Tw // bullying

Pagi ini, Ziella duduk di kursi belajarnya dengan sekotak susu coklat, obat pencahar sirup dan satu buah jarum suntik yang entah dia beli dari mana.

Ziella memasukkan obat pencahar tersebut ke dalam jarum suntik dan memindahkannya ke kotak susu itu. Memeriksa kembali supaya bekas tusukan pada jarum tadi benar-benar tak terlihat.

“Selesai!”

Elga tersenyum puas, dan tak sabar dengan rencananya hari ini.


“Kalo tuh cewek udah minum susunya, pasti dia bakal ngechat gue, jadi lo bertiga siap-siap aja,” Zie mengirim pesan singkat yang ditujukan kepada tiga temannya.

Sebelumnya, ia sempat mengajak Ismi juga Nurul ke dalam rencana gila itu. sayang, mereka berdua menolak bahkan menasehati Ziell.

Bukan Ziella namanya kalau ia menyerah begitu saja, ia tahu siapa-siapa yang bisa diajak kerjasama. Kak Hana anak kelas 12 AP 1, Kak Bunga 12 AP 1, dan terakhir Fani 11 AK 2. Alasan mereka sebenarnya beragam. Hana sama seperti Ziella, jika Ziella membenci Elga karena gadis itu dekat dengan Kak Mahesa.

Lain hal nya dengan Hana yang tak suka karena Elga dekat dengan Hakam. Bunga hanya ikut-ikutan karena Hana. Sementara Fani, tidak ada urusannya dengan percintaan, hanya saja ia tidak suka tanpa alasan. Ziella tidak peduli, yang terpenting dia tidak sendiri.

“Kita cuma ngasih pelajaran aja, bukan ngebully, jadi lo bertiga nggak usah takut deh, lagian kita cuma mau ngurung dia di kamar mandi, udah gitu doang.” Ziella mencoba meyakinkan.

Jam istirahat pertama tiba, Elga mengeluarkan kotak susu coklat dari laci di bawah meja, kemudian meminumnya sebelum ia pergi ke kantin. Semua berjalan seperti biasa. Bahkan setelah bel masuk pun semua masih sama.

Pelajaran demi pelajaran dilewati. Elga merasa semakin lama perutnya semakin sakit, mau tidak mau ia harus izin untuk pergi ke kamar mandi.

Sekali, dua kali, hingga beberapa kali. “Udah mulai bekerja kayaknya,” batin Elga, sembari menahan tawa.

“Bikin Elga mules, mission completed.”


“Lo tadi abis makan apa sih sampe kayak gini?” tanya Melisa khawatir

“Gua tadi cuma makan mie rebus doang, itu juga nggak pedes kok.”

“Apa lagi?”

“Gorengan, es teh sama susu coklat dari Zie.”

Mendengar itu, Melisa langsung membulatkan matanya.

“NAH ITU! SUSU COKLAT ITU! GUA YAKIN PASTI UDAH DIAPA-APAIN SAMA TUH ANAK.”

Bel pulang sudah berbunyi sejak tadi. Elga juga Melisa tengah merapikan buku-bukunya. Namun teriakan Melisa mengalihkan beberapa anak yang masih di sana, salah satunya Nurul.

“Lo kenapa, El? Sakit? Gue liat tadi lo bolak-balik ke toilet.”

“ZIELLA, RUL. TUH ANAK NGASIH SUSU YANG NGGAK TAU DEH UDAH DI CAMPUR APA SAMPE BIKIN ELGA KAYAK GINI.”

“Lagian lo napa sih masih berhubungan sama Zie? Sebenarnya semalem gua dimasukin gdm sama dia. Lo baca sendiri aja deh—” Nurul menyerahkan ponselnya kepada Melisa dan Elga. Elga tidak bisa menahan amarahnya kala ia membaca isi pesan yang Nurul tunjukkan.

Ia benar-benar tidak menyangka, Zie bisa melakukan itu dan membuat persahabatan mereka hancur sehancur-hancurnya.

“KURANG AJAR! INI NGGAK BISA DIBIARIN, GUA MAU HAJAR DIA SEKARANG.” Melisa sama emosinya

“Thanks ya Rul udah mau ngasih tau gua.” Elga mengembalikan ponsel yang ada di tangannya

“Lo tenang, Mel.”

“Gua emosi, El.”

“Iya tau, tapi biarin gua yang ngomong sama dia, gua nggak mau masalah ini malah ngelebar kemana-mana, takutnya lo juga yang kena imbasnya.”

Melisa mengerti, ia memang sama marahnya dengan Elga, tapi juga ia paham apa yang Elga ucapkan barusan. Pada dasarnya permasalahan mereka cukup sederhana, kedua orang yang pernah menyandang status sahabat mencintai satu orang sama. Bedanya, yang satu terlalu memaksa dengan sesuatu yang tidak bisa ia dapat.

“Yaudah, gua balik. Kalo ada apa-apa langsung kabarin gua!” jelas Melisa

Keduanya berpisah, Melisa pergi ke arah gerbang, sementara Elga pergi ke kelas 12 AP 1 yang letaknya jauh di belakang.

Dengan memegang perutnya, Elga berjalan ke kelas yang dimaksud untuk bertemu Ziella. Namun, belum sampai pada tujuannya, lagi—Elga harus pergi ke toilet terdekat yang ada di sana.

“Buruan! Itu anaknya ke toilet!” perintah Ziella ketika melihat Elga dari jendela kelas

“Sekarang?”

“YA MASA TAHUN DEPAN.”

Hana, Bunga dan Fani berjalan dibelakang Elga. Elga sedikitpun tidak menaruh curiga pada mereka. Yang ia pikirkan hanya sakit di perutnya segera menghilang.

Setelah pintu bilik yang Elga masuki tertutup, Fani meraih sapu yang tergeletak di pojokan, menyilangkan sapu tersebut pada gagang pintu. Awalnya Elga masih biasa, tidak menanggapi suara gaduh di luar sana. Namun ia panik ketika gagang pintu kamar mandinya bergerak seakan ada yang memainkan dari luar.

“Udah oke, nggak akan bisa dibuka,” ucap seseorang

“Yuk cabut!” sahut yang lain

“Bentar! Gua mau ngasih hadiah, nggak seru cuma kayak gini.”

byurrr

“WOY! SIAPA SIH YANG NYIRAM GUA!” “GUA LAGI BERAK YA ANJIR!”

“Itu pelajaran dari gua untuk cewek ganjen kayak lo.”

“WOY!” “GUA SALAH APA SAMA KALIAN”

Elga segera menyelesaikan urusannya di dalam sana. Menahan dingin karena seragamnya yang basah. Tak sampai di sana, pintu kamar mandi yang tidak bisa dibuka membuat gadis itu panik bahkan hampir menangis.

Untungnya, ia membawa ponselnya yang dimasukan ke dalam tas. Setidaknya dia masih bisa meminta bantuan, dan tidak akan terkurung semalaman di tolet ini.

“Semoga kak Kak Hakam atau Rafka masih di sekolah.”


“Gua udah di rumah, kenapa? Gua telponin dari tadi nggak diangkat.”

“Sorry kak, hpnya gua silent. Gua kekunci di kamar mandi, Kak!” “Gua nggak tau di sekolah masih ada orang atau enggak.”

“TUNGGU GUA!”

***