<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>@yovela43</title>
    <link>https://wordsmith.social/atyovela43/</link>
    <description></description>
    <pubDate>Tue, 08 Sep 2026 19:59:40 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Akhir dan Awal Dari Kisah</title>
      <link>https://wordsmith.social/atyovela43/akhir-dan-awal-dari-kisah</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#34;Kak, jalan-jalan dulu sebentar ya? ya, ya, ya,&#34; ajak Litha sambil merengek seperti anak kecil yang ngin dibelikan mainan.&#xA;&#xA;    Nathan hanya menghela napas pelan mendengarkan adiknya ini terus merengek ingin jalan-jalan sehabis fisioterapi. Litha sudah menjalani fisioterapi kurang lebih selama 3 bulan, kemajuannya ia bisa melangkahkan kakinya perlahan. Litha belum bisa sepenuhnya berjalan sempurna seperti sedia kala. !--more--&#xA;&#xA;    Setelah keluar dari ruang fisioterapi, Litha duduk di kursi roda yang di dorong oleh Nathan dan menuju taman seperti permintaan Litha. &#xA;&#xA;    &#34;Kak, susu pisang enak kayaknya,&#34; ucap Litha.&#xA;&#xA;    &#34;Mau?&#34;&#xA;&#xA;    Litha tersenyun lebar dan mengangguk semangat.&#xA;&#xA;    Nathan memposisikan kursi roda Litha di sebelah bangku taman yang menghadap pemandangan jalan, Litha melihat mobil dan motor berlalu lalang. &#34;Tunggu sebentar disini ya, Kakak ke minimarket dulu.&#34; Nathan pun meninggalkan Litha sendirian.&#xA;&#xA;    Litha mengeluarkan buku catatan kecilnya yang selalu ia bawa, ia menuliskan semua kenangan yang tiba-tiba muncul dalam ingatannya, terlebih lagi ingatan itu tentang Nahen. Saat ini ia sedang menuliskan sepucuk surat yang berisi perasaannya.&#xA;&#xA;    Teruntuk Nahen,&#xA;&#xA;    Halo, Nahen. Apa kabar? Aku harap kamu baik-baik saja disana.&#xA;&#xA;    Aku tahu kisah kita hanya bisa dibilang halusinasi.&#xA;&#xA;    Tapi kata Kakak, kisah kita itu bukan mimpi atau halusinasi, selama 1 tahun koma ternyata aku masuk ke dalam dunia pararel dan kakak tahu itu. Kakak mencoba menjemputku, karena itu dia bisa tidur dalam waktu lama, Mamah bilang kakak kebo karena bisa tidur selama 48 jam.&#xA;&#xA;    Hanya saja kakak gagal untuk menjemputku dan meninggal di dunia itu, karena jalan kehidupannya seperti sudah di gariskan dan Kakak tidak bisa melawan. Jadi Kakak menungguku di taman bunga lily. Taman itu adalah perbatasan antara dua dunia ini. Setiap hari Kakak mampir kesana bolak balik antara dunia ini dan dunia itu. Menunggu kisahku di dunia tersebut berakhir.&#xA;&#xA;    Nahen, kamu tahu? Kalau kamu adalah deretan kisah paling indah yang diberikan oleh Tuhan. Berkat kamu, aku bahagia di dunia itu.&#xA;&#xA;    Terserah orang-orang mau menganggapku gila, tapi aku merasakan kamu nyata.&#xA;&#xA;    Nahen, aku selalu minta pada Tuhan semoga kita bisa dipertemukan kembali.&#xA;&#xA;    Aku merindukanmu,&#xA;&#xA;    Maaf,&#xA;    Maaf karena aku pergi meninggalkanmu sendiri disana.&#xA;&#xA;    Gue cuma bisa bilang maaf, Nahen. Maaf gue gak bisa bantu lo buat wujudin daftar terakhir wishlist lo.&#xA;&#xA;    &#34;Permisi Mba, saya boleh duduk disini?&#34; ucap seorang Lelaki tiba-tiba meminta izin pada Litha untuk duduk di bangku sebelah kursi rodanya.&#xA;&#xA;    Litha tersentak kaget membuat kegiatannya terhenti, ia menanggahkan kepalanya, matanya terbelak melihat sosok lelaki yang berada di depannya saat ini, lelaki itu seperti seseorang yang ia kenal, dia memakai baju rumah sakit yang dibalut dengan blazer berwarna hitam. Artinya dia juga pasien rumah sakit ini.&#xA;&#xA;    &#34;Nahen?&#34; ceplosnya.&#xA;&#xA;    &#34;Loh, Mba kenal sama saya?&#34;&#xA;&#xA;    &#34;Oh, dia gak inget gue kah? Atau ini beda orang?&#34; batinnya.&#xA;&#xA;    &#34;Maaf, kayanya gue salah orang,&#34; jawab Litha.&#xA;&#xA;    &#34;Kamu sendirian?&#34;&#xA;&#xA;    &#34;Engga, tadi sama Kakak, cuma Kakak lagi ke minimarket dulu,&#34;&#xA;&#xA;    &#34;Kamu kenapa bisa duduk di kursi roda?&#34; tanya Lelaki itu. &#34;Maaf kalau lancang, jika risih tidak perlu dijawab,&#34; lanjutnya.&#xA;&#xA;    &#34;Oh ini, gue habis apa namanya itu lupa pokonya ngelatih otot biar gak kaku gitu, gue koma selama satu tahun dan baru bangun tiga bulan lalu. Gue udah ikutin saran dokter tapi gue belum bisa lancar banget jalannya, kalau kamu?&#34;&#xA;&#xA;    &#34;Oh, fisioterapi ya? Kebetulan juga saya baru bangun dari koma beberapa hari yang lalu, bisa kebetulan gitu ya,&#34; jelasnya.&#xA;&#xA;    &#34;Koma berapa lama?&#34;&#xA;&#xA;    &#34;Katanya enam bulan, tapi saya ngerasa cuma tidur biasa delapan jam,&#34; jawab Nahen.&#xA;&#xA;    Litha mengangguk. &#34;Ohh, tapi kok bisa langsung jalan?&#34; tanya Litha kebingungan.&#xA;&#xA;    Lelaki itu mengedikkan bahunya. &#34;Saya juga gak tahu, mukjizat Tuhan kali,&#34;&#xA;&#xA;    &#34;Oh iya, kita belum kenalan. Kenalin nama saya Nahen, kamu?&#34; lanjut Lelaki itu sambil mengulurkan tangannya mengajak Litha untuk berjabat tangan.&#xA;&#xA;    Litha menjabat tangan Nahen. &#34;Gue Lalitha panggil aja Litha, anyway gue boleh tahu nama lengkap lo?&#34;&#xA;&#xA;    &#34;Nahen Kairav Lakeswara,&#34;&#xA;&#xA;    Litha membeku seketika setelah mendengar jawaban dari Nahen. Benar-benar tidak bisa di percaya, ini sangat sama dengan Nahen yang Litha kenal di dunia sana. &#34;Apa iya dia juga masuk ke dunia itu? tapi perbedaan waktunya jauh sekali.&#34; pikirnya.&#xA;&#xA;    &#34;Kamu kenapa?&#34; tanya Nahen.&#xA;&#xA;    &#34;Oh, hehe gak apa-apa,&#34; jawab Litha kikuk.&#xA;&#xA;    Nahen tersenyum ke arah Litha, manis sangat manis senyumnya. &#34;Kamu mau menjadi teman saya?&#34;&#xA;&#xA;   Litha membalas senyum tersebut. &#34;Mau,&#34; jawabnya.&#xA;&#xA;    Ada kebahagian tersendiri di hati Litha. Mungkin ini adalah jawaban dari doa-doa yang ia panjatkan selama ini kepada Tuhan.&#xA;&#xA;   Mereka berdua mengobrol dengan asik di taman itu sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang menghembus ke arah mereka. Hembusan angin membuat rambut Litha bergerak kesana kemari, menunjukan sisi wajahnya yang sedang tertawa. Nahen tersenyum tipis, ia terpana melihat kecantikan Litha.&#xA;&#xA;    &#34;Cantik, selalu cantik, perempuan saya,&#34; batin Nahen dalam hati.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;@Yovela43]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>“Kak, jalan-jalan dulu sebentar ya? ya, ya, ya,” ajak Litha sambil merengek seperti anak kecil yang ngin dibelikan mainan.</p>

<p>    Nathan hanya menghela napas pelan mendengarkan adiknya ini terus merengek ingin jalan-jalan sehabis <em>fisioterapi</em>. Litha sudah menjalani <em>fisioterapi</em> kurang lebih selama 3 bulan, kemajuannya ia bisa melangkahkan kakinya perlahan. Litha belum bisa sepenuhnya berjalan sempurna seperti sedia kala. </p>

<p>    Setelah keluar dari ruang <em>fisioterapi</em>, Litha duduk di kursi roda yang di dorong oleh Nathan dan menuju taman seperti permintaan Litha.</p>

<p>    “Kak, susu pisang enak kayaknya,” ucap Litha.</p>

<p>    “Mau?”</p>

<p>    Litha tersenyun lebar dan mengangguk semangat.</p>

<p>    Nathan memposisikan kursi roda Litha di sebelah bangku taman yang menghadap pemandangan jalan, Litha melihat mobil dan motor berlalu lalang. “Tunggu sebentar disini ya, Kakak ke minimarket dulu.” Nathan pun meninggalkan Litha sendirian.</p>

<p>    Litha mengeluarkan buku catatan kecilnya yang selalu ia bawa, ia menuliskan semua kenangan yang tiba-tiba muncul dalam ingatannya, terlebih lagi ingatan itu tentang Nahen. Saat ini ia sedang menuliskan sepucuk surat yang berisi perasaannya.</p>

<p>    <em>Teruntuk Nahen,</em></p>

<p>    <em>Halo, Nahen. Apa kabar? Aku harap kamu baik-baik saja disana.</em></p>

<p>    <em>Aku tahu kisah kita hanya bisa dibilang halusinasi.</em></p>

<p>    <em>Tapi kata Kakak, kisah kita itu bukan mimpi atau halusinasi, selama 1 tahun koma ternyata aku masuk ke dalam dunia pararel dan kakak tahu itu. Kakak mencoba menjemputku, karena itu dia bisa tidur dalam waktu lama, Mamah bilang kakak kebo karena bisa tidur selama 48 jam.</em></p>

<p>    <em>Hanya saja kakak gagal untuk menjemputku dan meninggal di dunia itu, karena jalan kehidupannya seperti sudah di gariskan dan Kakak tidak bisa melawan. Jadi Kakak menungguku di taman bunga lily. Taman itu adalah perbatasan antara dua dunia ini. Setiap hari Kakak mampir kesana bolak balik antara dunia ini dan dunia itu. Menunggu kisahku di dunia tersebut berakhir.</em></p>

<p>    <em>Nahen, kamu tahu? Kalau kamu adalah deretan kisah paling indah yang diberikan oleh Tuhan. Berkat kamu, aku bahagia di dunia itu.</em></p>

<p>    <em>Terserah orang-orang mau menganggapku gila, tapi aku merasakan kamu nyata.</em></p>

<p>    <em>Nahen, aku selalu minta pada Tuhan semoga kita bisa dipertemukan kembali.</em></p>

<p>    <em>Aku merindukanmu,</em></p>

<p>    <em>Maaf,</em>
    <em>Maaf karena aku pergi meninggalkanmu sendiri disana.</em></p>

<p>    <em>Gue cuma bisa bilang maaf, Nahen. Maaf gue gak bisa bantu lo buat wujudin daftar terakhir wishlist lo.</em></p>

<p>    “Permisi Mba, saya boleh duduk disini?” ucap seorang Lelaki tiba-tiba meminta izin pada Litha untuk duduk di bangku sebelah kursi rodanya.</p>

<p>    Litha tersentak kaget membuat kegiatannya terhenti, ia menanggahkan kepalanya, matanya terbelak melihat sosok lelaki yang berada di depannya saat ini, lelaki itu seperti seseorang yang ia kenal, dia memakai baju rumah sakit yang dibalut dengan <em>blazer</em> berwarna hitam. Artinya dia juga pasien rumah sakit ini.</p>

<p>    “Nahen?” ceplosnya.</p>

<p>    “Loh, Mba kenal sama saya?”</p>

<p>    <em>“Oh, dia gak inget gue kah? Atau ini beda orang?”</em> batinnya.</p>

<p>    “Maaf, kayanya gue salah orang,” jawab Litha.</p>

<p>    “Kamu sendirian?”</p>

<p>    “Engga, tadi sama Kakak, cuma Kakak lagi ke minimarket dulu,”</p>

<p>    “Kamu kenapa bisa duduk di kursi roda?” tanya Lelaki itu. “Maaf kalau lancang, jika risih tidak perlu dijawab,” lanjutnya.</p>

<p>    “Oh ini, gue habis apa namanya itu lupa pokonya ngelatih otot biar gak kaku gitu, gue koma selama satu tahun dan baru bangun tiga bulan lalu. Gue udah ikutin saran dokter tapi gue belum bisa lancar banget jalannya, kalau kamu?”</p>

<p>    “Oh, <em>fisioterapi</em> ya? Kebetulan juga saya baru bangun dari koma beberapa hari yang lalu, bisa kebetulan gitu ya,” jelasnya.</p>

<p>    “Koma berapa lama?”</p>

<p>    “Katanya enam bulan, tapi saya ngerasa cuma tidur biasa delapan jam,” jawab Nahen.</p>

<p>    Litha mengangguk. “Ohh, tapi kok bisa langsung jalan?” tanya Litha kebingungan.</p>

<p>    Lelaki itu mengedikkan bahunya. “Saya juga gak tahu, mukjizat Tuhan kali,”</p>

<p>    “Oh iya, kita belum kenalan. Kenalin nama saya Nahen, kamu?” lanjut Lelaki itu sambil mengulurkan tangannya mengajak Litha untuk berjabat tangan.</p>

<p>    Litha menjabat tangan Nahen. “Gue Lalitha panggil aja Litha, <em>anyway</em> gue boleh tahu nama lengkap lo?”</p>

<p>    “Nahen Kairav Lakeswara,”</p>

<p>    Litha membeku seketika setelah mendengar jawaban dari Nahen. Benar-benar tidak bisa di percaya, ini sangat sama dengan Nahen yang Litha kenal di dunia sana. <em>“Apa iya dia juga masuk ke dunia itu? tapi perbedaan waktunya jauh sekali.”</em> pikirnya.</p>

<p>    “Kamu kenapa?” tanya Nahen.</p>

<p>    “Oh, hehe gak apa-apa,” jawab Litha kikuk.</p>

<p>    Nahen tersenyum ke arah Litha, manis sangat manis senyumnya. “Kamu mau menjadi teman saya?”</p>

<p>   Litha membalas senyum tersebut. “Mau,” jawabnya.</p>

<p>    Ada kebahagian tersendiri di hati Litha. Mungkin ini adalah jawaban dari doa-doa yang ia panjatkan selama ini kepada Tuhan.</p>

<p>   Mereka berdua mengobrol dengan asik di taman itu sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang menghembus ke arah mereka. Hembusan angin membuat rambut Litha bergerak kesana kemari, menunjukan sisi wajahnya yang sedang tertawa. Nahen tersenyum tipis, ia terpana melihat kecantikan Litha.</p>

<p>    <em>“Cantik, selalu cantik, perempuan saya,”</em> batin Nahen dalam hati.</p>

