“Lo tiduran dulu di sini ya, El. Gua panggilin anak PMR sebentar.”
Elga dan Hakam kini berada di UKS. Elga merebahkan dirinya di atas kasur, sementara Hakam berdiri di sebelahnya. Sudah sejak tadi gadis itu mengeluhkan sakit di perutnya, Hakam yang tidak tahu perihal penyakit yang diderita Elga berinisiatif memanggil anak PMR yang bertugas mengurusi obat-obatan di sekolah.
“Kak, nggak usah! gua nggak sakit kayak gitu.”
Elga bersusah payah menjelaskan, sedikit malu karena ini pertama kalinya ia meminta bantuan Hakam ketika datang bulan. Salahkan Rafka yang tidak membalas chat dan tidak mengangkat telepon darinya.
“Tolong beliin gua kiran*i aja kak, di warung depan sekolah!” lanjut Elga.
“Yaudah tunggu sebentar, ya!”
Elga mengangguk
Hakam pergi tanpa bertanya lebih lanjut, ia mengerti karena minuman yang Elga pinta juga sering diminum oleh sang bunda. Dan kalau sudah seperti itu biasanya bunda akan mengompres perutnya dengan air hangat.
Kurang dari lima menit, Hakam kembali dengan pesanan Elga juga sebungkus roti. Elga sendiri sedang tiduran dengan posisi yang tidak beraturan. Kadang menghadap ke kiri, kadang ke kanan, kadang bantalnya diletakkan di bawah pinggang, atau seperti apa saja setidaknya menghilangkan nyeri di perutnya.
“Nih, El! Lo minum dulu!”
“Maaf ya kak ngerepotin.”
Hakam menggeleng cepat. Ngerepotin? Sama sekali tidak, malah Hakam senang ia bisa membantu gadis itu.
Elga telah meminum habis pereda nyerinya. Sementara botol sisa minuman tersebut Hakam isi dengan air panas dari dispenser yang memang diletakkan di ruangan itu.
“Perut lo kompres pake ini.”
Hakam menyerahkan botol kecil berisi air panas yang dilapisi dengan ujung seragamnya. “Jangan langsung ditaro di perut, lapisin pake selimut dulu aja biar nggak terlalu panas.”
Elga mengikuti perintah Hakam, membaringkan tubuhnya menghadap Hakam kemudian melapisi botol tersebut dengan ujung selimut, sementara sisa selimut lainya ia pakai menyelimuti dirinya sendiri.
“Kak Hakam, kalo mau ke kelas, ke kelas aja! Gua udah nggak kenapa-kenapa. Sebentar lagi juga baikkan.”
“Nggak apa-apa gua disini dulu. Lagian kalau balik ke kelas juga nggak dibolehin masuk, udah telat.”
“Maaf ya kak.”
“Jangan minta maaf terus! Bukan salah lo kok. Emang guanya yang mau.”
Hakam duduk di ranjang sebelah Elga. Dari sana ia bisa melihat gadis itu benar-benar merasa tidak nyaman. Sesaat lalu ia sedang menghadap dirinya, dan detik kemudian Elga duduk dengan memeluk lututnya, seperti sekarang.
“Punggung lo sakit nggak, El?”
“Kalau ditanya sakit nggak, semua badan gua sakit kak. Sumpah nih pinggang rasanya pengen gua copot dulu kalo bisa.”
“Serem kalo lo jalan pinggangnya ilang.”
“Ya, nggak gitu maksudnya.”
Hakam terkekeh, “iya iya, tau kok. Bunda biasanya kalo sakit gitu minta gua atau bang Hasbi mukulin pinggangnya, sih. Lo mau juga nggak?”
“Dipukul? Sakit dong!”
“nggak kuat kok. Coba deh lo duduknya majuan!” pinta Hakam
Elga menurut, masih dengan posisi yang sama ia memajukan tubuhnya memberi ruang kosong di belakang untuk kemudian Hakam duduki.
“Gua izin pukulin pinggangnya, ya, El.”
Setelah mendapat persetujuan, Hakam mengepalkan tangannya, memukul-mukul pelan pinggang gadis itu.
“Gimana?” tanya Hakam
“Enak kak, berasa dipijet.” “Agak kiri kak! Ke bawahan dikit! Nah iya di situ.”
“Kalau pegel, udahan aja kak!”
“Iya nanti kalau udah capek, gua berhenti.”
Detik demi detik mereka lewati dengan posisi seperti itu. Entah karena tubuh Elga yang memang kurang baik, atau cuaca siang ini yang cukup panas, mendadak wajah Elga memerah.
Yang di belakang tak berbeda jauh. tenggorokannya kering, telinganya memerah. Gadis di depannya bukan bunda, menyadari itu Hakam seketika malu, tapi mau bagaimana lagi, ia sendiri yang menawarkan diri.
Gua yakin urat malu lo udah putus, Kam
Yang tidak mereka sadari, dari balik pintu yang tidak tertutup rapat, ada sepasang mata yang memperhatikan tingkah keduanya. Rafka, berdiri dengan plastik hitam di tangannya.
Ia menghela napasnya dalam, membuang plastik tersebut ke dalam kotak sampah di depan UKS.
“Elga! Lo gapapa kan? Sorry-sorry tadi gua dipanggil ke ruang guru, jadinya nggak liat chat lo.” Seakan tidak pernah melihat apa-apa, Rafka masuk dengan ekspresi begitu panik. “Gua juga nggak beli pesenan lo, soalnya gua langsung ke sini pas baca chatnya.”
“Gak apa-apa Raf, gua udah minta tolong Kak Hakam untuk beliin kok tadi.”
“Lo di sini, Kam? Pantes aja nggak ada di kelas. Thanks ya Kam, nanti uang beli minumannya gua ganti.”
“Nggak usah, Raf, santai aja. Kelas nggak ada guru, tah?”
“Nggak ada, cuma dikasih tugas ngerjain soal doang.”
“Raf, Kak, gua kayaknya mau tidur deh, kalian berdua balik ke kelas aja gih, gua udah chat ketua kelas juga untuk izinin gua.”
Sebenarnya, baik Hakam maupun Rafka, keduanya enggan untuk pergi, tapi Elga terus mendesak dengan alasan ingin tidur jadi daripada kehadirannya mengganggu tidur gadis itu, mereka pun setuju.
“Jujur sama gua! lo suka ya sama Elga?” tanya Rafka yang berjalan di sebelah Hakam
“Sepertinya.”