<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>growandfly</title>
    <link>https://wordsmith.social/growandfly/</link>
    <description></description>
    <pubDate>Fri, 01 May 2026 02:52:56 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>the kind of fun escape</title>
      <link>https://wordsmith.social/growandfly/the-kind-of-fun-escape</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#34;stop--&#34; seonghyeon menghentikan langkah, yang otomatis membuat langkah keonho di sampingnya jadi ikut terhenti. &#34;--look at me like that.&#34;&#xA;&#xA;&#34;like, what?&#34; heran keonho.&#xA;&#xA;&#34;i don&#39;t know,&#34; jawab seonghyeon jujur. sebab ia sendiri juga bingung harus menjelaskan bagaimana? ia cuma tahu kalau malam ini rasanya berbeda seperti malam-malam dimana mereka bertemu di acara pesta makan malam mewah salah satu kolega orang tua mereka, pasca keduanya sepakat untuk bekerja sama. &#34;you tell me.&#34;&#xA;&#xA;&#34;apa sih?&#34; tanya keonho, tawanya bercampur dengan nada yang bingung. &#34;am i not allowed to look at my boyfriend, or what?&#34;&#xA;&#xA;&#34;nevermind. lupain aja.&#34; lalu seonghyeon lanjut melangkah lagi. sayangnya, di langkah ketiga tiba-tiba ia merasakan nyeri di kakinya. &#34;a-ah,&#34; ringisnya kecil.&#xA;&#xA;&#34;kenapa?&#34;&#xA;&#xA;seonghyeon menjawab dengan menjatuhkan pandangan pada kedua kakinya, yang masih dibalut heel boot yang sebenarnya sudah agak kekecilan dan belum sempat ia pisahkan dari wardrobe-nya. maka ketika tadi tadi berangkat dengan begitu terburu dan asal ambil yang menurutnya oke tanpa benar-benar dicoba terlebih dulu maka berakhirlah seperti sekarang. &#xA;&#xA;maka keonho otomatis berlutut. &#34;lepas sepatunya,&#34; suruhnya kemudian.&#xA;&#xA;&#34;tapi nanti aku jadi nyeker.&#34;&#xA;&#xA;&#34;pakai punya ak--&#34;&#xA;&#xA;&#34;--enggak mau.&#34;&#xA;&#xA;&#34;yaudah lepas dulu.&#34; tapi seonghyeon malah merapatkan kaki, seolah menguncinya. maka keonho mendongak, dan lampu taman menyorot berhasil sempurna seberapa serius air muka keonho sekarang. &#34;seonghyeon,&#34; panggilnya, yang lebih terdengar seperti sebuah teguran.&#xA;&#xA;&#34;don&#39;t lookdal at me like that,&#34; protes seonghyeon tak suka, sambil akhirnya tetap menurut untuk melepas sepatunya. lalu tanpa banyak bicara, keonho berbalik. mata seonghyeon membola kaget. &#34;ngapain?!&#34;&#xA;&#xA;&#34;naik.&#34;&#xA;&#xA;&#34;enggak. ken--&#34;&#xA;&#xA;&#34;--kita balik ke mobil dulu. nanti pakai sepatu cadangan aku yang ada, gak apa-apa walau kegedean sedikit. gak usah ditolak kali ini.&#34; potong keonho. &#34;nanti kalau kamu mau balik jalan-jalan di sini lagi, terserah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;badan aku berat.&#34;&#xA;&#xA;&#34;it makes everything more interesting.&#34; keonho melempar pancingan dalam balutan nada bicaranya terdengar meremehkan. &#34;seberat apa sih emang?&#34;&#xA;&#xA;dan seonghyeon terjerat dengan begitu mudahnya. ia pun langsung mengambil sepatunya lalu melompat cukup keras ke punggung di hadapannya, sampai si empunya punggung nyarih kehilangan keseimbangan.&#xA;&#xA;&#34;w-wow. chill out, hun.&#34;&#xA;&#xA;&#34;rasain,&#34; cibir seonghyeon cuek. &#34;you asked it youself.&#xA;&#xA;keonho hanya terkekeh kecil setelahnya. kemudian berdiri dengan sekuat tenaga dan benar-benar menggendong seonghyeon menuju mobilnya.&#xA;&#xA;lalu setelah beberapa langkah, keonho pun bicara, &#34;maaf, ya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;maaf buat apa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;gak bener-bener siapin agenda kabur yang sempurna,&#34; sesal keonho serius. &#xA;&#xA;&#34;aku udah pakai baju kamu dari ujung kaki sampai ujung kepala, emang masih kurang di sebelah mananya sih?&#34; heran seonghyeon. &#34;you&#39;re also indulging my very impulsive thought to walk around here. padahal udah mau tengah malem. dingin.&#34;&#xA;&#xA;&#34;ya tapi ini kaki kamu jadi sakit,&#34; keukeuh keonho. &#34;nanti aku belajar dulu dari martin. i know he&#39;s mastering at these kind of thing.&#34;&#xA;&#xA;lalu perhatian seonghyeon teralih sepenuhnya pada satu hal. &#34;ini kamu gak pernah kabur ya sebelumnya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;it&#39;s my first time,&#34; angguk keonho.&#xA;&#xA;entah kenapa, seperti suatu perasaan hangat menjalar dalam dada seonghyeon. &#34;awww... what a good boy you are.&#34;&#xA;&#xA;mendengarnya, keonho refleks mendengus. &#34;as if you ain&#39;t the same,&#34; balasnya santai.&#xA;&#xA;&#34;of course we&#39;re not the same,&#34; elak seonghyeon. &#34;kamu pasti enggak pernah bolos sekolah buat ngadem di uks, ya? atau minimal kabur dari jadwal les cuma buat main ke mall deh.&#34;&#xA;&#xA;keonho diam, dan seonghyeon refleks tertawa menang. tapi kemudian keonho lempar pertanyaan. &#34;tapi ini pertama kalinya kamu kabur dari gala dinner &#39;kan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;iya sih...&#34;&#xA;&#xA;&#34;so we still are on the same boat.&#34;&#xA;&#xA;seonghyeon terkekeh. &#34;oh, that&#39;s quite impressive. i gotta admit.&#34;&#xA;&#xA;&#34;i know.&#34;&#xA;&#xA;&#34;i hope you also know that you&#39;re insufferable, most of the time.&#34;&#xA;&#xA;&#34;tahu juga kok. haha.&#34; entah seonghyeon sadar atau tidak, tapi keonho ada sengaja memperlambat langkahnya. &#34;that&#39;s why i feel grateful most of the time, too.&#34;&#xA;&#xA;&#34;for what exactly?&#34;&#xA;&#xA;&#34;for you,&#34; jujurnya tegas. &#34;for choosing me.&#34;&#xA;&#xA;seonghyeon tidak menjawab langsung, tapi ia balas dengan semakin merapatkan tubuhnya pada keonho. lalu tersenyum kecil dan berbisik santai setelahnya, &#34;let&#39;s have another fun escape next time.&#34;&#xA;&#xA;&#34;sure. challenge accepted.&#34;&#xA;&#xA;satu kesepakatan lain telah dibuat. one after another, yang keduanya jelas tahu kalau mungkin ini tidak akan menemukan akhirnya. tapi, siapa peduli? selama ini hanya satu-satunya cara bagi mereka untuk bisa saling menyelamatkan diri.&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><em>“stop—”</em> seonghyeon menghentikan langkah, yang otomatis membuat langkah keonho di sampingnya jadi ikut terhenti. <em>”—look at me like that.”</em></p>

<p><em>“like, what?”</em> heran keonho.</p>

<p><em>“i don&#39;t know,”</em> jawab seonghyeon jujur. sebab ia sendiri juga bingung harus menjelaskan bagaimana? ia cuma tahu kalau malam ini rasanya berbeda seperti malam-malam dimana mereka bertemu di acara pesta makan malam mewah salah satu kolega orang tua mereka, pasca keduanya sepakat untuk bekerja sama. <em>“you tell me.”</em></p>

<p>“apa sih?” tanya keonho, tawanya bercampur dengan nada yang bingung. <em>“am i not allowed to look at my boyfriend, or what?”</em></p>

<p><em>“nevermind.</em> lupain aja.” lalu seonghyeon lanjut melangkah lagi. sayangnya, di langkah ketiga tiba-tiba ia merasakan nyeri di kakinya. “a-ah,” ringisnya kecil.</p>

<p>“kenapa?”</p>

<p>seonghyeon menjawab dengan menjatuhkan pandangan pada kedua kakinya, yang masih dibalut <em>heel boot</em> yang sebenarnya sudah agak kekecilan dan belum sempat ia pisahkan dari <em>wardrobe</em>-nya. maka ketika tadi tadi berangkat dengan begitu terburu dan asal ambil yang menurutnya oke tanpa benar-benar dicoba terlebih dulu maka berakhirlah seperti sekarang.</p>

<p>maka keonho otomatis berlutut. “lepas sepatunya,” suruhnya kemudian.</p>

<p>“tapi nanti aku jadi nyeker.”</p>

<p>“pakai punya ak—”</p>

<p>”—enggak mau.”</p>

<p>“yaudah lepas dulu.” tapi seonghyeon malah merapatkan kaki, seolah menguncinya. maka keonho mendongak, dan lampu taman menyorot berhasil sempurna seberapa serius air muka keonho sekarang. “seonghyeon,” panggilnya, yang lebih terdengar seperti sebuah teguran.</p>

<p><em>“don&#39;t lookdal at me like that,”</em> protes seonghyeon tak suka, sambil akhirnya tetap menurut untuk melepas sepatunya. lalu tanpa banyak bicara, keonho berbalik. mata seonghyeon membola kaget. “ngapain?!”</p>

<p>“naik.”</p>

<p>“enggak. ken—”</p>

<p>”—kita balik ke mobil dulu. nanti pakai sepatu cadangan aku yang ada, gak apa-apa walau kegedean sedikit. gak usah ditolak kali ini.” potong keonho. “nanti kalau kamu mau balik jalan-jalan di sini lagi, terserah.”</p>

