<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>shooting stars</title>
    <link>https://wordsmith.social/be-my-escape/</link>
    <description>dedicated to the strongest human being: atof and zio</description>
    <pubDate>Thu, 28 May 2026 01:41:59 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>BE MY ESCAPE </title>
      <link>https://wordsmith.social/be-my-escape/be-my-escape-t54z</link>
      <description>&lt;![CDATA[hr&#xA;&#xA;“Coco, Kak Atof ngasih aku kucing biar kamu nemenin aku, bukan biar kamu menguasai Kak Atof begini.” &#xA;&#xA;Zio menarik kaki depan Coco yang menempel di dada Atof. Kucing besar itu mengeong karena sebal diganggu. Tangannya menutup sisi-sisi kepalanya yang merunduk, seolah melindungi diri dari Zio. Anak bulu itu mulai menggesek-gesekkan kepala ke kaos belel yang Atof kenakan. &#xA;!--more--&#xA;“Nyebelin lu.”&#xA;&#xA;Kekasihnya sontak tertawa, dan mengelus kepala Coco. Dengan cepat Zio menarik tangan Atof ke kepalanya, agar tidak memberikan perhatian lebih pada peliharaannya. Masa bertahun-tahun pacaran saingannya kucing?&#xA;&#xA;“Elus kepala aku aja jangan dia,” pintanya. Zio—yang padahal sudah tidur di bahu Atof—semakin merekatkan diri, kakinya melingkar ke bagian depan tubuh Atof, menganggapnya guling. &#xA;&#xA;“Susah ada dua anabul gini,” Atof melayangkan protes, namun tangannya tetap mengusap rambut Zio meski agak kesulitan ditempel dua makhluk. &#xA;&#xA;Coco memejamkan matanya, mulai bergetar kecil. Sepertinya Coco sedang dalam suasana hati yang bahagia dan merasa rileks—siapa yang tidak bahagia aktivitasnya hanya tidur, makan, dan main. Pun dicintai dua orang yang sedih jika ia jatuh sakit. Anak bulu itu seperti saksi hidup hubungan asmara Atof dan Zio. Mungkin karena alasan itu mereka tidak menambah peliharaan lain, meski Zio sudah melakukan konsiderasi berkali-kali. &#xA;&#xA;Zio berinisiatif mengangkat Coco dari dada Atof karena takut kekasihnya sukar bernapas. Kucingnya terbangun  dan mengeong lagi. &#xA;&#xA;“Iyaaa, sorry dibangunin,” Zio mencium kucingnya sebagai permintaan maaf. Membawanya bersandar ke bahu. Atof yang memperhatikannya agak terkejut ketika Zio mendekatkan diri padanya dan mengecup pipinya juga.&#xA;&#xA;Matanya membulat namun reaksinya justru: “Masa kucing dulu yang dicium baru aku, Doll?” Alis Atof mengerut seperti sungguhan keberatan Zio mendahulukan kucing daripada pacarnya. &#xA;&#xA;“Kak Atof juga ngelus Coco dulu baru aku.”&#xA;&#xA;“Fair enough,” Atof berdecak, reaksinya sangat hiperbolis. Zio berusaha abai, karena jika ia menuruti impuls, pasti ia akan mencium Atof lagi detik itu juga. Ia meletakkan Coco di tempat tidurnya sendiri, mengelus bulunya.&#xA;&#xA;Atof ikut bangkit untuk memadamkan lampu kamar. Mereka berbagi bantal ketika kembali ke kasur. Tidur menyamping agar saling berhadapan. Atof mengecup sudut bibirnya sebagai ucapan selamat tidur. &#xA;&#xA;“Kamu cium anabul mulu, mulut kamu jadi banyak bulunya,” kelakar Zio.&#xA;&#xA;“Itu kamu,” katanya. Pemuda itu mendenguskan kekeh tanpa suara, namun mencuri kecup di sudut bibirnya lagi. Napasnya yang berpendar beraroma mint. Harusnya terasa biasa saja karena mereka menggunakan pasta gigi yang sama. Akan tetapi Atof berhasil membuatnya menggeliat, ingin. &#xA;&#xA;Ruangan tersebut gelap, dan terasa makin hening. Dengkur kucingnya terdengar, bunyi aparatus kendali suhu memenuhi ruang, gesekkan kulit dengan seprai pun tertangkap telinganya. Atof menatapnya, membisu, seperti tak berniat untuk tidur. Membuatnya menerka apa yang ada di pikirannya. Ia menaikkan alis. Dan Atof menghapus jarak, ujung hidung mereka nyaris menempel jika Zio bergerak sedikit lagi. &#xA;&#xA;Atof membasahi bibirnya dengan lidah seraya tetap mengamatinya. Zio terang-terangan memperhatikan bagaimana lidah tersebut menyapu perlahan. Tak peduli jika wajahnya menampilkan ekspresi ingin, saliva yang ia telan terasa sukar.&#xA;&#xA;Atmosfer di antara keduanya sangat menggelitik Zio untuk berlaku lebih. Atof berdeham, jakunnya bergerak naik turun ketika ia secara sadar menelan saliva juga, sengaja.&#xA;&#xA;Pada akhirnya Zio mencondongkan diri dan menyatukan bibir mereka. &#xA;&#xA;Atof terkekeh di sela ciuman, tersenyum miring. Menikmati kemenangan sederhananya, dan mulai merangkul pinggang Zio, melekatkan tubuh keduanya. &#xA;&#xA;Ciuman lembut yang hanya saling mengulum bibir, makin liar ketika Zio berguling dan berada di atas Atof. Kekasihnya menarik bagian belakang paha Zio agar semakin menekuk di sisi tubuh Atof. Pemuda itu tiba-tiba bangkit mengubah posisi menjadi duduk, sontak Zio memekik memegang pundaknya. Kakinya otomatis melingkar di tubuh Atof, kini ia duduk di pangkuan kekasihnya. &#xA;&#xA;“Pakai aba-aba dong kalau ganti posisi,” Zio memukul bahunya. &#xA;&#xA;Atof tergelak, “Jorok mulu kamu mikirnya,”&#xA;&#xA;Zio memutar bola matanya, “Eh, kamu yang mikir jorok, aku cuma bilang ganti posisi dari tiduran jadi duduk.”&#xA;&#xA;“Oh ya? Posisi dalam aktivitas apa?” &#xA;&#xA;“Nggak tau ah, kamu yang salah kok aku yang dipojokkin,” gerutunya. &#xA;&#xA;Lagi-lagi Atof tertawa, lebih lembut dan rendah karena tidak ada ruang di antara mereka. “Posisi lagi ciuman gini maksud kamu?”&#xA;&#xA;Atof menekan tengkuk Zio dan meraih bibirnya lagi. Pemuda itu mendorong, mendorong, mendorong, menyesap apa pun rasa yang tersisa di bibir dan mulutnya seperti tidak pernah cukup. Ia mengurut tengkuknya, tangannya yang lain menelusup ke balik kaos, mengelus kulitnya naik turun, punggungnya melengkung seperti disetrum. Zio mengeratkan tangannya yang memeluk Atof, jari-jari kakinya menekuk. &#xA;&#xA;Kepalanya kopong, tubuhnya seperti seringan kapas. Di pikirannya hanya ada Atof, dan bibirnya, dan ciumannya yang candu, dan apa yang bisa Atof lakukan dengan bibir, lidah, tangan, dan anggota tubuh lainnya. &#xA;&#xA;Tanpa sadar pinggulnya bergerak sesekali. Atof menahannya, meremasnya dengan kencang; yang pasti akan meninggalkan bekas kemerahan. &#xA;&#xA;“If we keep doing this we&#39;ll get hard, and you know what will happen next,” bisik Atof mengakhiri ciuman. Atof tersenyum padanya dengan bibir yang basah dan merah, dadanya naik turun mengatur napas. Kekasihnya meneliti raut wajah Zio, menunggu persetujuan. Sepertinya Atof tidak masalah jika mereka melanjutkan ke sesi yang lebih menguras tenaga, namun ia mempertimbangkan keputusan Zio.&#xA;&#xA;“We should sleep, you must be tired too,” jawabnya menyerah, kehabisan napas. Zio tidak ingin ambil resiko berjalan agak aneh esok saat bekerja. Dan hari ini, Atof pasti lelah karena site visit ke empat lokasi konstruksi sekaligus. Sebab salah satu rekan kerjanya cuti sakit. &#xA;&#xA;Zio menyentuh kedua rahang Atof, dan Atof yang mengerti, mengulum bibir Zio lagi begitu lama untuk terakhir kali. Zio menarik diri lebih awal dan mengelus kedua bahu kekasihnya, perlahan mendorongnya ke kasur. &#xA;&#xA;Rambut Atof terhampar di atas bantal. Tangannya masih setia menghangatkan pinggang Zio dengan mengelusnya pelan. Zio menjulang di atas Atof, menumpu tubuhnya dengan kedua telapak tangan. Wajah Atof tampak lelah, namun ia tak pernah menunjukkannya. Tak pernah ingin membuat orang lain khawatir akan dirinya. &#xA;&#xA;“Kenapa?” Atof mengerutkan kening. &#xA;&#xA;Zio bisa saja mengucapkan kata yang terlintas di pikirannya saat ini juga. Atau kalimat yang mencuat saat melihat Atof bangun tidur dengan rambut semrawut tiap pagi. Atau kata yang muncul ketika menemukan kaki Atof dengan ceroboh terantuk kaki kursi. Atau ungkapan yang ia simpan rapat dalam hati tatkala hanya menatap punggung Atof dari kejauhan. &#xA;&#xA;Ia bisa menulisnya jadi buku dengan puluhan jilid. Tidak perlu terjual juta eksemplar, yang penting Atof tahu perasaannya di sana. &#xA;&#xA;Namun Zio tidak punya waktu untuk semua itu, makanya ia menggeleng, dan hanya berujar: “You&#39;re perfect.”&#xA;&#xA;Ia menjatuhkan diri.&#xA;&#xA;It&#39;s like a free fall, but he knows exactly who will catch him. &#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr>

<p>“Coco, Kak Atof ngasih aku kucing biar kamu nemenin aku, bukan biar kamu menguasai Kak Atof begini.”</p>

<p>Zio menarik kaki depan Coco yang menempel di dada Atof. Kucing besar itu mengeong karena sebal diganggu. Tangannya menutup sisi-sisi kepalanya yang merunduk, seolah melindungi diri dari Zio. Anak bulu itu mulai menggesek-gesekkan kepala ke kaos belel yang Atof kenakan.

“Nyebelin lu.”</p>

<p>Kekasihnya sontak tertawa, dan mengelus kepala Coco. Dengan cepat Zio menarik tangan Atof ke kepalanya, agar tidak memberikan perhatian lebih pada peliharaannya. Masa bertahun-tahun pacaran saingannya kucing?</p>

<p>“Elus kepala aku aja jangan dia,” pintanya. Zio—yang padahal sudah tidur di bahu Atof—semakin merekatkan diri, kakinya melingkar ke bagian depan tubuh Atof, menganggapnya guling.</p>

<p>“Susah ada dua anabul gini,” Atof melayangkan protes, namun tangannya tetap mengusap rambut Zio meski agak kesulitan ditempel dua makhluk.</p>

<p>Coco memejamkan matanya, mulai bergetar kecil. Sepertinya Coco sedang dalam suasana hati yang bahagia dan merasa rileks—siapa yang tidak bahagia aktivitasnya hanya tidur, makan, dan main. Pun dicintai dua orang yang sedih jika ia jatuh sakit. Anak bulu itu seperti saksi hidup hubungan asmara Atof dan Zio. Mungkin karena alasan itu mereka tidak menambah peliharaan lain, meski Zio sudah melakukan konsiderasi berkali-kali.</p>

<p>Zio berinisiatif mengangkat Coco dari dada Atof karena takut kekasihnya sukar bernapas. Kucingnya terbangun  dan mengeong lagi.</p>

<p>“Iyaaa, <em>sorry</em> dibangunin,” Zio mencium kucingnya sebagai permintaan maaf. Membawanya bersandar ke bahu. Atof yang memperhatikannya agak terkejut ketika Zio mendekatkan diri padanya dan mengecup pipinya juga.</p>

<p>Matanya membulat namun reaksinya justru: “Masa kucing dulu yang dicium baru aku, Doll?” Alis Atof mengerut seperti sungguhan keberatan Zio mendahulukan kucing daripada pacarnya.</p>

<p>“Kak Atof juga ngelus Coco dulu baru aku.”</p>

<p>“<em>Fair enough</em>,” Atof berdecak, reaksinya sangat hiperbolis. Zio berusaha abai, karena jika ia menuruti impuls, pasti ia akan mencium Atof lagi detik itu juga. Ia meletakkan Coco di tempat tidurnya sendiri, mengelus bulunya.</p>

<p>Atof ikut bangkit untuk memadamkan lampu kamar. Mereka berbagi bantal ketika kembali ke kasur. Tidur menyamping agar saling berhadapan. Atof mengecup sudut bibirnya sebagai ucapan selamat tidur.</p>

<p>“Kamu cium anabul mulu, mulut kamu jadi banyak bulunya,” kelakar Zio.</p>

<p>“Itu kamu,” katanya. Pemuda itu mendenguskan kekeh tanpa suara, namun mencuri kecup di sudut bibirnya lagi. Napasnya yang berpendar beraroma mint. Harusnya terasa biasa saja karena mereka menggunakan pasta gigi yang sama. Akan tetapi Atof berhasil membuatnya menggeliat, <em>ingin</em>.</p>

<p>Ruangan tersebut gelap, dan terasa makin hening. Dengkur kucingnya terdengar, bunyi aparatus kendali suhu memenuhi ruang, gesekkan kulit dengan seprai pun tertangkap telinganya. Atof menatapnya, membisu, seperti tak berniat untuk tidur. Membuatnya menerka apa yang ada di pikirannya. Ia menaikkan alis. Dan Atof menghapus jarak, ujung hidung mereka nyaris menempel jika Zio bergerak sedikit lagi.</p>

<p>Atof membasahi bibirnya dengan lidah seraya tetap mengamatinya. Zio terang-terangan memperhatikan bagaimana lidah tersebut menyapu perlahan. Tak peduli jika wajahnya menampilkan ekspresi ingin, saliva yang ia telan terasa sukar.</p>

<p>Atmosfer di antara keduanya sangat menggelitik Zio untuk berlaku lebih. Atof berdeham, jakunnya bergerak naik turun ketika ia secara sadar menelan saliva juga, sengaja.</p>

<p>Pada akhirnya Zio mencondongkan diri dan menyatukan bibir mereka.</p>

<p>Atof terkekeh di sela ciuman, tersenyum miring. Menikmati kemenangan sederhananya, dan mulai merangkul pinggang Zio, melekatkan tubuh keduanya.</p>

<p>Ciuman lembut yang hanya saling mengulum bibir, makin liar ketika Zio berguling dan berada di atas Atof. Kekasihnya menarik bagian belakang paha Zio agar semakin menekuk di sisi tubuh Atof. Pemuda itu tiba-tiba bangkit mengubah posisi menjadi duduk, sontak Zio memekik memegang pundaknya. Kakinya otomatis melingkar di tubuh Atof, kini ia duduk di pangkuan kekasihnya.</p>

<p>“Pakai aba-aba dong kalau ganti posisi,” Zio memukul bahunya.</p>

<p>Atof tergelak, “Jorok mulu kamu mikirnya,”</p>

<p>Zio memutar bola matanya, “Eh, kamu yang mikir jorok, aku cuma bilang ganti posisi dari tiduran jadi duduk.”</p>

<p>“Oh ya? Posisi dalam aktivitas apa?”</p>

<p>“Nggak tau ah, kamu yang salah kok aku yang dipojokkin,” gerutunya.</p>

<p>Lagi-lagi Atof tertawa, lebih lembut dan rendah karena tidak ada ruang di antara mereka. “Posisi lagi ciuman gini maksud kamu?”</p>

<p>Atof menekan tengkuk Zio dan meraih bibirnya lagi. Pemuda itu mendorong, mendorong, <em>mendorong</em>, menyesap apa pun rasa yang tersisa di bibir dan mulutnya seperti tidak pernah cukup. Ia mengurut tengkuknya, tangannya yang lain menelusup ke balik kaos, mengelus kulitnya naik turun, punggungnya melengkung seperti disetrum. Zio mengeratkan tangannya yang memeluk Atof, jari-jari kakinya menekuk.</p>

<p>Kepalanya kopong, tubuhnya seperti seringan kapas. Di pikirannya hanya ada Atof, dan bibirnya, dan ciumannya yang candu, dan apa yang bisa Atof lakukan dengan bibir, lidah, tangan, dan anggota tubuh lainnya.</p>

<p>Tanpa sadar pinggulnya bergerak sesekali. Atof menahannya, meremasnya dengan kencang; yang pasti akan meninggalkan bekas kemerahan.</p>

<p>“<em>If we keep doing this we&#39;ll get hard, and you know what will happen next</em>,” bisik Atof mengakhiri ciuman. Atof tersenyum padanya dengan bibir yang basah dan merah, dadanya naik turun mengatur napas. Kekasihnya meneliti raut wajah Zio, menunggu persetujuan. Sepertinya Atof tidak masalah jika mereka melanjutkan ke sesi yang lebih menguras tenaga, namun ia mempertimbangkan keputusan Zio.</p>

<p>“<em>We should sleep, you must be tired too</em>,” jawabnya menyerah, kehabisan napas. Zio tidak ingin ambil resiko berjalan agak aneh esok saat bekerja. Dan hari ini, Atof pasti lelah karena site visit ke empat lokasi konstruksi sekaligus. Sebab salah satu rekan kerjanya cuti sakit.</p>

<p>Zio menyentuh kedua rahang Atof, dan Atof yang mengerti, mengulum bibir Zio lagi begitu lama untuk terakhir kali. Zio menarik diri lebih awal dan mengelus kedua bahu kekasihnya, perlahan mendorongnya ke kasur.</p>

<p>Rambut Atof terhampar di atas bantal. Tangannya masih setia menghangatkan pinggang Zio dengan mengelusnya pelan. Zio menjulang di atas Atof, menumpu tubuhnya dengan kedua telapak tangan. Wajah Atof tampak lelah, namun ia tak pernah menunjukkannya. Tak pernah ingin membuat orang lain khawatir akan dirinya.</p>

<p>“Kenapa?” Atof mengerutkan kening.</p>

<p>Zio bisa saja mengucapkan kata yang terlintas di pikirannya saat ini juga. Atau kalimat yang mencuat saat melihat Atof bangun tidur dengan rambut semrawut tiap pagi. Atau kata yang muncul ketika menemukan kaki Atof dengan ceroboh terantuk kaki kursi. Atau ungkapan yang ia simpan rapat dalam hati tatkala hanya menatap punggung Atof dari kejauhan.</p>

<p>Ia bisa menulisnya jadi buku dengan puluhan jilid. Tidak perlu terjual juta eksemplar, yang penting Atof tahu perasaannya di sana.</p>

<p>Namun Zio tidak punya waktu untuk semua itu, makanya ia menggeleng, dan hanya berujar: “<em>You&#39;re perfect</em>.”</p>

<p>Ia menjatuhkan diri.</p>

<p><em>It&#39;s like a free fall, but he knows exactly who will catch him.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://wordsmith.social/be-my-escape/be-my-escape-t54z</guid>
      <pubDate>Mon, 04 Sep 2023 13:48:22 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>BE MY ESCAPE </title>
      <link>https://wordsmith.social/be-my-escape/be-my-escape-33w0</link>
      <description>&lt;![CDATA[  story details: 2,300 words, slice of life, uhhh graduasi lah pokoknya.&#xA;&#xA;notes: sambil dengerin maybe dari hui coba! &lt;3 &#xA;&#xA;hr&#xA;&#xA;Graduation&#xA;!--more--&#xA;“Do you want your parents to come to your graduation?”&#xA;&#xA;Kalimat itu akhirnya berani Zio layangkan setelah berpikir selama berbulan-bulan sejak Atof selesai sidang.&#xA;&#xA;Atof belum menemukan pekerjaan—atau lebih tepatnya memilih untuk tidak mencari pekerjaan dengan telaten karena ingin beristirahat. Kalau Zio tidak bilang, “Aku bantu apply di Linkedin sama Kalibrr,” mungkin Atof sama sekali tidak cari kerja. Kini akun media sosial mereka menyangkut di gawai satu sama lain, karena terlalu sering saling bantu. &#xA;&#xA;Awalnya hanya di sore hari setelah Atof sidang dengan mendapatkan banyak rangkai bunga, dan bingkisan dari penggemar. Atof mengajukan pertanyaan saat mereka membuka bingkisan satu-persatu. “Is it okay for me to take a break? Cuma ngurusin Coco dan pacarku yang makannya harus disuapin?”&#xA;&#xA;Zio tertawa karena kalimat tersebut. Mungkin ini pertama kalinya dalam hidup Atof bahwa ia tidak ingin berlari untuk mengejar sesuatu. Padahal indeks prestasi kumulatif akhirnya cemerlang dan ia bisa saja langsung memburu yang ia mau, namun ia justru ingin rehat. Maka dari itu, Zio mengangguk dan berkata, “As long as you’re content with what you do.”&#xA;&#xA;Kekasihnya mencubit pipinya gemas, berucap okay dengan suara yang terbilang lirih. Atof menyusun rangkai bunga yang masih bisa segar dalam beberapa hari untuk diletakkan di vas. Alunan lagu band mereka terdengar dari gumam bibir Atof, Zio lagi-lagi jadi tahu hal baru bahwa Atof menikmati kegiatan seperti itu. Rangkai bunga mawar berbagai warna dipajang di meja belajar di kamar, juga di studio musiknya.&#xA;&#xA;Mulai saat itu, Atof sehari-hari sungguhan seperti bapak-bapak yang menikmati masa pensiun dengan main burung. Yang membuat Zio semakin sadar bahwa Atof begitu lembut dengan hewan. Meski kadang membuatnya tertawa setiap kekasihnya bercerita, “Kemarin burungnya Pak Sudrajat menang kontes.”&#xA;&#xA;Sering kali Atof main catur mengenakan sarung, angkat kaki ala makan di Warung Tegal bersama Pak Sudrajat—pemilik kosnya—di depan rumah. Dibanding Zio, Atof lebih akrab dengan Bapak Kosnya karena sering mengobrol. &#xA;&#xA;Sebab tak ada kesibukan pun bulu-bulu yang tumbuh di sekitar mulut Atof jadi jarang ia cukur kecuali jika ada acara tertentu seperti gigs. Kadang Atof harus digeret oleh Zio jika ia mulai merasa bulu halus itu menusuknya ketika mereka berciuman. &#xA;&#xA;“Kamu tau nggak ini nusuk? Mukaku bisa luka juga kalau kegesek?” gerutunya.&#xA;&#xA;Atof hanya berdeham, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk teratur pinggang Zio yang kini tengah duduk di atas pangkuannya—membantu Atof bercukur. &#xA;&#xA;“Kalau nggak dicukurin lama-lama janggutnya bisa dikepang kayak Peppy. Do you know Peppy a comedian?”&#xA;&#xA;“Tau, sengaja biar kamu geregetan mau ngebantuin shaving.”&#xA;&#xA;Sejujurnya Zio tahu Atof akan beralasan begitu. Mata kekasihnya yang kini tak henti mengikuti pergerakannya, membuatnya sedikit salah tingkah. Ia tak fokus karena tatapan Atof begitu menguarkan afeksi, rasanya Zio ingin memukul batok kepala Atof dengan alat cukur di genggaman. Pemuda itu langsung mengangkat tubuh Zio yang duduk di pangkuan usai selesai. Spontan Zio menyalak dan mencengkeram bahunya. “Kaget, gila lu.”&#xA;&#xA;Atof tertawa mencondongkan wajah padanya seiring menggendongnya ke kamar. “Kiss me, pleasee.”&#xA;&#xA;Zio mengerutkan wajahnya dongkol, matanya mengecil menelisik. &#xA;&#xA;“Jelek kamu merengut begitu mirip bocah kalah main FF,” katanya. Atof ini tingkahnya sudah seperti bapak-bapak yang hobi meledek anaknya sampai menangis. Wajah Zio semakin tertekuk. Kekasihnya kian tertawa karena reaksinya, memohon sekali lagi untuk dicium. “Please ciummmmm.”&#xA;&#xA;Meski dengan setengah hati, ujungnya tetap saja mereka berciuman. Lumayan bergairah meski masih pagi. Apalagi ketika Zio dibaringkan di kasur, dan Atof mulai menjulang di atasnya. Melesakkan kepala ke leher untuk menjatuhkan kecupan di sana.&#xA;&#xA;“Udah nggak nusuk, kan?”&#xA;&#xA;Pupil mata Zio berputar sangat cepat nyaris membuatnya pening, “You&#39;re annoying.”&#xA;&#xA;“Aku laser aja for your convenience, gimana?”&#xA;&#xA;“Janganlah, jadi nggak bisa nyukurin sambil dipangku.”&#xA;&#xA;Atof bangkit dengan mengusak puncak kepala Zio, hatinya jumpalitan meski ribuan kali Atof melakukannya. “Tuh, kamu yang suka. Thank you, Baby Doll.”&#xA;&#xA;Kebiasaan baru Atof memang sangat berkebalikan dari rutinitasnya yang dahulu, namun Zio senang melihat bagaimana Atof menikmati hidupnya. Apalagi ketika Atof mulai menggendong Coco dan menimang-nimangnya seperti bayi sungguhan karena bobot Coco sudah terlalu berat saking dimanja. Bahkan Atof lebih sering menginap di kosnya karena apartemen Atof kini merangkap jadi basecamp anak Rhapsody jika ingin bertemu. Untungnya, Bapak Kos Zio tidak pernah keberatan dengan eksistensi Atof di sana.&#xA;&#xA;Malam itu, sama saja dengan malam-malam lain saat Atof menunggu waktu wisuda. Pertanyaan Zio tentang surat undangan graduasi dibuat menggantung di udara selama beberapa detik. Hanya desah yang lumayan panjang berembus dari belah bibir Atof. Lampu kamar sudah dimatikan karena lewat tengah malam. Zio sedikit merasa bersyukur tak mampu membaca ekspresi Atof dalam gelap, sebab pasti ia akan ikut sendu.&#xA;&#xA;“Nggak tahu …  Mamah jauh kayaknya agak susah buat datang ke wisuda, and my dad– well–”&#xA;&#xA;Atof mengalihkan atensi pada undangan wisuda di nakasnya. Satu undangan yang diperuntukkan bagi dua orang, dan biasanya untuk orang tua. Masih sekitar dua pekan sampai upacara wisuda itu diselenggarakan, Atof lumayan punya waktu untuk menentukan akan diserahkan ke siapa undangan miliknya. Kali ini, perasaan bersalah merayap dalam diri Zio sebab ia bertanya meski sudah menimbang beberapa bulan terakhir.&#xA;&#xA;“Mungkin Kak Dinda yang datang, atau Althaf … pasti dia ambil cuti for my graduation day.”&#xA;&#xA;Zio segera menyandarkan kepala di bahu Atof, dan merangkulnya dengan erat. “Sorry for asking.”&#xA;&#xA;“No, Baby Doll, it&#39;s okay.”&#xA;&#xA;Kekasihnya mengecup samar dahi Zio yang tertutupi rambut. Zio suka rambut panjangnya karena ia sadar Atof lebih sering mengelusnya ketimbang saat pendek. Namun rambut itu mulai menusuk mata, mungkin ia perlu memangkasnya sedikit. Dirinya semakin mengeratkan pelukan, menepuk-nepuk pelan dada Atof. &#xA;&#xA;“Kamu tidur, besok harus bangun pagi buat ngempan burung bapak kosku.”&#xA;&#xA;Tawa ringan Atof membuat perasaan bersalahnya berkurang.&#xA;&#xA;“Nyuapin kamu kali yang sibuk mentang-mentang udah semester tujuh.”&#xA;&#xA;Kini Zio yang tertawa. Akhir-akhir ini ia selalu disuapi karena susah sekali untuk makan. Sibuk menyelesaikan tugas yang segunung meski dikerjakan bertahap.&#xA;&#xA;Jika Zio boleh jujur, jadwal mereka sungguhan padat sejak Rhapsody lumayan dikenal banyak orang. Tatkala Atof menggarap skripsinya, mereka sedang bepergian manggung ke berbagai tempat. Akan tetapi kekasihnya itu jarang mengeluh, karena Atof lebih suka menyibukkan diri daripada tidak melakukan apa-apa. Sesekali mengeluh pasti karena bagian bawah punggungnya pegal terlalu lama duduk. &#xA;&#xA;“Kamu tidur juga, besok kelas pagi,” bisiknya lagi, “Don’t worry, it’s just another graduation.”&#xA;&#xA;Kalimat tersebut bukan menenangkannya justru memunculkan gelenyar tak nyaman. Setidaknya untuk yang satu ini, Zio tidak ingin acara tersebut hanya jadi graduasi-graduasi lain untuk Atof. Zio perlu mengusahakan sesuatu.&#xA;&#xA;br&#xA;&#xA;hr&#xA;&#xA;br&#xA;&#xA;Undangan itu tergeletak di nakas hingga hari kelima sebelum wisuda diselenggarakan. Zio mengambilnya.&#xA;&#xA;br&#xA;&#xA;hr&#xA;&#xA;br&#xA;&#xA;Tak ada keluarga Atof yang datang saat wisuda karena Atof melarangnya. &#xA;&#xA;Zio sering kali tak mengerti jalan pikiran kekasihnya meski ia sudah berada di sisinya selama ini. Ia hanya bisa berasumsi dari pengalaman bersamanya, bahwa Atof terlanjur terbiasa serba sendiri sehingga hari graduasi pun tak jadi sesuatu yang spesial. Tak ingin mengundang, tak ingin merayakan, sama seperti hari ulang tahunnya—yang justru ia anggap jadi hari yang menyedihkan. Meski tiga tahun terakhir Zio berusaha membuatnya spesial.&#xA;&#xA;Atof mengenakan pakaian serba hitam, dan rambutnya ia gel membentuk comma. Tak ingin ke salon, atau beli pakaian formal baru, semuanya hanya ia ambil dari lemarinya. Meski kali ini, Zio sengaja menginap di apartemennya untuk menyiapkan. &#xA;&#xA;Pemuda itu sungguhan terlalu cuek dengan penampilannya. Sehari-hari pun hanya kaos putih atau hitam, dipadu jaket atau hoodie atau PDH teknik sipil tiap kuliah. Lebih suka mengoleksi sepatu yang warna-warni. Namun Atof effortlessly memiliki aura yang tak tersentuh, membuat orang hormat dan segan. Maka, hanya dipoles sedikit, Atof tampak semakin menawan.&#xA;&#xA;Jika bukan hari penting, pasti Zio minta dibawa ke puncak gairah tatkala Atof mengenakan pakaian tersebut. &#xA;&#xA;“Sebenarnya kamu undang siapa, Doll?” tanya Atof lagi. Sudah lebih dari sepuluh kali kekasihnya bertanya sejak undangan itu berada di tangan Zio. &#xA;&#xA;“Adaa, nggak usah khawatir,” jawabnya. Merapikan sleber bergaris biru di leher Atof agar tak miring. Ia mengalungkan tali wisuda, dan memasangkan pin di tengah. &#xA;&#xA;Undangan wisuda yang pada akhirnya Atof hadiahkan pada Zio sudah ia berikan ke orang yang ia rasa tepat menggantikan peran orang tua Atof. Ia menyetir hari ini, tak membiarkan Atof mengerjakan apa pun. Atof mengenakan topi wisudanya saat di depan gedung, tersenyum pada Zio. “Thank you mau repot.”&#xA;&#xA;Zio menggeleng, meletakkan tali topi wisuda Atof di sisi kiri. “Wisuda S1 cuma sekali harus keren.”&#xA;&#xA;“Nanti aku S1 lagi, jadi dua kali.”&#xA;&#xA;Ia menyipitkan mata menghakimi karena respons Atof. “S2 aja sekalian, aku dukung.”&#xA;&#xA;“Kamu aja S2, aku tambahin biayanya.”&#xA;&#xA;“Ogah, aku kuliah S1 aja ngos-ngosan.”&#xA;&#xA;“Ya udah S1 lagi aja tapi sesuai yang kamu minati, gimana? Aku bantu kalau kamu mau—seandainya nggak dapet financial support dari Ayah.”&#xA;&#xA;Bola matanya yang melebar sejenak mengindikasikan bahwa Zio terkejut, namun tidak terlalu juga pada ujaran Atof, karena yah … kalimat itu terdengar sangat Atof. “Belum lulus udah bahas sekolah lagi, pusing. Sana duduk yang manis tunggu dipanggil,” ujarnya menggiring Atof masuk gedung. &#xA;&#xA;Kemudian, Zio menuju mobil karena enggan di bawah terik matahari. Dalam perjalanan ia tak sengaja menemukan papan bunga bertuliskan Selamat Wisuda Manu Talatof dari sebuah fanbase, ia memotretnya. &#xA;&#xA;  Mamah Super: Udah di dalem, dek&#xA;  Jordan: okay, fotoin mah&#xA;  Jordan: kak atof nggak tau mamah yang dateng, jadi surprise aja nanti tepuk tangan sama minta ayah siul yang kenceng pas dia maju, atau nari-nari &#xA;  Mamah Super: Bocah iki jan&#xA;&#xA;Zio mampu mendengar bagaimana Mamahnya berdecak meski tak melihat ekspresinya. &#xA;&#xA;Sebuah pesan Zio kirim pada anak Rhapsody yang sudah berada di apartemen Atof (kecuali Dean yang terpaksa ke kampus lebih dulu jadi fotografer gratisan). Mereka mengambil kue yang ia request pekan lalu. Sebab ingin mengadakan sebuah selebrasi sederhana dengan makan kue, karena ia tahu Atof pasti sungkan jika dibuat megah. &#xA;&#xA;Beberapa jam menunggu, satu notifikasi muncul di ponsel Zio. &#xA;&#xA;  Mamah Super: Hhiii, ndelok ki cah lanangku cumlaude&#xA;&#xA;Mamah Zio mengirimkan beberapa foto blur yang menampakkan Atof berjalan ke depan. Juga merekam pantulan proyektor ketika Rektor memindahkan tali topi wisuda Atof dari kiri ke kanan. Ibu paruh baya itu bertepuk tangan dengan meriah, dan Zio sungguhan menangkap sebuah siulan yang dilakukan Ayahnya.&#xA;&#xA;Lumayan menghibur karena siulannya menggelegar seperti memanggil burung. Ia mengirimkan kembali foto-foto blurnya ke Atof yang segera dibalas secepat kilat. &#xA;&#xA;  14th Feb: Siapa yang ke sini, Zi? &#xA;  14th Feb: Be honest with me, I can&#39;t see anything, I forgot my specs&#xA;  Jordan: wkwkwk, nanti juga ketemu&#xA;  Jordan: karena pacarku cumlaude, mau cum in me or cum on face, baby?&#xA;  14th Feb: What the fuck, Lazio, aku masih wisuda?&#xA;  14th Feb: You tainted this sacred moment&#xA;&#xA;14th Feb typing…&#xA;&#xA;  14th Feb: Both, you look good with my cum on your face, or when you&#39;re needy in bed moaning my name to paint your wall white &#xA;  Jordan: can&#39;t wait ;)&#xA;  Jordan: mau menjajah aku dimana, sayang? &#xA;  Jordan: meja belajar kamu? di atas keyboard? atau sambil main drum?&#xA;  14th Feb: A devil incarnate indeed&#xA;  14th Feb: My favorite devil incarnate &#xA;  14th Feb: Comeback you pretty devil, aku lagi wisuda jadi mikirin yang enggak-enggak&#xA;  Jordan: no nsfw in this sacred moment&#xA;  14th Feb: You&#39;re EVIL&#xA;&#xA;Tak ada yang lebih mengharukan kecuali bagaimana Atof keluar gedung mengenakan gaun wisuda. &#xA;&#xA;Zio sudah mempelajari Atof tiga tahun terakhir secara sadar tak sadar. Dulu Atof sebuah labirin dengan banyak percabangan dengan ujung jalan buntu karena enggan membuka diri. Minimnya ekspresi yang kekasihnya kuarkan nyaris tak mampu Zio terka. Kini Atof masih sebuah labirin yang perlu ia susuri, namun ujung jalannya terdapat sebuah petunjuk yang mengantarkan Zio ke jalan keluar. Seiring Zio memahaminya, menemukan lekuk lembut pada tiap jengkal dirinya, hatinya, dan jiwanya. Atof jadi manusia paling mudah untuk dipahami. &#xA;&#xA;Kekasihnya membulatkan mata menemukan orang tua Zio menunggunya, ekspresinya sontak melembut, senyum tipisnya tak luntur. Ia mendongak ke langit sejenak menikmati terik jam 12 siang. Matanya terpejam karena tak bisa menatap langsung ke matahari.&#xA;&#xA;It&#39;s ethereal, Atof seakan jadi simbol ketenangan di tengah riuhnya wisuda. &#xA;&#xA;Sejurus kemudian, kekasihnya direngkuh satu-persatu oleh temannya, kadang tertawa bersama mereka. Meski Zio yakin Atof tak mengenal baik teman yang kini tengah mengobrol dengannya. Ia disapa orang-orang ketika menjejak mendekati Zio dan orang tuanya. Memperoleh buket bunga, boneka, dan berbagai macam hadiah bernuansa wisuda. &#xA;&#xA;“Cah lanangku wisuda,” Mamah Zio setengah berlari dan berseru di keramaian, menghampiri Atof untuk menangkup kedua pipinya. “Udah gede anakku, udah sarjana.”&#xA;&#xA;Zio tidak tahu apa yang Atof alami pada wisuda-wisuda sebelumnya. Namun ujaran sederhana Mamah Zio membuat kekasihnya mengulum bibir.&#xA;&#xA;Mamahnya kemudian mengatakan apa yang selalu Zio dengar setiap kali ia wisuda; entah ketika kelulusan SD, SMP, atau pun SMA. Zio merasa bersyukur ia mengundang Mamahnya, sebab Atof juga berhak mendapatkan doa-doa darinya. Sebuah afirmasi bahwa mereka bangga Atof bisa melewati satu tahap lagi untuk mencapai dewasa. &#xA;&#xA;Atof menggigit bibirnya, hampir menangis, mengangguk berkali-kali berusaha memahami kalimat Mamahnya. Kemudian, merengkuh tubuh Mamahnya yang lebih kecil dengan sangat erat. Ayah Zio pun bergantian memeluk Atof, sudah menganggapnya seperti anak dan tanpa ragu mengeratkan dekapan, menepuk-nepuk punggung Atof dengan teratur meski tak berkata sepatah kata kecuali kalimat selamat.&#xA;&#xA;Zio tersenyum, pandangannya terasa berbayang. Ia melakukan apa yang Atof lakukan sebelumnya, menengadah pada langit siang yang begitu biru hari ini—bersih, tanpa awan. &#xA;&#xA;Kekasihnya berfoto menggenggam buket bunga dengan orang tua Zio di kanan-kirinya. Pada foto entah keberapa yang Dean bidik, Atof menyengir lebar meski pelupuk matanya terdapat genangan yang berusaha tak turun. Lantas, mereka berfoto berdua, dengan Zio mengenakan topi wisuda Atof. &#xA;&#xA;Tanpa tedeng aling-aling, Zio mendekatkan mulutnya ke telinga Atof. Berbisik mengenai topik yang sempat tertinggal di ruang obrolan. “Di kasur aja, kalau di meja nanti buku kamu berantakan.”&#xA;&#xA;Atof sontak menoleh, “Lazio?!” ia menarik kepala Zio dan mengapitnya di bawah lengan karena gemas. Zio tertawa puas meski tercekik menepuk lengan Atof minta dilepaskan.&#xA;&#xA;September adalah bulan transisi, masih terik meski orang jaman dulu mengatakan bulan tersebut memasuki musim hujan. Zio memulai semester baru, Atof wisuda. &#xA;&#xA;(c) litamateur&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><strong>story details</strong>: 2,300 words, slice of life, uhhh graduasi lah pokoknya.</p></blockquote>

<p><strong>notes</strong>: sambil dengerin <a href="https://open.spotify.com/track/47Ma9iuWP6XX1eWTFyJYjO?si=a22d9ae8bad74226" rel="nofollow">maybe dari hui</a> coba! &lt;3</p>

<hr>

<h3 id="graduation" id="graduation">Graduation</h3>



<p>“<em>Do you want your parents to come to your graduation</em>?”</p>

<p>Kalimat itu akhirnya berani Zio layangkan setelah berpikir selama berbulan-bulan sejak Atof selesai sidang.</p>

<p>Atof belum menemukan pekerjaan—atau lebih tepatnya memilih untuk tidak mencari pekerjaan dengan telaten karena ingin beristirahat. Kalau Zio tidak bilang, “Aku bantu apply di Linkedin sama Kalibrr,” mungkin Atof sama sekali tidak cari kerja. Kini akun media sosial mereka menyangkut di gawai satu sama lain, karena terlalu sering saling bantu.</p>

<p>Awalnya hanya di sore hari setelah Atof sidang dengan mendapatkan banyak rangkai bunga, dan bingkisan dari penggemar. Atof mengajukan pertanyaan saat mereka membuka bingkisan satu-persatu. “<em>Is it okay for me to take a break</em>? Cuma ngurusin Coco dan pacarku yang makannya harus disuapin?”</p>

<p>Zio tertawa karena kalimat tersebut. Mungkin ini pertama kalinya dalam hidup Atof bahwa ia tidak ingin berlari untuk mengejar sesuatu. Padahal indeks prestasi kumulatif akhirnya cemerlang dan ia bisa saja langsung memburu yang ia mau, namun ia justru ingin rehat. Maka dari itu, Zio mengangguk dan berkata, “As long as you’re content with what you do.”</p>

<p>Kekasihnya mencubit pipinya gemas, berucap okay dengan suara yang terbilang lirih. Atof menyusun rangkai bunga yang masih bisa segar dalam beberapa hari untuk diletakkan di vas. Alunan lagu band mereka terdengar dari gumam bibir Atof, Zio lagi-lagi jadi tahu hal baru bahwa Atof menikmati kegiatan seperti itu. Rangkai bunga mawar berbagai warna dipajang di meja belajar di kamar, juga di studio musiknya.</p>

<p>Mulai saat itu, Atof sehari-hari sungguhan seperti bapak-bapak yang menikmati masa pensiun dengan main burung. Yang membuat Zio semakin sadar bahwa Atof begitu lembut dengan hewan. Meski kadang membuatnya tertawa setiap kekasihnya bercerita, “Kemarin burungnya Pak Sudrajat menang kontes.”</p>

<p>Sering kali Atof main catur mengenakan sarung, angkat kaki ala makan di Warung Tegal bersama Pak Sudrajat—pemilik kosnya—di depan rumah. Dibanding Zio, Atof lebih akrab dengan Bapak Kosnya karena sering mengobrol.</p>

<p>Sebab tak ada kesibukan pun bulu-bulu yang tumbuh di sekitar mulut Atof jadi jarang ia cukur kecuali jika ada acara tertentu seperti gigs. Kadang Atof harus digeret oleh Zio jika ia mulai merasa bulu halus itu menusuknya ketika mereka berciuman.</p>

<p>“Kamu tau nggak ini nusuk? Mukaku bisa luka juga kalau kegesek?” gerutunya.</p>

<p>Atof hanya berdeham, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk teratur pinggang Zio yang kini tengah duduk di atas pangkuannya—membantu Atof bercukur.</p>

<p>“Kalau nggak dicukurin lama-lama janggutnya bisa dikepang kayak Peppy. <em>Do you know Peppy a comedian</em>?”</p>

<p>“Tau, sengaja biar kamu geregetan mau ngebantuin <em>shaving</em>.”</p>

<p>Sejujurnya Zio tahu Atof akan beralasan begitu. Mata kekasihnya yang kini tak henti mengikuti pergerakannya, membuatnya sedikit salah tingkah. Ia tak fokus karena tatapan Atof begitu menguarkan afeksi, rasanya Zio ingin memukul batok kepala Atof dengan alat cukur di genggaman. Pemuda itu langsung mengangkat tubuh Zio yang duduk di pangkuan usai selesai. Spontan Zio menyalak dan mencengkeram bahunya. “Kaget, gila lu.”</p>

<p>Atof tertawa mencondongkan wajah padanya seiring menggendongnya ke kamar. “<em>Kiss me, pleasee</em>.”</p>

<p>Zio mengerutkan wajahnya dongkol, matanya mengecil menelisik.</p>

<p>“Jelek kamu merengut begitu mirip bocah kalah main FF,” katanya. Atof ini tingkahnya sudah seperti bapak-bapak yang hobi meledek anaknya sampai menangis. Wajah Zio semakin tertekuk. Kekasihnya kian tertawa karena reaksinya, memohon sekali lagi untuk dicium. “<em>Please</em> ciummmmm.”</p>

<p>Meski dengan setengah hati, ujungnya tetap saja mereka berciuman. Lumayan bergairah meski masih pagi. Apalagi ketika Zio dibaringkan di kasur, dan Atof mulai menjulang di atasnya. Melesakkan kepala ke leher untuk menjatuhkan kecupan di sana.</p>

<p>“Udah nggak nusuk, kan?”</p>

<p>Pupil mata Zio berputar sangat cepat nyaris membuatnya pening, “<em>You&#39;re annoying</em>.”</p>

<p>“Aku laser aja <em>for your convenience</em>, gimana?”</p>

<p>“Janganlah, jadi nggak bisa nyukurin sambil dipangku.”</p>

<p>Atof bangkit dengan mengusak puncak kepala Zio, hatinya jumpalitan meski ribuan kali Atof melakukannya. “Tuh, kamu yang suka. <em>Thank you,</em> Baby Doll.”</p>

<p>Kebiasaan baru Atof memang sangat berkebalikan dari rutinitasnya yang dahulu, namun Zio senang melihat bagaimana Atof menikmati hidupnya. Apalagi ketika Atof mulai menggendong Coco dan menimang-nimangnya seperti bayi sungguhan karena bobot Coco sudah terlalu berat saking dimanja. Bahkan Atof lebih sering menginap di kosnya karena apartemen Atof kini merangkap jadi basecamp anak Rhapsody jika ingin bertemu. Untungnya, Bapak Kos Zio tidak pernah keberatan dengan eksistensi Atof di sana.</p>

<p>Malam itu, sama saja dengan malam-malam lain saat Atof menunggu waktu wisuda. Pertanyaan Zio tentang surat undangan graduasi dibuat menggantung di udara selama beberapa detik. Hanya desah yang lumayan panjang berembus dari belah bibir Atof. Lampu kamar sudah dimatikan karena lewat tengah malam. Zio sedikit merasa bersyukur tak mampu membaca ekspresi Atof dalam gelap, sebab pasti ia akan ikut sendu.</p>

<p>“Nggak tahu …  Mamah jauh kayaknya agak susah buat datang ke wisuda, <em>and my dad– well</em>–”</p>

<p>Atof mengalihkan atensi pada undangan wisuda di nakasnya. Satu undangan yang diperuntukkan bagi dua orang, dan biasanya untuk orang tua. Masih sekitar dua pekan sampai upacara wisuda itu diselenggarakan, Atof lumayan punya waktu untuk menentukan akan diserahkan ke siapa undangan miliknya. Kali ini, perasaan bersalah merayap dalam diri Zio sebab ia bertanya meski sudah menimbang beberapa bulan terakhir.</p>

<p>“Mungkin Kak Dinda yang datang, atau Althaf … pasti dia ambil cuti <em>for my graduation day</em>.”</p>

<p>Zio segera menyandarkan kepala di bahu Atof, dan merangkulnya dengan erat. “<em>Sorry for asking</em>.”</p>

<p>“<em>No, Baby Doll, it&#39;s okay</em>.”</p>

<p>Kekasihnya mengecup samar dahi Zio yang tertutupi rambut. Zio suka rambut panjangnya karena ia sadar Atof lebih sering mengelusnya ketimbang saat pendek. Namun rambut itu mulai menusuk mata, mungkin ia perlu memangkasnya sedikit. Dirinya semakin mengeratkan pelukan, menepuk-nepuk pelan dada Atof.</p>

