<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>BME &amp;mdash; shooting stars</title>
    <link>https://wordsmith.social/be-my-escape/tag:BME</link>
    <description>dedicated to the strongest human being: atof and zio</description>
    <pubDate>Thu, 28 May 2026 04:09:06 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>BE MY ESCAPE</title>
      <link>https://wordsmith.social/be-my-escape/be-my-escape-4l4h</link>
      <description>&lt;![CDATA[  tags: ±2100w, markno, fluff&#xA;&#xA;hr&#xA;&#xA;127. Atof, Zio, dan Mamah&#xA;&#xA;Sesuatu yang perlu kalian tahu adalah: pemilik kos Zio kenal dengan Atof dan mobilnya. &#xA;!--more--&#xA;Sebab terlalu terbiasa bolak-balik ke kos Zio entah apapun alasannya—lebih banyak tentang kucing dan band—, Atof mulai kenal dengan pemilik kosnya, Pak Sudrajat. Herannya, kedatangan Atof sangat disambut. Bapak kos Zio akan menyerukan Talatof!! saat mobil Atof parkir di pekarangan kos, dan herannya lagi mereka sangat akrab seperti teman lama tak bersua. Pak Sudrajat akan menepuk-nepuk punggung Atof, mempersilakannya masuk ke rumahnya jika ia ingin, meski ujungnya Atof akan menolak sopan karena punya urusan dengan Zio. Padahal menurut Zio, Atof bersikap sama saja saat bersama Pak Sudrajat seperti dengan orang sebaya, lebih banyak tersenyum tipis dan mengangguk ketika mereka mengobrol, atau tiba-tiba jadi Socrates. Namun mereka seperti terkoneksi, mampu berbincang tanpa mengenal waktu. Mungkin Atof adalah salah satu orang tua yang terjebak dalam tubuh mahasiswa. Maka dari itu, selera lagunya berputar di lagu-lagu jadul milik The Beatles, Queen, dan The Rolling Stone, sedangkan Zio lebih suka Arctic Monkeys, Panic! At The Disco , dan The Neighbourhood. &#xA;&#xA;Dari sana juga ia tahu Atof bisa main catur (karena Zio sempat melihatnya bermain dengan Bapak kos hingga larut tempo hari). Zio tidak ingin bertanya bagaimana bisa? atau kapan ia mulai bermain? Sebab eksistensi Atof sendiri sudah jadi teka-teki, mungkin akan lebih banyak puzzle yang akan ia temukan di tempat terpisah, yang akan menyatu jadi bingkai utuh seorang Atof. Namun itu juga jika Atof ingin dikenal utuh, dan ia yakin Atof tidak semudah itu terbuka dengan orang lain. &#xA;&#xA;Anehnya lagi, Atof sangat nyaman menggendong anak kucing miliknya yang lebih sering dipanggil little Atof ketimbang Coco nama aslinya. Atof seperti sangat menikmati waktu bermain bersama kucing meski Zio melihat hal tersebut tidak Atof sama sekali. Namun tiap Atof memangku anak bulu itu, mengelus tubuhnya, atau bermain dengan pancingan bulu agar Coco melompat-lompat, tak ayal membuat Zio tersenyum, lucu saja orang seperti Atof jadi budak kucing. &#xA;&#xA;Ada binar pada wajah Atof, yang tak Zio temui ketika Atof berinteraksi dengan manusia, dan justru ia dapati saat pemuda itu bermain dengan anak bulu. Rasanya menyenangkan meskipun hanya menonton. Zio tidak akan berbohong berkata tidak senang kucingnya dapat makanan gratis dari Atof, juga dapat mainan-mainan baru, rasanya Atof juga pemilik kedua Coco. Mungkin Atof menemukan hiburan dari kucing, sama seperti Zio ketika ia merasa agak tertekan dan kucingnya seolah tahu lantas menghampirinya, mengeong bak tengah bertanya keadaannya. &#xA;&#xA;Saat memandikan kucing pun mereka tertawa karena Coco berontak tidak ingin kena air. Atof lebih sering berujar it&#39;s okay baby we got you pada Coco ketika Zio mulai menyiram dan menyabuni tubuh kecilnya. Meskipun kamar mandi kos Zio tidak disarankan untuk dimuat oleh dua orang pria dewasa, mereka berhasil menyelesaikan misi, Atof sungguhan belajar memandikan kucing.&#xA;&#xA;Kini Coco yang bersih dan wangi sudah berjemur di luar setelah dikeringkan dengan pengering rambut. Bermain dengan kucing lain yang suka mampir ke pekarangan kos. Atof bersiap-siap pulang namun Zio mencekal tangannya yang ingin pergi, membuat tubuhnya berjengit kaget. Zio tertawa saat Atof menatapnya dengan ekspresi terkejut. &#xA;&#xA;“Duduk dulu bentar,” pintanya, wajah Atof lekas melunak. &#xA;&#xA;“Kenapa? Ada yang perlu dibahas?” &#xA;&#xA;&#34;Ada, coba lihat tangannya.&#34;&#xA;&#xA;Atof mengulurkan kedua tangannya, dengan telapak tangan menghadap ke atas. Lantas, Zio membaliknya, menemukan garis panjang di punggung tangan kanan Atof hasil cakaran Coco. Ia menggiring Atof ke sofa, mengisyaratkan pemuda itu untuk duduk di sisinya. &#xA;&#xA;&#34;Luka sekecil apapun diobatin, nanti kena tetanus.&#34; &#xA;&#xA;“Nah, it&#39;s not a big deal, mana mungkin dari kecakar kucing jadi tetanus,&#34; balas Atof pada celetuknya. Zio menunduk, mengoles alkohol agar tidak terinfeksi, obat merah, lalu memasang plester meski lukanya tidak seberapa.  “Kayaknya gue nggak bisa mandiin lagi,&#34; tambah Atof. &#xA;&#xA;Zio tertawa, &#34;Baru sekali mandiin udah nyerah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aktif banget Atofnya.&#34; &#xA;&#xA;Senyum Zio terukir mendengar kalimat tersebut. Rasanya lucu mendengar Atof memanggil nama Atof seolah tengah menyebut diri sendiri. Saat ia mendongak, Atof tengah menatapnya lekat-lekat.&#xA;&#xA;Apa Zio pernah bilang bola mata Atof sangat kelam seolah ia bisa tenggelam? Kalau iya, mungkin ia akan menyatakannya lagi. Zio seperti terserap ke sana, tenggelam.&#xA;&#xA;&#34;Ada bulu mata jatoh,&#34; bisik Atof lirih.&#xA;&#xA;Jemari Zio berusaha mengusap sekitar area matanya karena tidak tahu dimana tepatnya bulu mata yang jatuh. Sedang Atof terus memperhatikannya, tampak agak gemas karena ia tidak berhasil menemukan bulu mata yang dimaksud. &#xA;&#xA;&#34;Bukan di sana,&#34; telapak tangan Atof menangkup rahangnya, membuat Zio mematung dan menahan napas. Atof mengusap pergi bulu matanya. Ia tidak yakin hanya imajinasinya saja atau sungguhan, namun Atof seperti mengelus tulang pipinya sekilas. Zio agak tersentak menjauhkan wajahnya dari sentuhan Atof karena ujung jarinya lebih dingin. Mungkin seluruh tubuhnya juga bersuhu sama dingin, seperti air laut yang menenggelamkan.&#xA;&#xA;“Sorry.” &#xA;&#xA;Mereka sama-sama berpaling ke arah lain karena bingung. &#xA;&#xA;Here is the thing: sebenarnya banyak hal yang bisa Zio bahas dengan Atof, apapun: tentang band, kucing, proses bermusik, lagu yang paling enak untuk bermain gitar, atau bahkan bangunan, karena tak ia sangka mereka juga nyambung. Mereka sempat berhenti di salah satu sudut mal saat Dean mengajak satu band untuk nonton, tanpa sadar sama-sama menilik bangunan. Atof mengetukkan jarinya ke dinding, menebak komponen, dan Zio mendongak untuk melihat pondasi dan struktur bangunannya, lalu mereka berbincang lama—lebih seperti berdebat lantaran tidak ada yang mau kalah—hanya karena satu topik itu.&#xA;&#xA;Namun sayangnya, kejadian tadi justru memicu kepala Zio mengeluarkan banyak opsi tanya, dan ia malah pusing ingin bertanya yang mana. Pasti ia akan kikuk, kagok, gugup, berbicara dengan terbata-bata, dan Atof akan menertawakannya, Zio tidak ingin jadi bahan bulan-bulanan.&#xA;&#xA;“Thank you sarapannya.&#34; &#xA;&#xA;Zio sadar suara Atof agak tergugu, namun ia justru mengangguk berkali-kali seperti burung pelatuk ikut salah tingkah. Tuh, kan. Ah, sialan. Atof bangkit dari posisinya, mulai menepuk-nepuk saku mencari kunci mobilnya sendiri, benar-benar ingin pulang karena tidak ada lagi yang perlu ia kerjakan.&#xA;&#xA;“Jordannnn!!! Kok pintunya dibuka? Mamah masuk yaaa?” seru seseorang dari luar dengan suara mirip Mamahnya.&#xA;&#xA;Ia menoleh ke bagian luar kamar—kosnya memiliki dua ruangan—, lalu ke Atof yang berdiri tidak jauh darinya. Zio membulatkan mata pada Atof, Atof juga menatapnya kaget. Mereka saling pandang selama beberapa detik, Atof ikut panik karena ekspresi Zio sangat panik. “Mamah?!”&#xA;&#xA;“Itu Mamah lo?”&#xA;&#xA;Kepalanya mengangguk cepat, Mamahnya tidak mengabarinya lebih dulu sebelum berkunjung, namun untungnya beliau adalah seseorang yang selalu mengumumkan kedatangannya dengan suara lantang atau mengetuk pintu. Dengan tergesa Zio berusaha menyembunyikan gitarnya serta hal-hal yang berbau band. Atof mengamatinya dengan bingung, diam di tempatnya berdiri sejak tadi. &#xA;&#xA;&#34;Jordaaan, ini Mamah bawa makanan.&#34; Mamahnya melongok ke kamar ketika Zio berdiri di samping Atof memastikan metronom, tuner, gitar, amplifier speaker, dan barang-barang lain berhasil disembunyikan. &#34;Eh ada tamu?&#34;&#xA;&#xA;Sejurus kemudian, Zio merekahkan senyum paling lebar berlari kecil menghampiri Mamahnya, ia merentangkan tangan. &#34;Mamah, kok notice tamu nggak notice anak sendiri di sini?&#34; rengeknya. Ia berusaha menghalangi ruang pandang orang tuanya agar tidak semakin meneliti kamar. &#34;Mamah, Odan udah rentang tangan ini kayak senam, Mamah nggak mau peluk?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ih, Mamah mau sapa tamu kamu dulu, minggir.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nanti aja, tamunya nggak ke mana-mana, peluk duluuuu,&#34; ia merengek lagi.&#xA;&#xA;&#34;Aduh, manjanya anak bungsu.&#34; &#xA;&#xA;Zio tertawa, mendekap erat tubuh ringkih Mamahnya yang sudah berusia setengah abad. Menghirup dalam aroma khas rumah yang memiliki hubungan love-hate dengannya. Entah setidak suka apapun Zio berada di rumah, namun tetap saja ada kerinduan untuk pulang, juga tetap saja rumah jadi salah satu tempatnya untuk mencari aman dan nyaman. Ia meremas bahu Mamahnya ketika melepaskan rengkuhan. &#34;Mamah kok cantik banget hari ini?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gombal.&#34;&#xA;&#xA;Tawanya kembali mengguar, sejenak Zio melupakan presensi Atof di belakang mereka sebelum Mamahnya bertanya, &#34;Temenmu namanya siapa?&#34; &#xA;&#xA;Ia menoleh ke belakang, melihat Atof masih berdiri namun ada gurat senyum tipis yang menghiasi wajahnya. &#xA;&#xA;Mamahnya ikut melongok dari balik tubuh Zio, &#34;Namanya siapa, Nak?&#34;&#xA;&#xA;Atof dengan handalnya kian tersenyum (senyum yang hanya ia tunjukkan pada Coco, dan membuatnya terpana). Ia mulai mendekat ke arah Zio dan Mamahnya. Berdiri persis di belakang Zio karena mereka kini tengah berada di ambang pintu. &#34;Nama saya Atof, tante. Temen seban—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kakak tingkat aku, Mah. Ini Kak Atof, anak teknik sipil, suka sharing karena jurusannya bersinggungan,&#34; sela Zio.&#xA;&#xA;&#34;Iya, tante. Saya pamit langsung pulang ya, Tante? Ada keperluan lain.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eh? Buru-buru banget? Nak Atof udah makan? Makan dulu bareng Jordan, ini Tante bawa banyak makanan, sebentar aja 15 menit.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kak Atof orang sibuk, Mah, mau buru-buru pulang, dia juga udah makan, iya kan?&#34;&#xA;&#xA;Zio mengerjapkan mata berkali-kali pada Atof agar pemuda yang lebih tua berkata iya (karena memang ia sudah sarapan tadi, dan agar Atof bisa langsung pulang). Namun sialnya, Atof hanya memasang wajah bingung pura-pura tak mengerti. Sampai pada akhirnya Zio sedikit sebal, mendesis kecil, mulutnya membentuk kata tanpa suara, &#34;Bilang iyaaa.&#34; &#xA;&#xA;Mamahnya memukul lengan atas anak lelakinya membuat Zio meringis. &#34;Kamu ya, nggak sopan ngusir tamu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ah, Mamah mukul-mukul, KDRT tau,&#34; keluh Zio, mengelus bagian yang dipukul. Atof terlihat menahan tawa geli, sialaaan.&#xA;&#xA;Pada akhirnya mereka menghabiskan waktu lebih dari lima belas menit. Makan lagi hingga kekenyangan meskipun sekarang masih jam sepuluh pagi—terhitung snack time. Sebab Mamah Zio mengemas banyak makanan yang bahkan bisa ia bagikan ke satu deret kos berisi lima kamar itu, serta ke pemilik kos, juga membekalkan khusus untuk Enricho. Mamahnya berceloteh ria tentang Zio pada Atof, membuat Atof sesekali tertawa seraya meliriknya.&#xA;&#xA;“Kamu nih ya harus tau dulu Jordan—”&#xA;&#xA;Zio mengerutkan wajahnya gemas, menahan diri untuk tidak merengek meminta Mamahnya berhenti. Mamahnya ini tipikal orang tua yang jika sudah bercerita pada teman anaknya pasti semua aib anak sejak ia tak ingat apa-apa sampai saat ini dibongkar semua seolah Zio tidak ada di sana. Sebenarnya tidak terhitung sebagai aib, namun tetap saja rasanya menyebalkan jika ia mendengarkan lagi dongeng Jordan yang menangis ditinggal Ayahnya mandi dan suka menjambak rambut Kakaknya jika merebut Ayah.&#xA;&#xA;“Mamah, suapin Odan, aaaaaa,” mulutnya menganga menunggu Mamahnya yang sedang menyendok salad buah dari container besar pada wadah milik Atof. Mamah menoleh padanya, mengerutkan kening bingung. Zio berhasil menghentikannya berkisah.&#xA;&#xA;&#34;Ih, kamu nggak malu depan temanmu?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Nggak malu, kenapa emang? Aaaaaa.&#34;&#xA;&#xA;Mamahnya menyerah, dan mulai menyendokkan potongan salad buah (yang lebih banyak buah mangga karena Zio menyukainya) dengan tumpukan keju di atasnya. Menyorongkan pada mulutnya untuk dilahap dengan nikmat.&#xA;&#xA;“Enak Cah lanang?”&#xA;&#xA;Zio mengangguk, terus-terusan menyela tiap Mamahnya ingin lanjut bercerita dengan meminta menyuapinya berkali-kali. “Ih, kamu ya orang lagi ngobrol digangguin aja,” keluh Mamahnya dengan nada sedikit sebal ala ibu-ibu.&#xA;&#xA;“Suapinnn,” rengeknya lagi, membuat Atof menggeleng-gelengkan kepala karena geli melihat tingkahnya yang manja. Zio berusaha tidak peduli, menyeringai saat memiliki ide brilian di kepalanya. &#34;Biar adil sekalian suapin Kak Atof.&#34; &#xA;&#xA;Sontak Atof membulatkan mata karena kalimatnya. Mamahnya langsung  memutar tubuh menghadap Atof untuk menyodorkan sendok dengan buah-buahan itu. &#xA;&#xA;&#34;Eh? Nggak usah, Tante, nggak apa-apa, saya bisa sendiri,&#34; tolaknya sopan.&#xA;&#xA;&#34;Suapin, Mah, suapin, dia malu-malu aja padahal mau,” bujuknya, Zio terkikik sempat bersorak, “Suapin! Suapin!” seperti supporter bola membuat Atof mendesis melemparkan belati dari matanya. &#xA;&#xA;&#34;Nurutin bocah lanang, dia bawel soalnya.&#34;&#xA;&#xA;Akhirnya, Atof menyerah ikut jadi korban, disuapi oleh Mamahnya membuat Zio tertawa kencang. Oh, ia akan menyimpan memori ini seumur hidup. Kapan lagi ia bisa meledek Atof dengan tameng Mamahnya? &#xA;&#xA;Sepanjang mereka mengobrol, Zio mengamati profil wajah sang Mamah yang kulitnya sudah semakin keriput karena usia. Ia baru menyadari bahwa orang tuanya yang dulu tampak sangat besar di matanya—sehingga ia perlu mendongak saat kecil untuk bertemu pandang—ternyata tidak sebesar itu. Tangan Mamahnya yang dulu sangat kuat menggendong Zio ke mana-mana lebih kurus dari miliknya. Punggung Mamahnya yang dulu juga bisa menghadang badai demi melindungi Zio juga sangat ringkih. It&#39;s about time. Zio harus berbakti pada orang tuanya yang begitu baik karena ia tahu tidak semua orang tua bersikap seperti mereka, agar ia tidak menyesal.&#xA;&#xA;&#34;Mamah pucet banget, lagi sakit?&#34; tanya Zio menyadari warna kulit sang mamah yang lebih pucat dari biasanya.&#xA;&#xA;&#34;Enggak, ini begadang aja tadi malem karena ada catering orang resepsi. Ini juga mau langsung kondangan ke anak teman Mamah.&#34;&#xA;&#xA;Zio mencebik, &#34;Aku udah pernah bilang nggak usah ikut ngurusin catering lagi, kan banyak karyawannya. Aku yang anter pulang ya? Jangan pake Gocar lagi, punya anak udah gede tuh diberdayakan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak usah, itu Nak Atof masa diusir lagi.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dia juga mau pulang kok.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya, tante. Saya mau pulang kok, nggak masalah. Atau saya yang antar sampai rumah? Sekalian pulang, biar Jordan nggak khawatir.&#34;&#xA;&#xA;Zio tak menyangka Atof akan menawarkan diri, namun Mamahnya langsung mengangguk mantap saat Atof menawarkannya—lebih memilih diantar Atof ketimbang dirinya (dasar pilih kasih padahal baru kenal sehari). Ia mengantarkan mereka hingga ke gerbang depan. &#xA;&#xA;&#34;Mamah hati-hati, jangan cerita aneh-aneh lagi tentang aku ke Kak Atof, awas aja,” ancamnya bercanda. Ia tahu Mamahnya pasti akan mengabaikan ancaman kecil itu dan mulai bercerita lagi. Namun ia berharap Atof tidak terlalu banyak mengetahui sisi kelamnya saat masih belia.&#xA;&#xA;Mamahnya mengenakan seat belt seraya merespons: &#34;Ih, kepedean banget kamu mau diomongin sama Mamah.&#34;&#xA;&#xA;Atof tersenyum di balik kemudi mendengarkan percakapan mereka dan mengangguk pada Zio, ia juga memberikan gestur serupa, dan kaca mobil pemuda itu ditutup. Ia mengantarkan kepergian mobil Atof hingga mengecil dan menghilang di persimpangan. &#xA;&#xA;Senyum Zio tidak luntur saat ia berbaring di kamarnya. &#xA;&#xA;(C) litamateur&#xA;BME]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><strong>tags</strong>: ±2100w, markno, fluff</p></blockquote>