<hr>

<p>@Yovela43</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://wordsmith.social/atyovela43/akhir-dan-awal-dari-kisah</guid>
      <pubDate>Sun, 31 Oct 2021 11:17:06 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Bride to be</title>
      <link>https://wordsmith.social/atyovela43/bride-to-be</link>
      <description>&lt;![CDATA[Setelah Shane menjemput Litha yang sedang berada di kantornya. Shane segera melajukan mobilnya menuju toko kue, tapi sebenarnya toko kue itu adalah alasan. Shane, Jovan, Arkasa, dan Aurellio telah merencanakan sesuatu. !--more--&#xA;&#xA;    Sisi lain Nahen dan teman-temannya pun sedang dalam perjalanan menuju tempat yang sudah ditentukan.&#xA;&#xA;    Litha mengernyit, bertanya heran pada Shane &#34;Kok hotel, Sha? Katanya kita mau ke toko kue?&#34;&#xA;&#xA;    &#34;Duh gue.. ini, a-anu, ada janjian sama orang disini.&#34; jawab Shane dengan terbata.&#xA;&#xA;    Shane mulai memarkirkan mobilnya, sekali-kali Shane melihat sekitar parkiran untuk memastikan Jovan sudah sampai atau belum. Ia mengehla napas lega melihat mobil Jovan ada di deretan ke 3 dari ujung parkiran di depan tempat ia memarkirkan mobilnya.&#xA;&#xA;    &#34;Ikut yuk, temenin,&#34; ajak Shane.&#xA;&#xA;    &#34;Gak, gue disini aja, sebentar kan?&#34;&#xA;&#xA;    &#34;Gue takut, Tha, ayo,&#34;&#xA;&#xA;    Litha memutar bola matanya malas. &#34;Ya sudah.&#34;&#xA;&#xA;    Akhirnya mereka pun turun, memasuki lobby hotel, menaiki lift untuk sampai di kamar yang telah di tentukan.&#xA;&#xA;    &#34;Sha, lo janjian sama siapa dah ko ke kamar? Lo open BO ya anjir?&#34;&#xA;&#xA;    &#34;Sembarangan kalo ngomong! Pake bismillah dulu kek,&#34;&#xA;&#xA;    &#34;Bismillahirahmanirahim, lo open BO?&#34;&#xA;&#xA;    Shane menggelengkan kepalanya. &#34;Tha, gue tahu kalau gue udah gak suci lagi, tapi gue gak mungkin sampe open BO&#34; lirih Shane.&#xA;&#xA;    Litha menepuk mulutnya, sungguh mulutnya saat ini sangat kejam. Bisa-bisanya ia mengeluarkan kata-kata itu. &#34;Sha, sorry gue asal nyeplos.&#34;&#xA;&#xA;    &#34;Gak apa-apa, santai kali,&#34;&#xA;&#xA;    Tak disadari mereka akhirnya sampai di kamar tersebut. Kamar nomor 403. Shane mengetuk pintu kamar itu dan tak lama kemudian pintunya terbuka memperlihatkan 4 lelaki di dalam sana.&#xA;&#xA;    &#34;Selamat datang tuan putri, silahkan masuk&#34; ucap Jovan sambil membungkukan badannya sedikit mempersilahkan mereka masuk bak tuan putri.&#xA;&#xA;    Shane dan Litha masuk ke dalam kamar tersebut. Kamar itu telah terhias dengan dekorasi ala bride party dengan banyak balon gold dan putih yang terbang menyentuh atap kamar.&#xA;&#xA;    Bride to be&#xA;&#xA;    Begitulah tulisan yang terlihat di tengah-tengah tembok kamar.&#xA;&#xA;    &#34;Kalian, ya ampun,&#34; ucap Litha.&#xA;&#xA;    Arkasa membawa kue cupcake yang terhias oleh bentuk seorang perempuan dan laki-laki yang sedang bersama. &#34;Melepas masa lajang bro and sis.&#34;&#xA;&#xA;    &#34;Bride party gak seru kalo gak coret-coret muka iya gak sih?&#34; sambung Shane sambil memegang Lipcream di tangannya.&#xA;&#xA;    &#34;Wah boleh tuh!&#34; seru Jovan.&#xA;&#xA;    &#34;Lo bawa banyak gincu gak, Sha?&#34; tanya Aurel.&#xA;&#xA;    Seketika Shane membuka dan membalikan tas nya agar semua isi tas nya keluar, lipstick dan lipcream nya berhamburan.&#xA;&#xA;    Arkasa, Jovan dan Aurell melihat satu sama lain dan tersenyum seperti telah memenangkan lotre. Sisi lain Litha dan Nahen hanya bisa tersenyum pasrah melihat kelakuan teman-temannya ini.&#xA;&#xA;    &#34;Sabar ya,&#34; ucap Nahen sambil mengelus kepala Litha.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Setelah Shane menjemput Litha yang sedang berada di kantornya. Shane segera melajukan mobilnya menuju toko kue, tapi sebenarnya toko kue itu adalah alasan. Shane, Jovan, Arkasa, dan Aurellio telah merencanakan sesuatu. </p>

<p>    Sisi lain Nahen dan teman-temannya pun sedang dalam perjalanan menuju tempat yang sudah ditentukan.</p>

<p>    Litha mengernyit, bertanya heran pada Shane “Kok hotel, Sha? Katanya kita mau ke toko kue?”</p>

<p>    “Duh gue.. ini, a-anu, ada janjian sama orang disini.” jawab Shane dengan terbata.</p>

<p>    Shane mulai memarkirkan mobilnya, sekali-kali Shane melihat sekitar parkiran untuk memastikan Jovan sudah sampai atau belum. Ia mengehla napas lega melihat mobil Jovan ada di deretan ke 3 dari ujung parkiran di depan tempat ia memarkirkan mobilnya.</p>

<p>    “Ikut yuk, temenin,” ajak Shane.</p>

<p>    “Gak, gue disini aja, sebentar kan?”</p>

<p>    “Gue takut, Tha, ayo,”</p>

<p>    Litha memutar bola matanya malas. “Ya sudah.”</p>

<p>    Akhirnya mereka pun turun, memasuki <em>lobby</em> hotel, menaiki <em>lift</em> untuk sampai di kamar yang telah di tentukan.</p>

<p>    “Sha, lo janjian sama siapa dah ko ke kamar? Lo open BO ya anjir?”</p>

<p>    “Sembarangan kalo ngomong! Pake bismillah dulu kek,”</p>

<p>    “Bismillahirahmanirahim, lo open BO?”</p>

<p>    Shane menggelengkan kepalanya. “Tha, gue tahu kalau gue udah gak suci lagi, tapi gue gak mungkin sampe open BO” lirih Shane.</p>

<p>    Litha menepuk mulutnya, sungguh mulutnya saat ini sangat kejam. Bisa-bisanya ia mengeluarkan kata-kata itu. “Sha, <em>sorry</em> gue asal nyeplos.”</p>

<p>    “Gak apa-apa, santai kali,”</p>

<p>    Tak disadari mereka akhirnya sampai di kamar tersebut. Kamar nomor 403. Shane mengetuk pintu kamar itu dan tak lama kemudian pintunya terbuka memperlihatkan 4 lelaki di dalam sana.</p>

<p>    “Selamat datang tuan putri, silahkan masuk” ucap Jovan sambil membungkukan badannya sedikit mempersilahkan mereka masuk bak tuan putri.</p>

<p>    Shane dan Litha masuk ke dalam kamar tersebut. Kamar itu telah terhias dengan dekorasi ala <em>bride party</em> dengan banyak balon gold dan putih yang terbang menyentuh atap kamar.</p>

<p>    <em>Bride to be</em></p>

<p>    Begitulah tulisan yang terlihat di tengah-tengah tembok kamar.</p>

<p>    “Kalian, ya ampun,” ucap Litha.</p>

<p>    Arkasa membawa kue <em>cupcake</em> yang terhias oleh bentuk seorang perempuan dan laki-laki yang sedang bersama. “Melepas masa lajang <em>bro and sis</em>.”</p>

<p>    “<em>Bride party</em> gak seru kalo gak coret-coret muka iya gak sih?” sambung Shane sambil memegang Lipcream di tangannya.</p>

<p>    “Wah boleh tuh!” seru Jovan.</p>

<p>    “Lo bawa banyak gincu gak, Sha?” tanya Aurel.</p>

<p>    Seketika Shane membuka dan membalikan tas nya agar semua isi tas nya keluar, lipstick dan lipcream nya berhamburan.</p>

<p>    Arkasa, Jovan dan Aurell melihat satu sama lain dan tersenyum seperti telah memenangkan lotre. Sisi lain Litha dan Nahen hanya bisa tersenyum pasrah melihat kelakuan teman-temannya ini.</p>

<p>    “Sabar ya,” ucap Nahen sambil mengelus kepala Litha.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://wordsmith.social/atyovela43/bride-to-be</guid>
      <pubDate>Sun, 31 Oct 2021 03:20:51 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Mimpi?</title>
      <link>https://wordsmith.social/atyovela43/mimpi</link>
      <description>&lt;![CDATA[Sudah 3 hari Litha belum membuka matanya, masker oksigen dan selang infus masih terpasang rapih di tubuhnya. Karena kajadian hari itu Nahen mengundur tanggal pernikahannya hingga Litha siuman dan sehat kembali. !--more--&#xA;&#xA;    Kalian yang penasaran dengan kabar Kainan, kini dia sedang proses pemeriksaan oleh kepolisian. Pada hari itu ia tenggelam bersama Litha dan sempat hilang kesadaran juga, tapi Tuhan benar-benar pilih kasih. Kainan sadar sedangkan Litha masih terbaring lemah tak sadarkan diri. Nahen benar-benar tidak akan melepaskan Kainan, ia akan memastikan orang ini membusuk dalam penjara.&#xA;&#xA;    Di ruangan 32m² Nahen duduk di samping ranjang tempat Litha berbaring, ia memegang tangan Litha dengan harapan memberikan kehangatan dan kekuatan agar ia segera terbangun dari tidur panjangnya.&#xA;&#xA;    &#34;Tha, cepet bangun dong, kamu gak kangen sama aku?&#34;&#xA;&#xA;    &#34;Tha, harusnya kita udah nikah, terus harusnya lagi bulan madu, cantiknya Nahen ayo bangun,&#34; lirihnya sembari mengelus pipi Litha dengan lembut.&#xA;&#xA;    &#34;Aku gak bisa kehilangan seseorang untuk kedua kalinya, Tha, aku takut,&#34;&#xA;&#xA;    Kreeek suara pintu terbuka, memperlihatkan perawakan lelaki berpakaian jas yang rapih dan perempuan yang memakai pakaian casual. Mereka adalah Jovan dan Shane. Akhir-akhir ini mereka sering terlihat bersama.&#xA;&#xA;    Jovan dan Shane menghampiri Nahen yang tengah duduk disamping ranjang.&#xA;&#xA;    &#34;Na,&#34; panggil Jovan.&#xA;&#xA;    Nahen hanya menengok kearah Jovan tanpa sepatah kata apapun.&#xA;&#xA;    &#34;Gimana?&#34; tanya Shane.&#xA;    &#xA;    Nahen hanya menggelengkan kepalanya menandakan belum ada kabar baik dari Litha. Shane mengerti jawaban Nahen, ia langsung mengelus punggung Nahen untuk memberikan semangat.&#xA;&#xA;    &#34;Lo belum makan kan? Ini gue bawain makan, udah makan lo tidur. Udah dua hari lo begadang sama mogok makan, Na,&#34; ucap Jovan.&#xA;&#xA;    Nahen mengabaikan perkataan Jovan dan tidak memberi jawaban. Ia hanya fokus melihat wajah Litha.&#xA;&#xA;    Jovan menghela napas. &#34;Na, kalo lo gini terus, lo bisa sakit!&#34;&#xA;&#xA;    &#34;Jov, gue gak mau ninggalin Litha, gue takut Litha bangun tapi gue gak ada di samping dia. Gue mau mantau Litha biar gue tau perkembangannya,&#34; jelas Nahen.&#xA;&#xA;    &#34;Sekarang kan ada gue sama Shane, biar kita yang jaga Litha, ya?&#34;&#xA;&#xA;    &#34;Iya, lo mending bersihin diri dulu, makan terus tidur, peduliin kesehatan lo juga. Kalau pun Litha bangun tapi keadaan lo acak-acakan kaya gini yang ada dia bakalan sedih, Nahen,&#34; pinta Shane sembari memegang bahu Nahen.&#xA;&#xA;    &#34;Ya sudah, gue nitip Litha ya sama kalian.&#34;&#xA;&#xA;    Nahen pun dengan berat hati akhirnya menuruti permintaan Jovan dan Shane, ia memesan kamar hotel di dekat rumah sakit sekedar untuk beristirahat, karena ia merasa sedikit tidak nyaman tidur di rumah sakit, terlebih lagi ada Jovan dan Shane. Sebenarnya ia tidak mau meninggalkan Litha, tapi perkataan Shane ada benarnya juga. Ia tidak mau disaat Litha terbangun melihat keadaannya tak karuan seperti saat ini, bukannya mendapat pelukan yang ada ia akan mendapat pukulan maut dari Litha.&#xA;&#xA;    Drttt drrttt suara ponsel bergetar menandakan ada panggilan masuk. Baru saja 1 jam Nahen tertidur, ada saja yang mengganggunya.&#xA;&#xA;   &#34;Kenapa?&#34; ucapnya dengan suara serak khas orang bangun tidur.&#xA;&#xA;    Nahen tersentak kaget dan bangun dari tidurnya. &#34;Gue kesana.&#34;&#xA;&#xA;    Bergegas ia mengambil jaketnya dan segera menuju ke rumah sakit, untungnya rumah sakit dan hotel tempat ia menginap hanya berjarak kurang lebih 1 km, bisa ditempuh dengan perkiraan waktu 5 menit berjalan.&#xA;&#xA;    Setelah sampai di ruangan Litha dirawat, ia melihat Jovan dan Shane yang berada di luar ruangan. Terlihat dari jendela Litha di kelilingi oleh Dokter dan Perawat.&#xA;&#xA;    &#34;Jelasin ke gue, gue udah nitip Litha ke lo, Jov!&#34; bentak Nahen.&#xA;&#xA;    &#34;Tadi tiba-tiba alat patient monitor bunyi, Na. Tanda-tanda vital Litha menurun,&#34; jelas Jovan dengan sangat pelan.&#xA;&#xA;    Nahen emosi. &#34;Lo, bisa di percaya gak sih? Argghhh!!&#34;&#xA;&#xA;    Nahen melihat para Perawat membawa alat defibrillator.&#xA;&#xA;   &#34;120 Joule,&#34;&#xA;&#xA;    &#34;Shoot!&#34;&#xA;&#xA;    Nahen yang mendengar itu hanya bisa mondar mandir di depan ruangan Litha, tentu saja ia sangat khawatir. Ia khawatir Litha akan meninggalkannya.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;    &#34;Kak Nathan?&#34;&#xA;&#xA;    &#34;KAKAK!&#34; panggil Litha.&#xA;&#xA;    Terlihat Nathan yang sedang memetik bunga lily berwarna putih.&#xA;&#xA;    Nathan melambaikan tangannya kearah Litha. &#34;Litha!&#34;&#xA;&#xA;    Litha berlari ke arah Nathan dan segera memeluknya dengan erat. &#34;Kak, kangen tau.&#34;&#xA;&#xA;    Nathan menerima pelukan tersebut, ia pun membalas pelukan Litha dan mengelus pelan rambutnya. &#34;Kakak tahu, sama kakak juga kangen sama kamu.&#34;&#xA;&#xA;    &#34;Tapi Kakak gak bisa lama, kakak harus pergi,&#34; ucap Nathan.&#xA;&#xA;    &#34;Mau ikut boleh?&#34;&#xA;&#xA;    &#34;Kamu mau ikut?&#34; tanya Nathan.&#xA;&#xA;    Litha menganggukan kepalanya.&#xA;&#xA;    &#34;Ayo, tujuan kakak kesini juga mau jemput kamu,&#34;&#xA;&#xA;    Nathan memegang erat tangan adiknya, menuntunnya jalan perlahan seperti tidak mau kehilangan Litha untuk kedua kali. &#34;Ayo.&#34;&#xA;&#xA;    Mereka berdua berjalan menyusuri taman bunga lily tersebut hingga akhirnya muncul cahaya putih yang terang diujung sana. Litha terus mengikuti langkah Nathan hingga akhirnya ia terhenti karena menemukan sebuah bunga lily berwarna orange, padahal taman ini hanya berisi lily berwarna putih. Litha hendak memetiknya namun ia mengurungkan niatnya karena ia menyadari kalau Nathan sudah melangkah jauh darinya. Ia berlari untuk menyusul Nathan hingga akhirnya mereka menembus cahaya putih terang itu, saking terangnya Litha menutup matanya.&#xA;&#xA;    Litha membuka matanya, hanya tembok berwarna putih yang ia lihat dan ia merasakan sedang terbaring saat ini dan seperti ada yang memegang tangannya. Ia melihat dengan perlahan, penasaran siapa yang memegang tangannya saat ini.&#xA;&#xA;   Litha sedikit syok. &#34;Kakak, pasti ini mimpi,&#34; batinnya.&#xA;&#xA;   Terlihat Nathan sedang menggenggam tangannya sembari menundukan kepalanya. Litha memberanikan diri untuk memanggilnya untuk memastikan kalau ini bukanlah mimpi.&#xA;&#xA;    &#34;Kak,&#34;&#xA;&#xA;    Nathan terkejut dan menganggahkan kepalanya, melihat adiknya yang akhirnya terbangun dari tidur panjangnya.&#xA;&#xA;    &#34;Adek? Adek udah bangun? Sebentar, kakak panggilkan dokter dulu,&#34; ucap Nathan kegirangan.&#xA;&#xA;    Nathan segera keluar untuk memanggil dokter. Tak lama dokter pun datang. Dokter memeriksa segala keadaan Litha, sisi lain Nathan sedang menelepon orang tuanya memberitahukan kalau adiknya ini sudah siuman.&#xA;&#xA;    &#34;Jadi ini bukan mimpi? Kakak nyata? Kakak belum meninggal? Lalu aku ini dimana? Surga kah?&#34; seribu pertanyaan di otak Litha.&#xA;&#xA;    Litha menggelengkan kepalanya, &#34;Ah, ga mungkin paling bentar lagi gue bangun.&#34; gumamnya.&#xA;&#xA;    Tak lama kemudian Dokter pun datang. &#34;Halo, Litha, bagaimana keadaanmu? Apa yang kamu rasakan?&#34; tanya Dokter.&#xA;&#xA;    &#34;Baik saja, Dok, hanya saja tangan dan kaki saya agak kaku untuk digerakkan,&#34; jawab Litha.&#xA;&#xA;    &#34;Wajar saja, kamu tertidur sudah sekitar satu tahun lamanya,&#34;&#xA;&#xA;    Mata Litha terbelak, ia tak percaya. &#34;Satu tahun, Dok?&#34;&#xA;&#xA;    &#34;Iya, kamu masih ingat dengan saya? Saya Dokter Ryhan yang dulu menolong kamu untuk replantasi tangan karena kamu tidak sadar hampir memotong tanganmu dengan pisau, dan kemarin kamu tenggelam karena menyelamatkan anak kecil di tengah danau, sangat berani kamu ya.&#34;&#xA;&#xA;    &#34;Hah?&#34; Litha merasa de javu dengan ucapan Dokter Ryhan. Ia memegang kepalanya karena merasa sakit. &#34;Aduh,&#34; rengeknya.&#xA;&#xA;    &#34;Kenapa? Kamu sakit kepala?&#34; tanya Dokter Ryhan.&#xA;&#xA;    Nathan segera menghampirinya khawatir. &#34;Kenapa, Dek?&#34;&#xA;&#xA;    &#34;Sepertinya Litha membutuhkan istirahat, Nath, efek koma memang seperti ini. Jika ia kesakitan lebih parah nanti panggil saya lagi ya,&#34;&#xA;&#xA;    Dokter pun meninggalkan ruangan tersebut.&#xA;&#xA;    Litha terus memegang kepalanya, rasa sakitnya seperti ia membawa beban 80kg. Tiba-tiba berputar memori seorang lelaki yang tidak ia kenali.&#xA;&#xA;    &#34;Kainan brengsek,&#34;&#xA;&#xA;    &#34;Mau peluk,&#34;&#xA;&#xA;    &#34;Permisi, Nahen,&#34;&#xA;&#xA;    &#34;Calon pacar asli,&#34;&#xA;&#xA;    &#34;Litha, aku mencintaimu tanpa syarat,&#34;&#xA;&#xA;    &#34;Maukah kamu menikah denganku?&#34;&#xA;&#xA;    Ingatan itu membuat Litha tidak sadar meneteskan air matanya.&#xA;&#xA;   &#34;Nahen,&#34; ucap Litha.&#xA;&#xA;   &#34;Kenapa, Dek?&#34;&#xA;&#xA;   &#34;Nahen mana, Kak?&#34;&#xA;&#xA;   Nathan tersentak kaget dengan ucapan adiknya. &#34;Nahen?&#34;&#xA;&#xA;   Litha mulai menangis. &#34;Nahen mana, Kak? Kak, aku kangen Nahen.&#34;&#xA;&#xA;   Nathan memeluk adiknya. &#34;Dek,&#34;&#xA;&#xA;    &#34;Nahen, calon aku Kak,&#34; ucapnya sesenggukan.&#xA;&#xA;    &#34;Kamu pasti mimpi ya? Nahen gak ada, Tha, temen-temen kamu juga gak ada yang namanya Nahen&#34;&#xA;&#xA;    &#34;Bohong! Ponselku mana?&#34;&#xA;&#xA;    Nathan memberikan ponsel violet milik adiknya. Litha segera mencari nama Nahen pada kontaknya dan nihil tidak ada nama Nahen pada kontaknya.&#xA;&#xA;    &#34;Jadi selama ini Nahen itu hanya mimpi?&#34; lirih Litha sambil menangis. Nathan hanya bisa menenangkannya karena ia tahu rasanya, Nathan pernah berada diposisi tersebut.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Sudah 3 hari Litha belum membuka matanya, masker oksigen dan selang infus masih terpasang rapih di tubuhnya. Karena kajadian hari itu Nahen mengundur tanggal pernikahannya hingga Litha siuman dan sehat kembali. </p>

