<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>Carouselle&#39;s Works</title>
    <link>https://wordsmith.social/karisellelogs/</link>
    <description></description>
    <pubDate>Thu, 10 Sep 2026 14:57:35 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Episode [2.8] Seperti Bukan Dirinya Sendiri</title>
      <link>https://wordsmith.social/karisellelogs/sudah-empat-kali-minggu-ini-karina-mendapati-dirinya-mengunjungi-cafe-yang-sama</link>
      <description>&lt;![CDATA[div style=&#34;text-align:center;width:100%;&#34; ♧ ♧ ♧ /div&#xA;&#xA;Sudah empat kali minggu ini Karina mendapati dirinya mengunjungi cafe yang sama di jam makan siang. Karina sendiri tidak percaya bahwa ia membawa dirinya untuk keluar dari kantornya, menyebrang jalan, dan duduk di sudut ruangan dekat dengan jendela ini.!--more--&#xA;&#xA;Karina yang tidak akan keluar dari kantor kecuali untuk koordinasi dengan koleganya. Dirinya yang tidak akan meninggalkan kantornya bahkan untuk makan siang, karena baginya berjalan jauh membuang-buang waktunya yang berharga untuk melanjutkan pekerjaan. Bayangkan tiga puluh menit waktunya yang bisa ia gunakan untuk meninjau presentasi jika perlu, atau memeriksa proposal yang diserahkan padanya. &#xA;&#xA;Berjalan keluar kantor di jam makan siang sungguh buang-buang waktu dan merepotkan. Ia selalu meminta sepupu sekaligus sekretarisnya, Wendy, untuk membelikan makanan dan dosis harian kafeinnya. Dengan begitu pekerjaannya tetap berjalan, dan ia bisa menjaga nyawanya agar tetap menempel di tubuhnya. Mati kelaparan karena menganggap berjalan keluar kantor merepotkan sungguh bukan cara yang elegan untuk mati.&#xA;&#xA;Pekerjaannya adalah hal yang paling penting di hidup Karina. Jika pada umumnya perempuan tidak tertarik untuk mewarisi bisnis keluarga, tidak dengan Karina. Ia memiliki ambisi yang begitu tinggi untuk mewarisi perusahaan keluarganya. Itu adalah tujuan hidupnya sejak kecil. Ambisinya yang sudah ditanamkan di kepalanya, mendarah daging, mengalir di darahnya.&#xA;&#xA;Segala hal yang ia lakukan semenjak kecil, memiliki tujuan untuk memuaskan orang tuanya. Karina dididik untuk menjadi sosok yang dapat dipercaya, sempurna, dan tanpa cela. Ia masih harus bersaing dengan sepupu-sepupunya, kecuali Wendy, karena sepupunya itu tidak tertarik untuk tanggung jawab sebesar itu. Ia juga harus memperoleh kepercayaan keluarga besarnya dan anggota direksi. Perjalanannya masih jauh, tapi ia percaya pada dirinya sendiri bahwa ia pasti bisa.&#xA;&#xA;Karina tidak pernah melakukan hal yang tidak memberikan keuntungan yang dapat mendekatkan dirinya pada mimpinya. Ia mengikuti kelas bahasa di luar sekolah, menjadi ketua organisasi, delegasi olimpiade, hingga kelas bisnis tambahan yang diatur ayahnya. Ia menjalani pertukaran pelajar untuk menambah relasi dan meningkatkan kemampuan bersosialisasinya. Ia bahkan menjadi sukarelawan di acara amal yang dilakukan keluarganya untuk membangun persona pewaris tanpa cela keluarga Widjaja. Semua waktunya pasti ia gunakan untuk sesuatu yang dapat mendukung mimpinya.&#xA;&#xA;Dan kini ia duduk dengan tidak tenang, bermain dengan gelas americano miliknya, bingung untuk memulai interaksi dengan jaksa cantik yang ia tahu bernama Giselle dari Irene. Karina harus mendapatkan tatapan aneh dari Irene minggu lalu karena menanyakan nama wanita lucu dengan senyuman manis kepadanya. Tapi tidak mengapa, bahkan namanya saja cantik. Giselle. Karina merasa seperti remaja puber yang sedang kasmaran.&#xA;&#xA;Sudah tiga minggu semenjak pertama kali ia tertarik pada Giselle, tapi ia tetap tidak tahu harus mulai dari mana. Giselle memancarkan aura yang sulit untuk didekati. Dengan wajah serius ketika sendirian, setumpuk kertas dengan ketebalan berbeda yang tak pernah absen ia bawa. Bukan menakutkan, tidak, bagaimana mungkin Karina takut pada wanita cantik? Tapi Giselle terlihat begitu menenangkan. Ia tidak ingin menggangu ketenangan wanita itu ditengah hiruk-pikuk pusat kota ini.&#xA;&#xA;div style=&#34;text-align:center;width:100%;&#34;♧ ♧ ♧/div ]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:center;width:100%;"> ♧ ♧ ♧ </div>