<p>“Kamu tidur, besok harus bangun pagi buat ngempan burung bapak kosku.”</p>

<p>Tawa ringan Atof membuat perasaan bersalahnya berkurang.</p>

<p>“Nyuapin kamu kali yang sibuk mentang-mentang udah semester tujuh.”</p>

<p>Kini Zio yang tertawa. Akhir-akhir ini ia selalu disuapi karena susah sekali untuk makan. Sibuk menyelesaikan tugas yang segunung meski dikerjakan bertahap.</p>

<p>Jika Zio boleh jujur, jadwal mereka sungguhan padat sejak Rhapsody lumayan dikenal banyak orang. Tatkala Atof menggarap skripsinya, mereka sedang bepergian manggung ke berbagai tempat. Akan tetapi kekasihnya itu jarang mengeluh, karena Atof lebih suka menyibukkan diri daripada tidak melakukan apa-apa. Sesekali mengeluh pasti karena bagian bawah punggungnya pegal terlalu lama duduk.</p>

<p>“Kamu tidur juga, besok kelas pagi,” bisiknya lagi, “<em>Don’t worry, it’s just another graduation.</em>”</p>

<p>Kalimat tersebut bukan menenangkannya justru memunculkan gelenyar tak nyaman. Setidaknya untuk yang satu ini, Zio tidak ingin acara tersebut hanya jadi graduasi-graduasi lain untuk Atof. Zio perlu mengusahakan sesuatu.</p>

<p><br></p>

<hr>

<p><br></p>

<p>Undangan itu tergeletak di nakas hingga hari kelima sebelum wisuda diselenggarakan. Zio mengambilnya.</p>

<p><br></p>

<hr>

<p><br></p>

<p>Tak ada keluarga Atof yang datang saat wisuda karena Atof melarangnya.</p>

<p>Zio sering kali tak mengerti jalan pikiran kekasihnya meski ia sudah berada di sisinya selama ini. Ia hanya bisa berasumsi dari pengalaman bersamanya, bahwa Atof terlanjur terbiasa serba sendiri sehingga hari graduasi pun tak jadi sesuatu yang spesial. Tak ingin mengundang, tak ingin merayakan, sama seperti hari ulang tahunnya—yang justru ia anggap jadi hari yang menyedihkan. Meski tiga tahun terakhir Zio berusaha membuatnya spesial.</p>

<p>Atof mengenakan pakaian serba hitam, dan rambutnya ia gel membentuk <em>comma</em>. Tak ingin ke salon, atau beli pakaian formal baru, semuanya hanya ia ambil dari lemarinya. Meski kali ini, Zio sengaja menginap di apartemennya untuk menyiapkan.</p>

<p>Pemuda itu sungguhan terlalu cuek dengan penampilannya. Sehari-hari pun hanya kaos putih atau hitam, dipadu jaket atau hoodie atau PDH teknik sipil tiap kuliah. Lebih suka mengoleksi sepatu yang warna-warni. Namun Atof <em>effortlessly</em> memiliki aura yang tak tersentuh, membuat orang hormat dan segan. Maka, hanya dipoles sedikit, Atof tampak semakin menawan.</p>

<p>Jika bukan hari penting, pasti Zio minta dibawa ke puncak gairah tatkala Atof mengenakan pakaian tersebut.</p>

<p>“Sebenarnya kamu undang siapa, Doll?” tanya Atof lagi. Sudah lebih dari sepuluh kali kekasihnya bertanya sejak undangan itu berada di tangan Zio.</p>

<p>“Adaa, nggak usah khawatir,” jawabnya. Merapikan sleber bergaris biru di leher Atof agar tak miring. Ia mengalungkan tali wisuda, dan memasangkan pin di tengah.</p>

<p>Undangan wisuda yang pada akhirnya Atof hadiahkan pada Zio sudah ia berikan ke orang yang ia rasa tepat menggantikan peran orang tua Atof. Ia menyetir hari ini, tak membiarkan Atof mengerjakan apa pun. Atof mengenakan topi wisudanya saat di depan gedung, tersenyum pada Zio. “<em>Thank you</em> mau repot.”</p>

<p>Zio menggeleng, meletakkan tali topi wisuda Atof di sisi kiri. “Wisuda S1 cuma sekali harus keren.”</p>

<p>“Nanti aku S1 lagi, jadi dua kali.”</p>

<p>Ia menyipitkan mata menghakimi karena respons Atof. “S2 aja sekalian, aku dukung.”</p>

<p>“Kamu aja S2, aku tambahin biayanya.”</p>

<p>“Ogah, aku kuliah S1 aja ngos-ngosan.”</p>

<p>“Ya udah S1 lagi aja tapi sesuai yang kamu minati, gimana? Aku bantu kalau kamu mau—seandainya nggak dapet <em>financial support</em> dari Ayah.”</p>

<p>Bola matanya yang melebar sejenak mengindikasikan bahwa Zio terkejut, namun tidak terlalu juga pada ujaran Atof, karena yah … kalimat itu terdengar sangat Atof. “Belum lulus udah bahas sekolah lagi, pusing. Sana duduk yang manis tunggu dipanggil,” ujarnya menggiring Atof masuk gedung.</p>

<p>Kemudian, Zio menuju mobil karena enggan di bawah terik matahari. Dalam perjalanan ia tak sengaja menemukan papan bunga bertuliskan Selamat Wisuda Manu Talatof dari sebuah fanbase, ia memotretnya.</p>

<blockquote><p><strong>Mamah Super</strong>: Udah di dalem, dek
<strong>Jordan</strong>: okay, fotoin mah
<strong>Jordan</strong>: kak atof nggak tau mamah yang dateng, jadi surprise aja nanti tepuk tangan sama minta ayah siul yang kenceng pas dia maju, atau nari-nari
<strong>Mamah Super</strong>: Bocah iki jan</p></blockquote>

<p>Zio mampu mendengar bagaimana Mamahnya berdecak meski tak melihat ekspresinya.</p>

<p>Sebuah pesan Zio kirim pada anak Rhapsody yang sudah berada di apartemen Atof (kecuali Dean yang terpaksa ke kampus lebih dulu jadi fotografer gratisan). Mereka mengambil kue yang ia request pekan lalu. Sebab ingin mengadakan sebuah selebrasi sederhana dengan makan kue, karena ia tahu Atof pasti sungkan jika dibuat megah.</p>

<p>Beberapa jam menunggu, satu notifikasi muncul di ponsel Zio.</p>

<blockquote><p><strong>Mamah Super</strong>: Hhiii, ndelok ki cah lanangku cumlaude</p></blockquote>

<p>Mamah Zio mengirimkan beberapa foto blur yang menampakkan Atof berjalan ke depan. Juga merekam pantulan proyektor ketika Rektor memindahkan tali topi wisuda Atof dari kiri ke kanan. Ibu paruh baya itu bertepuk tangan dengan meriah, dan Zio sungguhan menangkap sebuah siulan yang dilakukan Ayahnya.</p>

<p>Lumayan menghibur karena siulannya menggelegar seperti memanggil burung. Ia mengirimkan kembali foto-foto blurnya ke Atof yang segera dibalas secepat kilat.</p>

<blockquote><p><strong>14th Feb</strong>: Siapa yang ke sini, Zi?
<strong>14th Feb</strong>: Be honest with me, I can&#39;t see anything, I forgot my specs
<strong>Jordan</strong>: wkwkwk, nanti juga ketemu
<strong>Jordan</strong>: karena pacarku cumlaude, mau cum in me or cum on face, baby?
<strong>14th Feb</strong>: What the fuck, Lazio, aku masih wisuda?
<strong>14th Feb</strong>: You tainted this sacred moment</p></blockquote>

<p><strong><em>14th Feb typing</em></strong>…</p>

<blockquote><p><strong>14th Feb</strong>: Both, you look good with my cum on your face, or when you&#39;re needy in bed moaning my name to paint your wall white
<strong>Jordan</strong>: can&#39;t wait ;)
<strong>Jordan</strong>: mau menjajah aku dimana, sayang?
<strong>Jordan</strong>: meja belajar kamu? di atas keyboard? atau sambil main drum?
<strong>14th Feb</strong>: A devil incarnate indeed
<strong>14th Feb</strong>: My favorite devil incarnate
<strong>14th Feb</strong>: Comeback you pretty devil, aku lagi wisuda jadi mikirin yang enggak-enggak
<strong>Jordan</strong>: no nsfw in this sacred moment
<strong>14th Feb</strong>: You&#39;re EVIL</p></blockquote>

<p>Tak ada yang lebih mengharukan kecuali bagaimana Atof keluar gedung mengenakan gaun wisuda.</p>

<p>Zio sudah mempelajari Atof tiga tahun terakhir secara sadar tak sadar. Dulu Atof sebuah labirin dengan banyak percabangan dengan ujung jalan buntu karena enggan membuka diri. Minimnya ekspresi yang kekasihnya kuarkan nyaris tak mampu Zio terka. Kini Atof masih sebuah labirin yang perlu ia susuri, namun ujung jalannya terdapat sebuah petunjuk yang mengantarkan Zio ke jalan keluar. Seiring Zio memahaminya, menemukan lekuk lembut pada tiap jengkal dirinya, hatinya, dan jiwanya. Atof jadi manusia paling mudah untuk dipahami.</p>

<p>Kekasihnya membulatkan mata menemukan orang tua Zio menunggunya, ekspresinya sontak melembut, senyum tipisnya tak luntur. Ia mendongak ke langit sejenak menikmati terik jam 12 siang. Matanya terpejam karena tak bisa menatap langsung ke matahari.</p>

<p><em>It&#39;s ethereal</em>, Atof seakan jadi simbol ketenangan di tengah riuhnya wisuda.</p>

<p>Sejurus kemudian, kekasihnya direngkuh satu-persatu oleh temannya, kadang tertawa bersama mereka. Meski Zio yakin Atof tak mengenal baik teman yang kini tengah mengobrol dengannya. Ia disapa orang-orang ketika menjejak mendekati Zio dan orang tuanya. Memperoleh buket bunga, boneka, dan berbagai macam hadiah bernuansa wisuda.</p>

<p>“Cah lanangku wisuda,” Mamah Zio setengah berlari dan berseru di keramaian, menghampiri Atof untuk menangkup kedua pipinya. “Udah gede anakku, udah sarjana.”</p>

<p>Zio tidak tahu apa yang Atof alami pada wisuda-wisuda sebelumnya. Namun ujaran sederhana Mamah Zio membuat kekasihnya mengulum bibir.</p>

<p>Mamahnya kemudian mengatakan apa yang selalu Zio dengar setiap kali ia wisuda; entah ketika kelulusan SD, SMP, atau pun SMA. Zio merasa bersyukur ia mengundang Mamahnya, sebab Atof juga berhak mendapatkan doa-doa darinya. Sebuah afirmasi bahwa mereka bangga Atof bisa melewati satu tahap lagi untuk mencapai dewasa.</p>

<p>Atof menggigit bibirnya, hampir menangis, mengangguk berkali-kali berusaha memahami kalimat Mamahnya. Kemudian, merengkuh tubuh Mamahnya yang lebih kecil dengan sangat erat. Ayah Zio pun bergantian memeluk Atof, sudah menganggapnya seperti anak dan tanpa ragu mengeratkan dekapan, menepuk-nepuk punggung Atof dengan teratur meski tak berkata sepatah kata kecuali kalimat selamat.</p>

<p>Zio tersenyum, pandangannya terasa berbayang. Ia melakukan apa yang Atof lakukan sebelumnya, menengadah pada langit siang yang begitu biru hari ini—bersih, tanpa awan.</p>

<p>Kekasihnya berfoto menggenggam buket bunga dengan orang tua Zio di kanan-kirinya. Pada foto entah keberapa yang Dean bidik, Atof menyengir lebar meski pelupuk matanya terdapat genangan yang berusaha tak turun. Lantas, mereka berfoto berdua, dengan Zio mengenakan topi wisuda Atof.</p>

<p>Tanpa tedeng aling-aling, Zio mendekatkan mulutnya ke telinga Atof. Berbisik mengenai topik yang sempat tertinggal di ruang obrolan. “Di kasur aja, kalau di meja nanti buku kamu berantakan.”</p>

<p>Atof sontak menoleh, “Lazio?!” ia menarik kepala Zio dan mengapitnya di bawah lengan karena gemas. Zio tertawa puas meski tercekik menepuk lengan Atof minta dilepaskan.</p>

<p>September adalah bulan transisi, masih terik meski orang jaman dulu mengatakan bulan tersebut memasuki musim hujan. Zio memulai semester baru, Atof wisuda.</p>

<p>© litamateur</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://wordsmith.social/be-my-escape/be-my-escape-33w0</guid>
      <pubDate>Fri, 10 Feb 2023 15:04:09 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>BE MY ESCAPE</title>
      <link>https://wordsmith.social/be-my-escape/be-my-escape-g6mh</link>
      <description>&lt;![CDATA[  details: ±1600, mature, kissing, sex talking&#xA;&#xA;hr&#xA;&#xA;409. Lover &#xA;&#xA;pBattlestar Galactica sungguhan membuat kepala Atof berputar. /p&#xA;!--more--&#xA;pEgonya tersentil sedikit ketika digoda Zio. emFuck ego/em, ternyata memang ia tidak berbakat naik wahana ekstrem. Selain pening, perutnya juga terasa dikocok, dan ingin muntah. Wahana Halilintar di Dufan masih mampu Atof toleransi, namun yang satu ini ia kapok. emKapok /emsungguhan. /p&#xA;&#xA;pSetelah ini, tidak ada lagi pergi ke emrecreational park/em karena Zio akan menggodanya kalau tak ikut ke wahana ekstrem. Kemudian ego Atof akan tersentil, kemudian ia akan berakhir naik dan terkapar dengan kepala pusing. Sebenarnya salah Atof juga sok keren, tapi Zio hobi membuatnya dongkol./p&#xA;&#xA;p“Maaf,” Zio menyerahkan botol minum yang masih penuh karena diisi ulang. Mereka duduk di salah satu emspot/em kosong di tengah padatnya manusia yang berlalu lalang. Wajah Zio yang merasa bersalah tampak lucu, mungkin Atof akan pura-pura sakit agar Zio makin lucu. “Kak Atof maafin aku nggak?”/p&#xA;&#xA;pAtof menahan diri sekuat tenaga untuk tak langsung mengangguk, dan memeluk kekasihnya. Berusaha tak tertawa melihat wajah Zio yang kian tertekuk. /p&#xA;&#xA;pKekasihnya lebih banyak diam usai itu karena merasa bersalah, apalagi wajah Atof begitu pucat. Ia mengeratkan tangannya yang melingkar di lengan Atof saat mereka kembali berkeliling. Mereka membeli souvenir, dan figurin Transformers./p&#xA;&#xA;p“Doll,” panggilnya karena sejak tadi kekasihnya justru tak angkat suara. Ia menoleh ketika hanya dijawab sebuah gumam. “Kamu beneran merasa bersalah? Aku nggak apa-apa.”/p&#xA;&#xA;pZio mencebik, “Lagian kamu maksain, padahal kalau nggak naik juga nggak apa-apa—ya aku ledek lagi dikit—TAPI jadi sedih lihat kamu pucet gini.”/p&#xA;&#xA;p“Aku naik selain karena diledek kamu, ya karena mau nemenin kamu, masa pacarku sendirian.”/p&#xA;&#xA;p“emHiiih/em, ngapa jadi emflirting/em sih lu?” keluhnya, melepaskan lengan Atof karena salah tingkah. Zio mulai berjalan mendahuluinya, meninggalkan Atof yang tertawa. /p&#xA;&#xA;pAtof tidak khawatir ketinggalan jejak, karena mereka sama-sama punya peta digital di ponsel. Sudah merencanakan mau datang ke mana saja sebab tak semua tempat mampu mereka sambangi. /p&#xA;&#xA;pSebenarnya adalah pilihan yang salah pergi ke Universal Studio saat akhir tahun. Meskipun mereka menggunakan emExpress Pass/em, namun tetap ada antrian yang mengular. Sangat tidak emworth it/em. Akan tetapi tujuan awal Atof memang hanya bertemu Althaf, jadi ia tak memikirkan hal lain. emItinerary/em yang ia buat pun terbilang seadanya. Atof hanya ingin menghabiskan tahun, dan memulai tahun baru bersama Zio. Hanya tidur di kasur seharian, kemudian melihat kembang api bersama saat pergantian tahun pun tidak masalah. /p&#xA;&#xA;pIa menemukan Zio sedang berswafoto bersama dinosaurus di bagian The Lost World. Tersenyum lebar meski hanya sendirian./p&#xA;&#xA;pAtof menyadari hal baru mengenai kekasihnya semenjak mereka bersama. Sesungguhnya Zio hobi berfoto. Hanya saja ia lebih gemar mengunggah foto suasana ketimbang wajahnya. Daripada foto Zio sendiri, lebih banyak foto Atof di sosial medianya. Atof tanpa sadar sedikit memiringkan kepala melihat kekasihnya. Pemandangan itu terlalu emendearing/em. /p&#xA;&#xA;pKemudian, ia merogoh ponsel di saku Jeans, mengabadikan Zio yang sedang berfoto. /p&#xA;&#xA;p&amp;nbsp;/p&#xA;&#xA;p&amp;nbsp;/p&#xA;hr&#xA;p&amp;nbsp;/p&#xA;&#xA;p&amp;nbsp;/p&#xA;&#xA;p“emGod, I&#39;m so tired/em.”/p&#xA;&#xA;pAtof membanting dirinya ke kasur setelah mereka berhasil emcheck-in/em ke salah satu hotel yang mereka embooking/em di Pulau Sentosa. /p&#xA;&#xA;pAdalah pilihan yang salah lagi sepertinya untuk embooking/em kamar dengan pemandangan Marina secara dekat. Sejujurnya Atof hanya berpikir sepertinya menyenangkan jika membuka tirai disuguhkan pemandangan pelabuhan, dan emyacht/em yang terparkir di sana. Namun ia lupa di sana begitu berisik, beberapa emyacht/em yang sedang berlayar pun seperti tengah mengadakan pesta akhir tahun. Menyalakan emspeaker /emdengan volume paling tinggi hingga polusi suara. Mungkin Atof dan Zio tidak akan bisa tidur malam ini karena kamar di sana tidak emsoundproof/em— namun sepertinya mereka memang tidak akan tidur?/p&#xA;&#xA;pemWell/em. /p&#xA;&#xA;pAkan tetapi mata Atof terpejam, tubuhnya kelelahan diajak bermain, ia pun menguap lebar meski kini baru masuk waktu makan malam. Zio ikut membanting dirinya ke kasur setelah melihat emqr code/em yang disediakan hotel—ia menggunakan itu untuk memesan makan malam yang akan dibawakan ke kamar./p&#xA;&#xA;p“Masa tahun baru sama aku tidur,” rajuk Zio, kemudian mendekatkan tubuhnya pada Atof yang terlentang. “emYou promise sex for a good boy/em,” bisiknya langsung di telinga, lalu meniupkan udara hangat./p&#xA;&#xA;pAtof terkekeh kegelian, “emYou’re so eager for me/em.”/p&#xA;&#xA;p“Karena kamu bilang, kalau nggak bilang nggak akan aku ungkit,” balasnya. Zio mengubah posisi, kepalanya menjadikan perut Atof sebagai bantalan. Pendingin ruangan belum mampu menghentikan keringat yang mengucur di dalam kaos mereka. Mereka menunggu hingga peluh tak turun lagi baru akan mandi. “Aku malah nggak kepikiran kamu ngajak aku ke sini buat emunboxing/em.”/p&#xA;&#xA;pSpontan Atof menjentik pelan dahi Zio yang ditutupi rambut agak lepek sebab keringat, “Kamu bahasanya selalu aneh-aneh.”/p&#xA;&#xA;pZio tergelak, berguling agar telungkup. Kini dagunya yang bersandar di perut Atof. “Kamu &#39;kan banyak seks dulu, ada yang paling emmemorable/em nggak?”/p&#xA;&#xA;p“Hmmmm, nggak ada kayaknya, nggak ingat apa pun,” jawab Atof sekenanya, karena ia memang tak ingin mengingat apa pun mengenai hal tersebut. Seks baginya waktu itu hanya sebuah pelarian yang menghasilkan kehampaan. Tak ada yang berarti. /p&#xA;&#xA;pZio mendesah kecewa, “Masa sih? Dari sebanyak itu?” tanyanya lagi tak percaya./p&#xA;&#xA;p“Serius, aku nggak ingat sama sekali. emIt&#39;s just ... sex?/em Jadi nggak ada yang mau ku ingat. emAnd most of the time I didn&#39;t see their face– I didn&#39;t wanna see their face/em.”/p&#xA;&#xA;p“Kenapa nggak mau lihat muka mereka?”/p&#xA;&#xA;p“emI didn&#39;t like how their eyes oozed feeling like they wanted me? Because they didn&#39;t actually want me, they wanted my dick, not my five-year-old self who was abandoned by his parents./em”/p&#xA;&#xA;pKekasihnya tak menjawab lagi setelah itu, mulai mampu menarik konklusi dari apa yang ia ceritakan secara sepotong-sepotong. Atof tak suka memberitahu orang lain karena eksplorasi di masa lalu itu tak membuatnya bangga sama sekali. Namun dari sana Atof jadi tahu bahwa ia tak bisa merasakan sesuatu saat seks dengan orang yang tak memiliki ikatan emosional dengannya. Ia masih mempunyai reaksi biologis, namun tidak ada perasaan bergelora seperti apa kata orang. emIt was hollow and tiring most of the time./em /p&#xA;&#xA;pMaka dari itu, ketika Zio menyerahkan diri. Menyuruhnya menggunakan Zio pertama kali, Atof kelimpungan. Ia menyadari bahwa dirinya mulai memiliki ikatan emosional dengan Zio. Ia tak bisa menganggap apa yang dirinya dan Zio lakukan hanya seks; seperti yang sudah-sudah./p&#xA;&#xA;pNyatanya, Atof berkeinginan mencium Zio yang masih embandmate/em-nya waktu itu. Padahal ia jarang mencium partner seksnya—bahkan melihat wajahnya saja sungkan. /p&#xA;&#xA;p“emThat&#39;s how your blindfold kink built/em,” akhirnya Zio menyuarakan pikirannya. /p&#xA;&#xA;p“Yeah,” Atof sedikit mengangkat kepalanya dari ranjang dan langsung menemukan Zio yang tengah menatapnya—mata mereka bersirobok. Tangannya berusaha meraih puncak kepala Zio, mengelus rambutnya. Kekasihnya langsung memejamkan mata, mencondongkan diri pada tangannya. /p&#xA;&#xA;pZio selalu membuat Atof merasa ia adalah penting, meski hal sederhana. Menginginkannya secara menyeluruh, bahkan sekadar elusan samar, ia akan mengejarnya. Hal itu menjadikannya ingin memberi lebih. Mungkin karena Zio pun tak segan hatinya dicabik asal bersamanya. “emI don&#39;t want you to feel like you are one of them when it comes to sex. You&#39;re not a one night stand partner, or my fuck buddy/em, Doll.”/p&#xA;&#xA;p“emI know I&#39;m more than that/em,” Zio membuka kelopak matanya dan tersenyum, akhirnya mengerti alasan Atof mengulur-ulur seks mereka. “emYou&#39;re so thoughtful, thank you/em.”/p&#xA;&#xA;pIni masih jam tujuh malam, namun suara ledak kembang api sudah terdengar. Warna-warni di langit malam dapat mereka saksikan karena tirai kamar dibuka. Pelabuhan ramai dengan orang yang merayakan pergantian tahun./p&#xA;&#xA;pKekasih Atof mencondongkan diri untuk  menanamkan kecupan di seluruh wajah. Atof terkekeh kegelian, mengelus sisi pinggang Zio. Jemarinya menelusuk ke kaos yang lembab, mereka sangat perlu mandi sekarang. Segalanya lengket, namun mereka belum selesai, ia membawa Zio untuk duduk, berusaha bersandar di kepala ranjang. Bibir mereka mulai saling memagut./p&#xA;&#xA;pZio mendesah saat Atof turun untuk mengulum ceruk lehernya. Menarik rambutnya yang juga memicu erangan darinya. Ia menggigit kulit di bawah telinganya, dan menciptakan elektrik yang membuat punggung Zio melengkung.  /p&#xA;&#xA;p“emI wanna go straight to the fucking, but this is our first time, let&#39;s take things slow/em, Zi? emWe need to take a shower first/em,” bisiknya, memicu suara rengekan yang tertelan di belakang kerongkongan Zio. /p&#xA;&#xA;p“emPlease, call my name again/em,” embusan napas Zio yang terengah-engah berpendar tepat di atas bibirnya. /p&#xA;&#xA;p“Zio, Jordan, or emOdaaaan/em?” Atof memekik untuk panggilan yang terakhir, memicu gelak tawa kekasihnya. /p&#xA;&#xA;pemIt&#39;s cute, really/em. Atof tak pernah menganggap dirinya lucu, namun Zio selalu tertawa karenanya. emIt somehow makes him want to joke like a stupid himbo. Atof has never wanted to please anyone, but for Zio, maybe he will./em/p&#xA;&#xA;pem“You ruin the mood,” /emZio pura-pura cemberut, memukul bahunya.em  /em/p&#xA;&#xA;p“emROOM SERVICE/em!” ada ketukan di pintu kamar mereka. Makan malam mereka yang Zio pesan datang. Kekasihnya memutar bola mata karena diganggu, merasa mereka datang di saat yang tidak tepat./p&#xA;&#xA;p“emYou shouldn&#39;t have ordered food/em,” ledek Atof memperhatikan ekspresinya. /p&#xA;&#xA;p“emAnd leave us hungry/em?”/p&#xA;&#xA;p“emI can eat your love/em.”/p&#xA;&#xA;p“emDork/em,” Zio berusaha bangkit dari pangkuannya, akan tetapi ia berhenti, “emOne last kiss before we eat/em,” pintanya/p&#xA;&#xA;pLagi-lagi ada ketukan di pintu kamar mereka. Zio berdecak mulai jengkel, Atof segera merengkuh pipi kekasihnya yang sudah berekspresi masam untuk mengecup bibirnya. “emGo, take our food/em.”/p&#xA;&#xA;pBocah itu langsung tersenyum hanya karena dicium. Dasar./p&#xA;&#xA;pMereka makan. Lebih ke Atof makan dan Zio membuka mulut dan menunggu Atof menyuapinya, mengunyah dengan semangat seperti anak kecil kelaparan. Setelah itu, mereka menggunakan batu-gunting-kertas untuk menentukan siapa yang mandi duluan—karena mereka malas beranjak dari ranjang, dan juga kompetitif. Zio kalah setelah mereka serentak mengeluarkan batu berkali-kali. /p&#xA;&#xA;p“Ah, ini kalah secara psikologis!” serunya tak terima setelah mengeluarkan gunting. /p&#xA;&#xA;pAtof tertawa tak keruan, mendorong sang kekasih ke kamar mandi, meletakkan embathrobe /emuntuknya di sisi wastafel. Sejurus kemudian, ia mencoba ke balkon untuk melihat betapa meriahnya perayaan pergantian tahun di sana seraya meminum teh herbal. Tak ada alkohol malam ini, karena Atof tak ingin ia bercinta dengan Zio di bawah pengaruh alkohol./p&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><strong>details</strong>: ±1600, mature, kissing, sex talking</p></blockquote>

<hr>

<h3 id="409-lover" id="409-lover">409. Lover</h3>

<p>Battlestar Galactica sungguhan membuat kepala Atof berputar. </p>

<p>Egonya tersentil sedikit ketika digoda Zio. <em>Fuck ego</em>, ternyata memang ia tidak berbakat naik wahana ekstrem. Selain pening, perutnya juga terasa dikocok, dan ingin muntah. Wahana Halilintar di Dufan masih mampu Atof toleransi, namun yang satu ini ia kapok. <em>Kapok </em>sungguhan. </p>

<p>Setelah ini, tidak ada lagi pergi ke <em>recreational park</em> karena Zio akan menggodanya kalau tak ikut ke wahana ekstrem. Kemudian ego Atof akan tersentil, kemudian ia akan berakhir naik dan terkapar dengan kepala pusing. Sebenarnya salah Atof juga sok keren, tapi Zio hobi membuatnya dongkol.</p>

<p>“Maaf,” Zio menyerahkan botol minum yang masih penuh karena diisi ulang. Mereka duduk di salah satu <em>spot</em> kosong di tengah padatnya manusia yang berlalu lalang. Wajah Zio yang merasa bersalah tampak lucu, mungkin Atof akan pura-pura sakit agar Zio makin lucu. “Kak Atof maafin aku nggak?”</p>

<p>Atof menahan diri sekuat tenaga untuk tak langsung mengangguk, dan memeluk kekasihnya. Berusaha tak tertawa melihat wajah Zio yang kian tertekuk. </p>

<p>Kekasihnya lebih banyak diam usai itu karena merasa bersalah, apalagi wajah Atof begitu pucat. Ia mengeratkan tangannya yang melingkar di lengan Atof saat mereka kembali berkeliling. Mereka membeli souvenir, dan figurin Transformers.</p>

<p>“Doll,” panggilnya karena sejak tadi kekasihnya justru tak angkat suara. Ia menoleh ketika hanya dijawab sebuah gumam. “Kamu beneran merasa bersalah? Aku nggak apa-apa.”</p>

<p>Zio mencebik, “Lagian kamu maksain, padahal kalau nggak naik juga nggak apa-apa—ya aku ledek lagi dikit—TAPI jadi sedih lihat kamu pucet gini.”</p>

<p>“Aku naik selain karena diledek kamu, ya karena mau nemenin kamu, masa pacarku sendirian.”</p>

<p>“<em>Hiiih</em>, ngapa jadi <em>flirting</em> sih lu?” keluhnya, melepaskan lengan Atof karena salah tingkah. Zio mulai berjalan mendahuluinya, meninggalkan Atof yang tertawa. </p>

<p>Atof tidak khawatir ketinggalan jejak, karena mereka sama-sama punya peta digital di ponsel. Sudah merencanakan mau datang ke mana saja sebab tak semua tempat mampu mereka sambangi. </p>

<p>Sebenarnya adalah pilihan yang salah pergi ke Universal Studio saat akhir tahun. Meskipun mereka menggunakan <em>Express Pass</em>, namun tetap ada antrian yang mengular. Sangat tidak <em>worth it</em>. Akan tetapi tujuan awal Atof memang hanya bertemu Althaf, jadi ia tak memikirkan hal lain. <em>Itinerary</em> yang ia buat pun terbilang seadanya. Atof hanya ingin menghabiskan tahun, dan memulai tahun baru bersama Zio. Hanya tidur di kasur seharian, kemudian melihat kembang api bersama saat pergantian tahun pun tidak masalah. </p>

<p>Ia menemukan Zio sedang berswafoto bersama dinosaurus di bagian The Lost World. Tersenyum lebar meski hanya sendirian.</p>

<p>Atof menyadari hal baru mengenai kekasihnya semenjak mereka bersama. Sesungguhnya Zio hobi berfoto. Hanya saja ia lebih gemar mengunggah foto suasana ketimbang wajahnya. Daripada foto Zio sendiri, lebih banyak foto Atof di sosial medianya. Atof tanpa sadar sedikit memiringkan kepala melihat kekasihnya. Pemandangan itu terlalu <em>endearing</em>. </p>

<p>Kemudian, ia merogoh ponsel di saku Jeans, mengabadikan Zio yang sedang berfoto. </p>

<p> </p>

<p> </p>
<hr>
<p> </p>

<p> </p>

<p>“<em>God, I&#39;m so tired</em>.”</p>

<p>Atof membanting dirinya ke kasur setelah mereka berhasil <em>check-in</em> ke salah satu hotel yang mereka <em>booking</em> di Pulau Sentosa. </p>

<p>Adalah pilihan yang salah lagi sepertinya untuk <em>booking</em> kamar dengan pemandangan Marina secara dekat. Sejujurnya Atof hanya berpikir sepertinya menyenangkan jika membuka tirai disuguhkan pemandangan pelabuhan, dan <em>yacht</em> yang terparkir di sana. Namun ia lupa di sana begitu berisik, beberapa <em>yacht</em> yang sedang berlayar pun seperti tengah mengadakan pesta akhir tahun. Menyalakan <em>speaker </em>dengan volume paling tinggi hingga polusi suara. Mungkin Atof dan Zio tidak akan bisa tidur malam ini karena kamar di sana tidak <em>soundproof</em>— namun sepertinya mereka memang tidak akan tidur?</p>

<p><em>Well</em>. </p>

<p>Akan tetapi mata Atof terpejam, tubuhnya kelelahan diajak bermain, ia pun menguap lebar meski kini baru masuk waktu makan malam. Zio ikut membanting dirinya ke kasur setelah melihat <em>qr code</em> yang disediakan hotel—ia menggunakan itu untuk memesan makan malam yang akan dibawakan ke kamar.</p>

<p>“Masa tahun baru sama aku tidur,” rajuk Zio, kemudian mendekatkan tubuhnya pada Atof yang terlentang. “<em>You promise sex for a good boy</em>,” bisiknya langsung di telinga, lalu meniupkan udara hangat.</p>

<p>Atof terkekeh kegelian, “<em>You’re so eager for me</em>.”</p>

<p>“Karena kamu bilang, kalau nggak bilang nggak akan aku ungkit,” balasnya. Zio mengubah posisi, kepalanya menjadikan perut Atof sebagai bantalan. Pendingin ruangan belum mampu menghentikan keringat yang mengucur di dalam kaos mereka. Mereka menunggu hingga peluh tak turun lagi baru akan mandi. “Aku malah nggak kepikiran kamu ngajak aku ke sini buat <em>unboxing</em>.”</p>

<p>Spontan Atof menjentik pelan dahi Zio yang ditutupi rambut agak lepek sebab keringat, “Kamu bahasanya selalu aneh-aneh.”</p>

<p>Zio tergelak, berguling agar telungkup. Kini dagunya yang bersandar di perut Atof. “Kamu &#39;kan banyak seks dulu, ada yang paling <em>memorable</em> nggak?”</p>

<p>“Hmmmm, nggak ada kayaknya, nggak ingat apa pun,” jawab Atof sekenanya, karena ia memang tak ingin mengingat apa pun mengenai hal tersebut. Seks baginya waktu itu hanya sebuah pelarian yang menghasilkan kehampaan. Tak ada yang berarti. </p>

<p>Zio mendesah kecewa, “Masa sih? Dari sebanyak itu?” tanyanya lagi tak percaya.</p>

<p>“Serius, aku nggak ingat sama sekali. <em>It&#39;s just ... sex?</em> Jadi nggak ada yang mau ku ingat. <em>And most of the time I didn&#39;t see their face– I didn&#39;t wanna see their face</em>.”</p>

<p>“Kenapa nggak mau lihat muka mereka?”</p>

<p>“<em>I didn&#39;t like how their eyes oozed feeling like they wanted me? Because they didn&#39;t actually want me, they wanted my dick, not my five-year-old self who was abandoned by his parents.</em>”</p>

<p>Kekasihnya tak menjawab lagi setelah itu, mulai mampu menarik konklusi dari apa yang ia ceritakan secara sepotong-sepotong. Atof tak suka memberitahu orang lain karena eksplorasi di masa lalu itu tak membuatnya bangga sama sekali. Namun dari sana Atof jadi tahu bahwa ia tak bisa merasakan sesuatu saat seks dengan orang yang tak memiliki ikatan emosional dengannya. Ia masih mempunyai reaksi biologis, namun tidak ada perasaan bergelora seperti apa kata orang. <em>It was hollow and tiring most of the time.</em> </p>

<p>Maka dari itu, ketika Zio menyerahkan diri. Menyuruhnya menggunakan Zio pertama kali, Atof kelimpungan. Ia menyadari bahwa dirinya mulai memiliki ikatan emosional dengan Zio. Ia tak bisa menganggap apa yang dirinya dan Zio lakukan hanya seks; seperti yang sudah-sudah.</p>

<p>Nyatanya, Atof berkeinginan mencium Zio yang masih <em>bandmate</em>-nya waktu itu. Padahal ia jarang mencium partner seksnya—bahkan melihat wajahnya saja sungkan. </p>

<p>“<em>That&#39;s how your blindfold kink built</em>,” akhirnya Zio menyuarakan pikirannya. </p>

<p>“Yeah,” Atof sedikit mengangkat kepalanya dari ranjang dan langsung menemukan Zio yang tengah menatapnya—mata mereka bersirobok. Tangannya berusaha meraih puncak kepala Zio, mengelus rambutnya. Kekasihnya langsung memejamkan mata, mencondongkan diri pada tangannya. </p>

<p>Zio selalu membuat Atof merasa ia adalah penting, meski hal sederhana. Menginginkannya secara menyeluruh, bahkan sekadar elusan samar, ia akan mengejarnya. Hal itu menjadikannya ingin memberi lebih. Mungkin karena Zio pun tak segan hatinya dicabik asal bersamanya. “<em>I don&#39;t want you to feel like you are one of them when it comes to sex. You&#39;re not a one night stand partner, or my fuck buddy</em>, Doll.”</p>

<p>“<em>I know I&#39;m more than that</em>,” Zio membuka kelopak matanya dan tersenyum, akhirnya mengerti alasan Atof mengulur-ulur seks mereka. “<em>You&#39;re so thoughtful, thank you</em>.”</p>

<p>Ini masih jam tujuh malam, namun suara ledak kembang api sudah terdengar. Warna-warni di langit malam dapat mereka saksikan karena tirai kamar dibuka. Pelabuhan ramai dengan orang yang merayakan pergantian tahun.</p>

<p>Kekasih Atof mencondongkan diri untuk  menanamkan kecupan di seluruh wajah. Atof terkekeh kegelian, mengelus sisi pinggang Zio. Jemarinya menelusuk ke kaos yang lembab, mereka sangat perlu mandi sekarang. Segalanya lengket, namun mereka belum selesai, ia membawa Zio untuk duduk, berusaha bersandar di kepala ranjang. Bibir mereka mulai saling memagut.</p>

<p>Zio mendesah saat Atof turun untuk mengulum ceruk lehernya. Menarik rambutnya yang juga memicu erangan darinya. Ia menggigit kulit di bawah telinganya, dan menciptakan elektrik yang membuat punggung Zio melengkung.  </p>

<p>“<em>I wanna go straight to the fucking, but this is our first time, let&#39;s take things slow</em>, Zi? <em>We need to take a shower first</em>,” bisiknya, memicu suara rengekan yang tertelan di belakang kerongkongan Zio. </p>

<p>“<em>Please, call my name again</em>,” embusan napas Zio yang terengah-engah berpendar tepat di atas bibirnya. </p>

<p>“Zio, Jordan, or <em>Odaaaan</em>?” Atof memekik untuk panggilan yang terakhir, memicu gelak tawa kekasihnya. </p>

<p><em>It&#39;s cute, really</em>. Atof tak pernah menganggap dirinya lucu, namun Zio selalu tertawa karenanya. <em>It somehow makes him want to joke like a stupid himbo. Atof has never wanted to please anyone, but for Zio, maybe he will.</em></p>

<p><em>“You ruin the mood,” </em>Zio pura-pura cemberut, memukul bahunya.<em>  </em></p>

<p>“<em>ROOM SERVICE</em>!” ada ketukan di pintu kamar mereka. Makan malam mereka yang Zio pesan datang. Kekasihnya memutar bola mata karena diganggu, merasa mereka datang di saat yang tidak tepat.</p>

<p>“<em>You shouldn&#39;t have ordered food</em>,” ledek Atof memperhatikan ekspresinya. </p>

<p>“<em>And leave us hungry</em>?”</p>

<p>“<em>I can eat your love</em>.”</p>

<p>“<em>Dork</em>,” Zio berusaha bangkit dari pangkuannya, akan tetapi ia berhenti, “<em>One last kiss before we eat</em>,” pintanya</p>

<p>Lagi-lagi ada ketukan di pintu kamar mereka. Zio berdecak mulai jengkel, Atof segera merengkuh pipi kekasihnya yang sudah berekspresi masam untuk mengecup bibirnya. “<em>Go, take our food</em>.”</p>

<p>Bocah itu langsung tersenyum hanya karena dicium. Dasar.</p>

<p>Mereka makan. Lebih ke Atof makan dan Zio membuka mulut dan menunggu Atof menyuapinya, mengunyah dengan semangat seperti anak kecil kelaparan. Setelah itu, mereka menggunakan batu-gunting-kertas untuk menentukan siapa yang mandi duluan—karena mereka malas beranjak dari ranjang, dan juga kompetitif. Zio kalah setelah mereka serentak mengeluarkan batu berkali-kali. </p>

<p>“Ah, ini kalah secara psikologis!” serunya tak terima setelah mengeluarkan gunting. </p>

<p>Atof tertawa tak keruan, mendorong sang kekasih ke kamar mandi, meletakkan <em>bathrobe </em>untuknya di sisi wastafel. Sejurus kemudian, ia mencoba ke balkon untuk melihat betapa meriahnya perayaan pergantian tahun di sana seraya meminum teh herbal. Tak ada alkohol malam ini, karena Atof tak ingin ia bercinta dengan Zio di bawah pengaruh alkohol.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://wordsmith.social/be-my-escape/be-my-escape-g6mh</guid>
      <pubDate>Sat, 28 Jan 2023 16:44:02 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>BE MY ESCAPE</title>
      <link>https://wordsmith.social/be-my-escape/be-my-escape-l82y</link>
      <description>&lt;![CDATA[  tags: ±1400, markno, kissing, and well... a lot of talking.&#xA;&#xA;notes: ngintip orang pacaran ini mah, tapi please dengerin the only exception by paramore&#xA;&#xA;hr&#xA;&#xA;The Only Exception&#xA;&#xA;br&#xA;&#xA;br&#xA;&#xA;br&#xA;&#xA;Ciuman! Ciuman! Ciuman!&#xA;&#xA;!--more--&#xA;Itu hal paling konyol yang pernah bandmates Zio teriakan padanya dan Atof. Tidak masalah jika mereka jadi bahan taruhan, namun kalau yang satu ini … sepertinya alkohol membuat mereka kehilangan akal sehat.&#xA;&#xA;Atof dan Zio terhitung jarang melakukan public display affection. Maka dari itu mereka dibilang memiliki repressed sexual desire. Padahal mungkin karena mereka tidak hobi menunjukkannya ke orang, atau belum terbiasa karena baru menjalin hubungan. &#xA;&#xA;Maka, disuruh berciuman di depan tiga orang—yang sudah tidak punya waras pada tengah malam—lumayan membuat Zio malu. Ternyata alkohol tidak menghapus rasa itu dari dalam dirinya. &#xA;&#xA;Pipi Atof sudah merah karena terlalu banyak menenggak alkohol. Sejak tadi ia selalu kalah saat drinking game. Meskipun menang pun, ia tetap disuruh minum karena pemuda itu tak bisa menolak permintaan anggota bandnya. Entah terlalu baik, atau tak ingin mendengar ocehan anggota bandnya. &#xA;&#xA;Namun di antara mereka yang sudah setengah gila, tetap ada seruan yang semakin meninggi. &#xA;&#xA;Cium! Cium! Cium!&#xA;&#xA;“Go watch Netflix series, there&#39;re a lot of kissing scenes there,” tolak Atof secara halus.&#xA;&#xA;Ardith mendengus, “Boooooo! Lu berdua tuh pamer online doang, kalau bareng kita—” ia cegukan, “—kayak belum pacaran— keliatan pacaran sih, cuma gua mau liat lebih.”&#xA;&#xA;Gama di sisinya menepuk-nepuk kencang belakang bahu Ardith setuju, “Betul, kek kaga enak sama kita, padahal mah biasa aja– tenggorokan gua seret banget, air dong,” pintanya terus memukul.&#xA;&#xA;“Sakit, anjing,” Ardith menepis tangan Gama yang tak henti memukul. &#xA;&#xA;“Nooo, airnya abis gue juga mau minum, huhuhuuu,” ia membalikkan botol air mineral kosong dan mulai pura-pura menangis.&#xA;&#xA;Di lantai apartemen Atof hanya tersisa beberapa kaleng soda yang belum terbuka, dan bir. Drummer band mereka meraih salah satu soda, dan membukanya untuk Ardith. “Minum ini dulu dah, gue ambil air di galon.” &#xA;&#xA;Zio menoleh pada Atof di lingkaran kecil yang mereka buat. Pipinya terasa panas karena pengaruh alkohol. Sejak tadi ia menyingkirkan kulit kacang, melipat bekas bungkus makanan ringan, merapikan Uno Stacko dan kartu-kartu yang mereka mainkan. Ia selalu malas minum alkohol karena selain pahit, kepalanya berdenyut esok hari, dan ia bergerak seperti vacuum cleaner untuk bersih-bersih.&#xA;&#xA;“Turutin aja? A peck won&#39;t hurt?” tanya Atof yang tersenyum setengah mengantuk. Tanpa menunggu persetujuan Zio, Atof mengecup bibirnya sekilas. &#xA;&#xA;Ardith bersorak, namun Gama yang justru baru duduk dan membawa air dingin dari kulkas menggeleng-geleng. Ia memberikan tanda silang tepat di depan dada tidak setuju. &#34;Itu mah bukan ciuman, cuma nempel nggak ada rasanya, gue juga bisa begitu ke semua orang— bangun, Yan.&#34;&#xA;&#xA;Gama menggoyangkan tubuh Dean yang sudah tidur karena kelelahan jadi panitia. Bassist itu mengangkat kepalanya yang bersandar di lutut, langsung dihadiahi kecupan di bibir oleh Gama. &#xA;&#xA;“Tuh, gitu doang mah nggak ada rasanya.”&#xA;&#xA;&#34;Gila lu orang lagi tidur main cipok aja,&#34; tegur Ardith yang tiba-tiba kesadarannya seperti hadir seratus persen.&#xA;&#xA;Dean mengerjapkan matanya berkali-kali, masih disorientasi dan berpikir mengenai apa yang baru saja terjadi. Gama menyodorkan satu botol air dingin yang belum terbuka, senyumnya tampak polos—dan tak waras jika Zio menambahkan. “Biar bangun di momen bersejarah,” ia cekikikan dengan tak wajar sudah mabuk– lagi-lagi dengan tak waras jika Zio menambahkan.&#xA;&#xA;Atof yang jaraknya lumayan jauh, bangkit hanya untuk menoyor kepala Gama. “Anak gila.”&#xA;&#xA;“Et, yang gila beneran kagak boleh begitu.”&#xA;&#xA;Kekasih Zio tertawa kencang karena diledek. Memiting leher Gama di bawah lengan, hingga drummer mereka memohon ampun. Zio ikut tertawa, meneguk sisa bir di kaleng yang ia miliki. &#xA;&#xA;“Make out lezzgoooo, lagian besok juga kita lupa karena sekarang udah pada bego.”&#xA;&#xA;Agaknya Atof berpikir itu hal yang baik. Pemuda itu kembali di sisi Zio. Sejurus kemudian, bibir mereka sudah saling menyatu. &#xA;&#xA;Berantakan, terburu-buru. &#xA;&#xA;“Woooowww,” Ardith dan Gama memekik, mulai menutup wajah mereka dengan telapak tangan, namun tetap mengintip dari sela-sela jari. &#xA;&#xA;“Bravoo, bravooo,” Dean mulai tepuk tangan, menghadiahkan reaksi paling heboh.&#xA;&#xA;Pada akhirnya, Atof menyeret Zio ke kamar, ditemani teriakan jangan lupa safe sex dari anggota band. &#xA;&#xA;“We let them sleep there?” tanya Zio ketika sudah berada di kasur.&#xA;&#xA;“They&#39;ll be fine, the carpet is warm.” Atof menyamankan diri di bantal, “No actually I hope they take the couch, or move like zombies to bed in the studio.”&#xA;&#xA;Keduanya tertawa, lantas hening. Wajah Atof sangat bersemu, seperti mengenakan perona pipi. Warnanya cantik, meski efek dari alkohol. Atau Zio saja yang kadung cinta. &#xA;&#xA;Setiap mereka punya waktu berdua, banyak hal yang ingin Zio tanya pada Atof. Tentang sembilan belas tahun Atof yang belum sepenuhnya Zio selami. Tapi hari ini, karena ia sudah dipengaruhi alkohol juga, Zio justru hanya berkata: “You&#39;re pretty.” &#xA;&#xA;Atof spontan menyembunyikan setengah wajahnya di bantal, namun matanya yang tak terhalang bantal melirik Zio. “You&#39;re very straight forward.” &#xA;&#xA;Zio terkekeh mengetahui kekasihnya malu, &#34;Yah, mana ini rocker aku yang jago flirting?&#34;&#xA;&#xA;“I flirt with purpose, you don&#39;t flirt– okay, you flirt back sometimes, it&#39;s different, but now you&#39;re just being honest.”&#xA;&#xA;“I&#39;m flirting.”&#xA;&#xA;“No, I can tell. Look, flirting is easy, but honesty, it&#39;s a hard thing to do. You&#39;re like … very honest with every desire you have, sometimes it makes me afraid. You wear your heart on your sleeve, and get vulnerable in front of me, I can wreck y–”&#xA;&#xA;“You can break me,” Zio menyela, menarik napas panjang saat Atof  terhenyak tak merespons, “You can break my heart if you feel like it, I don&#39;t mind, as long as you let me have you for a while.”&#xA;&#xA;Mata Atof nyalang, namun sepersekian detik kemudian melunak. Seolah hitam pekat yang ada di matanya dipulas warna yang lebih terang. Jemarinya naik untuk mengelus tulang pipi Zio. &#34;I feel like a sinner to harbor a feeling I&#39;m afraid to put a name on before. You are such a magnificent pretty thing that feels too sacred to be touched.”&#xA;&#xA;“But why such a pretty thing that shouldn&#39;t be touched can be reached within an arm&#39;s length like this..? Why such a pretty thing like you love a broken piece like me?”&#xA;&#xA;Zio menggeleng tak terima dengan perkataan Atof. Ia mengecup telapak tangan Atof yang merengkuh pipinya. Kemudian, Merambat ke pergelangan tangan, ke bagian dalam siku, lengan atas, hingga mendarat ke bibirnya. Mereka saling melumat lembut, membuka mulut untuk membelitkan lidah. Zio berputar hingga duduk di atas perut Atof. Kekasihnya mengerang ketika bibirnya digigit, spontan meremas pinggangnya. &#xA;&#xA;Ia menarik diri hanya untuk melihat bagaimana dada Atof naik-turun setelah berciuman. Bibirnya basah dan bengkak, rambutnya tergerai di bantal. Atof bukan sesuatu yang rusak, Zio tak akan pernah menganggapnya begitu. Ujung jarinya menyentuh kelopak matanya, membuat Atof terpejam. &#xA;&#xA;&#34;I&#39;ve never loved someone like I love music, you are my music,&#34; Atof meracau, mengetuk-ngetuk pinggangnya dengan jari.&#xA;&#xA;“Tell me more.” Zio menenggelamkan diri di bawah rahang Atof, menggigit kecil kulit yang bisa mulutnya gapai.&#xA;&#xA;“I&#39;m possessive, if you give, give, and give, I&#39;ll take you as a whole. No one touches mine, I don&#39;t like sharing.”&#xA;&#xA;Zio tertawa, “I like that.”&#xA;&#xA;“I can&#39;t lose you if you are this sweet and caring.”&#xA;&#xA;“Hold me in an iron grip then.”&#xA;&#xA;“I wanna kiss you—stop biting my neck, it&#39;ll be red all over it, God, kamu kayak nyamuk.” Atof berusaha menjauhkan lehernya, dan menarik kepala Zio dari sana. Zio tertawa malah berpindah ke kaos yang Atof kenakan karena teringat obrolan mereka tempo hari.&#xA;&#xA;“Aku bisa robek baju.” Kalimatnya sangat berkebalikan dengan keadaan Zio saat ini. Tangannya tak ada tenaga untuk merusak pakaian padahal ia sudah sok-sokan ingin pamer. &#xA;&#xA;Atof menonton aksinya yang gagal dan justru ikut tertawa. “You drank too much.”&#xA;&#xA;“I have high tolerance.”&#xA;&#xA;“You passed your limit then.”&#xA;&#xA;Sebab sulit, Zio beralih ke ikat pinggang milik Atof. Ia menggeleng karena kesadarannya menipis, mengerjap beberapa kali untuk memfokuskan matanya. &#xA;&#xA;“Doll,” Atof menahan tangan Zio. “Can we do this when the both of us are fully sober?”&#xA;&#xA;Zio berhenti bergerak. “Yeah, okay– of course, yeah, I guess.”&#xA;&#xA;Atof merengkuh wajahnya karena nada suaranya yang sarat ragu, &#34;Zio, you&#39;re not upset right?&#34; Sang kekasih meniliknya dengan sorot mata khawatir.&#xA;&#xA;“No, of course, I agree. I&#39;m sorry, it&#39;s– I– I don&#39;t know– I&#39;ve been– I just– I don&#39;t want another rejection.”&#xA;&#xA;“Baby Doll, I don&#39;t reject you, we just delay it for the better.”&#xA;&#xA;Kepalanya ditahan agar tak menunduk, &#34;Sayang, look at me. I&#39;m sorry you need to wait again because of me. Aku mau kita ke sana tanpa pengaruh alkohol, okay?&#34;&#xA;&#xA;Zio mengangguk dua kali, Atof menariknya ke rengkuhan. Semuanya terasa seperti dejavu. &#xA;&#xA;Mereka pernah berada di posisi ini, ketika Zio menyentuh Atof pertama kali. Ia masih ingat bagaimana indera penglihatannya dibebat. Sebuah pukulan agar Zio mundur. Akan tetapi Zio ternyata sama keras kepalanya dengan Atof.&#xA;&#xA;“Thank you,” Atof mengelus punggungnya. Zio berusaha membuka mata, hanya untuk menangkap gumam-gumam acak yang Atof ujarkan.&#xA;&#xA;(c) litamateur]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><em>tags</em>: ±1400, markno, kissing, and well... a lot of talking.</p></blockquote>

