Kiss it Better (or is it?)

tw/cw: nsfw. implied sexual content.


Seonghyeon? Dia enggak bisa bersanding dengan rasa kesepian. Setidaknya, begitu lah yang Keonho pikirkan. Kadang kala rasanya seperti sebuah anomali; sosoknya terlihat tenang dan pancarkan kenyaman, tapi justru itu lah yang membuatnya jadi riuh.

Sejauh apa yang Keonho bisa amati, kemana pun Seonghyeon langkahkan kakinya maka akan selalu ada ramai di sana. Pun tidak peduli di mana Seonghyeon berada, presensinya senantiasa bagai magnet yang menarik banyak orang di sekitarnya untuk nyaman mendekat.

Hal yang selanjutnya menjadi alami bagi Seonghyeon adalah dirinya jadi melebur; ikut masuk dalam perangkap ekspektasi orang terhadapnya sampai ia sibuk sendiri untuk memenuhi semuanya dan akhirnya justru jadi lupa pada apa yang sebenarnya dia inginkan.

Lupa pada apa yang sebenarnya hatinya butuhkan.

Maka seiring dengan waktu yang berjalan, Seonghyeon mendapati dirinya merasa berhenti pada satu titik kekosongan. Sebuah hampa yang mendorong muncul sebuah obligasi untuk diisi. Caranya? Berkelana tanpa henti; dari satu tempat ke tempat lain, pada tiap hati dari tiap orang yang coba mendekati.

Seonghyeon berkelana, sejauh yang ia bisa.

Seonghyeon berkelana, pada siapa saja kecuali pada sosok yang kini ada di hadapannya dan tengah menahan semua beban tubuh Seonghyeon di pangkuannya.

“How I wish, I am someone’s favorite.”

Seonghyeon berbicara lemah, sebagaimana dirinya yang memang sedang berada di titik terlemah. Tubuhnya kini terkulai lemas dalam peluk Keonho yang selalu menerima bagaimana pun kondisi dirinya. Dahinya bersandar di bahu yang kekar, deru nafasnya patah-patah, kakinya bergetar hebat seiring dengan lelehan cairan yang basahi pahanya bahkan sampai ke tubuh sosok di hadapannya itu, pun seluruh tenaga terkuras habis hanya baru dengan sentuhan jari.

Dan bukan tanpa alasan kenapa Seonghyeon bisa sampai berujar begitu, pun berakhir dalam dekap Keonho begini. Faktanya adalah kisah cinta Seonghyeon baru saja kandas untuk kesekian kali, yang pada kali ini harus terjadi karena sebuah kebohongan fatal yang dilakukan sang kekasih (well, sekarang sudah jadi mantan sih). Seonghyeon jadi harus kembali ke titik nol; kehilangan semua rasanya sekaligus harus menerima nyeri dari kehampaan di hatinya lagi.

Sementara di sisi lain, Keonho rasanya ingin langsung balas dengan lantang, “You are my favorite, Seonghyeon. You will always be my favorite.”

Tapi tidak, Keonho pikir saat ini bukan momennya. Saat ini, bukannya saat yang tepat untuk jadi soal tentang dirinya, ini harusnya jadi seluruh waktu yang didedikasikan hanya untuk Seonghyeon.

Cuma Seonghyeon.

Lantas dibanding suarakan apa yang ingin kepalanya ucapkan, Keonho memilih untuk balas bertanya, “Feeling better, hm?”

Sejujurnya, jawabannya adalah iya.

Seonghyeon sudah ditelanjangi, dan Keonho sudah jamah seluruh bagian tubuhnya tanpa kecuali.

Seonghyeon sudah sempat dibuat lupa akan dirinya dan segala nyeri dari kehampaannya sebab Keonho sudah berikan apa yang orang biasa sebut sebagai surga dunia, lewat semua sentuhannya.

Jadi jawabannya adalah iya; Seonghyeon merasa lebih baik. He feels so, so, so fucking good.

Tapi itu saja rasanya seperti belum cukup, dan Seonghyeon sedang ingin jadi serakah. Sebab siapa pula yang akan tetap merasa baik-baik saja, setelah sayangmu ternyata ditipu? Setelah percayamu disia-siakan seolah tak ada artinya begitu?

