikan betapa Jacob selalu sabar dan selalu menghormati setiap keputusan yang diambil untuk satu masalah yang menerjang keduanya.

Pernah. Papa pernah bertengkar. Itu saat teman papa akan pergi kuliah, dia harusnya kuliah di dekat rumah orangtuanya, dapat beasiswa karena dia pintar. Tapi dia menolaknya”

“Kenapa ditolak??? Ugh! Aku selalu ingin sekolah di Amerika biar keren! Terus kata Daddy, nanti aku bisa bicara bahasa Inggris dengan lancar”

“Aku gak mau, Sunwoo” “Jangan bilang karena aku, kak?” Jacob tertawa kecut. Ia membuang muka. Ia memang menolak beasiswa untuk berkuliah di Canada karenanya. Jacob kira semuanya akan berjalan dengan mudah, dimana Sunwoo akan menghargai apa yang ia ambil. Karena tak hanya dirinya yang menjadi alasan Jacob menetap di Korea. Jacob juga memiliki cita-cita menjadi idola disini. Sudah berkali-kali ia mengikuti audisi untuk masuk agensi. Berkali-kali juga Jacob berjuang untuk mimpinya, mimpi yang selama ini sedikit ia pendam karena tak percaya diri. Namun mengapa Sunwoo tak juga mengerti?

Kak, kalau cuma karena aku, aku bakalan marah kak...”

“Apa salahnya tetap tinggal buat cita-citaku, Sunwoo? Kamu punya mimpikan? Begitu juga aku! Aku masih mau disini, masih mau mencoba, masih mau kejar yang aku mau, masih mau kejar mimpi aku... Kenapa kamu gak ngerti? Ini bukan cuma tentang aku yang mau tetap sama kamu, ini tentang aku juga... Stop bujuk aku untuk kembali ke Canada dan ambil beasiswa itu”

Tapi kak, kampus itu kampus bagus. Kakak bisa masuk jurusan impian kakak juga disana, dapat beasiswa juga...”

Buat apa? Buat apa kalau kakak pergi kesana dapat fasilitas bagus impian semua orang kalau gak satupun mimpi kakak akan terwujud dari sana? Disini juga banyak kampus bagus dengan jurusan yang aku mau Sunwoo... Jangan bilang, kamu juga berpikir kalau aku mau jadi idol itu cuma lelucon? Cuma omong kosong gak berarti dan mimpi yang ketinggian di siang bolong kayak mamaku bilang?”

Sunwoo membolakan matanya lalu segera meraih tangan Jacob yang mengepal karena emosi itu, sunwoo menggeleng ribut dengan matanya yang berkaca-kaca, “bukan kak. Aku gak bermaksud seperti itu... Aku cuma mau yang terbaik buat kakak. Maksud akuㅡ”

Genggaman tangan itu dilepas, lalu tubuhnya ditarik dalam peluk. Peluk yang erat dengan bahunya yang mulai basah sebab Jacob menangis tersedu. Keluarganya selalu bilang menjadi idol adalah lelucon. Mereka tak pernah menganggap Jacob serius, tak jua mendukungnya. Bagi mereka menjadi idol buang-buang waktu. Dan Jacob selalu terluka. Sunwoo tidak pernah bermaksud sekalipun menganggap remeh mimpi kekasihnya, ia hanya ingin Jacob mendapatkan semuanya. Tanpa kurang. Tanpa harus ada rasa sakit. Maka ia berpikir kembali ke Canada dan mulai berkuliah disana akan membuatnya mudah. “Maaf kak, aku gak bermaksud begitu... Aku minta maaf”

Malam itu, setelah emosi mereda, ada Sunwoo yang terbaring diatas kasur dengan Jacob menindihnya, menumpukan badannya diatas siku agar tak membebani pemuda ariesnya. Pagutan yang belum juga terlepas sejak beberapa menit lalu, keduanya saling menyesap. Keduanya saling mengecup. Keduanya berbagi rasa manis penuh cinta. Sunwoo menangkup rahang Jacob, mengejar cium yang memabukkan. Yang membuatnya mabuk dan tak berdaya. Jacob mengelus pinggang ramping Sunwoo yang berbaring diatas ranjangnya. Dan saat Sunwoo melenguh, Jacob menghentikan semuanya sebelum terlalu jauh. Meskipun Sunwoo merengek, namun Jacob dengan tegas berkata tidak. Jacob tak pernah ingin merusak Sunwoo.

“Kak, yang di laci kakak itu apa? Kertas yang dicoret-coret?”

Kamu mau tahu?”