<p><strong>notes</strong>: ngintip orang pacaran ini mah, tapi please dengerin the only exception by paramore</p>

<hr>

<h2 id="the-only-exception" id="the-only-exception">The Only Exception</h2>

<p><br></p>

<p><br></p>

<p><br></p>

<p><strong>Ciuman! Ciuman! Ciuman!</strong></p>



<p>Itu hal paling konyol yang pernah <em>bandmates</em> Zio teriakan padanya dan Atof. Tidak masalah jika mereka jadi bahan taruhan, namun kalau yang satu ini … sepertinya alkohol membuat mereka kehilangan akal sehat.</p>

<p>Atof dan Zio terhitung jarang melakukan <em>public display affection</em>. Maka dari itu mereka dibilang memiliki <em>repressed sexual desire</em>. Padahal mungkin karena mereka tidak hobi menunjukkannya ke orang, atau belum terbiasa karena baru menjalin hubungan. </p>

<p>Maka, disuruh berciuman di depan tiga orang—yang sudah tidak punya waras pada tengah malam—lumayan membuat Zio malu. Ternyata alkohol tidak menghapus rasa itu dari dalam dirinya. </p>

<p>Pipi Atof sudah merah karena terlalu banyak menenggak alkohol. Sejak tadi ia selalu kalah saat <em>drinking game</em>. Meskipun menang pun, ia tetap disuruh minum karena pemuda itu tak bisa menolak permintaan anggota bandnya. Entah terlalu baik, atau tak ingin mendengar ocehan anggota bandnya. </p>

<p>Namun di antara mereka yang sudah setengah gila, tetap ada seruan yang semakin meninggi. </p>

<p><strong>Cium! Cium! Cium!</strong></p>

<p>“<em>Go watch Netflix series, there&#39;re a lot of kissing scenes there</em>,” tolak Atof secara halus.</p>

<p>Ardith mendengus, “Boooooo! Lu berdua tuh pamer <em>online</em> doang, kalau bareng kita—” ia cegukan, “—kayak belum pacaran— keliatan pacaran sih, cuma gua mau liat lebih.”</p>

<p>Gama di sisinya menepuk-nepuk kencang belakang bahu Ardith setuju, “Betul, kek kaga enak sama kita, padahal mah biasa aja– tenggorokan gua seret banget, air dong,” pintanya terus memukul.</p>

<p>“Sakit, anjing,” Ardith menepis tangan Gama yang tak henti memukul.</p>

<p>“<em>Nooo</em>, airnya abis gue juga mau minum, huhuhuuu,” ia membalikkan botol air mineral kosong dan mulai pura-pura menangis.</p>

<p>Di lantai apartemen Atof hanya tersisa beberapa kaleng soda yang belum terbuka, dan bir. <em>Drummer</em> band mereka meraih salah satu soda, dan membukanya untuk Ardith. “Minum ini dulu dah, gue ambil air di galon.” </p>

<p>Zio menoleh pada Atof di lingkaran kecil yang mereka buat. Pipinya terasa panas karena pengaruh alkohol. Sejak tadi ia menyingkirkan kulit kacang, melipat bekas bungkus makanan ringan, merapikan Uno Stacko dan kartu-kartu yang mereka mainkan. Ia selalu malas minum alkohol karena selain pahit, kepalanya berdenyut esok hari, dan ia bergerak seperti <em>vacuum cleaner</em> untuk bersih-bersih.</p>

<p>“Turutin aja? <em>A peck won&#39;t hurt?</em>” tanya Atof yang tersenyum setengah mengantuk. Tanpa menunggu persetujuan Zio, Atof mengecup bibirnya sekilas. </p>

<p>Ardith bersorak, namun Gama yang justru baru duduk dan membawa air dingin dari kulkas menggeleng-geleng. Ia memberikan tanda silang tepat di depan dada tidak setuju. “Itu mah bukan ciuman, cuma nempel nggak ada rasanya, gue juga bisa begitu ke semua orang— bangun, Yan.”</p>

<p>Gama menggoyangkan tubuh Dean yang sudah tidur karena kelelahan jadi panitia. <em>Bassist</em> itu mengangkat kepalanya yang bersandar di lutut, langsung dihadiahi kecupan di bibir oleh Gama. </p>

<p>“Tuh, gitu doang mah nggak ada rasanya.”</p>

<p>“Gila lu orang lagi tidur main cipok aja,” tegur Ardith yang tiba-tiba kesadarannya seperti hadir seratus persen.</p>

<p>Dean mengerjapkan matanya berkali-kali, masih disorientasi dan berpikir mengenai apa yang baru saja terjadi. Gama menyodorkan satu botol air dingin yang belum terbuka, senyumnya tampak polos—dan tak waras jika Zio menambahkan. “Biar bangun di momen bersejarah,” ia cekikikan dengan tak wajar sudah mabuk– lagi-lagi dengan tak waras jika Zio menambahkan.</p>

<p>Atof yang jaraknya lumayan jauh, bangkit hanya untuk menoyor kepala Gama. “Anak gila.”</p>

<p>“Et, yang gila beneran kagak boleh begitu.”</p>

<p>Kekasih Zio tertawa kencang karena diledek. Memiting leher Gama di bawah lengan, hingga <em>drummer</em> mereka memohon ampun. Zio ikut tertawa, meneguk sisa bir di kaleng yang ia miliki. </p>

<p>“<em>Make out lezzgoooo</em>, lagian besok juga kita lupa karena sekarang udah pada bego.”</p>

<p>Agaknya Atof berpikir itu hal yang baik. Pemuda itu kembali di sisi Zio. Sejurus kemudian, bibir mereka sudah saling menyatu. </p>

<p>Berantakan, terburu-buru. </p>

<p>“Woooowww,” Ardith dan Gama memekik, mulai menutup wajah mereka dengan telapak tangan, namun tetap mengintip dari sela-sela jari. </p>

<p>“Bravoo, bravooo,” Dean mulai tepuk tangan, menghadiahkan reaksi paling heboh.</p>

<p>Pada akhirnya, Atof menyeret Zio ke kamar, ditemani teriakan jangan lupa <em>safe sex</em> dari anggota band. </p>

<p>“<em>We let them sleep there</em>?” tanya Zio ketika sudah berada di kasur.</p>

<p>“<em>They&#39;ll be fine, the carpet is warm</em>.” Atof menyamankan diri di bantal, “<em>No actually I hope they take the couch, or move like zombies to bed in the studio.</em>”</p>

<p>Keduanya tertawa, lantas hening. Wajah Atof sangat bersemu, seperti mengenakan perona pipi. Warnanya cantik, meski efek dari alkohol. Atau Zio saja yang kadung cinta. </p>

<p>Setiap mereka punya waktu berdua, banyak hal yang ingin Zio tanya pada Atof. Tentang sembilan belas tahun Atof yang belum sepenuhnya Zio selami. Tapi hari ini, karena ia sudah dipengaruhi alkohol juga, Zio justru hanya berkata: “<em>You&#39;re pretty.</em>” </p>

<p>Atof spontan menyembunyikan setengah wajahnya di bantal, namun matanya yang tak terhalang bantal melirik Zio. “<em>You&#39;re very straight forward.</em>” </p>

<p>Zio terkekeh mengetahui kekasihnya malu, “Yah, mana ini <em>rocker</em> aku yang jago <em>flirting</em>?”</p>

<p>“<em>I flirt with purpose, you don&#39;t flirt– okay, you flirt back sometimes, it&#39;s different, but now you&#39;re just being honest.</em>”</p>

<p>“<em>I&#39;m flirting.</em>”</p>

<p>“<em>No, I can tell. Look, flirting is easy, but honesty, it&#39;s a hard thing to do. You&#39;re like … very honest with every desire you have, sometimes it makes me afraid. You wear your heart on your sleeve, and get vulnerable in front of me, I can wreck y–</em>”</p>

<p>“<em>You can break me,</em>” Zio menyela, menarik napas panjang saat Atof  terhenyak tak merespons, “<em>You can break my heart if you feel like it, I don&#39;t mind, as long as you let me have you for a while.</em>”</p>

<p>Mata Atof nyalang, namun sepersekian detik kemudian melunak. Seolah hitam pekat yang ada di matanya dipulas warna yang lebih terang. Jemarinya naik untuk mengelus tulang pipi Zio. “<em>I feel like a sinner to harbor a feeling I&#39;m afraid to put a name on before. You are such a magnificent pretty thing that feels too sacred to be touched</em>.”</p>

<p>“<em>But why such a pretty thing that shouldn&#39;t be touched can be reached within an arm&#39;s length like this..? Why such a pretty thing like you love a broken piece like me</em>?”</p>

<p>Zio menggeleng tak terima dengan perkataan Atof. Ia mengecup telapak tangan Atof yang merengkuh pipinya. Kemudian, Merambat ke pergelangan tangan, ke bagian dalam siku, lengan atas, hingga mendarat ke bibirnya. Mereka saling melumat lembut, membuka mulut untuk membelitkan lidah. Zio berputar hingga duduk di atas perut Atof. Kekasihnya mengerang ketika bibirnya digigit, spontan meremas pinggangnya. </p>

<p>Ia menarik diri hanya untuk melihat bagaimana dada Atof naik-turun setelah berciuman. Bibirnya basah dan bengkak, rambutnya tergerai di bantal. Atof bukan sesuatu yang rusak, Zio tak akan pernah menganggapnya begitu. Ujung jarinya menyentuh kelopak matanya, membuat Atof terpejam. </p>

<p>“<em>I&#39;ve never loved someone like I love music, you are my music,</em>” Atof meracau, mengetuk-ngetuk pinggangnya dengan jari.</p>

<p>“<em>Tell me more.</em>” Zio menenggelamkan diri di bawah rahang Atof, menggigit kecil kulit yang bisa mulutnya gapai.</p>

<p>“<em>I&#39;m possessive, if you give, give, and give, I&#39;ll take you as a whole. No one touches mine, I don&#39;t like sharing.</em>”</p>

<p>Zio tertawa, “<em>I like that</em>.”</p>

<p>“<em>I can&#39;t lose you if you are this sweet and caring.</em>”</p>

<p>“<em>Hold me in an iron grip then.</em>”</p>

<p>“<em>I wanna kiss you—stop biting my neck, it&#39;ll be red all over it, God,</em> kamu kayak nyamuk.” Atof berusaha menjauhkan lehernya, dan menarik kepala Zio dari sana. Zio tertawa malah berpindah ke kaos yang Atof kenakan karena teringat obrolan mereka tempo hari.</p>

<p>“Aku bisa robek baju.” Kalimatnya sangat berkebalikan dengan keadaan Zio saat ini. Tangannya tak ada tenaga untuk merusak pakaian padahal ia sudah sok-sokan ingin pamer. </p>

<p>Atof menonton aksinya yang gagal dan justru ikut tertawa. “<em>You drank too much</em>.”</p>

<p>“<em>I have high tolerance</em>.”</p>

<p>“<em>You passed your limit then</em>.”</p>

<p>Sebab sulit, Zio beralih ke ikat pinggang milik Atof. Ia menggeleng karena kesadarannya menipis, mengerjap beberapa kali untuk memfokuskan matanya. </p>

<p>“<em>Doll,</em>” Atof menahan tangan Zio. “<em>Can we do this when the both of us are fully sober?</em>”</p>

<p>Zio berhenti bergerak. “<em>Yeah, okay– of course, yeah, I guess</em>.”</p>

<p>Atof merengkuh wajahnya karena nada suaranya yang sarat ragu, “Zio, <em>you&#39;re not upset right</em>?” Sang kekasih meniliknya dengan sorot mata khawatir.</p>

<p>“<em>No, of course, I agree. I&#39;m sorry, it&#39;s– I– I don&#39;t know– I&#39;ve been– I just– I don&#39;t want another rejection</em>.”</p>

<p>“<em>Baby Doll, I don&#39;t reject you, we just delay it for the better</em>.”</p>

<p>Kepalanya ditahan agar tak menunduk, “Sayang, <em>look at me. I&#39;m sorry you need to wait again because of me.</em> Aku mau kita ke sana tanpa pengaruh alkohol, okay?”</p>

<p>Zio mengangguk dua kali, Atof menariknya ke rengkuhan. Semuanya terasa seperti dejavu. </p>

<p>Mereka pernah berada di posisi ini, ketika Zio menyentuh Atof pertama kali. Ia masih ingat bagaimana indera penglihatannya dibebat. Sebuah pukulan agar Zio mundur. Akan tetapi Zio ternyata sama keras kepalanya dengan Atof.</p>

<p>“<em>Thank you,</em>” Atof mengelus punggungnya. Zio berusaha membuka mata, hanya untuk menangkap gumam-gumam acak yang Atof ujarkan.</p>

<p>© litamateur</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://wordsmith.social/be-my-escape/be-my-escape-l82y</guid>
      <pubDate>Mon, 09 Jan 2023 13:01:19 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>BE MY ESCAPE</title>
      <link>https://wordsmith.social/be-my-escape/be-my-escape-58b9</link>
      <description>&lt;![CDATA[  tags: ±2200w, markno au, non linear narrative. &#xA;&#xA;notes: please bacanya yang teliti soalnya alur agak bolak-balik.&#xA;&#xA;hr&#xA;&#xA;child&#xA;&#xA;  I&#39;m a child&#xA;  I can&#39;t be the person you want&#xA;  — Mark Lee&#xA;&#xA;Atof tahu segala sesuatu tak selalu berjalan sesuai dengan harapannya. &#xA;!--more--&#xA;&#xA;Ia berjalan bak di atas titian ke bagian belakang rumah Zio, tepatnya ke taman. Mencoba duduk di kursi kosong bersama Ayah Zio, yang menatap pohon, dan bunga-bunga yang tumbuh di sana. Mata Ayah Zio mengawang jauh. Wajahnya tampak tua dengan kerut-kerut yang baru muncul di usia setengah abad. &#xA;&#xA;Ayah dua anak itu tidak menoleh meski menyadari eksistensi Atof. Ia ikut menatap apa yang beliau tatap.&#xA;&#xA;Rumah itu belum familier karena ini kali kedua Atof berkunjung ke sana. &#xA;&#xA;Biasanya, Atof tak pernah merasa nervous ketika ia berkunjung ke tempat baru. Ia tipikal anak pramuka yang menyiapkan segala sesuatu secara seratus persen sebelum berangkat. Sebab tak ada yang tahu apa yang akan terjadi ke depan, terlalu visioner. Akan tetapi kali ini ia menemukan dirinya kesulitan menelan saliva.&#xA;&#xA;Matahari bulan September pada jam dua siang sedang terik-teriknya. Atof merasa gerah meski angin bersilir-silir. Dua pot sukulen yang ia jinjing untuk Mamah Zio sudah ikut berjajar dengan teman-temannya. Zio berada di kamar setelah kejadian di meja makan.&#xA;&#xA;br&#xA;&#xA;hr&#xA;&#xA;br&#xA;&#xA;“Gimana kuliah kamu?” &#xA;&#xA;Pertanyaan itu tidak hangat, terdengar mencecar. Zio berhenti menggerakkan sendoknya. Tangannya mulai menurunkan alat makan, mengepal di pahanya sendiri. &#xA;&#xA;“Baru mulai, Yah. Belum ada yang bisa dilaporin.”&#xA;&#xA;Atof belum pernah mendengar suara Zio sekaku itu selama mengenalnya. Atau Atof belum mengetahui Zio seutuhnya. Apa lah satu tahun dari sembilan belas tahun hidup Zio? Bahkan Atof tak hadir seperempatnya. Ia melingkupi kepal tangan Zio di bawah meja, meremasnya lembut. &#xA;&#xA;“IPK tingkat satu harusnya bisa lebih tinggi untuk mitigasi seandainya turun. Nanti pas tingkat dua coba ditingkatkan. Kalau ada kendala langsung bilang ke Kakakmu, atau Mamah, atau Ayah.”&#xA;&#xA;“Iya, Yah.”&#xA;&#xA;Mamah Zio setengah berdiri menuangkan nasi biryani lagi ke piring Ayah Zio, juga ke piring Atof yang sudah nyaris kosong. “Ayo Nak Atof dimakan.”&#xA;&#xA;Ia tersenyum sopan meski perutnya sudah tak kuat menampung, seharusnya ia tidak sarapan tadi. “Iya, Tante. Makasih.”&#xA;&#xA;“Kalau Atof ini jurusan apa?” Ayah Zio mengalihkan atensi, menatapnya dengan serius. &#xA;&#xA;“Teknik sipil, Om.”&#xA;&#xA;“Oh, bisa nyambung ya kalau ngobrol. Kemarin IPKnya berapa?”&#xA;&#xA;Ia tak langsung menjawab karena bingung. Mungkin keterkejutannya terpancar jelas sehingga Hera menyela: “Ih Ayah, nggak sopan tanya nilai ke orang, Yah.” &#xA;&#xA;Atof belum pernah ditanya mengenai nilainya seumur hidup oleh Althaf. Masnya yang satu itu hanya bersyukur jika Atof mampu makan dengan teratur. Bahkan, ketika ia memilih teknik sipil pun Althaf menjawab: Good, semoga belajarnya seru.&#xA;&#xA;“Lho kenapa? Bisa jadi motivasi buat Jordan. Kalau teman-temannya pada pintar, harusnya dia juga.”&#xA;&#xA;Ringisan hampir meluncur dari Atof jika ia tidak bisa menahan diri. Ia tidak tahu bahwa orientasi hidup Ayah Zio adalah pencapaian nyata seperti angka. Sejujurnya, Atof juga peduli pada hasil, namun selain itu ada hal-hal tak kasat mata saat mengejar sesuatu yang lebih ia pedulikan. Ia suka berproses.&#xA;&#xA;Ia melirik Zio yang berekspresi tak enak hati, menggumamkan sorry tanpa suara.&#xA;&#xA;“Syukur masih cumlaude, Om,” jawab Atof berusaha tak menyebut angka.&#xA;&#xA;“Nah itu, kamu harusnya pintar-pintar cari teman dan koneksi biar mudah nanti kedepannya, Jordan. Daripada main sama Enricho itu, masa IPKnya nggak sampai tiga padahal baru tingkat satu.”&#xA;&#xA;Mamah Zio memukul lengan suaminya, “Mulutmu ta’ cocol pake sambel ya, dari tadi didiemi kok makin ngelantur ngomongnya, Yah.”&#xA;&#xA;Mereka semua tertawa tertahan. Sekilas wajah Ayah Zio seperti merajuk karena ujaran Mamah Zio, atau Atof yang salah lihat. “Nak Atof, Ayahnya Jordan ini sok serem aja, bahas nilai-nilai tok. Padahal hidup bukan cuma soal nilai, ya Nak Atof?”&#xA;&#xA;Atof mengangguk, tersenyum pada Mamah Zio yang mengisyaratkannya untuk kembali makan.&#xA;&#xA;“Ya hidup bukan cuma nilai, tapi nilai bisa jadi salah satu faktor yang menggiring kita ke masa depan, Mah,” Ayah Zio tetap tidak mau kalah, Atof jadi tahu bakat debat Zio dari mana.&#xA;&#xA;“Aku pulang karena mau ngasih tau aku ngeband,” Zio menunduk, suaranya beradu dengan denting alat makan. &#xA;&#xA;Ayah Zio menurunkan sendok miliknya, memandang Zio yang sungkan melihat Ayahnya di mata. “Kamu memang tidak ada kegiatan lain yang lebih bermanfaat?” &#xA;&#xA;“Aku sukanya itu.” &#xA;&#xA;“Hobimu itu nggak manfaat, nggak usah ngeband-ngeband. Ayah nggak pernah larang kamu buat main game, ini malah ditambah ngeband. Waktumu bakal habis cuma buat itu.”&#xA;&#xA;Zio mendongak untuk beradu tatap karena tidak terima. “Daripada aku diem-diem kayak dulu. Mending terbuka sama Ayah, kan? Ngeband nggak akan ganggu kuliah aku.” &#xA;&#xA;“Nggak ganggu gimana? Pas SMA nilaimu turun, kamu sering kabur les cuma buat ikut acara nggak bermanfaat, dan malah ambil uang les.”&#xA;&#xA;“Kalau Ayah nggak ngelarang, aku nggak bakal begitu,” suara Zio semakin tinggi.&#xA;&#xA;Ayah Zio berdecak. “Kamu cuma suruh fokus kuliah aja susah sekali. Segalanya sudah di-support, bahkan dibolehkan ngekos biar waktumu nggak habis di jalan. Harusnya bisa lebih baik dari Kak Hera. Ikut organisasi yang bermanfaat supaya ada pengalaman. Bukan malah izin ngeband yang nggak berguna buat masa depanmu.”&#xA;&#xA;“Ayaaah, jangan gitu ke Odan. Adek udah usaha masa nggak boleh nyari hiburan?” Hera menyela.&#xA;&#xA;“Kamu, Kak, Adikmu jangan dibela terus. Ajarin biar bisa kayak kamu.”&#xA;&#xA;Atof hanya diam mengamati wajah mereka satu-persatu. Sejujurnya, ia jarang menonton film, kebanyakan karena diajak atau direkomendasi orang lain. Film bergenre keluarga paling ia hindari. Kali ini, ia justru menontonnya secara langsung. Ia bertanya-tanya apa setiap rumah dengan keluarga utuh pasti punya formasi seperti ini? Ayah yang lumayan keras, Ibu yang membela sang anak, Kakak yang jadi panutan, Adik yang riang namun tiba-tiba pendiam karena dibanding-bandingkan. &#xA;&#xA;Obrolan itu terus berlanjut. Tek-tok antar anak dan Ayah yang membela opininya masing-masing. Suara mereka beradu dan ramai hingga jadi white-noised. Atof seperti berada di dalam gelembung sendiri, bukan di meja makan. Telapak tangannya tiba-tiba menerima remasan dari Zio di bawah meja. &#xA;&#xA;Gelembungnya pecah.&#xA;&#xA;“Saya juga ngeband, Om,” selanya, masuk ke obrolan. “Saya yang ajak Zio- Jordan ngeband. Saya termasuk lulusan terbaik sekolah musik meskipun sering bolos karena jadwal manggung. IPK saya masih cumlaude, kalau Om memperbolehkan Jordan buat ngeband sama saya, saya janji juga buat jaga IPK Jordan biar stabil. Win-win solution ya, Om?”&#xA;&#xA;Atof yakin ia seperti manusia tidak tahu diri sekarang. Akan tetapi sepertinya ia perlu pamer banyak pencapaian nyata agar Ayah Zio mengizinkan. “Saya udah punya penghasilan dari producing lagu sejak 2016 sama band saya yang dulu. Papa saya konduktor terkenal, silakan Om searching Mikhael Rianto di Google. Mas saya dosen di sekolah seni di Singapore. Jadi kalau Om memperbolehkan Zio- maksud saya Jordan ngeband sama saya, sepertinya masa kuliah Jordan juga bisa terjamin. Dan kalau Jordan mau serius di musik, dia punya koneksi dari saya.”&#xA;&#xA;Ekspresi tak percaya dari Ayah Zio membuat kerongkongannya terasa seperti diganjal kerikil. Ayah Zio mendesah lelah. “Kamu ini beda, Atof. Kamu masuk sekolah seni, keluargamu juga sudah di seni. Sedangkan Jordan nggak akan pernah bisa kayak kamu karena basisnya bukan di sana. Untuk apa ngeband-ngeband yang nggak bisa menunjang Jordan untuk jadi arsitek? Saya bukan nggak suka dengan musik, pencapaianmu juga layak diapresiasi, tapi nggak cocok dengan Jordan.” &#xA;&#xA;Kursi milik Zio berderit membuat seluruh pasang mata terfokus padanya. Ia bangkit dari posisinya dengan wajah masam. “Odan kenyang mau ke kamar.” &#xA;&#xA;Tanpa menoleh pada Atof, Zio meninggalkan meja makan. &#xA;&#xA;br&#xA;&#xA;hr&#xA;&#xA;br&#xA;&#xA;&#34;Memang kamu mau pursue music selamanya?&#34;&#xA;&#xA;Ayah dua anak itu menarik koran di bawah meja untuk dibaca. Sepertinya masih berlangganan koran meski media massa fisik sudah tergerus digital. Hal itu membuat Atof kian sadar bahwa pola pikir Ayah Zio tergolong tempo dulu. Ia sedikit memiringkan posisi duduknya ke arah Ayah Zio, namun lebih condong ke taman. Dari sana, ia menemukan sisi wajah beliau  yang sangat mirip dengan anaknya.&#xA;&#xA;“Belum tau juga, Om. Tapi karena saya ambil teknik sipil mungkin bisa diseriusin ke sana. Saya juga senang belajarnya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bagus itu, meskipun kamu bisa punya income dari produksi lagu. Kamu harus punya income bulanan yang stabil,” sanjung beliau, membalik halaman koran.&#xA;&#xA;&#34;Musik ini—selain jadi akademisi seperti Masmu—pasang-surutnya cepat sekali. Perlu terus berkreatifitas. Nggak banyak band di Indonesia yang bisa mengeluarkan hits tiap tahun. Selain itu, sekarang sudah lari semua ke digital, dan sepertinya fees-nya tidak seberapa ya? Kecuali diajak manggung sana-sini.&#34;&#xA;&#xA;Atof mengangguk mafhum. Paham sekali bagaimana industri musik bekerja, terutama di Indonesia yang budaya album fisik nyaris punah.&#xA;&#xA;Ia sering berbicara dengan orang tua, atau orang yang memiliki rentang umur jauh darinya. Kebanyakan dari mereka berbicara dengan Atof mengenai pekerjaan dan menganggapnya sebagai kolega. Atau menceritakan tentang masa muda mereka, dan Atof hanya mendengarkan dengan seksama.&#xA;&#xA;Akan tetapi kali ini, ia mengobrol dengan Ayah Zio, dengan keadaan ia seorang anak, dan Ayah Zio adalah orang tua. Atof merasa kecil, atau ia memang anak kecil yang bahkan baru menanjak umur dua puluh. Sudah lama sekali tak ada yang menasihati Atof selayaknya seorang Ayah yang berbagi perspektif. Di masa-masa seperti ini, ia teringat Papanya. Menyedihkan. &#xA;&#xA;“Kamu pacar anak saya?”&#xA;&#xA;Atof membeliak. Ia juga belum tahu apakah yang mereka punya dinamakan pacaran. Namun jika kata itu yang paling cocok untuk melabeli hubungan mereka, maka mulutnya berkata: “Iya, Om.”&#xA;&#xA;Ayah Zio tertawa, “Pantas kamu bicaranya seperti ingin menjamin hidup anak saya seumur hidup tadi.”&#xA;&#xA;Jujur, Atof tidak pernah semalu ini dalam hidupnya. Sekali ini, ia berharap bumi terbelah dan menenggelamkan dirinya. Memang kalimat menggebu-gebu yang ia ucap di meja makan terasa berlebihan. Ia tidak pernah seperti itu sebelumnya: menyombongkan diri untuk mendapatkan restu orang tua. Biasanya ia akan mulai congkak ketika merasa diremehkan.&#xA;&#xA;&#34;Kamu tahu Jordan suka sekali susun Lego?&#34;&#xA;&#xA;Atof mengangguk.&#xA;&#xA;&#34;Waktu saya belum punya studio sendiri, ekonomi kami masih biasa saja. Saya dan Mamah Jordan jadi arsitek junior di tempat yang berbeda. Karena kami kurang percaya sama baby sitter, Jordan selalu kami bawa kerja bergantian.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Anak itu … aktif sekali, apa saja dipegang. Lari-lari di ruangan, sudah berani naik tangga sendiri pas umurnya masih tiga. Semua teman kerja saya suka sekali karena dia sopan dan suka bersalaman, cerewet banyak tanya meski omongannya belum jelas.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Kalau saya minta Jordan untuk duduk, dia nurut, saya bikin maket, anak saya susun Lego. Dia selalu bilang dia mau bikin rumah seperti saya.&#34; &#xA;&#xA;br&#xA;&#xA;hr&#xA;&#xA;br&#xA;&#xA;Kamar Zio di kosnya lebih hangat dibanding di rumah. &#xA;&#xA;Zio tidur menyamping, sengaja menyisakan ruang agar Atof bisa naik. Usai menutup pintu, ia perlahan ikut berbaring, berlama-lama menelisik segala fitur di wajah Zio. Ia teringat tentang obrolannya dengan Ayah Zio, dan bagaimana ekspresi beliau sangat serupa dengan putranya ketika tersenyum. Zio seperti cetak mini Ayahnya dengan sifat seperti Mamahnya.&#xA;&#xA;Apakah jika orang melihat Atof mereka akan teringat dengan Papanya? Apakah senyumnya sama seperti milik Papa? Apakah Atof punya kebiasaan yang sama seperti Papa?&#xA;&#xA;&#34;Mau berapa lama natapnya?&#34; tanya Zio dengan mata masih terpejam.&#xA;&#xA;&#34;As long as I could.&#34;&#xA;&#xA;&#34;God, you&#39;re flirty as hell.&#34; Kali ini Zio membuka kelopak matanya perlahan-perlahan.&#xA;&#xA;Ia seperti melihat bunga yang mekar. &#xA;&#xA;&#34;Good morning,&#34; gumamnya.&#xA;&#xA;“I&#39;m not sleeping.&#34;&#xA;&#xA;“I know you are not.&#34;&#xA;&#xA;Zio tersenyum, “Do you know why I like you so much? Back then and now?”&#xA;&#xA;Atof menggeleng kecil.&#xA;&#xA;“You have what I don&#39;t: freedom.”&#xA;&#xA;Jawaban Zio tak mengejutkan, namun juga tidak biasa. Jarang ada yang membicarakan kebebasan Atof menentukan jalan hidup. Namun kini ia bersyukur ia memilikinya, meski kadang Atof justru ingin dibatasi karena merasa butuh pemandu.&#xA;&#xA;Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau. &#xA;&#xA;“Why&#39;s that?&#34;&#xA;&#xA;“I want to be like you. You say whatever you want to say— yes the ‘fuck you’ on Twitter when you were out from the band. You pierced your ears, chose your own major and path of life, got sex a lot, you do what you want to do, and I just really dig your vibe. Cool, hot-headed, strong, sexy, flirty, goals-oriented, look aloof and arrogant but actually very kind.”&#xA;&#xA;“That’s not the freedom you talk about, it’s reckless, Baby Doll.”&#xA;&#xA;“I want that.”&#xA;&#xA;“Hm?”&#xA;&#xA;“I want to be reckless, nggak mikirin apa kata Ayah tiap ngelakuin sesuatu.”&#xA;&#xA;Mungkin karena Zio terbiasa merentangkan tangan untuk Atof, maka dari itu ia pun melakukannya. Bak muscle memory, ia menepuk tubuhnya sendiri sebagai ajakan. Zio masuk ke rengkuhnya, juga ke hatinya. &#xA;&#xA;&#34;Baby Doll did well.&#34;&#xA;&#xA;Zio mengusap-usapkan wajahnya ke dada Atof. Seperti anak kucing yang mencari tempat nyaman untuk tidur. Semoga kancing kemeja Atof berukuran kecil dan tidak mengganggu.&#xA;&#xA;&#34;You said you want to know what &#39;For Talatof&#39; means,&#34; Atof menguap, entah kenapa ia justru mengantuk, mungkin karena pendingin ruangan. Ia menyamankan kepalanya di bantal, kian merengkuh tubuh Zio.&#xA;&#xA;&#34;Apa?&#34; Ia merasakan jemari Zio mengetuk-ngetuk berpola di punggungnya.&#xA;&#xA;&#34;Aku asal aja sebenarnya.&#34;&#xA;&#xA;Kini punggungnya dipukul, memicu ringisan. &#xA;&#xA;“Okay- okay, serius. Kenapa &#39;For Talatof&#39; bukan &#39;From Talatof&#39; karena even though the songs are technically from me, but I write it as a reminder for myself. Most of my songs are basically about self discovery and coming of age, so yeah, you know, it&#39;s more like I make this for myself and share it with you all, not I make this for you all.” &#xA;&#xA;“Wah, aku lagi meluk orang keren. Jadi orang keren ini mau menjamin hidup aku?” goda Zio mengulang pernyataan nekat Atof di meja makan.&#xA;&#xA;Suara Zio teredam, namun diteruskan dengan kekeh lirih. Atof mengelus belakang kepala Zio naik-turun, ia mulai memejamkan matanya. “If you want to.”&#xA;&#xA;“You&#39;re too young to say that, isn&#39;t it very reckless of you?&#34;&#xA;&#xA;“You said you want to be reckless.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya bukan dengan nikah dini lah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kita nggak dini,&#34; Atof lagi-lagi menguap lebar. “You know, whenever you&#39;re around I feel sleepy.&#34;&#xA;&#xA;Atof tahu segala sesuatu tak selalu berjalan sesuai dengan harapannya. &#xA;&#xA;Akan tetapi kali ini ia sangat berharap tidak ada yang mengetuk pintu. Di dalam kamar yang terasa asing ini: hanya ada Atof dan Zio. &#xA;&#xA;br&#xA;&#xA;br&#xA;&#xA;br&#xA;&#xA;br&#xA;&#xA;br&#xA;&#xA;&#34;Odan kalau sudah besar mau jadi apa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mau bikin rumah seperti Ayah!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Odan mau jadi arsitek?&#34;&#xA;&#xA;Zio kecil mengangguk, kakinya yang menggantung karena kursi terlalu tinggi, bergoyang-goyang lebih semangat mendengar pertanyaan tersebut. &#34;Odan jadi aristek!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Arsitek, Jagoan. Eja bersama Ayah, Ar.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ar.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Si&#34;&#xA;&#xA;&#34;Si.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tek.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tek.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Arsitek.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aristek!&#34; sahut Zio semangat.&#xA;&#xA;Ayah Zio tertawa, mengecup puncak kepala putranya yang sedang menggenggam pohon-pohon kecil dengan penuh kasih.&#xA;&#xA;&#34;Ayah janji akan bantu kamu jadi arsitek.&#34;&#xA;&#xA;br&#xA;&#xA;(c) litamateur]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><strong>tags</strong>: ±2200w, markno au, non linear narrative.</p></blockquote>

<p><strong>notes</strong>: please bacanya yang teliti soalnya alur agak bolak-balik.</p>

<hr>

<h4 id="child" id="child">child</h4>

<blockquote><p>I&#39;m a child
I can&#39;t be the person you want
— <strong><em>Mark Lee</em></strong></p></blockquote>

<p>Atof tahu segala sesuatu tak selalu berjalan sesuai dengan harapannya. 
</p>

<p>Ia berjalan bak di atas titian ke bagian belakang rumah Zio, tepatnya ke taman. Mencoba duduk di kursi kosong bersama Ayah Zio, yang menatap pohon, dan bunga-bunga yang tumbuh di sana. Mata Ayah Zio mengawang jauh. Wajahnya tampak tua dengan kerut-kerut yang baru muncul di usia setengah abad. </p>

<p>Ayah dua anak itu tidak menoleh meski menyadari eksistensi Atof. Ia ikut menatap apa yang beliau tatap.</p>

<p>Rumah itu belum familier karena ini kali kedua Atof berkunjung ke sana. </p>

<p>Biasanya, Atof tak pernah merasa <em>nervous</em> ketika ia berkunjung ke tempat baru. Ia tipikal anak pramuka yang menyiapkan segala sesuatu secara seratus persen sebelum berangkat. Sebab tak ada yang tahu apa yang akan terjadi ke depan, terlalu visioner. Akan tetapi kali ini ia menemukan dirinya kesulitan menelan saliva.</p>

<p>Matahari bulan September pada jam dua siang sedang terik-teriknya. Atof merasa gerah meski angin bersilir-silir. Dua pot sukulen yang ia jinjing untuk Mamah Zio sudah ikut berjajar dengan teman-temannya. Zio berada di kamar setelah kejadian di meja makan.</p>

<p><br></p>

<hr>

<p><br></p>

<p>“Gimana kuliah kamu?” </p>

<p>Pertanyaan itu tidak hangat, terdengar mencecar. Zio berhenti menggerakkan sendoknya. Tangannya mulai menurunkan alat makan, mengepal di pahanya sendiri. </p>

<p>“Baru mulai, Yah. Belum ada yang bisa dilaporin.”</p>

<p>Atof belum pernah mendengar suara Zio sekaku itu selama mengenalnya. Atau Atof belum mengetahui Zio seutuhnya. Apa lah satu tahun dari sembilan belas tahun hidup Zio? Bahkan Atof tak hadir seperempatnya. Ia melingkupi kepal tangan Zio di bawah meja, meremasnya lembut. </p>

<p>“IPK tingkat satu harusnya bisa lebih tinggi untuk mitigasi seandainya turun. Nanti pas tingkat dua coba ditingkatkan. Kalau ada kendala langsung bilang ke Kakakmu, atau Mamah, atau Ayah.”</p>

<p>“Iya, Yah.”</p>

<p>Mamah Zio setengah berdiri menuangkan nasi biryani lagi ke piring Ayah Zio, juga ke piring Atof yang sudah nyaris kosong. “Ayo Nak Atof dimakan.”</p>

<p>Ia tersenyum sopan meski perutnya sudah tak kuat menampung, seharusnya ia tidak sarapan tadi. “Iya, Tante. Makasih.”</p>

<p>“Kalau Atof ini jurusan apa?” Ayah Zio mengalihkan atensi, menatapnya dengan serius. </p>

<p>“Teknik sipil, Om.”</p>

<p>“Oh, bisa nyambung ya kalau ngobrol. Kemarin IPKnya berapa?”</p>

<p>Ia tak langsung menjawab karena bingung. Mungkin keterkejutannya terpancar jelas sehingga Hera menyela: “Ih Ayah, nggak sopan tanya nilai ke orang, Yah.” </p>

<p>Atof belum pernah ditanya mengenai nilainya seumur hidup oleh Althaf. Masnya yang satu itu hanya bersyukur jika Atof mampu makan dengan teratur. Bahkan, ketika ia memilih teknik sipil pun Althaf menjawab: <em>Good, semoga belajarnya seru.</em></p>

<p>“Lho kenapa? Bisa jadi motivasi buat Jordan. Kalau teman-temannya pada pintar, harusnya dia juga.”</p>

<p>Ringisan hampir meluncur dari Atof jika ia tidak bisa menahan diri. Ia tidak tahu bahwa orientasi hidup Ayah Zio adalah pencapaian nyata seperti angka. Sejujurnya, Atof juga peduli pada hasil, namun selain itu ada hal-hal tak kasat mata saat mengejar sesuatu yang lebih ia pedulikan. Ia suka berproses.</p>

<p>Ia melirik Zio yang berekspresi tak enak hati, menggumamkan <em>sorry</em> tanpa suara.</p>

<p>“Syukur masih cumlaude, Om,” jawab Atof berusaha tak menyebut angka.</p>

<p>“Nah itu, kamu harusnya pintar-pintar cari teman dan koneksi biar mudah nanti kedepannya, Jordan. Daripada main sama Enricho itu, masa IPKnya nggak sampai tiga padahal baru tingkat satu.”</p>

<p>Mamah Zio memukul lengan suaminya, “Mulutmu <em>ta’ cocol</em> pake sambel ya, dari tadi didiemi kok makin ngelantur ngomongnya, Yah.”</p>

<p>Mereka semua tertawa tertahan. Sekilas wajah Ayah Zio seperti merajuk karena ujaran Mamah Zio, atau Atof yang salah lihat. “Nak Atof, Ayahnya Jordan ini sok serem aja, bahas nilai-nilai <em>tok</em>. Padahal hidup bukan cuma soal nilai, ya Nak Atof?”</p>

<p>Atof mengangguk, tersenyum pada Mamah Zio yang mengisyaratkannya untuk kembali makan.</p>

<p>“Ya hidup bukan cuma nilai, tapi nilai bisa jadi salah satu faktor yang menggiring kita ke masa depan, Mah,” Ayah Zio tetap tidak mau kalah, Atof jadi tahu bakat debat Zio dari mana.</p>

<p>“Aku pulang karena mau ngasih tau aku ngeband,” Zio menunduk, suaranya beradu dengan denting alat makan. </p>

<p>Ayah Zio menurunkan sendok miliknya, memandang Zio yang sungkan melihat Ayahnya di mata. “Kamu memang tidak ada kegiatan lain yang lebih bermanfaat?” </p>

<p>“Aku sukanya itu.” </p>

<p>“Hobimu itu nggak manfaat, nggak usah ngeband-ngeband. Ayah nggak pernah larang kamu buat main <em>game</em>, ini malah ditambah ngeband. Waktumu bakal habis cuma buat itu.”</p>

<p>Zio mendongak untuk beradu tatap karena tidak terima. “Daripada aku diem-diem kayak dulu. Mending terbuka sama Ayah, kan? Ngeband nggak akan ganggu kuliah aku.” </p>

<p>“Nggak ganggu gimana? Pas SMA nilaimu turun, kamu sering kabur les cuma buat ikut acara nggak bermanfaat, dan malah ambil uang les.”</p>

<p>“Kalau Ayah nggak ngelarang, aku nggak bakal begitu,” suara Zio semakin tinggi.</p>

<p>Ayah Zio berdecak. “Kamu cuma suruh fokus kuliah aja susah sekali. Segalanya sudah di-<em>support</em>, bahkan dibolehkan ngekos biar waktumu nggak habis di jalan. Harusnya bisa lebih baik dari Kak Hera. Ikut organisasi yang bermanfaat supaya ada pengalaman. Bukan malah izin ngeband yang nggak berguna buat masa depanmu.”</p>

<p>“Ayaaah, jangan gitu ke Odan. Adek udah usaha masa nggak boleh nyari hiburan?” Hera menyela.</p>

<p>“Kamu, Kak, Adikmu jangan dibela terus. Ajarin biar bisa kayak kamu.”</p>

<p>Atof hanya diam mengamati wajah mereka satu-persatu. Sejujurnya, ia jarang menonton film, kebanyakan karena diajak atau direkomendasi orang lain. Film bergenre keluarga paling ia hindari. Kali ini, ia justru menontonnya secara langsung. Ia bertanya-tanya apa setiap rumah dengan keluarga utuh pasti punya formasi seperti ini? Ayah yang lumayan keras, Ibu yang membela sang anak, Kakak yang jadi panutan, Adik yang riang namun tiba-tiba pendiam karena dibanding-bandingkan. </p>