<p>    Kalian yang penasaran dengan kabar Kainan, kini dia sedang proses pemeriksaan oleh kepolisian. Pada hari itu ia tenggelam bersama Litha dan sempat hilang kesadaran juga, tapi Tuhan benar-benar pilih kasih. Kainan sadar sedangkan Litha masih terbaring lemah tak sadarkan diri. Nahen benar-benar tidak akan melepaskan Kainan, ia akan memastikan orang ini membusuk dalam penjara.</p>

<p>    Di ruangan 32m² Nahen duduk di samping ranjang tempat Litha berbaring, ia memegang tangan Litha dengan harapan memberikan kehangatan dan kekuatan agar ia segera terbangun dari tidur panjangnya.</p>

<p>    “Tha, cepet bangun dong, kamu gak kangen sama aku?”</p>

<p>    “Tha, harusnya kita udah nikah, terus harusnya lagi bulan madu, cantiknya Nahen ayo bangun,” lirihnya sembari mengelus pipi Litha dengan lembut.</p>

<p>    “Aku gak bisa kehilangan seseorang untuk kedua kalinya, Tha, aku takut,”</p>

<p>    <em>Kreeek</em> suara pintu terbuka, memperlihatkan perawakan lelaki berpakaian jas yang rapih dan perempuan yang memakai pakaian casual. Mereka adalah Jovan dan Shane. Akhir-akhir ini mereka sering terlihat bersama.</p>

<p>    Jovan dan Shane menghampiri Nahen yang tengah duduk disamping ranjang.</p>

<p>    “Na,” panggil Jovan.</p>

<p>    Nahen hanya menengok kearah Jovan tanpa sepatah kata apapun.</p>

<p>    “Gimana?” tanya Shane.</p>

<p>    Nahen hanya menggelengkan kepalanya menandakan belum ada kabar baik dari Litha. Shane mengerti jawaban Nahen, ia langsung mengelus punggung Nahen untuk memberikan semangat.</p>

<p>    “Lo belum makan kan? Ini gue bawain makan, udah makan lo tidur. Udah dua hari lo begadang sama mogok makan, Na,” ucap Jovan.</p>

<p>    Nahen mengabaikan perkataan Jovan dan tidak memberi jawaban. Ia hanya fokus melihat wajah Litha.</p>

<p>    Jovan menghela napas. “Na, kalo lo gini terus, lo bisa sakit!”</p>

<p>    “Jov, gue gak mau ninggalin Litha, gue takut Litha bangun tapi gue gak ada di samping dia. Gue mau mantau Litha biar gue tau perkembangannya,” jelas Nahen.</p>

<p>    “Sekarang kan ada gue sama Shane, biar kita yang jaga Litha, ya?”</p>

<p>    “Iya, lo mending bersihin diri dulu, makan terus tidur, peduliin kesehatan lo juga. Kalau pun Litha bangun tapi keadaan lo acak-acakan kaya gini yang ada dia bakalan sedih, Nahen,” pinta Shane sembari memegang bahu Nahen.</p>

<p>    “Ya sudah, gue nitip Litha ya sama kalian.”</p>

<p>    Nahen pun dengan berat hati akhirnya menuruti permintaan Jovan dan Shane, ia memesan kamar hotel di dekat rumah sakit sekedar untuk beristirahat, karena ia merasa sedikit tidak nyaman tidur di rumah sakit, terlebih lagi ada Jovan dan Shane. Sebenarnya ia tidak mau meninggalkan Litha, tapi perkataan Shane ada benarnya juga. Ia tidak mau disaat Litha terbangun melihat keadaannya tak karuan seperti saat ini, bukannya mendapat pelukan yang ada ia akan mendapat pukulan maut dari Litha.</p>

<p>    <em>Drttt drrttt</em> suara ponsel bergetar menandakan ada panggilan masuk. Baru saja 1 jam Nahen tertidur, ada saja yang mengganggunya.</p>

<p>   “Kenapa?” ucapnya dengan suara serak khas orang bangun tidur.</p>

<p>    Nahen tersentak kaget dan bangun dari tidurnya. “Gue kesana.”</p>

<p>    Bergegas ia mengambil jaketnya dan segera menuju ke rumah sakit, untungnya rumah sakit dan hotel tempat ia menginap hanya berjarak kurang lebih 1 km, bisa ditempuh dengan perkiraan waktu 5 menit berjalan.</p>

<p>    Setelah sampai di ruangan Litha dirawat, ia melihat Jovan dan Shane yang berada di luar ruangan. Terlihat dari jendela Litha di kelilingi oleh Dokter dan Perawat.</p>

<p>    “Jelasin ke gue, gue udah nitip Litha ke lo, Jov!” bentak Nahen.</p>

<p>    “Tadi tiba-tiba alat <em>patient monitor</em> bunyi, Na. Tanda-tanda vital Litha menurun,” jelas Jovan dengan sangat pelan.</p>

<p>    Nahen emosi. “Lo, bisa di percaya gak sih? Argghhh!!”</p>

<p>    Nahen melihat para Perawat membawa alat <em>defibrillator</em>.</p>

<p>   “120 Joule,”</p>

<p>    “Shoot!”</p>

<p>    Nahen yang mendengar itu hanya bisa mondar mandir di depan ruangan Litha, tentu saja ia sangat khawatir. Ia khawatir Litha akan meninggalkannya.</p>

<hr>

<p>    “Kak Nathan?”</p>

<p>    “KAKAK!” panggil Litha.</p>

<p>    Terlihat Nathan yang sedang memetik bunga lily berwarna putih.</p>

<p>    Nathan melambaikan tangannya kearah Litha. “Litha!”</p>

<p>    Litha berlari ke arah Nathan dan segera memeluknya dengan erat. “Kak, kangen tau.”</p>

<p>    Nathan menerima pelukan tersebut, ia pun membalas pelukan Litha dan mengelus pelan rambutnya. “Kakak tahu, sama kakak juga kangen sama kamu.”</p>

<p>    “Tapi Kakak gak bisa lama, kakak harus pergi,” ucap Nathan.</p>

<p>    “Mau ikut boleh?”</p>

<p>    “Kamu mau ikut?” tanya Nathan.</p>

<p>    Litha menganggukan kepalanya.</p>

<p>    “Ayo, tujuan kakak kesini juga mau jemput kamu,”</p>

<p>    Nathan memegang erat tangan adiknya, menuntunnya jalan perlahan seperti tidak mau kehilangan Litha untuk kedua kali. “Ayo.”</p>

<p>    Mereka berdua berjalan menyusuri taman bunga lily tersebut hingga akhirnya muncul cahaya putih yang terang diujung sana. Litha terus mengikuti langkah Nathan hingga akhirnya ia terhenti karena menemukan sebuah bunga lily berwarna orange, padahal taman ini hanya berisi lily berwarna putih. Litha hendak memetiknya namun ia mengurungkan niatnya karena ia menyadari kalau Nathan sudah melangkah jauh darinya. Ia berlari untuk menyusul Nathan hingga akhirnya mereka menembus cahaya putih terang itu, saking terangnya Litha menutup matanya.</p>

<p>    Litha membuka matanya, hanya tembok berwarna putih yang ia lihat dan ia merasakan sedang terbaring saat ini dan seperti ada yang memegang tangannya. Ia melihat dengan perlahan, penasaran siapa yang memegang tangannya saat ini.</p>

<p>   Litha sedikit syok. <em>“Kakak, pasti ini mimpi,”</em> batinnya.</p>

<p>   Terlihat Nathan sedang menggenggam tangannya sembari menundukan kepalanya. Litha memberanikan diri untuk memanggilnya untuk memastikan kalau ini bukanlah mimpi.</p>

<p>    “Kak,”</p>

<p>    Nathan terkejut dan menganggahkan kepalanya, melihat adiknya yang akhirnya terbangun dari tidur panjangnya.</p>

<p>    “Adek? Adek udah bangun? Sebentar, kakak panggilkan dokter dulu,” ucap Nathan kegirangan.</p>

<p>    Nathan segera keluar untuk memanggil dokter. Tak lama dokter pun datang. Dokter memeriksa segala keadaan Litha, sisi lain Nathan sedang menelepon orang tuanya memberitahukan kalau adiknya ini sudah siuman.</p>

<p>    <em>“Jadi ini bukan mimpi? Kakak nyata? Kakak belum meninggal? Lalu aku ini dimana? Surga kah?”</em> seribu pertanyaan di otak Litha.</p>

<p>    Litha menggelengkan kepalanya, “Ah, ga mungkin paling bentar lagi gue bangun.” gumamnya.</p>

<p>    Tak lama kemudian Dokter pun datang. “Halo, Litha, bagaimana keadaanmu? Apa yang kamu rasakan?” tanya Dokter.</p>

<p>    “Baik saja, Dok, hanya saja tangan dan kaki saya agak kaku untuk digerakkan,” jawab Litha.</p>

<p>    “Wajar saja, kamu tertidur sudah sekitar satu tahun lamanya,”</p>

<p>    Mata Litha terbelak, ia tak percaya. “Satu tahun, Dok?”</p>

<p>    “Iya, kamu masih ingat dengan saya? Saya Dokter Ryhan yang dulu menolong kamu untuk replantasi tangan karena kamu tidak sadar hampir memotong tanganmu dengan pisau, dan kemarin kamu tenggelam karena menyelamatkan anak kecil di tengah danau, sangat berani kamu ya.”</p>

<p>    “Hah?” Litha merasa <em>de javu</em> dengan ucapan Dokter Ryhan. Ia memegang kepalanya karena merasa sakit. “Aduh,” rengeknya.</p>

<p>    “Kenapa? Kamu sakit kepala?” tanya Dokter Ryhan.</p>

<p>    Nathan segera menghampirinya khawatir. “Kenapa, Dek?”</p>

<p>    “Sepertinya Litha membutuhkan istirahat, Nath, efek koma memang seperti ini. Jika ia kesakitan lebih parah nanti panggil saya lagi ya,”</p>