<p>“badan aku berat.”</p>

<p><em>“it makes everything more interesting.”</em> keonho melempar pancingan dalam balutan nada bicaranya terdengar meremehkan. “seberat apa sih emang?”</p>

<p>dan seonghyeon terjerat dengan begitu mudahnya. ia pun langsung mengambil sepatunya lalu melompat cukup keras ke punggung di hadapannya, sampai si empunya punggung nyarih kehilangan keseimbangan.</p>

<p>“w-wow. <em>chill out, hun.”</em></p>

<p>“rasain,” cibir seonghyeon cuek. <em>“you asked it youself.</em></p>

<p>keonho hanya terkekeh kecil setelahnya. kemudian berdiri dengan sekuat tenaga dan benar-benar menggendong seonghyeon menuju mobilnya.</p>

<p>lalu setelah beberapa langkah, keonho pun bicara, “maaf, ya?”</p>

<p>“maaf buat apa?”</p>

<p>“gak bener-bener siapin agenda kabur yang sempurna,” sesal keonho serius.</p>

<p>“aku udah pakai baju kamu dari ujung kaki sampai ujung kepala, emang masih kurang di sebelah mananya sih?” heran seonghyeon. <em>“you&#39;re also indulging my very impulsive thought to walk around here.</em> padahal udah mau tengah malem. dingin.”</p>

<p>“ya tapi ini kaki kamu jadi sakit,” keukeuh keonho. “nanti aku belajar dulu dari martin. <em>i know he&#39;s mastering at these kind of thing.”</em></p>

<p>lalu perhatian seonghyeon teralih sepenuhnya pada satu hal. “ini kamu gak pernah kabur ya sebelumnya?”</p>

<p><em>“it&#39;s my first time,”</em> angguk keonho.</p>

<p>entah kenapa, seperti suatu perasaan hangat menjalar dalam dada seonghyeon. <em>“awww... what a good boy you are.”</em></p>

<p>mendengarnya, keonho refleks mendengus. <em>“as if you ain&#39;t the same,”</em> balasnya santai.</p>

<p><em>“of course we&#39;re not the same,”</em> elak seonghyeon. “kamu pasti enggak pernah bolos sekolah buat ngadem di uks, ya? atau minimal kabur dari jadwal les cuma buat main ke mall deh.”</p>

<p>keonho diam, dan seonghyeon refleks tertawa menang. tapi kemudian keonho lempar pertanyaan. “tapi ini pertama kalinya kamu kabur dari <em>gala dinner</em> &#39;kan?”</p>

<p>“iya sih...”</p>

<p><em>“so we still are on the same boat.”</em></p>

<p>seonghyeon terkekeh. <em>“oh, that&#39;s quite impressive. i gotta admit.”</em></p>

<p><em>“i know.”</em></p>

<p><em>“i hope you also know that you&#39;re insufferable, most of the time.”</em></p>

<p>“tahu juga kok. haha.” entah seonghyeon sadar atau tidak, tapi keonho ada sengaja memperlambat langkahnya. <em>“that&#39;s why i feel grateful most of the time, too.”</em></p>

<p><em>“for what exactly?”</em></p>

<p><em>“for you,”</em> jujurnya tegas. <em>“for choosing me.”</em></p>

<p>seonghyeon tidak menjawab langsung, tapi ia balas dengan semakin merapatkan tubuhnya pada keonho. lalu tersenyum kecil dan berbisik santai setelahnya, <em>“let&#39;s have another fun escape next time.”</em></p>