<p>Obrolan itu terus berlanjut. <em>Tek-tok</em> antar anak dan Ayah yang membela opininya masing-masing. Suara mereka beradu dan ramai hingga jadi <em>white-noised</em>. Atof seperti berada di dalam gelembung sendiri, bukan di meja makan. Telapak tangannya tiba-tiba menerima remasan dari Zio di bawah meja. </p>

<p>Gelembungnya pecah.</p>

<p>“Saya juga ngeband, Om,” selanya, masuk ke obrolan. “Saya yang ajak Zio- Jordan ngeband. Saya termasuk lulusan terbaik sekolah musik meskipun sering bolos karena jadwal manggung. IPK saya masih <em>cumlaude</em>, kalau Om memperbolehkan Jordan buat ngeband sama saya, saya janji juga buat jaga IPK Jordan biar stabil. <em>Win-win solution</em> ya, Om?”</p>

<p>Atof yakin ia seperti manusia tidak tahu diri sekarang. Akan tetapi sepertinya ia perlu pamer banyak pencapaian nyata agar Ayah Zio mengizinkan. “Saya udah punya penghasilan dari <em>producing</em> lagu sejak 2016 sama band saya yang dulu. Papa saya konduktor terkenal, silakan Om searching Mikhael Rianto di Google. Mas saya dosen di sekolah seni di <em>Singapore</em>. Jadi kalau Om memperbolehkan Zio- maksud saya Jordan ngeband sama saya, sepertinya masa kuliah Jordan juga bisa terjamin. Dan kalau Jordan mau serius di musik, dia punya koneksi dari saya.”</p>

<p>Ekspresi tak percaya dari Ayah Zio membuat kerongkongannya terasa seperti diganjal kerikil. Ayah Zio mendesah lelah. “Kamu ini beda, Atof. Kamu masuk sekolah seni, keluargamu juga sudah di seni. Sedangkan Jordan nggak akan pernah bisa kayak kamu karena basisnya bukan di sana. Untuk apa ngeband-ngeband yang nggak bisa menunjang Jordan untuk jadi arsitek? Saya bukan nggak suka dengan musik, pencapaianmu juga layak diapresiasi, tapi nggak cocok dengan Jordan.” </p>

<p>Kursi milik Zio berderit membuat seluruh pasang mata terfokus padanya. Ia bangkit dari posisinya dengan wajah masam. “Odan kenyang mau ke kamar.” </p>

<p>Tanpa menoleh pada Atof, Zio meninggalkan meja makan. </p>

<p><br></p>

<hr>

<p><br></p>

<p>“Memang kamu mau <em>pursue music</em> selamanya?”</p>

<p>Ayah dua anak itu menarik koran di bawah meja untuk dibaca. Sepertinya masih berlangganan koran meski media massa fisik sudah tergerus digital. Hal itu membuat Atof kian sadar bahwa pola pikir Ayah Zio tergolong tempo dulu. Ia sedikit memiringkan posisi duduknya ke arah Ayah Zio, namun lebih condong ke taman. Dari sana, ia menemukan sisi wajah beliau  yang sangat mirip dengan anaknya.</p>

<p>“Belum tau juga, Om. Tapi karena saya ambil teknik sipil mungkin bisa diseriusin ke sana. Saya juga senang belajarnya.”</p>

<p>“Bagus itu, meskipun kamu bisa punya <em>income</em> dari produksi lagu. Kamu harus punya <em>income</em> bulanan yang stabil,” sanjung beliau, membalik halaman koran.</p>

<p>“Musik ini—selain jadi akademisi seperti Masmu—pasang-surutnya cepat sekali. Perlu terus berkreatifitas. Nggak banyak band di Indonesia yang bisa mengeluarkan hits tiap tahun. Selain itu, sekarang sudah lari semua ke digital, dan sepertinya <em>fees</em>-nya tidak seberapa ya? Kecuali diajak manggung sana-sini.”</p>

<p>Atof mengangguk mafhum. Paham sekali bagaimana industri musik bekerja, terutama di Indonesia yang budaya album fisik nyaris punah.</p>

<p>Ia sering berbicara dengan orang tua, atau orang yang memiliki rentang umur jauh darinya. Kebanyakan dari mereka berbicara dengan Atof mengenai pekerjaan dan menganggapnya sebagai kolega. Atau menceritakan tentang masa muda mereka, dan Atof hanya mendengarkan dengan seksama.</p>

<p>Akan tetapi kali ini, ia mengobrol dengan Ayah Zio, dengan keadaan ia seorang anak, dan Ayah Zio adalah orang tua. Atof merasa kecil, atau ia memang anak kecil yang bahkan baru menanjak umur dua puluh. Sudah lama sekali tak ada yang menasihati Atof selayaknya seorang Ayah yang berbagi perspektif. Di masa-masa seperti ini, ia teringat Papanya. Menyedihkan. </p>

<p>“Kamu pacar anak saya?”</p>

<p>Atof membeliak. Ia juga belum tahu apakah yang mereka punya dinamakan <em>pacaran</em>. Namun jika kata itu yang paling cocok untuk melabeli hubungan mereka, maka mulutnya berkata: “Iya, Om.”</p>

<p>Ayah Zio tertawa, “Pantas kamu bicaranya seperti ingin menjamin hidup anak saya seumur hidup tadi.”</p>

<p>Jujur, Atof tidak pernah semalu ini dalam hidupnya. Sekali ini, ia berharap bumi terbelah dan menenggelamkan dirinya. Memang kalimat menggebu-gebu yang ia ucap di meja makan terasa berlebihan. Ia tidak pernah seperti itu sebelumnya: menyombongkan diri untuk mendapatkan restu orang tua. Biasanya ia akan mulai congkak ketika merasa diremehkan.</p>

<p>“Kamu tahu Jordan suka sekali susun Lego?”</p>

<p>Atof mengangguk.</p>

<p>“Waktu saya belum punya studio sendiri, ekonomi kami masih biasa saja. Saya dan Mamah Jordan jadi arsitek junior di tempat yang berbeda. Karena kami kurang percaya sama <em>baby sitter</em>, Jordan selalu kami bawa kerja bergantian.”</p>

<p>“Anak itu … aktif sekali, apa saja dipegang. Lari-lari di ruangan, sudah berani naik tangga sendiri pas umurnya masih tiga. Semua teman kerja saya suka sekali karena dia sopan dan suka bersalaman, cerewet banyak tanya meski omongannya belum jelas.“ </p>

<p>“Kalau saya minta Jordan untuk duduk, dia nurut, saya bikin maket, anak saya susun Lego. Dia selalu bilang dia mau bikin rumah seperti saya.“ </p>

<p><br></p>

<hr>

<p><br></p>

<p>Kamar Zio di kosnya lebih hangat dibanding di rumah. </p>

<p>Zio tidur menyamping, sengaja menyisakan ruang agar Atof bisa naik. Usai menutup pintu, ia perlahan ikut berbaring, berlama-lama menelisik segala fitur di wajah Zio. Ia teringat tentang obrolannya dengan Ayah Zio, dan bagaimana ekspresi beliau sangat serupa dengan putranya ketika tersenyum. Zio seperti cetak mini Ayahnya dengan sifat seperti Mamahnya.</p>

<p>Apakah jika orang melihat Atof mereka akan teringat dengan Papanya? Apakah senyumnya sama seperti milik Papa? Apakah Atof punya kebiasaan yang sama seperti Papa?</p>

<p>“Mau berapa lama natapnya?” tanya Zio dengan mata masih terpejam.</p>

<p>“<em>As long as I could</em>.”</p>

<p>“<em>God, you&#39;re flirty as hell</em>.” Kali ini Zio membuka kelopak matanya perlahan-perlahan.</p>

<p>Ia seperti melihat bunga yang mekar. </p>

<p>“<em>Good morning,</em>” gumamnya.</p>

<p>“<em>I&#39;m not sleeping</em>.”</p>

<p>“<em>I know you are not</em>.”</p>

<p>Zio tersenyum, “<em>Do you know why I like you so much? Back then and now</em>?”</p>

<p>Atof menggeleng kecil.</p>

<p>“<em>You have what I don&#39;t: freedom</em>.”</p>

<p>Jawaban Zio tak mengejutkan, namun juga tidak biasa. Jarang ada yang membicarakan kebebasan Atof menentukan jalan hidup. Namun kini ia bersyukur ia memilikinya, meski kadang Atof justru ingin dibatasi karena merasa butuh pemandu.</p>

<p>Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau. </p>

<p>“<em>Why&#39;s that</em>?”</p>

<p>“<em>I want to be like you. You say whatever you want to say— yes the ‘fuck you’ on Twitter when you were out from the band. You pierced your ears, chose your own major and path of life, got sex a lot, you do what you want to do, and I just really dig your vibe. Cool, hot-headed, strong, sexy, flirty, goals-oriented, look aloof and arrogant but actually very kind</em>.”</p>

<p>“<em>That’s not the freedom you talk about, it’s reckless, Baby Doll.</em>”</p>

<p>“<em>I want that</em>.”</p>

<p>“Hm?”</p>

<p>“<em>I want to be reckless</em>, nggak mikirin apa kata Ayah tiap ngelakuin sesuatu.”</p>

<p>Mungkin karena Zio terbiasa merentangkan tangan untuk Atof, maka dari itu ia pun melakukannya. Bak <em>muscle memory</em>, ia menepuk tubuhnya sendiri sebagai ajakan. Zio masuk ke rengkuhnya, juga ke hatinya. </p>

<p>“<em>Baby Doll did well.</em>“</p>

<p>Zio mengusap-usapkan wajahnya ke dada Atof. Seperti anak kucing yang mencari tempat nyaman untuk tidur. Semoga kancing kemeja Atof berukuran kecil dan tidak mengganggu.</p>

<p>“<em>You said you want to know what &#39;For Talatof&#39; means,</em>” Atof menguap, entah kenapa ia justru mengantuk, mungkin karena pendingin ruangan. Ia menyamankan kepalanya di bantal, kian merengkuh tubuh Zio.</p>

<p>“Apa?” Ia merasakan jemari Zio mengetuk-ngetuk berpola di punggungnya.</p>

<p>“Aku asal aja sebenarnya.”</p>

<p>Kini punggungnya dipukul, memicu ringisan. </p>

<p>“Okay- okay, serius. Kenapa &#39;For Talatof&#39; bukan &#39;From Talatof&#39; karena <em>even though the songs are technically from me, but I write it as a reminder for myself. Most of my songs are basically about self discovery and coming of age, so yeah, you know, it&#39;s more like I make this for myself and share it with you all, not I make this for you all</em>.” </p>

<p>“Wah, aku lagi meluk orang keren. Jadi orang keren ini mau menjamin hidup aku?” goda Zio mengulang pernyataan nekat Atof di meja makan.</p>

<p>Suara Zio teredam, namun diteruskan dengan kekeh lirih. Atof mengelus belakang kepala Zio naik-turun, ia mulai memejamkan matanya. “<em>If you want to</em>.”</p>

<p>“<em>You&#39;re too young to say that, isn&#39;t it very reckless of you?</em>“</p>

<p>“<em>You said you want to be reckless</em>.”</p>

<p>“Ya bukan dengan nikah dini lah.”</p>

<p>“Kita nggak dini,” Atof lagi-lagi menguap lebar. “<em>You know, whenever you&#39;re around I feel sleepy.</em>“</p>

<p>Atof tahu segala sesuatu tak selalu berjalan sesuai dengan harapannya. </p>

<p>Akan tetapi kali ini ia sangat berharap tidak ada yang mengetuk pintu. Di dalam kamar yang terasa asing ini: hanya ada Atof dan Zio. </p>

<p><br></p>

<p><br></p>

<p><br></p>

<p><br></p>

<p><br></p>

<p>“Odan kalau sudah besar mau jadi apa?”</p>

<p>“Mau bikin rumah seperti Ayah!”</p>

<p>“Odan mau jadi arsitek?”</p>

<p>Zio kecil mengangguk, kakinya yang menggantung karena kursi terlalu tinggi, bergoyang-goyang lebih semangat mendengar pertanyaan tersebut. “Odan jadi aristek!”</p>

<p>“Arsitek, Jagoan. Eja bersama Ayah, Ar.”</p>

<p>“Ar.”</p>

<p>“Si”</p>

<p>“Si.”</p>

<p>“Tek.”</p>

<p>“Tek.”</p>

<p>“Arsitek.”</p>

<p>“Aristek!” sahut Zio semangat.</p>

<p>Ayah Zio tertawa, mengecup puncak kepala putranya yang sedang menggenggam pohon-pohon kecil dengan penuh kasih.</p>

<p>“Ayah janji akan bantu kamu jadi arsitek.”</p>

<p><br></p>

<p>© litamateur</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://wordsmith.social/be-my-escape/be-my-escape-58b9</guid>
      <pubDate>Thu, 22 Dec 2022 03:43:29 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>BE MY ESCAPE</title>
      <link>https://wordsmith.social/be-my-escape/be-my-escape-rpv9</link>
      <description>&lt;![CDATA[  tags: ±1800 words, markno, fluff, over all wholesome&#xA;&#xA;notes: i recommend you to listen to this is how you fall in love by jeremy zucker to enhance your reading experience! &#xA;!--more--&#xA;hr&#xA;&#xA;this is how you fall in love&#xA;&#xA;Zio tidak punya alasan untuk pergi ke daerah Sentul, Bogor selama ini. &#xA;&#xA;Terakhir kali, ia pergi ke Sentul karena diajak ke Jungle Land oleh teman SMAnya. Setelah itu tak pernah terlintas dalam kepalanya untuk berkunjung ke sana. Sampai akhirnya ia berada di salah satu kluster di perumahan Sentul City.&#xA;&#xA;Mobilnya bergerak mengikuti pemandu Google Maps untuk berbelok ke arah rumah Atof. Ia menjumpai rumah yang tampak tak berpenghuni ketika pemandu virtual itu berkata Zio sudah sampai tujuan. Lumayan heran dengan orang tua Atof karena memilih hunian di Bogor; pemandangan gunung, dan masih rerumputan asri, meski akses terhitung mudah. Mungkin ibu kota terlalu penat bagi pemusik mencari inspirasi.&#xA;&#xA;  Kak Atof&#xA;&#xA;  Langsung masuk aja, aku di ruang tamu&#xA;&#xA;Ia menjinjing dua paper bag ke sana. &#xA;&#xA;Hal pertama yang Zio dapati setelah masuk pintu adalah kain putih. Kain-kain itu menutupi furnitur yang tak pernah digunakan sejak lama agar tidak berdebu, kecuali sofa yang diduduki Atof dan meja. Beberapa foto Atof, Althaf, dan foto orang tua mereka yang warnanya menunjukkan diambil pada awal 2000-an menempel di dinding.&#xA;&#xA;Atof yang tengah menatap kosong ke arah lain, segera menoleh ketika kedatangannya yang berisik muncul di ambang pintu. &#xA;&#xA;&#34;Kita makan kue?&#34; tawarnya dengan cengiran saat mereka saling pandang. Mengangkat paper bag besar berisi kue dari Mamah. &#xA;&#xA;Ia tersenyum padanya, mengangguk. &#xA;&#xA;br&#xA;&#xA;br&#xA;&#xA;br&#xA;&#xA;br&#xA;&#xA;“The cutleries inside the cabinet are dusty. Mbak biasanya cuma bersihin yang kelihatan aja; yang di lemari nggak kena.” &#xA;&#xA;Zio membuka kabinet di atas kepalanya, dan segera terbatuk kecil karena sungguhan berdebu. Atof tengah mencuci alat makan yang akan mereka gunakan nanti, Zio berinisiatif mengeringkan dengan lap bersih yang ia temukan. &#xA;&#xA;Semua barang di rumah Atof tampak dibersihkan berkala. Kompor gas juga masih berfungsi karena katanya Althaf membiarkan sang asisten rumah tangga menggunakan rumah itu jika butuh.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa nggak dijual aja rumahnya?&#34;&#xA;&#xA;Atof menggeleng, &#34;Althaf bilang suatu hari bisa jadi kita bakal di sini lagi.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kamu mau di sini lagi?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Belum pernah mikir itu.&#34;&#xA;&#xA;Setelah itu, Zio bernyanyi Happy Birthday dengan riang ketika menyalakan lilin pada kue di ruang tamu. Atof bergeleng menyuruhnya berhenti karena suaranya menggema dalam hening malam, atau karena malu ditilik dari bagaimana Atof terkekeh. Zio semakin kencang bernyanyi sehingga Atof cepat-cepat meniup lilinnya agar ia diam. Dengan alat makan bersih yang baru saja mereka cuci, Atof memotong kuenya, menyuap diri sendiri karena dipaksa olehnya, lalu menyuapi Zio karena tidak mau makan sendirian.&#xA;&#xA;Mereka berbagi satu piring untuk potongan kue yang semakin mengecil seiring jam berjingkat, obrolan sudah melompat dari satu topik ke topik lain. Zio menyodorkan satu paper bag berisi hadiah darinya dan Mamah. &#xA;&#xA;“You know you don&#39;t have to,&#34; kata Atof sungkan, Zio segera menggeleng.&#xA;&#xA;&#34;Bisa abis dimarahin Mamah aku, kalau hadiahnya nggak sampe tujuan.&#34;&#xA;&#xA;Atof mengeluarkan sebuah kemeja navy yang Mamah Zio beli—entah kapan beliau menyiapkannya Zio tidak tahu. Mengelus permukaan kain itu dengan senyum tipis. &#xA;&#xA;&#34;Itu dari Mamah, masih ada yang lain dari aku.&#34;&#xA;&#xA;Lalu Atof segera merogoh paper bag.&#xA;&#xA;&#34;Maaf hadiahnya nggak aku bungkus,&#34; Zio menggaruk pangkal hidungnya yang tidak gatal. “I&#39;m supposed to give you something you like, tapi malah—&#34;&#xA;&#xA;Pupil Atof melebar takjub melihat dua buku serupa namun berbeda kondisi. Satunya sudah lumayan lusuh dengan banyak sticky notes di pinggir buku, dan yang lain masih terbungkus plastik dengan rapi. Ada highlighter, pensil, pulpen, sticky notes dengan berbagai warna dan bentuk di dalam paper bag.&#xA;&#xA;Dead Poets Society. &#xA;&#xA;Atof menoleh padanya, tersenyum. “Thank you, and tell your mom I love the gift.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Itu … aku pengen kamu bac– annotate, nanti buku yang kamu annotate buatku, kamu pegang yang punyaku– maksudnya kita tukeran– I wanna know what&#39;s your thought about my favorite book– aku liat beberapa buku novel dan self improvement di kamarmu, jadi aku kasih ini– maksudnya– aku pengen hadiahin buku karena mungkin kamu juga bakal suka english cla– arrrrgghhhh,&#34; Zio menunduk mengacak rambutnya frustrasi, bingung sendiri dengan racauan yang meluncur dari bibirnya. &#xA;&#xA;Terlalu banyak hal yang ingin Zio sampaikan pada Atof, seharusnya ia bikin teks pidato. Akan tetapi tawa kecil Atof muncul membuatnya sedikit lega. &#xA;&#xA;&#34;Aku ngerti.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ngerti apa?!&#34; ujar Zio sewot karena diliputi rasa malu.&#xA;&#xA;&#34;Kamu mau aku baca dan anotasi buku favorit kamu.&#34; Atof membuka buku milik Zio yang sudah bertahun-tahun berada di ranjang, atau nakas karena ia baca berulang-ulang. Memperhatikan anotasi darinya, mengusap sticky notes yang sudah lecek. “You like it that much?&#34;&#xA;&#xA;Zio mengangguk, “I feel like I resonate with the main character.&#34; &#xA;&#xA;&#34;I should read it then.&#34;&#xA;&#xA;Senyum lebar mengembang di bibir Zio. &#xA;&#xA;Sejurus kemudian, Atof merogoh ponselnya di saku, menyodorkannya dengan layar kunci menyala. Notifikasi dari Google Calendar, Gmail, Line, BCA Mobile, dan Whatsapp Zio baca satu-persatu, sampai menemukan apa yang Atof maksud. Zio langsung meletakkan ponselnya di meja, memikirkan kalimat apa yang harus ia katakan pada situasi seperti ini. &#xA;&#xA;Suara pergerakan Atof menyandarkan kepala ke kepala sofa menarik atensinya. Pemuda itu mengawang melihat langit-langit ruang keluarganya yang lumayan tinggi. &#xA;&#xA;“Whenever my birthday comes, my parents try to reconnect with me. Entah kirim hadiah, atau pesan lewat Althaf. Aku merasa mereka cuma melakukan itu karena sebuah keharusan, bukan karena mereka peduli dan beneran senang aku hidup sejauh ini. From time to time whenever they change number to contact me I block them, but my brother tries to make us reconcile—he is not actually in a good term with my parents but he is just– i don&#39;t know–  too kind, he said he is too old and has no time for hating our parents, while me, I can&#39;t do that. I hate my birthday because it feels like it&#39;s the most miserable day of my life.”&#xA;&#xA;Itu kalimat terpanjang yang pernah Atof katakan tanpa jeda padanya. Zio meneliti air muka Atof yang sedang berpikir jauh. Ikut bersandar dan menatap satu titik yang sama dengan Atof; tak menarik.&#xA;&#xA;Zio jadi tahu mengapa Atof kurang suka perayaan hari jadinya. Sebab Atof sendiri justru mengingat hal yang tak menyenangkan. &#xA;&#xA;“When I read their messages I was like ... “Ah, this is the time,” and I came here just to find that instead of hatred I missed this place.” Atof menoleh padanya, “Mau tour rumah?”&#xA;&#xA;“Aku lebih penasaran sama kamarmu.”&#xA;&#xA;“Pas sekolah di Eton aku pindah ke apartment, di sini nggak ada apa-apa.&#34;&#xA;&#xA;br&#xA;&#xA;br&#xA;&#xA;br&#xA;&#xA;br&#xA;&#xA;Kamar Atof tampak seperti kamar remaja lainnya.&#xA;&#xA;Sejujurnya Zio tidak berekspektasi apa-apa, karena kamar Atof sudah tak berpenghuni kurang lebih empat tahun. Apartemen Atof tampak lebih hidup, namun masih tersisa karakteristik Atof di sana.&#xA;&#xA;Cat dinding kamarnya berwarna hijau sacramento.  Kasurnya tak diberi seprai, tak ada yang menarik. Di atas kepala ranjang ada beberapa poster rock band favoritnya. Meja belajarnya tampak baru mungkin karena selalu dibersihkan.&#xA;&#xA;Zio lebih tertarik pada foto kecil Atof yang berjajar manis di lemari kaca. Kebanyakan hanya sendiri, atau dengan Althaf. Kadang mengangkat piala, atau menggigit medali, namun ada juga menggunakan mantel musim dingin, mengendarai sepeda tandem. Semakin dewasa Atof, fotonya semakin tidak ada. Bagian bawah lemari berisi suplai senar gitar, dan stick drum.&#xA;&#xA;“You looked happy in the photos,&#34; gumamnya.&#xA;&#xA;“Thanks to my brother.&#34;&#xA;&#xA;Ada keyboard yang ditutupi kain putih di dekat pintu. Di atasnya terdapat rak kayu yang menempel langsung ke dinding. Beberapa buku masih tertinggal.&#xA;&#xA;Atof memainkan satu lagu yang sangat Zio sukai. Membuatnya menarik atensi dari foto-foto kecil Atof, menuju keyboard; menuju Atof. Pemuda itu menggeser dirinya di kursi, memberi ruang untuk Zio ikut duduk.&#xA;&#xA;“How do you know? This is my fav—”&#xA;&#xA;“Your Line’s ID,” balas Atof meski Zio belum menyelesaikan kalimatnya.&#xA;&#xA;“Of course my ID.” Zio mengulang, memandang bagaimana jemari Atof yang menari di atas tuts keyboard memainkan Nocturne no.2 E flat major op 9 no. 2. Merasa hangat karena Atof mengingat hal-hal kecil tentangnya. “This is the only piece I listen to when I do my tasks, it makes me focus.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Kamu harus dengar playlist tidur aku kalau gitu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh ya?&#34;&#xA;&#xA;Atof mengangguk, &#34;Aku kalau nggak bisa tidur pakai itu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nanti aku ketiduran bukan ngerjain tugas.&#34;&#xA;&#xA;“Do you want to play?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kamu tau aku nggak bisa.&#34;&#xA;&#xA;Salah satu buku yang berada di rak ditarik oleh Atof. Ia meletakkan bukunya yang terbuka di penyangga, menampilkan sebuah halaman. &#xA;&#xA;&#34;Twinkle Little Star?&#34; Zio tertawa saat membaca judul lagu yang Atof pilih di buku. &#34;Serius? Dari sekian banyak lagu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hei, it doesn&#39;t hurt, I do the chord, you do the melody.&#34;&#xA;&#xA;Kini, Zio mengikuti pergerakan Atof yang memosisikan tangan di atas keyboard. Ketika ia mendengarkan instruksi Atof tentang chord di keyboard, tanpa sadar ia memajukan bibir karena kebiasaan saat fokus. Ia mencoba memahami dengan sesekali manggut. Beruntungnya ia mengerti not balok karena diajarkan guru matematikanya dulu. &#xA;&#xA;Mereka mulai memainkan lagu sederhana tersebut. Dengan tidak terlalu kepayahan, Zio menekan tuts sesuai buku meski sesekali Atof menoleh mengisyaratkannya untuk menekan. &#xA;&#xA;Tangannya baik-baik saja, namun kakinya lumayan merasa ingin lari karena menempel dengan sisi kaki Atof, kursi mereka seharusnya untuk satu orang.&#xA;&#xA;Ditambah fokus Atof kini berpindah dari jari-jari Zio menjadi ke wajahnya. Mungkin ke bibir Zio yang mencebik tanpa sadar karena ia sedang serius.&#xA;&#xA;Mereka berhenti bermain.&#xA;&#xA;&#34;What do you look at?&#34; tanya Zio.&#xA;&#xA;&#34;Nothing,&#34; Atof menyangkal.&#xA;&#xA;Zio mulai menatap Atof yang sedang menatapnya. Mata Zio meluncur ke bawah untuk memperhatikan bibir Atof yang dengan sengaja ia basahkan menggunakan lidah. Mata Zio panik beralih ke hal lain, namun dengan malu-malu kembali melihat ke bibir lagi. &#xA;&#xA;Pemuda sialan itu menaikkan alisnya karena tahu, ia pasti tahu. &#xA;&#xA;Atof selalu tampak seksi setiap hari, Zio tidak bohong, sungguhan. Eksistensinya ketika hanya berdiri dan menghakimi orang dengan mata bahkan bisa membuat lututnya lemas. Akan tetapi mungkin hari ini sebuah pengecualian karena ia tampak lebih menawan—dan seksi—dari hari biasanya, apa karena ia baru menginjak 20 tahun?&#xA;&#xA;Ruang di antara mereka semakin menyusut ketika Atof mendekat tanpa ragu, selalu punya determinasi atas apa yang ia inginkan.&#xA;&#xA;&#34;May I?&#34; Napasnya berpendar di atas bibir Zio, membuatnya gemetar. &#xA;&#xA;Mata Atof begitu kelam, Zio ingin tenggelam. &#xA;&#xA;Ia mengangguk samar, memejamkan matanya ketika bibir Atof mendarat. &#xA;&#xA;Pemuda itu mengulum bibir bawahnya dengan lembut. Tangan kanan Atof mulai bertumpu di kursi, di belakang punggung Zio agar lebih mudah mencenderungkan diri. Jemari Zio yang berada di atas tuts keyboard terangkat ke atas ketika Atof kian mendorong pelan untuk merasakan bibirnya.&#xA;&#xA;Akan tetapi ciuman Atof hari ini paling lembut, paling polos di antara semua yang mereka bagi. Hanya menyesap hati-hati tanpa gairah yang selalu menanjak tiap Zio merasakan Atof. Rasanya mango mousse cake.&#xA;&#xA;Suara jantungnya berdentum di telinga. &#xA;&#xA;Mereka tertawa malu saat sama-sama menarik diri, menunduk. Ekor mata Zio menemukan bahwa Atof juga tengah meliriknya rikuh. Zio tanpa sadar menggigit bibir bawahnya sendiri, tak bisa menutupi ujung bibirnya yang tertarik ke atas. Rona merah muda menjalar di wajah Atof hingga ke telinga, Zio ingin menjerit karena bisa membuat Atof begitu meski ia yakin dirinya sama merah.&#xA;&#xA;“I didn’t expect a kiss,” bisiknya kecil, meskipun begitu nada suaranya sangat riang.&#xA;&#xA;“I know.” Atof terkekeh tanpa suara, “I wanted to kiss you though.”&#xA;&#xA;“Oh.” &#xA;&#xA;“Yeah.”&#xA;&#xA;Mereka tertawa lagi karena sama-sama tak tahu harus berkata apa. Zio masih ingin teriak sebenarnya, namun spontan menekan tuts karena salah tingkah, membuatnya dengan reflek menjauhkan tangannya. &#xA;&#xA;Keduanya saling toleh, tawa mereka tak ada habisnya melambung ke udara.&#xA;&#xA;Memori Atof memainkan Twinkle Little Star saat berumur lima tahun bergeser jadi Twinkle Little Star saat Atof berumur 20 tahun.&#xA;&#xA;(C) litamateur]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><strong>tags</strong>: ±1800 words, markno, fluff, over all wholesome</p></blockquote>

<p><strong>notes</strong>: i recommend you to listen to this is how you fall in love by jeremy zucker to enhance your reading experience!

<hr></p>

<h1 id="this-is-how-you-fall-in-love" id="this-is-how-you-fall-in-love">this is how you fall in love</h1>

<p>Zio tidak punya alasan untuk pergi ke daerah Sentul, Bogor selama ini. </p>

<p>Terakhir kali, ia pergi ke Sentul karena diajak ke Jungle Land oleh teman SMAnya. Setelah itu tak pernah terlintas dalam kepalanya untuk berkunjung ke sana. Sampai akhirnya ia berada di salah satu kluster di perumahan Sentul City.</p>

<p>Mobilnya bergerak mengikuti pemandu Google Maps untuk berbelok ke arah rumah Atof. Ia menjumpai rumah yang tampak tak berpenghuni ketika pemandu virtual itu berkata Zio sudah sampai tujuan. Lumayan heran dengan orang tua Atof karena memilih hunian di Bogor; pemandangan gunung, dan masih rerumputan asri, meski akses terhitung mudah. Mungkin ibu kota terlalu penat bagi pemusik mencari inspirasi.</p>

<blockquote><p><strong>Kak Atof</strong></p>

<p>Langsung masuk aja, aku di ruang tamu</p></blockquote>

<p>Ia menjinjing dua <em>paper bag</em> ke sana. </p>

<p>Hal pertama yang Zio dapati setelah masuk pintu adalah kain putih. Kain-kain itu menutupi furnitur yang tak pernah digunakan sejak lama agar tidak berdebu, kecuali sofa yang diduduki Atof dan meja. Beberapa foto Atof, Althaf, dan foto orang tua mereka yang warnanya menunjukkan diambil pada awal 2000-an menempel di dinding.</p>

<p>Atof yang tengah menatap kosong ke arah lain, segera menoleh ketika kedatangannya yang berisik muncul di ambang pintu. </p>

<p>“Kita makan kue?” tawarnya dengan cengiran saat mereka saling pandang. Mengangkat <em>paper bag</em> besar berisi kue dari Mamah. </p>

<p>Ia tersenyum padanya, mengangguk. </p>

<p><br></p>

<p><br></p>

<p><br></p>

<p><br></p>

<p>“<em>The cutleries inside the cabinet are dusty</em>. Mbak biasanya cuma bersihin yang kelihatan aja; yang di lemari nggak kena.” </p>

<p>Zio membuka kabinet di atas kepalanya, dan segera terbatuk kecil karena sungguhan berdebu. Atof tengah mencuci alat makan yang akan mereka gunakan nanti, Zio berinisiatif mengeringkan dengan lap bersih yang ia temukan. </p>

<p>Semua barang di rumah Atof tampak dibersihkan berkala. Kompor gas juga masih berfungsi karena katanya Althaf membiarkan sang asisten rumah tangga menggunakan rumah itu jika butuh.</p>

<p>“Kenapa nggak dijual aja rumahnya?”</p>

<p>Atof menggeleng, “Althaf bilang suatu hari bisa jadi kita bakal di sini lagi.”</p>

<p>“Kamu mau di sini lagi?”</p>

<p>“Belum pernah mikir itu.”</p>

<p>Setelah itu, Zio bernyanyi Happy Birthday dengan riang ketika menyalakan lilin pada kue di ruang tamu. Atof bergeleng menyuruhnya berhenti karena suaranya menggema dalam hening malam, atau karena malu ditilik dari bagaimana Atof terkekeh. Zio semakin kencang bernyanyi sehingga Atof cepat-cepat meniup lilinnya agar ia diam. Dengan alat makan bersih yang baru saja mereka cuci, Atof memotong kuenya, menyuap diri sendiri karena dipaksa olehnya, lalu menyuapi Zio karena tidak mau makan sendirian.</p>

<p>Mereka berbagi satu piring untuk potongan kue yang semakin mengecil seiring jam berjingkat, obrolan sudah melompat dari satu topik ke topik lain. Zio menyodorkan satu <em>paper bag</em> berisi hadiah darinya dan Mamah. </p>

<p>“<em>You know you don&#39;t have to</em>,” kata Atof sungkan, Zio segera menggeleng.</p>

<p>“Bisa abis dimarahin Mamah aku, kalau hadiahnya nggak sampe tujuan.”</p>

<p>Atof mengeluarkan sebuah kemeja navy yang Mamah Zio beli—entah kapan beliau menyiapkannya Zio tidak tahu. Mengelus permukaan kain itu dengan senyum tipis. </p>

<p>“Itu dari Mamah, masih ada yang lain dari aku.”</p>

<p>Lalu Atof segera merogoh <em>paper bag.</em></p>

<p>“Maaf hadiahnya nggak aku bungkus,” Zio menggaruk pangkal hidungnya yang tidak gatal. “<em>I&#39;m supposed to give you something you like</em>, tapi malah—”</p>

<p>Pupil Atof melebar takjub melihat dua buku serupa namun berbeda kondisi. Satunya sudah lumayan lusuh dengan banyak <em>sticky notes</em> di pinggir buku, dan yang lain masih terbungkus plastik dengan rapi. Ada <em>highlighter</em>, pensil, pulpen, <em>sticky notes</em> dengan berbagai warna dan bentuk di dalam <em>paper bag</em>.</p>

<p>Dead Poets Society. </p>

<p>Atof menoleh padanya, tersenyum. “<em>Thank you, and tell your mom I love the gift.</em>“</p>

<p>“Itu … aku pengen kamu bac– <em>annotate</em>, nanti buku yang kamu <em>annotate</em> buatku, kamu pegang yang punyaku– maksudnya kita tukeran– <em>I wanna know what&#39;s your thought about my favorite book</em>– aku liat beberapa buku novel dan <em>self improvement</em> di kamarmu, jadi aku kasih ini– maksudnya– aku pengen hadiahin buku karena mungkin kamu juga bakal suka <em>english cla</em>– arrrrgghhhh,” Zio menunduk mengacak rambutnya frustrasi, bingung sendiri dengan racauan yang meluncur dari bibirnya. </p>

<p>Terlalu banyak hal yang ingin Zio sampaikan pada Atof, seharusnya ia bikin teks pidato. Akan tetapi tawa kecil Atof muncul membuatnya sedikit lega. </p>

<p>“Aku ngerti.”</p>

<p>“Ngerti apa?!” ujar Zio sewot karena diliputi rasa malu.</p>

<p>“Kamu mau aku baca dan anotasi buku favorit kamu.” Atof membuka buku milik Zio yang sudah bertahun-tahun berada di ranjang, atau nakas karena ia baca berulang-ulang. Memperhatikan anotasi darinya, mengusap <em>sticky notes</em> yang sudah lecek. “<em>You like it that much</em>?”</p>

<p>Zio mengangguk, “<em>I feel like I resonate with the main character</em>.“ </p>

<p>“<em>I should read it then</em>.”</p>

<p>Senyum lebar mengembang di bibir Zio. </p>

<p>Sejurus kemudian, Atof merogoh ponselnya di saku, menyodorkannya dengan layar kunci menyala. Notifikasi dari Google Calendar, Gmail, Line, BCA Mobile, dan Whatsapp Zio baca satu-persatu, sampai menemukan apa yang Atof maksud. Zio langsung meletakkan ponselnya di meja, memikirkan kalimat apa yang harus ia katakan pada situasi seperti ini. </p>

<p>Suara pergerakan Atof menyandarkan kepala ke kepala sofa menarik atensinya. Pemuda itu mengawang melihat langit-langit ruang keluarganya yang lumayan tinggi. </p>

<p>“<em>Whenever my birthday comes, my parents try to reconnect with me</em>. Entah kirim hadiah, atau pesan lewat Althaf. Aku merasa mereka cuma melakukan itu karena sebuah keharusan, bukan karena mereka peduli dan beneran senang aku hidup sejauh ini. <em>From time to time whenever they change number to contact me I block them, but my brother tries to make us reconcile—he is not actually in a good term with my parents but he is just– i don&#39;t know–  too kind, he said he is too old and has no time for hating our parents, while me, I can&#39;t do that. I hate my birthday because it feels like it&#39;s the most miserable day of my life.</em>”</p>

<p>Itu kalimat terpanjang yang pernah Atof katakan tanpa jeda padanya. Zio meneliti air muka Atof yang sedang berpikir jauh. Ikut bersandar dan menatap satu titik yang sama dengan Atof; tak menarik.</p>

<p>Zio jadi tahu mengapa Atof kurang suka perayaan hari jadinya. Sebab Atof sendiri justru mengingat hal yang tak menyenangkan. </p>

<p>“<em>When I read their messages I was like ... “Ah, this is the time,” and I came here just to find that instead of hatred I missed this place</em>.” Atof menoleh padanya, “Mau <em>tour</em> rumah?”</p>

<p>“Aku lebih penasaran sama kamarmu.”</p>

<p>“Pas sekolah di Eton aku pindah ke <em>apartment</em>, di sini nggak ada apa-apa.”</p>

<p><br></p>

<p><br></p>

<p><br></p>

<p><br></p>

<p>Kamar Atof tampak seperti kamar remaja lainnya.</p>

<p>Sejujurnya Zio tidak berekspektasi apa-apa, karena kamar Atof sudah tak berpenghuni kurang lebih empat tahun. Apartemen Atof tampak lebih hidup, namun masih tersisa karakteristik Atof di sana.</p>

<p>Cat dinding kamarnya berwarna hijau <em>sacramento</em>.  Kasurnya tak diberi seprai, tak ada yang menarik. Di atas kepala ranjang ada beberapa poster <em>rock band</em> favoritnya. Meja belajarnya tampak baru mungkin karena selalu dibersihkan.</p>

<p>Zio lebih tertarik pada foto kecil Atof yang berjajar manis di lemari kaca. Kebanyakan hanya sendiri, atau dengan Althaf. Kadang mengangkat piala, atau menggigit medali, namun ada juga menggunakan mantel musim dingin, mengendarai sepeda tandem. Semakin dewasa Atof, fotonya semakin tidak ada. Bagian bawah lemari berisi suplai senar gitar, dan <em>stick</em> drum.</p>

<p>“<em>You looked happy in the photos</em>,” gumamnya.</p>

<p>“<em>Thanks to my brother</em>.”</p>

<p>Ada <em>keyboard</em> yang ditutupi kain putih di dekat pintu. Di atasnya terdapat rak kayu yang menempel langsung ke dinding. Beberapa buku masih tertinggal.</p>

<p>Atof memainkan satu lagu yang sangat Zio sukai. Membuatnya menarik atensi dari foto-foto kecil Atof, menuju <em>keyboard</em>; menuju Atof. Pemuda itu menggeser dirinya di kursi, memberi ruang untuk Zio ikut duduk.</p>

<p>“<em>How do you know? This is my fav</em>—”</p>

<p>“<em>Your Line’s ID</em>,” balas Atof meski Zio belum menyelesaikan kalimatnya.</p>

<p>“<em>Of course my ID</em>.” Zio mengulang, memandang bagaimana jemari Atof yang menari di atas <em>tuts keyboard</em> memainkan Nocturne no.2 E flat major op 9 no. 2. Merasa hangat karena Atof mengingat hal-hal kecil tentangnya. “<em>This is the only piece I listen to when I do my tasks, it makes me focus</em>.“ </p>

<p>“Kamu harus dengar <em>playlist</em> tidur aku kalau gitu.”</p>

<p>“Oh ya?”</p>

<p>Atof mengangguk, “Aku kalau nggak bisa tidur pakai itu.”</p>

<p>“Nanti aku ketiduran bukan ngerjain tugas.”</p>

<p>“<em>Do you want to play</em>?”</p>

<p>“Kamu tau aku nggak bisa.”</p>

<p>Salah satu buku yang berada di rak ditarik oleh Atof. Ia meletakkan bukunya yang terbuka di penyangga, menampilkan sebuah halaman.</p>

<p>“Twinkle Little Star?” Zio tertawa saat membaca judul lagu yang Atof pilih di buku. “Serius? Dari sekian banyak lagu?”</p>

<p>“Hei, <em>it doesn&#39;t hurt, I do the chord, you do the melody</em>.”</p>

<p>Kini, Zio mengikuti pergerakan Atof yang memosisikan tangan di atas <em>keyboard</em>. Ketika ia mendengarkan instruksi Atof tentang <em>chord</em> di <em>keyboard</em>, tanpa sadar ia memajukan bibir karena kebiasaan saat fokus. Ia mencoba memahami dengan sesekali manggut. Beruntungnya ia mengerti not balok karena diajarkan guru matematikanya dulu.</p>

<p>Mereka mulai memainkan lagu sederhana tersebut. Dengan tidak terlalu kepayahan, Zio menekan <em>tuts</em> sesuai buku meski sesekali Atof menoleh mengisyaratkannya untuk menekan. </p>

<p>Tangannya baik-baik saja, namun kakinya lumayan merasa ingin lari karena menempel dengan sisi kaki Atof, kursi mereka seharusnya untuk satu orang.</p>

<p>Ditambah fokus Atof kini berpindah dari jari-jari Zio menjadi ke wajahnya. Mungkin ke bibir Zio yang mencebik tanpa sadar karena ia sedang serius.</p>

<p>Mereka berhenti bermain.</p>

<p>“<em>What do you look at</em>?” tanya Zio.</p>

<p>“<em>Nothing</em>,” Atof menyangkal.</p>

<p>Zio mulai menatap Atof yang sedang <em>menatapnya</em>. Mata Zio meluncur ke bawah untuk memperhatikan bibir Atof yang dengan sengaja ia basahkan menggunakan lidah. Mata Zio panik beralih ke hal lain, namun dengan malu-malu kembali melihat ke bibir lagi. </p>

<p>Pemuda sialan itu menaikkan alisnya karena tahu, <em>ia pasti tahu</em>. </p>

<p>Atof selalu tampak seksi setiap hari, Zio tidak bohong, sungguhan. Eksistensinya ketika hanya berdiri dan menghakimi orang dengan mata bahkan bisa membuat lututnya lemas. Akan tetapi mungkin hari ini sebuah pengecualian karena ia tampak lebih menawan—dan seksi—dari hari biasanya, apa karena ia baru menginjak 20 tahun?</p>

<p>Ruang di antara mereka semakin menyusut ketika Atof mendekat tanpa ragu, selalu punya determinasi atas apa yang ia inginkan.</p>

<p>“<em>May I</em>?” Napasnya berpendar di atas bibir Zio, membuatnya gemetar. </p>

<p>Mata Atof begitu kelam, Zio ingin tenggelam. </p>

<p>Ia mengangguk samar, memejamkan matanya ketika bibir Atof mendarat. </p>

<p>Pemuda itu mengulum bibir bawahnya dengan lembut. Tangan kanan Atof mulai bertumpu di kursi, di belakang punggung Zio agar lebih mudah mencenderungkan diri. Jemari Zio yang berada di atas <em>tuts keyboard</em> terangkat ke atas ketika Atof kian mendorong pelan untuk merasakan bibirnya.</p>

<p>Akan tetapi ciuman Atof hari ini paling lembut, paling polos di antara semua yang mereka bagi. Hanya menyesap hati-hati tanpa gairah yang selalu menanjak tiap Zio merasakan Atof. Rasanya <em>mango mousse cake</em>.</p>

<p>Suara jantungnya berdentum di telinga. </p>

<p>Mereka tertawa malu saat sama-sama menarik diri, menunduk. Ekor mata Zio menemukan bahwa Atof juga tengah meliriknya rikuh. Zio tanpa sadar menggigit bibir bawahnya sendiri, tak bisa menutupi ujung bibirnya yang tertarik ke atas. Rona merah muda menjalar di wajah Atof hingga ke telinga, Zio ingin menjerit karena bisa membuat Atof begitu meski ia yakin dirinya sama merah.</p>

<p>“<em>I didn’t expect a kiss</em>,” bisiknya kecil, meskipun begitu nada suaranya sangat riang.</p>

<p>“<em>I know</em>.” Atof terkekeh tanpa suara, “<em>I wanted to kiss you though</em>.”</p>

<p>“Oh.” </p>

<p>“Yeah.”</p>

<p>Mereka tertawa lagi karena sama-sama tak tahu harus berkata apa. Zio masih ingin teriak sebenarnya, namun spontan menekan <em>tuts</em> karena salah tingkah, membuatnya dengan reflek menjauhkan tangannya. </p>

<p>Keduanya saling toleh, tawa mereka tak ada habisnya melambung ke udara.</p>

<p>Memori Atof memainkan Twinkle Little Star saat berumur lima tahun bergeser jadi Twinkle Little Star saat Atof berumur 20 tahun.</p>