<p>    Dokter pun meninggalkan ruangan tersebut.</p>

<p>    Litha terus memegang kepalanya, rasa sakitnya seperti ia membawa beban 80kg. Tiba-tiba berputar memori seorang lelaki yang tidak ia kenali.</p>

<p>    <em>“Kainan brengsek,”</em></p>

<p>    <em>“Mau peluk,”</em></p>

<p>    <em>“Permisi, Nahen,”</em></p>

<p>    <em>“Calon pacar asli,”</em></p>

<p>    <em>“Litha, aku mencintaimu tanpa syarat,</em>“</p>

<p>    <em>“Maukah kamu menikah denganku?”</em></p>

<p>    Ingatan itu membuat Litha tidak sadar meneteskan air matanya.</p>

<p>   “Nahen,” ucap Litha.</p>

<p>   “Kenapa, Dek?”</p>

<p>   “Nahen mana, Kak?”</p>

<p>   Nathan tersentak kaget dengan ucapan adiknya. “Nahen?”</p>

<p>   Litha mulai menangis. “Nahen mana, Kak? Kak, aku kangen Nahen.”</p>

<p>   Nathan memeluk adiknya. “Dek,”</p>

<p>    “Nahen, calon aku Kak,” ucapnya sesenggukan.</p>

<p>    “Kamu pasti mimpi ya? Nahen gak ada, Tha, temen-temen kamu juga gak ada yang namanya Nahen”</p>

<p>    “Bohong! Ponselku mana?”</p>

<p>    Nathan memberikan ponsel violet milik adiknya. Litha segera mencari nama Nahen pada kontaknya dan <em>nihil</em> tidak ada nama Nahen pada kontaknya.</p>

<p>    “Jadi selama ini Nahen itu hanya mimpi?” lirih Litha sambil menangis. Nathan hanya bisa menenangkannya karena ia tahu rasanya, Nathan pernah berada diposisi tersebut.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://wordsmith.social/atyovela43/mimpi</guid>
      <pubDate>Sat, 30 Oct 2021 14:17:31 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>H-2</title>
      <link>https://wordsmith.social/atyovela43/h-2</link>
      <description>&lt;![CDATA[tw // abuse, harsh word.&#xA;&#xA;Malam itu, Nahen sudah menyiapkan syarat yang diberikan oleh Kainan. Nahen akan melakukan apapun demi Litha, meski harus memberikan nyawanya. !--more--&#xA;&#xA;    Pertemuan dilakukan di jembatan sepi yang tidak pernah terjamah oleh orang. Gelap, tidak ada penerangan disini, hanya ada lampu yang berkedap kedip di ujung jalan.&#xA;&#xA;    Terlihat Kainan, Litha, Rais dan Faizal. Posisi Litha saat ini duduk dan tidak sadarkan diri, sepertinya Kainan memberikan obat bius lagi pada Litha.&#xA;&#xA;   &#34;Gue udah bawa apa yang lo minta, jadi tolong kembalikan Litha,&#34; ucap Nahen.&#xA;&#xA;   &#34;Kemarikan dulu uangnya biar gue cek dulu,&#34;&#xA;&#xA;   Nahen memberikan 2 koper berisi uang gepokan berwarna merah muda. Kainan mengambil koper itu dari tangan Nahen, membukanya dan mengeceknya satu persatu.&#xA;&#xA;    Bughh. Tiba-tiba Nahen memukul pipi kanan Kainan. &#34;Bajingan lo.&#34;&#xA;&#xA;   Kainan jatuh tersungkur. Dibelakangnya Faizal dan Rais maju untuk menolong Kainan.&#xA;&#xA;    Kainan menarik kerah baju Nahen. &#34;Maksud lo apa anjing?&#34; teriak Kainan di depan muka Nahen.&#xA;&#xA;    &#34;Lo begini karena uang?&#34;&#xA;&#xA;    &#34;Gue begini karena dendam sama lo, gara-gara lo gue dikeluarin dari sekolah dan gue di usir sama nyokap gue, dan ya gue juga butuh uang,&#34; jawab Kainan.&#xA;&#xA;    &#34;Lo pantes buat dapetin itu, Kainan, lo brengsek,&#34;&#xA;&#xA;    Kainan meluncurkan pukulannya ke pipi kiri Nahen hingga Nahen terjatuh, akibat pukulannya itu ujung bibir Nahen terluka. Kainan pun mengambil pistol dari belakang saku celananya dan menodongkan pistol itu kearah Nahen. &#34;Sekali lagi apa lo bilang?&#34;&#xA;&#xA;    Dorr. Terdengar suara tembakan.&#xA;&#xA;    &#34;Angkat tangan kalian,&#34; teriak seseorang di ujung jembatan.&#xA;&#xA;    Seketika semua panik terkecuali Nahen, karena ia telah merencanakan ini semua.&#xA;&#xA;    &#34;Bangsat, lo ga sendirian?&#34;&#xA;&#xA;    Nahen hanya menyeringai. &#34;Lo lupa lawan lo siapa?&#34;&#xA;&#xA;    &#34;Lo, bakal tahu akibatnya!&#34; seru Kainan.&#xA;&#xA;    Beberapa polisi berlari menghampiri mereka. Faizal dan Rais panik, mereka kabur meninggalkan Kainan. Sisi lain Kainan juga sama paniknya, ia memikirkan jalan untuk kabur dan seketika ia terpikirkan sesuatu. Kainan menggendong Lalitha dan Nahen berusaha menghentikan Kainan, namun ia gagal. Kainan berhasil membawa Litha dan melompat dari jembatan tersebut.&#xA;&#xA;    Asal kalian tahu, jembatan itu sangat tinggi, dibawahnya terdapat sungai yang cukup dalam.&#xA;&#xA;    &#34;Litha!!!!&#34; teriak Nahen.&#xA;&#xA;    &#34;Anjing!!&#34; umpatnya sembari memukul tembok jembatan.&#xA;&#xA;    Tanpa pikir panjang Nahen segera berlari menuju ke bawah, jangan berpikir kalau Nahen akan ikut melompat. Jika ia ikut melompat sama saja ia bunuh diri.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>tw // abuse, harsh word.</p>

<p>Malam itu, Nahen sudah menyiapkan syarat yang diberikan oleh Kainan. Nahen akan melakukan apapun demi Litha, meski harus memberikan nyawanya. </p>

<p>    Pertemuan dilakukan di jembatan sepi yang tidak pernah terjamah oleh orang. Gelap, tidak ada penerangan disini, hanya ada lampu yang berkedap kedip di ujung jalan.</p>

<p>    Terlihat Kainan, Litha, Rais dan Faizal. Posisi Litha saat ini duduk dan tidak sadarkan diri, sepertinya Kainan memberikan obat bius lagi pada Litha.</p>

<p>   “Gue udah bawa apa yang lo minta, jadi tolong kembalikan Litha,” ucap Nahen.</p>

<p>   “Kemarikan dulu uangnya biar gue cek dulu,”</p>

<p>   Nahen memberikan 2 koper berisi uang gepokan berwarna merah muda. Kainan mengambil koper itu dari tangan Nahen, membukanya dan mengeceknya satu persatu.</p>

<p>    <em>Bughh</em>. Tiba-tiba Nahen memukul pipi kanan Kainan. “Bajingan lo.”</p>

<p>   Kainan jatuh tersungkur. Dibelakangnya Faizal dan Rais maju untuk menolong Kainan.</p>

<p>    Kainan menarik kerah baju Nahen. “Maksud lo apa anjing?” teriak Kainan di depan muka Nahen.</p>

<p>    “Lo begini karena uang?”</p>

<p>    “Gue begini karena dendam sama lo, gara-gara lo gue dikeluarin dari sekolah dan gue di usir sama nyokap gue, dan ya gue juga butuh uang,” jawab Kainan.</p>

<p>    “Lo pantes buat dapetin itu, Kainan, lo brengsek,”</p>

<p>    Kainan meluncurkan pukulannya ke pipi kiri Nahen hingga Nahen terjatuh, akibat pukulannya itu ujung bibir Nahen terluka. Kainan pun mengambil pistol dari belakang saku celananya dan menodongkan pistol itu kearah Nahen. “Sekali lagi apa lo bilang?”</p>

<p>    <em>Dorr</em>. Terdengar suara tembakan.</p>

<p>    “Angkat tangan kalian,” teriak seseorang di ujung jembatan.</p>

<p>    Seketika semua panik terkecuali Nahen, karena ia telah merencanakan ini semua.</p>

<p>    “Bangsat, lo ga sendirian?”</p>

<p>    Nahen hanya menyeringai. “Lo lupa lawan lo siapa?”</p>

<p>    “Lo, bakal tahu akibatnya!” seru Kainan.</p>

<p>    Beberapa polisi berlari menghampiri mereka. Faizal dan Rais panik, mereka kabur meninggalkan Kainan. Sisi lain Kainan juga sama paniknya, ia memikirkan jalan untuk kabur dan seketika ia terpikirkan sesuatu. Kainan menggendong Lalitha dan Nahen berusaha menghentikan Kainan, namun ia gagal. Kainan berhasil membawa Litha dan melompat dari jembatan tersebut.</p>

<p>    Asal kalian tahu, jembatan itu sangat tinggi, dibawahnya terdapat sungai yang cukup dalam.</p>

<p>    “Litha!!!!” teriak Nahen.</p>

<p>    “Anjing!!” umpatnya sembari memukul tembok jembatan.</p>

<p>    Tanpa pikir panjang Nahen segera berlari menuju ke bawah, jangan berpikir kalau Nahen akan ikut melompat. Jika ia ikut melompat sama saja ia bunuh diri.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://wordsmith.social/atyovela43/h-2</guid>
      <pubDate>Sat, 30 Oct 2021 12:17:39 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>H-4</title>
      <link>https://wordsmith.social/atyovela43/h-4</link>
      <description>&lt;![CDATA[Setelah menerima pesan tersebut Litha bergegas menemui Shane, karena takut terjadi sesuatu padanya seperti dulu. Tentu saja ia sendirian sesuai dengan permintaan sang pengirim pesan, tanpa memberitahu siapapun juga. !--more--&#xA;&#xA;    Sesampainya di tempat tersebut, Litha melihat sekitar untuk memastikan apakah titiknya sudah sesuai dengan lokasi yang diberikan oleh si pengirim pesan. Litha merasakan perasaan tidak enak saat sampai di tempat tersebut. Gedung ini kumuh, sangat seram sepertinya sudah ditinggalkan bertahun-tahun. Jika Litha adalah anak indigo pasti ia sudah melihat banyak penghuni tak kasat mata disini.&#xA;&#xA;    Litha mengirim pesan untuk memberitahu kalau ia sudah sampai ditempat tersebut.&#xA;&#xA;    Ting. Suara pesan masuk.&#xA;&#xA;    Naik ke lantai 5, pastikan kamu sendirian.&#xA;&#xA;    Begitulah isi pesannya. Litha bergegas keluar dari mobilnya dan segera menuju ke lantai 5 gedung tersebut. Jangan harap ada lift disini, listrik pun sepertinya tidak berfungsi. Litha hanya mengandalkan tangga untuk sampai ke lantai 5. Cukup menguras tenaga. Saat menaiki anak tangga terakhir untuk mencapai ke lantai 5, terlihat Shane  yang sedang duduk dengan tangan diikat dan mulut yang disumpal oleh kain. Sudah terlihat pelaku atas kejadian ini ialah Kainan! Ya, Kainan. Ternyata ia belum puas juga mengganggu hidup Shane dan dirinya. Kaina tidak sendirian, terlihat ada 2 orang yang menemaninya, Litha sepertinya kenal, perawakan mereka seperti Faizal dan Rais.&#xA;&#xA;    “Waw, cepat dari perkiraan,”&#xA;&#xA;    “Lepasin Shane, mau lo apa? Gue turutin.”&#xA;&#xA;    “Gue denger lo mau nikah, Tha. Wah congrats ya.”&#xA;&#xA;    “Oke, thanks, jadi  maksud lo untuk semua ini apa?”&#xA;&#xA;    “Gue gabut doang sih anjir, gue ga rela putus dari Shane, begitupula gue gak rela lo mau nikah sama Nahen bajingan itu, gue dendam sama calon suami lo,”&#xA;&#xA;    “Sorry, bajingan? Lo ngatain diri sendiri, Nan?” ledek Litha.&#xA;&#xA;    Raut muka Kainan berubah, awalnya ia menyeringai tiba-tiba menjadi datar. Ia menempelkan pistol yang sedari tadi ia pegang ke kepala Shane dan itu membuat Shane ketakutan.&#xA;&#xA;    “Maksud lo? Lo gak mau kan temen lo yang satu ini mati?”&#xA;&#xA;    “Oke, sorry, sekarang mau lo apa? Lo mau uang? Gue transfer sekarang juga,”&#xA;&#xA;    “Gue gak perlu uang, gue ingin milikin lo dan Shane,” ucapnya tanpa dosa.&#xA;&#xA;   “Ih sinting lo demi apapun, sakit lo,”&#xA;&#xA;    Kainan kini mendekatkan dirinya kepada Litha, saat selangkah lagi mendekat kepada Litha tiba-tiba terdengar suara sirine polisi. Lantas semua tersentak kaget. Kainan panik karena terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat, ia mengeluarkan sapu tangan yang berisi obat bius dan menempelkannya pada hidung Litha dan akhirnya Litha pun pingsan karena mengidup obat bius yang terakndung dalam sapu tangan tersebut.&#xA;&#xA;    Kainan membawa Litha pergi dibantu oleh Faizal dan Rais, mereka pergi meninggalkan Shane sendiri di tempat tersebut hingga akhirnya polisi menemukan Shane. Terlihat pula Nahen mengikuti di belakang polisi tersebut. Melihat Shane yang terikat, Nahen segera menghampirinya dan membuka ikatan tersebut.&#xA;&#xA;    “Litha mana? Lo gak kenapa-kenapa kan?” tanya Nahen dengan napas tersenggal karena berlari.&#xA;&#xA;    “Gak tahu, tadi dibawa sama Kainan, Gue gak kenapa-kenapa,”&#xA;&#xA;    Nahen memberikan minum pada Shane. “Minum dulu, tenangin diri,”&#xA;&#xA;    “Kainan brengsek!” umpat Nahen.&#xA;&#xA;    “Pak, ini ponsel siapatau punya Neng ini,” salah satu polisi memberikan ponsel warna violet. Yaitu ponsel milik Lalitha.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Sebelumnya&#xA;&#xA;    Nahen terus mencoba menghubungi kekasihnya. Namun nihil tidak ada jawaban. Melacak lokasinya pun tidak bisa karena ponsel Litha mati, tiba-tiba ia teringat kalau ia memasangkan GPS di mobil yang ia berikan kepada Litha sebagai hadiah ulang tahunnya,  GPS itu tersambung pada ponsel Nahen.&#xA;&#xA;    Ia melihat titik lokasinya berada di sebuah tempat terpencil, Nahen mencari lokasi tersebut di Google, dan ternyata lokasi tersebut adalah lokasi gedung tua yang sudah terbengkalai cukup lama. Ia bingung, apa yang kekasihnya lakukan disitu? Nahen mempunyai firasat tidak enak. Akhirnya ia pergi dari kantor untuk menyusul kekasihnya itu, karena mempunyai firasat buruk, Nahen menghubungi polisi untuk berjaga-jaga.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Setelah menerima pesan tersebut Litha bergegas menemui Shane, karena takut terjadi sesuatu padanya seperti dulu. Tentu saja ia sendirian sesuai dengan permintaan sang pengirim pesan, tanpa memberitahu siapapun juga. </p>

<p>    Sesampainya di tempat tersebut, Litha melihat sekitar untuk memastikan apakah titiknya sudah sesuai dengan lokasi yang diberikan oleh si pengirim pesan. Litha merasakan perasaan tidak enak saat sampai di tempat tersebut. Gedung ini kumuh, sangat seram sepertinya sudah ditinggalkan bertahun-tahun. Jika Litha adalah anak indigo pasti ia sudah melihat banyak penghuni tak kasat mata disini.</p>