Seonghyeon masih patah hati maka ia jelas masih butuh penawar dalam bentuk afeksi, dan Keonho adalah satu-satunya yang akan selalu siap beri penawar itu tanpa peduli pada konsekuensi.

Selalu.

“Jawab, Sayang.”

Sayang.

Di setiap aktivitas seksual mereka, Keonho kadang memang biasa memanggilnya begitu; sayang. Seonghyeon juga tidak tahu ada sihir macam apa di balik satu kata yang sangat biasa itu.

(Bagi Seonghyeon, ini tidak begitu ada maknanya. Terlalu sering disuarakan orang, terlalu sering ia dengar.)

Tapi anehnya tiap kali Keonho yang bilang, rasanya seperti Seonghyeon benar-benar disayang.

Makanya sekarang ini rasanya wajah Seonghyeong jadi memanas dan itu membuat rona merah mulai menjalar ke hampir semua bagiannya, sehingga yang bisa ia sampaikan sebagai responnya hanya sebatas pada gelengan lemah yang bisa Keonho rasakan di ceruk lehernya—sebab wajah si cantik sedari tadi memang bersembunyi di sana.

Keonho tahu, makna dari jawaban Seonghyeon. Tentu Keonho mengerti itu. Lantas lengannya yang semula rengkuh pinggang Seonghyeon dengan protektif itu, kini bergerak naik; jarinya bermain-main dia atas punggung mulus yang telanjang, bentuk sebuah pola acak sensual yang memprovokasi hingga sukses buat sesuatu dalam diri Seonghyeon untuk bangkit kembali. Badannya mulai menggeliat, masih terlalu sensitif untuk terima sentuhan seperti itu, pun tanpa sadar bibirnya jadi ikut keluarkan suara yang seharusnya ia tahan hanya dalam fantasinya saja.

Tubuh Seonghyeon bereaksi, dan Keonho bersorak dalam hati.

Lantas dilepaskanlah pelukan tubuh Seonghyeon, dengan posisi yang sebenarnya tak banyak berubah; Seonghyeon masih di pangkuannya, dan hanya jarak di antara wajah mereka tinggal sisa napas.

“Ngomong yang bener.” Kini ibu jari Keonho usap bibir ranum si manis yang begitu merah, mengkilap dan bengkak. Karena tentu saja, bagian itu sudah diporak-porandakan oleh Keonho sendiri tadi. Usapannya itu kini semakin melambat, seolah memberi waktu pada tiap saraf untuk sadar bahwa ia tengah sengaja disentuh. “Bisa ngomong gak?”

Suara Keonho makin terdengar menuntut. Tapi alih-alih buat takut, Seonghyeon justru sengaja untuk jadi enggan bicara dan malah membuka mulutnya—seolah memang sengaja mengundang sesuatu untuk masuk ke sana.

“Kotor.” Keonho sengaja lecehkan si manis di hadapannya. Sebab keduanya jelas tahu, humiliasi seperti itu justru jadi trigger yang sanggup bakar adrenalin Seonghyeon sampai ke puncaknya. Lantas ia tarik bilah bibir bawah Seonghyeon secara sengaja. “Mikirin apa sih? Gue suruh lo buat ngomong padahal.”

Tapi Seonghyeon mana bisa balas kasih jawaban? Ketika yang dilakukan Keonho selanjutnnya malah lesakkan ibu jarinya ke dalam mulut Seonghyeon.

“Ngomong, Sayang.” Kontradiktif titah Keonho yang bicara penuh penekanan, seiring dengan ibu jarinya yang makin melesak masuk; rasakan sensasi empuk dan lembut, serta basah yang tanpa sadar buatnya jadi mulai ikut merasa gila. “Lo punya mulut, kalo gak dipake buat ngomong ya buat apa lagi coba?”

Maka yang jadi jawaban Seonghyeon adalah mulutnya ia pakai untuk langsung hisap ibu jari Keonho di sana, diiringi dengan mata setengah sayunya yang enggan lepas untuk balas pandangi tatapan tajam dari si yang lebih tua. Dan tindakan itu, tentu sukses terbitkan seringai puas di wajah Keonho.