<p>© litamateur</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://wordsmith.social/be-my-escape/be-my-escape-rpv9</guid>
      <pubDate>Sun, 13 Nov 2022 15:20:03 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>BE MY ESCAPE</title>
      <link>https://wordsmith.social/be-my-escape/be-my-escape-8wd5</link>
      <description>&lt;![CDATA[  tags: ±3200 words, markno, cw self-harm (self-starvation, misusing drugs), very brief passive suicidal thoughts, mental health issues, dysfunctional family, hurt/comfort &#xA;&#xA;notes: beware of the content warning, there is nothing explicit here but please proceed with caution, if you find it triggers your trauma, i advise you to leave the page.&#xA;&#xA;hr&#xA;&#xA;All the kids are depressed&#xA;!--more--&#xA;&#xA;br&#xA;&#xA;br&#xA;&#xA;The Riot left.&#xA;&#xA;You don’t have any friends left.&#xA;&#xA;Your parents left.&#xA;&#xA;Karena diri lu sendiri.&#xA;&#xA;Apa yang mantan manajer Atof katakan terus berdering di telinga seolah ingin menulikannya.&#xA;&#xA;Sejak awal Atof memang berpikir ia terlalu rumit untuk ditangani, entah sebagai anak, teman, atau kolega. Dan ketika seseorang memberitahunya lagi dengan perkataan mereka bahwa semua orang pergi karena dirinya sendiri, ia menyadari perkara itu lebih sering bergaung di kepalanya dari tiap ujaran yang dilayangkan. &#xA;&#xA;He is too much? He knows, that’s why everyone leaves? He tries not to think about it. &#xA;&#xA;But he can’t.&#xA;&#xA;Terapisnya pernah mengatakan bahwa apa yang terjadi pada hidup orang bisa disebabkan oleh faktor internal, seperti diri sendiri (perilaku, dan pola pikir), atau eksternal dari orang lain dan lingkungan. Dan apa-apa yang terjadi dalam hidup Atof kebanyakan dari luar, lantas respons trauma Atof akan melakukan pertahanan diri. Entah itu hanya untuk menghibur Atof, atau memang sebuah kebenaran. Akan tetapi Atof sudah hidup di neraka yang dibuat khusus untuknya bertahun-tahun, dan kalimat itu tak bisa lagi jadi angin sejuk. Ia lebih memilih untuk tak mengambil resiko, dan membakar lagi dirinya yang sudah jadi abu. Ia merasa lebih baik mengunci dirinya sendiri dalam sebuah kotak yang sulit ditembus daripada perasaannya dipengaruhi orang lain.&#xA;&#xA;Atof pertama kali belajar piano ketika ia berumur lima. Bukan karena keinginannya, namun ia digiring oleh Althaf ke satu ruang di rumah dimana seruan lantang semakin menghilang frekuensinya sebab jarak. Althaf duduk di hadapan grand piano yang sudah ada di sana sejak Atof memiliki memori di kepalanya, mengisyaratkan Atof untuk duduk di sisinya. Kakak laki-lakinya itu, Mas Althaf yang menjadi mahasiswa di salah satu institut seni, tersenyum pada Atof, tidak sampai ke ujung bibir. Ia memainkan beberapa lagu yang tak mampu Atof telaah nadanya, jari-jarinya berpindah lihai membuat Atof bertepuk tangan dengan meriah. &#xA;&#xA;Hari itu, pertama kalinya Atof menekan tuts piano untuk memenuhi ruang dengan suara yang lebih menyenangkan, menyamarkan amarah yang meledak di ruang lain. Atof memainkan melodi lagu Twinkle Little Star dituntun Althaf. Ada air mata menggenang di mata Althaf, namun ia tertawa ketika jari-jari kecil Atof melompat ke sana-sini untuk menekan tuts dengan semangat mengikuti apa yang ia instruksikan. Usia mereka terpaut lima belas tahun, Atof merasa Althaf adalah sosok yang sangat nyaman untuk jadi sandaran, tanpa mengetahui fakta bahwa Kakaknya melewatkan kesempatan berkuliah di luar negeri hanya untuk menemaninya di rumah.&#xA;&#xA;Usai kejadian itu, Atof selalu digiring ke sana, bahkan Althaf kadang kala membawa teman kuliahnya yang suka anak kecil. Atof pernah tak sengaja menguping ketika Althaf ikut berseru, “For God&#39;s sake, Atof is five,” atau, “Don’t let Atof see your fight,” pada orang tuanya. Kadang suara orang tuanya membuat Atof berjengit kaget, dan takut. Anehnya ia tidak menangis, tapi ia tak berani menyuruh mereka untuk berhenti. Sebab Atof tidak pernah dekat dengan Papanya karena ia tak pernah pulang. Sedang Mamanya tak pernah ingin melihat Atof beberapa bulan terakhir, entah kenapa. &#xA;&#xA;Mereka mulai jadi orang asing yang hidup satu rumah. Mungkin Mamanya sudah tidak tahu jika Atof mulai tak suka susu vanilla karena merasa mual tiap meminumnya. &#xA;&#xA;Fur Elise jadi lagu yang tak pernah Atof mainkan lagi usai Mamanya hanya diam seribu bahasa ketika ia mempersembahkan lagu itu untuknya.&#xA;&#xA;Nyaris enam bulan untuk menyempurnakan permainan, Atof menghitung, sampai lagu itu menghantui dan masuk ke dalam mimpinya. Akan tetapi tidak ada tepuk tangan bangga sesuai apa yang anak umur lima tahun harapkan.&#xA;&#xA;“Kamu mirip banget sama Papa,” kata Mamanya lirih dengan senyum menyedihkan. Mamanya keluar ruangan, membuat Atof terdiam di kursi piano, bola matanya bergerak mengikuti kepergiannya.&#xA;&#xA;Anehnya, Atof tidak menangis atau tantrum seperti anak seumurannya. Ia hanya membalik halaman buku musik dengan kumpulan lagu untuk pemula. Menenggelamkan emosinya dengan menekan tuts. Ia pikir mungkin ia salah memilih lagu.&#xA;&#xA;Umurnya enam tahun ketika semuanya sungguhan dimulai.&#xA;&#xA;Papanya pulang dari Paris usai memboyong orkestranya ke kancah internasional. Menjadi konduktor yang disegani ketika kembali. Sangat mentereng hingga keluarganya disorot oleh kolega sang Papa, dan Atof salah satunya. &#xA;&#xA;Atof mulai lebih dekat dengan Papa karena diajak pergi ke mana-mana. Dipamerkan dengan bangga seperti piala bergilir. Ketika Papanya berbohong bahwa Mama yang mengajarkannya bermain piano Atot ingin menyela namun tak mampu. Ketika Papanya bilang bahwa ia bercita-cita jadi konduktor seperti dirinya, Atof menggigit bagian dalam mulutnya. Ia merasa tidak masalah, lagi pula ia jadi dekat dengan Papanya. Sang Papa akan tersenyum pada Atof, menggiringnya ke acara dengan banyak makanan meskipun genggaman tangannya terasa dingin.&#xA;&#xA;“Papa keterlaluan manfaatin anak sendiri. Kenapa bukan aku? Kenapa mesti Atof yang masih kecil?” Althaf  mengatakan itu di satu malam saat Atof baru saja pulang. Merangkung di hadapannya, memeluknya dengan erat. &#xA;&#xA;Akhir-akhir ini, mata mas Althaf selalu berkaca-kaca. &#xA;&#xA;“Jaga bicara kamu, ini buat Atof. Kalau Papa berhasil, kamu juga lebih mudah.”&#xA;&#xA;Papanya pergi lagi setelah mengantarkan Atof pulang, tak pernah menyapa Mamanya. Mereka hanya akan berkumpul berempat jika ada acara penting, menjaga reputasi. Hidup dalam topeng yang dibuat Papanya cukup lama, Mamanya bersedia berpartisipasi sebagai persyaratan sebelum bercerai. &#xA;&#xA;Atof selalu bertanya-tanya apa yang salah dari Atof? Apa yang tidak Atof ketahui? Mengapa Mamanya semakin tak terjangkau dari hari ke hari?&#xA;&#xA;Sampai pada akhirnya Papa tak sungkan lagi membawa wanita baru ke rumah. &#xA;&#xA;Atof berpura-pura tersenyum saat disapa karena sudah diajarkan dengan baik. Memukul drum dengan asal-asalan ketika ditinggal sendiri, hingga stick-nya patah. &#xA;&#xA;Sejak awal Atof memang tumbuh dengan sandiwara, pada dirinya sendiri, dan orang lain. Sampai ia tidak tahu mana emosinya yang nyata. &#xA;&#xA;Ironi, hidupnya begitu menarik untuk ukuran anak sekolah dasar. Atof ingin tidur saja, tiduuuuur yang panjang sampai ia tak pernah bisa membuka mata. &#xA;&#xA;Rasanya akan lebih baik jika ia tidak bangun saja.&#xA;&#xA;Atof terbangun karena merasa mimpinya terlalu nyata. Menghela napas karena lagi-lagi memori tak menyenangkan yang jadi bunga tidur. Kepalanya pusing usai lebih dari 22 jam terlelap, badannya pegal setengah mati meski hanya dibawa berbaring. Botol obat terbuka dari terapisnya jatuh dari nakas saat ia berusaha meraih ponsel. Sisa tabletnya yang hanya segelintir melompat keluar, terlalu cepat habis karena kemarin ditenggak melebihi dosis anjuran.&#xA;&#xA;Ia menggulir ponselnya yang nyaris tak berfungsi karena habis daya. Tumpukan notifikasi ia baca satu-persatu. Ia berbohong pada Yunita, dan Dylan dalam teksnya agar mereka tidak khawatir, lagi pula ini hanya tentang Atof dan masalah mentalnya. &#xA;&#xA;Rasanya akan lebih baik jika ia tidak bangun saja.&#xA;&#xA;Langit-langit kamarnya tidak menarik untuk dipandang.&#xA;&#xA;Kadang Atof merasa ia terlalu mendramatisir hidup, namun suara di kepalanya sangat berisik bak mengejeknya bahwa ia memang tidak waras.&#xA;&#xA;Atof menyeret kakinya ke kamar mandi, mengambil makanan yang disediakan oleh Yunita di depan pintu dengan dada tak nyaman karena perasaan bersalah. Kemudian, ia berbelok ke studionya hanya untuk duduk menatap layar laptop yang mati merefleksikan wajahnya. &#xA;&#xA;Matanya kosong.&#xA;&#xA;Ini pukul tujuh malam, Atof tertawa miring melihat wajahnya sendiri. Lumayan takjub bisa bertahan 19 tahun dengan keadaan merasa tak ingin hidup. Atau sebenarnya Atof ingin hidup, namun bukan hidup yang ini. Ia melanjutkan lagunya karena tak ada lagi yang bisa Atof lakukan untuk mengalihkan pikirannya. Saat jam sepuluh pagi, ia kembali ke kamarnya untuk tidur. Menenggak obat, agar tak bermimpi sama sekali.&#xA;&#xA;Rasanya akan lebih baik jika ia tidak bangun saja.&#xA;&#xA;Akan tetapi lagi-lagi ia terjaga sebab kasurnya melendut seperti ada beban baru meskipun ia sendirian. Langit-langit kamarnya masih sama tidak menariknya meski ia sorot jutaan kali, namun ekor matanya menemukan seonggok tubuh manusia di ranjang. Ia berbalik, mengerjapkan mata berkali-kali merasa disorientasi dan melantur.&#xA;&#xA;Rasanya baru sebentar ia tertidur, bukankah lebih baik jika ia tidak bangun saja?&#xA;&#xA;“Hai,” sapanya seraya menguap.&#xA;&#xA;“Why are you here?” tanya Atof bingung dengan suara serak bangun tidur. Zio meraih botol air minum yang tiba-tiba ada di nakas, menyerahkan padanya.&#xA;&#xA;“Karena mau di sini.” &#xA;&#xA;Lagi-lagi Atof mengerjapkan matanya linglung, kepalanya berdenyut. Beberapa teguk air pada akhirnya mampu mengembalikan sedikit kesadaran, dan membasahi kerongkongan yang sekering gurun. Ia menerka sudah berapa jam ia terlelap setelah terakhir kali bangun. Kamarnya gelap tidak dinyalakan. Tak ada perubahan sama sekali kecuali Zio yang tiba-tiba berbaring di sisinya, sepertinya ia tidur juga karena rambutnya lumayan masai.&#xA;&#xA;“Temen lo udah ke sini tadi, gue gantian shift malem,” ujarnya sempat bercanda, tak mengenakan ekspresi kasihan, atau menyinggung apa pun yang Atof benci. “Sorry yang kemarin, sorry juga nggak izin ikut tidur di kasur.”&#xA;&#xA;Ia menggeleng, “Jam berapa?”&#xA;&#xA;“Delapan malem.” &#xA;&#xA;“Latihannya gimana?”&#xA;&#xA;“Pada latihan sendiri di studio,” jawab Zio. Ia hanya mengangguk, masih bingung mengapa Zio justru di sana daripada di studio. “Bangun yuk, temenin makan?”&#xA;&#xA;Atof menilik Zio yang berwajah setengah mengantuk. Ingin bertanya banyak hal meski baru saja bangun tidur, sebab terlalu banyak kemelit yang bercokol di otaknya sejak lama dan tak ingin ia asumsikan tentang Zio, atau dirinya dan Zio.&#xA;&#xA;Sejak kapan Zio seberani itu untuk melewati batas tak kasat mata yang ia punya? Atau sejak kapan mereka jadi begini? &#xA;&#xA;Sejujurnya ia tahu jawabannya, ia hanya tak berani menyuarakannya karena jika kalimat itu bergulir di lidah semuanya akan terasa semakin nyata. &#xA;&#xA;Jika Atof bukan Atof apa Zio akan begini? &#xA;&#xA;“Are you not … tired?” &#xA;&#xA;“Of what?”&#xA;&#xA;Atof yakin Zio bisa memahami makna implisit yang terkandung dalam pertanyaannya. Namun pemuda tersebut selalu jadi yang paling berani di antara keduanya, tak ingin sembunyi, ingin membuat semuanya sebersih langit pagi tanpa mendung. Dan Atof, dia pengecut, mungkin. Benci terlihat rentan ketika jujur. Makanya banyak berpura-pura, khawatir, terlalu berpikir, dan pada akhirnya tetap bersembunyi dengan topeng stoic. &#xA;&#xA;“I don’t know … everything—” —me, Atof sangat ingin bertanya.&#xA;&#xA;Seseorang yang selalu bersahabat dengan kepura-puraan, tidak akan pernah terbiasa dengan Zio yang selalu mengungkapkan isi hatinya. Lagi-lagi, Zio menjawabnya dengan lantang. &#xA;&#xA;“No.&#34;&#xA;&#xA;Ia terbungkam.&#xA;&#xA;Kepala Atof tidak akan pernah mampu memformulasikan pikiran Zio, mungkin otaknya agak korsleting. Sebab Atof pun mengerti, ini Zio yang tak ada celahnya. Jika Atof berada di sisinya, ia adalah celahnya.&#xA;&#xA;Sebab Atof begini, terlelap dua hari karena ansietas memakan kewarasannya. Sedang Zio … apa yang Zio cari dari orang seperti Atof setelah tahu bahwa megahnya Atof di layar dulu berbanding terbalik dengan kenyataannya? &#xA;&#xA;Sebab jika pada akhirnya Zio tak memilih Atof pun, tak akan ada yang sanggup memilih Atof.&#xA;&#xA;“Are you insane?” tanyanya, mengundang kekeh ringan. Zio menyengir memperlihatkan gigi-giginya yang rapi, matanya membentuk bulan sabit. Atof sudah terlalu sering melihat pemuda itu dari jarak pandang sedekat ini, namun tak pernah tak membuatnya terkesima. Ia lebih suka saat Zio terpejam karena bulu matanya berjajar lentik, dengan landang di bawah mata jadi aksen. Kulitnya lembut, Atof penasaran apa Zio rutin menggunakan skincare. Hidungnya bangir dengan rahang tegas seperti pahatan, ia yakin akan lebih tegas lagi seiring bertambahnya usia, sungguhan personifikasi boneka. &#xA;&#xA;&#34;Never been this insane.&#34;&#xA;&#xA;&#34;I think you should go to a therapist with me.&#34;&#xA;&#xA;Lagi-lagi Zio hanya tertawa. Ada gap tak kasat mata yang Zio jaga, mungkin karena mereka sedang tidak baik-baik saja, atau sebenarnya Atof yang tak baik. Kebanyakan, Atof merasa lega karena seseorang sungkan untuk mendekat, namun kali ini, muncul gelenyar tak nyaman. Mungkin karena ini juga mereka jadi begini. Saat Atof menurunkan kewaspadaan di sekitar Zio—karena ia tahu pemuda itu tak pernah punya niat buruk, Zio meresap ke celah-celah dirinya.&#xA;&#xA;“Can I touch you?&#34; tanyanya seakan tahu apa yang tengah Atof pikirkan, ia menjawab samar. &#xA;&#xA;Jemari itu pada akhirnya berani mendarat di pipinya, mengelusnya vertikal dengan ibu jari. Atof yakin masih ada sisa efek obat yang ia tenggak karena dirinya kembali mengantuk. &#xA;&#xA;“Touching you like this still feels like a dream,” suara Zio lebih hening dari bunyi pendingin ruangan yang berdengung tak berarti. Ujung jarinya kali ini lebih dingin dari suhu tubuh Atof.&#xA;&#xA;“You dream about me?”&#xA;&#xA;“Once in a while, in my dream you are like this.”&#xA;&#xA;“I’m still bad even though it’s in a dream.”&#xA;&#xA;“No, you’re just you,” jemari Zio turun ke lehernya, menekan nadinya yang berdetak, lalu mengelusnya. “You know I bought my first guitar because of you.”&#xA;&#xA;Pupil Atof sejenak melebar, “Tell me more.”&#xA;&#xA;“Pas SMP, gue ikut ekskul musik meskipun nggak punya gitar. Akhirnya, pembina ekskulnya—dia juga guru matematika—minjemin gitar ke gue, gitarnya full sticker. Rasanya nostalgia pas beliau cerita karena setiap sticker punya kenangan. Setelah itu, gue izin nambahin beberapa sticker juga. Waktu SMA, akhir tahun 2016 gue balikin gitarnya karena udah beli yang baru—” Zio menjeda kalimatnya hanya untuk tersenyum, “Do you remember what you said when you were seventeen in one of interviews?”&#xA;&#xA;Atof menaikkan kedua alisnya tidak tahu apa yang Zio maksud. Kebanyakan apa yang ia katakan saat wawancara hanya gagasan selewat saat itu juga, atau ia tak sengaja mengutip sesuatu yang pernah ia baca, atau justru nilai hidup yang Atof tancap dalam dirinya tanpa sadar. Apa pun itu, mungkin ujarannya lebih berharga bagi Zio dibandingkan dirinya sendiri.&#xA;&#xA;“You said people need to be desperate for their goals,” Zio mengucapkan itu dengan nada paling filosofis meski Atof tidak ingat ia pernah mengatakannya. Masalahnya, Atof memang hobi melupakan masa lalu. &#xA;&#xA;“Saking desperate-nya waktu itu, gue beli gitar pake uang les buat naik level di EF.” &#xA;&#xA;“You’re fearless, Zio.”&#xA;&#xA;Alunan tawa hampir tak bersuara milik Zio kembali mengudara, “Kalau gue berani, gue nggak akan jadi obedient kid yang ambil arsitektur karena Ayahnya, gue cupu.”&#xA;&#xA;Atof tidak pernah berpikir demikian, namun mungkin Zio punya definisi tersendiri untuk kata tersebut. Hidup memang begitu, sudut pandang orang lain sering tak sama dengan apa yang sebenarnya terjadi. &#xA;&#xA;Pergerakan jemari Zio kini berpindah ke daun telinganya. “Gue kepikiran piercing, sakit nggak pas pertama?”&#xA;&#xA;“No, it felt like a pinch and the pain is fully fade within a week, just try.”&#xA;&#xA;“My father will be angry.&#34;&#xA;&#xA;“He will, but he’ll forgive you.”&#xA;&#xA;“How do you know? Are you my Dad?&#34;&#xA;&#xA;Kini Atof yang terkekeh, “You’ll be unstoppable if it’s not because of your parents.”&#xA;&#xA;“That’s why, orang tua gue punya firasat kali makanya strict,” katanya. &#xA;&#xA;“Lo dilarang aja nekad beli gitar, Zi.”&#xA;&#xA;“Lo motivasi sih.”&#xA;&#xA;“Kenapa jadi salah gue?”&#xA;&#xA;“Hahaha, tapi ada satu mainan yang orang tua gue beliin tanpa pikir dua kali: Lego, kalau mainan lain kadang nggak dikasih—kayaknya karena Lego bikin sibuk, ngajak sabar, dan mikir juga. Ayah asumsi gue mau jadi arsitek karena itu mungkin, sekarang jadi nggak suka Lego.&#34;&#xA;&#xA;Ingatan Atof ditarik kembali pada gantungan Lego di kunci mobil Zio saat mengendarainya tempo hari; saat bandnya ikut kompetisi pertama, juga saat Zio menciumnya. Ia pun mengingat salah satu foto susunan lego di laman Instagram pribadi Zio.&#xA;&#xA;Tidak ada yang menyimpan hal yang tak ia suka. Zio bukan tidak menyukai Lego.&#xA;&#xA;“Kalau Kak Atof?”&#xA;&#xA;“Apa?”&#xA;&#xA;“Suka main apa pas kecil?”&#xA;&#xA;Atof menggeleng karena ia tidak ingat, atau sengaja melupakannya, atau karena memang tidak ada? Sejak dulu dirinya hanya hidup beriringan dengan musik, ia tak tahu apa yang bisa ia kenang selain itu. Lagi pula potongan memori kecilnya lebih banyak kejadian menyakitkan, bahkan kenangan saat orang tuanya menggenggam tangannya menyekat tenggorokan. Atof ingin hidup tanpa masa lalu agar ia tidak sepengecut ini.&#xA;&#xA;“Kapan-kapan kita nyusun Lego bareng.”&#xA;&#xA;Kontradiksi dari kalimat sebelumnya, ternyata Zio sungguhan masih suka menyusun Lego yang diasosiasikan dengan Ayahnya. Sebab sebanyak apa pun rasa tidak suka manusia pada seseorang, ketika orang itu memberikan sesuatu yang membuat mereka tetap merasa hidup, mereka terus akan berpegangan pada hal tersebut. &#xA;&#xA;Ternyata mereka sama saja. Zio dengan Legonya meski tak ingin jadi arsitek seperti Ayah, Atof dengan musiknya meski orang bilang ia jenius karena darah orang tua yang tak ingin ia ingat wajahnya.&#xA;&#xA;“Gue umur lima pas pertama kali main piano,” bisiknya. “It was the very first time I saw my parents fought too, very unpleasant.”&#xA;&#xA;Zio menekan bibirnya sendiri hingga membentuk garis lurus, tampak merasa tak enak. “Don&#39;t tell me if it makes you sad, it&#39;s okay.&#34;&#xA;&#xA;“No, I am used to it, it&#39;s fine.”&#xA;&#xA;Atof mulai berdongeng seolah itu bukan cerita hidupnya. Mengalir dari lidahnya tentang keributan yang terjadi di rumah, kemudian perang dingin, lalu Mamanya yang angkat kaki dengan mulai mengepak barang perlahan-lahan. Juga tentang Fur Elise. Tentang wanita Papanya yang suka bermalam di rumah. Tentang rapor hasil studinya yang tak pernah penting menurut orang tuanya. Tentang Atof yang tergelincir di hutan saat camping namun orang tuanya tak datang meski ia harus ke rumah sakit. Tentang genggaman tangan Papanya yang terasa dingin meski sudut bibirnya selalu naik untuknya. Tentang senyumnya yang terlatih saat kolega Papanya mengajak berbincang. Tentang Mamanya yang menemukan orang baru dan membentuk keluarga tanpa Atof, dan Mas Althaf. &#xA;&#xA;Kemudian, tentang Atof di usia delapan, sembilan, sepuluh, sebelas, dua belas … tentang repetisi mimpi mengenai orang tua yang selalu membuatnya tak bisa tidur. Tentang dirinya yang lelah dengan mimpi tersebut hingga mendorongnya menelan obat yang justru membuatnya tak sadar diri. Tentang Tom, Lana, Guntur, dan The Riot yang dulu ia anggap tempat pulang. Tentang heroine injection, excimer, tramadol, dan nama-nama lain yang tak Atof hapalkan. Tentang piercing telinga kanan, kemudian telinga kiri. Tentang seks yang tak pernah membuatnya bebas, justru merasa hampa. Tentang—&#xA;&#xA;Ia terkekeh miris, “Nggak asik, kan? Nggak kayak Jordan yang nangis karena nggak mau ditinggal Mamah pas TK.”&#xA;&#xA;Zio menggeleng, seiring perjalanan cerita napasnya perlahan berubah menjadi tarikan yang tersendat. Jemarinya menyeka air yang tak henti mengalir menyamping menuju pangkal hidungnya sendiri, lantas turun hingga ke pelipis. Kulit putih Zio memerah, rambutnya lembab. Atof membantu menghapus bulir air lain saat ikut turun.  &#xA;&#xA;“Capek ya?” gumamnya begitu lirih. &#xA;&#xA;Atof tak gemar melihat sorot sendu yang muncul karena dirinya, namun Zio seolah hanya bertanya hal biasa. Akan tetapi sebenarnya pertanyaan itu terasa asing karena ia jarang mendapatkannya. Kadang Atof merasa baik-baik saja, dan seolah memiliki ratusan mimpi yang ingin ia raih, kadang ia merasa tak punya apa-apa; hampa, dan tak bermakna, kadang juga ia hidup seperti komputer yang diprogram melakukan rutinitas, kadang ia ingin tidak ada. Yang mana yang harus Atof ucapkan jika ia ingin jujur?&#xA;&#xA;Sampai pada akhirnya ia hanya membisu, namun Atof berharap sekali ini Zio mampu membaca matanya, sebab sejak dulu Zio berhasil menebaknya.&#xA;&#xA;Pemuda itu merentangkan tangan, menyambutnya untuk datang ke dekapan. Zio mengelus rambutnya ketika ia mulai bersandar. &#34;I can&#39;t promise tomorrow will be a better day, but let&#39;s try?”&#xA;&#xA;Atof semakin melesakkan kepalanya di dada Zio. Berusaha mengatur napasnya yang mulai keluar setengah-setengah karena tenggorokannya terasa berduri, dan paru-parunya dipenuhi kerikil. &#xA;&#xA;Nyatanya sekuat apa pun Atof mengokohkan diri, berpikir  bahwa memori masa kecilnya sudah tak banyak berdampak ketika ia ceritakan. Ia tetap merasa kerdil, hanya remaja berusia 19 tahun yang terjebak dalam kotak saat umurnya masih lima.&#xA;&#xA;Detak jantung Zio di telinganya seperti ketukan metronom; teratur, dan menghipnotis. Berhasil membuat napasnya kembali stabil. Ia memejamkan matanya menghirup aroma pelembut pakaian dari kemeja biru langit yang Zio kenakan, serta harum tubuhnya yang sudah amat familier di saraf. &#xA;&#xA;Kepalanya yang berdenyut dipijat dengan lembut. Atof tidak ingat kapan terakhir kali seseorang mengusap rambutnya, tengkuknya, telinganya, menyentuhnya dengan hati-hati, menyelimutinya dengan kasih. Atau sebenarnya memori itu memang tak pernah ada sebelumnya?&#xA;&#xA;“Baby, thank you for growing up so well.”&#xA;&#xA;Kalimat itu jadi pelatuk terakhir, ia kian mengepal bagian punggung pakaian yang Zio kenakan. Semakin menyurukkan diri, menahan suaranya untuk keluar karena masih tersisa rasa malu, namun perlahan baju Zio basah meski dalam hening.&#xA;&#xA;Pertahanan terakhirnya luruh. Zio ikut luruh bersamanya.&#xA;&#xA;(C) litamateur]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><strong>tags</strong>: ±3200 words, markno, cw self-harm (self-starvation, misusing drugs), very brief passive suicidal thoughts, mental health issues, dysfunctional family, hurt/comfort</p></blockquote>

<p><strong>notes</strong>: beware of the content warning, there is nothing explicit here but please proceed with caution, if you find it triggers your trauma, i advise you to leave the page.</p>

<hr>

<h2 id="all-the-kids-are-depressed" id="all-the-kids-are-depressed">All the kids are depressed</h2>



<p><br></p>

<p><br></p>

<p><em>The Riot left.</em></p>

<p><em>You don’t have any friends left.</em></p>

<p><em>Your parents left.</em></p>

<p><em>Karena diri lu sendiri.</em></p>

<p>Apa yang mantan manajer Atof katakan terus berdering di telinga seolah ingin menulikannya.</p>

<p>Sejak awal Atof memang berpikir ia terlalu rumit untuk ditangani, entah sebagai anak, teman, atau kolega. Dan ketika seseorang memberitahunya lagi dengan perkataan mereka bahwa semua orang pergi karena dirinya sendiri, ia menyadari perkara itu lebih sering bergaung di kepalanya dari tiap ujaran yang dilayangkan. </p>

<p><em>He is too much? He knows, that’s why everyone leaves? He tries not to think about it.</em> </p>

<p><strong><em>But he can’t.</em></strong></p>

<p>Terapisnya pernah mengatakan bahwa apa yang terjadi pada hidup orang bisa disebabkan oleh faktor internal, seperti diri sendiri (perilaku, dan pola pikir), atau eksternal dari orang lain dan lingkungan. Dan apa-apa yang terjadi dalam hidup Atof kebanyakan dari luar, lantas respons trauma Atof akan melakukan pertahanan diri. Entah itu hanya untuk menghibur Atof, atau memang sebuah kebenaran. Akan tetapi Atof sudah hidup di neraka yang dibuat khusus untuknya bertahun-tahun, dan kalimat itu tak bisa lagi jadi angin sejuk. Ia lebih memilih untuk tak mengambil resiko, dan membakar lagi dirinya yang sudah jadi abu. Ia merasa lebih baik mengunci dirinya sendiri dalam sebuah kotak yang sulit ditembus daripada perasaannya dipengaruhi orang lain.</p>

<p>Atof pertama kali belajar piano ketika ia berumur lima. Bukan karena keinginannya, namun ia digiring oleh Althaf ke satu ruang di rumah dimana seruan lantang semakin menghilang frekuensinya sebab jarak. Althaf duduk di hadapan <em>grand piano</em> yang sudah ada di sana sejak Atof memiliki memori di kepalanya, mengisyaratkan Atof untuk duduk di sisinya. Kakak laki-lakinya itu, Mas Althaf yang menjadi mahasiswa di salah satu institut seni, tersenyum pada Atof, tidak sampai ke ujung bibir. Ia memainkan beberapa lagu yang tak mampu Atof telaah nadanya, jari-jarinya berpindah lihai membuat Atof bertepuk tangan dengan meriah. </p>

<p>Hari itu, pertama kalinya Atof menekan tuts piano untuk memenuhi ruang dengan suara yang lebih menyenangkan, menyamarkan amarah yang meledak di ruang lain. Atof memainkan melodi lagu Twinkle Little Star dituntun Althaf. Ada air mata menggenang di mata Althaf, namun ia tertawa ketika jari-jari kecil Atof melompat ke sana-sini untuk menekan tuts dengan semangat mengikuti apa yang ia instruksikan. Usia mereka terpaut lima belas tahun, Atof merasa Althaf adalah sosok yang sangat nyaman untuk jadi sandaran, tanpa mengetahui fakta bahwa Kakaknya melewatkan kesempatan berkuliah di luar negeri hanya untuk menemaninya di rumah.</p>

<p>Usai kejadian itu, Atof selalu digiring ke sana, bahkan Althaf kadang kala membawa teman kuliahnya yang suka anak kecil. Atof pernah tak sengaja menguping ketika Althaf ikut berseru, “<em>For God&#39;s sake, Atof is five</em>,” atau, “<em>Don’t let Atof see your fight</em>,” pada orang tuanya. Kadang suara orang tuanya membuat Atof berjengit kaget, dan takut. Anehnya ia tidak menangis, tapi ia tak berani menyuruh mereka untuk berhenti. Sebab Atof tidak pernah dekat dengan Papanya karena ia tak pernah pulang. Sedang Mamanya tak pernah ingin melihat Atof beberapa bulan terakhir, entah kenapa. </p>

<p>Mereka mulai jadi orang asing yang hidup satu rumah. Mungkin Mamanya sudah tidak tahu jika Atof mulai tak suka susu <em>vanilla</em> karena merasa mual tiap meminumnya. </p>

<p>Fur Elise jadi lagu yang tak pernah Atof mainkan lagi usai Mamanya hanya diam seribu bahasa ketika ia mempersembahkan lagu itu untuknya.</p>

<p>Nyaris enam bulan untuk menyempurnakan permainan, Atof menghitung, sampai lagu itu menghantui dan masuk ke dalam mimpinya. Akan tetapi tidak ada tepuk tangan bangga sesuai apa yang anak umur lima tahun harapkan.</p>

<p>“Kamu mirip banget sama Papa,” kata Mamanya lirih dengan senyum menyedihkan. Mamanya keluar ruangan, membuat Atof terdiam di kursi piano, bola matanya bergerak mengikuti kepergiannya.</p>

<p>Anehnya, Atof tidak menangis atau tantrum seperti anak seumurannya. Ia hanya membalik halaman buku musik dengan kumpulan lagu untuk pemula. Menenggelamkan emosinya dengan menekan tuts. Ia pikir mungkin ia salah memilih lagu.</p>

<p>Umurnya enam tahun ketika semuanya sungguhan dimulai.</p>

<p>Papanya pulang dari Paris usai memboyong orkestranya ke kancah internasional. Menjadi konduktor yang disegani ketika kembali. Sangat mentereng hingga keluarganya disorot oleh kolega sang Papa, dan Atof salah satunya. </p>

<p>Atof mulai lebih dekat dengan Papa karena diajak pergi ke mana-mana. Dipamerkan dengan bangga seperti piala bergilir. Ketika Papanya berbohong bahwa Mama yang mengajarkannya bermain piano Atot ingin menyela namun tak mampu. Ketika Papanya bilang bahwa ia bercita-cita jadi konduktor seperti dirinya, Atof menggigit bagian dalam mulutnya. Ia merasa tidak masalah, lagi pula ia jadi dekat dengan Papanya. Sang Papa akan tersenyum pada Atof, menggiringnya ke acara dengan banyak makanan meskipun genggaman tangannya terasa dingin.</p>

<p>“Papa keterlaluan manfaatin anak sendiri. Kenapa bukan aku? Kenapa mesti Atof yang masih kecil?” Althaf  mengatakan itu di satu malam saat Atof baru saja pulang. Merangkung di hadapannya, memeluknya dengan erat. </p>

<p>Akhir-akhir ini, mata mas Althaf selalu berkaca-kaca. </p>

<p>“Jaga bicara kamu, ini buat Atof. Kalau Papa berhasil, kamu juga lebih mudah.”</p>

<p>Papanya pergi lagi setelah mengantarkan Atof pulang, tak pernah menyapa Mamanya. Mereka hanya akan berkumpul berempat jika ada acara penting, menjaga reputasi. Hidup dalam topeng yang dibuat Papanya cukup lama, Mamanya bersedia berpartisipasi sebagai persyaratan sebelum bercerai. </p>

<p>Atof selalu bertanya-tanya apa yang salah dari Atof? Apa yang tidak Atof ketahui? Mengapa Mamanya semakin tak terjangkau dari hari ke hari?</p>

<p>Sampai pada akhirnya Papa tak sungkan lagi membawa wanita baru ke rumah. </p>

<p>Atof berpura-pura tersenyum saat disapa karena sudah diajarkan dengan baik. Memukul drum dengan asal-asalan ketika ditinggal sendiri, hingga <em>stick</em>-nya patah. </p>

<p>Sejak awal Atof memang tumbuh dengan sandiwara, pada dirinya sendiri, dan orang lain. Sampai ia tidak tahu mana emosinya yang nyata. </p>

<p>Ironi, hidupnya begitu menarik untuk ukuran anak sekolah dasar. Atof ingin tidur saja, <em>tiduuuuur</em> yang panjang sampai ia tak pernah bisa membuka mata. </p>

<p>Rasanya akan lebih baik jika ia tidak bangun saja.</p>

<p>Atof terbangun karena merasa mimpinya terlalu nyata. Menghela napas karena lagi-lagi memori tak menyenangkan yang jadi bunga tidur. Kepalanya pusing usai lebih dari 22 jam terlelap, badannya pegal setengah mati meski hanya dibawa berbaring. Botol obat terbuka dari terapisnya jatuh dari nakas saat ia berusaha meraih ponsel. Sisa tabletnya yang hanya segelintir melompat keluar, terlalu cepat habis karena kemarin ditenggak melebihi dosis anjuran.</p>

<p>Ia menggulir ponselnya yang nyaris tak berfungsi karena habis daya. Tumpukan notifikasi ia baca satu-persatu. Ia berbohong pada Yunita, dan Dylan dalam teksnya agar mereka tidak khawatir, lagi pula ini hanya tentang Atof dan masalah mentalnya. </p>

<p>Rasanya akan lebih baik jika ia tidak bangun saja.</p>

<p>Langit-langit kamarnya tidak menarik untuk dipandang.</p>

<p>Kadang Atof merasa ia terlalu mendramatisir hidup, namun suara di kepalanya sangat berisik bak mengejeknya bahwa ia memang tidak waras.</p>

<p>Atof menyeret kakinya ke kamar mandi, mengambil makanan yang disediakan oleh Yunita di depan pintu dengan dada tak nyaman karena perasaan bersalah. Kemudian, ia berbelok ke studionya hanya untuk duduk menatap layar laptop yang mati merefleksikan wajahnya. </p>

<p>Matanya kosong.</p>

<p>Ini pukul tujuh malam, Atof tertawa miring melihat wajahnya sendiri. Lumayan takjub bisa bertahan 19 tahun dengan keadaan merasa tak ingin hidup. Atau sebenarnya Atof ingin hidup, namun bukan hidup yang ini. Ia melanjutkan lagunya karena tak ada lagi yang bisa Atof lakukan untuk mengalihkan pikirannya. Saat jam sepuluh pagi, ia kembali ke kamarnya untuk tidur. Menenggak obat, agar tak bermimpi sama sekali.</p>

<p>Rasanya akan lebih baik jika ia tidak bangun saja.</p>

<p>Akan tetapi lagi-lagi ia terjaga sebab kasurnya melendut seperti ada beban baru meskipun ia sendirian. Langit-langit kamarnya masih sama tidak menariknya meski ia sorot jutaan kali, namun ekor matanya menemukan seonggok tubuh manusia di ranjang. Ia berbalik, mengerjapkan mata berkali-kali merasa disorientasi dan melantur.</p>

<p>Rasanya baru sebentar ia tertidur, bukankah lebih baik jika ia tidak bangun saja?</p>

<p>“Hai,” sapanya seraya menguap.</p>

<p>“<em>Why are you here</em>?” tanya Atof bingung dengan suara serak bangun tidur. Zio meraih botol air minum yang tiba-tiba ada di nakas, menyerahkan padanya.</p>

<p>“Karena mau di sini.” </p>

<p>Lagi-lagi Atof mengerjapkan matanya linglung, kepalanya berdenyut. Beberapa teguk air pada akhirnya mampu mengembalikan sedikit kesadaran, dan membasahi kerongkongan yang sekering gurun. Ia menerka sudah berapa jam ia terlelap setelah terakhir kali bangun. Kamarnya gelap tidak dinyalakan. Tak ada perubahan sama sekali kecuali Zio yang tiba-tiba berbaring di sisinya, sepertinya ia tidur juga karena rambutnya lumayan masai.</p>

<p>“Temen lo udah ke sini tadi, gue gantian <em>shift</em> malem,” ujarnya sempat bercanda, tak mengenakan ekspresi kasihan, atau menyinggung apa pun yang Atof benci. “<em>Sorry</em> yang kemarin, <em>sorry</em> juga nggak izin ikut tidur di kasur.”</p>

<p>Ia menggeleng, “Jam berapa?”</p>

<p>“Delapan malem.” </p>

<p>“Latihannya gimana?”</p>

<p>“Pada latihan sendiri di studio,” jawab Zio. Ia hanya mengangguk, masih bingung mengapa Zio justru di sana daripada di studio. “Bangun yuk, temenin makan?”</p>

<p>Atof menilik Zio yang berwajah setengah mengantuk. Ingin bertanya banyak hal meski baru saja bangun tidur, sebab terlalu banyak kemelit yang bercokol di otaknya sejak lama dan tak ingin ia asumsikan tentang Zio, atau dirinya dan Zio.</p>

<p>Sejak kapan Zio seberani itu untuk melewati batas tak kasat mata yang ia punya? Atau sejak kapan mereka jadi begini? </p>

<p>Sejujurnya ia tahu jawabannya, ia hanya tak berani menyuarakannya karena jika kalimat itu bergulir di lidah semuanya akan terasa semakin nyata. </p>

<p>Jika Atof bukan Atof apa Zio akan begini? </p>

<p>“<em>Are you not … tired</em>?” </p>

<p>“<em>Of what</em>?”</p>

<p>Atof yakin Zio bisa memahami makna implisit yang terkandung dalam pertanyaannya. Namun pemuda tersebut selalu jadi yang paling berani di antara keduanya, tak ingin sembunyi, ingin membuat semuanya sebersih langit pagi tanpa mendung. Dan Atof, dia pengecut, mungkin. Benci terlihat rentan ketika jujur. Makanya banyak berpura-pura, khawatir, terlalu berpikir, dan pada akhirnya tetap bersembunyi dengan topeng <em>stoic</em>. </p>

<p>“<em>I don’t know … everything—” —me</em>, Atof sangat ingin bertanya.</p>

<p>Seseorang yang selalu bersahabat dengan kepura-puraan, tidak akan pernah terbiasa dengan Zio yang selalu mengungkapkan isi hatinya. Lagi-lagi, Zio menjawabnya dengan lantang. </p>

<p>“<em>No</em>.”</p>

<p>Ia terbungkam.</p>

<p>Kepala Atof tidak akan pernah mampu memformulasikan pikiran Zio, mungkin otaknya agak korsleting. Sebab Atof pun mengerti, ini Zio yang tak ada celahnya. Jika Atof berada di sisinya, ia adalah celahnya.</p>

<p>Sebab Atof <em>begini</em>, terlelap dua hari karena ansietas memakan kewarasannya. Sedang Zio … apa yang Zio cari dari orang seperti Atof setelah tahu bahwa megahnya Atof di layar dulu berbanding terbalik dengan kenyataannya? </p>

<p>Sebab jika pada akhirnya Zio tak memilih Atof pun, tak akan ada yang sanggup memilih Atof.</p>

<p>“<em>Are you insane</em>?” tanyanya, mengundang kekeh ringan. Zio menyengir memperlihatkan gigi-giginya yang rapi, matanya membentuk bulan sabit. Atof sudah terlalu sering melihat pemuda itu dari jarak pandang sedekat ini, namun tak pernah tak membuatnya terkesima. Ia lebih suka saat Zio terpejam karena bulu matanya berjajar lentik, dengan landang di bawah mata jadi aksen. Kulitnya lembut, Atof penasaran apa Zio rutin menggunakan <em>skincare</em>. Hidungnya bangir dengan rahang tegas seperti pahatan, ia yakin akan lebih tegas lagi seiring bertambahnya usia, sungguhan personifikasi boneka. </p>

<p>“<em>Never been this insane</em>.”</p>

<p>“<em>I think you should go to a therapist with me</em>.”</p>

<p>Lagi-lagi Zio hanya tertawa. Ada gap tak kasat mata yang Zio jaga, mungkin karena mereka sedang tidak baik-baik saja, atau sebenarnya Atof yang tak baik. Kebanyakan, Atof merasa lega karena seseorang sungkan untuk mendekat, namun kali ini, muncul gelenyar tak nyaman. Mungkin karena ini juga mereka jadi begini. Saat Atof menurunkan kewaspadaan di sekitar Zio—karena ia tahu pemuda itu tak pernah punya niat buruk, Zio meresap ke celah-celah dirinya.</p>

<p>“<em>Can I touch you</em>?” tanyanya seakan tahu apa yang tengah Atof pikirkan, ia menjawab samar. </p>

<p>Jemari itu pada akhirnya berani mendarat di pipinya, mengelusnya vertikal dengan ibu jari. Atof yakin masih ada sisa efek obat yang ia tenggak karena dirinya kembali mengantuk. </p>

<p>“<em>Touching you like this still feels like a dream</em>,” suara Zio lebih hening dari bunyi pendingin ruangan yang berdengung tak berarti. Ujung jarinya kali ini lebih dingin dari suhu tubuh Atof.</p>

<p>“<em>You dream about me?</em>”</p>

<p>“<em>Once in a while, in my dream you are like this.</em>”</p>

<p>“<em>I’m still bad even though it’s in a dream.</em>”</p>

<p>“<em>No, you’re just you</em>,” jemari Zio turun ke lehernya, menekan nadinya yang berdetak, lalu mengelusnya. “<em>You know I bought my first guitar because of you</em>.”</p>

<p>Pupil Atof sejenak melebar, “<em>Tell me more</em>.”</p>

<p>“Pas SMP, gue ikut ekskul musik meskipun nggak punya gitar. Akhirnya, pembina ekskulnya—dia juga guru matematika—minjemin gitar ke gue, gitarnya <em>full sticker</em>. Rasanya nostalgia pas beliau cerita karena setiap <em>sticker</em> punya kenangan. Setelah itu, gue izin nambahin beberapa <em>sticker</em> juga. Waktu SMA, akhir tahun 2016 gue balikin gitarnya karena udah beli yang baru—” Zio menjeda kalimatnya hanya untuk tersenyum, “<em>Do you remember what you said when you were seventeen in one of interviews</em>?”</p>

<p>Atof menaikkan kedua alisnya tidak tahu apa yang Zio maksud. Kebanyakan apa yang ia katakan saat wawancara hanya gagasan selewat saat itu juga, atau ia tak sengaja mengutip sesuatu yang pernah ia baca, atau justru nilai hidup yang Atof tancap dalam dirinya tanpa sadar. Apa pun itu, mungkin ujarannya lebih berharga bagi Zio dibandingkan dirinya sendiri.</p>

<p>“<em>You said people need to be desperate for their goals</em>,” Zio mengucapkan itu dengan nada paling filosofis meski Atof tidak ingat ia pernah mengatakannya. Masalahnya, Atof memang hobi melupakan masa lalu. </p>

<p>“Saking <em>desperate</em>-nya waktu itu, gue beli gitar pake uang les buat naik level di EF.” </p>

<p>“<em>You’re fearless</em>, Zio.”</p>

<p>Alunan tawa hampir tak bersuara milik Zio kembali mengudara, “Kalau gue berani, gue nggak akan jadi <em>obedient kid</em> yang ambil arsitektur karena Ayahnya, gue cupu.”</p>

<p>Atof tidak pernah berpikir demikian, namun mungkin Zio punya definisi tersendiri untuk kata tersebut. Hidup memang begitu, sudut pandang orang lain sering tak sama dengan apa yang sebenarnya terjadi. </p>

<p>Pergerakan jemari Zio kini berpindah ke daun telinganya. “Gue kepikiran <em>piercing</em>, sakit nggak pas pertama?”</p>

<p>“<em>No, it felt like a pinch and the pain is fully fade within a week, just try</em>.”</p>

<p>“<em>My father will be angry.</em>“</p>

<p>“<em>He will, but he’ll forgive you</em>.”</p>

<p>“<em>How do you know? Are you my Dad?</em>“</p>

<p>Kini Atof yang terkekeh, “<em>You’ll be unstoppable if it’s not because of your parents.</em>”</p>

<p>“<em>That’s why</em>, orang tua gue punya firasat kali makanya <em>strict</em>,” katanya. </p>

<p>“Lo dilarang aja nekad beli gitar, Zi.”</p>

<p>“Lo motivasi sih.”</p>

<p>“Kenapa jadi salah gue?”</p>

<p>“Hahaha, tapi ada satu mainan yang orang tua gue beliin tanpa pikir dua kali: Lego, kalau mainan lain kadang nggak dikasih—kayaknya karena Lego bikin sibuk, ngajak sabar, dan mikir juga. Ayah asumsi gue mau jadi arsitek karena itu mungkin, sekarang jadi nggak suka Lego.”</p>

<p>Ingatan Atof ditarik kembali pada gantungan Lego di kunci mobil Zio saat mengendarainya tempo hari; saat bandnya ikut kompetisi pertama, juga saat Zio menciumnya. Ia pun mengingat salah satu foto susunan lego di laman Instagram pribadi Zio.</p>

<p>Tidak ada yang menyimpan hal yang tak ia suka. Zio bukan tidak menyukai Lego.</p>

<p>“Kalau Kak Atof?”</p>

<p>“Apa?”</p>

<p>“Suka main apa pas kecil?”</p>

<p>Atof menggeleng karena ia tidak ingat, atau sengaja melupakannya, atau karena memang tidak ada? Sejak dulu dirinya hanya hidup beriringan dengan musik, ia tak tahu apa yang bisa ia kenang selain itu. Lagi pula potongan memori kecilnya lebih banyak kejadian menyakitkan, bahkan kenangan saat orang tuanya menggenggam tangannya menyekat tenggorokan. Atof ingin hidup tanpa masa lalu agar ia tidak sepengecut ini.</p>

<p>“Kapan-kapan kita nyusun Lego bareng.”</p>

<p>Kontradiksi dari kalimat sebelumnya, ternyata Zio sungguhan masih suka menyusun Lego yang diasosiasikan dengan Ayahnya. Sebab sebanyak apa pun rasa tidak suka manusia pada seseorang, ketika orang itu memberikan sesuatu yang membuat mereka tetap merasa hidup, mereka terus akan berpegangan pada hal tersebut. </p>

<p>Ternyata mereka sama saja. Zio dengan Legonya meski tak ingin jadi arsitek seperti Ayah, Atof dengan musiknya meski orang bilang ia jenius karena darah orang tua yang tak ingin ia ingat wajahnya.</p>

<p>“Gue umur lima pas pertama kali main piano,” bisiknya. “<em>It was the very first time I saw my parents fought too, very unpleasant.</em>”</p>

<p>Zio menekan bibirnya sendiri hingga membentuk garis lurus, tampak merasa tak enak. “<em>Don&#39;t tell me if it makes you sad, it&#39;s okay</em>.”</p>