<p>    Litha mengirim pesan untuk memberitahu kalau ia sudah sampai ditempat tersebut.</p>

<p>    <em>Ting</em>. Suara pesan masuk.</p>

<p>    <em>Naik ke lantai 5, pastikan kamu sendirian.</em></p>

<p>    Begitulah isi pesannya. Litha bergegas keluar dari mobilnya dan segera menuju ke lantai 5 gedung tersebut. Jangan harap ada <em>lift</em> disini, listrik pun sepertinya tidak berfungsi. Litha hanya mengandalkan tangga untuk sampai ke lantai 5. Cukup menguras tenaga. Saat menaiki anak tangga terakhir untuk mencapai ke lantai 5, terlihat Shane  yang sedang duduk dengan tangan diikat dan mulut yang disumpal oleh kain. Sudah terlihat pelaku atas kejadian ini ialah Kainan! Ya, Kainan. Ternyata ia belum puas juga mengganggu hidup Shane dan dirinya. Kaina tidak sendirian, terlihat ada 2 orang yang menemaninya, Litha sepertinya kenal, perawakan mereka seperti Faizal dan Rais.</p>

<p>    “Waw, cepat dari perkiraan,”</p>

<p>    “Lepasin Shane, mau lo apa? Gue turutin.”</p>

<p>    “Gue denger lo mau nikah, Tha. Wah <em>congrats</em> ya.”</p>

<p>    “Oke, <em>thanks</em>, jadi  maksud lo untuk semua ini apa?”</p>

<p>    “Gue gabut doang sih anjir, gue ga rela putus dari Shane, begitupula gue gak rela lo mau nikah sama Nahen bajingan itu, gue dendam sama calon suami lo,”</p>

<p>    “<em>Sorry</em>, bajingan? Lo ngatain diri sendiri, Nan?” ledek Litha.</p>

<p>    Raut muka Kainan berubah, awalnya ia menyeringai tiba-tiba menjadi datar. Ia menempelkan pistol yang sedari tadi ia pegang ke kepala Shane dan itu membuat Shane ketakutan.</p>

<p>    “Maksud lo? Lo gak mau kan temen lo yang satu ini mati?”</p>

<p>    “Oke, sorry, sekarang mau lo apa? Lo mau uang? Gue transfer sekarang juga,”</p>

<p>    “Gue gak perlu uang, gue ingin milikin lo dan Shane,” ucapnya tanpa dosa.</p>

<p>   “Ih sinting lo demi apapun, sakit lo,”</p>

<p>    Kainan kini mendekatkan dirinya kepada Litha, saat selangkah lagi mendekat kepada Litha tiba-tiba terdengar suara sirine polisi. Lantas semua tersentak kaget. Kainan panik karena terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat, ia mengeluarkan sapu tangan yang berisi obat bius dan menempelkannya pada hidung Litha dan akhirnya Litha pun pingsan karena mengidup obat bius yang terakndung dalam sapu tangan tersebut.</p>

<p>    Kainan membawa Litha pergi dibantu oleh Faizal dan Rais, mereka pergi meninggalkan Shane sendiri di tempat tersebut hingga akhirnya polisi menemukan Shane. Terlihat pula Nahen mengikuti di belakang polisi tersebut. Melihat Shane yang terikat, Nahen segera menghampirinya dan membuka ikatan tersebut.</p>

<p>    “Litha mana? Lo gak kenapa-kenapa kan?” tanya Nahen dengan napas tersenggal karena berlari.</p>

<p>    “Gak tahu, tadi dibawa sama Kainan, Gue gak kenapa-kenapa,”</p>

<p>    Nahen memberikan minum pada Shane. “Minum dulu, tenangin diri,”</p>

<p>    “Kainan brengsek!” umpat Nahen.</p>

<p>    “Pak, ini ponsel siapatau punya Neng ini,” salah satu polisi memberikan ponsel warna violet. Yaitu ponsel milik Lalitha.</p>

<hr>

<p><strong>Sebelumnya</strong></p>

<p>    Nahen terus mencoba menghubungi kekasihnya. Namun <em>nihil</em> tidak ada jawaban. Melacak lokasinya pun tidak bisa karena ponsel Litha mati, tiba-tiba ia teringat kalau ia memasangkan <em>GPS</em> di mobil yang ia berikan kepada Litha sebagai hadiah ulang tahunnya,  <em>GPS</em> itu tersambung pada ponsel Nahen.</p>

<p>    Ia melihat titik lokasinya berada di sebuah tempat terpencil, Nahen mencari lokasi tersebut di <em>Google</em>, dan ternyata lokasi tersebut adalah lokasi gedung tua yang sudah terbengkalai cukup lama. Ia bingung, apa yang kekasihnya lakukan disitu? Nahen mempunyai firasat tidak enak. Akhirnya ia pergi dari kantor untuk menyusul kekasihnya itu, karena mempunyai firasat buruk, Nahen menghubungi polisi untuk berjaga-jaga.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://wordsmith.social/atyovela43/h-4</guid>
      <pubDate>Sat, 30 Oct 2021 09:10:54 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Propose You</title>
      <link>https://wordsmith.social/atyovela43/propose-you</link>
      <description>&lt;![CDATA[Disepanjang perjalanan menuju pantai Lalitha dan Nahen mengisinya dengan mendengarkan lagu kesukaan mereka, bernyanyi, bercerita, bercanda bersama. Perjalanan yang sangat menyenangkan, walau sedikit macet. Wajar saja karena Nahen dan Litha pergi saat weekend, dimana orang-orang pun ingin berlibur melepas penat. !--more--&#xA;&#xA;    Kurang lebih 4 jam perjalanan Bandung - Garut, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan yaitu Pantai Santolo. Sesuai dengan target Nahen mereka sampai di waktu sore. Keadaan pantai sudah agak sepi dikarenakan pengunjung mulai pulang satu persatu, pantai ini cenderung ramai pengunjung dari pagi ke siang.&#xA;&#xA;    Sore itu, mereka melakukan aktivitas layaknya pasangan yang sedang berlibur. Berfoto, berlari-lari di bibir pantai, bermain air dan pasir, tidak lupa juga mereka minum air kelapa muda yang di jual di warung pinggir pantai, karena tidak lengkap jika berkunjung ke pantai tapi tidak minum air kelapa muda. &#xA;&#xA;   Setelah puas beristirahat di warung pinggir pantai, Litha bangun dari duduknya dan berjalan menyusuri bibir pantai, Nahen hanya mengikuti langkah Litha. Mereka berdua berjalan dengan tenang dan terdiam menikmati suasana sunyi dan sepi. Hanya terdengar deburan ombak pantai yang bersahutan dan menyapu kaki mereka hangat, diiringi angin sepoi-sepoi yang menghembus ke arah mereka. Nahen sesekali melihat Litha yang sedang melihat matahari terbenam, rambut panjangnya yang terikat tertiup angin dan senyum manis terukir di bibirnya. Beberapa menit terdiam akhirnya Nahen membuka pembicaraan.&#xA;&#xA;    &#34;Tha, seneng gak?&#34;&#xA;&#xA;    &#34;Seneng lah, kamu?&#34;&#xA;&#xA;    &#34;Ya, jelas seneng, kan sama kamu,&#34;&#xA;&#xA;    &#34;Tha, aku boleh nanya?&#34; lanjut Nahen.&#xA;&#xA;    &#34;Boleh,&#34;&#xA;&#xA;    &#34;Kamu kenapa suka menghindar kalau aku ajak nikah?&#34;&#xA;&#xA;    Litha tertegun. &#34;Santai, jawab dengan santai,&#34; batinnya.&#xA;&#xA;    &#34;Oh itu, karena aku belum siap, aku takut akan pernikahan, takut gak bisa ngurus kamu, takut gak bisa mandiri, takut kekerasan dalam rumah tangga, kamu selingkuh, dan masih banyak lagi,&#34; jelas Litha.&#xA;&#xA;    &#34;Tapi, aku udah ngeyakinin diri sendiri. Aku gak boleh setakut itu, aku juga paham semua rumah tangga juga pasti ada permasalahan, cuma tergantung kitanya aja menghadapi permasalahan itu seperti apa,&#34; lanjutnya.&#xA;&#xA;    Nahen mengerti penjelasan Litha, ia sangat mengerti kalau Litha memang setakut itu.&#xA;&#xA;    &#34;Litha, tenang, aku gak mungkin mukul kamu, menyentuhmu disaat aku marah saja aku gak bisa, dan aku juga gak mungkin selingkuh, Tha.&#34;&#xA;&#xA;    Nahen menyusul langkah Litha sehingga Litha berhenti, dan kini ia berada di depan Litha. Nahen memegang bahu Litha menurunkan pandangannya agar sejajar dengan pandangan Litha saat ini.&#xA;&#xA;    &#34;Litha, aku mencintaimu tanpa syarat. Aku mencintai segala yang ada dalam diri kamu, aku tahu kalau kamu bukanlah bidadari, tapi kamu telah menjadi bidadari dalam hidupku. Sudah bertahun-tahun kita bersama, aku menyaksikan kamu bersama beberapa lelaki lain, mereka datang dan pergi, menyakitimu dan meninggalkan kamu. Kini,&#34; ucapan Nahen terhenti, ia mengeluarkan kotak kecil berwarna merah dari saku celananya, Nahen membuka kotak tersebut memperlihatkan cincin putih bertahtakan berlian yang sangat cantik.&#xA;&#xA;    Nahen bertekuk lutut di depan Litha, menarik napas gugup padahal ia sudah mengatakan ini berkali-kali kepada Litha. &#34;Tha, aku tahu aku bukan lelaki sempurna, tapi bersamamu aku merasa sempurna. Kamu adalah orang kedua yang sangat kucintai selepas Bunda. Aku berjanji akan selalu mencintaimu dan sampai kapanpun aku akan melindungimu. Aku gak tahu ini ucapan yang keberapa, tapi, Litha maukah kamu menikah denganku?&#34;&#xA;&#xA;    Litha mematung. Ia menutup mulutnya, air mata mulai membasahi pipinya, bukan air mata kesedihan melainkan air mata kebahagiaan. Ia masih tidak percaya bahwa lelaki di depannya ini masih belum menyerah meminta ia untuk menjadi pendamping hidupnya.&#xA;&#xA;    Dengan latar suara desiran ombak beserta langit senja, Litha menganggukan kepalanya. Nahen yang melihatnya tersenyum bahagia, ia menggapai tangan kanan Litha dan memasangkan cincin itu di jari manisnya sebelum akhirnya ia bangkit dan memberikan pelukan terhangatnya.&#xA;&#xA;    &#34;Nahen, terima kasih sudah hadir dan tidak menyerah,&#34; lirih Litha, ia mengeratkan pelukannya dan tidak mau melepaskannya.&#xA;&#xA;    &#34;Tha, aku yang berterimakasih. Terima kasih sudah lahir, terima kasih sudah menerima aku,&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Disepanjang perjalanan menuju pantai Lalitha dan Nahen mengisinya dengan mendengarkan lagu kesukaan mereka, bernyanyi, bercerita, bercanda bersama. Perjalanan yang sangat menyenangkan, walau sedikit macet. Wajar saja karena Nahen dan Litha pergi saat <em>weekend</em>, dimana orang-orang pun ingin berlibur melepas penat. </p>

<p>    Kurang lebih 4 jam perjalanan Bandung – Garut, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan yaitu Pantai Santolo. Sesuai dengan target Nahen mereka sampai di waktu sore. Keadaan pantai sudah agak sepi dikarenakan pengunjung mulai pulang satu persatu, pantai ini cenderung ramai pengunjung dari pagi ke siang.</p>

<p>    Sore itu, mereka melakukan aktivitas layaknya pasangan yang sedang berlibur. Berfoto, berlari-lari di bibir pantai, bermain air dan pasir, tidak lupa juga mereka minum air kelapa muda yang di jual di warung pinggir pantai, karena tidak lengkap jika berkunjung ke pantai tapi tidak minum air kelapa muda.</p>

<p>   Setelah puas beristirahat di warung pinggir pantai, Litha bangun dari duduknya dan berjalan menyusuri bibir pantai, Nahen hanya mengikuti langkah Litha. Mereka berdua berjalan dengan tenang dan terdiam menikmati suasana sunyi dan sepi. Hanya terdengar deburan ombak pantai yang bersahutan dan menyapu kaki mereka hangat, diiringi angin sepoi-sepoi yang menghembus ke arah mereka. Nahen sesekali melihat Litha yang sedang melihat matahari terbenam, rambut panjangnya yang terikat tertiup angin dan senyum manis terukir di bibirnya. Beberapa menit terdiam akhirnya Nahen membuka pembicaraan.</p>

<p>    “Tha, seneng gak?”</p>

<p>    “Seneng lah, kamu?”</p>

<p>    “Ya, jelas seneng, kan sama kamu,”</p>

<p>    “Tha, aku boleh nanya?” lanjut Nahen.</p>

<p>    “Boleh,”</p>

<p>    “Kamu kenapa suka menghindar kalau aku ajak nikah?”</p>

<p>    Litha tertegun. <em>“Santai, jawab dengan santai,”</em> batinnya.</p>

<p>    “Oh itu, karena aku belum siap, aku takut akan pernikahan, takut gak bisa ngurus kamu, takut gak bisa mandiri, takut kekerasan dalam rumah tangga, kamu selingkuh, dan masih banyak lagi,” jelas Litha.</p>

<p>    “Tapi, aku udah ngeyakinin diri sendiri. Aku gak boleh setakut itu, aku juga paham semua rumah tangga juga pasti ada permasalahan, cuma tergantung kitanya aja menghadapi permasalahan itu seperti apa,” lanjutnya.</p>

<p>    Nahen mengerti penjelasan Litha, ia sangat mengerti kalau Litha memang setakut itu.</p>

<p>    “Litha, tenang, aku gak mungkin mukul kamu, menyentuhmu disaat aku marah saja aku gak bisa, dan aku juga gak mungkin selingkuh, Tha.”</p>

<p>    Nahen menyusul langkah Litha sehingga Litha berhenti, dan kini ia berada di depan Litha. Nahen memegang bahu Litha menurunkan pandangannya agar sejajar dengan pandangan Litha saat ini.</p>

<p>    “Litha, aku mencintaimu tanpa syarat. Aku mencintai segala yang ada dalam diri kamu, aku tahu kalau kamu bukanlah bidadari, tapi kamu telah menjadi bidadari dalam hidupku. Sudah bertahun-tahun kita bersama, aku menyaksikan kamu bersama beberapa lelaki lain, mereka datang dan pergi, menyakitimu dan meninggalkan kamu. Kini,” ucapan Nahen terhenti, ia mengeluarkan kotak kecil berwarna merah dari saku celananya, Nahen membuka kotak tersebut memperlihatkan cincin putih bertahtakan berlian yang sangat cantik.</p>

<p>    Nahen bertekuk lutut di depan Litha, menarik napas gugup padahal ia sudah mengatakan ini berkali-kali kepada Litha. “Tha, aku tahu aku bukan lelaki sempurna, tapi bersamamu aku merasa sempurna. Kamu adalah orang kedua yang sangat kucintai selepas Bunda. Aku berjanji akan selalu mencintaimu dan sampai kapanpun aku akan melindungimu. Aku gak tahu ini ucapan yang keberapa, tapi, Litha maukah kamu menikah denganku?”</p>

<p>    Litha mematung. Ia menutup mulutnya, air mata mulai membasahi pipinya, bukan air mata kesedihan melainkan air mata kebahagiaan. Ia masih tidak percaya bahwa lelaki di depannya ini masih belum menyerah meminta ia untuk menjadi pendamping hidupnya.</p>

<p>    Dengan latar suara desiran ombak beserta langit senja, Litha menganggukan kepalanya. Nahen yang melihatnya tersenyum bahagia, ia menggapai tangan kanan Litha dan memasangkan cincin itu di jari manisnya sebelum akhirnya ia bangkit dan memberikan pelukan terhangatnya.</p>