Lalu Jacob dengan senang hati mengeluarkan kertas yang disebut sunwoo tadi, menarik gitar yang tergeletak disamping meja, tangannya mulai memetik. Memainkan melodi yang indah ditelinga Sunwoo. Malam itu, dibawah sinar bintang yang menghampar dilangit, Sunwoo sekali lagi dibuat jatuh cinta. Suara merdu yang lembut milik Jacob itu membuat hatinya hangat. Dengan lirik lagu yang indah yang menyapa gendang telinganya sukses membuat Sunwoo dipenuhi kupu-kupu, tak hentinya tersenyum dan kagum. Jacob dan seluruh kesempurnaannya. Jacob dengan seluruh apa yang ada pada dirinya. Mengapa rasanya mereka sangat serasi? Mengapa rasanya sangat bahagia saat orang-orang bilang iri atas hubungan mereka. Cinta monyet yang terasa seperti ceri. Manis dan sedikit asam. Yang wangi pepohonan dan bunga-bunga. Cinta monyet yang terasa sangat menyenangkan. Rasa cinta yang selalu tumbuh setiap harinya. Yang akan selalu terasa begitu penuh seperti tak ada hari esok. Jacob dengan pribadinya yang hangat dan teduh. Dengan senyum manis dan perlakuannya yang membuat Sunwoo gila. Mencium bibir Jacob adalah hal yang paling manis yang pernah ia coba. Dan memeluk tubuh kekasihnya adalah candu baginya. Sebab ia selalu temukan rasa aman dan hangat yang senantiasa dihantarkan. Hanya dengan menatap matanya, ia sukses jatuh cinta. Tak usah bermain kertas gunting batu tentang siapa yang lebih mencintai siapa, sebab cinta monyet yang terasa seperti ceri ini adalah milik keduanya. Yang mampu memberi warna pada hati dan hari pribadi yang kesepian. Jacob selalu bilang, Sunwoo juga akan merasakannya. Bagaimana indah untuk saling mencintai. Bagaimana bahagia karena saling memiliki. Dan Sunwoo akan menyetujuinya.

Saat gitar berhenti dipetik dan mulut yang berhenti bernyanyi, Jacob menggenggam kedua tangan Sunwoo, dibawanya dalam satu kecupan lama, diusapnya jemari itu dengan ibu jarinya, matanya dengan pasti menatap ke arah netra Sunwoo, “I love you. I really do. Aku bisa beliin kamu cheesecake kesukaan kamu tiap hari, bisa bikinin kamu makanan-makanan lain yang bikin kamu seneng, aku akan senang hati melakukan semuanya untuk kamu. Asal kamu tidak pergi. Jangan pernah pergi. Gak ada satupun sebelumnya orang yang bisa bikin aku kayak gini, nyaman, senang, bahagia, dicintai selain sama kamu, woo. Kamu isi kekosongan aku, begitu juga aku akan selalu berusaha isi kekosongan kamu.”

Ayo saling mencintai selamanya, kak. Kayak lirik lagu kakak tadi. Saling mencintai seperti tak ada hari esok. Aku janji akan selalu ada disini buat kakak, karena kakak juga begitu”


Sunwoo menghapus air matanya yang tak sengaja meluncur bebas dari pelupuk matanya. Menarik napas dalam sambil menggigit bibirnya gemetar, Hyejin disampingnya sontak khawatir, “papa kenapa?”

Sunwoo menggeleng cepat lalu menunduk, membiarkan air mata itu makin deras meluncur. Ada cinta yang selalu sama rasanya, bersemi didalam hatinya. Ada cinta yang sangat berarti yang dengan mudah membuatnya kuat dan bahagia. Cinta dari pemuda Canada yang selalu ada disisinya. Yang tak pernah memberikan rasa kecewa disetiap harinya.

Papa gapapa. Cuma sedikit kangen aja”

Kangen? Sama teman papa yang ini?”

Sunwoo mengangguk, masih menunduk dengan air mata yang mengalir. Punggung tangannya ia gigit sebentar lalu Sunwoo berusaha meredam emosinya. Demi Tuhan Sunwoo sangat merindukan rasa cinta yang ia sebut cinta monyet yang rasanya seperti ceri ini.

Teman yang papa ceritain ini pacar papa ya?? Soalnya ceritanya romantis seperti Cinderella”

Sunwoo mau tak mau sedikit tertawa karenanya. Ia mengambil tisu dan mengusap wajahnya yang basah karena air mata menganak sungai secara tak sengaja.

Dia cintanya papa. Lebih dari sekedar pacar.”

Apa orangnya Daddy? Papa daritadi tidak bilang siapa namanya...”

Sunwoo tersenyum teduh, “Nah, sudah malam dan papa sudah menceritakan bagaimana lagu baru papa ini. Sekarang saatnya Putri Hyejin untuk tidur atau nanti digigit monster hijau”. Hyejin meringkuk ketakutan lalu mulai memejamkan matanya seiring dengan lagu tidur dan tepukan halus di pantatnya. Dengan kantuk yang menyerangnya dengan luar biasa, Hyejin masih mencoba membuka matanya, “Papa...”

“Yes sweetie?”

“Apa cinta yang papa ceritakan itu Daddy? Kalian saling mencintai, kalian pelukan, ciuman juga seperti yang papa ceritakan tadi... Apa itu Daddy?”

Sunwoo mengecup dahi putrinya lama lalu menggeleng, “bukan sayang, bukan Daddy..”