<p>Sudah empat kali minggu ini Karina mendapati dirinya mengunjungi cafe yang sama di jam makan siang. Karina sendiri tidak percaya bahwa ia membawa dirinya untuk keluar dari kantornya, menyebrang jalan, dan duduk di sudut ruangan dekat dengan jendela ini.</p>

<p>Karina yang tidak akan keluar dari kantor kecuali untuk koordinasi dengan koleganya. Dirinya yang tidak akan meninggalkan kantornya bahkan untuk makan siang, karena baginya berjalan jauh membuang-buang waktunya yang berharga untuk melanjutkan pekerjaan. Bayangkan tiga puluh menit waktunya yang bisa ia gunakan untuk meninjau presentasi jika perlu, atau memeriksa proposal yang diserahkan padanya.</p>

<p>Berjalan keluar kantor di jam makan siang sungguh buang-buang waktu dan merepotkan. Ia selalu meminta sepupu sekaligus sekretarisnya, Wendy, untuk membelikan makanan dan dosis harian kafeinnya. Dengan begitu pekerjaannya tetap berjalan, dan ia bisa menjaga nyawanya agar tetap menempel di tubuhnya. Mati kelaparan karena menganggap berjalan keluar kantor merepotkan sungguh bukan cara yang elegan untuk mati.</p>

<p>Pekerjaannya adalah hal yang paling penting di hidup Karina. Jika pada umumnya perempuan tidak tertarik untuk mewarisi bisnis keluarga, tidak dengan Karina. Ia memiliki ambisi yang begitu tinggi untuk mewarisi perusahaan keluarganya. Itu adalah tujuan hidupnya sejak kecil. Ambisinya yang sudah ditanamkan di kepalanya, mendarah daging, mengalir di darahnya.</p>

<p>Segala hal yang ia lakukan semenjak kecil, memiliki tujuan untuk memuaskan orang tuanya. Karina dididik untuk menjadi sosok yang dapat dipercaya, sempurna, dan tanpa cela. Ia masih harus bersaing dengan sepupu-sepupunya, kecuali Wendy, karena sepupunya itu tidak tertarik untuk tanggung jawab sebesar itu. Ia juga harus memperoleh kepercayaan keluarga besarnya dan anggota direksi. Perjalanannya masih jauh, tapi ia percaya pada dirinya sendiri bahwa ia pasti bisa.</p>

<p>Karina tidak pernah melakukan hal yang tidak memberikan keuntungan yang dapat mendekatkan dirinya pada mimpinya. Ia mengikuti kelas bahasa di luar sekolah, menjadi ketua organisasi, delegasi olimpiade, hingga kelas bisnis tambahan yang diatur ayahnya. Ia menjalani pertukaran pelajar untuk menambah relasi dan meningkatkan kemampuan bersosialisasinya. Ia bahkan menjadi sukarelawan di acara amal yang dilakukan keluarganya untuk membangun persona pewaris tanpa cela keluarga Widjaja. Semua waktunya pasti ia gunakan untuk sesuatu yang dapat mendukung mimpinya.</p>

<p>Dan kini ia duduk dengan tidak tenang, bermain dengan gelas americano miliknya, bingung untuk memulai interaksi dengan jaksa cantik yang ia tahu bernama Giselle dari Irene. Karina harus mendapatkan tatapan aneh dari Irene minggu lalu karena menanyakan nama wanita lucu dengan senyuman manis kepadanya. Tapi tidak mengapa, bahkan namanya saja cantik. <em>Giselle</em>. Karina merasa seperti remaja puber yang sedang kasmaran.</p>