<p><em>“sure. challenge accepted.</em>“</p>

<p>satu kesepakatan lain telah dibuat. <em>one after another,</em> yang keduanya jelas tahu kalau mungkin ini tidak akan menemukan akhirnya. tapi, siapa peduli? selama ini hanya satu-satunya cara bagi mereka untuk bisa saling menyelamatkan diri.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://wordsmith.social/growandfly/the-kind-of-fun-escape</guid>
      <pubDate>Sun, 19 Apr 2026 08:55:45 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Kiss it Better (or is it?)</title>
      <link>https://wordsmith.social/growandfly/kiss-it-better-or-is-it</link>
      <description>&lt;![CDATA[  tw/cw: nsfw. implied sexual content. &#xA;&#xA;- -&#xA;&#xA;Seonghyeon? Dia enggak bisa bersanding dengan rasa kesepian. Setidaknya, begitu lah yang Keonho pikirkan. Kadang kala rasanya seperti sebuah anomali; sosoknya terlihat tenang dan pancarkan kenyaman, tapi justru itu lah yang membuatnya jadi riuh.&#xA;&#xA;Sejauh apa yang Keonho bisa amati, kemana pun Seonghyeon langkahkan kakinya maka akan selalu ada ramai di sana.  Pun tidak peduli di mana Seonghyeon berada, presensinya senantiasa bagai magnet yang menarik banyak orang di sekitarnya untuk nyaman mendekat.&#xA;&#xA;Hal yang selanjutnya menjadi alami bagi Seonghyeon adalah dirinya jadi melebur; ikut masuk dalam perangkap ekspektasi orang terhadapnya sampai ia sibuk sendiri untuk memenuhi semuanya dan akhirnya justru jadi lupa pada apa yang sebenarnya dia inginkan.&#xA;&#xA;Lupa pada apa yang sebenarnya hatinya butuhkan.&#xA;&#xA;Maka seiring dengan waktu yang berjalan, Seonghyeon mendapati dirinya merasa berhenti pada satu titik kekosongan. Sebuah hampa yang mendorong muncul sebuah obligasi untuk diisi. Caranya? Berkelana tanpa henti; dari satu tempat ke tempat lain, pada tiap hati dari tiap orang yang coba mendekati. &#xA;&#xA;Seonghyeon berkelana, sejauh yang ia bisa. &#xA;&#xA;Seonghyeon berkelana, pada siapa saja kecuali pada sosok yang kini ada di hadapannya dan tengah menahan semua beban tubuh Seonghyeon di pangkuannya.&#xA;&#xA;     “How I wish, I am someone’s favorite.”&#xA;&#xA;Seonghyeon berbicara lemah, sebagaimana dirinya yang memang sedang berada di titik terlemah. Tubuhnya kini terkulai lemas dalam peluk Keonho yang selalu menerima bagaimana pun kondisi dirinya. Dahinya bersandar di bahu yang kekar, deru nafasnya patah-patah, kakinya bergetar hebat seiring dengan lelehan cairan yang basahi pahanya bahkan sampai ke tubuh sosok di hadapannya itu, pun seluruh tenaga terkuras habis hanya baru dengan sentuhan jari.&#xA;&#xA;Dan bukan tanpa alasan kenapa Seonghyeon bisa sampai berujar begitu, pun berakhir dalam dekap Keonho begini. Faktanya adalah kisah cinta Seonghyeon baru saja kandas untuk kesekian kali, yang pada kali ini harus terjadi karena sebuah kebohongan fatal yang dilakukan sang kekasih (well, sekarang sudah jadi mantan sih). Seonghyeon jadi harus kembali ke titik nol; kehilangan semua rasanya sekaligus harus menerima nyeri dari kehampaan di hatinya lagi.&#xA;&#xA;Sementara di sisi lain, Keonho rasanya ingin langsung balas dengan lantang, “You are my favorite, Seonghyeon. You will always be my favorite.”&#xA;&#xA;Tapi tidak, Keonho pikir saat ini bukan momennya. Saat ini, bukannya saat yang tepat untuk jadi soal tentang dirinya, ini harusnya jadi seluruh waktu yang didedikasikan hanya untuk Seonghyeon. &#xA;&#xA;Cuma Seonghyeon.&#xA;&#xA;Lantas dibanding suarakan apa yang ingin kepalanya ucapkan, Keonho memilih untuk balas bertanya, “Feeling better, hm?”&#xA;&#xA;Sejujurnya, jawabannya adalah iya.&#xA;&#xA;Seonghyeon sudah ditelanjangi, dan Keonho sudah jamah seluruh bagian tubuhnya tanpa kecuali. &#xA;&#xA;Seonghyeon sudah sempat dibuat lupa akan dirinya dan segala nyeri dari kehampaannya sebab Keonho sudah berikan apa yang orang biasa sebut sebagai surga dunia, lewat semua sentuhannya.&#xA;&#xA;Jadi jawabannya adalah iya; Seonghyeon merasa lebih baik. He feels so, so, so fucking good.&#xA;&#xA;Tapi itu saja rasanya seperti belum cukup, dan Seonghyeon sedang ingin jadi serakah. Sebab siapa pula yang akan tetap merasa baik-baik saja, setelah sayangmu ternyata ditipu? Setelah percayamu disia-siakan seolah tak ada artinya begitu?&#xA;&#xA;Seonghyeon masih patah hati maka ia jelas masih butuh penawar dalam bentuk afeksi, dan Keonho adalah satu-satunya yang akan selalu siap beri penawar itu tanpa peduli pada konsekuensi. &#xA;&#xA;Selalu.&#xA;&#xA;      “Jawab, Sayang.”&#xA;&#xA;Sayang.&#xA;&#xA;Di setiap aktivitas seksual mereka, Keonho kadang memang biasa memanggilnya begitu; sayang. Seonghyeon juga tidak tahu ada sihir macam apa di balik satu kata yang sangat biasa itu.&#xA;&#xA;(Bagi Seonghyeon, ini tidak begitu ada maknanya. Terlalu sering disuarakan orang, terlalu sering ia dengar.)&#xA;&#xA;Tapi anehnya tiap kali Keonho yang bilang, rasanya seperti Seonghyeon benar-benar disayang. &#xA;&#xA;Makanya sekarang ini rasanya wajah Seonghyeong jadi memanas dan itu membuat rona merah mulai menjalar ke hampir semua bagiannya, sehingga yang bisa ia sampaikan sebagai responnya hanya sebatas pada gelengan lemah yang bisa Keonho rasakan di ceruk lehernya—sebab wajah si cantik sedari tadi memang bersembunyi di sana.&#xA;&#xA;Keonho tahu, makna dari jawaban Seonghyeon. Tentu Keonho mengerti itu. Lantas lengannya yang semula rengkuh pinggang Seonghyeon dengan protektif itu, kini bergerak naik; jarinya bermain-main dia atas punggung mulus yang telanjang, bentuk sebuah pola acak sensual yang  memprovokasi hingga sukses buat sesuatu dalam diri Seonghyeon untuk bangkit kembali. Badannya mulai menggeliat, masih terlalu sensitif untuk terima sentuhan seperti itu, pun tanpa sadar bibirnya jadi ikut keluarkan suara yang seharusnya ia tahan hanya dalam fantasinya saja.&#xA;&#xA;Tubuh Seonghyeon bereaksi, dan Keonho bersorak dalam hati.&#xA;&#xA;Lantas dilepaskanlah pelukan tubuh Seonghyeon, dengan posisi yang sebenarnya tak banyak berubah; Seonghyeon masih di pangkuannya, dan hanya jarak di antara wajah mereka tinggal sisa napas.&#xA;&#xA;     “Ngomong yang bener.” Kini ibu jari Keonho usap bibir ranum si manis yang begitu merah, mengkilap dan bengkak. Karena tentu saja, bagian itu sudah diporak-porandakan oleh Keonho sendiri tadi. Usapannya itu kini semakin melambat, seolah memberi waktu pada tiap saraf untuk sadar bahwa ia tengah sengaja disentuh. “Bisa ngomong gak?”&#xA;&#xA;Suara Keonho makin terdengar menuntut. Tapi alih-alih buat takut, Seonghyeon justru sengaja untuk jadi enggan bicara dan malah membuka mulutnya—seolah memang sengaja mengundang sesuatu untuk masuk ke sana.&#xA;&#xA;     “Kotor.” Keonho sengaja lecehkan si manis di hadapannya. Sebab keduanya jelas tahu, humiliasi seperti itu justru jadi trigger yang sanggup bakar adrenalin Seonghyeon sampai ke puncaknya. Lantas ia tarik bilah bibir bawah Seonghyeon secara sengaja. “Mikirin apa sih? Gue suruh lo buat ngomong padahal.”&#xA;&#xA;Tapi Seonghyeon mana bisa balas kasih jawaban? Ketika yang dilakukan Keonho selanjutnnya malah lesakkan ibu jarinya ke dalam mulut Seonghyeon. &#xA;&#xA;     “Ngomong, Sayang.” Kontradiktif titah Keonho yang bicara penuh penekanan, seiring dengan ibu jarinya yang makin melesak masuk; rasakan sensasi empuk dan lembut, serta basah yang tanpa sadar buatnya jadi mulai ikut merasa gila. “Lo punya mulut, kalo gak dipake buat ngomong ya buat apa lagi coba?”&#xA;&#xA;Maka yang jadi jawaban Seonghyeon adalah mulutnya ia pakai untuk langsung hisap ibu jari Keonho di sana, diiringi dengan mata setengah sayunya yang enggan lepas untuk balas pandangi tatapan tajam dari si yang lebih tua. Dan tindakan itu, tentu sukses terbitkan seringai puas di wajah Keonho.&#xA;&#xA;      “Beneran kotor ya.” Sekali lagi, kontradiksi antara ucapan dan perilakunya; sebelah tangan Keonho kini mengusap wajah Seonghyeon, coba singkirkan anak rambut di dahi yang bisa halangi indahnya paras si cantik, lalu turun ke bawah untuk usap lembut pipi yang jadi mencekung akibat kegiatan menghisapnya. “Kotor banget sampe bisa bikin gue mikir buat masukin sesuatu yang lain ke mulut lo ini.”&#xA;&#xA;Seonghyeon seketika pening. Kalimat Keonho barusan masuk dan membayangi dalam kepalanya, buat hisapan pada jari di mulutnya jadi makin kuat. Sesekali gumamkan nama Keonho dengan suara yang sama sekali tidak koheren, dan buat si empunya jadi makin mendorong masuk ibu jarinya dengan kasar sampai Seonghyeon tersedak dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata.&#xA;&#xA;Lalu tak lama setelahnya, Keonho akhirnya tarik ibu jarinya yang kemudian basahnya dari liur Seonghyeon di sana lantas dilumurkan di atas bibir si empunya. &#xA;&#xA;Kacau.&#xA;&#xA;Nafas Seonghyeon berderu, dengan wajah memerah dan mata yang sayu. Belum lagi kini Keonho baru sadar dan lihat dengan jelas, betapa tubuh si cantik yang awalnya polos itu kini telah penuh dengan ruam merah bekas ia gigit di sana-sini; di leher, di bahu, di dada, di hampir semuanya.&#xA;&#xA;Sekali lagi. Seonghyeon kacau, dan cuma Keonho yang sanggup jadi penyebab dari semua kacau itu.&#xA;&#xA;Keonho lantas mendekat maju, untuk cium sudut bibir Seonghyeon yang basah. Lalu lumat seluruhnya sampai semua bagiannya jadi bersih mengkilat. Tapi Seonghyeon tak lantas bisa diam dan menerima begitu saja, sehingga ia balas melumat hingga buat keduanya saling mencium.&#xA;&#xA;Panas dan berantakan.&#xA;&#xA;Buat Seonghyeon jadi tak sadar kembali gesekkan diri di paha yang lebih tua—sampai ada becek di bawah sana, dan Keonho yang dengan kurang ajarnya langsung mencengkram pinggang Seonghyeon begitu ia sadar—hentikan pegerakan si yang lebih muda.&#xA;&#xA;     “Mmh—Keonho...” Seonghyeon lepas ciumannya dan langsung suarakan erangan frustasi, matanya balik jadi berair lagi. “Please—!”&#xA;&#xA;     “Ngomong, Seonghyeon,” pinta Keonho dengan tegas. Dia tidak akan lanjutkan, kalau Seonghyeon tidak benar-benar suarakan apa yang diinginkan. “So, say it. Then I’ll do it.”&#xA;&#xA;     “Kiss me. Touch me—” Seonghyeon merengek. Ia cuma bisa suarakan apapun itu yang lewat di kepalanya, sudah tidak sanggup suarakan satu kalimat penuh. Sebab makin lama, isi kepalanya malah jadi cuma diisi Keonho, Keonho, Keonho, dan Keonho saja. &#34;—Fill me. Makes me forget.&#34; &#xA;&#xA;Sedangkan Keonho sendiri, tentu tidak banyak buang waktu untuk wujudkan apa yang Seonghyeon mau. “Sure. I’m going to fill you up, so you remember who fucks you so good.”&#xA;&#xA;Seonghyeon bilang, buat dia lupa. Tapi yang Keonho mau Seonghyeon untuk ingat, and Seonghyeon will gladly do so. Meski yang selanjutnya sanggup ia ingat hanya dirinya yang cuma bisa suarakan desah dan kalimat-kalimat tak koheran ketika yang Keonho lakukan disepanjang waktunya adalah memuja dambil mengukung Seonghyeon di bawahnya, dengan suarakan ‘cantik’, ‘indah,’ dan kalimat pujian lainnya tanpa henti pada tiap inci dari bagian tubuhnya, dan mencium tiap bagian yang belum sempat diberi dijamah cumbunya.&#xA;&#xA;Begitu seterusnya, yang memenuhi pikiran keduanya cuma untuk puaskan satu sama lainnya, dengan nafsu yang terus mengudara dalam seisi ruangan hingga terus hanyutkan dua jiwa itu sampai pagi menjelang tiba.&#xA;&#xA;- -&#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><strong>tw/cw:</strong> <em>nsfw. implied sexual content.</em></p></blockquote>

<hr>

<p>Seonghyeon? <em>Dia enggak bisa bersanding dengan rasa kesepian.</em> Setidaknya, begitu lah yang Keonho pikirkan. Kadang kala rasanya seperti sebuah anomali; sosoknya terlihat tenang dan pancarkan kenyaman, tapi justru itu lah yang membuatnya jadi <em>riuh.</em></p>

<p>Sejauh apa yang Keonho bisa amati, kemana pun Seonghyeon langkahkan kakinya maka akan selalu ada ramai di sana.  Pun tidak peduli di mana Seonghyeon berada, presensinya senantiasa bagai magnet yang menarik banyak orang di sekitarnya untuk nyaman mendekat.</p>

<p>Hal yang selanjutnya menjadi alami bagi Seonghyeon adalah dirinya jadi melebur; ikut masuk dalam perangkap ekspektasi orang terhadapnya sampai ia sibuk sendiri untuk memenuhi semuanya dan akhirnya justru jadi lupa pada apa yang sebenarnya dia inginkan.</p>

<p><em>Lupa pada apa yang sebenarnya hatinya butuhkan.</em></p>

<p>Maka seiring dengan waktu yang berjalan, Seonghyeon mendapati dirinya merasa berhenti pada satu titik kekosongan. Sebuah hampa yang mendorong muncul sebuah obligasi untuk diisi. Caranya? Berkelana tanpa henti; dari satu tempat ke tempat lain, pada tiap hati dari tiap orang yang coba mendekati.</p>

<p>Seonghyeon berkelana, sejauh yang ia bisa.</p>

<p>Seonghyeon berkelana, pada siapa saja kecuali pada sosok yang kini ada di hadapannya dan tengah menahan semua beban tubuh Seonghyeon di pangkuannya.</p>

<p>     <em>“How I wish, I am someone’s favorite.”</em></p>

<p>Seonghyeon berbicara lemah, sebagaimana dirinya yang memang sedang berada di titik terlemah. Tubuhnya kini terkulai lemas dalam peluk Keonho yang selalu menerima bagaimana pun kondisi dirinya. Dahinya bersandar di bahu yang kekar, deru nafasnya patah-patah, kakinya bergetar hebat seiring dengan lelehan cairan yang basahi pahanya bahkan sampai ke tubuh sosok di hadapannya itu, pun seluruh tenaga terkuras habis hanya baru dengan sentuhan jari.</p>

