berjumpa dengan penggemar adalah satu dari sekian rutinitas dari pekerjaan yang tidak pernah sekali pun alla tidak menghargai itu. setiap waktu yang berlalu adalah berharga. jadi meski kadang rasanya begitu melelahkan, tapi alla tidak berpikir ia akan mencoba untuk melangkah pada alur yang berbeda andai pun dirinya diberi kesempatan untuk punya pilihan mengambil jalan yang lain.

alla cukup percaya diri untuk bilang kalau apa yang sudah ia miliki sekarang adalah sesuatu yang tidak akan pernah ia tukar untuk hal lain lagi di lain waktu.

“gimana?” itu adalah pertanyaan rutin yang selalu alla terima dari mba bibi di setiap kali schedule-nya selesai dilakukan. “happy enggak?”

“happy.”

“good.” mba bibi tersenyum lega. “kalau gitu, ayo kita pulang.”

“habis ini enggak ada apa-apa lagi 'kan?”

“gak ada.”

alla mengangguk paham. “mba duluan aja. atau kalau mau pulang juga enggak apa-apa,” ungkapnya kemudian. “aku masih mau di sini dulu. sebentar.”

“eh, kenapa?” mba bibi seketika khawatir. “kamu gak apa=apa 'kan?”

“aman, kok.” sorot mata alla memancar teduh, meyakinkan mba bibi kalau memang semuanya masih ada di bawah kendalinya. “just a bit overwhelmed, tapi ini bukan masalah.”

“yaudah.” mba bibi meraih kursi dan menggesernya sampai tepat berada di samping alla, lalu duduk di sana. “aku tungguin.”

“enggak mau,” geleng alla. ia menolak dengan halus. “aku lagi maunya sendirian aja.”

“lima belas menit,” usul mba bibi berusaha bernegosiasi. “cukup?”

“maksimal tiga puluh menit.”

“oke.” mba bibi lantas berdiri. “mba tunggu di luar ruangan.”

“jangan. di mobil aja,” pinta alla, agak keras kepala. “kalau ada apa-apa nanti aku langsung nelpon mba, kok.”

“yaudah.” mba bibi menghembus nafas pasrah. “mba tunggu. tiga puluh menit dari sekarang.”

“iya. makasih banyak, mba.”

maka mba bibi berlalu keluar ruangan tanpa suara, dan semua berjalan sesuai dengan yang alla harapkan setelahnya. dirinya ditinggal sendirian dalam ruangan yang beberapa menit lalu terisi riuh dari para staff dan cerianya setiap penggemar yang antusiasmenya seperti bisa terpancar menembus layar.

kini yang mengisi hanya sunyi. alla menatap lurus pada seperangkat gadget yang sedari tapi jadi alat utama yang menghubungkan dirinya dengan para penggemarnya. lalu berbagal kilas balik mulai berputar dalam bayangannya, seperti potongan film pendek yang begitu sarat makna sampai alla bisa rasanya dadanya jadi terasa hangat karenanya.

it was fun. and he's happy.

tapi kemudian ada bayangan lain yang tiba-tiba muncul tanpa sempat alla ambil alih kendalinya. kenangan lama dari sosok yang eksistensinya sudah berusaha alla coba tekan di balik ingatannya.

that one fan.

alla gengsi untuk mengakui, tapi juga perasaannya jadi seperti punya sikapnya sendiri. maka akhirnya alla pilih untuk berpasrah, toh tidak ada siapa pun yang akan menghakiminya juga 'kan sekarang?

Jagat.

akhirnya alla berani untuk mengakui. satu nama yang dulunya terasa familiar dan seperti tidak pernah ingin absen untuk mengambil semua kesempatan yang mungkin untuk bisa menyapa alla secara langsung, tapi sekarang rasanya bahkan alla tidak bisa ingat kapan mereka bertemu bahkan berbicara terakhir kali?

konyol. alla tahu mungkin seharusnya dia tidak merasa seperti ini. jagat seperti mendapat perlakuan khusus karena alla tidak melakukan