<p>Sudah tiga minggu semenjak pertama kali ia tertarik pada Giselle, tapi ia tetap tidak tahu harus mulai dari mana. Giselle memancarkan aura yang sulit untuk didekati. Dengan wajah serius ketika sendirian, setumpuk kertas dengan ketebalan berbeda yang tak pernah absen ia bawa. Bukan menakutkan, tidak, bagaimana mungkin Karina takut pada wanita cantik? Tapi Giselle terlihat begitu menenangkan. Ia tidak ingin menggangu ketenangan wanita itu ditengah hiruk-pikuk pusat kota ini.</p>

<div style="text-align:center;width:100%;">♧ ♧ ♧</div> 
]]></content:encoded>
      <guid>https://wordsmith.social/karisellelogs/sudah-empat-kali-minggu-ini-karina-mendapati-dirinya-mengunjungi-cafe-yang-sama</guid>
      <pubDate>Mon, 04 Jul 2022 15:15:46 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Episode [1.5] Tak Bisa Bukan Tak Ingin</title>
      <link>https://wordsmith.social/karisellelogs/episode-1-4-tak-bisa-bukan-tak-ingin</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Ia tak ingin menjerit-jerit, berteriak-teriak, mengamuk memecahkan cermin, membakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja, sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi. -- Sapardi Djoko Darmono&#xA;&#xA;div style=&#34;text-align:center;width:100%;&#34; ♧ ♧ ♧ /div&#xA;&#xA;Giselle meletakkan ponselnya setelah melihat Karina di dalam balutan gaun pengantin hitamnya. Karinanya. Masihkah Giselle bisa menyebut Karina miliknya? Ada beban yang tidak bisa dijelaskan di dadanya setelah melihat Karina begitu cantik dalam balutan gaun pengantin dan senyuman manis.!--more--&#xA;&#xA;Apakah kekasihnya itu benar-benar bahagia? Atau hatinya juga serasa seperti ditancapi paku berulang kali, sama seperti hatinya? Jika bisa, ia ingin hari ini tiba-tiba berakhir, dan esok hari bisa datang lebih cepat. Mungkin saja rasa sakit di dadanya bisa secara ajaib menghilang.&#xA;&#xA;Giselle tidak ingin menjerit memecahkan kaca kamarnya, atau berteriak sekencang-kencangnya sambil menghancurkan tempat tidurnya. Ia juga tak bisa, datang begitu saja ke pernikahan kekasihnya dan membakar altar pernikahannya. Ia tak bisa melajukan mobilnya dengan sangat kencang untuk menabrak dan menghancurkan gedung pernikahan Karina. Sebesar apapun keinginan hatinya. &#xA;&#xA;Karena bukan mendapatkan kekasihnya kembali, sepertinya ia akan terlebih dahulu kehilangan pekerjaan dan mendapatkan tuntutan dari pengadilan lalu dipenjara.&#xA;&#xA;Seperti inikah rasanya, tidak bisa melakukan apapun ketika mimpinya hancur tepat di depan matanya sendiri? Mimpinya untuk hidup bersama Karina, berdua saja di puncak bukit, atau di tepi pantai, dimana saja asal bersama kekasihnya. Tidak perlu ada seorangpun manusia yang tahu. Hanya mereka berdua, menua bersama dan berbahagia. Kini sepertinya semua itu telah hancur dan tidak mungkin terjadi. Karena Karina tidak sependapat dengannya. &#xA;&#xA;Giselle sadar sedari awal hubungan mereka, Karina memiliki ambisi yang sangat besar di dalam dirinya. Karina dapat melakukan apapun yang terfikir di otaknya demi bisa mewarisi perusahaan keluarganya. Tidak perlu orang pintar untuk tahu, bahwa dirinya yang sudah menjadi kekasih Karina sekalipun, tidak dapat menghalangi itu. Dan jauh didalam lubuk hatinya, ia sendiri tidak ingin menghalangi Karina mendapatkan mimpinya. Meskipun ia pernah meminta Karina untuk membatalkan pernikahannya. Ia tak benar-benar ingin melakukan itu dan menghancurkan mimpi kekasihnya.