<p>Dan bukan tanpa alasan kenapa Seonghyeon bisa sampai berujar begitu, pun berakhir dalam dekap Keonho begini. Faktanya adalah kisah cinta Seonghyeon baru saja kandas untuk kesekian kali, yang pada kali ini harus terjadi karena sebuah kebohongan fatal yang dilakukan sang kekasih (<em>well</em>, sekarang sudah jadi mantan sih). Seonghyeon jadi harus kembali ke titik nol; kehilangan semua rasanya sekaligus harus menerima nyeri dari kehampaan di hatinya lagi.</p>

<p>Sementara di sisi lain, Keonho rasanya ingin langsung balas dengan lantang, <strong><em>“You are my favorite, Seonghyeon. You will always be my favorite.”</em></strong></p>

<p>Tapi <em>tidak,</em> Keonho pikir saat ini bukan momennya. Saat ini, bukannya saat yang tepat untuk jadi soal tentang dirinya, ini harusnya jadi seluruh waktu yang didedikasikan hanya untuk Seonghyeon.</p>

<p><em>Cuma Seonghyeon.</em></p>

<p>Lantas dibanding suarakan apa yang ingin kepalanya ucapkan, Keonho memilih untuk balas bertanya, <em>“Feeling better, hm?”</em></p>

<p>Sejujurnya, jawabannya adalah iya.</p>

<p>Seonghyeon sudah ditelanjangi, dan Keonho sudah jamah seluruh bagian tubuhnya tanpa kecuali.</p>

<p>Seonghyeon sudah sempat dibuat lupa akan dirinya dan segala nyeri dari kehampaannya sebab Keonho sudah berikan apa yang orang biasa sebut sebagai surga dunia, lewat semua sentuhannya.</p>

<p>Jadi jawabannya adalah iya; Seonghyeon merasa lebih baik. <em>He feels so, so, so fucking good.</em></p>

<p>Tapi itu saja rasanya seperti belum cukup, dan Seonghyeon sedang ingin jadi serakah. Sebab siapa pula yang akan tetap merasa baik-baik saja, setelah sayangmu ternyata ditipu? Setelah percayamu disia-siakan seolah tak ada artinya begitu?</p>

<p>Seonghyeon masih patah hati maka ia jelas masih butuh penawar dalam bentuk afeksi, dan Keonho adalah satu-satunya yang akan selalu siap beri penawar itu tanpa peduli pada konsekuensi.</p>

<p><em>Selalu.</em></p>

<p>      “Jawab, Sayang.”</p>

<p><em>Sayang.</em></p>

<p>Di setiap aktivitas seksual mereka, Keonho kadang memang biasa memanggilnya begitu; <em>sayang.</em> Seonghyeon juga tidak tahu ada sihir macam apa di balik satu kata yang sangat biasa itu.</p>

<p><em>(Bagi Seonghyeon, ini tidak begitu ada maknanya. Terlalu sering disuarakan orang, terlalu sering ia dengar.)</em></p>

<p>Tapi anehnya tiap kali Keonho yang bilang, rasanya seperti Seonghyeon benar-benar disayang.</p>

<p>Makanya sekarang ini rasanya wajah Seonghyeong jadi memanas dan itu membuat rona merah mulai menjalar ke hampir semua bagiannya, sehingga yang bisa ia sampaikan sebagai responnya hanya sebatas pada gelengan lemah yang bisa Keonho rasakan di ceruk lehernya—sebab wajah si cantik sedari tadi memang bersembunyi di sana.</p>

<p>Keonho tahu, makna dari jawaban Seonghyeon. Tentu Keonho mengerti itu. Lantas lengannya yang semula rengkuh pinggang Seonghyeon dengan protektif itu, kini bergerak naik; jarinya bermain-main dia atas punggung mulus yang telanjang, bentuk sebuah pola acak sensual yang  memprovokasi hingga sukses buat sesuatu dalam diri Seonghyeon untuk bangkit kembali. Badannya mulai menggeliat, <em>masih terlalu sensitif</em> untuk terima sentuhan seperti itu, pun tanpa sadar bibirnya jadi ikut keluarkan suara yang seharusnya ia tahan hanya dalam fantasinya saja.</p>

<p><em>Tubuh Seonghyeon bereaksi, dan Keonho bersorak dalam hati.</em></p>

<p>Lantas dilepaskanlah pelukan tubuh Seonghyeon, dengan posisi yang sebenarnya tak banyak berubah; Seonghyeon masih di pangkuannya, dan hanya jarak di antara wajah mereka tinggal sisa napas.</p>

<p>     <em>“Ngomong yang bener.”</em> Kini ibu jari Keonho usap bibir ranum si manis yang begitu merah, mengkilap dan bengkak. Karena tentu saja, bagian itu sudah diporak-porandakan oleh Keonho sendiri tadi. Usapannya itu kini semakin melambat, seolah memberi waktu pada tiap saraf untuk sadar bahwa ia tengah sengaja disentuh. <em>“Bisa ngomong gak?”</em></p>

<p>Suara Keonho makin terdengar menuntut. Tapi alih-alih buat takut, Seonghyeon justru sengaja untuk jadi enggan bicara dan malah membuka mulutnya—seolah memang sengaja mengundang sesuatu untuk masuk ke sana.</p>

<p>     <em>“Kotor.”</em> Keonho sengaja lecehkan si manis di hadapannya. Sebab keduanya jelas tahu, humiliasi seperti itu justru jadi <em>trigger</em> yang sanggup bakar adrenalin Seonghyeon sampai ke puncaknya. Lantas ia tarik bilah bibir bawah Seonghyeon secara sengaja. <em>“Mikirin apa sih? Gue suruh lo buat ngomong padahal.”</em></p>

<p>Tapi Seonghyeon mana bisa balas kasih jawaban? Ketika yang dilakukan Keonho selanjutnnya malah lesakkan ibu jarinya ke dalam mulut Seonghyeon.</p>

<p>     <em>“Ngomong, Sayang.”</em> Kontradiktif titah Keonho yang bicara penuh penekanan, seiring dengan ibu jarinya yang makin melesak masuk; rasakan sensasi empuk dan lembut, serta basah yang tanpa sadar buatnya jadi mulai ikut merasa gila. <em>“Lo punya mulut, kalo gak dipake buat ngomong ya buat apa lagi coba?”</em></p>

<p>Maka yang jadi jawaban Seonghyeon adalah mulutnya ia pakai untuk langsung hisap ibu jari Keonho di sana, diiringi dengan mata setengah sayunya yang enggan lepas untuk balas pandangi tatapan tajam dari si yang lebih tua. Dan tindakan itu, tentu sukses terbitkan seringai puas di wajah Keonho.</p>

<p>      <em>“Beneran kotor ya.”</em> Sekali lagi, kontradiksi antara ucapan dan perilakunya; sebelah tangan Keonho kini mengusap wajah Seonghyeon, coba singkirkan anak rambut di dahi yang bisa halangi indahnya paras si cantik, lalu turun ke bawah untuk usap lembut pipi yang jadi mencekung akibat kegiatan menghisapnya. <em>“Kotor banget sampe bisa bikin gue mikir buat masukin sesuatu yang lain ke mulut lo ini.”</em></p>

<p>Seonghyeon seketika pening. Kalimat Keonho barusan masuk dan membayangi dalam kepalanya, buat hisapan pada jari di mulutnya jadi makin kuat. Sesekali gumamkan nama Keonho dengan suara yang sama sekali tidak koheren, dan buat si empunya jadi makin mendorong masuk ibu jarinya dengan kasar sampai Seonghyeon tersedak dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata.</p>

<p>Lalu tak lama setelahnya, Keonho akhirnya tarik ibu jarinya yang kemudian basahnya dari liur Seonghyeon di sana lantas dilumurkan di atas bibir si empunya.</p>

<p><em>Kacau.</em></p>

<p>Nafas Seonghyeon berderu, dengan wajah memerah dan mata yang sayu. Belum lagi kini Keonho baru sadar dan lihat dengan jelas, betapa tubuh si cantik yang awalnya polos itu kini telah penuh dengan ruam merah bekas ia gigit di sana-sini; di leher, di bahu, di dada, <em>di hampir semuanya.</em></p>

<p>Sekali lagi. Seonghyeon kacau, dan cuma Keonho yang sanggup jadi penyebab dari semua kacau itu.</p>

<p>Keonho lantas mendekat maju, untuk cium sudut bibir Seonghyeon yang basah. Lalu lumat seluruhnya sampai semua bagiannya jadi bersih mengkilat. Tapi Seonghyeon tak lantas bisa diam dan menerima begitu saja, sehingga ia balas melumat hingga buat keduanya saling mencium.</p>

<p><em>Panas dan berantakan.</em></p>

<p>Buat Seonghyeon jadi tak sadar kembali gesekkan diri di paha yang lebih tua—sampai ada becek di bawah sana, dan Keonho yang dengan kurang ajarnya langsung mencengkram pinggang Seonghyeon begitu ia sadar—hentikan pegerakan si yang lebih muda.</p>

<p>     <em>“Mmh—Keonho...”</em> Seonghyeon lepas ciumannya dan langsung suarakan erangan frustasi, matanya balik jadi berair lagi. <em>“Please—!”</em></p>

<p>     <em>“Ngomong, Seonghyeon,”</em> pinta Keonho dengan tegas. Dia tidak akan lanjutkan, kalau Seonghyeon tidak benar-benar suarakan apa yang diinginkan. <em>“So, say it. Then I’ll do it.”</em></p>

<p>     <em>“Kiss me. Touch me—”</em> Seonghyeon merengek. Ia cuma bisa suarakan apapun itu yang lewat di kepalanya, sudah tidak sanggup suarakan satu kalimat penuh. Sebab makin lama, isi kepalanya malah jadi cuma diisi Keonho, Keonho, Keonho, dan Keonho saja. <em>“—Fill me. Makes me forget.”</em></p>