<p>    “Nahen, terima kasih sudah hadir dan tidak menyerah,” lirih Litha, ia mengeratkan pelukannya dan tidak mau melepaskannya.</p>

<p>    “Tha, aku yang berterimakasih. Terima kasih sudah lahir, terima kasih sudah menerima aku,”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://wordsmith.social/atyovela43/propose-you</guid>
      <pubDate>Fri, 29 Oct 2021 08:58:34 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Pengakuan Nahen (2) dan Peresmian</title>
      <link>https://wordsmith.social/atyovela43/pengakuan-nahen-2</link>
      <description>&lt;![CDATA[Nahen POV&#xA;&#xA;Setelah pulang dari apartemen tadi, aku mampir ke rumah Lalitha. Aku menunggunya di depan gerbang rumahnya, tak lama Litha pun keluar dan menyuruhku untuk masuk kedalam.&#xA;&#xA;Seperti biasa rumahnya sepi karena orang tuanya sibuk bekerja dan bibi yang biasa ada di rumahnya akan pulang jika malam hari. !--more--&#xA;&#xA;&#34;Na, ada apa?&#34; tanya dia.&#xA;&#xA;Litha melihatku, memperhatikan dari ujung kepala hingga kaki. Kini ia fokus melihat tanganku yang agak terluka karena memukuli Kainan.&#xA;&#xA;&#34;Kamu ini kenapa? Abis berantem? Sama siapa?&#34; pertanyaan bertubi dari Litha.&#xA;&#xA;Aku terdiam tak menjawab pertanyaannya.&#xA;&#xA;Litha merentangkan tangannya. &#34;Mau peluk?&#34;&#xA;&#xA;Aku mengangguk dan memeluknya, terasa sangat hangat. Ia mengelus punggungku dengan lembut sampai tak sadar kalau aku meneteskan air mata di pelukannya.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa, hm?&#34; tanyanya lembut.&#xA;&#xA;&#34;Tha, aku minta maaf, maaf aku banyak menyembunyikan sesuatu dari kamu.&#34; ucapku dengan suara serak.&#xA;&#xA;&#34;Kamu nangis? Kenapa? Cerita aja,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tha, aku pernah bilang kalau aku punya saudara tiri? Itu Kainan, Tha. Dan  kamu bertanya aku habis berantem sama siapa? Sama Kainan karena dia yang menyebarkan video Shane.&#34;&#xA;&#xA;Kini pelukannya semakin erat, sepertinya Litha mengerti perasaanku saat ini.&#xA;&#xA;&#34;Lebih mirisnya, Shane ternyata mantan Kainan. Kamu tahu? Shane itu sepupu aku. Bertapa marahnya ketika aku tahu kalau sepupuku di gauli oleh kakak tiriku sendiri&#34; lanjutku.&#xA;&#xA;&#34;Udah? Ada yang mau di keluarin lagi?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aku minta maaf, Tha. Maaf telah membohongimu, menyembunyikan semua ini.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gak apa-apa, aku ngerti, Na. Aku tahu pasti ada alasan di balik semua ini ya? Na, aku percaya sama kamu, Sudah aku maafkan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tha, ada satu lagi yang aku sembunyiin,&#34; ucapku.&#xA;&#xA;&#34;Apa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tha, aku sayang sama kamu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya sayang sebagai teman, kan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gak, Tha, aku sayang kamu sebagai wanita. Maaf aku lancang.&#34;&#xA;&#xA;Sepertinya Lalitha kaget mendengar perkataanku, terlihat kalau dia melepaskan pelukannya.&#xA;&#xA;&#34;Na, gue sempet berfikir apakah gue salah waktu itu minta pacaran pura-pura  sama lo. Ternyata salah ya, karena gue juga mulai sayang sama lo dan melihat lo sebagai pria, Na&#34;&#xA;&#xA;Aku tak cukup kaget mendengar pernyataan Litha, karena selama ini menjalankan hubungan palsu denganku ia terlihat seperti menikmati peran itu.&#xA;&#xA;&#34;Yaudah, lo milik gue sekarang begitu pula gue milik lo.&#34; ucapku.&#xA;&#xA;&#34;Gak ada penolakan!&#34; lanjutku.&#xA;&#xA;Lalitha hanya tersenyum, senyum manis yang membuat terngiang-ngiang dalam otakku.&#xA;&#xA;&#34;Yaudah, obatin dulu tangannya ya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bokap sama nyokap ada?&#34; tanyaku&#xA;&#xA;&#34;Keluar tadi bilangnya mau malam seninan jalan-jalan berdua doang,&#34;&#xA;&#xA;Aku mengangguk. &#34; Oke, aku mau di obatin tapi nanti peluk lagi,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya sayang&#34;&#xA;&#xA;&#34;THAA!!&#34; teriakku.&#xA;&#xA;&#34;APA SIH?&#34; teriaknya tak mau kalah.&#xA;&#xA;&#34;Aba-aba dulu kek, jantung gue nih.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lebay ah,&#34;&#xA;&#xA;Begitulah malam ini, kami telah meresmikan hubungan palsu ini menjadi hubungan yang sesungguhnya.&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Nahen POV</strong></p>

<p>Setelah pulang dari apartemen tadi, aku mampir ke rumah Lalitha. Aku menunggunya di depan gerbang rumahnya, tak lama Litha pun keluar dan menyuruhku untuk masuk kedalam.</p>

<p>Seperti biasa rumahnya sepi karena orang tuanya sibuk bekerja dan bibi yang biasa ada di rumahnya akan pulang jika malam hari. </p>

<p>“Na, ada apa?” tanya dia.</p>

<p>Litha melihatku, memperhatikan dari ujung kepala hingga kaki. Kini ia fokus melihat tanganku yang agak terluka karena memukuli Kainan.</p>

<p>“Kamu ini kenapa? Abis berantem? Sama siapa?” pertanyaan bertubi dari Litha.</p>

<p>Aku terdiam tak menjawab pertanyaannya.</p>

<p>Litha merentangkan tangannya. “Mau peluk?”</p>

<p>Aku mengangguk dan memeluknya, terasa sangat hangat. Ia mengelus punggungku dengan lembut sampai tak sadar kalau aku meneteskan air mata di pelukannya.</p>

<p>“Kenapa, hm?” tanyanya lembut.</p>

<p>“Tha, aku minta maaf, maaf aku banyak menyembunyikan sesuatu dari kamu.” ucapku dengan suara serak.</p>

<p>“Kamu nangis? Kenapa? Cerita aja,”</p>

<p>“Tha, aku pernah bilang kalau aku punya saudara tiri? Itu Kainan, Tha. Dan  kamu bertanya aku habis berantem sama siapa? Sama Kainan karena dia yang menyebarkan video Shane.”</p>

<p>Kini pelukannya semakin erat, sepertinya Litha mengerti perasaanku saat ini.</p>

<p>“Lebih mirisnya, Shane ternyata mantan Kainan. Kamu tahu? Shane itu sepupu aku. Bertapa marahnya ketika aku tahu kalau sepupuku di gauli oleh kakak tiriku sendiri” lanjutku.</p>

<p>“Udah? Ada yang mau di keluarin lagi?”</p>

<p>“Aku minta maaf, Tha. Maaf telah membohongimu, menyembunyikan semua ini.”</p>

<p>“Gak apa-apa, aku ngerti, Na. Aku tahu pasti ada alasan di balik semua ini ya? Na, aku percaya sama kamu, Sudah aku maafkan.”</p>

<p>“Tha, ada satu lagi yang aku sembunyiin,” ucapku.</p>

<p>“Apa?”</p>

<p>“Tha, aku sayang sama kamu.”</p>

<p>“Iya sayang sebagai teman, kan?”</p>

<p>“Gak, Tha, aku sayang kamu sebagai wanita. Maaf aku lancang.”</p>

<p>Sepertinya Lalitha kaget mendengar perkataanku, terlihat kalau dia melepaskan pelukannya.</p>

<p>“Na, gue sempet berfikir apakah gue salah waktu itu minta pacaran pura-pura  sama lo. Ternyata salah ya, karena gue juga mulai sayang sama lo dan melihat lo sebagai pria, Na”</p>

<p>Aku tak cukup kaget mendengar pernyataan Litha, karena selama ini menjalankan hubungan palsu denganku ia terlihat seperti menikmati peran itu.</p>

<p>“Yaudah, lo milik gue sekarang begitu pula gue milik lo.” ucapku.</p>

<p>“Gak ada penolakan!” lanjutku.</p>

<p>Lalitha hanya tersenyum, senyum manis yang membuat terngiang-ngiang dalam otakku.</p>

<p>“Yaudah, obatin dulu tangannya ya?”</p>

<p>“Bokap sama nyokap ada?” tanyaku</p>

<p>“Keluar tadi bilangnya mau malam seninan jalan-jalan berdua doang,”</p>

<p>Aku mengangguk. “ Oke, aku mau di obatin tapi nanti peluk lagi,”</p>

<p>“Iya sayang”</p>

<p>“THAA!!” teriakku.</p>

<p>“APA SIH?” teriaknya tak mau kalah.</p>

<p>“Aba-aba dulu kek, jantung gue nih.”</p>

<p>“Lebay ah,”</p>

<p>Begitulah malam ini, kami telah meresmikan hubungan palsu ini menjadi hubungan yang sesungguhnya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://wordsmith.social/atyovela43/pengakuan-nahen-2</guid>
      <pubDate>Sun, 17 Oct 2021 16:57:17 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Tinkerbell</title>
      <link>https://wordsmith.social/atyovela43/ps</link>
      <description>&lt;![CDATA[Bukannya bermain Play Station, Nahen, Jovan, Arkasa dan Aurellio malah menonton Tinkerbell sambil memakan cemilan yang disediakan oleh Ibu Jovan. Tak lupa selain menonton dan makan mereka juga berjulit alias bergibah yang di sertai obrolan random lainnya. !--more--&#xA;&#xA;&#34;Na, itu beneran si Litha di tagih duit selama pacaran?&#34; tanya Jovan.&#xA;&#xA;&#34;Iya,&#34; jawabnya singkat.&#xA;&#xA;&#34;Terus di kasih?&#34; tanya Aurel.&#xA;&#xA;Nahen hanya mengangguk sambil mengunyah buah pear yang sedang ia makan.&#xA;&#xA;Arkasa mengumpat. &#34;Sinting sekali kau Kainan. Kalo gue jadi dia beneran deh gue mau left dari bumi terus new life.&#34;&#xA;&#xA;&#34;New life, new life lo pikir game bisa new life,&#34; cetus Aurel.&#xA;&#xA;Jovan bertanya kembali. &#34;Lo lagi ga nyembunyiin sesuatu kan dari kita, Na?&#34;&#xA;&#xA;Bukannya fokus menonton, kini semua mata tertuju pada Nahen. Nahen terdiam dia berpikir apakah harus ia menceritakan yang sesungguhnya.&#xA;&#xA;5 menit menunggu jawaban Nahen, akhirnya ia membuka suara.&#xA;&#xA;&#34;Oke, jadi gini..&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sebenernya gue itu...&#34;&#xA;&#xA;Semua kini benar-benar fokus kepada Nahen.&#xA;&#xA;&#34;Gue emang pacaran beneran sama Litha,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Alah anjing,&#34; umpat Jovan sembai melempar makaroni pedas yang ia pegang dan hendak ia makan.&#xA;&#xA;Arkasa memegang dahinya frustasi. &#34;Nyesel gue nungguin jawaban lo, Na.&#34;&#xA;&#xA;Sedangkan Aurel hanya memandang Nahen sinis.&#xA;&#xA;&#34;Apa Rel? Ngajak berantem? Atau mau gue jodohin sama Atta?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Asu,&#34; jawab Aurel.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Bukannya bermain <em>Play Station</em>, Nahen, Jovan, Arkasa dan Aurellio malah menonton <em>Tinkerbell</em> sambil memakan cemilan yang disediakan oleh Ibu Jovan. Tak lupa selain menonton dan makan mereka juga <em>berjulit</em> alias <em>bergibah</em> yang di sertai obrolan <em>random</em> lainnya. </p>

<p>“Na, itu beneran si Litha di tagih duit selama pacaran?” tanya Jovan.</p>

<p>“Iya,” jawabnya singkat.</p>

<p>“Terus di kasih?” tanya Aurel.</p>

<p>Nahen hanya mengangguk sambil mengunyah buah pear yang sedang ia makan.</p>

<p>Arkasa mengumpat. “Sinting sekali kau Kainan. Kalo gue jadi dia beneran deh gue mau <em>left</em> dari bumi terus <em>new life</em>.”</p>

<p>“<em>New life, new life</em> lo pikir game bisa <em>new life</em>,” cetus Aurel.</p>

<p>Jovan bertanya kembali. “Lo lagi ga nyembunyiin sesuatu kan dari kita, Na?”</p>

<p>Bukannya fokus menonton, kini semua mata tertuju pada Nahen. Nahen terdiam dia berpikir apakah harus ia menceritakan yang sesungguhnya.</p>

<p>5 menit menunggu jawaban Nahen, akhirnya ia membuka suara.</p>

<p>“Oke, jadi gini..”</p>

<p>“Sebenernya gue itu...”</p>

<p>Semua kini benar-benar fokus kepada Nahen.</p>

<p>“Gue emang pacaran beneran sama Litha,”</p>

<p>“Alah anjing,” umpat Jovan sembai melempar makaroni pedas yang ia pegang dan hendak ia makan.</p>

<p>Arkasa memegang dahinya frustasi. “Nyesel gue nungguin jawaban lo, Na.”</p>

<p>Sedangkan Aurel hanya memandang Nahen sinis.</p>

<p>“Apa Rel? Ngajak berantem? Atau mau gue jodohin sama Atta?”</p>

<p>“Asu,” jawab Aurel.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://wordsmith.social/atyovela43/ps</guid>
      <pubDate>Sat, 16 Oct 2021 13:56:41 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>180.</title>
      <link>https://wordsmith.social/atyovela43/180-xgf3</link>
      <description>&lt;![CDATA[Lalitha POV&#xA;&#xA;Aku membulatkan mataku setelah melihat pesan yang dikirim oleh Nahen.&#xA;&#xA;&#34;Sayang?&#34;&#xA;&#xA;Kami kan hanya berpura-pura, haruskah sampai memanggil sayang? !--more--&#xA;&#xA;Aku beranjak dari kasurku, melihat ke luar jendela. Benar saja dia ada di luar. Ponselku terus berdering, Nahen terus meneleponku.&#xA;&#xA;Aku tidak tahu kenapa aku bisa marah karena hal ini? Rasanya aku benar-benar seperti tidak di anggap olehnya. Padahal aku kan hanya berpura-pura, tapi kok rasanya sakit sekali?&#xA;&#xA;Dengan rasa malas aku turun dan membukakan pintu untuk Nahen.&#xA;&#xA;&#34;Na, buka gerbangnya sendiri ya, susah,&#34; teriakku dari depan pintu utama.&#xA;&#xA;Nahen membuka gerbang lalu memasukan motornya ke halaman rumah. Setelah itu ia menghampiriku.&#xA;&#xA;&#34;Tha, ini pesenan lo,&#34; ucap Nahen sembari memberikan katung kresek berisi makanan kepadaku.&#xA;&#xA;Aku tidak meresponnya. Aku berlalu meninggalkannya ke dalam rumah dan dia mengikutiku.&#xA;&#xA;&#34;Th, lo marah?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo pikir lah sendiri,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tha, maaf jari gue ini emang harus di ganti kayanya,&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue harus jawab apa sama temen gue, Na? Mereka nanya ke gue.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jawab aja gue iseng, selebihnya gak usah di gubris,&#34;&#xA;&#xA;Aku tidak meresponnya dan kembali berjalan menuju arah kamarku. Tiba-tiba aku merasakan Nahen memelukku dari belakang.&#xA;&#xA;&#34;Tha, udah dong jangan marah, aku minta maaf ya? Sayang.&#34;&#xA;&#xA;Aku berusaha melepaskan pelukan itu.&#xA;&#xA;&#34;Na, lo terlalu berlebihan ga sih? Kita cuma pura-pura.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lima menit Tha, biarkan gue menikmati ini. Biarkan gue totalitas menjadi pacar lo walau gue tau ini hanya hubungan palsu,&#34; ucapnya dengan suara berat.&#xA;&#xA;Jantungku berdegup sangat kencang setelah mendengar ucapan Nahen tersebut.&#xA;&#xA;Ini sangat gila, suasana ini membuatku gila. Terlebih lagi suara berat Nahen yang tersengar sangat sexy di telingaku.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Lalitha POV</strong></p>