&#xA;&#xA;Ia hanya ingin meringkuk saja di atas kasurnya hari ini. Sendirian di ruang apartemennya yang gelap tanpa ada cahaya yang bisa masuk. Ia pasti terlihat menyedihkan, menangis dalam diam di kamar yang gelap. Ia tidak ingin membuka jendela kamarnya untuk membiarkan cahaya matahari masuk. Cuaca yang cerah hari ini terasa seperti mengejek dirinya.&#xA;&#xA;Hari sudah gelap ketika ia mendengar seseorang membuka pintu apartemennya. Minjeong datang ketika sudah waktunya makan malam. Dan baru Giselle sadari bahwa ia belum makan apapun sejak kemarin malam ketika Minjeong bertanya, &#34;Udah makan?&#34;&#xA;&#xA;Giselle hanya diam dan semakin meringkuk, berharap Minjeong tidak melihatnya dalam kondisi menyedihkan seperti ini. Minjeong mendengus melihat Giselle &#34;Lo harus makan Gi. Gak makan entar lo mati.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gak makan sehari gak bakalan bikin gue mati, gue gak selemah itu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kalo lo gak lemah, lo gak bakalan ada di kasur itu, di kamar gelap gini sekarang.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lo berharap gue gimana? Ketawa-ketawa lihat pacar gue nikah sama orang lain?&#34;&#xA;&#xA;&#34;YA SANA KEK, PERGI KE ORANG TUANYA KARINA! BILANG KALO LO PACARNYA, BILANG KALO LO GAK TERIMA KARINA DINIKAHIN SAMA ORANG LAIN!&#34;&#xA;&#xA;&#34;MANA BISA JEONG? LO PENGEN GUE DITEMBAK PAKE PISTOL SAMA BAPAKNYA?&#34; Giselle meneriaki Minjeong yang menyarankan hal irrasional kepadanya. Ia lebih dari yakin bahwa pak Widjaja mampu melakukan itu kepadanya. Ia hanya serpihan debu gedung kejaksaan yang mudah disingkirkan. &#xA;&#xA;&#34;Mikir dong Minjeong, sedari awal hubungan kita emang udah gak mungkin. Dia anak konglomerat kalo lo lupa, dan cewe pula, lo berharap gue gimana?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kalo lo gak pengen berjuang, kenapa terus kelakuan lo kayak anak anjing yang ditendang keluar dari rumah hah?!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue gak bisa, bukan gak pengen Jeong.&#34; Air matanya mulai menetes lagi setelah berusaha ia tahan sedari tadi. Kenapa air matanya masih belum habis padahal ia sudah menangis seharian? Giselle bukan hanya takut ditembak mati oleh keluarga Widjaja jika memperjuangkan cintanya. Tetapi kekasihnya sendiri juga tidak akan membiarkan dia melakukan itu.&#xA;&#xA;&#34;Gue gak bisa Jeong, ngerebut hal yang sangat berharga dari Karina, cuma karena gue, dengan putus asa pengen dia jadi punya gue. Dan dia sendiri juga gak bisa, ngelepas mimpinya cuma buat gue.&#34;&#xA;&#xA;Minjeong hanya diam dan memeluk sahabatnya yang menangis semakin kencang. Berharap ia dapat mengurangi, barang sedikit saja rasa sakit yang Giselle alami. Meskipun ia yakin harapannya tidak akan terjadi. Karena ia bisa merasakan tubuh Giselle bergetar hebat, tanda tangisannya tidak akan mereda dalam waktu dekat.&#xA;&#xA;div style=&#34;text-align:center;width:100%;&#34;♧ ♧ ♧/div &#xA;!--more--&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Ia tak ingin menjerit-jerit, berteriak-teriak, mengamuk memecahkan cermin, membakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja, sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi. — Sapardi Djoko Darmono</p></blockquote>