<p>Sedangkan Keonho sendiri, tentu tidak banyak buang waktu untuk wujudkan apa yang Seonghyeon mau. <strong><em>“Sure. I’m going to fill you up, so you remember who fucks you so good.”</em></strong></p>

<p>Seonghyeon bilang, buat dia lupa. Tapi yang Keonho mau Seonghyeon untuk ingat, <em>and Seonghyeon will gladly do so.</em> Meski yang selanjutnya sanggup ia ingat hanya dirinya yang cuma bisa suarakan desah dan kalimat-kalimat tak koheran ketika yang Keonho lakukan disepanjang waktunya adalah memuja dambil mengukung Seonghyeon di bawahnya, dengan suarakan ‘cantik’, ‘indah,’ dan kalimat pujian lainnya tanpa henti pada tiap inci dari bagian tubuhnya, dan mencium tiap bagian yang belum sempat diberi dijamah cumbunya.</p>

<p>Begitu seterusnya, yang memenuhi pikiran keduanya cuma untuk puaskan satu sama lainnya, dengan nafsu yang terus mengudara dalam seisi ruangan hingga terus hanyutkan dua jiwa itu sampai pagi menjelang tiba.</p>

<hr>
]]></content:encoded>
      <guid>https://wordsmith.social/growandfly/kiss-it-better-or-is-it</guid>
      <pubDate>Wed, 04 Mar 2026 14:12:13 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>asep dan anis </title>
      <link>https://wordsmith.social/growandfly/asahi-kasep-dan-hanni-manis</link>
      <description>&lt;![CDATA[// 800ish words, bahasa non-baku, college student!au, aged up characters, lowercase intended.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;pada salah satu sudut bagian di nusantara ini, ada satu kampus elit yang isinya cuma orang-orang terpilih yang bener-bener serius belajar buat menyongsong masa depan aja yang bisa masuk.&#xA;&#xA;tapi selain isinya orang-orang yang serius belajar, ada juga yang serius sama si pacar. katanya sih, itu juga. doain aja emang iya.&#xA;&#xA;     “nasi goreng lagi???”&#xA;&#xA;itu yang barusan bertanya, namanya asahi. anak semester lima yang satu kampus hampir kenal sama dia soalnya mahasiswa aktif yang sampai bisa pegang jabatan ketua bem fakultas, tapi di dua ukm pun dia tetep gas jalanin dan aman-aman aja.&#xA;&#xA;kadang kala ada yang sampai mikir kalau asahi ini sinting, karena lihat gimana managemen waktunya dia yang bisa seenggak waras itu. terus nih, lebih sintingnya adalah asahi ini di bidang akademik pun tetep bisa balance. dan, dia masih sempet-sempetnya buat punya pacar pula??? tuh, sinting banget kan???&#xA;&#xA;      “iya, nasi goreng lagi. kenapa? mau protes?”&#xA;&#xA;nah, yang barusan nyahut dengan agak sewot itu hanni, pacarnya asahi.&#xA;&#xA;terus ini masalahnya (lagi), hanni bukan mahasiswa sembarangan juga. walau kegiatan kampus dia enggak sesibuk asahi, tapi hanni ini aktif di ukm radio yang emang digandrungi sama hampir semua kalangan warga kampus. rumornya sih, dia digadang-gadang jadi salah satu kandidat yang bakal naik jadi ketua ukm radionya tahun depan. terus soal akademik juga dia oke, berani diadu sih (katanya).&#xA;&#xA;jadi, jelas banyak orang juga yang kenal siapa siapa hanni.&#xA;&#xA;lalu status antara asahi dan hanni yang terikat hubungan pacaran pun makin bikin keduanya jadi punya poin tambahan lagi untuk makin dikenal warga kampus. &#xA;&#xA;gak ada deh yang gak bisa tebak siapa pengirim asli surat anonim atas nama asep yang selalu hanni terima setiap kali dia siaran di hari kamis. isinya kalimat-kalimat manis yang klise berupa suntikan semangat yang ditujukan secara khusus buat sang dj.&#xA;&#xA;gak ada juga yang gak tau siapa yang suka tiba-tiba kirim banyak makanan atas nama si manis; itu dikirim khusus buat asahi dan anggotanya setiap kali ada rapat organisasi yang habiskan waktu sampai tengah malem.&#xA;&#xA;udah pokoknya gak ketolong, mereka berdua bucin dan gak ada yang bisa menandinginya.&#xA;&#xA;     “gak ada yang mau protes, manis.” asahi simpan sebotol air mineral di hadapan hanni. tadi dia lihat kayak gak ada sesuatu yang bisa diminum di atas meja, makanya inisiatif buat beli. “aku cuma tanya.”&#xA;&#xA;     “buat gue mana??!”&#xA;&#xA;oh, gak cuma ada asahi sama hanni ternyata. karena sebenernya sejak awal emang hanni lagi ngantin berdua sama salah satu sahabatnya, danielle. lalu tiba-tiba datang lah asahi.&#xA;&#xA;      “eh, sorry. lo gak kelihatan.”&#xA;&#xA;      “sialan.”&#xA;&#xA;emang duo bucin kalo udah ketemu, serasa dunia emang cuma milik berdua.&#xA;&#xA;      “lo ambil aja sendiri, nanti gue yang bayar.”&#xA;&#xA;      “oke!”&#xA;&#xA;danielle pergi ambil air, terus asahi akhirnya balik fokus merhatiin pacar manisnya yang masih lahap (banget) makan nasi gorengnya.&#xA;&#xA;      “pelan-pelan makannya.”&#xA;&#xA;      “gak bisa, gak bisa, gak bisa! ini terlalu enak.”&#xA;&#xA;      “sampe belepotan tuh nasinya di sudut bibir.”&#xA;&#xA;      “masa iya?”&#xA;&#xA;      “he’em,” jawab asahi sekenanya, karena ia langsung gerak pake aksi dengan singkirin sisa nasi belepotan itu pake ibu jarinya. “kayak bocah banget sih. dasar.”&#xA;&#xA;padahal ini cuma nasi goreng biasa. buat asahi sih, gak ada spesial-spesialnya sama sekali. tapi emang dasarnya hanni aja yang udah kepalang suka, sampai cinta buta juga kayaknya.&#xA;&#xA;lalu gak lama setelahnya, danielle ada balik lagi dengan disambut pemandangan dimana hanni ada menyuap sesendok nasi gorengnya ke mulut asahi.&#xA;&#xA;      “ewwwww. kalo mau bucin tolong tau tempat.”&#xA;&#xA;asahi sama hanni cuma ketawa tanpa dosa.&#xA;&#xA;      “dah ah gue cabut ya,” pamit danielle yang emang ada janji buat kumpul sama anak ukm-nya dulu sebelum kelas sejam lagi. gak lupa dia angkat tangannya yang pegang satu kantong keresek berisi banyak botol minuman berbagai varian rasa. “makasih traktirannya, kak asahi! haha.”&#xA;&#xA;      “ih, magadir!” maki hanni. “itu namanya pemerasan!”&#xA;&#xA;asahi cuma ketawa santai, karena kalau sampai harus jajanin berdus-dus juga itu gak akan pernah jadi masalah buat dia. “sama-sama.”&#xA;&#xA;terus danielle julurkan lidah, ngejek hanni. “wleeek. mampus pacar lo gue porotin. bye.”&#xA;&#xA;hanni udah siap mau ngejar tapi tangannya keburu ditahan asahi. “nasi gorengnya gak akan dihabisin? yakin?”&#xA;&#xA;      “eh iya, nasi goreng first.”&#xA;&#xA;asahi ketawa. “kalo dibanding aku, what comes first?”&#xA;&#xA;      “tetep nasi goreng lah? please know your limit ya, asep.”&#xA;&#xA;       “anjir.”&#xA;&#xA;kemudian di lima belas menit menit selanjutnya, sesi makan siang sambil pacaran ala asahi dan hanni pun selesai. kini keduanya udah jalan beriringan keluar gedung fakultas. sampai di satu titik, mereka harus pisah jalan. asahi mau ke gedung rektorat, sedangkan hanni ke perpustakaan.&#xA;&#xA;      “asep jangan kangen aku ya!”&#xA;&#xA;      “idih ogah!” bilangnya sih gitu ya, tapi tangannya sekarang sibuk uyel-uyel pipi hanni karena gemes gak mau pisah. “kamu kali yang awas jangan kangen aku.”&#xA;&#xA;       “heh, udah! kamu tuh ya, sakit tau!” &#xA;&#xA;hanni hempas tangan asahi. kadang pacarnya kalo uyel-uyel suka pake tenaga dalam yang kayaknya dia sendiri gak sadar deh. hanni suka jadi sampai sebel. &#xA;&#xA;      “maaf, anisku. gak sengaja.”&#xA; &#xA;      “hmm. dah sana! katanya mau ke rektorat? telat tau rasa.”&#xA;&#xA;      “iya, iya. see you later hanni manisku!”&#xA;&#xA;tapi terus abis pamit ngomong gitu asahi malah ada sempetin buat secept kilat curi kecup di pipi hanni dulu.&#xA;&#xA;      “HEH, ASEP!” &#xA;&#xA;hanni negur bukan karena gak suka, tapi karena ini ruang terbuka. malu lah yang pastinya?! sedangkan asahi cuma ketawa dan langsung ngibrit pergi sebelum pacar manisnya itu ambil langkah buat ngejar dan biasanya bales mukul dia.&#xA;&#xA;oh, omong-omong soal asep. itu singkatan ya, dari aa kasep = kakak ganteng. panggilan khusus kesayangan dari hanni buat asahi, kapan-kapan dikasih tahu deh sejarahnya asahi sampai bisa dipanggil asep begitu.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;yours truly,&#xA;ann.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>// 800ish words, bahasa non-baku, college student!au, aged up characters, lowercase intended.</p>

<hr>

<p>pada salah satu sudut bagian di nusantara ini, ada satu kampus elit yang isinya cuma orang-orang terpilih yang bener-bener serius belajar buat menyongsong masa depan aja yang bisa masuk.</p>