“Beneran kotor ya.” Sekali lagi, kontradiksi antara ucapan dan perilakunya; sebelah tangan Keonho kini mengusap wajah Seonghyeon, coba singkirkan anak rambut di dahi yang bisa halangi indahnya paras si cantik, lalu turun ke bawah untuk usap lembut pipi yang jadi mencekung akibat kegiatan menghisapnya. “Kotor banget sampe bisa bikin gue mikir buat masukin sesuatu yang lain ke mulut lo ini.”

Seonghyeon seketika pening. Kalimat Keonho barusan masuk dan membayangi dalam kepalanya, buat hisapan pada jari di mulutnya jadi makin kuat. Sesekali gumamkan nama Keonho dengan suara yang sama sekali tidak koheren, dan buat si empunya jadi makin mendorong masuk ibu jarinya dengan kasar sampai Seonghyeon tersedak dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata.

Lalu tak lama setelahnya, Keonho akhirnya tarik ibu jarinya yang kemudian basahnya dari liur Seonghyeon di sana lantas dilumurkan di atas bibir si empunya.

Kacau.

Nafas Seonghyeon berderu, dengan wajah memerah dan mata yang sayu. Belum lagi kini Keonho baru sadar dan lihat dengan jelas, betapa tubuh si cantik yang awalnya polos itu kini telah penuh dengan ruam merah bekas ia gigit di sana-sini; di leher, di bahu, di dada, di hampir semuanya.

Sekali lagi. Seonghyeon kacau, dan cuma Keonho yang sanggup jadi penyebab dari semua kacau itu.

Keonho lantas mendekat maju, untuk cium sudut bibir Seonghyeon yang basah. Lalu lumat seluruhnya sampai semua bagiannya jadi bersih mengkilat. Tapi Seonghyeon tak lantas bisa diam dan menerima begitu saja, sehingga ia balas melumat hingga buat keduanya saling mencium.

Panas dan berantakan.

Buat Seonghyeon jadi tak sadar kembali gesekkan diri di paha yang lebih tua—sampai ada becek di bawah sana, dan Keonho yang dengan kurang ajarnya langsung mencengkram pinggang Seonghyeon begitu ia sadar—hentikan pegerakan si yang lebih muda.

“Mmh—Keonho...” Seonghyeon lepas ciumannya dan langsung suarakan erangan frustasi, matanya balik jadi berair lagi. “Please—!”

“Ngomong, Seonghyeon,” pinta Keonho dengan tegas. Dia tidak akan lanjutkan, kalau Seonghyeon tidak benar-benar suarakan apa yang diinginkan. “So, say it. Then I’ll do it.”

“Kiss me. Touch me—” Seonghyeon merengek. Ia cuma bisa suarakan apapun itu yang lewat di kepalanya, sudah tidak sanggup suarakan satu kalimat penuh. Sebab makin lama, isi kepalanya malah jadi cuma diisi Keonho, Keonho, Keonho, dan Keonho saja. “—Fill me. Makes me forget.”

Sedangkan Keonho sendiri, tentu tidak banyak buang waktu untuk wujudkan apa yang Seonghyeon mau. “Sure. I’m going to fill you up, so you remember who fucks you so good.”

Seonghyeon bilang, buat dia lupa. Tapi yang Keonho mau Seonghyeon untuk ingat, and Seonghyeon will gladly do so. Meski yang selanjutnya sanggup ia ingat hanya dirinya yang cuma bisa suarakan desah dan kalimat-kalimat tak koheran ketika yang Keonho lakukan disepanjang waktunya adalah memuja dambil mengukung Seonghyeon di bawahnya, dengan suarakan ‘cantik’, ‘indah,’ dan kalimat pujian lainnya tanpa henti pada tiap inci dari bagian tubuhnya, dan mencium tiap bagian yang belum sempat diberi dijamah cumbunya.

Begitu seterusnya, yang memenuhi pikiran keduanya cuma untuk puaskan satu sama lainnya, dengan nafsu yang terus mengudara dalam seisi ruangan hingga terus hanyutkan dua jiwa itu sampai pagi menjelang tiba.