<div style="text-align:center;width:100%;"> ♧ ♧ ♧ </div>

<p>Giselle meletakkan ponselnya setelah melihat Karina di dalam balutan gaun pengantin hitamnya. <em>Karinanya</em>. Masihkah Giselle bisa menyebut Karina miliknya? Ada beban yang tidak bisa dijelaskan di dadanya setelah melihat Karina begitu cantik dalam balutan gaun pengantin dan senyuman manis.</p>

<p>Apakah kekasihnya itu benar-benar bahagia? Atau hatinya juga serasa seperti ditancapi paku berulang kali, sama seperti hatinya? Jika bisa, ia ingin hari ini tiba-tiba berakhir, dan esok hari bisa datang lebih cepat. Mungkin saja rasa sakit di dadanya bisa secara ajaib menghilang.</p>

<p>Giselle tidak ingin menjerit memecahkan kaca kamarnya, atau berteriak sekencang-kencangnya sambil menghancurkan tempat tidurnya. Ia juga tak bisa, datang begitu saja ke pernikahan kekasihnya dan membakar altar pernikahannya. Ia tak bisa melajukan mobilnya dengan sangat kencang untuk menabrak dan menghancurkan gedung pernikahan Karina. Sebesar apapun keinginan hatinya.</p>

<p>Karena bukan mendapatkan kekasihnya kembali, sepertinya ia akan terlebih dahulu kehilangan pekerjaan dan mendapatkan tuntutan dari pengadilan lalu dipenjara.</p>

<p>Seperti inikah rasanya, tidak bisa melakukan apapun ketika mimpinya hancur tepat di depan matanya sendiri? Mimpinya untuk hidup bersama Karina, berdua saja di puncak bukit, atau di tepi pantai, dimana saja asal bersama kekasihnya. Tidak perlu ada seorangpun manusia yang tahu. Hanya mereka berdua, menua bersama dan berbahagia. Kini sepertinya semua itu telah hancur dan tidak mungkin terjadi. Karena Karina tidak sependapat dengannya.</p>

<p>Giselle sadar sedari awal hubungan mereka, Karina memiliki ambisi yang sangat besar di dalam dirinya. Karina dapat melakukan apapun yang terfikir di otaknya demi bisa mewarisi perusahaan keluarganya. Tidak perlu orang pintar untuk tahu, bahwa dirinya yang sudah menjadi kekasih Karina sekalipun, tidak dapat menghalangi itu. Dan jauh didalam lubuk hatinya, ia sendiri tidak ingin menghalangi Karina mendapatkan mimpinya. Meskipun ia pernah meminta Karina untuk membatalkan pernikahannya. Ia tak benar-benar ingin melakukan itu dan menghancurkan mimpi kekasihnya.</p>

<p>Ia hanya ingin meringkuk saja di atas kasurnya hari ini. Sendirian di ruang apartemennya yang gelap tanpa ada cahaya yang bisa masuk. Ia pasti terlihat menyedihkan, menangis dalam diam di kamar yang gelap. Ia tidak ingin membuka jendela kamarnya untuk membiarkan cahaya matahari masuk. Cuaca yang cerah hari ini terasa seperti mengejek dirinya.</p>

<p>Hari sudah gelap ketika ia mendengar seseorang membuka pintu apartemennya. Minjeong datang ketika sudah waktunya makan malam. Dan baru Giselle sadari bahwa ia belum makan apapun sejak kemarin malam ketika Minjeong bertanya, “Udah makan?”</p>

<p>Giselle hanya diam dan semakin meringkuk, berharap Minjeong tidak melihatnya dalam kondisi menyedihkan seperti ini. Minjeong mendengus melihat Giselle “Lo harus makan Gi. Gak makan entar lo mati.”</p>

<p>“Gak makan sehari gak bakalan bikin gue mati, gue gak selemah itu.”</p>

<p>“Kalo lo gak lemah, lo gak bakalan ada di kasur itu, di kamar gelap gini sekarang.”</p>

<p>“Lo berharap gue gimana? Ketawa-ketawa lihat pacar gue nikah sama orang lain?”</p>

<p>“YA SANA KEK, PERGI KE ORANG TUANYA KARINA! BILANG KALO LO PACARNYA, BILANG KALO LO GAK TERIMA KARINA DINIKAHIN SAMA ORANG LAIN!”</p>

