first date

Sudah 15 menit Hakam mengendarai Angel, motor matic hitam kesayangannya menerobos kemacetan ibu kota dengan Elga yang duduk di belakang Hakam, melingkarkan tangannya di pinggang pria itu.

“Gua bukan ojek, El. Pegangannya yang bener,” ucap Hakam saat mendapati Elga menarik ujung pakaiannya.

Hakam kemudian membawa kedua tangan Elga ke depan, membuat gadis itu memeluk pria itu seperti sekarang.

Ia mencoba menenangkan dirinya, begitupun pria di depan sana. Katakanlah keduanya memang sering pergi bersama, namun status sebagai pasangan kekasih membuat hari ini benar-benar berbeda.


Keduanya tiba di tempat yang dituju, sebuah tempat ramai dengan lampion yang menggantung di sepanjang jalan. Kedai makanan yang berjejer, juga musisi jalanan turut meramaikan tempat itu.

“Lo lagi pengen makan apa gitu nggak, El?”

“Apa ya kak? Bingung, banyak banget pilihannya.”

“Kita liat-liat aja dulu kali, ya! Nanti kalau ada yang lo suka baru kita beli.”

Elga setuju. Keduanya kini berjalan berdampingan, melihat satu persatu kedai yang mereka lewati.

Setelah cukup lama, keduanya memutuskan untuk membeli takoyaki, ceker pedas, corndog, serta beberapa makanan ringan lainnya, tak lupa juga minuman dengan rasa lemon tea untuk Hakam dan coklat untuk Elga.

“Banyak bangeeet, kak!” Elga sedikit terkejut setelah melihat pesanan mereka cukup banyak tertata diatas meja

Hakam hanya tertawa. “Nggak apa-apa biar lo makin gemuk,” ledek Hakam.

Percakapan keduanya mengalir begitu saja, membahas tentang kelas tiga yang sudah mulai mempersiapkan try out hingga tentang apa yang dilakukan Rafka di rumah Elga tadi.

“Mereka pada mintain peje.”

“Kasih aqua gelas aja, kak.”


Setelah perut mereka terisi, menyisakan beberapa makanan yang mereka putuskan untuk membawanya pulang. Tujuan selanjutnya adalah jembatan yang akhir-akhir ini cukup terkenal di kalangan remaja.

Lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat mereka sekarang, sehingga keduanya memutuskan untuk berjalan kaki.

“Mbak-mbak, tali sepatunya lepas itu,” ucap seseorang pada Elga.

Menyadari itu, Elga hendak berjongkok membenarkan tali sepatunya, namun Hakam lebih cepat sehingga pemuda itu kini sudah berlutut lebih dulu di depan Elga.

“Untung aja nggak keinjek.”

Hakam menali sepatu gadis itu berbentuk pita, hanya hal kecil yang Hakam lakukan, tapi entah kenapa membuat gadis itu merasa tersentuh.

“Udah!” Hakam mengangkat kepalanya, menatap Elga yang juga sedang menatapnya

Tak ada jawaban. Hakam bangkit dari berlututnya

“Udah, El!” lagi, Hakam mengacak pucuk rambut Elga, membuat gadis itu tersadar dari lamunannya.

“Makasih.” Elga mengalihkan pandangannya ke arah lain

“Udah jadi pacar masa masih malu aja!”

“Diem!” Sesampainya di tempat yang dimaksud, Elga juga Hakam mengambil beberapa foto, mulai dari foto masing-masing hingga foto bersama. Foto bersama pertama yang mereka punya.

“Lo percaya bintang jatuh nggak kak?” tanya Elga, meremat pinggiran besi pembatas, menatap langit yang terbentang diatas sana

“Yang katanya kalau kita buat permohonan bakal terkabul?”

“Iya! Percaya nggak?”

“Nggak, kayak anak kecil percaya gituan.”