<p>Aku membulatkan mataku setelah melihat pesan yang dikirim oleh Nahen.</p>

<p>“Sayang?”</p>

<p>Kami kan hanya berpura-pura, haruskah sampai memanggil sayang? </p>

<p>Aku beranjak dari kasurku, melihat ke luar jendela. Benar saja dia ada di luar. Ponselku terus berdering, Nahen terus meneleponku.</p>

<p>Aku tidak tahu kenapa aku bisa marah karena hal ini? Rasanya aku benar-benar seperti tidak di anggap olehnya. Padahal aku kan hanya berpura-pura, tapi kok rasanya sakit sekali?</p>

<p>Dengan rasa malas aku turun dan membukakan pintu untuk Nahen.</p>

<p>“Na, buka gerbangnya sendiri ya, susah,” teriakku dari depan pintu utama.</p>

<p>Nahen membuka gerbang lalu memasukan motornya ke halaman rumah. Setelah itu ia menghampiriku.</p>

<p>“Tha, ini pesenan lo,” ucap Nahen sembari memberikan katung kresek berisi makanan kepadaku.</p>

<p>Aku tidak meresponnya. Aku berlalu meninggalkannya ke dalam rumah dan dia mengikutiku.</p>

<p>“Th, lo marah?”</p>

<p>“Lo pikir lah sendiri,”</p>

<p>“Tha, maaf jari gue ini emang harus di ganti kayanya,”</p>

<p>“Gue harus jawab apa sama temen gue, Na? Mereka nanya ke gue.”</p>

<p>“Jawab aja gue iseng, selebihnya gak usah di gubris,”</p>

<p>Aku tidak meresponnya dan kembali berjalan menuju arah kamarku. Tiba-tiba aku merasakan Nahen memelukku dari belakang.</p>

<p>“Tha, udah dong jangan marah, aku minta maaf ya? Sayang.”</p>

<p>Aku berusaha melepaskan pelukan itu.</p>

<p>“Na, lo terlalu berlebihan ga sih? Kita cuma pura-pura.”</p>

<p>“Lima menit Tha, biarkan gue menikmati ini. Biarkan gue totalitas menjadi pacar lo walau gue tau ini hanya hubungan palsu,” ucapnya dengan suara berat.</p>

<p>Jantungku berdegup sangat kencang setelah mendengar ucapan Nahen tersebut.</p>

<p>Ini sangat gila, suasana ini membuatku gila. Terlebih lagi suara berat Nahen yang tersengar sangat <em>sexy</em> di telingaku.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://wordsmith.social/atyovela43/180-xgf3</guid>
      <pubDate>Sun, 10 Oct 2021 05:38:18 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Makan Bersama</title>
      <link>https://wordsmith.social/atyovela43/makan-bersama</link>
      <description>&lt;![CDATA[tw // kekerasan, kematian&#xA;&#xA;Nahen POV&#xA;&#xA;“Nahen, turun makan dulu ayo,”&#xA;&#xA;Terdengar teriakan Tante memanggilku. Sungguh aku sangat malas terlebih lagi moodku sudah hancur semenjak melihat Kainan. Terpaksa aku harus turun dari pada aku mendengar ocehan Papah, padahal aku ingin tidur karena begadang semalaman. !--more--&#xA;&#xA;Aku pun turun dan terlihat di meja makan sudah tertata makanan diatasnya. Dengan malas aku duduk di samping Kainan karena tinggal kursi itu yang tersisa. Kami mulai menikmati makanan dengan suasana hening hanya terdengar  suara dentingan sendok dan garpu yang saling bersahutan sampai akhirnya Papah mencairkan suasana.&#xA;&#xA;“Kamu semalam dari mana Na?” &#xA;&#xA;Aku menjawabnya dengan nada datar. “UGD,”&#xA;&#xA;Sepertinya Papah kaget mendengar jawabanku, “Ngapain di UGD?”&#xA;“Nemenin Litha, Pah.”&#xA;&#xA;Papah hanya mengangguk mendengar jawabku, tidak ada reaksi lain.&#xA;&#xA;“Oh iya, selamat datang Kainan, sebetulnya umur kalian tidak beda jauh hanya beda beberapa bulan. Hanya saja Kainan yang lebih dulu lahir, jadi tidak apa-apa kan Nahen kalau Kainan menjadi kakakmu?”&#xA;Aku hanya diam fokus terhadap makananku dan tidak memberikan respon apapun.&#xA;&#xA;“Mamah denger juga kalian satu sekolah ya?”&#xA;&#xA;“Iya Mah, Cuma beda kelas. Kalau tahu Nahen adik aku pasti udah aku sapa dari dulu,” jawab Kainan.&#xA;&#xA;“Iya salah kami juga karena tidak memberi tahu soal ini, Papah minta maaf ya Kainan, Nahen,”&#xA;&#xA;“Iya karena kalau dikasih tau di awal Kainan juga gak akan setuju kali sama kaya aku, gak setuju kalian berdua nikah, apalagi nikahnya diem-diem.”  Paparku.&#xA;&#xA;“Nahen!” bentak Papah.&#xA;&#xA;“Eh lo tau gak, Papah tiri lo ini meninggalkan tanggung jawabnya sebagai suami loh, masa istrinya lagi sakit gak diurusin dan pas istrinya meninggal dia malah pergi sama Mamah lo, kelakuan bejat Papah tiri lo.&#34;&#xA;&#xA;Semua orang di meja makan memandangiku, terutama Papah. Ia melihatku dengan sorotan mata yang tajam. Tante berusaha menenangkan Papah dengan mengelus pundak Papah.&#xA;&#xA;“Udah, udah sabar Mas,&#34; ucap Tante.&#xA;&#xA;“Nahen, kamu masih belum bisa berdamai ya?  Kita lupain kejadian yang lalu ya? Kita mulai hidup baru.&#34; lanjutnya sembari tersenyum ke arahku.&#xA;&#xA;“Tante juga gak tahu malu sekali ya, godain suami orang buat dapetin hartanya sampai menghasut Papah saya buat gak peduliin Bunda saya. Tante juga..”&#xA;&#xA;“Jaga omongan lo Nahen, berani banget lo ngomong gitu ke nyokap gue!” potong Kainan.&#xA;&#xA;Brakk. Papah menggebrak meja makan. Kami semua terdiam.&#xA;&#xA;“Cukup, makanlah dengan tenang. Papah tidak pernah mengajarkan kamu ribut di meja makan Nahen,”&#xA;&#xA;Aku menghela napas kasar, beranjak dari dudukku dan berlalu meninggalkan mereka tanpa sepatah kata apapun. Aku menaiki tangga dengan kesal, mengapa ini harus terjadi pada keluargaku?&#xA;&#xA;Aku merebahkan diri di kasur, memakai airpods dan mendengarkan lagu kesukaanku sambil menatap langit-langit kamar.  Kembali teringat kenangan yang tidak ingin ku ingat.&#xA;&#xA;-Flashback on–&#xA;&#xA;2 Tahun lalu&#xA;&#xA;Author POV&#xA;&#xA;Nahen duduk di samping ranjang Nadien. Menggenggam dan mengecup punggung tangan Nadien mengalirkan kekuatan serta pengharapan agar Bundanya segera membuka matanya. Sudah 1 bulan Nadien terbaring di rumah sakit semenjak kecelakaan yang  menyebabkan dirinya koma karena mengalami pendarahan di otak.&#xA;&#xA;“Bunda, maaf Nahen belum bisa bawa Papah kesini hari ini.&#34;&#xA;&#xA;“Bunda, kapan bangun? Gak capek tidur terus? Nahen kangen masakan Bunda. Oh iya Bun, Nahen hari ini dapat juara kelas lagi loh, Nahen kalahin Litha. Bunda pernah bilang mau kasih Nahen hadiah kalau berhasil melampaui Litha.” Tanpa sadar air mata membasahi pipi Nahen.&#xA;&#xA;“Bun, aku lihat Papah jalan sama wanta lain. Aku tahu kenapa Papah gak mau kesini, pasti karena wanita itu kan Bun? Bun, kalau Bunda bangun Nahen janji bakal jagain Bunda. Nahen gak akan kaya Papah Bun janji,” ucapnya sambil menangis hingga akhirnya tertidur dengan posisi duduk di samping Nadine.&#xA;&#xA;Sampai pada akhirnya ada seseorang yang memasuki ruang perawatan Nadine, ia mencabut selang oksigen Nadine dan menyebabkan monitor di sebelah ranjang Nadine berbunyi. Nahen bangun dari tidurnya karena kaget dengan suara monitor Bundanya berbunyi. Bergegas ia memencet bel di dekat ranjang yang berfungsi untuk memanggil perawat dan tak lama perawat pun datang.&#xA;&#xA;“Dokter, Dokter! Saturasi pasien menurun,” teriak perawat.&#xA;&#xA;Tiiiiiit suara monitor menunjukan garis lurus sempurna sebelum Dokter datang ke ruangan Nadine.&#xA;&#xA;“Bunda, Suster tolong Bunda, Dokter tolong Bunda!” histeris Nahen.&#xA;&#xA;Tak lama Dokter pun datang dengan dua suster lainnya dan kaget melihat monitor Nadine menunjukan garis lurus.&#xA;&#xA;“Suster, siapkan Defibrilator! Dan tolong Nahen minggir dulu sebentar ya, Suster tolong”&#xA;&#xA;Suster membantu menyampingkan Nahen. Terlihat dokter sedang berusaha menolong Nadine di bantu oleh suster yang lain, Dokter sibuk melalukan CPR selagi menunggu Defibrilator siap digunakan.&#xA;&#xA;“Kantong Ambu,” ucap Dokter.&#xA;&#xA;Suster dengan sigap mengambil kantong ambu untuk memberikan oksigen sementara kepada Nadine.&#xA;&#xA;“Sudah siap Dok,” ucap Suster yang mengurus defibrilator.&#xA;&#xA;“Isi 200 joule!”&#xA;&#xA;“Sudah terisi,”&#xA;&#xA;“Baik, mundur semua!”&#xA;&#xA;“Shoot!” &#xA;&#xA;Nihil, Nadine tidak memberi respon bahkan alat monitornya masih sama. Dokter melakukan CPR kembali.&#xA;&#xA;“Isi 200 joule!”&#xA;&#xA;“Sudah terisi dok,”&#xA;&#xA;“Baik, mundur semua!”&#xA;&#xA;“Shoot!”&#xA;&#xA;Hasilnya tetap sama, nihil.&#xA;&#xA;“Nadine, kumohon bertahanlah,” gumam Dokter pelan. &#xA;&#xA;Nahen yang melihat itu histeris, ia ketakutan kalau Bundanya tidak bisa diselamatkan. Sudah 20 menit Dokter melakukan kegiatan tersebut tapi tetap Nadine tidak merespon apapun dan monitornya masih menunjukan garis lurus yang sama.&#xA;&#xA;“Nadine,” lirih Dokter itu. “Kumohon,”&#xA;&#xA;“Dok,” panggil suster sambil menggeleng kepalanya menandakan tidak ada perkembangan.&#xA;&#xA;“Dok, anda harus umumkan waktu kematian pasien,”&#xA;&#xA;Dokter menghela napas tak percaya kalau ia gagal menyelamatkan Nadine. Dengan sangat berat hati ia mengumumkan waktu kematian tersebut.&#xA;&#xA;“Waktu kematian…” &#xA;&#xA;“ENGGAK! BUNDA GAK MENINGGAL KAN DOK?!” sela Nahen.&#xA;&#xA;Ucapan Dokter terhenti karena Nahen memotong ucapannya.&#xA;&#xA;“Jam tujuh belas lebih lima belas menit,” &#xA;&#xA;Nahen menangis sejadi-jadinya, ia tak percaya kalau Bundanya kini telah tiada.&#xA;&#xA;Dokter membisikan sesuatu di telinga Nadine. “Selamat tidur ratuku, maafkan aku yang tidak bisa menjagamu.”&#xA;&#xA;Jasad Nadien diurus oleh Perawat, sedangakan Dokter membawa Nahen yang masih menangis keluar dari ruangan.&#xA;&#xA;“Nahen, tunggu sebentar ya, nanti pasti Papah jemput kamu,”&#xA;&#xA;Dokter itu pun merogoh ponsel dari kantung jasnya dan menghubungi seseorang.&#xA;&#xA;“Rel, Nadine udah gak ada, ini anak lo sama gue dulu ya?”&#xA;&#xA;“Gue sibuk, bisa tolong urusin pemakaman Nadine gak Han?”&#xA;&#xA;“LO SIBUK SAMA WANITA ITU KAN? INI ISTRI LO MENINGGAL DAN LO MASIH SIBUK DENGAN WANITA ITU?! SAKIT LO?!”&#xA;&#xA;“Ryhan, tolong sekali ini aja. Gue titip Nahen juga sama lo. Acha lagi sakit dan gak mau ditinggal soalnya,”&#xA;&#xA;“Brengsek lo jadi suami!”&#xA;&#xA;Ryhan memutus panggilan itu. Muka Ryhan memerah karena menahan amarah, demi apapun apakah benar yang tadi ia telpon adalah Farrel yang ia kenal? Farrel yang baik hati berubah menjadi bajingan hanya karena 1 wanita.&#xA;&#xA;“Nahen, sekarang ikut om dulu ya?”&#xA;&#xA;“Papah gimana, Om?”&#xA;&#xA;“Papah sibuk,”&#xA;&#xA;“Bohong! Pasti Papah sedang sibuk dengan wanita jalang itu!”&#xA;&#xA;“Sttt, kamu ini masih kecil kok sudah kasar? Bukan karena itu kok, percaya sama Om Reyhan ya?”&#xA;&#xA;“Nahen udah besar, udah enam belas tahun Om,”&#xA;&#xA;“Masa? Kamu masih sebelas tahun ini mah,”&#xA;&#xA;Nahen berdecak kesal. “Ih Om, masih mau terus anggep aku anak kecil?”&#xA;&#xA;Ryhan terkekeh sambil mengelus kepala Nahen. “Haha, ponakan Om sudah besar ya. Berarti udah bisa ikhlas ya soal Bunda? Gak boleh terlalu sedih oke?” &#xA;&#xA;Nahen kembali menunduk, ia kembali terisak. “Bunda udah sehat berarti ya Om, udah gak sakit lagi.”&#xA;&#xA;Ryhan yang melihat Nahen pun ikut sedih. Tanpa aba-aba ia membawa Nahen ke pelukannya. “Iya sayang, Bunda udah sehat sekarang ya,” tanpa disadari, Ryhan pun menitikkan air matanya tanpa terisak.&#xA;&#xA;-Flashback off-&#xA;&#xA;Mengingat itu membuat Nahen terpejam dan menitikkan air mata.&#xA;&#xA;Brakkk. Suara pintu terbuka keras.&#xA;&#xA;“Bisa ketok dulu gak sih?” ucap Nahen.&#xA;&#xA;“Lo bisa kan gak usah kasar sama nyokap gue?”&#xA;&#xA;Nahen tidak memberikan respon apapun.&#xA;&#xA;“Bangun lo!” ucap Kainan sembari menarik tangan Nahen.&#xA;&#xA;Nahen terduduk kesal. “Mau apa lagi sih lo? Ganggu gue tidur aja,”&#xA;&#xA;“Asal lo tau Na, lo boleh kasar sama gue tapi engga sama nyokap gue. Emang gue juga setuju sama pernikahan mereka? Gue juga gak tau kalau nyokap selama di Bandung deket sama Papah lo. Tiba-tiba nyokap balik ke Jakarta minta cerai sama bokap gue, oh dan ternyata nyokap minta cerai buat nikah sama bokap lo. Gue di bawa kesini juga semata-mata buat duit Na, gue di Jakarta gak di urus sama bokap gue.” Jelas Kainan.&#xA;&#xA;“Oh, pantesan buah gak akan jatuh jauh dari pohonnya ya, udah gila harta brengsek lagi”&#xA;&#xA;Kainan mengepal tangannya bersiap meluncurkan pukulan kepada Nahen. “Anjing lo!” Satu pukulan mendarat di pipi mulus Nahen. Nahen merasakan bibirnya luka, ia memegang ujung bibir itu dengan jempol tangannya.&#xA;&#xA;“Shit,”&#xA;&#xA;Nahen beranjak dari duduknya dan menghampiri Kainan, ia menarik kerah baju Kainan dan menatapnya tajam.&#xA;&#xA;Nahen tersenyum miring. “Jangan macem-macem lo sama gue,” ancam nya.&#xA;&#xA;“Lo salah Na, harusnya lo yang gak macem-macem sama gue. Gue bisa ganggu temen lo, atau temen Lalitha,” timpal Kainan. “Oh, atau bahkan gue bisa ganggu Lalitha,”&#xA;&#xA;Nahen melotot. “Jangan berani-berani lo sentuh Lalitha atau lo habis sama gue,”&#xA;&#xA;“Gue tahu lo lemah Nahen,”&#xA;&#xA;Nahen menendang perut Kainan. Ia masih memegang kerah baju itu dan menyeret Kainan agar keluar dari kamarnya.&#xA;&#xA;“Gue gak selemah yang lo pikir. Bahkan gue rela mati demi Lalitha!” tegasnya.&#xA;&#xA;Nahen melepaskan kerah baju itu dan Kainan jatuh tersungkur.&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>tw // kekerasan, kematian</p>