<p>“MANA BISA JEONG? LO PENGEN GUE DITEMBAK PAKE PISTOL SAMA BAPAKNYA?” Giselle meneriaki Minjeong yang menyarankan hal irrasional kepadanya. Ia lebih dari yakin bahwa pak Widjaja mampu melakukan itu kepadanya. Ia hanya serpihan debu gedung kejaksaan yang mudah disingkirkan.</p>

<p>“Mikir dong Minjeong, sedari awal hubungan kita emang udah gak mungkin. Dia anak konglomerat kalo lo lupa, dan cewe pula, lo berharap gue gimana?”</p>

<p>“Kalo lo gak pengen berjuang, kenapa terus kelakuan lo kayak anak anjing yang ditendang keluar dari rumah hah?!”</p>

<p>“Gue gak bisa, bukan gak pengen Jeong.” Air matanya mulai menetes lagi setelah berusaha ia tahan sedari tadi. <em>Kenapa air matanya masih belum habis padahal ia sudah menangis seharian?</em> Giselle bukan hanya takut ditembak mati oleh keluarga Widjaja jika memperjuangkan cintanya. Tetapi kekasihnya sendiri juga tidak akan membiarkan dia melakukan itu.</p>

<p>“Gue gak bisa Jeong, ngerebut hal yang sangat berharga dari Karina, cuma karena gue, dengan putus asa pengen dia jadi punya gue. Dan dia sendiri juga gak bisa, ngelepas mimpinya cuma buat gue.”</p>

<p>Minjeong hanya diam dan memeluk sahabatnya yang menangis semakin kencang. Berharap ia dapat mengurangi, barang sedikit saja rasa sakit yang Giselle alami. Meskipun ia yakin harapannya tidak akan terjadi. Karena ia bisa merasakan tubuh Giselle bergetar hebat, tanda tangisannya tidak akan mereda dalam waktu dekat.</p>