<p>tapi selain isinya orang-orang yang serius belajar, ada juga yang serius sama si pacar. katanya sih, itu juga. doain aja emang iya.</p>

<p>     “nasi goreng lagi???”</p>

<p>itu yang barusan bertanya, namanya asahi. anak semester lima yang satu kampus hampir kenal sama dia soalnya mahasiswa aktif yang sampai bisa pegang jabatan ketua bem fakultas, tapi di dua ukm pun dia tetep gas jalanin dan aman-aman aja.</p>

<p>kadang kala ada yang sampai mikir kalau asahi ini sinting, karena lihat gimana managemen waktunya dia yang bisa seenggak waras itu. terus nih, lebih sintingnya adalah asahi ini di bidang akademik pun tetep bisa <em>balance.</em> dan, dia masih sempet-sempetnya buat punya pacar pula??? tuh, sinting banget kan???</p>

<p>      “iya, nasi goreng lagi. kenapa? mau protes?”</p>

<p>nah, yang barusan nyahut dengan agak sewot itu hanni, pacarnya asahi.</p>

<p>terus ini masalahnya (lagi), hanni bukan mahasiswa sembarangan juga. walau kegiatan kampus dia enggak sesibuk asahi, tapi hanni ini aktif di ukm radio yang emang digandrungi sama hampir semua kalangan warga kampus. rumornya sih, dia digadang-gadang jadi salah satu kandidat yang bakal naik jadi ketua ukm radionya tahun depan. terus soal akademik juga dia oke, berani diadu sih (katanya).</p>

<p>jadi, jelas banyak orang juga yang kenal siapa siapa hanni.</p>

<p>lalu status antara asahi dan hanni yang terikat hubungan pacaran pun makin bikin keduanya jadi punya poin tambahan lagi untuk makin dikenal warga kampus.</p>

<p>gak ada deh yang gak bisa tebak siapa pengirim asli surat anonim atas nama <em>asep</em> yang selalu hanni terima setiap kali dia siaran di hari kamis. isinya kalimat-kalimat manis yang klise berupa suntikan semangat yang ditujukan secara khusus buat sang dj.</p>

<p>gak ada juga yang gak tau siapa yang suka tiba-tiba kirim banyak makanan atas nama <em>si manis;</em> itu dikirim khusus buat asahi dan anggotanya setiap kali ada rapat organisasi yang habiskan waktu sampai tengah malem.</p>

<p>udah pokoknya gak ketolong, mereka berdua bucin dan gak ada yang bisa menandinginya.</p>

<p>     “gak ada yang mau protes, manis.” asahi simpan sebotol air mineral di hadapan hanni. tadi dia lihat kayak gak ada sesuatu yang bisa diminum di atas meja, makanya inisiatif buat beli. “aku cuma tanya.”</p>

<p>     “buat gue mana??!”</p>

<p>oh, gak cuma ada asahi sama hanni ternyata. karena sebenernya sejak awal emang hanni lagi ngantin berdua sama salah satu sahabatnya, danielle. lalu tiba-tiba datang lah asahi.</p>

<p>      “eh, <em>sorry.</em> lo gak kelihatan.”</p>

<p>      “sialan.”</p>

<p>emang duo bucin kalo udah ketemu, serasa dunia emang cuma milik berdua.</p>

<p>      “lo ambil aja sendiri, nanti gue yang bayar.”</p>

<p>      “oke!”</p>

<p>danielle pergi ambil air, terus asahi akhirnya balik fokus merhatiin pacar manisnya yang masih lahap (banget) makan nasi gorengnya.</p>

<p>      “pelan-pelan makannya.”</p>

<p>      “gak bisa, gak bisa, gak bisa! ini terlalu enak.”</p>

<p>      “sampe belepotan tuh nasinya di sudut bibir.”</p>

<p>      “masa iya?”</p>

<p>      “he’em,” jawab asahi sekenanya, karena ia langsung gerak pake aksi dengan singkirin sisa nasi belepotan itu pake ibu jarinya. “kayak bocah banget sih. dasar.”</p>

<p>padahal ini cuma nasi goreng biasa. buat asahi sih, gak ada spesial-spesialnya sama sekali. tapi emang dasarnya hanni aja yang udah kepalang suka, sampai cinta buta juga kayaknya.</p>

<p>lalu gak lama setelahnya, danielle ada balik lagi dengan disambut pemandangan dimana hanni ada menyuap sesendok nasi gorengnya ke mulut asahi.</p>

<p>      “ewwwww. kalo mau bucin tolong tau tempat.”</p>

<p>asahi sama hanni cuma ketawa tanpa dosa.</p>

<p>      “dah ah gue cabut ya,” pamit danielle yang emang ada janji buat kumpul sama anak ukm-nya dulu sebelum kelas sejam lagi. gak lupa dia angkat tangannya yang pegang satu kantong keresek berisi banyak botol minuman berbagai varian rasa. “makasih traktirannya, kak asahi! haha.”</p>

<p>      “ih, magadir!” maki hanni. “itu namanya pemerasan!”</p>

<p>asahi cuma ketawa santai, karena kalau sampai harus jajanin berdus-dus juga itu gak akan pernah jadi masalah buat dia. “sama-sama.”</p>

<p>terus danielle julurkan lidah, ngejek hanni. “wleeek. mampus pacar lo gue porotin. <em>bye.”</em></p>

<p>hanni udah siap mau ngejar tapi tangannya keburu ditahan asahi. “nasi gorengnya gak akan dihabisin? yakin?”</p>

<p>      “eh iya, nasi goreng <em>first.”</em></p>

<p>asahi ketawa. “kalo dibanding aku, <em>what comes first?”</em></p>

<p>      “tetep nasi goreng lah? <em>please know your limit ya,</em> asep.”</p>

<p>       “anjir.”</p>

<p>kemudian di lima belas menit menit selanjutnya, sesi makan siang sambil pacaran ala asahi dan hanni pun selesai. kini keduanya udah jalan beriringan keluar gedung fakultas. sampai di satu titik, mereka harus pisah jalan. asahi mau ke gedung rektorat, sedangkan hanni ke perpustakaan.</p>

<p>      “asep jangan kangen aku ya!”</p>

<p>      “idih ogah!” bilangnya sih gitu ya, tapi tangannya sekarang sibuk uyel-uyel pipi hanni karena gemes gak mau pisah. “kamu kali yang awas jangan kangen aku.”</p>

<p>       “heh, udah! kamu tuh ya, sakit tau!”</p>

<p>hanni hempas tangan asahi. kadang pacarnya kalo uyel-uyel suka pake tenaga dalam yang kayaknya dia sendiri gak sadar deh. hanni suka jadi sampai sebel.</p>

<p>      “maaf, anisku. gak sengaja.”</p>

<p>      “hmm. dah sana! katanya mau ke rektorat? telat tau rasa.”</p>

<p>      “iya, iya. <em>see you later</em> hanni manisku!”</p>

<p>tapi terus abis pamit ngomong gitu asahi malah ada sempetin buat secept kilat curi kecup di pipi hanni dulu.</p>

<p>      “HEH, ASEP!”</p>

<p>hanni negur bukan karena gak suka, tapi karena ini ruang terbuka. malu lah yang pastinya?! sedangkan asahi cuma ketawa dan langsung ngibrit pergi sebelum pacar manisnya itu ambil langkah buat ngejar dan biasanya bales mukul dia.</p>

<p>oh, omong-omong soal asep. itu singkatan ya, dari aa kasep = kakak ganteng. panggilan khusus kesayangan dari hanni buat asahi, kapan-kapan dikasih tahu deh sejarahnya asahi sampai bisa dipanggil asep begitu.</p>