“Katanya nih ya kak, orang yang sudah meninggal dia bakal jadi salah satu bintang di atas sana. Nah bintang jatuh itu tanda mereka lagi turun ke bumi. Kalo kita buat permohonan pas mereka turun, nanti permohonan kita dibawa naik untuk disampein langsung ke Tuhan saat mereka kembali ke atas.”

“Siapa yang udah nyeritain omong kosong itu ke lo, El?”

“Almarhumah nyokap gua.”

“Lo percaya?”

“KAK! BINTANG JATUH!” Elga segera menyatukan kedua tangannya, menutup mata dan membuat sebuah permohonan.

Hakam? Sama! Meski ia berkata tidak mempercayai omong kosong dan teori tentang bintang jatuh yang Elga jelaskan tadi, namun ketika gadis itu berteriak tentang bintang jatuh, Hakam memejamkan matanya sejenak, dan membukanya sebelum gadis itu membuka matanya.

“Gua berharap, semoga Kak Hakam bisa ujian dengan lancar, lulus, kemudian keterima di kampus yang dia mau. Semoga gua sama kak Hakam bisa bareng-bareng terus, saling menyayangi dan bahagia kayak sekarang, aamiin.”

“Gua harap, kebersamaan ini nggak akan pernah berakhir.”

Elga membuka matanya perlahan

“Apa yang lo minta?”

“Ra-ha-sia.”

Wlek

Elga menjulurkan lidahnya, membuat Hakam gemas dengan gadis itu.

“Jangan gemes-gemes kalo di tempat rame, El. Nanti mereka jatuh cinta sama lo, guanya yang repot.”


“Makasih ya kak udah dianter pulang.” Hakam membantu Elga melepaskan helm yang masih terpasang pada gadis itu.

“Sama-sama. Suka nggak tadi?”

Elga mengangguk cepet, “suka banget, kenyang, terus liat jalanan Jakarta dari atas ternyata bagus juga.”

“Syukurlah kalo lo suka. Yaudah sana masuk, istirahat.”

“Nanti, mau liat kakak pergi.”

“Loh? Lo duluan aja! Gua mau mastiin lo masuk ke rumah dengan selamat.” Elga menekuk wajahnya,

“Masih pengen ketemu,” ucap Elga lirih

Hakam menarik tubuh elga, dan membawanya ke dalam pelukan, “besok ketemu lagi, sekarang masuk ya!” pinta Hakam, mengusap rambut panjang Elga.

Meski enggan, Elga menuruti permintaan Hakam. Mau bagaimana lagi, langit semakin gelap, Elga juga khawatir kalau kekasihnya itu pulang terlalu larut.

“Besok kita ketemu di sekolah, besoknya lagi kita ketemu lagi, besok besoknya lagi kita masih bisa ketemu lagi. Jadi nggak usah sedih.”

Hakam melepaskan pelukannya, meletakan kedua tangannya pada pipi Elga. Elga hanya diam, mengedipkan matanya beberapa kali. Saat Hakam mencondongkan tubuhnya, dengan reflek tangan Elga menutup bibirnya sendiri, seakan membuat barikade penghalang agar tidak ada yang menembus pertahanannya.

Hakam tersenyum gemas melihat tingkah Elga barusan.

Cup

Satu kecupan mendarat di punggung telapak tangan yang Elga gunakan untuk menutupi bibirnya.

“Tadinya gua mau nyium kening lo, tapi gua berubah pikiran,” ucap Hakam

“Sekarang masuk gih, udah malem.”

Elga masuk ke dalam rumahnya tanpa berkata sepatah katapun. Menahan jantungnya agar tidak melompat karena detaknya yang begitu cepat.

Tak lama sejak Elga menutup pintu rumahnya, suara motor Hakam terdengar semakin menjauh.


“LO TADI MIKIR APAAN SIH, ELL!!”

Gadis itu berguling di atas kasurnya, sesekali menenggelamkan wajahnya di balik bantal yang sedang peluk.