<p>“<em>No, I am used to it, it&#39;s fine</em>.”</p>

<p>Atof mulai berdongeng seolah itu bukan cerita hidupnya. Mengalir dari lidahnya tentang keributan yang terjadi di rumah, kemudian perang dingin, lalu Mamanya yang angkat kaki dengan mulai mengepak barang perlahan-lahan. Juga tentang Fur Elise. Tentang wanita Papanya yang suka bermalam di rumah. Tentang rapor hasil studinya yang tak pernah penting menurut orang tuanya. Tentang Atof yang tergelincir di hutan saat <em>camping</em> namun orang tuanya tak datang meski ia harus ke rumah sakit. Tentang genggaman tangan Papanya yang terasa dingin meski sudut bibirnya selalu naik untuknya. Tentang senyumnya yang terlatih saat kolega Papanya mengajak berbincang. Tentang Mamanya yang menemukan orang baru dan membentuk keluarga tanpa Atof, dan Mas Althaf. </p>

<p>Kemudian, tentang Atof di usia delapan, sembilan, sepuluh, sebelas, dua belas … tentang repetisi mimpi mengenai orang tua yang selalu membuatnya tak bisa tidur. Tentang dirinya yang lelah dengan mimpi tersebut hingga mendorongnya menelan obat yang justru membuatnya tak sadar diri. Tentang Tom, Lana, Guntur, dan The Riot yang dulu ia anggap tempat pulang. Tentang <em>heroine injection</em>, excimer, tramadol, dan nama-nama lain yang tak Atof hapalkan. Tentang <em>piercing</em> telinga kanan, kemudian telinga kiri. Tentang seks yang tak pernah membuatnya bebas, justru merasa hampa. Tentang—</p>

<p>Ia terkekeh miris, “Nggak asik, kan? Nggak kayak Jordan yang nangis karena nggak mau ditinggal Mamah pas TK.”</p>

<p>Zio menggeleng, seiring perjalanan cerita napasnya perlahan berubah menjadi tarikan yang tersendat. Jemarinya menyeka air yang tak henti mengalir menyamping menuju pangkal hidungnya sendiri, lantas turun hingga ke pelipis. Kulit putih Zio memerah, rambutnya lembab. Atof membantu menghapus bulir air lain saat ikut turun.  </p>

<p>“Capek ya?” gumamnya begitu lirih. </p>

<p>Atof tak gemar melihat sorot sendu yang muncul karena dirinya, namun Zio seolah hanya bertanya hal biasa. Akan tetapi sebenarnya pertanyaan itu terasa asing karena ia jarang mendapatkannya. Kadang Atof merasa baik-baik saja, dan seolah memiliki ratusan mimpi yang ingin ia raih, kadang ia merasa tak punya apa-apa; hampa, dan tak bermakna, kadang juga ia hidup seperti komputer yang diprogram melakukan rutinitas, kadang ia ingin tidak ada. Yang mana yang harus Atof ucapkan jika ia ingin jujur?</p>

<p>Sampai pada akhirnya ia hanya membisu, namun Atof berharap sekali ini Zio mampu membaca matanya, sebab sejak dulu Zio berhasil menebaknya.</p>

<p>Pemuda itu merentangkan tangan, menyambutnya untuk datang ke dekapan. Zio mengelus rambutnya ketika ia mulai bersandar. “<em>I can&#39;t promise tomorrow will be a better day, but let&#39;s try</em>?”</p>

<p>Atof semakin melesakkan kepalanya di dada Zio. Berusaha mengatur napasnya yang mulai keluar setengah-setengah karena tenggorokannya terasa berduri, dan paru-parunya dipenuhi kerikil. </p>

<p>Nyatanya sekuat apa pun Atof mengokohkan diri, berpikir  bahwa memori masa kecilnya sudah tak banyak berdampak ketika ia ceritakan. Ia tetap merasa kerdil, hanya remaja berusia 19 tahun yang terjebak dalam kotak saat umurnya masih lima.</p>

<p>Detak jantung Zio di telinganya seperti ketukan metronom; teratur, dan menghipnotis. Berhasil membuat napasnya kembali stabil. Ia memejamkan matanya menghirup aroma pelembut pakaian dari kemeja biru langit yang Zio kenakan, serta harum tubuhnya yang sudah amat familier di saraf. </p>

<p>Kepalanya yang berdenyut dipijat dengan lembut. Atof tidak ingat kapan terakhir kali seseorang mengusap rambutnya, tengkuknya, telinganya, menyentuhnya dengan hati-hati, menyelimutinya dengan kasih. Atau sebenarnya memori itu memang tak pernah ada sebelumnya?</p>

<p>“<em>Baby, thank you for growing up so well</em>.”</p>

<p>Kalimat itu jadi pelatuk terakhir, ia kian mengepal bagian punggung pakaian yang Zio kenakan. Semakin menyurukkan diri, menahan suaranya untuk keluar karena masih tersisa rasa malu, namun perlahan baju Zio basah meski dalam hening.</p>

<p>Pertahanan terakhirnya luruh. Zio ikut luruh bersamanya.</p>

<p>© litamateur</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://wordsmith.social/be-my-escape/be-my-escape-8wd5</guid>
      <pubDate>Fri, 14 Oct 2022 05:59:51 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>BE MY ESCAPE</title>
      <link>https://wordsmith.social/be-my-escape/be-my-escape-02cw</link>
      <description>&lt;![CDATA[  tags: ±3,100 words, markno, nsfw: blow job, face fucking, come swallowing, dom/sub undertones, fluff, hurt/comfort at the end of the story&#xA;&#xA;notes: in case you don&#39;t know what does producer tag mean that will be mentioned throughout the story, please read this or watch this video. and support your local author by clicking this link!&#xA;&#xA;hr &#xA;!--more--&#xA;187. still friends, not lovers&#xA;&#xA;“Eh!”&#xA;&#xA;Atof menengadah kaget ketika ponsel yang tengah ia gunakan dirampas oleh seseorang. Kepalanya diantuk kepal tangan oleh Zio karena ditantang untuk menoyor. Memicu suara aw! sebagai reaksi, Atof mengusap kepalanya sendiri. Lantas Zio menghadiahkan toyoran kedua untuk bonus, Atof mengaduh membuatnya nyaris terbahak.&#xA;&#xA;“Ngapain beneran nyelem timeline Twitter orang?” hardik Zio. Ia bergerak tangkas ketika Atof ingin merebut ponselnya kembali. Mengangkat ponsel Atof tinggi-tinggi hingga ia berjinjit meskipun ia tahu bahwa pemuda itu bisa meraihnya. &#xA;&#xA;Atof tertawa ringan, &#34;You know I can take it, right?&#34; katanya, mulai bangkit dari posisinya yang duduk di ranjang. Namun Zio memindahkannya ponselnya ke tangan lain secepat kilat, berlari kecil ke luar kamar. Saat ia berada di ambang pintu, ia menjulurkan lidahnya, &#34;Maklum orang tua geraknya lama.&#34;&#xA;&#xA;Ekspresi Atof saat kalimat itu terlontar lumayan menyenangkan jadi pemandangan di pagi hari. Pemuda itu menunjuk-nunjuk Zio seraya menggeleng tak percaya. Namun Zio hanya menyeringai mengejeknya, tawa bernada cemooh tak bisa tak lepas. Dan sebab Atof punya ego tinggi tentu saja ia tahu-tahu berlari untuk menangkap Zio. Mereka mulai berkejaran mengitari apartemen hanya untuk berebut ponsel. Bunyi gerobok kaki dan ledak riang menghiasi akhir pekan itu. Mungkin tetangga apartemen Atof akan heran karena biasanya tempat itu jarang gaduh kecuali bunyi alat musik sesekali. &#xA;&#xA;Zio tidak pernah melihat Atof seramai itu sebelumnya. Jika ia harus berlari 10 km demi mendengar tawa lepas Atof, ia akan melakukannya. Kendati pada akhirnya, kakinya menyerah juga karena sejujurnya Zio tak berolahraga belakangan ini. Napasnya mulai ribut ditarik satu-satu sedang dadanya naik-turun. Tiba-tiba pergelangan tangannya dicengkeram kencang hingga ia berputar kaget.&#xA;&#xA;Atof … dia … napasnya juga berantakan, namun senyumnya menakjubkan. Mungkin Zio agak tolol jika ia ingin menangis, entah kenapa rasanya haru.&#xA;&#xA;“I got you,” kata Atof tertawa. Berusaha merogoh bagian belakang celana jeans Zio dimana ia menyimpan ponsel itu saat berlari. Posisi Atof setengah mendekapnya, wajahnya begitu dekat dengan Zio, membuatnya menegang kaku. Atof menjeling menyadari betapa kikuk Zio, semakin mendekatkan diri hingga dirinya menahan napas. Muncul dengus tawa tanpa suara dari Atof, napasnya berpendar hangat. Atof membubuhkan kecup kilat nan samar di sudut bibir Zio, lalu pergi—bak tak ada apapun yang terjadi—dan duduk di sofa.&#xA;&#xA;Sirkuit di kepala Zio berhenti, ia mematung selama beberapa detik. It&#39;s just a peck, but still, setiap Atof yang menginisiasi sesuatu, sebab dimotori oleh keinginannya sendiri; bukan karena diprakarsai Zio, rasanya lebih menyenangkan. Bekas cengkeraman Atof yang menyengat nan membakar pergelangan tangannya membuat Zio tersadar akan sesuatu. &#xA;&#xA;Mungkin sejak dulu Zio memang sudah sedikit jatuh cinta. Bukan karena ia penggemar Atof, namun sebab ia memang sudah melabuhkan rasa tanpa disadari. Maka dari itu, ia tetap tinggal di band meskipun mereka ribut besar saat latihan pertama kali. Pun membiarkan Atof bolak-balik ke kosnya dini hari. Pun mengajaknya belanja mengisi kulkas yang kosong, dan khawatir dengan pola makannya. Pun berjerih payah agar Atof dekat dengan seluruh anggota band sebelum ia berhenti. Pun dengan tindak-tanduk Zio yang kelewat baik bahkan menurut dirinya sendiri. &#xA;&#xA;Realisasi sungguhan menabraknya seperti truk. &#xA;&#xA;Ia membalik raganya cepat, memicu Atof yang sedang menekuri ponsel kini tengadah. Mata mereka bersirobok, Zio ingin mengurai arti segala tatapan, kalimat, gestur, sikap yang Atof berikan padanya. &#xA;&#xA;&#34;No, I got you,&#34; kata Zio untuk dirinya sendiri. &#xA;&#xA;Zio mencondongkan diri dan menangkup rahang Atof dengan kedua tangannya, membuat Atof semakin mendongak ketika bibir mereka berpaut. Tangan Atof menggerapai mencari pegangan karena setengah terkejut. Dari pergelangan tangan Zio, naik ke lengan, lantas bahu, kemudian turun mengelus sisi tubuhnya, sampai pada akhirnya bertengger di pinggang. Zio langsung dirangkul tatkala mengikis jarak yang tidak ada, naik ke atas sofa; ke pangkuan Atof untuk memperdalam ciuman hingga kepala Atof bersandar seutuhnya di kepala sofa.  &#xA;&#xA;Ini masih pagi—what the fuck. Bubur mereka pasti rasanya akan tak enak jika sudah dingin. Namun Zio sungkan menarik pagutan sebelum paru-parunya perlu dipasok oksigen. Sebab Atof menciumnya seperti ia menyentuhnya, tegas akan tetapi tidak memaksa, memberi ruang untuk Zio melepaskan diri. &#xA;&#xA;Saat Zio akhirnya menyerah, Atof dengan perlahan membuka kelopak matanya. Ya Tuhan, he is so pretty, walau dengan rambut yang mencuat sana-sini, bekas jerawat mengering di pipinya karena terlalu sering begadang, untungnya sudah mandi pagi. Pemandangan itu ingin Zio tancapkan di kening selamanya. &#xA;&#xA;Zio sangat amat sungguhan yakin bahwa ia sudah jatuh bebas.&#xA;&#xA;&#34;I like you–&#34; Zio membulatkan mata karena kalimatnya sendiri, &#34;I mean your band since your debut song, I dig all of The Riot&#39;s songs especially the ones with your producer tag.&#34;&#xA;&#xA;Jantung Zio rasanya hampir meledak karena kelepasan. Namun Atof hanya mengangkat kedua alisnya. &#34;Oh wow, really?&#34;&#xA;&#xA;Kepala Zio mengangguk mantap, &#34;for Talatof ... that&#39;s so sick. Gue penasaran kenapa for Talatof bukan from Talatof, because technically the songs are from you.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Now you&#39;re openly saying you are my biggest fan, padahal dulu pas dikejar nolak sampai cekik leher.&#34;&#xA;&#xA;Tawa ringan Zio mengudara, &#34;Gue beneran nggak mau ngeband, and if you forgot the memo, you were an asshole, masa ngajak ngeband nggak ada sopan-sopannya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;I&#39;m glad I was an asshole, I found that you are into choking.&#34;&#xA;&#xA;Telapak tangan Zio menangkup pipi Atof, namun kali ini tekanannya lebih keras hingga pipinya mencekung. &#34;That&#39;s not the topic, Baby.&#34;&#xA;&#xA;&#34;So it&#39;s a yes.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sayang, listen.&#34;&#xA;&#xA;&#34;I&#39;m one hundred percents listening.&#34;&#xA;&#xA;Atof mungkin tidak sadar bahwa telinganya sendiri memerah. Terlepas ia tampak tenang dan tak terkesiap sama sekali mendapat panggilan berbeda dari Zio, namun rona yang merambat itu tidak bisa menipu. Pemuda yang lebih tua setahun tersebut menahan senyumnya agar tak melebar lebih jauh dengan mengulum bibirnya sendiri. &#xA;&#xA;Lucu, lucu edan. Rasanya Zio baru saja melalui seluruh rintangan dan mengalahkan prajurit benteng Takeshi satu-persatu untuk memenangkan sisi Atof yang ini. Zio ingin menciumnya lagi, so he does. &#xA;&#xA;Ia menghadiahkan kecupan lembut di bibirnya yang basah. Kali ini Atof tidak mampu mengontrol ekspresi tercengangnya, sangat mendadak. &#34;What was that for?&#34;&#xA;&#xA;&#34;A reward.&#34;&#xA;&#xA;&#34;For what?&#34;&#xA;&#xA;&#34;For explaining for Talatof means, so explain now.&#34;&#xA;&#xA;Kini Atof tergelak, suaranya melengking manis, manis permen kapas yang mudah lumer di mulut dan membuat Zio ingin meraup seluruhnya; adiksi. &#xA;&#xA;&#34;Bossy,&#34; ujar Atof.&#xA;&#xA;&#34;I&#39;m.&#34;&#xA;&#xA;&#34;My type.&#34; &#xA;&#xA;Gemuruh di perut Zio seperti sedikit lagi akan tumpah. Atof is such a flirt, entah memang sungguhan suka orang bossy atau hanya bualan. &#xA; &#xA;&#34;Let me know, are you into choking?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Why are you so curious about that?&#34; keluhnya malas, namun ujung bibir Zio tidak sanggup untuk pura-pura jengkel. Pipinya sakit karena terlalu banyak senyum, ia suka berdebat hal tak penting seperti ini dengan Atof. &#xA;&#xA;Pemuda itu hanya mengedikkan bahu, wajahnya masih dengan raut ingin meledek. Zio ingin menjawir telinga Atof sampai ia minta ampun. Namun Zio bukan lahir kemarin sore, ia sudah mahir tentang bagaimana cara menyikapi leader band-nya itu.&#xA;&#xA;“You have to find out yourself.”&#xA;&#xA;Kali ini Zio sudah tidak peduli tentang buburnya ketika memeluk leher Atof untuk berciuman. Atof menarik tubuhnya hingga ia nyaris duduk di pangkal paha. Ujung jemarinya yang menyusup kaos Zio untuk merangkul pinggangnya terasa dingin, badannya refleks berjengit kecil. &#xA;&#xA;“I&#39;m sorry,&#34; gumamnya di atas bibir Zio. Akan tetapi Zio abai, kembali memagutnya. Menggigit daging tak bertulang itu dengan lembut, dan menariknya di antara gigi. Atof mengerang kecil, semakin meremas pinggangnya. Sepertinya Atof punya obsesi dengan pinggang Zio karena setiap mereka bersama pemuda tersebut akan menggerapai pinggang; biasanya dari luar, ini pertama kalinya ia seberani itu. &#xA;&#xA;“You are hard,&#34; gumam Zio.&#xA;&#xA;“We&#39;ve been making out for a while, it&#39;s a biological reaction.&#34;&#xA;&#xA;“Your words make men in STEM look like nerds who never get laid.&#34;&#xA;&#xA;Tawa Atof mengalun, &#34;Lo yang ngomong, bukan gue.&#34;&#xA;&#xA;“Can we do more than this? We always stop halfway, I will be impotent anytime soon if you keep giving me blue balls.&#34;&#xA;&#xA;Atof tersenyum miring, “You are funny.&#34;&#xA;&#xA;“Can I go down for you?&#34;&#xA;&#xA;“That escalated quickly, Mr. Lucky Fan.&#34;&#xA;&#xA;Bola mata Zio sontak berotasi mendengar gurauan Atof. Ia membuka ruang di antara tubuh mereka agar pergerakannya lebih mudah.&#xA;&#xA;“Don&#39;t–&#34; Atof menepis tangan Zio yang hendak turun meski belum menyentuh perut, Zio tersentak menatapnya kaget. &#xA;&#xA;“I&#39;m sorry,&#34; ia menunduk malu, merasa bersalah. “I&#39;m sorry, really– God, I&#39;m so stupid, I shouldn&#39;t cross the line.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Maaf, beneran, gue– aduh– sorry,&#34; kalimat maaf dirapal Zio berulang-ulang. Ia meringis menyesal, ingin pamit dari sana sekarang juga, pulang ke kosnya dan menyelimuti tubuh sampai kepala. Begonya Zio, Atof memperbolehkan dirinya dicium bukan berarti ia juga mau hal lain. &#xA;&#xA;Hela napas panjang terembus, Atof memperhatikannya yang merunduk.  “Do you really wanna do it?&#34;&#xA;&#xA;“Yeah, but if you don&#39;t feel like doing it, don&#39;t– I mean it&#39;s okay, I understand I—&#34;&#xA;&#xA;“Can you do it using a blindfold?&#34;&#xA;&#xA;Zio langsung mengangkat kepalanya, “Why?&#34;&#xA;&#xA;“Because.&#34;&#xA;&#xA;“I will do it, but can you be honest with me for this one?&#34;&#xA;&#xA;Atof bergeming, hanya memandangnya sarat teka-teki. Zio tak akan berpaling hingga Atof menjawabnya dengan alasan yang logis. Akan tetapi pemuda itu malah hampir bangkit, berusaha menurunkan Zio dari pangkuannya, mengisyaratkan bahwa ia menyudahi apapun yang mereka lakukan. Zio duduk di sana sekuat tenaga tak ingin berpindah tempat.&#xA;&#xA;“I will do it, really, I will do it, but please hold my hand.&#34;&#xA;&#xA;Pemuda itu memancarkan riak tak percaya sekilas, namun dengan cepat kembali tenang dan tanpa ekspresi. Atof menarik dagu Zio hingga ia menengadah. “Why are you so eager for me?&#34;&#xA;&#xA;Kalimat sederhana itu sukses meremangkan bulu kuduk di seluruh tubuhnya. Gairah Zio semakin naik, mengirimkan hangat ke bawah, celananya terasa menyempit.&#xA;&#xA;“What are you? A pretty doll made for me to fuck?&#34; tambahnya, kian menghempaskan kewarasan Zio. &#xA;&#xA;Atof menyeringai, tertawa miring, mencemooh.&#xA;&#xA;Akan tetapi daripada merasa terhina, justru Zio menyandarkan dagunya ke telapak tangan Atof. “I&#39;m your pretty doll.&#34;&#xA;&#xA;“A pretty doll should behave, right?&#34;&#xA;&#xA;Zio mengangguk. &#xA;&#xA;&#34;Tunggu di sini.&#34; &#xA;&#xA;Ia turun dari pangkuan Atof, duduk di sofa dengan sedikit gelisah. Menyibukkan diri dengan menyisir ruang depan apartemen Atof yang sejujurnya tampak kosong. Tak ada barang yang meneriaki karakteristik seseorang di sana. Ruang studio Atof lebih hangat dan hidup dengan dominasi warna biru dongker; yang membuat Zio tahu bahwa mereka memiliki kesamaan warna favorit juga, biru.&#xA;&#xA;Atof kembali dari arah kamarnya dengan menjinjing dasi hitam, meletakkan kotak tisu di sofa. Otomatis Zio turun, dan berlutut di antara tungkai Atof yang terbuka untuknya. &#xA;&#xA;Pemuda itu mengamati Zio begitu lama seraya meremas dasi di tangannya sampai mengerut. Teramat ragu dengan keputusan yang sekonyong-konyong terjadi, karena ia tak menyangka sampai sini. Memicu gagasan di kepala Zio mungkin dulu Atof memperlakukan partner seksnya seperti ini. Dan Zio bukan partner seks, ia anggota band-nya.&#xA;&#xA;“Do you really wanna do it?&#34;&#xA;&#xA;Lagi, Zio mengangguk samar.&#xA;&#xA;“Words, Lazio.&#34;&#xA;&#xA;“I do, I trust you.&#34;&#xA;&#xA;“Close your eyes.&#34;&#xA;&#xA;Dengan perlahan Zio menutup kelopak matanya. Penglihatannya segera dibebat kain dasi, gelap yang ia hadapi semakin kelam. Zio menghirup udara dengan dalam mengatur napas, menyadari dasi tersebut beraroma lemari, mungkin tak pernah dikeluarkan dari sana sama sekali oleh Atof.&#xA;&#xA;&#34;Kekencangan? Sakit?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Enggak.&#34;&#xA;&#xA;Indera pendengarannya semakin peka karena yang lain dibatasi. Ia menangkap suara pergerakan kecil Atof yang mulai menurunkan celananya sendiri. Zio menebak pasti Atof tidak menanggalkan seluruhnya. Entah apa yang membuat Atof sesungkan itu, padahal rumornya ia sempat banyak melakukan seks. &#xA;&#xA;Tangan kanannya diraih oleh Atof, menuntunnya untuk menyentuh batang penis Atof. Zio tidak mampu menerka berapa ukurannya, namun ketika ia berusaha melingkari dan mengurut pelan penisnya dari ujung hingga kepala, ia merasakan urat-urat yang mencuat. &#xA;&#xA;“Fuck,&#34; Atof mengumpat ketika ujung ibu jari Zio bergesekkan dengan celah di kejantanannya.&#xA;&#xA;Zio menjulurkan lidahnya, menjilat bagian bawah penisnya, lantas memasukkannya ke mulut. Mengulumnya dengan tempo berantakan meski tak mampu sampai pangkal karena tak muat. Sebelah tangannya pun digenggam, ia tak bisa mengurut sisa yang tak masuk dengan baik.&#xA;&#xA;Kendati demikian, ia menangkap erangan Atof, sebagian suaranya tidak keluar. Atof meremas tangan kiri Zio sebagai pelampiasan.&#xA;&#xA;&#34;Kak Atof.&#34;&#xA;&#xA;“What?&#34; napas Atof terdengar berat. Zio setengah mati menahan diri untuk menanggalkan dasi yang menghalangi penglihatannya karena ingin mengetahui ekspresi Atof. Namun ia mau Atof percaya padanya, pun mau mengerti bahwa Atof meminta hal ini bukan tanpa alasan.&#xA;&#xA;“Can you let me hear your voice? Gue nggak bisa lihat, masa nggak boleh denger juga? Okay?&#34; Zio menunggu sampai lima detik namun nihil respons. &#34;Tarik rambut gue, moan my name, tell me how good it is, I like it.&#34;&#xA;&#xA;Atof, Zio tahu, ia terbiasa dengan segala sesuatu berada di bawah kontrolnya. Eksistensi Zio dan keberaniannya adalah sebuah variabel yang tak masuk perhitungan Atof. &#xA;&#xA;“I don&#39;t think I can take it all. Do you want to fuck my throat instead?&#34; &#xA;&#xA;Tak ada balasan lagi. Zio seolah berbicara di ruang hampa, keheningan yang hadir terasa berat di atmosfer. &#xA;&#xA;&#34;Mikirnya jangan kelamaan banget, Kak, ini bukan konferensi Asia-Afrika yang ha–&#34;&#xA;&#xA;“What did I tell you before?&#34; potong Atof.&#xA;&#xA;Kening Zio mengerut bingung. Apa? Apa yang Atof beritahu sebelumnya? Yang mana yang ia maksud? &#34;Apa?&#34; &#xA;&#xA;“Behave, Lazio. Is it so hard to comprehend with your pretty little head?&#34; Atof menunjuk keningnya dengan jari berkali-kali hingga tubuhnya agak terhuyung. &#xA;&#xA;Hatinya bergelenyar tak nyaman diperlakukan seperti itu, apalagi oleh orang yang kini suka menjajah isi otaknya. Akan tetapi nyatanya mengenal Atof tak seperti jalan bebas hambatan, baru saja ia yakin mampu menaklukan satu ruas, tapi faktanya masih banyak labirin yang perlu disusuri. Seharusnya Zio tak besar kepala.&#xA;&#xA;“I&#39;m sorry,&#34; Zio menunduk takut.&#xA;&#xA;Atof mendengus amat lelah. Sering kali Zio mendengar desah berat muncul dari belah bibir Atof karena tingkahnya, namun yang ini paling menciptakan rasa takut. Tangannya gemetar berusaha melepaskan diri dari tautan jemarinya dengan Atof.&#xA;&#xA;Akan tetapi Atof sadar dan menarik tangannya ke atas, Zio merasa punggung tangannya dikecup.&#xA;&#xA;“Doll, listen, it&#39;s– maybe it&#39;s not for you, I think we should stop here, okay?&#34; nada bicara Atof berubah halus. Konyolnya, hati Zio terbuai, ia menggeleng. &#xA;&#xA;“I want you,&#34; ungkapnya. “I want you to fuck my throat, and if you agree to do more, I want you inside me. But be gentle with your words, please?&#34;&#xA;&#xA;“They hurt you?&#34;&#xA;&#xA;“Iya,&#34; cicit Zio lirih.&#xA;&#xA;“I&#39;m sorry,&#34; kali ini suara Atof sarat penyesalan. &#xA;&#xA;Dalam beberapa kejadian, saat Atof berada di pihak yang benar, Zio yakin Atof tak akan meminta maaf sekasar apapun kalimatnya. Pernyataan maafnya kali ini sedikit mengejutkan Zio. Ia kembali besar kepala bahwa Atof melembut untuknya. &#xA;&#xA;Dirinya lebih besar kepala lagi tatkala telapak tangan Atof naik ke puncak rambut lantas mengelusnya turun hingga melingkupi tengkuknya, memijit pelan. Gelap di hadapannya tak berkurang, namun kini Zio merasa rileks dalam gelap.&#xA;&#xA;&#34;Kak Atof,&#34; panggilnya ragu. &#xA;&#xA;&#34;Ya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Boleh dilanjut?&#34;&#xA;&#xA;“This is the last time I ask you. Do you really wanna do it?&#34;&#xA;&#xA;“Please.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Okay, mundur.&#34;&#xA;&#xA;Zio menuruti perintahnya, pun mengubah posisi agar kepalanya setara dengan pangkal paha Atof saat berdiri. &#xA;&#xA;“I will fuck your throat, tap my thighs twice if you want me to slow down, three times if you want me to stop, get it?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yeah.&#34;&#xA;&#xA;“I wanna hear you clearly, Baby Doll.&#34;&#xA;&#xA;“Yes, I understand.&#34;&#xA;&#xA;“Open your mouth wider.&#34;&#xA;&#xA;Tatkala ia melebarkan mulut, Atof mendorong batang kemaluannya sekali entak. Zio hampir tersedak, meremas belakang paha Atof sebagai respons pertahanan diri. Cengkeram di rambutnya terasa menyengat, memicu erang yang keluar tak utuh. Atof mulai merogol mulut Zio tanpa menahan diri, pinggulnya bergerak dengan sodokan-sodokan yang membuatnya pening.&#xA;&#xA;Air mata berkumpul di pelupuk, namun beruntung matanya dibebat. Tiap bulir yang keluar langsung terserap. Gelap, sangat gelap, namun indera penciuman dan pengecap Zio semakin peka pada rasa batang kemaluan Atof yang memenuhi mulutnya. &#xA;&#xA;“My pretty little doll, made for me to fuck,&#34; umpat Atof, mendorong di sela tiap kata dengan membabi buta. &#xA;&#xA;Dagunya basah campuran leleh saliva dan pre-cum Atof. Bunyi benturan kulit dengan mulutnya sangat memenuhi gendang telinga. &#xA;&#xA;“Fuck,&#34; rambutnya ditarik semakin kencang. It stings so much, he likes it.&#xA;&#xA;Pinggul Atof mengentak ke depan sekali, dua kali lagi, sebelum dia mengubur penisnya sejauh mungkin ke tenggorokan Zio. Orgasmenya datang dengan erangan nama Zio yang serak.  Zio merasakan aliran ejakulasi hangat di dalam mulutnya dan menelan sebanyak yang ia bisa, tetapi beberapa masih keluar dari sisi mulut Zio, membuat wajahnya semakin berantakan.&#xA;&#xA;Atof menarik Zio untuk naik ke sofa. Ia kembali duduk di pangkuan Atof, namun kali ini dengan posisi Zio membelakanginya, ia tahu sebab hangat tiupan napas Atof berpendar di belakang telinganya.&#xA;&#xA;&#34;Dibuka celananya?&#34; izinnya. &#xA;&#xA;“Please.&#34;&#xA;&#xA;Tak ada komentar apapun dari Atof setelah itu. Telapak tangannya yang berkalus bergesekkan langsung dengan kejantanan Zio yang sudah sakit menahan ingin klimaks karena ia haus disentuh. Atof memompanya mencapai pelepasan.&#xA;&#xA;Kepala Zio tengadah bersandar di bahu Atof. Ia merintih nikmat, mendorong pinggulnya agar penisnya terus dimanjakan telapak tangan Atof. Tak butuh waktu lama sampai–&#xA;&#xA;“Come for me, Doll.&#34;&#xA;&#xA;Punggungnya melengkung, jari-jari kakinya menekuk meraih pelepasan, tubuhnya terbanting kembali ke dada Atof.&#xA;&#xA;Selagi Zio menarik napas dengan ribut, Atof terus mengurut penisnya, tak memberinya waktu untuk turun dari ketinggian. &#xA;&#xA;&#34;Kak, ngilu, jangan dipegang dulu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ini cuma dikeluarin semuanya, Doll.&#34;&#xA;&#xA;Zio menggeliat, menarik pinggulnya ingin menjauhkan diri karena Atof terus-menerus menyentuh batang kemaluannya yang sensitif.&#xA;&#xA;&#34;Kak, udah, please, please, pleas–&#34;&#xA;&#xA;“I told you to behave,&#34; ujaran Atof sarat otoritas.&#xA;&#xA;Zio langsung berhenti bergerak menurutinya, menggigit bibirnya sendiri dan meremas sofa karena tangan Atof terasa menyakitkan. Suara tarikan tumpuk tisu tertangkap inderanya. Atof menyelimuti penisnya dengan tisu baru, membersihkannya dengan hati-hati. Memintanya untuk mengangkat pinggul memperbaiki celananya menjadi posisi semula. &#xA;&#xA;Ikat dasi yang menghalangi penglihatannya dilepas oleh Atof. Ia mengerjapkan mata dengan  perlahan membiasakan retinanya kembali mendapatkan cahaya, menemukan tak ada sisa bulir air mata di wajah karena sudah terserap kain dasi tersebut. &#xA;&#xA;Mereka seakan tidak pernah menurunkan celana. &#xA;&#xA;Resah merayap di dalam dada Zio, sebab ia hanya bisa mengingat lenguh Atof, napas beratnya, dan suara-suara lain yang tak penting tanpa bayangan apapun kecuali hitam. Menyadarkannya bahwa mungkin Atof sengaja agar Zio merasa puas meraih apa yang ia inginkan namun mampu melupakan kejadian ini dengan cepat. &#xA;&#xA;Zio membalikkan badannya. &#xA;&#xA;“Good?&#34; Atof bertanya dengan raut biasa, tatkala suasana hatinya tak bahagia, marah, atau sedih; netral. Dan Zio agak membencinya sebab tampaknya hanya ia seorang yang terdampak akan hal ini. &#xA;&#xA;Kepalanya mengangguk samar. &#xA;&#xA;Wajahnya yang terdapat sisa cairan orgasmenya dibersihkan oleh Atof tanpa sepatah kata. Zio hanya memperhatikan pergerakannya dengan sendu. Terlalu takut kecewa dengan ekspektasinya sendiri jika ia bertanya apa yang Atof pikirkan saat ini.&#xA;&#xA;Ia terlalu serakah, mungkin sejak dulu. Padahal teman-temannya bilang ia punya banyak hal, akan tetapi mungkin akar keserakahan Zio muncul dari sana. Ia suka mengejar sesuatu yang tak mungkin, seperti musik yang dilarang Ayahnya, atau Atof. &#xA;&#xA;“This is not enough, I&#39;m sorry for being greedy.&#34;&#xA;&#xA;Zio merengkuh Atof erat seolah memanjakan keserakahan yang ia miliki, namun Atof hanya mulai mengelus punggungnya dengan teratur. Pernyataan itu menguap di udara tanpa sahutan, akan tetapi Zio tahu Atof tahu. &#xA;&#xA;Kantuk mendera memaksa matanya untuk terpejam, ia mendengar Atof membisikkan sesuatu dengan begitu samar. Zio berjanji akan berusaha mengingatnya saat ia terjaga nanti, tetapi ia tidak yakin bisa ingat karena kesadarannya sudah terlalu direnggut. &#xA;&#xA;Atof yang merengkuhnya berbisik lagi, Zio sungguhan berharap ia bisa ingat. Pemuda itu mengecup daun telinganya, dan menggesekkan hidungnya dengan lembut ke sisi wajahnya. &#xA;&#xA;Zio ... tidak pernah seingin ini pada sesuatu. &#xA;&#xA;(C) litamateur]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><strong>tags</strong>: ±3,100 words, markno, nsfw: blow job, face fucking, come swallowing, dom/sub undertones, fluff, hurt/comfort at the end of the story</p></blockquote>

<p><strong>notes</strong>: in case you don&#39;t know what does producer tag mean that will be mentioned throughout the story, please read <a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Producer_tag" rel="nofollow">this</a> or watch <a href="https://www.tiktok.com/@vian..kh/video/7097678617286675717?is_from_webapp=1&amp;sender_device=pc&amp;web_id=7129811753013413378" rel="nofollow">this video</a>. and support your local author by clicking this <a href="https://trakteer.id/litamateur/tip" rel="nofollow">link!</a></p>

<hr> 



<h3 id="187-still-friends-not-lovers" id="187-still-friends-not-lovers">187. still friends, not lovers</h3>

<p>“Eh!”</p>

<p>Atof menengadah kaget ketika ponsel yang tengah ia gunakan dirampas oleh seseorang. Kepalanya diantuk kepal tangan oleh Zio karena ditantang untuk menoyor. Memicu suara <em>aw!</em> sebagai reaksi, Atof mengusap kepalanya sendiri. Lantas Zio menghadiahkan toyoran kedua untuk bonus, Atof mengaduh membuatnya nyaris terbahak.</p>

<p>“Ngapain beneran nyelem <em>timeline</em> Twitter orang?” hardik Zio. Ia bergerak tangkas ketika Atof ingin merebut ponselnya kembali. Mengangkat ponsel Atof tinggi-tinggi hingga ia berjinjit meskipun ia tahu bahwa pemuda itu bisa meraihnya. </p>

<p>Atof tertawa ringan, “<em>You know I can take it, right?</em>” katanya, mulai bangkit dari posisinya yang duduk di ranjang. Namun Zio memindahkannya ponselnya ke tangan lain secepat kilat, berlari kecil ke luar kamar. Saat ia berada di ambang pintu, ia menjulurkan lidahnya, “<em>Maklum orang tua geraknya lama</em>.”</p>

<p>Ekspresi Atof saat kalimat itu terlontar lumayan menyenangkan jadi pemandangan di pagi hari. Pemuda itu menunjuk-nunjuk Zio seraya menggeleng tak percaya. Namun Zio hanya menyeringai mengejeknya, tawa bernada cemooh tak bisa tak lepas. Dan sebab Atof punya ego tinggi tentu saja ia tahu-tahu berlari untuk menangkap Zio. Mereka mulai berkejaran mengitari apartemen hanya untuk berebut ponsel. Bunyi gerobok kaki dan ledak riang menghiasi akhir pekan itu. Mungkin tetangga apartemen Atof akan heran karena biasanya tempat itu jarang gaduh kecuali bunyi alat musik sesekali. </p>

<p>Zio tidak pernah melihat Atof seramai itu sebelumnya. Jika ia harus berlari 10 km demi mendengar tawa lepas Atof, ia akan melakukannya. Kendati pada akhirnya, kakinya menyerah juga karena sejujurnya Zio tak berolahraga belakangan ini. Napasnya mulai ribut ditarik satu-satu sedang dadanya naik-turun. Tiba-tiba pergelangan tangannya dicengkeram kencang hingga ia berputar kaget.</p>

<p>Atof … dia … napasnya juga berantakan, namun senyumnya menakjubkan. Mungkin Zio agak tolol jika ia ingin menangis, entah kenapa rasanya haru.</p>

<p>“<em>I got you</em>,” kata Atof tertawa. Berusaha merogoh bagian belakang celana jeans Zio dimana ia menyimpan ponsel itu saat berlari. Posisi Atof setengah mendekapnya, wajahnya begitu dekat dengan Zio, membuatnya menegang kaku. Atof menjeling menyadari betapa kikuk Zio, semakin mendekatkan diri hingga dirinya menahan napas. Muncul dengus tawa tanpa suara dari Atof, napasnya berpendar hangat. Atof membubuhkan kecup kilat nan samar di sudut bibir Zio, lalu pergi—bak tak ada apapun yang terjadi—dan duduk di sofa.</p>

<p>Sirkuit di kepala Zio berhenti, ia mematung selama beberapa detik. <em>It&#39;s just a peck, but still,</em> setiap Atof yang menginisiasi sesuatu, sebab dimotori oleh keinginannya sendiri; bukan karena diprakarsai Zio, rasanya lebih menyenangkan. Bekas cengkeraman Atof yang menyengat nan membakar pergelangan tangannya membuat Zio tersadar akan sesuatu. </p>

<p>Mungkin sejak dulu Zio memang sudah sedikit jatuh cinta. Bukan karena ia penggemar Atof, namun sebab ia memang sudah melabuhkan rasa tanpa disadari. Maka dari itu, ia tetap tinggal di band meskipun mereka ribut besar saat latihan pertama kali. Pun membiarkan Atof bolak-balik ke kosnya dini hari. Pun mengajaknya belanja mengisi kulkas yang kosong, dan khawatir dengan pola makannya. Pun berjerih payah agar Atof dekat dengan seluruh anggota band sebelum ia berhenti. Pun dengan tindak-tanduk Zio yang kelewat baik bahkan menurut dirinya sendiri. </p>

<p>Realisasi sungguhan menabraknya seperti truk. </p>

<p>Ia membalik raganya cepat, memicu Atof yang sedang menekuri ponsel kini tengadah. Mata mereka bersirobok, Zio ingin mengurai arti segala tatapan, kalimat, gestur, sikap yang Atof berikan padanya. </p>

<p>“<em>No, I got you,</em>” kata Zio untuk dirinya sendiri. </p>

<p>Zio mencondongkan diri dan menangkup rahang Atof dengan kedua tangannya, membuat Atof semakin mendongak ketika bibir mereka berpaut. Tangan Atof menggerapai mencari pegangan karena setengah terkejut. Dari pergelangan tangan Zio, naik ke lengan, lantas bahu, kemudian turun mengelus sisi tubuhnya, sampai pada akhirnya bertengger di pinggang. Zio langsung dirangkul tatkala mengikis jarak yang tidak ada, naik ke atas sofa; ke pangkuan Atof untuk memperdalam ciuman hingga kepala Atof bersandar seutuhnya di kepala sofa.  </p>

<p>Ini masih pagi—<em>what the fuck</em>. Bubur mereka pasti rasanya akan tak enak jika sudah dingin. Namun Zio sungkan menarik pagutan sebelum paru-parunya perlu dipasok oksigen. Sebab Atof menciumnya seperti ia menyentuhnya, tegas akan tetapi tidak memaksa, memberi ruang untuk Zio melepaskan diri. </p>

<p>Saat Zio akhirnya menyerah, Atof dengan perlahan membuka kelopak matanya. <em>Ya Tuhan, he is so pretty,</em> walau dengan rambut yang mencuat sana-sini, bekas jerawat mengering di pipinya karena terlalu sering begadang, untungnya sudah mandi pagi. Pemandangan itu ingin Zio tancapkan di kening selamanya. </p>

<p><em>Zio sangat amat sungguhan yakin bahwa ia sudah jatuh bebas.</em></p>

<p>“<em>I like you–</em>” Zio membulatkan mata karena kalimatnya sendiri, “<em>I mean your band since your debut song, I dig all of The Riot&#39;s songs especially the ones with your producer tag</em>.”</p>

<p>Jantung Zio rasanya hampir meledak karena kelepasan. Namun Atof hanya mengangkat kedua alisnya. “Oh wow, <em>really</em>?”</p>

<p>Kepala Zio mengangguk mantap, “<em>for Talatof ... that&#39;s so sick</em>. Gue penasaran kenapa <em>for Talatof</em> bukan <em>from Talatof, because technically the songs are from you.</em>“ </p>

<p>“<em>Now you&#39;re openly saying you are my biggest fan</em>, padahal dulu pas dikejar nolak sampai cekik leher.”</p>

<p>Tawa ringan Zio mengudara, “Gue beneran nggak mau ngeband, <em>and if you forgot the memo, you were an asshole</em>, masa ngajak ngeband nggak ada sopan-sopannya.”</p>

<p>“<em>I&#39;m glad I was an asshole, I found that you are into choking</em>.”</p>

<p>Telapak tangan Zio menangkup pipi Atof, namun kali ini tekanannya lebih keras hingga pipinya mencekung. “<em>That&#39;s not the topic, Baby</em>.”</p>

<p>“<em>So it&#39;s a yes</em>.”</p>

<p>“Sayang, <em>listen</em>.”</p>

<p>“<em>I&#39;m one hundred percents listening</em>.”</p>

<p>Atof mungkin tidak sadar bahwa telinganya sendiri memerah. Terlepas ia tampak tenang dan tak terkesiap sama sekali mendapat panggilan berbeda dari Zio, namun rona yang merambat itu tidak bisa menipu. Pemuda yang lebih tua setahun tersebut menahan senyumnya agar tak melebar lebih jauh dengan mengulum bibirnya sendiri. </p>

<p>Lucu, <em>lucu edan</em>. Rasanya Zio baru saja melalui seluruh rintangan dan mengalahkan prajurit benteng Takeshi satu-persatu untuk memenangkan sisi Atof yang ini. Zio ingin menciumnya lagi, <em>so he does</em>. </p>

<p>Ia menghadiahkan kecupan lembut di bibirnya yang basah. Kali ini Atof tidak mampu mengontrol ekspresi tercengangnya, sangat mendadak. “<em>What was that for</em>?”</p>

<p>“<em>A reward.</em>“</p>

<p>“<em>For what</em>?”</p>

<p>“<em>For explaining for Talatof means, so explain now</em>.”</p>

<p>Kini Atof tergelak, suaranya melengking manis, manis permen kapas yang mudah lumer di mulut dan membuat Zio ingin meraup seluruhnya; adiksi. </p>

<p>“<em>Bossy</em>,” ujar Atof.</p>

<p>“<em>I&#39;m</em>.”</p>

<p>“<em>My type</em>.“ </p>

<p>Gemuruh di perut Zio seperti sedikit lagi akan tumpah. Atof <em>is such a flirt</em>, entah memang sungguhan suka orang <em>bossy</em> atau hanya bualan. 
 