<hr>

<p><em>yours truly,</em>
<em>ann.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://wordsmith.social/growandfly/asahi-kasep-dan-hanni-manis</guid>
      <pubDate>Sat, 10 Jun 2023 12:21:07 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Asa dan Ani — Episode 1</title>
      <link>https://wordsmith.social/growandfly/asa-dan-ani-episode-1</link>
      <description>&lt;![CDATA[Apa coba skenario buruk yang mungkin tercipta antara dua insan yang sudah sejak kecil menjalin hubungan pertemanan dengan begitu akrabnya? Ya, muncul perasaan sayang yang lebih dari sekadar sayang kepada teman.&#xA;&#xA;Skenario buruk satu, checked.&#xA;&#xA;Lalu, ada kah kemungkinan muncul skenario buruk lain yang menyertainya? Ada. Misalnya, kemungkinan kalau rasa sayang yang dipunya tidak berbalas dengan sama besarnya.&#xA;&#xA;Skenario buruk dua, checked.&#xA;&#xA;Selain itu, apakah ada lagi? Ya, it’s the Fear of losing—fear with capital F, Fear.&#xA;&#xA;Skenario buruk tiga, checked.&#xA;&#xA;Maka tiga hal yang telah ter-cheklist itu rasanya sudah lebih dari cukup bagi Asa untuk sama sekali tidak mengungkap perasaannya kepada siapa pun, terlebih pada sang pemeran utama, si teman sedari kecilnya—Ani.&#xA;&#xA;Asa bersumpah. Lebih baik dirinya sembunyikan segala perasaan terhadap Ani dengan konsekuensi menahan sakit selagi ia biarkan semua perasaan itu terkikis sampai habis, daripada ia harus kehilangan Ani yang di hampir seumur hidupnya sudah jadi bagian konstan dalam dirinya.&#xA;&#xA;Tapi dasarnya manusia, dirinya tentu hanya mampu berencana dan berusaha. Hasilnya? Tetap lah sang penulis garis takdir yang punya kuasa menentukan. Sebagaimana yang terjadi pada kasus Asa; dirinya ketahuan.&#xA;&#xA;Skenario buruk empat, checked.&#xA;&#xA;Fucking hell. Asa bahkan tidak punya nyali untuk membayangkan skenario selanjutnya akan jadi seburuk apa. Maka ia berusaha, kembali mencoba dengan seluruh tenaga yang ia punya untuk mempertahankan apa yang masih bisa ia selamatkan.&#xA;&#xA;“Maaf.” Entah ini sudah jadi kata penyesalan yang ke berapa kali, Asa tak punya waktu untuk menghitungnya. Terlebih ketika akhirnya ia pilih untuk menurut pada apa yang jadi keinginan Ani—memberikan penjelasan yang sejujur-jujurnya. “I’ll stop, kalau kamu ada ngerasa keberatan.”&#xA;&#xA;“Sebentar—“ Ani menegakkan tubuhnya. Seisi ruang kamar Asa adalah saksi bisu soal bagaimana si gadis akhirnya buka suara setelah sejak tadi hanya Asa saja yang mati-matian kasih penjelasan. “—jadi Kak Asa ini beneran suka sama aku? Sayang aku?”&#xA;&#xA;“Ya.”&#xA;&#xA;“Suka dan sayang, as in you like me more than a friend?”&#xA;&#xA;“Ya.”&#xA;&#xA;“Terus semua foto aku yang Kak Asa simpan di folder Dear Ani ini, gak lebihnya cuma Kak Asa yang pengen mengenang setiap momen bahagia yang kita habiskan bareng-bareng aja?”&#xA;&#xA;So, here it is; main problem of the day. Ada banyak cara mencintai, dan Asa memilih untuk mengabadikan setiap momen bahagia yang ia habiskan bersama Ani melalui jepretan lensa kamera. Lalu menyimpan setiap dari itu dalam satu folder terorganisir yang ia beri judul “Dear, Ani” dan ia kunci sehingga memungkinkan hanya ia yang dapat mengaksesnya. Maka, lagi dan lagi, Asa tidak punya pembelaan dan hanya mampu menberi jawaban, “Iya.”&#xA;&#xA;“Oh my God—“ sebut Ani tak percaya. “—why are you never show any signs or hints about it then? Kenapa kamu sikapnya malah kayak nunjukin hal yang sebaliknya.”&#xA;&#xA;“Iy—wait. What?!” Asa pikir, ia harus sudah persiapkan diri untuk menerima skenario terburuk nomor lima. Tapi, apa yang baru saja dia dengarkan? Kenapa Ani seperti terdengar sama sekali tidak keberatan? “Maksud kamu gimana?”&#xA;&#xA;“Kak Asa tau gak sih? I almost thought that you never like me, at all.”&#xA;&#xA;“Hah?” Asa tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. “Ya enggak lah?! Of course I like you. Why wouldn’t I?”&#xA;&#xA;“Because I’m annoying?” tebak Ani. “Kamu setiap hari panggil aku bocil, kayak di matamu aku ini anak kecil yang nakal. Setiap hari bikin sebel tapi kamu tetap punya tanggung jawab buat jagain dan gak ninggalin aku. So you don’t have any other choice but to stay.”&#xA;&#xA;“Enggak, Ani. Bukan kayak gitu.”&#xA;&#xA;“But you never said that you love me back,” jujur Ani yang akhirnya meluapkan satu hal yang paling membuat hatinya mengganjal. “I told you many times that I appreciate you and I love you. Tapi kamu gak pernah bales itu.”&#xA;&#xA;Butuh beberapa detik bagi Asa untuk mencerna sederetan kalimat Ani barusan. Lantas ada helaan nafas berat—sarat akan rasa tak percaya—begitu semua itu berhasil Asa pahami dengan baik.&#xA;&#xA;“Sini deh,” pinta Asa seraya ia menepuk ruang kosong di sampingnya, sebab sedari tadi mereka ada dalam posisi dimana Asa duduk di sisi ranjang dan Ani duduk di kursi meja belajarnya. “Duduk lebih deketan dulu, biar enak aku ngomongnya.”&#xA;&#xA;Dan Ani menurut tanpa protes barang sedikit pun. “Udah. Mau ngomong apa lagi emang?”&#xA;&#xA;“I’m sorry,” ungkap Asa tulus. Satu tangannya terangkat untuk usak gemas puncak kepala Ani. “Gak pernah punya maksud buat bikin kamu ngerasa begitu. Maaf ya.”&#xA;&#xA;“Terus maksudnya apa?”&#xA;&#xA;“Kan udah jelas jawabannya?”&#xA;&#xA;“Apa? Kamu suka aku?”&#xA;&#xA;“Iya.” Kali ini tangan Asa bergerak dua-duanya, untuk kemudian menangkup kedua sisi wajah Ani sehingga ia bisa dengan mudah mengarahkan paras manis si gadis untuk menghadap lurus ke arahnya. “Coba lihat sini.”&#xA;&#xA;“Hmmmm...”&#xA;&#xA;“Apa aku kelihatan kayak enggak suka dan sebel sama keberadaan kamu?”&#xA;&#xA;Bohong kalau Ani jawab iya, maka ia pilih untuk menggelengkan kepala.&#xA;&#xA;“Yaudah?” ucap Asa sambil tersenyum santai. “Lagian kan udah jelas..., how I feel about you....”&#xA;&#xA;Ani tersenyum. “Oke.”&#xA;&#xA;“Oke?” tanya Asa heran. Satu alisnya terangkat, dan sorot matanya pancarkan penasaran. “Just? Ok?”&#xA;&#xA;Ani melepas tangan Asa yang sejak tadi masih menangkup kedua sisinya, kemudian digenggamnya kedua tangan itu. “Iya, oke. Makasih udah sayang sama aku, Kak.”&#xA;&#xA;“Ah—ya. Sama-sama.” Sejujurnya Asa sama sekali tidak menduga hal ini, ia pikir Ani tidak akan bersikap sesantai ini. “Jadi, kamu gak marah? Gak keberatan?”&#xA;&#xA;“Of course no?????” jawab Ani. “Aku bakal lebih marah kalau Kak Asa terpaksa stay sama aku padahal aslinya gak sayang aku.”&#xA;&#xA;“Ah..., oke.” Ada lega yang membasuh damai seluruh ruang di dada. “So we’re good?”&#xA;&#xA;“We’re good,” angguk Ani. “Lagian sayangnya Kak Asa, gimana pun bentuknya, selama ini gak pernah bikin aku risih. So I don’t think it’s a bad thing?”&#xA;&#xA;“Thank you...”&#xA;&#xA;“But—“ Untuk pertama kalinya, Ani terlihat kebingungan sejak keduanya bertemu hari itu. “—you know I love you too, right? I like being around you. But I think—I think I don’t like you in a way that—“&#xA;&#xA;“—I know,” potong Asa cepat. Menghadapi situasi dimana cintanya tak berbalas adalah skenario terburuk nomor dua, dan Asa sudah sejak lama ikhlaskan itu semua. Jadi ini bukan masalah besar untuknya sekarang. Maka ia tidak perlu menunggu ani untuk selesaikan ucapannya, terlebih si gadis terlihat begitu kesulitan menyusun kalimatnya. Asa tidak suka lihat Ani berada dalam kesusahan. “And it’s ok. Aku enggak mau kamu malah jadi terbebani karena ini. Gak usah terlalu dipikirin, ya? Please?”&#xA;&#xA;“I’m sorry...”&#xA;&#xA;Lantas Asa secara refleks malah menarik Ani ke dalam peluknya. “Gak perlu, Ani. Gak ada hal yang salah yang sampai harus sama siapa pun kita maafkan kayaknya.”&#xA;&#xA;“Iya...” ucap Ani yang tidak tahu harus merespon apa lagi. Baginya ini terasa lucu, karena sekarang Ani seperti sedang terima penghiburan ketika posisinya Asa lah yang secara tak langsung telah terima penolakan. “Kak Asa...”&#xA;&#xA;“Hm?”&#xA;&#xA;Apa yang Ani ungkapkan selanjutnya adalah sungguhan keluar dari segala ketulusan yang ia punya. Ani berani bersumpah. “Makasih banyak ya...”&#xA;&#xA;“Enggak, Ani— geleng Asa kecil. Ani sudah mau menerima dan biarkan dirinya untuk tetap bertahan di sisi si gadis—tidak ada hal lain yang paling Asa inginkan sekarang selain ini. “—makasih banyak.”&#xA;&#xA;“Hmmm....” Tangan Ani melingkar di tubuh Asa untuk akhirnya membalas peluk si yang lebih tua. “Sama-sama.”&#xA;&#xA;Lantas keduanya tersenyum lega, dan hari ini dihabiskan dengan canda tawa sebagaimana mereka selalu habiskan hari-hari lain yang rasanya seperti tidak pernah berubah sejak keduanya masih sama-sama hanya dua orang anak kecil yang belum banyak tahu soal dunia.&#xA;&#xA;Skenario buruk lima, strached.&#xA;&#xA;Asa tidak kehilangan Aninya. Begitu pula dengan Ani, ia menerima Kak Asa dan segala bentuk kasih sayangnya.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;yours truly,&#xA;ann.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Apa coba skenario buruk yang mungkin tercipta antara dua insan yang sudah sejak kecil menjalin hubungan pertemanan dengan begitu akrabnya? Ya, muncul perasaan sayang yang lebih dari sekadar sayang kepada teman.</p>

<p>Skenario buruk satu, <em>checked.</em></p>

<p>Lalu, ada kah kemungkinan muncul skenario buruk lain yang menyertainya? Ada. Misalnya, kemungkinan kalau rasa sayang yang dipunya tidak berbalas dengan sama besarnya.</p>

<p>Skenario buruk dua, <em>checked.</em></p>

<p>Selain itu, apakah ada lagi? Ya, <em>it’s the Fear of losing—fear with capital F,</em> <strong><em>Fear.</em></strong></p>

<p>Skenario buruk tiga, <em>checked.</em></p>

<p>Maka tiga hal yang telah ter-<em>cheklist</em> itu rasanya sudah lebih dari cukup bagi Asa untuk sama sekali tidak mengungkap perasaannya kepada siapa pun, terlebih pada sang pemeran utama, si teman sedari kecilnya—<em>Ani.</em></p>