<hr>

<h4 id="127-atof-zio-dan-mamah" id="127-atof-zio-dan-mamah">127. Atof, Zio, dan Mamah</h4>

<p>Sesuatu yang perlu kalian tahu adalah: pemilik kos Zio kenal dengan Atof dan mobilnya. 

Sebab terlalu terbiasa bolak-balik ke kos Zio entah apapun alasannya—lebih banyak tentang kucing dan band—, Atof mulai kenal dengan pemilik kosnya, Pak Sudrajat. Herannya, kedatangan Atof sangat disambut. Bapak kos Zio akan menyerukan <em>Talatof!!</em> saat mobil Atof parkir di pekarangan kos, dan <em>herannya</em> lagi mereka sangat akrab seperti teman lama tak bersua. Pak Sudrajat akan menepuk-nepuk punggung Atof, mempersilakannya masuk ke rumahnya jika ia ingin, meski ujungnya Atof akan menolak sopan karena punya urusan dengan Zio. Padahal menurut Zio, Atof bersikap sama saja saat bersama Pak Sudrajat seperti dengan orang sebaya, lebih banyak tersenyum tipis dan mengangguk ketika mereka mengobrol, atau tiba-tiba jadi Socrates. Namun mereka seperti terkoneksi, mampu berbincang tanpa mengenal waktu. Mungkin Atof adalah salah satu orang tua yang terjebak dalam tubuh mahasiswa. Maka dari itu, selera lagunya berputar di lagu-lagu jadul milik The Beatles, Queen, dan The Rolling Stone, sedangkan Zio lebih suka Arctic Monkeys, Panic! At The Disco , dan The Neighbourhood. </p>

<p>Dari sana juga ia tahu Atof bisa main catur (karena Zio sempat melihatnya bermain dengan Bapak kos hingga larut tempo hari). Zio tidak ingin bertanya bagaimana bisa? atau kapan ia mulai bermain? Sebab eksistensi Atof sendiri sudah jadi teka-teki, mungkin akan lebih banyak <em>puzzle</em> yang akan ia temukan di tempat terpisah, yang akan menyatu jadi bingkai utuh seorang Atof. Namun itu juga jika Atof ingin dikenal utuh, dan ia yakin Atof tidak semudah itu terbuka dengan orang lain. </p>

<p>Anehnya lagi, Atof sangat nyaman menggendong anak kucing miliknya yang lebih sering dipanggil <em>little Atof</em> ketimbang Coco nama aslinya. Atof seperti sangat menikmati waktu bermain bersama kucing meski Zio melihat hal tersebut tidak Atof sama sekali. Namun tiap Atof memangku anak bulu itu, mengelus tubuhnya, atau bermain dengan pancingan bulu agar Coco melompat-lompat, tak ayal membuat Zio tersenyum, lucu saja orang seperti Atof jadi budak kucing. </p>

<p>Ada binar pada wajah Atof, yang tak Zio temui ketika Atof berinteraksi dengan manusia, dan justru ia dapati saat pemuda itu bermain dengan anak bulu. Rasanya menyenangkan meskipun hanya menonton. Zio tidak akan berbohong berkata tidak senang kucingnya dapat makanan gratis dari Atof, juga dapat mainan-mainan baru, rasanya Atof juga pemilik kedua Coco. Mungkin Atof menemukan hiburan dari kucing, sama seperti Zio ketika ia merasa agak tertekan dan kucingnya seolah tahu lantas menghampirinya, mengeong bak tengah bertanya keadaannya. </p>

<p>Saat memandikan kucing pun mereka tertawa karena Coco berontak tidak ingin kena air. Atof lebih sering berujar <em>it&#39;s okay baby we got you</em> pada Coco ketika Zio mulai menyiram dan menyabuni tubuh kecilnya. Meskipun kamar mandi kos Zio tidak disarankan untuk dimuat oleh dua orang pria dewasa, mereka berhasil menyelesaikan misi, Atof sungguhan belajar memandikan kucing.</p>

<p>Kini Coco yang bersih dan wangi sudah berjemur di luar setelah dikeringkan dengan pengering rambut. Bermain dengan kucing lain yang suka mampir ke pekarangan kos. Atof bersiap-siap pulang namun Zio mencekal tangannya yang ingin pergi, membuat tubuhnya berjengit kaget. Zio tertawa saat Atof menatapnya dengan ekspresi terkejut. </p>

<p>“Duduk dulu bentar,” pintanya, wajah Atof lekas melunak. </p>

<p>“Kenapa? Ada yang perlu dibahas?” </p>

<p>“Ada, coba lihat tangannya.”</p>

<p>Atof mengulurkan kedua tangannya, dengan telapak tangan menghadap ke atas. Lantas, Zio membaliknya, menemukan garis panjang di punggung tangan kanan Atof hasil cakaran Coco. Ia menggiring Atof ke sofa, mengisyaratkan pemuda itu untuk duduk di sisinya. </p>

<p>“Luka sekecil apapun diobatin, nanti kena tetanus.“ </p>

<p>“<em>Nah, it&#39;s not a big deal</em>, mana mungkin dari kecakar kucing jadi tetanus,” balas Atof pada celetuknya. Zio menunduk, mengoles alkohol agar tidak terinfeksi, obat merah, lalu memasang plester meski lukanya tidak seberapa.  “<em>Kayaknya gue nggak bisa mandiin lagi</em>,” tambah Atof. </p>

<p>Zio tertawa, “Baru sekali mandiin udah nyerah.”</p>

<p>“Aktif banget Atofnya.“ </p>

<p>Senyum Zio terukir mendengar kalimat tersebut. Rasanya lucu mendengar Atof memanggil nama Atof seolah tengah menyebut diri sendiri. Saat ia mendongak, Atof tengah menatapnya lekat-lekat.</p>

<p>Apa Zio pernah bilang bola mata Atof sangat kelam seolah ia bisa tenggelam? Kalau iya, mungkin ia akan menyatakannya lagi. Zio seperti terserap ke sana, tenggelam.</p>

<p>“Ada bulu mata jatoh,” bisik Atof lirih.</p>

<p>Jemari Zio berusaha mengusap sekitar area matanya karena tidak tahu <em>dimana</em> tepatnya bulu mata yang jatuh. Sedang Atof terus memperhatikannya, tampak agak gemas karena ia tidak berhasil menemukan bulu mata yang dimaksud. </p>

<p>“Bukan di sana,” telapak tangan Atof menangkup rahangnya, membuat Zio mematung dan menahan napas. Atof mengusap pergi bulu matanya. Ia tidak yakin hanya imajinasinya saja atau sungguhan, namun Atof seperti mengelus tulang pipinya sekilas. Zio agak tersentak menjauhkan wajahnya dari sentuhan Atof karena ujung jarinya lebih dingin. Mungkin seluruh tubuhnya juga bersuhu sama dingin, seperti air laut yang menenggelamkan.</p>