“<em>Let me know, are you into choking</em>?”</p>

<p>“<em>Why are you so curious about that</em>?” keluhnya malas, namun ujung bibir Zio tidak sanggup untuk pura-pura jengkel. Pipinya sakit karena terlalu banyak senyum, ia suka berdebat hal tak penting seperti ini dengan Atof. </p>

<p>Pemuda itu hanya mengedikkan bahu, wajahnya masih dengan raut ingin meledek. Zio ingin menjawir telinga Atof sampai ia minta ampun. Namun Zio bukan lahir kemarin sore, ia sudah mahir tentang bagaimana cara menyikapi <em>leader band</em>-nya itu.</p>

<p>“<em>You have to find out yourself</em>.”</p>

<p>Kali ini Zio sudah tidak peduli tentang buburnya ketika memeluk leher Atof untuk berciuman. Atof menarik tubuhnya hingga ia nyaris duduk di pangkal paha. Ujung jemarinya yang menyusup kaos Zio untuk merangkul pinggangnya terasa dingin, badannya refleks berjengit kecil. </p>

<p>“<em>I&#39;m sorry</em>,” gumamnya di atas bibir Zio. Akan tetapi Zio abai, kembali memagutnya. Menggigit daging tak bertulang itu dengan lembut, dan menariknya di antara gigi. Atof mengerang kecil, semakin meremas pinggangnya. Sepertinya Atof punya obsesi dengan pinggang Zio karena setiap mereka bersama pemuda tersebut akan menggerapai pinggang; biasanya dari luar, ini pertama kalinya ia seberani itu. </p>

<p>“<em>You are hard</em>,” gumam Zio.</p>

<p>“<em>We&#39;ve been making out for a while, it&#39;s a biological reaction</em>.”</p>

<p>“<em>Your words make men in STEM look like nerds who never get laid</em>.”</p>

<p>Tawa Atof mengalun, “Lo yang ngomong, bukan gue.”</p>

<p>“<em>Can we do more than this? We always stop halfway, I will be impotent anytime soon if you keep giving me blue balls</em>.”</p>

<p>Atof tersenyum miring, “<em>You are funny</em>.”</p>

<p>“<em>Can I go down for you</em>?”</p>

<p>“<em>That escalated quickly, Mr. Lucky Fan</em>.”</p>

<p>Bola mata Zio sontak berotasi mendengar gurauan Atof. Ia membuka ruang di antara tubuh mereka agar pergerakannya lebih mudah.</p>

<p>“<em>Don&#39;t</em>–” Atof menepis tangan Zio yang hendak turun meski belum menyentuh perut, Zio tersentak menatapnya kaget. </p>

<p>“<em>I&#39;m sorry,</em>” ia menunduk malu, merasa bersalah. “<em>I&#39;m sorry, really– God, I&#39;m so stupid, I shouldn&#39;t cross the line</em>.”</p>

<p>“Maaf, beneran, gue– aduh– <em>sorry</em>,” kalimat maaf dirapal Zio berulang-ulang. Ia meringis menyesal, ingin pamit dari sana sekarang juga, pulang ke kosnya dan menyelimuti tubuh sampai kepala. Begonya Zio, Atof memperbolehkan dirinya dicium bukan berarti ia juga mau hal lain. </p>

<p>Hela napas panjang terembus, Atof memperhatikannya yang merunduk.  “<em>Do you really wanna do it</em>?”</p>

<p>“<em>Yeah, but if you don&#39;t feel like doing it, don&#39;t– I mean it&#39;s okay, I understand I—</em>“</p>

<p>“<em>Can you do it using a blindfold</em>?”</p>

<p>Zio langsung mengangkat kepalanya, “<em>Why</em>?”</p>

<p>“<em>Because</em>.”</p>

<p>“<em>I will do it, but can you be honest with me for this one</em>?”</p>

<p>Atof bergeming, hanya memandangnya sarat teka-teki. Zio tak akan berpaling hingga Atof menjawabnya dengan alasan yang logis. Akan tetapi pemuda itu malah hampir bangkit, berusaha menurunkan Zio dari pangkuannya, mengisyaratkan bahwa ia menyudahi apapun yang mereka lakukan. Zio duduk di sana sekuat tenaga tak ingin berpindah tempat.</p>

<p>“<em>I will do it, really, I will do it, but please hold my hand</em>.”</p>

<p>Pemuda itu memancarkan riak tak percaya sekilas, namun dengan cepat kembali tenang dan tanpa ekspresi. Atof menarik dagu Zio hingga ia menengadah. “<em>Why are you so eager for me</em>?”</p>

<p>Kalimat sederhana itu sukses meremangkan bulu kuduk di seluruh tubuhnya. Gairah Zio semakin naik, mengirimkan hangat ke bawah, celananya terasa menyempit.</p>

<p>“<em>What are you? A pretty doll made for me to fuck</em>?” tambahnya, kian menghempaskan kewarasan Zio. </p>

<p>Atof menyeringai, tertawa miring, mencemooh.</p>

<p>Akan tetapi daripada merasa terhina, justru Zio menyandarkan dagunya ke telapak tangan Atof. “<em>I&#39;m your pretty doll</em>.”</p>

<p>“<em>A pretty doll should behave, right?</em>“</p>

<p>Zio mengangguk. </p>

<p>“Tunggu di sini.“ </p>

<p>Ia turun dari pangkuan Atof, duduk di sofa dengan sedikit gelisah. Menyibukkan diri dengan menyisir ruang depan apartemen Atof yang sejujurnya tampak kosong. Tak ada barang yang meneriaki karakteristik seseorang di sana. Ruang studio Atof lebih hangat dan hidup dengan dominasi warna biru dongker; yang membuat Zio tahu bahwa mereka memiliki kesamaan warna favorit juga, biru.</p>

<p>Atof kembali dari arah kamarnya dengan menjinjing dasi hitam, meletakkan kotak tisu di sofa. Otomatis Zio turun, dan berlutut di antara tungkai Atof yang terbuka untuknya. </p>

<p>Pemuda itu mengamati Zio begitu lama seraya meremas dasi di tangannya sampai mengerut. Teramat ragu dengan keputusan yang sekonyong-konyong terjadi, karena ia tak menyangka sampai sini. Memicu gagasan di kepala Zio mungkin dulu Atof memperlakukan partner seksnya seperti ini. Dan Zio bukan partner seks, ia anggota <em>band</em>-nya.</p>

<p>“<em>Do you really wanna do it</em>?”</p>

<p>Lagi, Zio mengangguk samar.</p>

<p>“<em>Words,</em> Lazio.”</p>

<p>“<em>I do, I trust you</em>.”</p>

<p>“<em>Close your eyes.</em>“</p>

<p>Dengan perlahan Zio menutup kelopak matanya. Penglihatannya segera dibebat kain dasi, gelap yang ia hadapi semakin kelam. Zio menghirup udara dengan dalam mengatur napas, menyadari dasi tersebut beraroma lemari, mungkin tak pernah dikeluarkan dari sana sama sekali oleh Atof.</p>

<p>“Kekencangan? Sakit?”</p>

<p>“Enggak.”</p>

<p>Indera pendengarannya semakin peka karena yang lain dibatasi. Ia menangkap suara pergerakan kecil Atof yang mulai menurunkan celananya sendiri. Zio menebak pasti Atof tidak menanggalkan seluruhnya. Entah apa yang membuat Atof sesungkan itu, padahal rumornya ia sempat banyak melakukan seks. </p>

<p>Tangan kanannya diraih oleh Atof, menuntunnya untuk menyentuh batang penis Atof. Zio tidak mampu menerka berapa ukurannya, namun ketika ia berusaha melingkari dan mengurut pelan penisnya dari ujung hingga kepala, ia merasakan urat-urat yang mencuat. </p>

<p>“<em>Fuck</em>,” Atof mengumpat ketika ujung ibu jari Zio bergesekkan dengan celah di kejantanannya.</p>

<p>Zio menjulurkan lidahnya, menjilat bagian bawah penisnya, lantas memasukkannya ke mulut. Mengulumnya dengan tempo berantakan meski tak mampu sampai pangkal karena tak muat. Sebelah tangannya pun digenggam, ia tak bisa mengurut sisa yang tak masuk dengan baik.</p>

<p>Kendati demikian, ia menangkap erangan Atof, sebagian suaranya tidak keluar. Atof meremas tangan kiri Zio sebagai pelampiasan.</p>

<p>“Kak Atof.”</p>

<p>“<em>What?</em>” napas Atof terdengar berat. Zio setengah mati menahan diri untuk menanggalkan dasi yang menghalangi penglihatannya karena ingin mengetahui ekspresi Atof. Namun ia mau Atof percaya padanya, pun mau mengerti bahwa Atof meminta hal ini bukan tanpa alasan.</p>

<p>“<em>Can you let me hear your voice?</em> Gue nggak bisa lihat, masa nggak boleh denger juga? Okay?” Zio menunggu sampai lima detik namun nihil respons. “Tarik rambut gue, <em>moan my name, tell me how good it is, I like it.</em>“</p>

<p>Atof, Zio tahu, ia terbiasa dengan segala sesuatu berada di bawah kontrolnya. Eksistensi Zio dan keberaniannya adalah sebuah variabel yang tak masuk perhitungan Atof. </p>

<p>“<em>I don&#39;t think I can take it all. Do you want to fuck my throat instead</em>?“ </p>

<p>Tak ada balasan lagi. Zio seolah berbicara di ruang hampa, keheningan yang hadir terasa berat di atmosfer. </p>

<p>“Mikirnya jangan kelamaan banget, Kak, ini bukan konferensi Asia-Afrika yang ha–”</p>

<p>“<em>What did I tell you before</em>?” potong Atof.</p>

<p>Kening Zio mengerut bingung. Apa? Apa yang Atof beritahu sebelumnya? Yang mana yang ia maksud? “Apa?“ </p>

<p>“<em>Behave</em>, Lazio. <em>Is it so hard to comprehend with your pretty little head</em>?” Atof menunjuk keningnya dengan jari berkali-kali hingga tubuhnya agak terhuyung. </p>

<p>Hatinya bergelenyar tak nyaman diperlakukan seperti itu, apalagi oleh orang yang kini suka menjajah isi otaknya. Akan tetapi nyatanya mengenal Atof tak seperti jalan bebas hambatan, baru saja ia yakin mampu menaklukan satu ruas, tapi faktanya masih banyak labirin yang perlu disusuri. Seharusnya Zio tak besar kepala.</p>

<p>“<em>I&#39;m sorry</em>,” Zio menunduk takut.</p>

<p>Atof mendengus amat lelah. Sering kali Zio mendengar desah berat muncul dari belah bibir Atof karena tingkahnya, namun yang ini paling menciptakan rasa takut. Tangannya gemetar berusaha melepaskan diri dari tautan jemarinya dengan Atof.</p>

<p>Akan tetapi Atof sadar dan menarik tangannya ke atas, Zio merasa punggung tangannya dikecup.</p>

<p>“<em>Doll, listen, it&#39;s– maybe it&#39;s not for you, I think we should stop here, okay?</em>” nada bicara Atof berubah halus. Konyolnya, hati Zio terbuai, ia menggeleng. </p>

<p>“<em>I want you</em>,” ungkapnya. “<em>I want you to fuck my throat, and if you agree to do more, I want you inside me. But be gentle with your words, please?</em>“</p>

<p>“<em>They hurt you</em>?”</p>

<p>“Iya,” cicit Zio lirih.</p>

<p>“<em>I&#39;m sorry,</em>” kali ini suara Atof sarat penyesalan. </p>

<p>Dalam beberapa kejadian, saat Atof berada di pihak yang benar, Zio yakin Atof tak akan meminta maaf sekasar apapun kalimatnya. Pernyataan maafnya kali ini sedikit mengejutkan Zio. Ia kembali besar kepala bahwa Atof melembut untuknya. </p>

<p>Dirinya lebih besar kepala lagi tatkala telapak tangan Atof naik ke puncak rambut lantas mengelusnya turun hingga melingkupi tengkuknya, memijit pelan. Gelap di hadapannya tak berkurang, namun kini Zio merasa rileks dalam gelap.</p>

<p>“Kak Atof,” panggilnya ragu. </p>

<p>“Ya?”</p>

<p>“Boleh dilanjut?”</p>

<p>“<em>This is the last time I ask you. Do you really wanna do it?</em>“</p>

<p>“<em>Please</em>.”</p>

<p>“Okay, mundur.”</p>

<p>Zio menuruti perintahnya, pun mengubah posisi agar kepalanya setara dengan pangkal paha Atof saat berdiri. </p>

<p>“<em>I will fuck your throat, tap my thighs twice if you want me to slow down, three times if you want me to stop, get it</em>?”</p>

<p>“Yeah.”</p>

<p>“<em>I wanna hear you clearly</em>, Baby Doll.”</p>

<p>“<em>Yes, I understand</em>.”</p>

<p>“<em>Open your mouth wider</em>.”</p>

<p>Tatkala ia melebarkan mulut, Atof mendorong batang kemaluannya sekali entak. Zio hampir tersedak, meremas belakang paha Atof sebagai respons pertahanan diri. Cengkeram di rambutnya terasa menyengat, memicu erang yang keluar tak utuh. Atof mulai merogol mulut Zio tanpa menahan diri, pinggulnya bergerak dengan sodokan-sodokan yang membuatnya pening.</p>

<p>Air mata berkumpul di pelupuk, namun beruntung matanya dibebat. Tiap bulir yang keluar langsung terserap. Gelap, sangat gelap, namun indera penciuman dan pengecap Zio semakin peka pada rasa batang kemaluan Atof yang memenuhi mulutnya. </p>

<p>“<em>My pretty little doll, made for me to fuck</em>,” umpat Atof, mendorong di sela tiap kata dengan membabi buta. </p>

<p>Dagunya basah campuran leleh saliva dan <em>pre-cum</em> Atof. Bunyi benturan kulit dengan mulutnya sangat memenuhi gendang telinga. </p>

<p>“<em>Fuck</em>,” rambutnya ditarik semakin kencang. <em>It stings so much, he likes it.</em></p>

<p>Pinggul Atof mengentak ke depan sekali, dua kali lagi, sebelum dia mengubur penisnya sejauh mungkin ke tenggorokan Zio. Orgasmenya datang dengan erangan nama Zio yang serak.  Zio merasakan aliran ejakulasi hangat di dalam mulutnya dan menelan sebanyak yang ia bisa, tetapi beberapa masih keluar dari sisi mulut Zio, membuat wajahnya semakin berantakan.</p>

<p>Atof menarik Zio untuk naik ke sofa. Ia kembali duduk di pangkuan Atof, namun kali ini dengan posisi Zio membelakanginya, ia tahu sebab hangat tiupan napas Atof berpendar di belakang telinganya.</p>

<p>“Dibuka celananya?” izinnya. </p>

<p>“<em>Please.</em>“</p>

<p>Tak ada komentar apapun dari Atof setelah itu. Telapak tangannya yang berkalus bergesekkan langsung dengan kejantanan Zio yang sudah sakit menahan ingin klimaks karena ia haus disentuh. Atof memompanya mencapai pelepasan.</p>

<p>Kepala Zio tengadah bersandar di bahu Atof. Ia merintih nikmat, mendorong pinggulnya agar penisnya terus dimanjakan telapak tangan Atof. Tak butuh waktu lama sampai–</p>

<p>“<em>Come for me, Doll</em>.”</p>

<p>Punggungnya melengkung, jari-jari kakinya menekuk meraih pelepasan, tubuhnya terbanting kembali ke dada Atof.</p>

<p>Selagi Zio menarik napas dengan ribut, Atof terus mengurut penisnya, tak memberinya waktu untuk turun dari ketinggian. </p>

<p>“Kak, ngilu, jangan dipegang dulu.”</p>

<p>“Ini cuma dikeluarin semuanya, <em>Doll</em>.”</p>

<p>Zio menggeliat, menarik pinggulnya ingin menjauhkan diri karena Atof terus-menerus menyentuh batang kemaluannya yang sensitif.</p>

<p>“Kak, udah, <em>please, please, pleas–</em>“</p>

<p>“<em>I told you to behave</em>,” ujaran Atof sarat otoritas.</p>

<p>Zio langsung berhenti bergerak menurutinya, menggigit bibirnya sendiri dan meremas sofa karena tangan Atof terasa menyakitkan. Suara tarikan tumpuk tisu tertangkap inderanya. Atof menyelimuti penisnya dengan tisu baru, membersihkannya dengan hati-hati. Memintanya untuk mengangkat pinggul memperbaiki celananya menjadi posisi semula. </p>

<p>Ikat dasi yang menghalangi penglihatannya dilepas oleh Atof. Ia mengerjapkan mata dengan  perlahan membiasakan retinanya kembali mendapatkan cahaya, menemukan tak ada sisa bulir air mata di wajah karena sudah terserap kain dasi tersebut. </p>

<p>Mereka seakan tidak pernah menurunkan celana. </p>

<p>Resah merayap di dalam dada Zio, sebab ia hanya bisa mengingat lenguh Atof, napas beratnya, dan suara-suara lain yang tak penting tanpa bayangan apapun kecuali hitam. Menyadarkannya bahwa mungkin Atof sengaja agar Zio merasa puas meraih apa yang ia inginkan namun mampu melupakan kejadian ini dengan cepat. </p>

<p>Zio membalikkan badannya. </p>

<p>“<em>Good</em>?” Atof bertanya dengan raut biasa, tatkala suasana hatinya tak bahagia, marah, atau sedih; netral. Dan Zio agak membencinya sebab tampaknya hanya ia seorang yang terdampak akan <em>hal ini</em>. </p>

<p>Kepalanya mengangguk samar. </p>

<p>Wajahnya yang terdapat sisa cairan orgasmenya dibersihkan oleh Atof tanpa sepatah kata. Zio hanya memperhatikan pergerakannya dengan sendu. Terlalu takut kecewa dengan ekspektasinya sendiri jika ia bertanya apa yang Atof pikirkan saat ini.</p>

<p>Ia terlalu serakah, mungkin sejak dulu. Padahal teman-temannya bilang ia punya banyak hal, akan tetapi mungkin akar keserakahan Zio muncul dari sana. Ia suka mengejar sesuatu yang tak mungkin, seperti musik yang dilarang Ayahnya, atau Atof. </p>

<p>“<em>This is not enough, I&#39;m sorry for being greedy</em>.”</p>

<p>Zio merengkuh Atof erat seolah memanjakan keserakahan yang ia miliki, namun Atof hanya mulai mengelus punggungnya dengan teratur. Pernyataan itu menguap di udara tanpa sahutan, akan tetapi Zio tahu Atof tahu. </p>

<p>Kantuk mendera memaksa matanya untuk terpejam, ia mendengar Atof membisikkan sesuatu dengan begitu samar. Zio berjanji akan berusaha mengingatnya saat ia terjaga nanti, tetapi ia tidak yakin bisa ingat karena kesadarannya sudah terlalu direnggut. </p>

<p>Atof yang merengkuhnya berbisik lagi, Zio sungguhan berharap ia bisa ingat. Pemuda itu mengecup daun telinganya, dan menggesekkan hidungnya dengan lembut ke sisi wajahnya. </p>

<p>Zio ... tidak pernah seingin ini pada sesuatu. </p>

<p>© litamateur</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://wordsmith.social/be-my-escape/be-my-escape-02cw</guid>
      <pubDate>Sat, 03 Sep 2022 10:51:19 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>BE MY ESCAPE </title>
      <link>https://wordsmith.social/be-my-escape/be-my-escape-bczs</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Tags: ± 2300w, mention of past recreational drugs, mention infidelity, making out, character study, band au! &#xA;&#xA;Notes: Baca pelan-pelan aja ya, jangan skimming nanti nggak asik. Kalau bisa dengerin dulu Be My Escape dari Relient K, dan Kiss Me dari New Found Glory baru baca, karena kayaknya nggak akan fokus kalau baca sambil denger lagu, malah headbang. And support your local author by clicking this link!&#xA;&#xA;hr&#xA;!--more--&#xA;&#xA;153. Be My Escape&#xA;&#xA;Ada satu gitar akustik yang sering lolos dari pandangan seseorang ketika mampir ke studio pribadi Atof, yang sebenarnya tak terlalu ia sembunyikan juga, namun siapa pun yang berkunjung lebih memilih untuk melihat alat musik lain. Tidak menarik, begitu. Hanya tersimpan di sudut ruang yang enggan membuat orang bergegas ke sana untuk sekadar memetik gitar usang. &#xA;&#xA;Itu adalah gitar pertamanya. &#xA;&#xA;Atof tidak berbakat dengan mengunjungi memori masa lalu karena ia lebih suka melupakannya ketimbang menggenggamnya erat-erat. Coping mechanism, kata terapisnya. Ia disarankan untuk pelan-pelan tidak membuang apapun yang bernilai sejarah dalam hidupnya, agar ketika ia tak sengaja bersirobok dengan sesuatu yang mengingatkannya pada hal-hal di masa lalu, itu tidak terlalu menimbulkan efek. Namun tentu saja sulit, habits die hard, Atof cenderung tak punya sesuatu yang berharga kecuali alat musiknya karena ia butuh, tidak berkunjung ke tempat-tempat yang menorehkan sesuatu, membangun dinding dan meminimalkan terbentuknya ikatan apapun dengan sesuatu di sekitarnya: orang, benda, tempat, dll. &#xA;&#xA;Kebanyakan barang yang berada di apartemennya ia beli ketika ia mulai bersekolah di SMA Eton; sekolah musik namun juga menerapkan kurikulum Cambridge agar dapat ijazah yang kredibel. Dari sesederhana pakaian, hingga televisi cerdas yang jarang ia nyalakan, tidak ada satu pun barang bawaan dari rumah orang tuanya di Sentul. Semuanya nyaris baru, seolah ia berteriak akan memulai hidup kedua, kecuali gitar yang satu itu.&#xA;&#xA;Ia agak berat hati untuk meninggalkannya, atau bahkan membuangnya.&#xA;&#xA;Tak banyak yang bisa Atof ingat dari gitarnya selain ia mulai belajar memetik ketika duduk di sekolah dasar; setelah agak bosan bermain piano. Gitar itu turunan dari Papanya; lebih ke–gitar yang sudah lama tak digunakan, dan Atof mengambilnya. Sebab sang Papa waktu itu jarang pulang ke rumah—sibuk dengan jadwalnya sebagai musikus, atau dengan wanita barunya, Atof tidak tahu—, ia tidak bisa izin pula untuk menggunakannya. &#xA;&#xA;Pertama kali mencoba, kulit di ujung jarinya mengelupas. Rasanya tidak menyakitkan, hanya tangannya lebih kasar dibandingkan saat ia bermain piano. Menyenangkan, akan ada lebih banyak pengorbanan. Sebab, ia lebih memilih untuk bermain musik dengan guru yang sudah tua, ketimbang bermain dengan anak-anak seusianya yang orang tuanya mengasihani hidup Atof.&#xA;&#xA;Kecuali Yunita waktu itu, karena Mamahnya tak sempat ke sekolah sama sekali meskipun ada pertemuan wali siswa; sibuk jadi orang tua tunggal. Setiap Atof memicingkan mata melihat apapun di hadapannya, Yunita seolah berkomplot dan bersedekap ikut menghakimi apa yang Atof amati. Mereka seperti dua batang korek api kecil serupa, mungkin jika hanya satu yang menyala tak akan jadi masalah, namun jika ribuan batang kecil itu disatukan dan dipantik maka akan terjadi kebakaran.  &#xA;&#xA;Mereka pun jadi puing-puing sisa kebakaran karena batang kayunya ikut hangus, yang meski dipulihkan dengan berbagai usaha, bekasnya masih tersisa; abadi. Maka dari itu, mereka tetap berbagi luka, sampai dewasa.&#xA;&#xA;Kepala Atof terantuk sesuatu yang empuk membuatnya terjaga. Ia mengerjapkan mata menyadari bahwa itu bahu Zi— oh, kenapa ia tertidur padahal terlalu banyak suara saling sahut di belakang panggung, bahkan ada yang latihan dengan terbuka. &#xA;&#xA;“You can sleep more, you know, masih ada sepuluh urutan lagi,” sahut Zio yang jadi korban sandaran.&#xA;&#xA;Atof memijit pangkal hidung, mencoba meraih botol air mineral di sisi kakinya agar lebih sadar. Ia merasa agak malu sering tertidur di hadapan orang yang sama. “Sorry ketiduran.”&#xA;&#xA;“It&#39;s fine, kayak abis begadang.&#34; &#xA;&#xA;“To be honest, I pulled an all nighter buat uas kemarin, thank you for letting me sleep—” Atof menenggak beberapa teguk air. “Thank you for letting me sleep on your shoulder I mean, seems like I do it a lot these days, padahal gue bukan orang yang nempel ke bantal langsung tidur.”&#xA;&#xA;Mata Zio melengkung karena tertawa, menyadari presensi rasa malu dari rentetan kalimat Atof yang ingin menjabarkan banyak hal. Atof memalingkan wajah, mengedarkan pandangan untuk melihat lingkaran yang terdiri atas tiga sampai lima orang, hanya untuk tampak sibuk.&#xA;&#xA;Butuh beberapa waktu untuk Atof menyadari bahwa Zio tidak punya intensi yang menentangnya; tidak menunggu kejatuhan Atof, tidak peduli pada sejarah buruknya, tidak bertanya apa-apa. Atau Zio hanya terlalu baik pada semua orang, Atof tidak tahu. &#xA;&#xA;Yang ia tahu, dalam beberapa saat, ia merasa bisa tidur di sekitarnya.&#xA;&#xA;Zio, dia selalu membuatnya mengantuk. Entah suara, presensi, atau hangat tubuh yang anehnya mengguar seolah ia adalah perwujudan matahari pagi. Pemuda itu memaksa matanya untuk terpejam sejenak, mengosongkan kepalanya yang berisik ketika mata mereka bersirobok, kadang tanpa sadar Atof menahan napas sehingga perlu menarik oksigen dengan panjang saat menatapnya. &#xA;&#xA;Here is thing: dulu Atof lebih sering tidur nyenyak dengan pil. Ia sempat tidak bisa bangun tiga hari karena minum obat yang disarankan pengedar—dan ternyata tidak cocok di tubuhnya—maka dari itu ia dipaksa ke terapis saat Althaf tahu. Jadi, rumor Atof pernah mengonsumsi obat benar adanya karena dunia band rock tidak pernah jauh dari seks dan narkoba, untung saja dia tidak mati waktu itu.&#xA;&#xA;“Lo tadi ngigau,” Zio mulai mengangkat gitarnya—yang dulunya milik Atof—ke atas pangkuan, dan memetiknya.&#xA;&#xA;Atof menahan ringisan dengan merapatkan bibir hingga membentuk garis lurus. Zio, terlepas orangnya memang tidak memiliki intensi buruk, seperti tahu tombol mana yang harus ia tekan untuk membuat Atof merespons dengan sesuatu yang tidak dangkal; karena kebanyakan jawaban yang Atof layangkan tidak mampu membuat orang menerka. “Oh, iya, gue mimpi.”&#xA;&#xA;“Lo tau nggak kalau lo mimpi berarti otak lo masih mikir? Tidur tanpa mimpi artinya nyenyak.”&#xA;&#xA;“I know—” —dia lebih tahu mengenai hal itu dari siapa pun.&#xA;&#xA;Kemudian Zio menoleh padanya, menatapnya lekat-lekat dengan ekspresi tak terbaca. Atof bukan orang yang akan gentar ketika diperhatikan seperti itu, namun ketika Zio melakukannya, ia seperti mampu menelusuri bola mata Atof untuk membaca seluruh pikirannya, dan ia agak takut. &#xA;&#xA;“Do you know you are deep into your thoughts a lot?” senyum yang ia tawarkan lebih lembut dari biasanya. Pemuda itu beranjak dari kursi, membawa pergi gitarnya ke depan panggung usai berbisik thank you dengan suara lirih karena diberi hadiah. Atof menghitung sudah belasan kali Zio mengatakan terima kasih padanya karena gitar itu, punggung Zio menghilang di kerumunan.&#xA;&#xA;Do you know you are deep into your thoughts a lot? Kalimat itu sudah pernah Zio katakan di lain waktu, entah apa tujuannya karena memang sebuah tanya retorika. Zio sudah tahu jawabnya, namun diulang lagi seolah ia mengajaknya untuk tidak berpikir—yang mana tidak mungkin. Meskipun kali ini ia sedang tidak terlalu berpikir, sebab mimpinya barusan hanya mengenai masa kecilnya saat bermain bersama Yunita.&#xA;&#xA;br&#xA;&#xA;br&#xA;&#xA;br&#xA;&#xA;br&#xA;&#xA;br&#xA;&#xA;br&#xA;&#xA;Saat tinggal satu band lagi yang naik ke panggung, Ardith kembali dari menyendiri (yang mungkin akan menjadi ritual barunya sebelum perform). Wajahnya sudah tidak segelisah sebelumnya, ia langsung menyeret Gama dengan kepala temannya di bawah siku ke posisi duduk Atof. Mereka meraih alat musik masing-masing dan berdiri melingkar seperti yang lain. Mungkin ini akan jadi rutinitas baru bagi mereka sebelum naik panggung.&#xA;&#xA;“Kita headbang guys,” Ardith mengulurkan tangannya di tengah.&#xA;&#xA;“Gue mau gebuk drum sampe pegel,” sahut Gama meletakkan tangannya di atas milik Ardith. &#xA;&#xA;“Katanya kalo di band bassist yang paling ganteng,” kelakar Dean membuat mereka tertawa.&#xA;&#xA;Zio dengan setengah terkekeh menimpali: “Hari ini gue perform nggak jadi ninja.”&#xA;&#xA;“Eh? Iya juga anjing?” kata Ardith yang baru sadar. &#34;Gue lupa kita perform sama pro—aku mah noob, perlu tutor dulu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Wagila, Andromeda first reveal,&#34;  Dean menyenggol-nyenggol bahu Zio yang telinganya mulai memerah malu. Sang korban senggolan hanya menggeleng, tangannya yang bebas menepis-nepis udara. &#34;Nggak lah, gue atas nama Zio bukan Andromeda.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Woooo!&#34; riuh sorak ramai mereka saling sambung-menyambung, mereka semua mengacak rambut Zio hingga pemuda itu menunduk sebab tekanan tangan. Atof hanya tersenyum mengamati, mengikuti yang mereka lakukan; mengacak rambut Zio. &#xA;&#xA;&#34;Sok keren banget ini orang atu,&#34; celetuk Gama, membuat Zio menyubit pinggangnya. &#xA;&#xA;&#34;Aw, aw, ampun dong, anjir lo kuat banget, Zi.&#34;&#xA;&#xA;Zio tertawa riang, ia menjeling pada Atof. “Founder, tinggal lo doang.” &#xA;&#xA;Ia berdeham pelan, “I&#39;m sorry it will be serious, honestly, I&#39;ve never thought we would go this far, even though I know this only can be counted as our first step, but still, thank you for the hard work these past months. Someone said, selalu ada kali pertama untuk segala hal dan nggak masalah untuk melakukan kesalahan, tapi karena stok kesalahan lo semua udah dibabat habis pas latihan dan udah diperbaiki, gue yakin kalian bisa nunjukin versi terbaik tanpa kesalahan meskipun kali pertama. So if you are nervous, don&#39;t be, you guys just have to do what we usually do when we practice, okay?&#34; &#xA;&#xA;&#34;SIAP PAHAM!&#34; mereka menjawab serentak, membuahkan tawa dari Atof sebab suara mereka mengalahkan dentum stereo di depan. Atof mengamati satu-persatu anggota bandnya yang mengukir senyum dengan ekspresi bergelora, menunggu Atof untuk melanjutkan kalimatnya. Degup jantungnya mulai naik karena adrenalin, Rhapsody adalah langkah pertama lagi bagi Atof. &#xA;&#xA;&#34;Rhapsody, let&#39;s have fun,&#34; tutupnya. &#xA;&#xA;br&#xA;&#xA;br&#xA;&#xA;br&#xA;&#xA;br&#xA;&#xA;br&#xA;&#xA;br&#xA;&#xA;Ini seperti bukan lomba, mereka bak bukan amatiran, rasanya gila. &#xA;&#xA;Mungkin karena sudah setengah tahun Atof tidak naik panggung, ketika mereka disinari lampu yang lebih terang daripada penonton, bulu kuduknya meremang. Tatkala Ardith berbincang kecil sebelum masuk lagu, Atof menengadah, menilik lampu sorot yang paling terang, matanya memicing.&#xA;&#xA;Rasanya nostalgia berdiri di bawah lampu sorot. Atof tak tahu bahwa ia serindu ini berada di atas panggung, di dalam sebuah band dengan orang-orang yang awalnya begitu asing. Tanpa sengaja Atof berdoa—ia sudah lama tak berdoa, ia tak yakin apakah Tuhan masih bersedia mendengarnya—semoga ia bisa bermusik untuk waktu yang panjang dengan Rhapsody. &#xA;&#xA;Bunyi petik gitar Zio yang memainkan intro lagu Kiss Me seolah menjadi sebuah amin.&#xA;&#xA;Jari Atof bergerak dengan autopilot karena terlalu sering mengulang lagu yang sama dalam beberapa bulan terakhir. Ia bisa saja terpejam dan semuanya tiba-tiba selesai tanpa sadar. Akan tetapi Atof tidak ingin begitu, ia ingin tenggelam dalam euforia familier yang baru ia rasakan lagi setelah sekian bulan. &#xA;&#xA;Daripada skill gitar yang Dean usulkan untuk tampil tempo hari. Mereka memilih untuk menambahkan satu chorus dengan lirik baru yang coba Atof dan Zio tulis. Ardith pun tidak headbang kali ini, ia berteriak menyuarakan hatinya hingga urat di lehernya mencuat. &#xA;&#xA;Para peserta ikut menyanyikan lagu Kiss Me dengan lantang. Atmosfer rock tahun 2000-an itu menggema melalui dentum stereo. Mereka mendapatkan tepuk tangan paling meriah.&#xA;&#xA;“You are rock, guys!&#34; tutup Ardith dengan mengudarakan sign metal ke udara. &#xA;&#xA;Seluruh anggota Rhapsody bergegas turun panggung, berselebrasi di backstage hingga suaranya tertangkap oleh Atof; yang masih berdiri sendirian di panggung dengan dengung menyenangkan di telinganya.&#xA;&#xA;Atof mengatur napas, setia menengadah ke lampu sorot yang paling terang di sana. Mungkin juri akan bingung mengamatinya, namun ia masa bodoh. Senyum lebarnya perlahan-lahan terbit, ia tertawa keras mengeluarkan semua energi yang tersisa di dalam tubuhnya. Pembawa acara memanggil namanya dua kali agar ia mau turun dari panggung. &#xA;&#xA;“We did it!&#34; Zio berseru dengan ekspresi sumringah, berlari menghampirinya yang berdiri di antara palang tinggi penyangga di belakang panggung. Mata Zio berbinar, sangat tampak seperti anak kecil yang bersemangat, jemari Atof tanpa sadar naik untuk menyentuh wajah Zio namun baru setengah jalan ia urungkan niat tersebut. “Yeah, we did it.&#34;&#xA;&#xA;Tiba-tiba kedua tangan Zio merengkuh rahangnya, ia menanamkan kecupan sederhana di bibirnya.&#xA;&#xA;Atof membulatkan mata, he doesn&#39;t fucking see that coming. Itu hanya kecup kilat bahkan tak terasa sama sekali, namun lututnya hampir  menyerah. &#xA;&#xA;Zio menarik diri terkejut dengan aksinya sendiri, dengan tergesa ia melepaskan tangannya.&#xA;&#xA;&#34;Kak, sorry, gue– Kak, gue– fuck– sorry,&#34; ujar Zio bingung. Ia panik melebarkan distansi, matanya bergerak ke segala arah agar tidak bertemu pandang dengannya, berusaha lari. &#34;Kak, sumpah, sorry, fuck, gue impulsi—&#34;&#xA;&#xA;“Hei, hei, listen—&#34; Atof menangkup rahang Zio dengan kedua telapak tangannya, menempelkan kedua dahi mereka yang basah keringat. Detak jantungnya yang masih berkecamuk karena adrenalin di atas panggung kian meningkat karena kejutan dari Zio. “Do you want this?&#34; &#xA;&#xA;Zio tak langsung merespons. Mereka terpejam lama seraya mengatur napas, bunyi lagu dari band lain mulai mengalun, dentumnya beradu dengan degup jantungnya. Atof merasakan jemari Zio merambat melingkari kedua pergelangan tangannya, meremasnya erat. “Yes, please,&#34; bisiknya menarik udara satu-satu. &#xA;&#xA;&#34;Please kiss me,&#34; ulangnya meyakinkan. &#xA;&#xA;Tanpa membuka mata sebab Atof takut dirinya akan sadar, ia menjatuhkan gitar serampangan. Atof segera mempertemukan bibir mereka kembali, memanuver tubuh Zio ke sudut yang gelap agar mereka bisa lebih leluasa. Kedua tangan Zio mengepal kaosnya di bagian pinggang mencari pegangan, perlahan menjejak mundur, kepalanya terus mendorong berusaha meraih Atof yang seinci lebih tinggi.&#xA;&#xA;Zio terasa seperti ledak konfeti; mengejutkan namun menyenangkan. Ia menuntut dan penuh urgensi, tidak seperti Zio sehari-hari. Sarat tekanan, sangat mengagetkan mengingat bagaimana Zio begitu lembut dalam berperilaku dan berbicara. Atof terus ditarik mendekat seolah Zio kelaparan dan ingin melahapnya.  Ini… tidak pernah masuk ke kepala Atof, namun rasa mulut Zio begitu sakarin. &#xA;&#xA;He can&#39;t— fuck, he shouldn&#39;t kiss his bandmate, it will ruin their band. Tidak ada yang terasa salah, namun seharusnya mereka memang tidak begini. Atof bukan tipikal orang yang serampangan mencium siapa saja, dan ia yakin Zio juga begitu. Namun mengapa Zio melenguh di sela ciuman, memanggil namanya dengan setengah merengek minta dicumbu lagi saat Atof menarik diri?&#xA;&#xA;&#34;Can I go down for you?&#34; bisik Zio saat mulai mencium sudut bibirnya, turun ke dagunya, ke leher, mengulum jakunnya menunggu jawaban. Atof gemetar—berengsek—ia meremas belakang jaket kulit yang Zio kenakan. Segala sesuatu tentang Zio terasa kontradiksi, kepalanya pening, ia hanya mampu mendongak.&#xA;&#xA;“Will you regret your decision tomorrow?&#34; &#xA;&#xA;“Maybe,&#34; Zio menghujani kecupan di lehernya hingga ke belakang telinga, menghisap salah satu titik di sana dengan dalam memicu erangan.&#xA;&#xA;“Fuck— then no.&#34;&#xA;&#xA;Dalam keadaan seperti ini, Zio sempat-sempatnya menarik diri untuk mencebik kecewa. Bibir basahnya begitu menggoda untuk dipagut lagi. Tolol rasanya tergoda sebab seakan-akan Atof tidak pernah berciuman. “Why not?  Let&#39;s pretend we don&#39;t care about what we think tomorr–&#34;&#xA;&#xA;Akhirnya Atof menyerah pada keinginan itu, membungkam bibir Zio, menenggelamkan kalimat yang belum selesai. Ia mampu merasakan Zio agak tersenyum ketika bibir mereka saling melumat. &#xA;&#xA;“Let&#39;s escape,&#34; kata Atof.&#xA;&#xA;Zio bergegas menarik Atof agar mereka berlari, sepanjang perjalanan tangan mereka saling bertaut.  Hangat tubuh Zio begitu menjalar, jika Atof terlalu lama menyentuhnya mungkin ia akan terus-terusan berharap ia bisa melakukannya, sampai pada akhirnya, tubuhnya sendiri mencapai suhu tertinggi dan akan hangus terbakar.&#xA;&#xA;Hari ini, sekali saja, hanya hari ini, ia tidak masalah dibakar.&#xA;&#xA;Pemuda bulan April itu menoleh padanya saat memimpin berlari di depan, menyengir lebar. &#xA;&#xA;(C) litamateur]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><strong>Tags:</strong> ± 2300w, mention of past recreational drugs, mention infidelity, making out, character study, band au!</p></blockquote>

<p><strong>Notes</strong>: Baca pelan-pelan aja ya, jangan skimming nanti nggak asik. Kalau bisa dengerin dulu Be My Escape dari Relient K, dan Kiss Me dari New Found Glory baru baca, karena kayaknya nggak akan fokus kalau baca sambil denger lagu, malah headbang. And support your local author by clicking this <a href="https://trakteer.id/litamateur/tip" rel="nofollow">link!</a></p>

<hr>



<h3 id="153-be-my-escape" id="153-be-my-escape">153. Be My Escape</h3>

<p>Ada satu gitar akustik yang sering lolos dari pandangan seseorang ketika mampir ke studio pribadi Atof, yang sebenarnya tak terlalu ia sembunyikan juga, namun siapa pun yang berkunjung lebih memilih untuk melihat alat musik lain. Tidak menarik, begitu. Hanya tersimpan di sudut ruang yang enggan membuat orang bergegas ke sana untuk sekadar memetik gitar usang. </p>

<p>Itu adalah gitar pertamanya. </p>

<p>Atof tidak berbakat dengan mengunjungi memori masa lalu karena ia lebih suka melupakannya ketimbang menggenggamnya erat-erat. <em>Coping mechanism</em>, kata terapisnya. Ia disarankan untuk pelan-pelan tidak membuang apapun yang bernilai sejarah dalam hidupnya, agar ketika ia tak sengaja bersirobok dengan sesuatu yang mengingatkannya pada hal-hal di masa lalu, itu tidak terlalu menimbulkan efek. Namun tentu saja sulit, <em>habits die hard</em>, Atof cenderung tak punya sesuatu yang berharga kecuali alat musiknya karena ia butuh, tidak berkunjung ke tempat-tempat yang menorehkan <em>sesuatu</em>, membangun dinding dan meminimalkan terbentuknya ikatan apapun dengan sesuatu di sekitarnya: orang, benda, tempat, dll. </p>

<p>Kebanyakan barang yang berada di apartemennya ia beli ketika ia mulai bersekolah di SMA Eton; sekolah musik namun juga menerapkan kurikulum Cambridge agar dapat ijazah yang kredibel. Dari sesederhana pakaian, hingga televisi cerdas yang jarang ia nyalakan, tidak ada satu pun barang bawaan dari rumah orang tuanya di Sentul. Semuanya nyaris baru, seolah ia berteriak akan memulai hidup kedua, kecuali gitar yang satu itu.</p>

<p>Ia agak berat hati untuk meninggalkannya, atau bahkan membuangnya.</p>

<p>Tak banyak yang bisa Atof ingat dari gitarnya selain ia mulai belajar memetik ketika duduk di sekolah dasar; setelah agak bosan bermain piano. Gitar itu turunan dari Papanya; lebih ke–gitar yang sudah lama tak digunakan, dan Atof mengambilnya. Sebab sang Papa waktu itu jarang pulang ke rumah—sibuk dengan jadwalnya sebagai musikus, atau dengan wanita barunya, Atof tidak tahu—, ia tidak bisa izin pula untuk menggunakannya. </p>

<p>Pertama kali mencoba, kulit di ujung jarinya mengelupas. Rasanya tidak menyakitkan, hanya tangannya lebih kasar dibandingkan saat ia bermain piano. Menyenangkan, akan ada lebih banyak pengorbanan. Sebab, ia lebih memilih untuk bermain musik dengan guru yang sudah tua, ketimbang bermain dengan anak-anak seusianya yang orang tuanya mengasihani hidup Atof.</p>

<p>Kecuali Yunita waktu itu, karena Mamahnya tak sempat ke sekolah sama sekali meskipun ada pertemuan wali siswa; sibuk jadi orang tua tunggal. Setiap Atof memicingkan mata melihat apapun di hadapannya, Yunita seolah berkomplot dan bersedekap ikut menghakimi apa yang Atof amati. Mereka seperti dua batang korek api kecil serupa, mungkin jika hanya satu yang menyala tak akan jadi masalah, namun jika ribuan batang kecil itu disatukan dan dipantik maka akan terjadi kebakaran.  </p>

<p>Mereka pun jadi puing-puing sisa kebakaran karena batang kayunya ikut hangus, yang meski dipulihkan dengan berbagai usaha, bekasnya masih tersisa; abadi. Maka dari itu, mereka tetap berbagi luka, sampai dewasa.</p>

<p>Kepala Atof terantuk sesuatu yang empuk membuatnya terjaga. Ia mengerjapkan mata menyadari bahwa itu bahu Zi— oh, kenapa ia tertidur padahal terlalu banyak suara saling sahut di belakang panggung, bahkan ada yang latihan dengan terbuka. </p>

<p>“<em>You can sleep more, you know</em>, masih ada sepuluh urutan lagi,” sahut Zio yang jadi korban sandaran.</p>

<p>Atof memijit pangkal hidung, mencoba meraih botol air mineral di sisi kakinya agar lebih sadar. Ia merasa agak malu sering tertidur di hadapan orang yang sama. “<em>Sorry</em> ketiduran.”</p>

<p>“<em>It&#39;s fine</em>, kayak abis begadang.“ </p>

<p>“<em>To be honest, I pulled an all nighter buat uas kemarin, thank you for letting me sleep</em>—” Atof menenggak beberapa teguk air. “<em>Thank you for letting me sleep on your shoulder I mean, seems like I do it a lot these days</em>, padahal gue bukan orang yang nempel ke bantal langsung tidur.”</p>

<p>Mata Zio melengkung karena tertawa, menyadari presensi rasa malu dari rentetan kalimat Atof yang ingin menjabarkan banyak hal. Atof memalingkan wajah, mengedarkan pandangan untuk melihat lingkaran yang terdiri atas tiga sampai lima orang, hanya untuk tampak sibuk.</p>

<p>Butuh beberapa waktu untuk Atof menyadari bahwa Zio tidak punya intensi yang menentangnya; tidak menunggu kejatuhan Atof, tidak peduli pada sejarah buruknya, tidak bertanya apa-apa. Atau Zio hanya terlalu baik pada semua orang, Atof tidak tahu. </p>

<p>Yang ia tahu, dalam beberapa saat, ia merasa bisa tidur di sekitarnya.</p>

<p>Zio, dia selalu membuatnya mengantuk. Entah suara, presensi, atau hangat tubuh yang anehnya mengguar seolah ia adalah perwujudan matahari pagi. Pemuda itu memaksa matanya untuk terpejam sejenak, mengosongkan kepalanya yang berisik ketika mata mereka bersirobok, kadang tanpa sadar Atof menahan napas sehingga perlu menarik oksigen dengan panjang saat menatapnya. </p>

<p><em>Here is thing</em>: dulu Atof lebih sering tidur nyenyak dengan pil. Ia sempat tidak bisa bangun tiga hari karena minum obat yang disarankan pengedar—dan ternyata tidak cocok di tubuhnya—maka dari itu ia dipaksa ke terapis saat Althaf tahu. Jadi, rumor Atof pernah mengonsumsi obat benar adanya karena dunia band rock tidak pernah jauh dari seks dan narkoba, untung saja dia tidak mati waktu itu.</p>

<p>“Lo tadi ngigau,” Zio mulai mengangkat gitarnya—yang dulunya milik Atof—ke atas pangkuan, dan memetiknya.</p>

<p>Atof menahan ringisan dengan merapatkan bibir hingga membentuk garis lurus. Zio, terlepas orangnya memang tidak memiliki intensi buruk, seperti tahu tombol mana yang harus ia tekan untuk membuat Atof merespons dengan sesuatu yang tidak dangkal; karena kebanyakan jawaban yang Atof layangkan tidak mampu membuat orang menerka. “Oh, iya, gue mimpi.”</p>

<p>“Lo tau nggak kalau lo mimpi berarti otak lo masih mikir? Tidur tanpa mimpi artinya nyenyak.”</p>

<p>“<em>I know</em>—” —dia lebih tahu mengenai hal itu dari siapa pun.</p>

<p>Kemudian Zio menoleh padanya, menatapnya lekat-lekat dengan ekspresi tak terbaca. Atof bukan orang yang akan gentar ketika diperhatikan seperti itu, namun ketika Zio melakukannya, ia seperti mampu menelusuri bola mata Atof untuk membaca seluruh pikirannya, dan ia agak takut. </p>

<p>“<em>Do you know you are deep into your thoughts a lot</em>?” senyum yang ia tawarkan lebih lembut dari biasanya. Pemuda itu beranjak dari kursi, membawa pergi gitarnya ke depan panggung usai berbisik thank you dengan suara lirih karena diberi hadiah. Atof menghitung sudah belasan kali Zio mengatakan terima kasih padanya karena gitar itu, punggung Zio menghilang di kerumunan.</p>

<p><em>Do you know you are deep into your thoughts a lot</em>? Kalimat itu sudah pernah Zio katakan di lain waktu, entah apa tujuannya karena memang sebuah tanya retorika. Zio sudah tahu jawabnya, namun diulang lagi seolah ia mengajaknya untuk tidak berpikir—yang mana tidak mungkin. Meskipun kali ini ia sedang tidak terlalu berpikir, sebab mimpinya barusan hanya mengenai masa kecilnya saat bermain bersama Yunita.</p>

<p><br></p>

<p><br></p>

<p><br></p>

<p><br></p>

<p><br></p>

<p><br></p>

<p>Saat tinggal satu band lagi yang naik ke panggung, Ardith kembali dari menyendiri (yang mungkin akan menjadi ritual barunya sebelum <em>perform</em>). Wajahnya sudah tidak segelisah sebelumnya, ia langsung menyeret Gama dengan kepala temannya di bawah siku ke posisi duduk Atof. Mereka meraih alat musik masing-masing dan berdiri melingkar seperti yang lain. Mungkin ini akan jadi rutinitas baru bagi mereka sebelum naik panggung.</p>

<p>“Kita headbang guys,” Ardith mengulurkan tangannya di tengah.</p>

<p>“Gue mau gebuk drum sampe pegel,” sahut Gama meletakkan tangannya di atas milik Ardith. </p>

<p>“Katanya kalo di band bassist yang paling ganteng,” kelakar Dean membuat mereka tertawa.</p>

<p>Zio dengan setengah terkekeh menimpali: “Hari ini gue perform nggak jadi ninja.”</p>

<p>“Eh? Iya juga anjing?” kata Ardith yang baru sadar. “Gue lupa kita perform sama pro—aku mah noob, perlu tutor dulu.”</p>

<p>“Wagila, Andromeda <em>first reveal</em>,“  Dean menyenggol-nyenggol bahu Zio yang telinganya mulai memerah malu. Sang korban senggolan hanya menggeleng, tangannya yang bebas menepis-nepis udara. “Nggak lah, gue atas nama Zio bukan Andromeda.”</p>

<p>“Woooo!” riuh sorak ramai mereka saling sambung-menyambung, mereka semua mengacak rambut Zio hingga pemuda itu menunduk sebab tekanan tangan. Atof hanya tersenyum mengamati, mengikuti yang mereka lakukan; mengacak rambut Zio. </p>

<p>“Sok keren banget ini orang atu,” celetuk Gama, membuat Zio menyubit pinggangnya. </p>

<p>“Aw, aw, ampun dong, anjir lo kuat banget, Zi.”</p>

<p>Zio tertawa riang, ia menjeling pada Atof. “Founder, tinggal lo doang.” </p>

<p>Ia berdeham pelan, “<em>I&#39;m sorry it will be serious, honestly, I&#39;ve never thought we would go this far, even though I know this only can be counted as our first step, but still, thank you for the hard work these past months. Someone said</em>, selalu ada kali pertama untuk segala hal dan nggak masalah untuk melakukan kesalahan, tapi karena stok kesalahan lo semua udah dibabat habis pas latihan dan udah diperbaiki, gue yakin kalian bisa nunjukin versi terbaik tanpa kesalahan meskipun kali pertama. <em>So if you are nervous, don&#39;t be, you guys just have to do what we usually do when we practice, okay</em>?“ </p>