Hyejin mendongak menatap papanya, mengernyit heran. Mengapa kisah cinta yang manis yang sedari tadi diceritakan oleh papanya tidak seperti Cinderella yang akhirnya menikah dan hidup bahagia selamanya?

Kenapa bukan Daddy? Kenapa papa tidak menikah dengan teman papa itu seperti Cinderella yang menikahi pangeran, pa?”

Sunwoo tersenyum lalu memeluk tubuh putrinya. “Sebab Tuhan lebih sayang sama dia daripada papa.”

Hyejin menutup mulutnya, “Dia sudah di surga, pa?”

Dan Sunwoo tak bisa tak menangis. Ia mengangguk, sekali, dua kali, berkali-kali ia mengangguk. Dan Hyejin memberi peluk dengan tangan kecilnya, “tak apa, papa. Teman papa akan bahagia bersama nenek di surga”

Amin... Amin.. dia harus bahagia, di surga.”


Menceritakan Jacob pada putrinya malam ini membuka luka yang teramat pedih baginya. Bagaimana hari itu seharusnya Jacob yang pergi tanda tangan kontrak dengan agensi barunya harus berakhir tragis. Bagaimana hari yang bahagia itu menjadi kelabu sebab kecelakaan yang merenggut nyawanya. Hari itu, hari dimana Sunwoo dinyatakan lulus masuk universitas yang sama dengan Jacob. Sunwoo yang bahagia bisa satu kampus dengan kekasihnya, mencoba menelponnya berulang kali, sejak chat terakhir yang mengatakan bahwa ia akan pergi ke agensi untuk tanda tangan kontrak, sejak saat itu juga Jacob menghilang. Dan kabar yang dihantarkan oleh kepolisian saat itu benar-benar menghancurkan segalanya. Mimpinya, mimpi kekasihnya.

Cintanya pergi. Tak bisa digenggam lagi. Cintanya pergi. Menemui Tuhan yang jauh disana.

Sunwoo menunduk, meremas dadanya yang sesak. Kehilangan Jacob beberapa tahun lalu, rasa sakitnya selalu terasa seperti baru. Kehilangan Jacob beberapa tahun lalu, terasa seperti kenyataan pahit bangun dari mimpi buruk sepanjang hidupnya.

Melihat suaminya menangis di dapur, lelaki yang baru saja pulang lembur itu menarik dasinya sembarangan lalu menghela napas berat. Bagaimana ia menangkap getaran hebat di bahu suaminya dan isakan penuh pilu yang samar-samar terdengar yang sengaja ia tahan. Hyunjae, suami Sunwoo melangkah pelan-pelan. Merengkuh tubuh kecil itu dalam pelukan hangatnya yang tulus dan nyaman, “hei sweetheart...”

Sunwoo terperanjat kaget. Matanya menangkap suaminya tersenyum manis setelah mengecup pipinya lembut. “Kenapa jam segini nangis di dapur, hm? Ada fans yang ganggu kamu? Atau berantem lagi sama agensi?”

Sunwoo membalikkan badannya membalas pelukan hangat suaminya, menumpahkan segala tangis yang sedari tadi ia tahan. Tangis Sunwoo mengencang, dengan dada yang masih ia remat, “Kakak... Kakak...”

Hyunjae mencium puncak kepalanya lama, beralih mencium dahinya dan mengusap punggungnya, “it's okay. Everything will be fine. Jacob pasti bahagia disana, sayang. Dia pasti bangga liat kamu udah ada di titik ini. Bahagia, berkeluarga, punya anak yang cantik dan baik. Kamu juga idol dan pencipta lagu yang keren. Jacob pasti bangga”

Hyunjae adalah kakak tingkat Sunwoo di kampusnya, yang jatuh cinta pada sosoknya yang terbilang pendiam dan tak terlalu mau bergabung dengan banyak orang. Semakin didekati, semakin Hyunjae sadar betapa ada luka besar perih yang menganga tak kasat mata di seluruh hatinya. Ditinggalkan oleh orang yang sangat dicintainya dihari yang paling membahagiakan bagi keduanya.

Hyunjae sedikit mengenal Jacob, ketua OSIS yang beberapa kali bertemu dengannya saat turnamen antar sekolah. Hyunjae yang juga aktif OSIS, tentu mengenal siapa Jacob dari sekolah sebelah. Pribadi yang juga ditaruhi puja dan kagum olehnya.

Maaf kak, hiks. Harusnya... Harusnya aku...”

No need to say sorry. Kamu gak perlu merasa gak enak karena kita sudah menikah tapi kamu masih menangisi Jacob. Aku dan Jacob, dua-duanya ada dihati kamu, meskipun tempatnya berbeda. It's okay. Nangis aja gak apa-apa. Aku ada disini buat kamu. Selamanya. Aku disini”

Dan Sunwoo bersyukur. Kembali menemukan cinta yang terasa seperti beri. Manis dan asam sebagai pelengkap hidupnya.

Sunwoo bersyukur, ada Jacob di masa lalunya. Dan ada Hyunjae yang akan selalu ada untuknya. Selamanya.

Fin