Ruang BK

Sudah beberapa menit lalu Hakam tiba di depan rumah Elga. Yang ditunggu mengecek kembali buku-buku pelajaran serta penampilannya hari ini.

“Lo udah mulai sekolah?” Tanya Rafka, mengeluarkan motor dari garasi rumahnya.”

“Udah dibolehin sama Ayah.”

“Kalo kenapa-kenapa langsung kabarin gua!” lanjut Rafka.

“Bawel.”


Elga duduk di belakang Hakam, meremat tas hitam yang pria itu kenakan.

Rafka berada di belakang pemuda-pemudi itu, meski sedikit iri, namun ia juga bahagia melihat sahabat kecil yang selalu mengekorinya kini telah memiliki seseorang yang berharga dihidupnya.

“Dingin nggak?” tanya Hakam

“Gua pake jaket.”

“Tadi udah sarapan?”

“Udah kok kak, sekalian minum obat soalnya.”


“Mana Sa? Kok lo belum dipanggil BK?” tanya Ichan, menatap temannya yang masih duduk di dalam kelas

“Baru juga bel masuk.”

Dan benar saja, tak lama setelah Mahesa berkata seperti itu, seseorang datang mencari dirinya.

“Yang namanya Mahesa, disuruh ke BK sekarang,” ucap pemuda itu kemudian pergi

Mahesa menarik napasnya dalam mengabaikan pertanyaan apa dan kenapa yang terlontar dari teman kelasnya.

Disaat yang sama, Hakam menerima pesan atas nama 'Si Tas Biru'. “Kak! Gua dipanggil BK.” Setelah Mahesa, sebenarnya Hakam tahu, gadis itu juga akan ikut dipanggil ke ruangan tersebut.

Hakam mengacak rambutnya kasar, keluar kelas, menuju ruangan yang letaknya jauh di gedung depan sana.

“Gua ikut Kam, Elga juga ngirimin gua chat soalnya, takut dia kenapa-napa,” ucap Rafka berjalan di sebelah Hakam.


Berita tentang anak-anak yang dipanggil ke ruang BK sudah menyebar di antara penghuni sekolah. Bahkan beberapa anak ada yang dengan sengaja mengintip ke dalam ruangan yang tertutup dengan rapat itu.

Hakam, Rafka dan Ichan duduk di luar dengan perasaan gelisah. Hakam takut kesehatan Elga kembali menurun, karena bagaimanapun gadis itu baru saja sembuh dari sakitnya.

Di dalam ruangan, Mahesa beserta tujuh siswi lainnya duduk di kursi panjang dengan kepala sekolah dan guru BK di hadapan mereka.

Elga mulai bercerita tentang apa yang ia alami beberapa hari lalu, yang dibenarkan oleh Nurul juga Melisa sebagai saksinya.

“Jadi Bunga, Hana dan Fani. Apa benar kalian yang sudah dengan sengaja mengunci Elga?”

Awalnya mereka mengelak, bahkan setelah Tara menjelaskan apa yang ia lihat hari itu. Namun setelah sang guru memutar video dan menunjukkan foto-foto dari ponselnya, ketiga orang itu diam bercampur kaget.

“Bunga, Hana dan Fani, apa benar yang ada di dalam video tersebut itu kalian?”

Yang disebutkan namanya hanya menunduk, tidak bisa membantah, karena wajah mereka terekam dengan jelas di sana.

“Kamu dapat dari mana foto-foto itu, nak Mahesa?” tanya sang kepala sekolah

“Dari Aziella pak, anak akuntansi satu.”

Mendengar nama Ziella disebut, ketiga gadis yang sejak tadi diam mulai mengangkat suara.

“Dia juga ikut ngerencanain itu pak.”

“Iya bener pak, panggil dia juga dong, pak!”

“Saya bisa buktiin kalau semua yang kita bertiga lakuin itu ide dia.”

Seperti yang sudah Mahesa kira, semua berjalan sesuai rencana. Ziella masuk kedalam ruangan beberapa menit kemudian.

Ia memandang melas ke arah Mahesa, mencari bantuan di sela tatapan keduanya. Namun Mahesa acuh, ia benar-benar lelah dengan sandiwara wanita itu.

Setelah kurang lebih satu jam mereka di sana, pihak sekolah memutuskan untuk menghukum keempat siswinya atas kasus pembulian.

Awalnya meski Bunga menunjukkan chat grup mereka, namun Zie tetap saja membantah. Bahkan menuduh Elga yang telah menjebaknya.

“Kak Mahesa! Please percaya aku kak, aku nggak mungkin sejahat itu. Itu pasti akal-akalannya Elga, sengaja nuduh aku karena nggak suka aku deket sama kakak.”

“Zie, gua yang laporin ini. Udah ya! Akuin aja kesalahan lo.”

Ziella, Bunga, Hana dan Fani mendapatkan hukuman berupa skors selama 3 hari. Sebelumnya, pihak sekolah memutuskan untuk mengeluarkan mereka, namun keputusan tersebut diurungkan mengingat mereka harus membicarakannya kepada orang tua masing-masing, dan lagi dua dari keempat siswi tersebut adalah murid kelas 3 yang akan menghadapi ujian kelulusan.


Hakam segera memeluk Elga tanpa memperdulikan pandangan di sekelilingnya.

“Lo nggak apa-apa kan, El? Lo baik-baik aja kan? Ada yang pusing nggak?” tanyanya

“PELUKANNYA DITAHAN DULU KALI, NGGAK LIAT DI DALAM SANA MASIH ADA KEPSEK?” celetuk Melisa

“Mel, Rul, Tara. Makasih banyak ya udah bantuin gua. Gua nggak punya apa-apa untuk bales kalian, tapi bisa deh kapan-kapan gua traktir bakso.”

“Nggak apa-apa kali El, lagian hal kayak gitu emang nggak bisa didiemin, nanti ngelunjak.” Fani menepuk pundak Elga.

“Padahal gua tadinya cuma nggak sengaja ngeliat doang, tapi kalo emang gua bisa bantu lo ya syukur deh, gua ngerasa berguna,” sahut Tara, gadis yang baru saja Elga kenal.

Nurul, Melisa dan Tara kemudian pergi, menyisakan Elga dan keempat seniornya.

“Kak Mahes bukanya pacarnya Ziella?”

“Siapa yang bilang gua pacaran sih, El! Gua nggak pacaran sama dia, kan gua masih sukanya sama lo.”

Mendengar pernyataan barusan, Hakam melingkarkan tangannya ke leher Elga, menarik gadis itu hingga punggung sang gadis menempel di dadanya.

“LO BERANI?”

“Najis Hakam bucin banget asu, belum resmi aja udah posesif,”

“Iri aja lo Chan.”

“Mending kita balik kelas deh, bentar lagi ganti pelajaran,” sela Rafka

“Kak Mahes, sekali lagi makasih banyak ya, makasih banyak untuk semuanya.”

“Sama-sama, El.” Mahesa tersenyum, mengacak pucuk rambut Elga tak peduli dengan tatapan tajam yang ia terima dari Hakam.

Mereka pun kembali ke kelas masing-masing, Hakam mengantar Elga, sementara Ichan, Rafka dan Mahesa pergi terlebih dahulu.

“Emang dasar lonya yang suka mancing duluan,” ucap Rafka berjalan di sebelah Mahesa

“Gua berani kayak gitu karena Elga belum punya pacar aja, nggak tau besok kalo Hakam udah maju.”

“Lo sengaja kan?”

“Emang.”

“Goblok.”

“Ucapin itu sama temen lo yang nanya Hakam.”