<p>“SIAP PAHAM!” mereka menjawab serentak, membuahkan tawa dari Atof sebab suara mereka mengalahkan dentum stereo di depan. Atof mengamati satu-persatu anggota bandnya yang mengukir senyum dengan ekspresi bergelora, menunggu Atof untuk melanjutkan kalimatnya. Degup jantungnya mulai naik karena adrenalin, <em>Rhapsody adalah langkah pertama lagi bagi Atof</em>. </p>

<p>“Rhapsody, <em>let&#39;s have fun</em>,” tutupnya. </p>

<p><br></p>

<p><br></p>

<p><br></p>

<p><br></p>

<p><br></p>

<p><br></p>

<p>Ini seperti bukan lomba, mereka bak bukan amatiran, rasanya gila. </p>

<p>Mungkin karena sudah setengah tahun Atof tidak naik panggung, ketika mereka disinari lampu yang lebih terang daripada penonton, bulu kuduknya meremang. Tatkala Ardith berbincang kecil sebelum masuk lagu, Atof menengadah, menilik lampu sorot yang paling terang, matanya memicing.</p>

<p>Rasanya nostalgia berdiri di bawah lampu sorot. Atof tak tahu bahwa ia serindu ini berada di atas panggung, di dalam sebuah band dengan orang-orang yang awalnya begitu asing. Tanpa sengaja Atof berdoa—ia sudah lama tak berdoa, ia tak yakin apakah Tuhan masih bersedia mendengarnya—semoga ia bisa bermusik untuk waktu yang panjang dengan Rhapsody. </p>

<p>Bunyi petik gitar Zio yang memainkan intro lagu Kiss Me seolah menjadi sebuah amin.</p>

<p>Jari Atof bergerak dengan <em>autopilot</em> karena terlalu sering mengulang lagu yang sama dalam beberapa bulan terakhir. Ia bisa saja terpejam dan semuanya tiba-tiba selesai tanpa sadar. Akan tetapi Atof tidak ingin begitu, ia ingin tenggelam dalam euforia familier yang baru ia rasakan lagi setelah sekian bulan. </p>

<p>Daripada <em>skill</em> gitar yang Dean usulkan untuk tampil tempo hari. Mereka memilih untuk menambahkan satu <em>chorus</em> dengan lirik baru yang coba Atof dan Zio tulis. Ardith pun tidak <em>headbang</em> kali ini, ia berteriak menyuarakan hatinya hingga urat di lehernya mencuat. </p>

<p>Para peserta ikut menyanyikan lagu Kiss Me dengan lantang. Atmosfer rock tahun 2000-an itu menggema melalui dentum stereo. Mereka mendapatkan tepuk tangan paling meriah.</p>

<p>“<em>You are rock, guys</em>!” tutup Ardith dengan mengudarakan <em>sign</em> metal ke udara. </p>

<p>Seluruh anggota Rhapsody bergegas turun panggung, berselebrasi di <em>backstage</em> hingga suaranya tertangkap oleh Atof; yang masih berdiri sendirian di panggung dengan dengung menyenangkan di telinganya.</p>

<p>Atof mengatur napas, setia menengadah ke lampu sorot yang paling terang di sana. Mungkin juri akan bingung mengamatinya, namun ia masa bodoh. Senyum lebarnya perlahan-lahan terbit, ia tertawa keras mengeluarkan semua energi yang tersisa di dalam tubuhnya. Pembawa acara memanggil namanya dua kali agar ia mau turun dari panggung. </p>

<p>“<em>We did it!</em>” Zio berseru dengan ekspresi sumringah, berlari menghampirinya yang berdiri di antara palang tinggi penyangga di belakang panggung. Mata Zio berbinar, sangat tampak seperti anak kecil yang bersemangat, jemari Atof tanpa sadar naik untuk menyentuh wajah Zio namun baru setengah jalan ia urungkan niat tersebut. “<em>Yeah, we did it</em>.”</p>

<p>Tiba-tiba kedua tangan Zio merengkuh rahangnya, ia menanamkan kecupan sederhana di bibirnya.</p>

<p>Atof membulatkan mata, <em>he doesn&#39;t fucking see that coming</em>. Itu hanya kecup kilat bahkan tak terasa sama sekali, namun lututnya hampir  menyerah. </p>

<p>Zio menarik diri terkejut dengan aksinya sendiri, dengan tergesa ia melepaskan tangannya.</p>

<p>“Kak, <em>sorry</em>, gue– Kak, gue– <em>fuck– sorry</em>,” ujar Zio bingung. Ia panik melebarkan distansi, matanya bergerak ke segala arah agar tidak bertemu pandang dengannya, berusaha lari. “Kak, sumpah, <em>sorry, fuck</em>, gue impulsi—”</p>

<p>“<em>Hei, hei, listen</em>—” Atof menangkup rahang Zio dengan kedua telapak tangannya, menempelkan kedua dahi mereka yang basah keringat. Detak jantungnya yang masih berkecamuk karena adrenalin di atas panggung kian meningkat karena kejutan dari Zio. “<em>Do you want this</em>?“ </p>

<p>Zio tak langsung merespons. Mereka terpejam lama seraya mengatur napas, bunyi lagu dari band lain mulai mengalun, dentumnya beradu dengan degup jantungnya. Atof merasakan jemari Zio merambat melingkari kedua pergelangan tangannya, meremasnya erat. “<em>Yes, please</em>,” bisiknya menarik udara satu-satu. </p>

<p>“<em>Please kiss me</em>,” ulangnya meyakinkan. </p>

<p>Tanpa membuka mata sebab Atof takut dirinya akan sadar, ia menjatuhkan gitar serampangan. Atof segera mempertemukan bibir mereka kembali, memanuver tubuh Zio ke sudut yang gelap agar mereka bisa lebih leluasa. Kedua tangan Zio mengepal kaosnya di bagian pinggang mencari pegangan, perlahan menjejak mundur, kepalanya terus mendorong berusaha meraih Atof yang seinci lebih tinggi.</p>

<p>Zio terasa seperti ledak konfeti; mengejutkan namun menyenangkan. Ia menuntut dan penuh urgensi, tidak seperti Zio sehari-hari. Sarat tekanan, sangat mengagetkan mengingat bagaimana Zio begitu lembut dalam berperilaku dan berbicara. Atof terus ditarik mendekat seolah Zio kelaparan dan ingin melahapnya.  Ini… tidak pernah masuk ke kepala Atof, namun rasa mulut Zio begitu sakarin. </p>

<p><em>He can&#39;t— fuck, he shouldn&#39;t kiss his bandmate, it will ruin their band</em>. Tidak ada yang terasa salah, namun seharusnya mereka memang tidak <em>begini</em>. Atof bukan tipikal orang yang serampangan mencium siapa saja, dan ia yakin Zio juga begitu. Namun mengapa Zio melenguh di sela ciuman, memanggil namanya dengan setengah merengek minta dicumbu lagi saat Atof menarik diri?</p>

<p>“<em>Can I go down for you</em>?” bisik Zio saat mulai mencium sudut bibirnya, turun ke dagunya, ke leher, mengulum jakunnya menunggu jawaban. Atof gemetar—berengsek—ia meremas belakang jaket kulit yang Zio kenakan. Segala sesuatu tentang Zio terasa kontradiksi, kepalanya pening, ia hanya mampu mendongak.</p>

<p>“<em>Will you regret your decision tomorrow</em>?“ </p>

<p>“<em>Maybe</em>,” Zio menghujani kecupan di lehernya hingga ke belakang telinga, menghisap salah satu titik di sana dengan dalam memicu erangan.</p>

<p>“<em>Fuck— then no</em>.”</p>

<p>Dalam keadaan seperti ini, Zio sempat-sempatnya menarik diri untuk mencebik kecewa. Bibir basahnya begitu menggoda untuk dipagut lagi. Tolol rasanya tergoda sebab seakan-akan Atof tidak pernah berciuman. “<em>Why not?  Let&#39;s pretend we don&#39;t care about what we think tomorr</em>–”</p>

<p>Akhirnya Atof menyerah pada keinginan itu, membungkam bibir Zio, menenggelamkan kalimat yang belum selesai. Ia mampu merasakan Zio agak tersenyum ketika bibir mereka saling melumat. </p>

<p>“<em>Let&#39;s escape</em>,” kata Atof.</p>

<p>Zio bergegas menarik Atof agar mereka berlari, sepanjang perjalanan tangan mereka saling bertaut.  Hangat tubuh Zio begitu menjalar, jika Atof terlalu lama menyentuhnya mungkin ia akan terus-terusan berharap ia bisa melakukannya, sampai pada akhirnya, tubuhnya sendiri mencapai suhu tertinggi dan akan hangus terbakar.</p>

<p>Hari ini, sekali saja, hanya hari ini, ia tidak masalah dibakar.</p>

<p>Pemuda bulan April itu menoleh padanya saat memimpin berlari di depan, menyengir lebar. </p>

<p>© litamateur</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://wordsmith.social/be-my-escape/be-my-escape-bczs</guid>
      <pubDate>Thu, 07 Jul 2022 07:48:19 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>BE MY ESCAPE</title>
      <link>https://wordsmith.social/be-my-escape/be-my-escape-4l4h</link>
      <description>&lt;![CDATA[  tags: ±2100w, markno, fluff&#xA;&#xA;hr&#xA;&#xA;127. Atof, Zio, dan Mamah&#xA;&#xA;Sesuatu yang perlu kalian tahu adalah: pemilik kos Zio kenal dengan Atof dan mobilnya. &#xA;!--more--&#xA;Sebab terlalu terbiasa bolak-balik ke kos Zio entah apapun alasannya—lebih banyak tentang kucing dan band—, Atof mulai kenal dengan pemilik kosnya, Pak Sudrajat. Herannya, kedatangan Atof sangat disambut. Bapak kos Zio akan menyerukan Talatof!! saat mobil Atof parkir di pekarangan kos, dan herannya lagi mereka sangat akrab seperti teman lama tak bersua. Pak Sudrajat akan menepuk-nepuk punggung Atof, mempersilakannya masuk ke rumahnya jika ia ingin, meski ujungnya Atof akan menolak sopan karena punya urusan dengan Zio. Padahal menurut Zio, Atof bersikap sama saja saat bersama Pak Sudrajat seperti dengan orang sebaya, lebih banyak tersenyum tipis dan mengangguk ketika mereka mengobrol, atau tiba-tiba jadi Socrates. Namun mereka seperti terkoneksi, mampu berbincang tanpa mengenal waktu. Mungkin Atof adalah salah satu orang tua yang terjebak dalam tubuh mahasiswa. Maka dari itu, selera lagunya berputar di lagu-lagu jadul milik The Beatles, Queen, dan The Rolling Stone, sedangkan Zio lebih suka Arctic Monkeys, Panic! At The Disco , dan The Neighbourhood. &#xA;&#xA;Dari sana juga ia tahu Atof bisa main catur (karena Zio sempat melihatnya bermain dengan Bapak kos hingga larut tempo hari). Zio tidak ingin bertanya bagaimana bisa? atau kapan ia mulai bermain? Sebab eksistensi Atof sendiri sudah jadi teka-teki, mungkin akan lebih banyak puzzle yang akan ia temukan di tempat terpisah, yang akan menyatu jadi bingkai utuh seorang Atof. Namun itu juga jika Atof ingin dikenal utuh, dan ia yakin Atof tidak semudah itu terbuka dengan orang lain. &#xA;&#xA;Anehnya lagi, Atof sangat nyaman menggendong anak kucing miliknya yang lebih sering dipanggil little Atof ketimbang Coco nama aslinya. Atof seperti sangat menikmati waktu bermain bersama kucing meski Zio melihat hal tersebut tidak Atof sama sekali. Namun tiap Atof memangku anak bulu itu, mengelus tubuhnya, atau bermain dengan pancingan bulu agar Coco melompat-lompat, tak ayal membuat Zio tersenyum, lucu saja orang seperti Atof jadi budak kucing. &#xA;&#xA;Ada binar pada wajah Atof, yang tak Zio temui ketika Atof berinteraksi dengan manusia, dan justru ia dapati saat pemuda itu bermain dengan anak bulu. Rasanya menyenangkan meskipun hanya menonton. Zio tidak akan berbohong berkata tidak senang kucingnya dapat makanan gratis dari Atof, juga dapat mainan-mainan baru, rasanya Atof juga pemilik kedua Coco. Mungkin Atof menemukan hiburan dari kucing, sama seperti Zio ketika ia merasa agak tertekan dan kucingnya seolah tahu lantas menghampirinya, mengeong bak tengah bertanya keadaannya. &#xA;&#xA;Saat memandikan kucing pun mereka tertawa karena Coco berontak tidak ingin kena air. Atof lebih sering berujar it&#39;s okay baby we got you pada Coco ketika Zio mulai menyiram dan menyabuni tubuh kecilnya. Meskipun kamar mandi kos Zio tidak disarankan untuk dimuat oleh dua orang pria dewasa, mereka berhasil menyelesaikan misi, Atof sungguhan belajar memandikan kucing.&#xA;&#xA;Kini Coco yang bersih dan wangi sudah berjemur di luar setelah dikeringkan dengan pengering rambut. Bermain dengan kucing lain yang suka mampir ke pekarangan kos. Atof bersiap-siap pulang namun Zio mencekal tangannya yang ingin pergi, membuat tubuhnya berjengit kaget. Zio tertawa saat Atof menatapnya dengan ekspresi terkejut. &#xA;&#xA;“Duduk dulu bentar,” pintanya, wajah Atof lekas melunak. &#xA;&#xA;“Kenapa? Ada yang perlu dibahas?” &#xA;&#xA;&#34;Ada, coba lihat tangannya.&#34;&#xA;&#xA;Atof mengulurkan kedua tangannya, dengan telapak tangan menghadap ke atas. Lantas, Zio membaliknya, menemukan garis panjang di punggung tangan kanan Atof hasil cakaran Coco. Ia menggiring Atof ke sofa, mengisyaratkan pemuda itu untuk duduk di sisinya. &#xA;&#xA;&#34;Luka sekecil apapun diobatin, nanti kena tetanus.&#34; &#xA;&#xA;“Nah, it&#39;s not a big deal, mana mungkin dari kecakar kucing jadi tetanus,&#34; balas Atof pada celetuknya. Zio menunduk, mengoles alkohol agar tidak terinfeksi, obat merah, lalu memasang plester meski lukanya tidak seberapa.  “Kayaknya gue nggak bisa mandiin lagi,&#34; tambah Atof. &#xA;&#xA;Zio tertawa, &#34;Baru sekali mandiin udah nyerah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aktif banget Atofnya.&#34; &#xA;&#xA;Senyum Zio terukir mendengar kalimat tersebut. Rasanya lucu mendengar Atof memanggil nama Atof seolah tengah menyebut diri sendiri. Saat ia mendongak, Atof tengah menatapnya lekat-lekat.&#xA;&#xA;Apa Zio pernah bilang bola mata Atof sangat kelam seolah ia bisa tenggelam? Kalau iya, mungkin ia akan menyatakannya lagi. Zio seperti terserap ke sana, tenggelam.&#xA;&#xA;&#34;Ada bulu mata jatoh,&#34; bisik Atof lirih.&#xA;&#xA;Jemari Zio berusaha mengusap sekitar area matanya karena tidak tahu dimana tepatnya bulu mata yang jatuh. Sedang Atof terus memperhatikannya, tampak agak gemas karena ia tidak berhasil menemukan bulu mata yang dimaksud. &#xA;&#xA;&#34;Bukan di sana,&#34; telapak tangan Atof menangkup rahangnya, membuat Zio mematung dan menahan napas. Atof mengusap pergi bulu matanya. Ia tidak yakin hanya imajinasinya saja atau sungguhan, namun Atof seperti mengelus tulang pipinya sekilas. Zio agak tersentak menjauhkan wajahnya dari sentuhan Atof karena ujung jarinya lebih dingin. Mungkin seluruh tubuhnya juga bersuhu sama dingin, seperti air laut yang menenggelamkan.&#xA;&#xA;“Sorry.” &#xA;&#xA;Mereka sama-sama berpaling ke arah lain karena bingung. &#xA;&#xA;Here is the thing: sebenarnya banyak hal yang bisa Zio bahas dengan Atof, apapun: tentang band, kucing, proses bermusik, lagu yang paling enak untuk bermain gitar, atau bahkan bangunan, karena tak ia sangka mereka juga nyambung. Mereka sempat berhenti di salah satu sudut mal saat Dean mengajak satu band untuk nonton, tanpa sadar sama-sama menilik bangunan. Atof mengetukkan jarinya ke dinding, menebak komponen, dan Zio mendongak untuk melihat pondasi dan struktur bangunannya, lalu mereka berbincang lama—lebih seperti berdebat lantaran tidak ada yang mau kalah—hanya karena satu topik itu.&#xA;&#xA;Namun sayangnya, kejadian tadi justru memicu kepala Zio mengeluarkan banyak opsi tanya, dan ia malah pusing ingin bertanya yang mana. Pasti ia akan kikuk, kagok, gugup, berbicara dengan terbata-bata, dan Atof akan menertawakannya, Zio tidak ingin jadi bahan bulan-bulanan.&#xA;&#xA;“Thank you sarapannya.&#34; &#xA;&#xA;Zio sadar suara Atof agak tergugu, namun ia justru mengangguk berkali-kali seperti burung pelatuk ikut salah tingkah. Tuh, kan. Ah, sialan. Atof bangkit dari posisinya, mulai menepuk-nepuk saku mencari kunci mobilnya sendiri, benar-benar ingin pulang karena tidak ada lagi yang perlu ia kerjakan.&#xA;&#xA;“Jordannnn!!! Kok pintunya dibuka? Mamah masuk yaaa?” seru seseorang dari luar dengan suara mirip Mamahnya.&#xA;&#xA;Ia menoleh ke bagian luar kamar—kosnya memiliki dua ruangan—, lalu ke Atof yang berdiri tidak jauh darinya. Zio membulatkan mata pada Atof, Atof juga menatapnya kaget. Mereka saling pandang selama beberapa detik, Atof ikut panik karena ekspresi Zio sangat panik. “Mamah?!”&#xA;&#xA;“Itu Mamah lo?”&#xA;&#xA;Kepalanya mengangguk cepat, Mamahnya tidak mengabarinya lebih dulu sebelum berkunjung, namun untungnya beliau adalah seseorang yang selalu mengumumkan kedatangannya dengan suara lantang atau mengetuk pintu. Dengan tergesa Zio berusaha menyembunyikan gitarnya serta hal-hal yang berbau band. Atof mengamatinya dengan bingung, diam di tempatnya berdiri sejak tadi. &#xA;&#xA;&#34;Jordaaan, ini Mamah bawa makanan.&#34; Mamahnya melongok ke kamar ketika Zio berdiri di samping Atof memastikan metronom, tuner, gitar, amplifier speaker, dan barang-barang lain berhasil disembunyikan. &#34;Eh ada tamu?&#34;&#xA;&#xA;Sejurus kemudian, Zio merekahkan senyum paling lebar berlari kecil menghampiri Mamahnya, ia merentangkan tangan. &#34;Mamah, kok notice tamu nggak notice anak sendiri di sini?&#34; rengeknya. Ia berusaha menghalangi ruang pandang orang tuanya agar tidak semakin meneliti kamar. &#34;Mamah, Odan udah rentang tangan ini kayak senam, Mamah nggak mau peluk?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ih, Mamah mau sapa tamu kamu dulu, minggir.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nanti aja, tamunya nggak ke mana-mana, peluk duluuuu,&#34; ia merengek lagi.&#xA;&#xA;&#34;Aduh, manjanya anak bungsu.&#34; &#xA;&#xA;Zio tertawa, mendekap erat tubuh ringkih Mamahnya yang sudah berusia setengah abad. Menghirup dalam aroma khas rumah yang memiliki hubungan love-hate dengannya. Entah setidak suka apapun Zio berada di rumah, namun tetap saja ada kerinduan untuk pulang, juga tetap saja rumah jadi salah satu tempatnya untuk mencari aman dan nyaman. Ia meremas bahu Mamahnya ketika melepaskan rengkuhan. &#34;Mamah kok cantik banget hari ini?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gombal.&#34;&#xA;&#xA;Tawanya kembali mengguar, sejenak Zio melupakan presensi Atof di belakang mereka sebelum Mamahnya bertanya, &#34;Temenmu namanya siapa?&#34; &#xA;&#xA;Ia menoleh ke belakang, melihat Atof masih berdiri namun ada gurat senyum tipis yang menghiasi wajahnya. &#xA;&#xA;Mamahnya ikut melongok dari balik tubuh Zio, &#34;Namanya siapa, Nak?&#34;&#xA;&#xA;Atof dengan handalnya kian tersenyum (senyum yang hanya ia tunjukkan pada Coco, dan membuatnya terpana). Ia mulai mendekat ke arah Zio dan Mamahnya. Berdiri persis di belakang Zio karena mereka kini tengah berada di ambang pintu. &#34;Nama saya Atof, tante. Temen seban—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kakak tingkat aku, Mah. Ini Kak Atof, anak teknik sipil, suka sharing karena jurusannya bersinggungan,&#34; sela Zio.&#xA;&#xA;&#34;Iya, tante. Saya pamit langsung pulang ya, Tante? Ada keperluan lain.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh? Buru-buru banget? Nak Atof udah makan? Makan dulu bareng Jordan, ini Tante bawa banyak makanan, sebentar aja 15 menit.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kak Atof orang sibuk, Mah, mau buru-buru pulang, dia juga udah makan, iya kan?&#34;&#xA;&#xA;Zio mengerjapkan mata berkali-kali pada Atof agar pemuda yang lebih tua berkata iya (karena memang ia sudah sarapan tadi, dan agar Atof bisa langsung pulang). Namun sialnya, Atof hanya memasang wajah bingung pura-pura tak mengerti. Sampai pada akhirnya Zio sedikit sebal, mendesis kecil, mulutnya membentuk kata tanpa suara, &#34;Bilang iyaaa.&#34; &#xA;&#xA;Mamahnya memukul lengan atas anak lelakinya membuat Zio meringis. &#34;Kamu ya, nggak sopan ngusir tamu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ah, Mamah mukul-mukul, KDRT tau,&#34; keluh Zio, mengelus bagian yang dipukul. Atof terlihat menahan tawa geli, sialaaan.&#xA;&#xA;Pada akhirnya mereka menghabiskan waktu lebih dari lima belas menit. Makan lagi hingga kekenyangan meskipun sekarang masih jam sepuluh pagi—terhitung snack time. Sebab Mamah Zio mengemas banyak makanan yang bahkan bisa ia bagikan ke satu deret kos berisi lima kamar itu, serta ke pemilik kos, juga membekalkan khusus untuk Enricho. Mamahnya berceloteh ria tentang Zio pada Atof, membuat Atof sesekali tertawa seraya meliriknya.&#xA;&#xA;“Kamu nih ya harus tau dulu Jordan—”&#xA;&#xA;Zio mengerutkan wajahnya gemas, menahan diri untuk tidak merengek meminta Mamahnya berhenti. Mamahnya ini tipikal orang tua yang jika sudah bercerita pada teman anaknya pasti semua aib anak sejak ia tak ingat apa-apa sampai saat ini dibongkar semua seolah Zio tidak ada di sana. Sebenarnya tidak terhitung sebagai aib, namun tetap saja rasanya menyebalkan jika ia mendengarkan lagi dongeng Jordan yang menangis ditinggal Ayahnya mandi dan suka menjambak rambut Kakaknya jika merebut Ayah.&#xA;&#xA;“Mamah, suapin Odan, aaaaaa,” mulutnya menganga menunggu Mamahnya yang sedang menyendok salad buah dari container besar pada wadah milik Atof. Mamah menoleh padanya, mengerutkan kening bingung. Zio berhasil menghentikannya berkisah.&#xA;&#xA;&#34;Ih, kamu nggak malu depan temanmu?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Nggak malu, kenapa emang? Aaaaaa.&#34;&#xA;&#xA;Mamahnya menyerah, dan mulai menyendokkan potongan salad buah (yang lebih banyak buah mangga karena Zio menyukainya) dengan tumpukan keju di atasnya. Menyorongkan pada mulutnya untuk dilahap dengan nikmat.&#xA;&#xA;“Enak Cah lanang?”&#xA;&#xA;Zio mengangguk, terus-terusan menyela tiap Mamahnya ingin lanjut bercerita dengan meminta menyuapinya berkali-kali. “Ih, kamu ya orang lagi ngobrol digangguin aja,” keluh Mamahnya dengan nada sedikit sebal ala ibu-ibu.&#xA;&#xA;“Suapinnn,” rengeknya lagi, membuat Atof menggeleng-gelengkan kepala karena geli melihat tingkahnya yang manja. Zio berusaha tidak peduli, menyeringai saat memiliki ide brilian di kepalanya. &#34;Biar adil sekalian suapin Kak Atof.&#34; &#xA;&#xA;Sontak Atof membulatkan mata karena kalimatnya. Mamahnya langsung  memutar tubuh menghadap Atof untuk menyodorkan sendok dengan buah-buahan itu. &#xA;&#xA;&#34;Eh? Nggak usah, Tante, nggak apa-apa, saya bisa sendiri,&#34; tolaknya sopan.&#xA;&#xA;&#34;Suapin, Mah, suapin, dia malu-malu aja padahal mau,” bujuknya, Zio terkikik sempat bersorak, “Suapin! Suapin!” seperti supporter bola membuat Atof mendesis melemparkan belati dari matanya. &#xA;&#xA;&#34;Nurutin bocah lanang, dia bawel soalnya.&#34;&#xA;&#xA;Akhirnya, Atof menyerah ikut jadi korban, disuapi oleh Mamahnya membuat Zio tertawa kencang. Oh, ia akan menyimpan memori ini seumur hidup. Kapan lagi ia bisa meledek Atof dengan tameng Mamahnya? &#xA;&#xA;Sepanjang mereka mengobrol, Zio mengamati profil wajah sang Mamah yang kulitnya sudah semakin keriput karena usia. Ia baru menyadari bahwa orang tuanya yang dulu tampak sangat besar di matanya—sehingga ia perlu mendongak saat kecil untuk bertemu pandang—ternyata tidak sebesar itu. Tangan Mamahnya yang dulu sangat kuat menggendong Zio ke mana-mana lebih kurus dari miliknya. Punggung Mamahnya yang dulu juga bisa menghadang badai demi melindungi Zio juga sangat ringkih. It&#39;s about time. Zio harus berbakti pada orang tuanya yang begitu baik karena ia tahu tidak semua orang tua bersikap seperti mereka, agar ia tidak menyesal.&#xA;&#xA;&#34;Mamah pucet banget, lagi sakit?&#34; tanya Zio menyadari warna kulit sang mamah yang lebih pucat dari biasanya.&#xA;&#xA;&#34;Enggak, ini begadang aja tadi malem karena ada catering orang resepsi. Ini juga mau langsung kondangan ke anak teman Mamah.&#34;&#xA;&#xA;Zio mencebik, &#34;Aku udah pernah bilang nggak usah ikut ngurusin catering lagi, kan banyak karyawannya. Aku yang anter pulang ya? Jangan pake Gocar lagi, punya anak udah gede tuh diberdayakan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak usah, itu Nak Atof masa diusir lagi.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dia juga mau pulang kok.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya, tante. Saya mau pulang kok, nggak masalah. Atau saya yang antar sampai rumah? Sekalian pulang, biar Jordan nggak khawatir.&#34;&#xA;&#xA;Zio tak menyangka Atof akan menawarkan diri, namun Mamahnya langsung mengangguk mantap saat Atof menawarkannya—lebih memilih diantar Atof ketimbang dirinya (dasar pilih kasih padahal baru kenal sehari). Ia mengantarkan mereka hingga ke gerbang depan. &#xA;&#xA;&#34;Mamah hati-hati, jangan cerita aneh-aneh lagi tentang aku ke Kak Atof, awas aja,” ancamnya bercanda. Ia tahu Mamahnya pasti akan mengabaikan ancaman kecil itu dan mulai bercerita lagi. Namun ia berharap Atof tidak terlalu banyak mengetahui sisi kelamnya saat masih belia.&#xA;&#xA;Mamahnya mengenakan seat belt seraya merespons: &#34;Ih, kepedean banget kamu mau diomongin sama Mamah.&#34;&#xA;&#xA;Atof tersenyum di balik kemudi mendengarkan percakapan mereka dan mengangguk pada Zio, ia juga memberikan gestur serupa, dan kaca mobil pemuda itu ditutup. Ia mengantarkan kepergian mobil Atof hingga mengecil dan menghilang di persimpangan. &#xA;&#xA;Senyum Zio tidak luntur saat ia berbaring di kamarnya. &#xA;&#xA;(C) litamateur&#xA;BME]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><strong>tags</strong>: ±2100w, markno, fluff</p></blockquote>

<hr>

<h4 id="127-atof-zio-dan-mamah" id="127-atof-zio-dan-mamah">127. Atof, Zio, dan Mamah</h4>

<p>Sesuatu yang perlu kalian tahu adalah: pemilik kos Zio kenal dengan Atof dan mobilnya. 

Sebab terlalu terbiasa bolak-balik ke kos Zio entah apapun alasannya—lebih banyak tentang kucing dan band—, Atof mulai kenal dengan pemilik kosnya, Pak Sudrajat. Herannya, kedatangan Atof sangat disambut. Bapak kos Zio akan menyerukan <em>Talatof!!</em> saat mobil Atof parkir di pekarangan kos, dan <em>herannya</em> lagi mereka sangat akrab seperti teman lama tak bersua. Pak Sudrajat akan menepuk-nepuk punggung Atof, mempersilakannya masuk ke rumahnya jika ia ingin, meski ujungnya Atof akan menolak sopan karena punya urusan dengan Zio. Padahal menurut Zio, Atof bersikap sama saja saat bersama Pak Sudrajat seperti dengan orang sebaya, lebih banyak tersenyum tipis dan mengangguk ketika mereka mengobrol, atau tiba-tiba jadi Socrates. Namun mereka seperti terkoneksi, mampu berbincang tanpa mengenal waktu. Mungkin Atof adalah salah satu orang tua yang terjebak dalam tubuh mahasiswa. Maka dari itu, selera lagunya berputar di lagu-lagu jadul milik The Beatles, Queen, dan The Rolling Stone, sedangkan Zio lebih suka Arctic Monkeys, Panic! At The Disco , dan The Neighbourhood. </p>

<p>Dari sana juga ia tahu Atof bisa main catur (karena Zio sempat melihatnya bermain dengan Bapak kos hingga larut tempo hari). Zio tidak ingin bertanya bagaimana bisa? atau kapan ia mulai bermain? Sebab eksistensi Atof sendiri sudah jadi teka-teki, mungkin akan lebih banyak <em>puzzle</em> yang akan ia temukan di tempat terpisah, yang akan menyatu jadi bingkai utuh seorang Atof. Namun itu juga jika Atof ingin dikenal utuh, dan ia yakin Atof tidak semudah itu terbuka dengan orang lain. </p>

<p>Anehnya lagi, Atof sangat nyaman menggendong anak kucing miliknya yang lebih sering dipanggil <em>little Atof</em> ketimbang Coco nama aslinya. Atof seperti sangat menikmati waktu bermain bersama kucing meski Zio melihat hal tersebut tidak Atof sama sekali. Namun tiap Atof memangku anak bulu itu, mengelus tubuhnya, atau bermain dengan pancingan bulu agar Coco melompat-lompat, tak ayal membuat Zio tersenyum, lucu saja orang seperti Atof jadi budak kucing. </p>

<p>Ada binar pada wajah Atof, yang tak Zio temui ketika Atof berinteraksi dengan manusia, dan justru ia dapati saat pemuda itu bermain dengan anak bulu. Rasanya menyenangkan meskipun hanya menonton. Zio tidak akan berbohong berkata tidak senang kucingnya dapat makanan gratis dari Atof, juga dapat mainan-mainan baru, rasanya Atof juga pemilik kedua Coco. Mungkin Atof menemukan hiburan dari kucing, sama seperti Zio ketika ia merasa agak tertekan dan kucingnya seolah tahu lantas menghampirinya, mengeong bak tengah bertanya keadaannya. </p>

<p>Saat memandikan kucing pun mereka tertawa karena Coco berontak tidak ingin kena air. Atof lebih sering berujar <em>it&#39;s okay baby we got you</em> pada Coco ketika Zio mulai menyiram dan menyabuni tubuh kecilnya. Meskipun kamar mandi kos Zio tidak disarankan untuk dimuat oleh dua orang pria dewasa, mereka berhasil menyelesaikan misi, Atof sungguhan belajar memandikan kucing.</p>

<p>Kini Coco yang bersih dan wangi sudah berjemur di luar setelah dikeringkan dengan pengering rambut. Bermain dengan kucing lain yang suka mampir ke pekarangan kos. Atof bersiap-siap pulang namun Zio mencekal tangannya yang ingin pergi, membuat tubuhnya berjengit kaget. Zio tertawa saat Atof menatapnya dengan ekspresi terkejut. </p>

<p>“Duduk dulu bentar,” pintanya, wajah Atof lekas melunak. </p>

<p>“Kenapa? Ada yang perlu dibahas?” </p>

<p>“Ada, coba lihat tangannya.”</p>

<p>Atof mengulurkan kedua tangannya, dengan telapak tangan menghadap ke atas. Lantas, Zio membaliknya, menemukan garis panjang di punggung tangan kanan Atof hasil cakaran Coco. Ia menggiring Atof ke sofa, mengisyaratkan pemuda itu untuk duduk di sisinya. </p>

<p>“Luka sekecil apapun diobatin, nanti kena tetanus.“ </p>

<p>“<em>Nah, it&#39;s not a big deal</em>, mana mungkin dari kecakar kucing jadi tetanus,” balas Atof pada celetuknya. Zio menunduk, mengoles alkohol agar tidak terinfeksi, obat merah, lalu memasang plester meski lukanya tidak seberapa.  “<em>Kayaknya gue nggak bisa mandiin lagi</em>,” tambah Atof. </p>

<p>Zio tertawa, “Baru sekali mandiin udah nyerah.”</p>

<p>“Aktif banget Atofnya.“ </p>

<p>Senyum Zio terukir mendengar kalimat tersebut. Rasanya lucu mendengar Atof memanggil nama Atof seolah tengah menyebut diri sendiri. Saat ia mendongak, Atof tengah menatapnya lekat-lekat.</p>

<p>Apa Zio pernah bilang bola mata Atof sangat kelam seolah ia bisa tenggelam? Kalau iya, mungkin ia akan menyatakannya lagi. Zio seperti terserap ke sana, tenggelam.</p>

<p>“Ada bulu mata jatoh,” bisik Atof lirih.</p>

<p>Jemari Zio berusaha mengusap sekitar area matanya karena tidak tahu <em>dimana</em> tepatnya bulu mata yang jatuh. Sedang Atof terus memperhatikannya, tampak agak gemas karena ia tidak berhasil menemukan bulu mata yang dimaksud. </p>

<p>“Bukan di sana,” telapak tangan Atof menangkup rahangnya, membuat Zio mematung dan menahan napas. Atof mengusap pergi bulu matanya. Ia tidak yakin hanya imajinasinya saja atau sungguhan, namun Atof seperti mengelus tulang pipinya sekilas. Zio agak tersentak menjauhkan wajahnya dari sentuhan Atof karena ujung jarinya lebih dingin. Mungkin seluruh tubuhnya juga bersuhu sama dingin, seperti air laut yang menenggelamkan.</p>

<p>“<em>Sorry</em>.” </p>

<p>Mereka sama-sama berpaling ke arah lain karena bingung. </p>

<p><em>Here is the thing</em>: sebenarnya banyak hal yang bisa Zio bahas dengan Atof, apapun: tentang band, kucing, proses bermusik, lagu yang paling enak untuk bermain gitar, atau bahkan bangunan, karena tak ia sangka mereka juga <em>nyambung</em>. Mereka sempat berhenti di salah satu sudut mal saat Dean mengajak satu band untuk nonton, tanpa sadar sama-sama menilik bangunan. Atof mengetukkan jarinya ke dinding, menebak komponen, dan Zio mendongak untuk melihat pondasi dan struktur bangunannya, lalu mereka berbincang lama—lebih seperti berdebat lantaran tidak ada yang mau kalah—hanya karena satu topik itu.</p>

<p>Namun sayangnya, kejadian tadi justru memicu kepala Zio mengeluarkan banyak opsi tanya, dan ia malah pusing ingin bertanya yang mana. Pasti ia akan kikuk, kagok, gugup, berbicara dengan terbata-bata, dan Atof akan menertawakannya, Zio tidak ingin jadi bahan bulan-bulanan.</p>

<p>“<em>Thank you</em> sarapannya.“ </p>

<p>Zio sadar suara Atof agak tergugu, namun ia justru mengangguk berkali-kali seperti burung pelatuk ikut salah tingkah. Tuh, kan. Ah, sialan. Atof bangkit dari posisinya, mulai menepuk-nepuk saku mencari kunci mobilnya sendiri, benar-benar ingin pulang karena tidak ada lagi yang perlu ia kerjakan.</p>

<p>“Jordannnn!!! Kok pintunya dibuka? Mamah masuk yaaa?” seru seseorang dari luar dengan suara mirip Mamahnya.</p>

<p>Ia menoleh ke bagian luar kamar—kosnya memiliki dua ruangan—, lalu ke Atof yang berdiri tidak jauh darinya. Zio membulatkan mata pada Atof, Atof juga menatapnya kaget. Mereka saling pandang selama beberapa detik, Atof ikut panik karena ekspresi Zio sangat panik. “Mamah?!”</p>

<p>“Itu Mamah lo?”</p>

<p>Kepalanya mengangguk cepat, Mamahnya tidak mengabarinya lebih dulu sebelum berkunjung, namun untungnya beliau adalah seseorang yang selalu mengumumkan kedatangannya dengan suara lantang atau mengetuk pintu. Dengan tergesa Zio berusaha menyembunyikan gitarnya serta hal-hal yang berbau band. Atof mengamatinya dengan bingung, diam di tempatnya berdiri sejak tadi. </p>

<p>“Jordaaan, ini Mamah bawa makanan.” Mamahnya melongok ke kamar ketika Zio berdiri di samping Atof memastikan metronom, <em>tuner</em>, gitar, <em>amplifier speaker</em>, dan barang-barang lain berhasil disembunyikan. “Eh ada tamu?”</p>

<p>Sejurus kemudian, Zio merekahkan senyum paling lebar berlari kecil menghampiri Mamahnya, ia merentangkan tangan. “Mamah, kok <em>notice</em> tamu nggak <em>notice</em> anak sendiri di sini?” rengeknya. Ia berusaha menghalangi ruang pandang orang tuanya agar tidak semakin meneliti kamar. “Mamah, Odan udah rentang tangan ini kayak senam, Mamah nggak mau peluk?”</p>

<p>“Ih, Mamah mau sapa tamu kamu dulu, minggir.”</p>

<p>“Nanti aja, tamunya nggak ke mana-mana, peluk duluuuu,” ia merengek lagi.</p>

<p>“Aduh, manjanya anak bungsu.“ </p>

<p>Zio tertawa, mendekap erat tubuh ringkih Mamahnya yang sudah berusia setengah abad. Menghirup dalam aroma khas <em>rumah</em> yang memiliki hubungan <em>love-hate</em> dengannya. Entah setidak suka apapun Zio berada di rumah, namun tetap saja ada kerinduan untuk pulang, juga tetap saja rumah jadi salah satu tempatnya untuk mencari aman dan nyaman. Ia meremas bahu Mamahnya ketika melepaskan rengkuhan. “Mamah kok cantik banget hari ini?”</p>

<p>“Gombal.”</p>

<p>Tawanya kembali mengguar, sejenak Zio melupakan presensi Atof di belakang mereka sebelum Mamahnya bertanya, “Temenmu namanya siapa?“ </p>

<p>Ia menoleh ke belakang, melihat Atof masih berdiri namun ada gurat senyum tipis yang menghiasi wajahnya. </p>

<p>Mamahnya ikut melongok dari balik tubuh Zio, “Namanya siapa, Nak?”</p>

<p>Atof dengan handalnya kian tersenyum (senyum yang hanya ia tunjukkan pada Coco, dan membuatnya terpana). Ia mulai mendekat ke arah Zio dan Mamahnya. Berdiri persis di belakang Zio karena mereka kini tengah berada di ambang pintu. “Nama saya Atof, tante. Temen seban—”</p>

<p>“Kakak tingkat aku, Mah. Ini Kak Atof, anak teknik sipil, suka <em>sharing</em> karena jurusannya bersinggungan,” sela Zio.</p>

<p>“Iya, tante. Saya pamit langsung pulang ya, Tante? Ada keperluan lain.”</p>

<p>“Eh? Buru-buru banget? Nak Atof udah makan? Makan dulu bareng Jordan, ini Tante bawa banyak makanan, sebentar aja 15 menit.”</p>

<p>“Kak Atof orang sibuk, Mah, mau buru-buru pulang, dia juga udah makan, iya kan?”</p>

<p>Zio mengerjapkan mata berkali-kali pada Atof agar pemuda yang lebih tua berkata iya (karena memang ia sudah sarapan tadi, dan agar Atof bisa langsung pulang). Namun sialnya, Atof hanya memasang wajah bingung pura-pura tak mengerti. Sampai pada akhirnya Zio sedikit sebal, mendesis kecil, mulutnya membentuk kata tanpa suara, “Bilang iyaaa.“ </p>

<p>Mamahnya memukul lengan atas anak lelakinya membuat Zio meringis. “Kamu ya, nggak sopan ngusir tamu.”</p>

<p>“Ah, Mamah mukul-mukul, KDRT tau,” keluh Zio, mengelus bagian yang dipukul. Atof terlihat menahan tawa geli, sialaaan.</p>

<p>Pada akhirnya mereka menghabiskan waktu lebih dari lima belas menit. Makan lagi hingga kekenyangan meskipun sekarang masih jam sepuluh pagi—terhitung <em>snack time</em>. Sebab Mamah Zio mengemas banyak makanan yang bahkan bisa ia bagikan ke satu deret kos berisi lima kamar itu, serta ke pemilik kos, juga membekalkan khusus untuk Enricho. Mamahnya berceloteh ria tentang Zio pada Atof, membuat Atof sesekali tertawa seraya meliriknya.</p>

<p>“Kamu nih ya harus tau dulu Jordan—”</p>

<p>Zio mengerutkan wajahnya gemas, menahan diri untuk tidak merengek meminta Mamahnya berhenti. Mamahnya ini tipikal orang tua yang jika sudah bercerita pada teman anaknya pasti semua aib anak sejak ia tak ingat apa-apa sampai saat ini dibongkar semua seolah Zio tidak ada di sana. Sebenarnya tidak terhitung sebagai aib, namun tetap saja rasanya menyebalkan jika ia mendengarkan lagi dongeng <em>Jordan yang menangis ditinggal Ayahnya mandi dan suka menjambak rambut Kakaknya jika merebut Ayah</em>.</p>

<p>“Mamah, suapin Odan, aaaaaa,” mulutnya menganga menunggu Mamahnya yang sedang menyendok salad buah dari container besar pada wadah milik Atof. Mamah menoleh padanya, mengerutkan kening bingung. Zio berhasil menghentikannya berkisah.</p>

<p>“Ih, kamu nggak malu depan temanmu?“ </p>

<p>“Nggak malu, kenapa emang? Aaaaaa.”</p>

<p>Mamahnya menyerah, dan mulai menyendokkan potongan salad buah (yang lebih banyak buah mangga karena Zio menyukainya) dengan tumpukan keju di atasnya. Menyorongkan pada mulutnya untuk dilahap dengan nikmat.</p>

<p>“Enak Cah lanang?”</p>

<p>Zio mengangguk, terus-terusan menyela tiap Mamahnya ingin lanjut bercerita dengan meminta menyuapinya berkali-kali. “Ih, kamu ya orang lagi ngobrol digangguin aja,” keluh Mamahnya dengan nada sedikit sebal ala ibu-ibu.</p>

<p>“Suapinnn,” rengeknya lagi, membuat Atof menggeleng-gelengkan kepala karena geli melihat tingkahnya yang manja. Zio berusaha tidak peduli, menyeringai saat memiliki ide brilian di kepalanya. “Biar adil sekalian suapin Kak Atof.“ </p>

<p>Sontak Atof membulatkan mata karena kalimatnya. Mamahnya langsung  memutar tubuh menghadap Atof untuk menyodorkan sendok dengan buah-buahan itu. </p>

<p>“Eh? Nggak usah, Tante, nggak apa-apa, saya bisa sendiri,” tolaknya sopan.</p>

<p>“Suapin, Mah, suapin, dia malu-malu aja padahal mau,” bujuknya, Zio terkikik sempat bersorak, “Suapin! Suapin!” seperti <em>supporter</em> bola membuat Atof mendesis melemparkan belati dari matanya. </p>

<p>“Nurutin bocah lanang, dia bawel soalnya.”</p>

<p>Akhirnya, Atof menyerah ikut jadi korban, disuapi oleh Mamahnya membuat Zio tertawa kencang. Oh, ia akan menyimpan memori ini seumur hidup. Kapan lagi ia bisa meledek Atof dengan tameng Mamahnya? </p>

<p>Sepanjang mereka mengobrol, Zio mengamati profil wajah sang Mamah yang kulitnya sudah semakin keriput karena usia. Ia baru menyadari bahwa orang tuanya yang dulu tampak sangat besar di matanya—sehingga ia perlu mendongak saat kecil untuk bertemu pandang—ternyata tidak sebesar itu. Tangan Mamahnya yang dulu sangat kuat menggendong Zio ke mana-mana lebih kurus dari miliknya. Punggung Mamahnya yang dulu juga bisa menghadang badai demi melindungi Zio juga sangat ringkih. <em>It&#39;s about time</em>. Zio harus berbakti pada orang tuanya yang begitu baik karena ia tahu tidak semua orang tua bersikap seperti mereka, agar ia tidak menyesal.</p>

<p>“Mamah pucet banget, lagi sakit?” tanya Zio menyadari warna kulit sang mamah yang lebih pucat dari biasanya.</p>

<p>“Enggak, ini begadang aja tadi malem karena ada <em>catering</em> orang resepsi. Ini juga mau langsung kondangan ke anak teman Mamah.”</p>

<p>Zio mencebik, “Aku udah pernah bilang nggak usah ikut ngurusin <em>catering</em> lagi, kan banyak karyawannya. Aku yang anter pulang ya? Jangan pake Gocar lagi, punya anak udah gede tuh diberdayakan.”</p>

<p>“Nggak usah, itu Nak Atof masa diusir lagi.”</p>

<p>“Dia juga mau pulang kok.”</p>

<p>“Iya, tante. Saya mau pulang kok, nggak masalah. Atau saya yang antar sampai rumah? Sekalian pulang, biar Jordan nggak khawatir.”</p>

<p>Zio tak menyangka Atof akan menawarkan diri, namun Mamahnya langsung mengangguk mantap saat Atof menawarkannya—lebih memilih diantar Atof ketimbang dirinya (dasar pilih kasih padahal baru kenal sehari). Ia mengantarkan mereka hingga ke gerbang depan. </p>

<p>“Mamah hati-hati, jangan cerita aneh-aneh lagi tentang aku ke Kak Atof, awas aja,” ancamnya bercanda. Ia tahu Mamahnya pasti akan mengabaikan ancaman kecil itu dan mulai bercerita lagi. Namun ia berharap Atof tidak terlalu banyak mengetahui sisi kelamnya saat masih belia.</p>

<p>Mamahnya mengenakan <em>seat belt</em> seraya merespons: “Ih, kepedean banget kamu mau diomongin sama Mamah.”</p>

<p>Atof tersenyum di balik kemudi mendengarkan percakapan mereka dan mengangguk pada Zio, ia juga memberikan gestur serupa, dan kaca mobil pemuda itu ditutup. Ia mengantarkan kepergian mobil Atof hingga mengecil dan menghilang di persimpangan. </p>

<p>Senyum Zio tidak luntur saat ia berbaring di kamarnya. </p>

<p>© litamateur
<a href="/be-my-escape/tag:BME" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">BME</span></a></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://wordsmith.social/be-my-escape/be-my-escape-4l4h</guid>
      <pubDate>Tue, 14 Jun 2022 13:08:16 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>