<p>“<em>Sorry</em>.” </p>

<p>Mereka sama-sama berpaling ke arah lain karena bingung. </p>

<p><em>Here is the thing</em>: sebenarnya banyak hal yang bisa Zio bahas dengan Atof, apapun: tentang band, kucing, proses bermusik, lagu yang paling enak untuk bermain gitar, atau bahkan bangunan, karena tak ia sangka mereka juga <em>nyambung</em>. Mereka sempat berhenti di salah satu sudut mal saat Dean mengajak satu band untuk nonton, tanpa sadar sama-sama menilik bangunan. Atof mengetukkan jarinya ke dinding, menebak komponen, dan Zio mendongak untuk melihat pondasi dan struktur bangunannya, lalu mereka berbincang lama—lebih seperti berdebat lantaran tidak ada yang mau kalah—hanya karena satu topik itu.</p>

<p>Namun sayangnya, kejadian tadi justru memicu kepala Zio mengeluarkan banyak opsi tanya, dan ia malah pusing ingin bertanya yang mana. Pasti ia akan kikuk, kagok, gugup, berbicara dengan terbata-bata, dan Atof akan menertawakannya, Zio tidak ingin jadi bahan bulan-bulanan.</p>

<p>“<em>Thank you</em> sarapannya.“ </p>

<p>Zio sadar suara Atof agak tergugu, namun ia justru mengangguk berkali-kali seperti burung pelatuk ikut salah tingkah. Tuh, kan. Ah, sialan. Atof bangkit dari posisinya, mulai menepuk-nepuk saku mencari kunci mobilnya sendiri, benar-benar ingin pulang karena tidak ada lagi yang perlu ia kerjakan.</p>

<p>“Jordannnn!!! Kok pintunya dibuka? Mamah masuk yaaa?” seru seseorang dari luar dengan suara mirip Mamahnya.</p>

<p>Ia menoleh ke bagian luar kamar—kosnya memiliki dua ruangan—, lalu ke Atof yang berdiri tidak jauh darinya. Zio membulatkan mata pada Atof, Atof juga menatapnya kaget. Mereka saling pandang selama beberapa detik, Atof ikut panik karena ekspresi Zio sangat panik. “Mamah?!”</p>

<p>“Itu Mamah lo?”</p>

<p>Kepalanya mengangguk cepat, Mamahnya tidak mengabarinya lebih dulu sebelum berkunjung, namun untungnya beliau adalah seseorang yang selalu mengumumkan kedatangannya dengan suara lantang atau mengetuk pintu. Dengan tergesa Zio berusaha menyembunyikan gitarnya serta hal-hal yang berbau band. Atof mengamatinya dengan bingung, diam di tempatnya berdiri sejak tadi. </p>

<p>“Jordaaan, ini Mamah bawa makanan.” Mamahnya melongok ke kamar ketika Zio berdiri di samping Atof memastikan metronom, <em>tuner</em>, gitar, <em>amplifier speaker</em>, dan barang-barang lain berhasil disembunyikan. “Eh ada tamu?”</p>

<p>Sejurus kemudian, Zio merekahkan senyum paling lebar berlari kecil menghampiri Mamahnya, ia merentangkan tangan. “Mamah, kok <em>notice</em> tamu nggak <em>notice</em> anak sendiri di sini?” rengeknya. Ia berusaha menghalangi ruang pandang orang tuanya agar tidak semakin meneliti kamar. “Mamah, Odan udah rentang tangan ini kayak senam, Mamah nggak mau peluk?”</p>

<p>“Ih, Mamah mau sapa tamu kamu dulu, minggir.”</p>

<p>“Nanti aja, tamunya nggak ke mana-mana, peluk duluuuu,” ia merengek lagi.</p>

<p>“Aduh, manjanya anak bungsu.“ </p>

<p>Zio tertawa, mendekap erat tubuh ringkih Mamahnya yang sudah berusia setengah abad. Menghirup dalam aroma khas <em>rumah</em> yang memiliki hubungan <em>love-hate</em> dengannya. Entah setidak suka apapun Zio berada di rumah, namun tetap saja ada kerinduan untuk pulang, juga tetap saja rumah jadi salah satu tempatnya untuk mencari aman dan nyaman. Ia meremas bahu Mamahnya ketika melepaskan rengkuhan. “Mamah kok cantik banget hari ini?”</p>

<p>“Gombal.”</p>

<p>Tawanya kembali mengguar, sejenak Zio melupakan presensi Atof di belakang mereka sebelum Mamahnya bertanya, “Temenmu namanya siapa?“ </p>

<p>Ia menoleh ke belakang, melihat Atof masih berdiri namun ada gurat senyum tipis yang menghiasi wajahnya. </p>

<p>Mamahnya ikut melongok dari balik tubuh Zio, “Namanya siapa, Nak?”</p>

<p>Atof dengan handalnya kian tersenyum (senyum yang hanya ia tunjukkan pada Coco, dan membuatnya terpana). Ia mulai mendekat ke arah Zio dan Mamahnya. Berdiri persis di belakang Zio karena mereka kini tengah berada di ambang pintu. “Nama saya Atof, tante. Temen seban—”</p>

<p>“Kakak tingkat aku, Mah. Ini Kak Atof, anak teknik sipil, suka <em>sharing</em> karena jurusannya bersinggungan,” sela Zio.</p>

<p>“Iya, tante. Saya pamit langsung pulang ya, Tante? Ada keperluan lain.”</p>

<p>“Eh? Buru-buru banget? Nak Atof udah makan? Makan dulu bareng Jordan, ini Tante bawa banyak makanan, sebentar aja 15 menit.”</p>

<p>“Kak Atof orang sibuk, Mah, mau buru-buru pulang, dia juga udah makan, iya kan?”</p>

<p>Zio mengerjapkan mata berkali-kali pada Atof agar pemuda yang lebih tua berkata iya (karena memang ia sudah sarapan tadi, dan agar Atof bisa langsung pulang). Namun sialnya, Atof hanya memasang wajah bingung pura-pura tak mengerti. Sampai pada akhirnya Zio sedikit sebal, mendesis kecil, mulutnya membentuk kata tanpa suara, “Bilang iyaaa.“ </p>

<p>Mamahnya memukul lengan atas anak lelakinya membuat Zio meringis. “Kamu ya, nggak sopan ngusir tamu.”</p>

<p>“Ah, Mamah mukul-mukul, KDRT tau,” keluh Zio, mengelus bagian yang dipukul. Atof terlihat menahan tawa geli, sialaaan.</p>

<p>Pada akhirnya mereka menghabiskan waktu lebih dari lima belas menit. Makan lagi hingga kekenyangan meskipun sekarang masih jam sepuluh pagi—terhitung <em>snack time</em>. Sebab Mamah Zio mengemas banyak makanan yang bahkan bisa ia bagikan ke satu deret kos berisi lima kamar itu, serta ke pemilik kos, juga membekalkan khusus untuk Enricho. Mamahnya berceloteh ria tentang Zio pada Atof, membuat Atof sesekali tertawa seraya meliriknya.</p>

<p>“Kamu nih ya harus tau dulu Jordan—”</p>

<p>Zio mengerutkan wajahnya gemas, menahan diri untuk tidak merengek meminta Mamahnya berhenti. Mamahnya ini tipikal orang tua yang jika sudah bercerita pada teman anaknya pasti semua aib anak sejak ia tak ingat apa-apa sampai saat ini dibongkar semua seolah Zio tidak ada di sana. Sebenarnya tidak terhitung sebagai aib, namun tetap saja rasanya menyebalkan jika ia mendengarkan lagi dongeng <em>Jordan yang menangis ditinggal Ayahnya mandi dan suka menjambak rambut Kakaknya jika merebut Ayah</em>.</p>

<p>“Mamah, suapin Odan, aaaaaa,” mulutnya menganga menunggu Mamahnya yang sedang menyendok salad buah dari container besar pada wadah milik Atof. Mamah menoleh padanya, mengerutkan kening bingung. Zio berhasil menghentikannya berkisah.</p>

<p>“Ih, kamu nggak malu depan temanmu?“ </p>

<p>“Nggak malu, kenapa emang? Aaaaaa.”</p>

<p>Mamahnya menyerah, dan mulai menyendokkan potongan salad buah (yang lebih banyak buah mangga karena Zio menyukainya) dengan tumpukan keju di atasnya. Menyorongkan pada mulutnya untuk dilahap dengan nikmat.</p>

<p>“Enak Cah lanang?”</p>

<p>Zio mengangguk, terus-terusan menyela tiap Mamahnya ingin lanjut bercerita dengan meminta menyuapinya berkali-kali. “Ih, kamu ya orang lagi ngobrol digangguin aja,” keluh Mamahnya dengan nada sedikit sebal ala ibu-ibu.</p>

<p>“Suapinnn,” rengeknya lagi, membuat Atof menggeleng-gelengkan kepala karena geli melihat tingkahnya yang manja. Zio berusaha tidak peduli, menyeringai saat memiliki ide brilian di kepalanya. “Biar adil sekalian suapin Kak Atof.“ </p>

<p>Sontak Atof membulatkan mata karena kalimatnya. Mamahnya langsung  memutar tubuh menghadap Atof untuk menyodorkan sendok dengan buah-buahan itu. </p>

<p>“Eh? Nggak usah, Tante, nggak apa-apa, saya bisa sendiri,” tolaknya sopan.</p>

<p>“Suapin, Mah, suapin, dia malu-malu aja padahal mau,” bujuknya, Zio terkikik sempat bersorak, “Suapin! Suapin!” seperti <em>supporter</em> bola membuat Atof mendesis melemparkan belati dari matanya. </p>

<p>“Nurutin bocah lanang, dia bawel soalnya.”</p>

<p>Akhirnya, Atof menyerah ikut jadi korban, disuapi oleh Mamahnya membuat Zio tertawa kencang. Oh, ia akan menyimpan memori ini seumur hidup. Kapan lagi ia bisa meledek Atof dengan tameng Mamahnya? </p>

<p>Sepanjang mereka mengobrol, Zio mengamati profil wajah sang Mamah yang kulitnya sudah semakin keriput karena usia. Ia baru menyadari bahwa orang tuanya yang dulu tampak sangat besar di matanya—sehingga ia perlu mendongak saat kecil untuk bertemu pandang—ternyata tidak sebesar itu. Tangan Mamahnya yang dulu sangat kuat menggendong Zio ke mana-mana lebih kurus dari miliknya. Punggung Mamahnya yang dulu juga bisa menghadang badai demi melindungi Zio juga sangat ringkih. <em>It&#39;s about time</em>. Zio harus berbakti pada orang tuanya yang begitu baik karena ia tahu tidak semua orang tua bersikap seperti mereka, agar ia tidak menyesal.</p>

<p>“Mamah pucet banget, lagi sakit?” tanya Zio menyadari warna kulit sang mamah yang lebih pucat dari biasanya.</p>

<p>“Enggak, ini begadang aja tadi malem karena ada <em>catering</em> orang resepsi. Ini juga mau langsung kondangan ke anak teman Mamah.”</p>

<p>Zio mencebik, “Aku udah pernah bilang nggak usah ikut ngurusin <em>catering</em> lagi, kan banyak karyawannya. Aku yang anter pulang ya? Jangan pake Gocar lagi, punya anak udah gede tuh diberdayakan.”</p>

<p>“Nggak usah, itu Nak Atof masa diusir lagi.”</p>

<p>“Dia juga mau pulang kok.”</p>

<p>“Iya, tante. Saya mau pulang kok, nggak masalah. Atau saya yang antar sampai rumah? Sekalian pulang, biar Jordan nggak khawatir.”</p>

<p>Zio tak menyangka Atof akan menawarkan diri, namun Mamahnya langsung mengangguk mantap saat Atof menawarkannya—lebih memilih diantar Atof ketimbang dirinya (dasar pilih kasih padahal baru kenal sehari). Ia mengantarkan mereka hingga ke gerbang depan. </p>

<p>“Mamah hati-hati, jangan cerita aneh-aneh lagi tentang aku ke Kak Atof, awas aja,” ancamnya bercanda. Ia tahu Mamahnya pasti akan mengabaikan ancaman kecil itu dan mulai bercerita lagi. Namun ia berharap Atof tidak terlalu banyak mengetahui sisi kelamnya saat masih belia.</p>

<p>Mamahnya mengenakan <em>seat belt</em> seraya merespons: “Ih, kepedean banget kamu mau diomongin sama Mamah.”</p>

<p>Atof tersenyum di balik kemudi mendengarkan percakapan mereka dan mengangguk pada Zio, ia juga memberikan gestur serupa, dan kaca mobil pemuda itu ditutup. Ia mengantarkan kepergian mobil Atof hingga mengecil dan menghilang di persimpangan. </p>