<p><strong>Nahen POV</strong></p>

<p>“Nahen, turun makan dulu ayo,”</p>

<p>Terdengar teriakan Tante memanggilku. Sungguh aku sangat malas terlebih lagi moodku sudah hancur semenjak melihat Kainan. Terpaksa aku harus turun dari pada aku mendengar ocehan Papah, padahal aku ingin tidur karena begadang semalaman. </p>

<p>Aku pun turun dan terlihat di meja makan sudah tertata makanan diatasnya. Dengan malas aku duduk di samping Kainan karena tinggal kursi itu yang tersisa. Kami mulai menikmati makanan dengan suasana hening hanya terdengar  suara dentingan sendok dan garpu yang saling bersahutan sampai akhirnya Papah mencairkan suasana.</p>

<p>“Kamu semalam dari mana Na?”</p>

<p>Aku menjawabnya dengan nada datar. “UGD,”</p>

<p>Sepertinya Papah kaget mendengar jawabanku, “Ngapain di UGD?”
“Nemenin Litha, Pah.”</p>

<p>Papah hanya mengangguk mendengar jawabku, tidak ada reaksi lain.</p>

<p>“Oh iya, selamat datang Kainan, sebetulnya umur kalian tidak beda jauh hanya beda beberapa bulan. Hanya saja Kainan yang lebih dulu lahir, jadi tidak apa-apa kan Nahen kalau Kainan menjadi kakakmu?”
Aku hanya diam fokus terhadap makananku dan tidak memberikan respon apapun.</p>

<p>“Mamah denger juga kalian satu sekolah ya?”</p>

<p>“Iya Mah, Cuma beda kelas. Kalau tahu Nahen adik aku pasti udah aku sapa dari dulu,” jawab Kainan.</p>

<p>“Iya salah kami juga karena tidak memberi tahu soal ini, Papah minta maaf ya Kainan, Nahen,”</p>

<p>“Iya karena kalau dikasih tau di awal Kainan juga gak akan setuju kali sama kaya aku, gak setuju kalian berdua nikah, apalagi nikahnya diem-diem.”  Paparku.</p>

<p>“Nahen!” bentak Papah.</p>

<p>“Eh lo tau gak, Papah tiri lo ini meninggalkan tanggung jawabnya sebagai suami loh, masa istrinya lagi sakit gak diurusin dan pas istrinya meninggal dia malah pergi sama Mamah lo, kelakuan bejat Papah tiri lo.”</p>

<p>Semua orang di meja makan memandangiku, terutama Papah. Ia melihatku dengan sorotan mata yang tajam. Tante berusaha menenangkan Papah dengan mengelus pundak Papah.</p>

<p>“Udah, udah sabar Mas,” ucap Tante.</p>

<p>“Nahen, kamu masih belum bisa berdamai ya?  Kita lupain kejadian yang lalu ya? Kita mulai hidup baru.” lanjutnya sembari tersenyum ke arahku.</p>

<p>“Tante juga gak tahu malu sekali ya, godain suami orang buat dapetin hartanya sampai menghasut Papah saya buat gak peduliin Bunda saya. Tante juga..”</p>

<p>“Jaga omongan lo Nahen, berani banget lo ngomong gitu ke nyokap gue!” potong Kainan.</p>

<p><em>Brakk</em>. Papah menggebrak meja makan. Kami semua terdiam.</p>

<p>“Cukup, makanlah dengan tenang. Papah tidak pernah mengajarkan kamu ribut di meja makan Nahen,”</p>

<p>Aku menghela napas kasar, beranjak dari dudukku dan berlalu meninggalkan mereka tanpa sepatah kata apapun. Aku menaiki tangga dengan kesal, mengapa ini harus terjadi pada keluargaku?</p>

<p>Aku merebahkan diri di kasur, memakai airpods dan mendengarkan lagu kesukaanku sambil menatap langit-langit kamar.  Kembali teringat kenangan yang tidak ingin ku ingat.</p>

<p>-Flashback on–</p>

<p><strong>2 Tahun lalu</strong></p>

<p><strong>Author POV</strong></p>

<p>Nahen duduk di samping ranjang Nadien. Menggenggam dan mengecup punggung tangan Nadien mengalirkan kekuatan serta pengharapan agar Bundanya segera membuka matanya. Sudah 1 bulan Nadien terbaring di rumah sakit semenjak kecelakaan yang  menyebabkan dirinya koma karena mengalami pendarahan di otak.</p>

<p>“Bunda, maaf Nahen belum bisa bawa Papah kesini hari ini.”</p>

<p>“Bunda, kapan bangun? Gak capek tidur terus? Nahen kangen masakan Bunda. Oh iya Bun, Nahen hari ini dapat juara kelas lagi loh, Nahen kalahin Litha. Bunda pernah bilang mau kasih Nahen hadiah kalau berhasil melampaui Litha.” Tanpa sadar air mata membasahi pipi Nahen.</p>

<p>“Bun, aku lihat Papah jalan sama wanta lain. Aku tahu kenapa Papah gak mau kesini, pasti karena wanita itu kan Bun? Bun, kalau Bunda bangun Nahen janji bakal jagain Bunda. Nahen gak akan kaya Papah Bun janji,” ucapnya sambil menangis hingga akhirnya tertidur dengan posisi duduk di samping Nadine.</p>

<p>Sampai pada akhirnya ada seseorang yang memasuki ruang perawatan Nadine, ia mencabut selang oksigen Nadine dan menyebabkan monitor di sebelah ranjang Nadine berbunyi. Nahen bangun dari tidurnya karena kaget dengan suara monitor Bundanya berbunyi. Bergegas ia memencet bel di dekat ranjang yang berfungsi untuk memanggil perawat dan tak lama perawat pun datang.</p>

<p>“Dokter, Dokter! Saturasi pasien menurun,” teriak perawat.</p>

<p><em>Tiiiiiit</em> suara monitor menunjukan garis lurus sempurna sebelum Dokter datang ke ruangan Nadine.</p>

<p>“Bunda, Suster tolong Bunda, Dokter tolong Bunda!” histeris Nahen.</p>

<p>Tak lama Dokter pun datang dengan dua suster lainnya dan kaget melihat monitor Nadine menunjukan garis lurus.</p>

<p>“Suster, siapkan <em>Defibrilator</em>! Dan tolong Nahen minggir dulu sebentar ya, Suster tolong”</p>

<p>Suster membantu menyampingkan Nahen. Terlihat dokter sedang berusaha menolong Nadine di bantu oleh suster yang lain, Dokter sibuk melalukan <em>CPR</em> selagi menunggu <em>Defibrilator</em> siap digunakan.</p>

<p>“Kantong Ambu,” ucap Dokter.</p>

<p>Suster dengan sigap mengambil kantong ambu untuk memberikan oksigen sementara kepada Nadine.</p>

<p>“Sudah siap Dok,” ucap Suster yang mengurus <em>defibrilator</em>.</p>

<p>“Isi 200 joule!”</p>

<p>“Sudah terisi,”</p>

<p>“Baik, mundur semua!”</p>

<p>“Shoot!”</p>

<p>Nihil, Nadine tidak memberi respon bahkan alat monitornya masih sama. Dokter melakukan <em>CPR</em> kembali.</p>

<p>“Isi 200 joule!”</p>

<p>“Sudah terisi dok,”</p>

<p>“Baik, mundur semua!”</p>

<p>“Shoot!”</p>

<p>Hasilnya tetap sama, nihil.</p>

<p>“Nadine, kumohon bertahanlah,” gumam Dokter pelan.</p>

<p>Nahen yang melihat itu histeris, ia ketakutan kalau Bundanya tidak bisa diselamatkan. Sudah 20 menit Dokter melakukan kegiatan tersebut tapi tetap Nadine tidak merespon apapun dan monitornya masih menunjukan garis lurus yang sama.</p>

<p>“Nadine,” lirih Dokter itu. “Kumohon,”</p>

<p>“Dok,” panggil suster sambil menggeleng kepalanya menandakan tidak ada perkembangan.</p>

<p>“Dok, anda harus umumkan waktu kematian pasien,”</p>

<p>Dokter menghela napas tak percaya kalau ia gagal menyelamatkan Nadine. Dengan sangat berat hati ia mengumumkan waktu kematian tersebut.</p>

<p>“Waktu kematian…”</p>

<p>“ENGGAK! BUNDA GAK MENINGGAL KAN DOK?!” sela Nahen.</p>

<p>Ucapan Dokter terhenti karena Nahen memotong ucapannya.</p>

<p>“Jam tujuh belas lebih lima belas menit,”</p>

<p>Nahen menangis sejadi-jadinya, ia tak percaya kalau Bundanya kini telah tiada.</p>

<p>Dokter membisikan sesuatu di telinga Nadine. “Selamat tidur ratuku, maafkan aku yang tidak bisa menjagamu.”</p>

<p>Jasad Nadien diurus oleh Perawat, sedangakan Dokter membawa Nahen yang masih menangis keluar dari ruangan.</p>

<p>“Nahen, tunggu sebentar ya, nanti pasti Papah jemput kamu,”</p>

<p>Dokter itu pun merogoh ponsel dari kantung jasnya dan menghubungi seseorang.</p>

<p>“Rel, Nadine udah gak ada, ini anak lo sama gue dulu ya?”</p>

<p>“Gue sibuk, bisa tolong urusin pemakaman Nadine gak Han?”</p>

<p>“LO SIBUK SAMA WANITA ITU KAN? INI ISTRI LO MENINGGAL DAN LO MASIH SIBUK DENGAN WANITA ITU?! SAKIT LO?!”</p>

<p>“Ryhan, tolong sekali ini aja. Gue titip Nahen juga sama lo. Acha lagi sakit dan gak mau ditinggal soalnya,”</p>

<p>“Brengsek lo jadi suami!”</p>

<p>Ryhan memutus panggilan itu. Muka Ryhan memerah karena menahan amarah, demi apapun apakah benar yang tadi ia telpon adalah Farrel yang ia kenal? Farrel yang baik hati berubah menjadi bajingan hanya karena 1 wanita.</p>

<p>“Nahen, sekarang ikut om dulu ya?”</p>

<p>“Papah gimana, Om?”</p>

<p>“Papah sibuk,”</p>

<p>“Bohong! Pasti Papah sedang sibuk dengan wanita jalang itu!”</p>

<p>“Sttt, kamu ini masih kecil kok sudah kasar? Bukan karena itu kok, percaya sama Om Reyhan ya?”</p>

<p>“Nahen udah besar, udah enam belas tahun Om,”</p>

<p>“Masa? Kamu masih sebelas tahun ini mah,”</p>

<p>Nahen berdecak kesal. “Ih Om, masih mau terus anggep aku anak kecil?”</p>

<p>Ryhan terkekeh sambil mengelus kepala Nahen. “Haha, ponakan Om sudah besar ya. Berarti udah bisa ikhlas ya soal Bunda? Gak boleh terlalu sedih oke?”</p>

<p>Nahen kembali menunduk, ia kembali terisak. “Bunda udah sehat berarti ya Om, udah gak sakit lagi.”</p>

<p>Ryhan yang melihat Nahen pun ikut sedih. Tanpa aba-aba ia membawa Nahen ke pelukannya. “Iya sayang, Bunda udah sehat sekarang ya,” tanpa disadari, Ryhan pun menitikkan air matanya tanpa terisak.</p>

<p>-Flashback off-</p>

<p>Mengingat itu membuat Nahen terpejam dan menitikkan air mata.</p>

<p><em>Brakkk</em>. Suara pintu terbuka keras.</p>

<p>“Bisa ketok dulu gak sih?” ucap Nahen.</p>

<p>“Lo bisa kan gak usah kasar sama nyokap gue?”</p>

<p>Nahen tidak memberikan respon apapun.</p>

<p>“Bangun lo!” ucap Kainan sembari menarik tangan Nahen.</p>

<p>Nahen terduduk kesal. “Mau apa lagi sih lo? Ganggu gue tidur aja,”</p>

<p>“Asal lo tau Na, lo boleh kasar sama gue tapi engga sama nyokap gue. Emang gue juga setuju sama pernikahan mereka? Gue juga gak tau kalau nyokap selama di Bandung deket sama Papah lo. Tiba-tiba nyokap balik ke Jakarta minta cerai sama bokap gue, oh dan ternyata nyokap minta cerai buat nikah sama bokap lo. Gue di bawa kesini juga semata-mata buat duit Na, gue di Jakarta gak di urus sama bokap gue.” Jelas Kainan.</p>

<p>“Oh, pantesan buah gak akan jatuh jauh dari pohonnya ya, udah gila harta brengsek lagi”</p>

<p>Kainan mengepal tangannya bersiap meluncurkan pukulan kepada Nahen. “Anjing lo!” Satu pukulan mendarat di pipi mulus Nahen. Nahen merasakan bibirnya luka, ia memegang ujung bibir itu dengan jempol tangannya.</p>

<p>“<em>Shit</em>,”</p>

<p>Nahen beranjak dari duduknya dan menghampiri Kainan, ia menarik kerah baju Kainan dan menatapnya tajam.</p>

<p>Nahen tersenyum miring. “Jangan macem-macem lo sama gue,” ancam nya.</p>

<p>“Lo salah Na, harusnya lo yang gak macem-macem sama gue. Gue bisa ganggu temen lo, atau temen Lalitha,” timpal Kainan. “Oh, atau bahkan gue bisa ganggu Lalitha,”</p>

<p>Nahen melotot. “Jangan berani-berani lo sentuh Lalitha atau lo habis sama gue,”</p>

<p>“Gue tahu lo lemah Nahen,”</p>

<p>Nahen menendang perut Kainan. Ia masih memegang kerah baju itu dan menyeret Kainan agar keluar dari kamarnya.</p>

<p>“Gue gak selemah yang lo pikir. Bahkan gue rela mati demi Lalitha!” tegasnya.</p>

<p>Nahen melepaskan kerah baju itu dan Kainan jatuh tersungkur.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://wordsmith.social/atyovela43/makan-bersama</guid>
      <pubDate>Sat, 09 Oct 2021 15:15:20 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>