***

Pagi ini, setelah Elga memutuskan untuk menjadi secret admirer Mahesa lagi, ia berangkat lebih awal dari hari-hari sebelumnya. Dengan roti dan sebotol air mineral di tangan, Elga bergegas menuju lantai dua gedung yang terletak tepat di belakang kelasnya.

SMK belum ramai pagi ini, hanya ada beberapa murid saja yang sudah datang. Meski demikian, Elga tetap berhati-hati berharap tidak ada seorangpun tau tentang apa yang dia lakukan. Baru saja Elga hendak membuka loker milik seniornya, seseorang yang sangat ia kenal keluar dari dalam kelas.

“Ziella?” Elga terkejut

“Oh bagus? Lo bener-bener nggak dengerin omongan gua ya, El.” Ziella melipat tangannya di depan dada, berjalan menghampiri Elga.

“Gua nggak akan dengerin omongan lo.”

Elga acuh, membuka loker yang tidak terkunci milik Mahesa, menaruh roti juga minum yang ada di tangannya.

“LO TAU? GARA-GARA INI KAK MAHESA NGEHINDARIN GUA!” Ziella merebut roti tersebut dan membuangnya ke lantai. Marah.

“Lo tuh apa-apaan sih Zie? Nggak usah buang-buang makanan lah.”

Matahari baru menyapa, tapi dua orang di depan kelas 12 TKJ 2 sudah bersitegang sejak tadi. Elga yang hendak mengambil makanan di lantai, didorong, membuat tubuh sang gadis tersungkur ke depan.

“SAKIT ZIELLA!”

Ziella hanya tersenyum lebar,

“Itu hukuman dari gua buat lo, El!” Ia pergi meninggalkan Elga yang masih terduduk di lantai

Belum sempat Ziella meninggalkan tempat itu, tas yang ia kenakan di punggung Elga tarik kuat, membuat gadis itu tertarik ke belakang.

“Itu balasan karena udah ngedorong gua.”

“KURANG AJAR!.”

Keributan antara keduanya tak bisa dihindari, beberapa orang yang melihat perkelahian itu mencoba melerai, namun nihil, tak ada satupun dari Ziella dan Elga yang mengalah.

“Udah jangan berantem!” Ucap seseorang

“Itu pisahin tolol, bukan ditonton.”

“Tadi gua kena gaplok anjir.”

“Udah woy, lepasin rambutnya,”

Meski tubuh mereka sudah ditahan namun Elga tetap menarik kuat rambut Ziella, begitupun sebaliknya. Sampai akhirnya teriakan seseorang yang mereka kenal menghentikan keduanya.

“ELGA! ZIELLA!”

Itu Mahesa. Elga malu, benar-benar malu berhadapan dengan Mahesa dalam keadaan seperti ini, bagaimana pria itu akan menilainya nanti? Cewek tukang berantem.

“Kak, Elga yang mulai duluan, tadi dia narik rambut aku, aku kan cuma ngebela diri aja.” Ziella memeluk tangan mahesa, dengan wajah yang dibuat sedih.

“HELLO? LO YANG DORONG GUA DULUAN.” “GUA NGGAK MAU DENGER SIAPA YANG DULUAN. LO BERDUA SAMA-SAMA SALAH.”

“Yang pada nonton tolong bubar aja ya, masalah ini biar gua yang urus.”

Murid yang tadi mengelilingi mereka satu persatu persatu pergi, walau begitu tetap saja ada yang menonton lewat jendela kelas di gedung itu maupun di gedung seberang sana.

“Huu berantemnya nggak seru, cuma jambak-jambakan doang.”

“Anak kelas mana sih yang berantem?”

“Yang berangkat siang nyesel nggak bisa liat live action tadi.”

“Goblok.”

***

Semalam, Mahesa memang berniat berangkat lebih awal dari biasanya. Hal yang sering dilakukan ketika ada pekerjaan rumah yang belum ia kerjakan. Namun, apa yang ia lihat di depan kelasnya benar-benar membuat kepalanya pusing.

“Sekarang gua tanya! Kenapa lo berdua berantem? Nggak malu diliat banyak orang kayak gitu?”

Elga diam. Tapi kalimat yang keluar dari mulut Ziella membuatnya tak bisa menahan amarahnya lagi.

“Aku mau naro roti sama minuman itu di loker kakak, tapi sama Elga dibuang. Gara-gara kemarin aku mintain tolong untuk naro susu pisang di loker kakak, jadinya dia nganggap penggemar rahasianya kakak itu dia. Dan katanya aku nggak pantes deket-deket sama kak Mahesa.”

“El?”

“WAHHH? GILAA, AKTING LO KEREN BANGET, ANJING.” Elga bertepuk tangan pelan, memberi apresiasi atas apa yang diucapkan Ziella.

“Liat deh kak, omongannya kasar.”

“Lo diem! Sorry ya kak Mahes, gua nggak ngefilter omongan gua. Tapi sumpah deh, semua yang diomongin tuh cewek … ” Elga menunjukan Ziella yang masih bersembunyi di sebelah Mahesa

“Semuanya bohong!” “Kalau Zie bohong, coba lo ceritain yang sebenernya! Ngapain lo di sini?”

Mendapat pertanyaan seperti itu, jujur Elga bingung, apa dia akan mengatakan yang sebenarnya atau tidak? Tapi … ah sudahlah, Elga benar-benar sudah tidak bisa membiarkan Ziella dengan semua kebohongannya.

“Roti itu … ” Elga menunjuk roti bungkus yang masih berada di lantai

“Gua yang bawa, gua penggemar rahasia lo kak.”

“BOHONG! ELGA BOHONG KAK, PLEASE PERCAYA AKU.”

“Lo punya bukti nggak El? Biar gua percaya.”

Elga mengeluarkan buku tulis dalam tasnya, entah pelajaran apa, yang penting dia ingin mengeluarkan satu-satunya bukti yang dia punya. Tulisannya sendiri.

“Kak Mahes bandingin aja tulisannya.”

Belum sempat Mahesa mengambil buku tersebut, Ziella merebut dan melemparkannya ke luar, membiarkan buku itu jatuh di taman bawah sana.

“Kak! Please percaya aku, Elga bohong kak, dia selama ini cuma iri karena dia juga suka sama kakak. Aku juga nggak tau kenapa dia bisa sampe kayak gitu. Percaya aku ya kak!” Elga tidak bisa membendung air matanya, sudah sejak tadi ia menangis dengan tangan yang masih memeluk lengan Mahesa.

Di satu sisi, Mahesa sebenarnya sudah percaya dengan apa yang dijelaskan Elga, hanya tinggal meyakinkan diri dengan tulisan tangan Elga dan note yang ia punya. Disisi lain, tangisan gadis di sebelahnya yang tak kunjung reda membuat ia tak bisa menghilangkan simpatinya.

“Lanjutin nanti lagi.” ~ “Gua anter ke kelas ya Zie, tenangin diri lo!” Ziella mengangguk pelan, memberi senyuman ketika ia melewati Elga.

Dasar uler