<p>Senyum Zio tidak luntur saat ia berbaring di kamarnya. </p>

<p>© litamateur
<a href="/be-my-escape/tag:BME" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">BME</span></a></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://wordsmith.social/be-my-escape/be-my-escape-4l4h</guid>
      <pubDate>Tue, 14 Jun 2022 13:08:16 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>BE MY ESCAPE</title>
      <link>https://wordsmith.social/be-my-escape/be-my-escape-3n6g</link>
      <description>&lt;![CDATA[± 1600w&#xA;&#xA;hr&#xA;&#xA;97. The Beginning&#xA;&#xA;&#34;Ulang.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ulang.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kecepetan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sekarang kelambatan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo bisa main drum nggak? Lo ini yang kontrol tempo, mainnya kacau gini kapan mau mulai?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ulang.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ardith belum nyanyi bahkan sedetik, Gama.&#34;&#xA;!--more--&#xA;Zio terbiasa belajar sendiri dalam bermusik, hanya mengikuti banyak tutorial sehingga ia punya kebebasan penuh ingin menguasai skill apa, dan menggeluti bidang mana. Akan tetapi ini, ini adalah sesuatu yang mungkin ia inginkan jika ia berada di sekolah musik, namun bukan di studio yang berisi lima mahasiswa dari jurusan berbeda.&#xA;&#xA;Hela napas tak sadar terlepas setiap Atof angkat suara untuk menghentikan latihan mereka—yang bahkan masih intro. Sudah hampir satu jam mereka di studio; dengan ringisan Gama sebab salah tempo, decak Atof yang makin sering terdengar, dan bunyi napas lelah yang muncul silih berganti dari Zio, Ardith, dan Dean. &#xA;&#xA;Mereka seperti ikan yang disuruh untuk terbang.&#xA;&#xA;Mungkin ini yang mereka bilang saat Atof jadi bossy. Pemuda itu sangat disiplin saat mereka latihan seolah ini adalah sebuah akademi militer yang harus push-up ketika terlambat, bukan band ecek-ecek yang baru saja terbuat kemarin sore. Dan masalahnya, mereka band ecek-ecek, dan Atof seseorang yang menggeluti musik hampir seluruh hidupnya. Kesenjangan mereka terlalu jauh, sehingga mereka tidak akan mampu satu tempo dalam satu malam, namun Atof tetap bekerja sesuai gayanya.&#xA;&#xA;“Besok gue langsung jadi Beethoven nih,” celetuk Ardith di antara hela napas, membuahkan gelak tawa dari Dean. &#xA;&#xA;Atof berdecak lagi mendengar komentar Ardith, menoleh dari Gama ke Ardith dengan wajah sudah kepalang jengkel karena sejak tadi mereka tak memulai apa-apa. “I let it slide this time because you didn&#39;t make any mistake,&#34; katanya, lalu menaikkan alis. &#34;Lo nggak bikin salah karena belum nyanyi sama sekali.&#34;&#xA;&#xA;Bola mata Ardith sontak membesar karena sahutan Atof, tercengang sejenak lantaran direndahkan secara tersirat, setelah itu ekspresinya langsung berubah marah. Pemuda itu menghentakkan kaki menghampiri Atof, menarik bagian kaosnya di dada hingga Atof mendongak congkak. Seringai yang pernah Zio lihat ketika pertama kali bertemu dengan Atof muncul lagi saat ini. Kepala Zio mulai berdenyut.&#xA;&#xA;&#34;Lo ngehina gue?” kata Ardith tak terima.&#xA;&#xA;“Lo merasa dihina? Berarti lo merasa sesuai sama apa yang gue omongin?”&#xA;&#xA;“Anjing, lo tau apa tentang gue sampe berani ngomong begitu?”&#xA;&#xA;“Gue nggak bilang apapun, lo yang tersinggung sendiri—yang mana mengartikan kemampuan lo gimana.” &#xA;&#xA;Ardith semakin mencengkeram kaos yang Atof kenakan. Ketika Ardith membuka mulut ingin bersuara lagi, Atof menambahkan: “What? Lo mau marah karena gue ngomong hal yang bener?&#34;&#xA;&#xA;“Gak usah berlagak kayak dewa. Lo pikir orang takut sama lo?&#34; &#xA;&#xA;“That thought never crossed my mind, but sure, maybe you are the one who’s afraid of me.”&#xA;&#xA;Ardith mendorong tubuh Atof, hingga pemuda itu terhuyung kecil. “Anjing lo ya, gue mau diajak ngeband bukan buat direndahin. Lo harus inget, lo yang mohon dan minta kita semua buat ada di sini. Jangan karena lo—&#34;&#xA;&#xA;Lihat, Zio yakin mereka semua akan langsung keluar besok. Dan Zio perlu membantu cari member lain untuk Atof. Ah, kepalanya semakin berdenyut. &#xA;&#xA;Atof tidak menggubris kalimat yang masih Ardith lontarkan ke udara dan malah memutar tubuh untuk menghadap ke orang lain di belakang.&#xA;&#xA;&#34;Jangan congkak muter-muter stick doang, tapi skill nol,&#34; tunjuk Atof pada Gama. &#34;Lo latihan pakai metronom nggak? Atau asal aja main gebuk-gebuk kayak meja sekolah? Kita sejam latihan cuma nungguin lo adaptasi main drum, gue tanya kapan terakhir kali main drum? Setahun lalu? Dua tahun?&#34;&#xA;&#xA;Gama tak mampu menjawab, membuat Zio berasumsi bahwa ia sudah lama tak berlatih. Atof mendenguskan tawa; tawa mencemooh yang pernah Zio dengar juga saat pertama kali bertemu. Darahnya ikut mendidih di dalam namun kakinya tak bergerak barang seinci untuk menghentikan perseteruan mereka, terlanjur pusing.&#xA;&#xA;“See? That’s why you need to tell us daripada arogan ngaku udah bisa duluan. Gue tadi nanya sebelum latihan lo beneran bisa nggak? Lo jawab bisa-bisa aja, ini lagu gampang. Apa gue marah pas Dean bilang dia nggak bisa mainin lagunya dari awal?” lanjut Atof dan lagi-lagi tak ada yang mampu menyanggah. &#34;Lo cupu, nggak berani ngaku nggak bisa.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Apaan sih anjing!&#34; Gama membanting stick drumnya ke bawah karena egonya disenggol. &#34;Gue tau gue salah tapi lo nggak perlu jadi berengsek cuma karena perkara beginian.” &#xA;&#xA;Ia berdiri dari tempat duduknya di drum, berjalan lurus menuju Atof dan menunjuknya di dahi—meski Atof lebih tinggi—yang langsung ditepis. Mereka saling melemparkan belati dengan mata. Ardith ikut berada di samping Gama bersekongkol melawan Atof, Dean hanya bingung mulai melerai meski usahanya berkata, hei, kita omongin baik-baik dulu deh guys, sambil duduk sambil makan tidak membuahkan hasil.&#xA;&#xA;Darah di dalam diri Zio semakin mendidih mendengar cekcok yang saling bersahut-sahutan. Ia memejamkan mata dan meremas bagian leher gitar, menghitung sampai lima sebelum ikut andil melerai, namun emosinya yang diredam tak terbendung saat ia membuka mata dan menemukan mereka mulai kembali saling meraih kerah pakaian. &#xA;&#xA;Ia melepaskan gitarnya yang tengah ia kalungkan. Melemparkan ke arah Gama dan yang lain yang tengah berkumpul, membuat seluruhnya agak terlonjak, dan menoleh padanya. &#xA;&#xA;“Bangsat lo semua,” serunya. “Gue yang keluar dari band, pake tuh gitar buat mukul satu sama lain, berantem sana sampai mati.” &#xA;&#xA;Zio bergegas keluar studio.&#xA;&#xA;Ia mendengar bunyi jejak kaki terburu yang mengejarnya dari belakang. God, selalu jadi keputusan bodoh untuk membantu orang lain, Zio banyak mengorbankan dirinya sendiri secara fisik atau mental. Apakah ia harus jadi manusia anti sosial agar bisa menemukan kedamaian? Kenapa juga ia punya sifat seperti ini? Ini semua pasti karena orang tuanya terlalu strict dan mendidiknya dengan baik, ia harus jadi pemberontak sekali-sekali saat masih jaman sekolah.&#xA;&#xA;“Zio— Lazio, c’mon, talk to me, you can’t just leave like that,” Atof berusaha menyamakan langkah mereka, menarik tangannya namun ia tangkis. “You can’t leave, you promised me.” &#xA;&#xA;Atof mencengkeram tangannya sampai Zio berputar, menemukan pemuda itu sudah berlutut di bawah. Zio mencoba melepaskan diri namun pergelangan tangannya dicekal sekuat tenaga hingga terasa sakit dan memerah, ia yakin akan ada bekasnya. Pergerakan Zio mati, ia tidak bisa melangkah lagi atau Atof akan ikut terseret. Mungkin kalau Zio tega, ia akan menendang Atof sekarang, tapi brengseknya ia tahu ia bukan orang yang seperti itu.&#xA;&#xA;&#34;Lo ngapain?&#34; tanyanya gusar.&#xA;&#xA;&#34;Berlutut, sesuai permintaan lo di chat waktu itu.&#34;&#xA;&#xA;Mulut Zio membuka tak percaya, tak menyangka juga Atof akan mengingat kelakar terlewat batas itu. Dari sekian banyak tukar pesan yang mereka lakukan, ia tidak terlalu memikirkan apa saja yang ia katakan pada Atof kecuali hal-hal penting mengenai band. Sebab sebisa mungkin ia berusaha tak menyakiti orang meski mereka sering debat via pesan. &#xA;&#xA;&#34;Berdiri.&#34;&#xA;&#xA;&#34;No.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Berdiri.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bilang ke gue lo nggak keluar, baru gue berdiri.&#34;&#xA;&#xA;Embus napas lelah keluar dari bibir Zio. Ini sungguhan bodoh karena Atof tengah duduk di aspal, memicu penonton meski tak begitu banyak yang lewat karena studio pilihan Atof termasuk terpencil. &#xA;&#xA;“At least stay till the last, I’m not good at this kind of thing,” Atof membuat gestur samar dengan tangannya yang bebas. “Talking and such I mean.”&#xA;&#xA;Jemari Zio menyugar rambut, mengamati Atof yang berlutut untuknya. Sampai pada akhirnya, ia menyerah, tubuhnya ikut turun hingga kakinya menekuk. Lutut bertemu lutut, mereka sama-sama merunduk seolah akan menemukan jawaban saat menekuri lutut masing-masing. Mungkin memang tidak ada jawaban di sana, namun Zio mulai mampu berpikir saat ini meski mereka terlihat seperti orang aneh. Atof belum melepaskan tangannya, namun cengkeramannya mengendur.&#xA;&#xA;“I don&#39;t believe in rumours or anything they say about you on the internet,&#34; kata Zio begitu hati-hati, menggantung, masih memformulasikan kalimat di ujung lidahnya. Menengadah, ia menatap puncak kepala Atof yang menunduk. Rambutnya kembali hitam legam setelah sempat berwarna kehijauan untuk tour saat ia pertama kali melihat. Gelap, bagai matanya yang kini tertarik menyerahkan atensi pada Zio setelah kalimat sederhana darinya meluncur. “Don&#39;t make me believe them.&#34;&#xA;&#xA;“Why?&#34;&#xA;&#xA;“Just my gut,&#34; Zio mengetukkan jari di lututnya sendiri, menyadari baru kali ini ia melihat Atof begitu dekat karena biasanya ia tak fokus menelisik wajahnya; terlalu sibuk dengan pembicaraan mereka, atau isi kepalanya sendiri. Atof lebih beraura daripada di dalam foto yang sempat ia lihat di profil Line atau di tempat lain. Seseorang yang membuatmu menoleh dua kali karena wibawanya meski ia hanya berjalan. Ada landang di tulang pipi jadi aksen di wajah, alisnya berbentuk camar dan menukik ketika ia serius, dagunya ada pangkal janggut tipis belum bercukur, bibirnya agak kering, dan pucat namun terasa pas di sana, dan lagi-lagi, Zio menatap bola matanya yang sungguhan kelam, seolah ia bisa tenggelam. &#34;Lo beneran mau ngeband?&#34;&#xA;&#xA;“What?&#34;&#xA;&#xA;“I ask, lo beneran mau ngeband?&#34;&#xA;&#xA;“Why did you ask such a question?&#34;&#xA;&#xA;“Answer me, mau ngeband?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Yeah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Senyum ke gue.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Maksudnya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Senyum aja, okay?&#34;&#xA;&#xA;Atof berusaha tersenyum padanya meski lebih mirip ringisan. Namun ada rasa puas dalam diri Zio lantaran akhirnya bibir itu menyunggingkan senyum untuknya. Zio tertawa membuat Atof merotasikan bola mata. &#xA;&#xA;“God, you are being ridiculous,” katanya, namun Zio tetap tertawa.&#xA;&#xA;Atof is much more captivating when he smiles. &#xA;&#xA;&#34;Dari pertama kita ketemu lo belum pernah senyum beneran ke gue, I don’t know what’s going on inside your mind, but you are too deep into it,&#34; Atof tertegun. “A smile looks good on you. Reminder, band-nya ada lima orang, yang mikir lima orang, we&#39;ll work on it together.&#34;&#xA;&#xA;Zio berdiri menepuk bagian celananya yang berdebu, kembali masuk studio. Meninggalkan Atof yang mengerutkan kening, bingung memikirkan apa yang baru saja terjadi.&#xA;&#xA;Kemudian, mereka latihan—yang unsurprisingly—lebih lancar karena Gama mulai bisa memukul drum sesuai ketukan. Mereka bermain meski tak mencapai satu lagu full, karena Atof ingin mengulang puluhan kali untuk satu bagian sampai tertangkap sempurna di telinganya sebelum berpindah ke bagian selanjutnya. Muka mereka semua masih tersirat gejolak, Zio belum bisa menerka apa yang akan terjadi esok nanti, yang penting hari ini, ia merasa berhasil memadamkan satu api kecil.&#xA;&#xA;Saat memetik gitarnya—yang untungnya tak rusak—, Zio tanpa sadar menekuri bekas kemerahan di pergelangan tangan yang Atof cengkeram. Kulitnya terasa panas seperti terbakar, ia mengelusnya mencoba menghilangkan rasa tersebut. &#xA;&#xA;(C) litamateur&#xA;BME]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>± 1600w</p>

<hr>

<h3 id="97-the-beginning" id="97-the-beginning">97. The Beginning</h3>

<p>“Ulang.”</p>

<p>“Ulang.”</p>

<p>“Kecepetan.”</p>

<p>“Sekarang kelambatan.”</p>

<p>“Lo bisa main drum nggak? Lo ini yang kontrol tempo, mainnya kacau gini kapan mau mulai?”</p>

<p>“Ulang.”</p>

<p>“Ardith belum nyanyi bahkan sedetik, Gama.”