<p>Asa bersumpah. Lebih baik dirinya sembunyikan segala perasaan terhadap Ani dengan konsekuensi menahan sakit selagi ia biarkan semua perasaan itu terkikis sampai habis, daripada ia harus kehilangan Ani yang di hampir seumur hidupnya sudah jadi bagian konstan dalam dirinya.</p>

<p>Tapi dasarnya manusia, dirinya tentu hanya mampu berencana dan berusaha. Hasilnya? Tetap lah sang penulis garis takdir yang punya kuasa menentukan. Sebagaimana yang terjadi pada kasus Asa; dirinya ketahuan.</p>

<p>Skenario buruk empat, <em>checked.</em></p>

<p><em>Fucking hell.</em> Asa bahkan tidak punya nyali untuk membayangkan skenario selanjutnya akan jadi seburuk apa. Maka ia berusaha, kembali mencoba dengan seluruh tenaga yang ia punya untuk mempertahankan apa yang masih bisa ia selamatkan.</p>

<p>“Maaf.” Entah ini sudah jadi kata penyesalan yang ke berapa kali, Asa tak punya waktu untuk menghitungnya. Terlebih ketika akhirnya ia pilih untuk menurut pada apa yang jadi keinginan Ani—memberikan penjelasan yang sejujur-jujurnya. <em>“I’ll stop,</em> kalau kamu ada ngerasa keberatan.”</p>

<p>“Sebentar—“ Ani menegakkan tubuhnya. Seisi ruang kamar Asa adalah saksi bisu soal bagaimana si gadis akhirnya buka suara setelah sejak tadi hanya Asa saja yang mati-matian kasih penjelasan. “—jadi Kak Asa ini beneran suka sama aku? Sayang aku?”</p>

<p>“Ya.”</p>

<p>“Suka dan sayang, <em>as in you like me more than a friend?”</em></p>

<p>“Ya.”</p>

<p>“Terus semua foto aku yang Kak Asa simpan di folder <em>Dear Ani</em> ini, gak lebihnya cuma Kak Asa yang pengen mengenang setiap momen bahagia yang kita habiskan bareng-bareng aja?”</p>

<p><em>So, here it is;</em> <strong><em>main problem of the day.</em></strong> Ada banyak cara mencintai, dan Asa memilih untuk mengabadikan setiap momen bahagia yang ia habiskan bersama Ani melalui jepretan lensa kamera. Lalu menyimpan setiap dari itu dalam satu folder terorganisir yang ia beri judul <em>“Dear, Ani”</em> dan ia kunci sehingga memungkinkan hanya ia yang dapat mengaksesnya. Maka, lagi dan lagi, Asa tidak punya pembelaan dan hanya mampu menberi jawaban, “Iya.”</p>

<p><em>“Oh my God—“</em> sebut Ani tak percaya. <em>“—why are you never show any signs or hints about it then?</em> Kenapa kamu sikapnya malah kayak nunjukin hal yang sebaliknya.”</p>

<p>“Iy—<em>wait. What?!”</em> Asa pikir, ia harus sudah persiapkan diri untuk menerima skenario terburuk nomor lima. Tapi, apa yang baru saja dia dengarkan? Kenapa Ani seperti terdengar sama sekali tidak keberatan? “Maksud kamu gimana?”</p>

<p>“Kak Asa tau gak sih? <em>I almost thought that you never like me, at all.”</em></p>

<p>“Hah?” Asa tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. “Ya enggak lah?! <em>Of course I like you. Why wouldn’t I?”</em></p>

<p><em>“Because I’m annoying?”</em> tebak Ani. “Kamu setiap hari panggil aku bocil, kayak di matamu aku ini anak kecil yang nakal. Setiap hari bikin sebel tapi kamu tetap punya tanggung jawab buat jagain dan gak ninggalin aku. <em>So you don’t have any other choice but to stay.”</em></p>

<p>“Enggak, Ani. Bukan kayak gitu.”</p>

<p><em>“But you never said that you love me back,”</em> jujur Ani yang akhirnya meluapkan satu hal yang paling membuat hatinya mengganjal. <em>“I told you many times that I appreciate you and I love you.</em> Tapi kamu gak pernah bales itu.”</p>

<p>Butuh beberapa detik bagi Asa untuk mencerna sederetan kalimat Ani barusan. Lantas ada helaan nafas berat—sarat akan rasa tak percaya—begitu semua itu berhasil Asa pahami dengan baik.</p>

<p>“Sini deh,” pinta Asa seraya ia menepuk ruang kosong di sampingnya, sebab sedari tadi mereka ada dalam posisi dimana Asa duduk di sisi ranjang dan Ani duduk di kursi meja belajarnya. “Duduk lebih deketan dulu, biar enak aku ngomongnya.”</p>

<p>Dan Ani menurut tanpa protes barang sedikit pun. “Udah. Mau ngomong apa lagi emang?”</p>

<p><em>“I’m sorry,”</em> ungkap Asa tulus. Satu tangannya terangkat untuk usak gemas puncak kepala Ani. “Gak pernah punya maksud buat bikin kamu ngerasa begitu. Maaf ya.”</p>

<p>“Terus maksudnya apa?”</p>

<p>“Kan udah jelas jawabannya?”</p>

<p>“Apa? Kamu suka aku?”</p>

<p>“Iya.” Kali ini tangan Asa bergerak dua-duanya, untuk kemudian menangkup kedua sisi wajah Ani sehingga ia bisa dengan mudah mengarahkan paras manis si gadis untuk menghadap lurus ke arahnya. “Coba lihat sini.”</p>

<p>“Hmmmm...”</p>

<p>“Apa aku kelihatan kayak enggak suka dan sebel sama keberadaan kamu?”</p>

<p>Bohong kalau Ani jawab iya, maka ia pilih untuk menggelengkan kepala.</p>

<p>“Yaudah?” ucap Asa sambil tersenyum santai. “Lagian kan udah jelas..., <em>how I feel about you....”</em></p>

<p>Ani tersenyum. “Oke.”</p>

<p>“Oke?” tanya Asa heran. Satu alisnya terangkat, dan sorot matanya pancarkan penasaran. <em>“Just? Ok?”</em></p>

<p>Ani melepas tangan Asa yang sejak tadi masih menangkup kedua sisinya, kemudian digenggamnya kedua tangan itu. “Iya, oke. Makasih udah sayang sama aku, Kak.”</p>

<p>“Ah—ya. Sama-sama.” Sejujurnya Asa sama sekali tidak menduga hal ini, ia pikir Ani tidak akan bersikap sesantai ini. “Jadi, kamu gak marah? Gak keberatan?”</p>

<p><em>“Of course no?????”</em> jawab Ani. “Aku bakal lebih marah kalau Kak Asa terpaksa stay sama aku padahal aslinya gak sayang aku.”</p>

<p>“Ah..., oke.” Ada lega yang membasuh damai seluruh ruang di dada. <em>“So we’re good?”</em></p>

<p><em>“We’re good,”</em> angguk Ani. “Lagian sayangnya Kak Asa, gimana pun bentuknya, selama ini gak pernah bikin aku risih. <em>So I don’t think it’s a bad thing?”</em></p>

<p><em>“Thank you...”</em></p>

<p><em>“But—“</em> Untuk pertama kalinya, Ani terlihat kebingungan sejak keduanya bertemu hari itu. <em>“—you know I love you too, right? I like being around you. But I think—I think I don’t like you in a way that—“</em></p>

<p><em>“—I know,”</em> potong Asa cepat. Menghadapi situasi dimana cintanya tak berbalas adalah skenario terburuk nomor dua, dan Asa sudah sejak lama ikhlaskan itu semua. Jadi ini bukan masalah besar untuknya sekarang. Maka ia tidak perlu menunggu ani untuk selesaikan ucapannya, terlebih si gadis terlihat begitu kesulitan menyusun kalimatnya. Asa tidak suka lihat Ani berada dalam kesusahan. <em>“And it’s ok.</em> Aku enggak mau kamu malah jadi terbebani karena ini. Gak usah terlalu dipikirin, ya? <em>Please?”</em></p>

<p><em>“I’m sorry...”</em></p>

<p>Lantas Asa secara refleks malah menarik Ani ke dalam peluknya. “Gak perlu, Ani. Gak ada hal yang salah yang sampai harus sama siapa pun kita maafkan kayaknya.”</p>

<p>“Iya...” ucap Ani yang tidak tahu harus merespon apa lagi. Baginya ini terasa lucu, karena sekarang Ani seperti sedang terima penghiburan ketika posisinya Asa lah yang secara tak langsung telah terima penolakan. “Kak Asa...”</p>

<p>“Hm?”</p>

<p>Apa yang Ani ungkapkan selanjutnya adalah sungguhan keluar dari segala ketulusan yang ia punya. Ani berani bersumpah. “Makasih banyak ya...”</p>

<p>“Enggak, Ani— geleng Asa kecil. Ani sudah mau menerima dan biarkan dirinya untuk tetap bertahan di sisi si gadis—tidak ada hal lain yang paling Asa inginkan sekarang selain ini. <em>“—makasih banyak.”</em></p>

<p>“Hmmm....” Tangan Ani melingkar di tubuh Asa untuk akhirnya membalas peluk si yang lebih tua. “Sama-sama.”</p>

<p>Lantas keduanya tersenyum lega, dan hari ini dihabiskan dengan canda tawa sebagaimana mereka selalu habiskan hari-hari lain yang rasanya seperti tidak pernah berubah sejak keduanya masih sama-sama hanya dua orang anak kecil yang belum banyak tahu soal dunia.</p>

<p>Skenario buruk lima, <em>strached.</em></p>

<p>Asa tidak kehilangan Ani<em>nya.</em> Begitu pula dengan Ani, ia menerima Kak Asa dan segala bentuk kasih sayangnya.</p>

<hr>

<p><em>yours truly,</em>
<em>ann.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://wordsmith.social/growandfly/asa-dan-ani-episode-1</guid>
      <pubDate>Sun, 28 May 2023 03:17:38 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>