Zio terbiasa belajar sendiri dalam bermusik, hanya mengikuti banyak <em>tutorial</em> sehingga ia punya kebebasan penuh ingin menguasai <em>skill</em> apa, dan menggeluti bidang mana. Akan tetapi <em>ini</em>, ini adalah sesuatu yang mungkin ia inginkan jika ia berada di sekolah musik, namun bukan di studio yang berisi lima mahasiswa dari jurusan berbeda.</p>

<p>Hela napas tak sadar terlepas setiap Atof angkat suara untuk menghentikan latihan mereka—yang bahkan masih <em>intro</em>. Sudah hampir satu jam mereka di studio; dengan ringisan Gama sebab salah tempo, decak Atof yang makin sering terdengar, dan bunyi napas lelah yang muncul silih berganti dari Zio, Ardith, dan Dean.</p>

<p>Mereka seperti ikan yang disuruh untuk terbang.</p>

<p>Mungkin ini yang mereka bilang saat Atof jadi <em>bossy</em>. Pemuda itu sangat disiplin saat mereka latihan seolah ini adalah sebuah akademi militer yang harus <em>push-up</em> ketika terlambat, bukan band ecek-ecek yang baru saja terbuat kemarin sore. Dan masalahnya, mereka band ecek-ecek, dan Atof seseorang yang menggeluti musik hampir seluruh hidupnya. Kesenjangan mereka terlalu jauh, sehingga mereka tidak akan mampu satu tempo dalam satu malam, namun Atof tetap <em>bekerja</em> sesuai gayanya.</p>

<p>“Besok gue langsung jadi Beethoven nih,” celetuk Ardith di antara hela napas, membuahkan gelak tawa dari Dean.</p>

<p>Atof berdecak lagi mendengar komentar Ardith, menoleh dari Gama ke Ardith dengan wajah sudah kepalang jengkel karena sejak tadi mereka tak memulai apa-apa. “<em>I let it slide this time because you didn&#39;t make any mistake</em>,” katanya, lalu menaikkan alis. “Lo nggak bikin salah karena belum nyanyi sama sekali.”</p>

<p>Bola mata Ardith sontak membesar karena sahutan Atof, tercengang sejenak lantaran direndahkan secara tersirat, setelah itu ekspresinya langsung berubah marah. Pemuda itu menghentakkan kaki menghampiri Atof, menarik bagian kaosnya di dada hingga Atof mendongak congkak. Seringai yang pernah Zio lihat ketika pertama kali bertemu dengan Atof muncul lagi saat ini. Kepala Zio mulai berdenyut.</p>

<p>“Lo ngehina gue?” kata Ardith tak terima.</p>

<p>“Lo merasa dihina? Berarti lo merasa sesuai sama apa yang gue omongin?”</p>

<p>“Anjing, lo tau apa tentang gue sampe berani ngomong begitu?”</p>

<p>“Gue nggak bilang apapun, lo yang tersinggung sendiri—yang mana mengartikan kemampuan lo gimana.”</p>

<p>Ardith semakin mencengkeram kaos yang Atof kenakan. Ketika Ardith membuka mulut ingin bersuara lagi, Atof menambahkan: “<em>What</em>? Lo mau marah karena gue ngomong hal yang bener?”</p>

<p>“Gak usah berlagak kayak dewa. Lo pikir orang takut sama lo?”</p>

<p>“<em>That thought never crossed my mind, but sure, maybe you are the one who’s afraid of me.</em>”</p>

<p>Ardith mendorong tubuh Atof, hingga pemuda itu terhuyung kecil. “Anjing lo ya, gue mau diajak ngeband bukan buat direndahin. <em>Lo</em> harus inget, lo yang mohon dan minta kita semua buat ada di sini. Jangan karena lo—”</p>

<p><em>Lihat,</em> Zio yakin mereka semua akan langsung keluar besok. Dan Zio perlu membantu cari <em>member</em> lain untuk Atof. Ah, kepalanya semakin berdenyut.</p>

<p>Atof tidak menggubris kalimat yang masih Ardith lontarkan ke udara dan malah memutar tubuh untuk menghadap ke orang lain di belakang.</p>

<p>“Jangan congkak muter-muter <em>stick</em> doang, tapi <em>skill</em> nol,” tunjuk Atof pada Gama. “Lo latihan pakai metronom nggak? Atau asal aja main gebuk-gebuk kayak meja sekolah? Kita sejam latihan cuma nungguin lo adaptasi main drum, gue tanya kapan terakhir kali main drum? Setahun lalu? Dua tahun?”</p>

<p>Gama tak mampu menjawab, membuat Zio berasumsi bahwa ia sudah lama tak berlatih. Atof mendenguskan tawa; tawa mencemooh yang pernah Zio dengar juga saat pertama kali bertemu. Darahnya ikut mendidih di dalam namun kakinya tak bergerak barang seinci untuk menghentikan perseteruan mereka, terlanjur pusing.</p>

<p>“<em>See? That’s why you need to tell us</em> daripada arogan ngaku udah bisa duluan. Gue tadi nanya sebelum latihan lo beneran bisa nggak? Lo jawab bisa-bisa aja, ini lagu gampang. Apa gue marah pas Dean bilang dia nggak bisa mainin lagunya dari awal?” lanjut Atof dan lagi-lagi tak ada yang mampu menyanggah. “Lo cupu, nggak berani ngaku nggak bisa.”</p>

<p>“Apaan sih anjing!” Gama membanting stick drumnya ke bawah karena egonya disenggol. “Gue tau gue salah tapi lo nggak perlu jadi berengsek cuma karena perkara beginian.”</p>

<p>Ia berdiri dari tempat duduknya di drum, berjalan lurus menuju Atof dan menunjuknya di dahi—meski Atof lebih tinggi—yang langsung ditepis. Mereka saling melemparkan belati dengan mata. Ardith ikut berada di samping Gama bersekongkol melawan Atof, Dean hanya bingung mulai melerai meski usahanya berkata, <em>hei, kita omongin baik-baik dulu deh guys, sambil duduk sambil makan</em> tidak membuahkan hasil.</p>

<p>Darah di dalam diri Zio semakin mendidih mendengar cekcok yang saling bersahut-sahutan. Ia memejamkan mata dan meremas bagian leher gitar, menghitung sampai lima sebelum ikut andil melerai, namun emosinya yang diredam tak terbendung saat ia membuka mata dan menemukan mereka mulai kembali saling meraih kerah pakaian.</p>

<p>Ia melepaskan gitarnya yang tengah ia kalungkan. Melemparkan ke arah Gama dan yang lain yang tengah berkumpul, membuat seluruhnya agak terlonjak, dan menoleh padanya.</p>

<p>“Bangsat lo semua,” serunya. “Gue yang keluar dari band, pake tuh gitar buat mukul satu sama lain, berantem sana sampai mati.”</p>

<p>Zio bergegas keluar studio.</p>

<p>Ia mendengar bunyi jejak kaki terburu yang mengejarnya dari belakang. <em>God</em>, selalu jadi keputusan bodoh untuk membantu orang lain, Zio banyak mengorbankan dirinya sendiri secara fisik atau mental. Apakah ia harus jadi manusia anti sosial agar bisa menemukan kedamaian? Kenapa juga ia punya sifat seperti ini? Ini semua pasti karena orang tuanya terlalu <em>strict</em> dan mendidiknya dengan baik, ia harus jadi pemberontak sekali-sekali saat masih jaman sekolah.</p>

<p>“Zio— Lazio, <em>c’mon, talk to me, you can’t just leave like that</em>,” Atof berusaha menyamakan langkah mereka, menarik tangannya namun ia tangkis. “<em>You can’t leave, you promised me</em>.”</p>

<p>Atof mencengkeram tangannya sampai Zio berputar, menemukan pemuda itu sudah berlutut di bawah. Zio mencoba melepaskan diri namun pergelangan tangannya dicekal sekuat tenaga hingga terasa sakit dan memerah, ia yakin akan ada bekasnya. Pergerakan Zio mati, ia tidak bisa melangkah lagi atau Atof akan ikut terseret. Mungkin kalau Zio tega, ia akan menendang Atof sekarang, tapi brengseknya ia tahu ia bukan orang yang seperti itu.</p>

<p>“Lo ngapain?” tanyanya gusar.</p>

<p>“Berlutut, sesuai permintaan lo di <em>chat</em> waktu itu.”</p>

<p>Mulut Zio membuka tak percaya, tak menyangka juga Atof akan mengingat kelakar terlewat batas itu. Dari sekian banyak tukar pesan yang mereka lakukan, ia tidak terlalu memikirkan apa saja yang ia katakan pada Atof kecuali hal-hal penting mengenai band. Sebab sebisa mungkin ia berusaha tak menyakiti orang meski mereka sering debat via pesan.</p>

<p>“Berdiri.”</p>

<p>“<em>No</em>.”</p>

<p>“Berdiri.”</p>

<p>“Bilang ke gue lo nggak keluar, baru gue berdiri.”</p>

<p>Embus napas lelah keluar dari bibir Zio. Ini sungguhan bodoh karena Atof tengah duduk di aspal, memicu penonton meski tak begitu banyak yang lewat karena studio pilihan Atof termasuk terpencil.</p>

<p>“<em>At least stay till the last, I’m not good at this kind of thing</em>,” Atof membuat gestur samar dengan tangannya yang bebas. “<em>Talking and such I mean</em>.”</p>

<p>Jemari Zio menyugar rambut, mengamati Atof yang berlutut untuknya. Sampai pada akhirnya, ia menyerah, tubuhnya ikut turun hingga kakinya menekuk. Lutut bertemu lutut, mereka sama-sama merunduk seolah akan menemukan jawaban saat menekuri lutut masing-masing. Mungkin memang tidak ada jawaban di sana, namun Zio mulai mampu berpikir saat ini meski mereka terlihat seperti orang aneh. Atof belum melepaskan tangannya, namun cengkeramannya mengendur.</p>

<p>“<em>I don&#39;t believe in rumours or anything they say about you on the internet</em>,” kata Zio begitu hati-hati, menggantung, masih memformulasikan kalimat di ujung lidahnya. Menengadah, ia menatap puncak kepala Atof yang menunduk. Rambutnya kembali hitam legam setelah sempat berwarna kehijauan untuk <em>tour</em> saat ia pertama kali melihat. Gelap, bagai matanya yang kini tertarik menyerahkan atensi pada Zio setelah kalimat sederhana darinya meluncur. “<em>Don&#39;t make me believe them</em>.”</p>

<p>“<em>Why</em>?”</p>

<p>“<em>Just my gut</em>,” Zio mengetukkan jari di lututnya sendiri, menyadari baru kali ini ia melihat Atof begitu dekat karena biasanya ia tak fokus menelisik wajahnya; terlalu sibuk dengan pembicaraan mereka, atau isi kepalanya sendiri. Atof lebih beraura daripada di dalam foto yang sempat ia lihat di profil Line atau di tempat lain. Seseorang yang membuatmu menoleh dua kali karena wibawanya meski ia hanya berjalan. Ada landang di tulang pipi jadi aksen di wajah, alisnya berbentuk camar dan menukik ketika ia serius, dagunya ada pangkal janggut tipis belum bercukur, bibirnya agak kering, dan pucat namun terasa pas di sana, dan lagi-lagi, Zio menatap bola matanya yang sungguhan kelam, seolah ia bisa tenggelam. “Lo beneran mau ngeband?”</p>

<p>“<em>What</em>?”</p>

<p>“<em>I ask</em>, lo beneran mau ngeband?”</p>

<p>“<em>Why did you ask such a question?</em>“</p>

<p>“<em>Answer me</em>, mau ngeband?”</p>

<p>“Yeah.”</p>

<p>“Senyum ke gue.”</p>

<p>“Maksudnya?”</p>

<p>“Senyum aja, okay?”</p>

<p>Atof berusaha tersenyum padanya meski lebih mirip ringisan. Namun ada rasa puas dalam diri Zio lantaran akhirnya bibir itu menyunggingkan senyum untuknya. Zio tertawa membuat Atof merotasikan bola mata.</p>

<p>“<em>God, you are being ridiculous</em>,” katanya, namun Zio tetap tertawa.</p>

<p><em>Atof is much more captivating when he smiles</em>.</p>

<p>“Dari pertama kita ketemu lo belum pernah senyum beneran ke gue, <em>I don’t know what’s going on inside your mind, but you are too deep into it</em>,” Atof tertegun. “<em>A smile looks good on you. Reminder</em>, band-nya ada lima orang, yang mikir lima orang, <em>we&#39;ll work on it together.</em>“</p>

<p>Zio berdiri menepuk bagian celananya yang berdebu, kembali masuk studio. Meninggalkan Atof yang mengerutkan kening, bingung memikirkan apa yang baru saja terjadi.</p>

<p>Kemudian, mereka latihan—yang <em>unsurprisingly</em>—lebih lancar karena Gama mulai bisa memukul drum sesuai ketukan. Mereka bermain meski tak mencapai satu lagu full, karena Atof ingin mengulang puluhan kali untuk satu bagian sampai tertangkap sempurna di telinganya sebelum berpindah ke bagian selanjutnya. Muka mereka semua masih tersirat gejolak, Zio belum bisa menerka apa yang akan terjadi esok nanti, yang penting hari ini, ia merasa berhasil memadamkan satu api kecil.</p>

<p>Saat memetik gitarnya—yang untungnya tak rusak—, Zio tanpa sadar menekuri bekas kemerahan di pergelangan tangan yang Atof cengkeram. Kulitnya terasa panas seperti terbakar, ia mengelusnya mencoba menghilangkan rasa tersebut.</p>

<p>© litamateur
<a href="/be-my-escape/tag:BME" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">BME</span></a></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://wordsmith.social/be-my-escape/be-my-escape-3n6g</guid>
      <pubDate>Sun, 29 May 2022 18:49:08 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>BE MY ESCAPE</title>
      <link>https://wordsmith.social/be-my-escape/be-my-escape-1c9n</link>
      <description>&lt;![CDATA[± 850w&#xA;&#xA;hr&#xA;&#xA;050. First encounter&#xA;&#xA;Atof tidak akan menganggap bahwa ia orang yang beruntung karena ia tidak pernah jadi salah satunya. Sejak kecil ia perlu berusaha untuk mencapai seluruh keinginannya. Saat umurnya masih lima ia duduk di depan piano selama berhari-hari untuk memainkan lagu pertamanya dengan lancar. Ia juga perlu mematahkan puluhan stick drum saat memainkan La Villa Strangiato hingga kecepatan dan tingkat presisinya benar-benar akurat. Namun kali ini, anehnya, ia tak perlu usaha untuk menemukan orang yang ia cari. &#xA;!--more--&#xA;Ia membulatkan mata, reflek memanggil, &#34;Elzio!&#34; saat mata mereka bersirobok. Langsung mengenalnya meskipun hanya pernah melihat dari objek dua dimensi. &#xA;&#xA;(Atof bersumpah ia tidak akan pernah mengungkapkan bahwa hampir tiap hari ia menatap foto tersebut seolah terobsesi. Berengseknya lagi, objek itu hanya memuat sebagian wajah yang terlalu menawan meski dibidik secara candid.)&#xA;&#xA;Orang yang dipanggil namanya ikut terkejut setelah mengetahui siapa oknum yang ditabrak olehnya di koridor kampus. Menyuarakan kata maaf dengan suara kecil karena bertubrukan di koridor, segera berlari mengabaikan seruan darinya.&#xA;&#xA;Atof ikut berlari mengejarnya. &#xA;&#xA;Fakultas teknik termasuk salah satu fakultas yang besar, maka dari itu Atof tidak pernah berekspektasi akan berjumpa dengan Zio, meskipun jurusan mereka sering kali bersinggungan dalam beberapa mata kuliah. Koridor lantai empat pun cukup panjang, ramai setelah jam makan siang karena hari ini masih pekan ujian akhir semester. Adegan kejar-mengejar mereka mau tak mau menarik atensi, membuat keduanya ditonton oleh banyak pasang mata. Sampai pada akhirnya, Atof mampu mencekal tangan Zio dengan napas terengah-engah karena terhitung jarang berolahraga. Pemuda itu berputar cepat, langsung mendorong kasar bahunya hingga punggungnya menyentak dinding. &#xA;&#xA;Mata Elzio berkilat tajam, “Don&#39;t call me Elzio, I&#39;m Jordan, I don&#39;t wanna join your band, end of discussion.&#34;&#xA;&#xA;Atof mencerna kalimatnya sepersekian detik lantas menaikkan satu alisnya. &#34;Elzio,&#34; panggilnya, meledek. Spontan mata Elzio membola, karena diliputi rasa kesal tanpa pikir dua kali Zio mencekal leher Atof.&#xA;&#xA;&#34;Gue ada ujian, don&#39;t fucking follow me to class.&#34;&#xA;&#xA;“You’re into choking, huh?” kata Atof mengabaikan ancaman Zio, semakin mendongak seolah minta untuk dicekam lebih jauh. Ujung bibirnya terangkat arogan, menyeringai. Zio semakin mencekik Atof karena pemuda itu justru menantangnya. Atof terbatuk namun menambahkan: “You hate attention but look around you,” senyum miringnya semakin mencemooh, membuat pupil Zio kian membesar sadar bahwa mereka sedang berada di koridor kelas. Sontak, ia menarik tangannya, menoleh ke samping kanan-kiri menyadari banyak pasang mata yang menonton penasaran.&#xA;&#xA;Panik, Zio menarik kepala hoodie-nya hingga menutup wajah karena malu.&#xA;&#xA;“I fucking hate you.”&#xA;&#xA;“You are not the only one saying that,” balasnya mengelus lehernya sendiri.&#xA;&#xA;Zio menghela napas gusar, memejamkan matanya seperti tengah meditasi. Ia melirik jam di pergelangan tangan kirinya dengan gelisah, lantas matanya kembali pada Atof. &#xA;&#xA;“Which part that you don’t understand from my text the other day?”&#xA;&#xA;“It&#39;s a waste if you ignore your talent.&#34;&#xA;&#xA;“I&#39;ve quitted playing guitar.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Elzio—&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jordan, I&#39;m Jordan! Stop calling me by that name!&#34; Zio mengurut pangkal hidungnya pening, merasa kesabarannya diuji dengan kehadiran Atof. &#xA;&#xA;&#34;Kita makan bareng dulu, deh.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Lo kayak pengaderan BEM, tau nggak?&#34;&#xA;&#xA;Tawa Atof mengudara karena Zio malah berkelakar kendati tengah sebal. Wajahnya begitu frustrasi, bahkan kakinya sempat menendang angin saking kesalnya. &#xA;&#xA;&#34;Gue traktir, ya? Ngobrol sebentar.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Anjinggg, stres banget gue dikejar-kejar kayak punya utang, terserah deh.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Gue tunggu sampai selesai ujian.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Bodo amatttt,&#34; sergahnya lalu kembali berlari.&#xA;&#xA;Atof menyengir, mengepalkan tangannya dan bergumam yeah! merasa menang. &#xA;&#xA;br&#xA;&#xA;hr&#xA;&#xA;br&#xA;&#xA;Dua jam kemudian ponsel Atof bergetar karena pesan dari Zio. &#xA;&#xA;  don&#39;t wait for me, i&#39;ll still say no&#xA;&#xA;Masalahnya, Atof orang yang punya determinasi kuat. He sets what he wants to achieve and pursues it until it happens. Ia pun sudah menunggu momen ini sejak lama, dirinya tidak akan mundur begitu saja hanya karena sebuah teks bark no bite dari Elzio. &#xA;&#xA;Atof kembali membuka ruang obrolannya dengan Chai. Menatap foto Zio lekat-lekat seraya memikirkan sedikit perbedaan yang ia jumpai dari pemuda itu hari ini. Rambut Zio lebih tebal dan agak panjang, ada landang di bawah matanya yang tak tertangkap foto, dan bulu matanya lebih lentik, terlalu lentik untuk seorang pria, wajahnya pun sangat menawan untuk… untuk apa?&#xA;&#xA;Ia agak terkesan sekaligus heran orang seperti Zio—yang wajahnya mampu muncul pada sampul majalah—memilih menutupi identitas, ketimbang mencari pengaruh darinya. Jika Atof jadi Zio mungkin ia akan mengumpulkan pundi-pundi uang menggunakan wajahnya untuk menipu banyak orang, ia selicik itu. &#xA;&#xA;Ketika kelas Zio terbuka ia berdiri secara autopilot, menunggu mahasiswa silih berganti keluar dari pintu dan mencari wajah gitaris itu. &#xA;&#xA;Akan tetapi justru Atof mematung ketika Zio muncul dari balik pintu, yang tengah merangkul temannya. Ada tawa lepas mengguar dari mulutnya saat tengah mengobrol seru. Satu temannya yang lain mulai melompat dari belakang ikut merangkul Zio. Kepala temannya dipiting oleh teman lainnya di bawah lengan, Zio semakin tertawa saat temannya mengaduh dan memukul minta dilepaskan. Atof terhenyak, baru menyadari jika dibalik sosok Andromeda yang sulit ia jangkau, pemuda itu hanya mahasiswa biasa penuh canda dan tawa. Sungguhan ramah, seperti personanya di jejaring sosial. &#xA;&#xA;Ia membiarkan pemuda itu lewat tanpa menyadari eksistensinya. Atof menunduk, memperhatikan ujung sepatunya yang tampak bersih tanpa noda, terkekeh kosong, ia benci mulai merasa seperti ini. &#xA;&#xA;Dirinya tidak pernah tertawa selepas itu. &#xA;&#xA;(C) litamateur&#xA;BME]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>± 850w</p>

<hr>

<h3 id="050-first-encounter" id="050-first-encounter">050. First encounter</h3>

<p>Atof tidak akan menganggap bahwa ia orang yang beruntung karena ia <em>tidak pernah</em> jadi salah satunya. Sejak kecil ia perlu berusaha untuk mencapai seluruh keinginannya. Saat umurnya masih lima ia duduk di depan piano selama berhari-hari untuk memainkan lagu pertamanya dengan lancar. Ia juga perlu mematahkan puluhan <em>stick drum</em> saat memainkan La Villa Strangiato hingga kecepatan dan tingkat presisinya benar-benar akurat. Namun kali ini, anehnya, ia tak perlu usaha untuk menemukan orang yang ia cari. 

Ia membulatkan mata, reflek memanggil, “Elzio!” saat mata mereka bersirobok. Langsung mengenalnya meskipun hanya pernah melihat dari objek dua dimensi. </p>

<p>(Atof bersumpah ia tidak akan pernah mengungkapkan bahwa hampir tiap hari ia menatap foto tersebut seolah terobsesi. Berengseknya lagi, objek itu hanya memuat sebagian wajah yang terlalu menawan meski dibidik secara <em>candid</em>.)</p>

<p>Orang yang dipanggil namanya ikut terkejut setelah mengetahui siapa oknum yang ditabrak olehnya di koridor kampus. Menyuarakan kata maaf dengan suara kecil karena bertubrukan di koridor, segera berlari mengabaikan seruan darinya.</p>

<p>Atof ikut berlari mengejarnya. </p>

<p>Fakultas teknik termasuk salah satu fakultas yang besar, maka dari itu Atof tidak pernah berekspektasi akan berjumpa dengan Zio, meskipun jurusan mereka sering kali bersinggungan dalam beberapa mata kuliah. Koridor lantai empat pun cukup panjang, ramai setelah jam makan siang karena hari ini masih pekan ujian akhir semester. Adegan kejar-mengejar mereka mau tak mau menarik atensi, membuat keduanya ditonton oleh banyak pasang mata. Sampai pada akhirnya, Atof mampu mencekal tangan Zio dengan napas terengah-engah karena terhitung jarang berolahraga. Pemuda itu berputar cepat, langsung mendorong kasar bahunya hingga punggungnya menyentak dinding. </p>

<p>Mata Elzio berkilat tajam, “<em>Don&#39;t call me Elzio, I&#39;m Jordan, I don&#39;t wanna join your band, end of discussion.</em>“</p>

<p>Atof mencerna kalimatnya sepersekian detik lantas menaikkan satu alisnya. “Elzio,” panggilnya, meledek. Spontan mata Elzio membola, karena diliputi rasa kesal tanpa pikir dua kali Zio mencekal leher Atof.</p>

<p>“Gue ada ujian, <em>don&#39;t fucking follow me to class</em>.”</p>

<p>“<em>You’re into choking, huh</em>?” kata Atof mengabaikan ancaman Zio, semakin mendongak seolah minta untuk dicekam lebih jauh. Ujung bibirnya terangkat arogan, menyeringai. Zio semakin mencekik Atof karena pemuda itu justru menantangnya. Atof terbatuk namun menambahkan: “<em>You hate attention but look around you</em>,” senyum miringnya semakin mencemooh, membuat pupil Zio kian membesar sadar bahwa mereka sedang berada di koridor kelas. Sontak, ia menarik tangannya, menoleh ke samping kanan-kiri menyadari banyak pasang mata yang menonton penasaran.</p>

<p>Panik, Zio menarik kepala hoodie-nya hingga menutup wajah karena malu.</p>

<p>“<em>I fucking hate you</em>.”</p>

<p>“<em>You are not the only one saying that</em>,” balasnya mengelus lehernya sendiri.</p>

<p>Zio menghela napas gusar, memejamkan matanya seperti tengah meditasi. Ia melirik jam di pergelangan tangan kirinya dengan gelisah, lantas matanya kembali pada Atof. </p>

<p>“<em>Which part that you don’t understand from my text the other day</em>?”</p>

<p>“<em>It&#39;s a waste if you ignore your talent</em>.”</p>

<p>“<em>I&#39;ve quitted playing guitar.</em>“</p>

<p>“Elzio—”</p>

<p>“Jordan, <em>I&#39;m Jordan! Stop calling me by that name!</em>” Zio mengurut pangkal hidungnya pening, merasa kesabarannya diuji dengan kehadiran Atof. </p>

<p>“Kita makan bareng dulu, deh.“ </p>

<p>“Lo kayak pengaderan BEM, tau nggak?”</p>

<p>Tawa Atof mengudara karena Zio malah berkelakar kendati tengah sebal. Wajahnya begitu frustrasi, bahkan kakinya sempat menendang angin saking kesalnya. </p>

<p>“Gue traktir, ya? Ngobrol sebentar.“ </p>

<p>“<em>Anjinggg</em>, stres banget gue dikejar-kejar kayak punya utang, terserah deh.“ </p>

<p>“Gue tunggu sampai selesai ujian.“ </p>

<p>“Bodo amatttt,” sergahnya lalu kembali berlari.</p>

<p>Atof menyengir, mengepalkan tangannya dan bergumam <em>yeah!</em> merasa menang. </p>

<p><br></p>

<hr>

<p><br></p>

<p>Dua jam kemudian ponsel Atof bergetar karena pesan dari Zio. </p>

<blockquote><p>don&#39;t wait for me, i&#39;ll still say no</p></blockquote>

<p>Masalahnya, Atof orang yang punya determinasi kuat. <em>He sets what he wants to achieve and pursues it until it happens</em>. Ia pun sudah menunggu momen ini sejak lama, dirinya tidak akan mundur begitu saja hanya karena sebuah teks <em>bark no bite</em> dari Elzio. </p>

<p>Atof kembali membuka ruang obrolannya dengan Chai. Menatap foto Zio lekat-lekat seraya memikirkan sedikit perbedaan yang ia jumpai dari pemuda itu hari ini. Rambut Zio lebih tebal dan agak panjang, ada landang di bawah matanya yang tak tertangkap foto, dan bulu matanya lebih lentik, terlalu lentik untuk seorang pria, wajahnya pun sangat menawan untuk… untuk apa?</p>

<p>Ia agak terkesan sekaligus heran orang <em>seperti</em> Zio—yang wajahnya mampu muncul pada sampul majalah—memilih menutupi identitas, ketimbang mencari pengaruh darinya. Jika Atof jadi Zio mungkin ia akan mengumpulkan pundi-pundi uang menggunakan wajahnya untuk menipu banyak orang, ia selicik itu. </p>

<p>Ketika kelas Zio terbuka ia berdiri secara <em>autopilot</em>, menunggu mahasiswa silih berganti keluar dari pintu dan mencari wajah gitaris itu. </p>

<p>Akan tetapi justru Atof mematung ketika Zio muncul dari balik pintu, yang tengah merangkul temannya. Ada tawa lepas mengguar dari mulutnya saat tengah mengobrol seru. Satu temannya yang lain mulai melompat dari belakang ikut merangkul Zio. Kepala temannya dipiting oleh teman lainnya di bawah lengan, Zio semakin tertawa saat temannya mengaduh dan memukul minta dilepaskan. Atof terhenyak, baru menyadari jika dibalik sosok Andromeda yang sulit ia jangkau, pemuda itu hanya mahasiswa biasa penuh canda dan tawa. Sungguhan ramah, seperti personanya di jejaring sosial. </p>

<p>Ia membiarkan pemuda itu lewat tanpa menyadari eksistensinya. Atof menunduk, memperhatikan ujung sepatunya yang tampak bersih tanpa noda, terkekeh kosong, ia benci mulai merasa seperti ini. </p>

<p>Dirinya tidak pernah tertawa selepas itu. </p>

<p>© litamateur
<a href="/be-my-escape/tag:BME" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">BME</span></a></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://wordsmith.social/be-my-escape/be-my-escape-1c9n</guid>
      <pubDate>Sat, 14 May 2022 18:44:15 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>BE MY ESCAPE</title>
      <link>https://wordsmith.social/be-my-escape/be-my-escape-jjfz</link>
      <description>&lt;![CDATA[±700w&#xA;&#xA;listen to these songs to enhance your reading experience!&#xA;&#xA;1. eyes of ian&#xA;iframe style=&#34;border-radius:12px&#34; src=&#34;https://open.spotify.com/embed/track/4YJx5CHqTnbAsYgqVymmzM?utmsource=generator&amp;theme=0&#34; width=&#34;100%&#34; height=&#34;80&#34; frameBorder=&#34;0&#34; allowfullscreen=&#34;&#34; allow=&#34;autoplay; clipboard-write; encrypted-media; fullscreen; picture-in-picture&#34;/iframe&#xA;&#xA;2. diary&#xA;iframe style=&#34;border-radius:12px&#34; src=&#34;https://open.spotify.com/embed/track/29szHomoSWOhZgC3FZxisf?utmsource=generator&amp;theme=0&#34; width=&#34;100%&#34; height=&#34;80&#34; frameBorder=&#34;0&#34; allowfullscreen=&#34;&#34; allow=&#34;autoplay; clipboard-write; encrypted-media; fullscreen; picture-in-picture&#34;/iframe&#xA;&#xA;hr&#xA;&#xA;021. track 01: eyes of zio&#xA;&#xA;Atof tidak asing dengan konser, Atof asing menjadi penonton di konser.&#xA;&#xA;Bukan ia bersikap arogan, namun ia terbiasa menjadi seseorang yang berada di bawah lampu sorot, atau setidaknya memperhatikan dari back stage, atau memiliki kartu lewat sebagai penonton kelas VIP. Akan tetapi kali ini ia hanya tamu biasa dalam sebuah gigs sederhana. Mungkin beberapa pasang mata yang mengenalnya terbelalak saat ia lewat dan ikut menonton di tengah kerumunan, namun sisanya tidak peduli. Atof hanya segelintir orang yang menikmati acara itu, yang mana mungkin hanya berisi para pemula.&#xA;!--more--&#xA;Yunita sudah menghabiskan bergelas-gelas soda isi ulang yang rasanya—surprisingly—enak. Konser kecil itu mungkin sengaja dibuat untuk menarik pengunjung di kafe, karena bahkan, sudah ada reservasi sebelumnya, dan menakjubkannya tempat itu benar-benar ramai saat ini; untuk masuk harus membayar.&#xA;&#xA;Penampilan demi penampilan Atof tonton setengah hati, karena kebanyakan dari mereka hanya membawakan cover tanpa usaha yang lebih memanjakan telinga. Ia bosan, mungkin bisa tertidur di sana, hanya bunyi dentum stereo dan celoteh teman-temannya yang masih mampu membuatnya terjaga.&#xA;&#xA;“Aaaa, Atof lo harus makan yang banyak,” ujar Yunita, menyorongkan sebuah short cake yang tampak begitu manis ke depan mulutnya, “Aaaaa, ini enak banget, serius.”&#xA;&#xA;Mau tidak mau Atof membuka mulut hingga kue empuk dengan rasa stroberi itu mendarat, melebur di dalam mulutnya; enak namun terlalu manis. Wajahnya mengerut saat menelannya. “Lan, gue ke depan ya? Lo sini aja temenin Yuyu, bocahnya udah nggak waras liat makanan manis,” katanya untuk menghindari disuapi lagi.&#xA;&#xA;Dylan mengangkat jempol, menjadi korban yang disorongkan makanan oleh Yunita. &#xA;&#xA;Saat ia berusaha maju ke depan, seseorang dengan penampilan tidak wajar naik ke atas panggung. Atof memicing—lupa mengenakan kacamata atau lensanya—melihat pemuda yang hampir seluruh wajahnya ditutupi masker itu. Hoodie hitam, masker hitam, jeans biru yang sudah pudar, sepatu converse-nya warna biru seperti yang ia kenakan hari ini. &#xA;&#xA;“Hai, ada yang kangen Andromeda?” katanya menjadi pembuka, yang segera disambut oleh teriakan ramai membuat tubuh Atof sedikit menjengit. Tidak berekspektasi orang yang terlihat anti sosial itu mendapatkan respons luar biasa. &#xA;&#xA;“Performance ini sebenarnya didedikasikan buat Enricho yang lagi ngegebet cewek, temen gue yang unofficially being my manager. Ini bakal jadi penampilan terakhir gue karena gue udah nggak gabut lagi—biasa mahasiswa pura-pura sibuk,&#34; ada tawa kecil nan rendah yang mengisi dari orang misterius tersebut, dan sorak yah sedih secara serempak dari penonton. “Langsung aja, Andromeda, Untitled track number three.&#34; &#xA;&#xA;Telinga Atof langsung dimanjakan dengan alunan gitar listrik tak biasa dan belum pernah ia dengar sama sekali. Atof segera mengingat kalimat dari kakaknya, Althaf. You can find a gem, you can find a gem. Lagu yang dibawakan sangat enticing, hanya instrumental gitar dan sesekali pukulan drum untuk menjaga temponya. Ia bergumam: “Finally,” dengan seringai tipis menghiasi wajah. &#xA;&#xA;“Andromeda itu terkenal ya?” sahut Atof ke penonton asing di sebelahnya.&#xA;&#xA;Yang ditanya menjengit kaget, “I-iya, Bang,” menjawab dengan tergagap, “Dia bisa dihitung regular, udah terkenal di sekitar sini, CD yang dia jual juga cepet sold out.”&#xA;&#xA;Kepalanya mengangguk dua kali, Atof kembali menyorot sang gitaris yang mengganti gitar lain untuk berpindah ke lagu kedua. Sedikit menaikkan alis karena penasaran apa yang akan ia bawa dengan gitar akustik. Ia pun kian memicing, meniliknya dengan teliti kalau-kalau ia pernah tak sengaja bertemu di salah satu event. Namun kepalanya tidak menghasilkan memori apapun, hanya ada cap berlabel “orang asing” yang muncul di benaknya. &#xA;&#xA;Judul lagu yang Andromeda bawakan masih Untitled namun track nomor lima, entah karena tidak ingin pusing cari judul atau memang punya filosofi tersendiri. Lagi-lagi telinga Atof dimanjakan oleh sesuatu yang baru dan menyentil hatinya. Lagu kali ini sangat berbanding terbalik dengan lagu sebelumnya. Suara petikan gitarnya begitu sendu seolah menyerap semua harapan orang lain sehingga atmosfer di sana berubah menjadi turun. Ikut sedih, ikut berkabung atas hilangnya salah satu orang bertalenta yang pergi ke peperangan selain di bidang musik.  &#xA;&#xA;Andromeda mengetuk kepala pelantang suara saat selesai membawakan lagu. “By the way, gue tau soda gembira di sini sangat ramah kantong mahasiswa, tapi itu minuman paling enak. Sincerely, dari orang yang sering dapat minuman gratis. Thank you, hope you enjoy the rest of the performances.”&#xA;&#xA;Tawa hadir karena kelakar dari Andromeda.&#xA;&#xA;Saat pemuda itu turun dari panggung, tungkai Atof bergerak autopilot mengejar orang dengan masker dan hoodie hitam itu ke backstage. Namun terlalu banyak orang yang berpakaian senada sehingga ia tidak mampu mendeteksi ke mana arah gitaris yang menghilang di kerumunan itu. &#xA;&#xA;Kakinya menendang udara, Atof menggeram kesal karena gagal menemukan orang yang berpotensi jadi anggota bandnya.&#xA;&#xA;(C) litamateur&#xA;BME&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>±700w</p>

<p>listen to these songs to enhance your reading experience!</p>

<h3 id="1-eyes-of-ian" id="1-eyes-of-ian">1. eyes of ian</h3>

<iframe style="border-radius:12px" src="https://open.spotify.com/embed/track/4YJx5CHqTnbAsYgqVymmzM?utm_source=generator&amp;theme=0" height="80" frameborder="0" allowfullscreen=""></iframe>

<h3 id="2-diary" id="2-diary">2. diary</h3>

<iframe style="border-radius:12px" src="https://open.spotify.com/embed/track/29szHomoSWOhZgC3FZxisf?utm_source=generator&amp;theme=0" height="80" frameborder="0" allowfullscreen=""></iframe>

<hr>

<h4 id="021-track-01-eyes-of-zio" id="021-track-01-eyes-of-zio">021. track 01: eyes of zio</h4>

<p>Atof tidak asing dengan konser, Atof asing menjadi <em>penonton</em> di konser.</p>

<p>Bukan ia bersikap arogan, namun ia terbiasa menjadi seseorang yang berada di bawah lampu sorot, atau setidaknya memperhatikan dari <em>back stage</em>, atau memiliki kartu lewat sebagai penonton kelas VIP. Akan tetapi kali ini ia hanya tamu biasa dalam sebuah gigs sederhana. Mungkin beberapa pasang mata yang mengenalnya terbelalak saat ia lewat dan ikut menonton di tengah kerumunan, namun sisanya tidak peduli. Atof hanya segelintir orang yang menikmati acara itu, yang mana mungkin hanya berisi para pemula.

Yunita sudah menghabiskan bergelas-gelas soda isi ulang yang rasanya—<em>surprisingly</em>—enak. Konser kecil itu mungkin sengaja dibuat untuk menarik pengunjung di kafe, karena bahkan, sudah ada reservasi sebelumnya, dan menakjubkannya tempat itu benar-benar ramai saat ini; untuk masuk harus membayar.</p>

<p>Penampilan demi penampilan Atof tonton setengah hati, karena kebanyakan dari mereka hanya membawakan <em>cover</em> tanpa usaha yang lebih memanjakan telinga. Ia bosan, mungkin bisa tertidur di sana, hanya bunyi dentum stereo dan celoteh teman-temannya yang masih mampu membuatnya terjaga.</p>

<p>“Aaaa, Atof lo harus makan yang banyak,” ujar Yunita, menyorongkan sebuah <em>short cake</em> yang tampak begitu manis ke depan mulutnya, “Aaaaa, ini enak banget, serius.”</p>

<p>Mau tidak mau Atof membuka mulut hingga kue empuk dengan rasa stroberi itu mendarat, melebur di dalam mulutnya; enak namun terlalu manis. Wajahnya mengerut saat menelannya. “Lan, gue ke depan ya? Lo sini aja temenin Yuyu, bocahnya udah nggak waras liat makanan manis,” katanya untuk menghindari disuapi lagi.</p>

<p>Dylan mengangkat jempol, menjadi korban yang disorongkan makanan oleh Yunita.</p>

<p>Saat ia berusaha maju ke depan, seseorang dengan penampilan tidak wajar naik ke atas panggung. Atof memicing—lupa mengenakan kacamata atau lensanya—melihat pemuda yang hampir seluruh wajahnya ditutupi masker itu. Hoodie hitam, masker hitam, jeans biru yang sudah pudar, sepatu converse-nya warna biru seperti yang ia kenakan hari ini.</p>

<p>“Hai, ada yang kangen Andromeda?” katanya menjadi pembuka, yang segera disambut oleh teriakan ramai membuat tubuh Atof sedikit menjengit. Tidak berekspektasi orang yang terlihat anti sosial itu mendapatkan respons luar biasa.</p>

<p>“<em>Performance</em> ini sebenarnya didedikasikan buat Enricho yang lagi ngegebet cewek, temen gue yang <em>unofficially being my manager</em>. Ini bakal jadi penampilan terakhir gue karena gue udah nggak gabut lagi—biasa mahasiswa pura-pura sibuk,” ada tawa kecil nan rendah yang mengisi dari orang misterius tersebut, dan sorak <em>yah</em> sedih secara serempak dari penonton. “Langsung aja, <em>Andromeda, Untitled track number three</em>.”</p>

<p>Telinga Atof langsung dimanjakan dengan alunan gitar listrik tak biasa dan belum pernah ia dengar sama sekali. Atof segera mengingat kalimat dari kakaknya, Althaf. <em>You can find a gem, you can find a gem</em>. Lagu yang dibawakan sangat <em>enticing</em>, hanya instrumental gitar dan sesekali pukulan drum untuk menjaga temponya. Ia bergumam: “<em>Finally</em>,” dengan seringai tipis menghiasi wajah.</p>

<p>“Andromeda itu terkenal ya?” sahut Atof ke penonton asing di sebelahnya.</p>

<p>Yang ditanya menjengit kaget, “I-iya, Bang,” menjawab dengan tergagap, “Dia bisa dihitung <em>regular</em>, udah terkenal di sekitar sini, CD yang dia jual juga cepet <em>sold out</em>.”</p>

<p>Kepalanya mengangguk dua kali, Atof kembali menyorot sang gitaris yang mengganti gitar lain untuk berpindah ke lagu kedua. Sedikit menaikkan alis karena penasaran apa yang akan ia bawa dengan gitar akustik. Ia pun kian memicing, meniliknya dengan teliti kalau-kalau ia pernah tak sengaja bertemu di salah satu <em>event</em>. Namun kepalanya tidak menghasilkan memori apapun, hanya ada cap berlabel “orang asing” yang muncul di benaknya.</p>

<p>Judul lagu yang Andromeda bawakan masih Untitled namun <em>track</em> nomor lima, entah karena tidak ingin pusing cari judul atau memang punya filosofi tersendiri. Lagi-lagi telinga Atof dimanjakan oleh sesuatu yang baru dan menyentil hatinya. Lagu kali ini sangat berbanding terbalik dengan lagu sebelumnya. Suara petikan gitarnya begitu sendu seolah menyerap semua harapan orang lain sehingga atmosfer di sana berubah menjadi turun. Ikut sedih, ikut berkabung atas hilangnya salah satu orang bertalenta yang pergi ke peperangan selain di bidang musik.</p>

<p>Andromeda mengetuk kepala pelantang suara saat selesai membawakan lagu. “<em>By the way</em>, gue tau soda gembira di sini sangat ramah kantong mahasiswa, tapi itu minuman paling enak. <em>Sincerely</em>, dari orang yang sering dapat minuman gratis. <em>Thank you, hope you enjoy the rest of the performances.</em>”</p>

<p>Tawa hadir karena kelakar dari Andromeda.</p>

<p>Saat pemuda itu turun dari panggung, tungkai Atof bergerak <em>autopilot</em> mengejar orang dengan masker dan hoodie hitam itu ke <em>backstage</em>. Namun terlalu banyak orang yang berpakaian senada sehingga ia tidak mampu mendeteksi ke mana arah gitaris yang menghilang di kerumunan itu.</p>

<p>Kakinya menendang udara, Atof menggeram kesal karena gagal menemukan orang yang berpotensi jadi anggota bandnya.</p>

<p>© litamateur
<a href="/be-my-escape/tag:BME" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">BME</span></a></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://wordsmith.social/be-my-escape/be-my-escape-jjfz</guid>
      <pubDate>Sat, 07 May 2022 10:59:29 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>BE MY ESCAPE</title>
      <link>https://wordsmith.social/be-my-escape/be-my-escape</link>
      <description>&lt;![CDATA[± 500w. &#xA;&#xA;----&#xA;011. Pretending.&#xA;&#xA;Kejujuran bukan teman baik Atof, setidaknya ia berpikir begitu.&#xA;!--more--&#xA;Tidak, Atof tidak sepenuhnya berbohong sepanjang hidup, namun ia juga tidak jujur. Sebagian dirinya mungkin adalah susunan kepura-puraan, sampai kadang ia lupa tengah berpura-pura. Fake it until you make it, katanya, meski ia mengaplikasikannya tidak sesuai konteks. Sebab, jika kamu mau hidup di industri hiburan yang penuh dengan kepura-puraan, kamu harus jadi salah satunya, atau setidaknya handal bermain peran. &#xA;&#xA;Bermain peran bahwa ia adalah orang yang berkuasa. Bermain peran bahwa ia tetap mendongak dan tak peduli karirnya sedang hancur. Bermain peran bahwa ia tak merasa sedih mengenai keputusannya. Bermain peran bahwa tiap kalimat jahat yang dikatakan orang lain tak menyakiti hatinya. &#xA;&#xA;Fake it until you make it, kan? Ia akan berpura-pura, terus-menerus, sampai ia lupa tengah berpura-pura seperti biasa. Lagi pula itu bakatnya. &#xA;&#xA;&#34;Uncle Tofff!&#34;&#xA;&#xA;Sasa memekik kaget karena kehadiran Atof di depan rumahnya. Bocah lima tahun itu melepaskan sepedanya yang tengah disongsong, berlari semangat sambil melompat-lompat riang menuju Atof yang baru mengeluarkan koper dari bagasi.&#xA;&#xA;Senyum tipis mewarnai wajah Atof karena sambutan ramai itu, ia menjatuhkan tas gitarnya yang digantung di bahu. Berlutut di aspal untuk mensejajarkan tinggi mereka, memeluk bocah berusia lima tahun tersebut. &#xA;&#xA;&#34;I miss you, Uncle Tof!&#34; katanya melepaskan diri dari dekapan erat Atof. Mata Sasa berbinar di bawah langit sore yang berubah jadi lembayung. Kerling anak kecil itu menunjukkan antusiasme mengenai kehadiran Atof di sana, terlalu jujur, sampai Atof takut karena kejujurannya. &#xA;&#xA;&#34;Are you okay, Uncle Tof?&#34; tanyanya nyaris berbisik dengan nada khawatir karena Atof bergeming. Wajahnya berubah sendu secara drastis, menampakkan isi hatinya.&#xA;&#xA;See? Ia tidak berteman baik dengan kejujuran. Sebab, semua orang akan menatapnya khawatir, ingin tahu tentang perasaan Atof, dan bertanya mengenai hal terakhir yang ingin ia jawab. Atof belum siap, atau bahkan tidak ingin jujur di hadapan orang lain, meskipun hanya pada seorang anak kecil yang tak mengerti masalahnya. Sebab kejujuran selaras dengan menumpahkan isi hati, menunjukkan sisi rentan, dan ia tidak ingin ada orang yang tahu bahwa Atof serentan itu.&#xA;&#xA;Lantaran ia tahu, orang lain pasti akan memberikan ekspresi kasihan, seolah ia tak kapabel berdiri sendiri dan ia benci rasanya.&#xA;&#xA;&#34;Perfectly okay,&#34; katanya, menyingkirkan rambut yang nyaris menusuk mata Sasa ke samping karena terlalu panjang. &#34;Give Uncle Tof a hug.&#34;&#xA;&#xA;Ia kembali merengkuh Sasa dengan erat, mengangkatnya dari aspal, mulai berputar di udara. Anak kecil itu tertawa girang mungkin berpikir bagai tengah menaiki pesawat. Memintanya untuk berlari agar angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya. So Atof does, ia berlari dengan kencang, Sasa digendong di punggung. Tempo jantungnya perlahan-lahan naik kresendo, berdetak dengan cepat seperti ingin meledak. Telinganya penging. Ramai tawa Sasa mengisi jalan pemukiman, membuat anak kecil lain ingin ikut digendong. Sampai pada akhirnya Atof ikut tertawa karena suara Sasa di telinganya begitu menyenangkan bagai nyanyian rapsodi; tawa pertama Atof setelah sekian lama berhasil pura-pura mati rasa dan tak menangis.&#xA;&#xA;&#34;Mom said I should make you smile. Habis ini, Uncle Tof mau main rumah-rumahan?&#34; &#xA;&#xA;Pertanyaan itu hampir membuat tangisnya luruh.&#xA;&#xA;(c) litamateur&#xA;BME]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>± 500w.</p>

<hr>

<h4 id="011-pretending" id="011-pretending">011. Pretending.</h4>

<p>Kejujuran bukan teman baik Atof, setidaknya ia berpikir begitu.

Tidak, Atof tidak sepenuhnya berbohong sepanjang hidup, namun ia juga tidak jujur. Sebagian dirinya mungkin adalah susunan kepura-puraan, sampai kadang ia lupa tengah berpura-pura. <em>Fake it until you make it</em>, katanya, meski ia mengaplikasikannya tidak sesuai konteks. Sebab, jika kamu mau hidup di industri hiburan yang penuh dengan kepura-puraan, kamu harus jadi salah satunya, atau setidaknya handal bermain peran. </p>

<p>Bermain peran bahwa ia adalah orang yang berkuasa. Bermain peran bahwa ia tetap mendongak dan tak peduli karirnya sedang hancur. Bermain peran bahwa ia tak merasa sedih mengenai keputusannya. Bermain peran bahwa tiap kalimat jahat yang dikatakan orang lain tak menyakiti hatinya. </p>

<p><em>Fake it until you make it</em>, kan? Ia akan berpura-pura, terus-menerus, sampai ia lupa tengah berpura-pura seperti biasa. Lagi pula itu bakatnya. </p>

<p>“<em>Uncle Tofff!</em>“</p>

<p>Sasa memekik kaget karena kehadiran Atof di depan rumahnya. Bocah lima tahun itu melepaskan sepedanya yang tengah disongsong, berlari semangat sambil melompat-lompat riang menuju Atof yang baru mengeluarkan koper dari bagasi.</p>

<p>Senyum tipis mewarnai wajah Atof karena sambutan ramai itu, ia menjatuhkan tas gitarnya yang digantung di bahu. Berlutut di aspal untuk mensejajarkan tinggi mereka, memeluk bocah berusia lima tahun tersebut. </p>

<p>“<em>I miss you, Uncle Tof</em>!” katanya melepaskan diri dari dekapan erat Atof. Mata Sasa berbinar di bawah langit sore yang berubah jadi lembayung. Kerling anak kecil itu menunjukkan antusiasme mengenai kehadiran Atof di sana, terlalu jujur, sampai Atof takut karena kejujurannya. </p>

<p>“<em>Are you okay, Uncle Tof</em>?” tanyanya nyaris berbisik dengan nada khawatir karena Atof bergeming. Wajahnya berubah sendu secara drastis, menampakkan isi hatinya.</p>

<p><em>See?</em> Ia tidak berteman baik dengan kejujuran. Sebab, semua orang akan menatapnya khawatir, ingin tahu tentang perasaan Atof, dan bertanya mengenai hal terakhir yang ingin ia jawab. Atof belum siap, atau bahkan tidak ingin jujur di hadapan orang lain, meskipun hanya pada seorang anak kecil yang tak mengerti masalahnya. Sebab kejujuran selaras dengan menumpahkan isi hati, menunjukkan sisi rentan, dan ia tidak ingin ada orang yang tahu bahwa Atof serentan itu.</p>

<p>Lantaran ia tahu, orang lain pasti akan memberikan ekspresi kasihan, seolah ia tak kapabel berdiri sendiri dan ia benci rasanya.</p>

<p>“<em>Perfectly okay</em>,” katanya, menyingkirkan rambut yang nyaris menusuk mata Sasa ke samping karena terlalu panjang. “<em>Give Uncle Tof a hug</em>.”</p>

<p>Ia kembali merengkuh Sasa dengan erat, mengangkatnya dari aspal, mulai berputar di udara. Anak kecil itu tertawa girang mungkin berpikir bagai tengah menaiki pesawat. Memintanya untuk berlari agar angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya. <em>So Atof does</em>, ia berlari dengan kencang, Sasa digendong di punggung. Tempo jantungnya perlahan-lahan naik kresendo, berdetak dengan cepat seperti ingin meledak. Telinganya penging. Ramai tawa Sasa mengisi jalan pemukiman, membuat anak kecil lain ingin ikut digendong. Sampai pada akhirnya Atof ikut tertawa karena suara Sasa di telinganya begitu menyenangkan bagai nyanyian rapsodi; tawa pertama Atof setelah sekian lama berhasil pura-pura mati rasa dan tak menangis.</p>

<p>“<em>Mom said I should make you smile</em>. Habis ini, <em>Uncle Tof</em> mau main rumah-rumahan?“ </p>

<p>Pertanyaan itu hampir membuat tangisnya luruh.</p>

<p>© litamateur
<a href="/be-my-escape/tag:BME" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">BME</span></a></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://wordsmith.social/be-my-escape/be-my-escape</guid>
      <pubDate>Sun, 01 May 2022 08:51:50 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>