<p><div style="text-align:center;width:100%;">♧ ♧ ♧</div>
</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://wordsmith.social/karisellelogs/episode-1-4-tak-bisa-bukan-tak-ingin</guid>
      <pubDate>Fri, 13 May 2022 04:40:33 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Episode [1.1] Wedding Day H-1</title>
      <link>https://wordsmith.social/karisellelogs/31hczxvt5c</link>
      <description>&lt;![CDATA[  Falling so madly in love with you is a tragedy. Nothing in my world will ever seem so beautiful again.-- Michael Faudet&#xA;&#xA;Giselle sudah lelah menunggu Karina, kini sudah hampir lewat tengah malam. Jamuan makan pernikahan Karina dengan pria yang bahkan ia tak ingin sebutkan namanya itu, mengapa begitu lama? Bukannya besok mereka juga bertemu lagi di resepsi? Giselle tidak bisa mengerti pikiran orang-orang kaya dan keinginan mereka untuk berkumpul-kumpul tidak penting.!--more--&#xA;&#xA;Ia memutuskan untuk membeli kopi di kedai kopi sebelah gedung apartemennya. Kedai kopi itu sungguhlah penyelamat hidupnya. Mereka selalu buka 24 jam, cocok untuk manusia yang suka berburu kopi malam-malam sepertinya.&#xA;&#xA;Barista yang berjaga malam kali ini tersenyum kepadanya. Pria ramah yang selalu tidak pernah absen untuk mengajaknya bicara setiap kali Giselle berkunjung. Bagaimana bisa pria itu terlihat begitu bahagia setiap saat? Pekerjaan penuh masalah yang ia lakukan tidak memungkinkan dirinya untuk selalu bahagia seperti itu.&#xA;&#xA;Saat bahagianya hanya terjadi ketika makan siang, mengobrol dengan rekan jaksanya. Atau saat ia menemukan kopi yang pas dengan seleranya. Dan yang terakhir saat ia bersama dengan Karina, kekasihnya. Giselle jadi berangan-angan, apakah ia tetap bisa bahagia saat bersama Karina setelah kekacauan besok?&#xA;&#xA;Giselle memasukkan pin pintu apartemennya setelah mendapatkan segelas Vanilla Latte. Karina bahkan belum menghubunginya sampai kini. Padahal ia berharap bisa menghabiskan waktu dengan Karina lebih lama. Betapa terkejutnya ia saat ia membuka pintu dan ada orang yang langsung mencium bibirnya. Gadis itu menahan leher Giselle dengan tangan kanan, dan menggunakan tangan kirinya untuk menutup pintu apartemen.&#xA;&#xA;Keterkejutannya tidak bertahan lama, karena ia langsung mengenali bibir yang sedang menciumnya itu. Giselle membalas ciuman itu dengan sama intensnya setelah sadar bahwa ia adalah Karina. Tangan kanan Giselle masih memegang kopi, dan tangan kirinya ia letakkan di pinggang Karina. Mendekatkan tubuh mereka yang sudah hampir tidak berjarak.&#xA;&#xA;Karina berjalan mundur menuju sofa, ia bahkan tidak memberikan Giselle kesempatan untuk meletakkan kopinya. Mereka terus berciuman sampai lutut belakang Karina menyentuh sofa. Menyadari Karina berhenti berjalan, Giselle mendorong sedikit tubuh Karina.&#xA;&#xA;&#34;Sebentar.&#34; Giselle meletakkan kopinya ke pantry yang berada di dekat sofa.&#xA;&#xA;&#34;You tastes like vanilla.&#34;&#xA;&#xA;Karina mengejar bibir Giselle lagi, tidak memberinya kesempatan untuk bernafas. Giselle bisa melakukan apa yang ia suka tiap kali mencium Karina kini karena ia sudah tidak memegang kopi. Menelusupkan jemarinya ke surai ungu milik Karina.&#xA;&#xA;Giselle sedikit menarik rambut Karina saat Karina menggigit bibir bawahnya. Giselle melenguh, dan Karina menggunakan kesempatan itu untuk memasukkan lidahnya. &#34;I can taste your coffee now.&#34; Karina berbisik ditengah ciuman mereka.&#xA;&#xA;&#34;Hmm, shut up.&#34; Giselle menarik Karina untuk duduk di sofa. Giselle memposisikan dirinya untuk duduk di pangkuan Karina. Melanjutkan ciuman intens yang mereka lakukan.&#xA;&#xA;&#34;Aku yang minta ini, tapi kenapa kok kayaknya kamu yang lebih pengen?&#34; Giselle bertanya sambil menciumi leher Karina. Menahan dirinya untuk tidak membuat tanda karena ia masih punya kesadaran diri.&#xA;&#xA;&#34;Aku tadi masuk apartemen, kamu gak ada, kukira kamu ninggalin aku.&#34; Ucap Karina sambil menengadahkan kepalanya.&#xA;&#xA;Giselle selalu memberikan perhatian lebih ke leher Karina. Ia rasa itu adalah bagian tubuh Karina yang menjadi favoritnya. Jemarinya menyusuri leher Karina yang jenjang. Mulai dari rahang, turun ke leher, menuju ke belakang leher Karina.&#xA;&#xA;&#34;Tapi kamu yang ninggalin aku Rin, you know that. Tapi kita gak akan ngomongin itu sekarang, we got something more important to do.&#34; Giselle menarik blouse Karina ke atas.&#xA;&#xA;Karina memakai lace bra hitam malam ini, warna kesukaan Giselle. &#34;Kamu lebih seksi pakai hitam, you know that right?&#34; Giselle berbisik ke telinga Karina, dan menggigit daun telinga Karina di akhir kalimat. Giselle bisa merasakan tubuh Karina menegang, telinganya adalah bagian paling sensitif milik Karina.&#xA;&#xA;&#34;Sengaja sih.&#34;&#xA;&#xA;Karina meremas paha Giselle dengan kedua tangannya, membuat Giselle melenguh. Giselle bisa merasakan adrenalinenya meningkat. Bagian bawah perutnya terasa lucu. Ia berusaha menghiraukan perasaan lain yang muncul di relung hatinya. Karina miliknya. Giselle berusaha meyakinkan dirinya sendiri.&#xA;&#xA;&#34;Gigi...&#34; Giselle bisa merasakan keraguan di kalimat Karina. Ia rasa Karina menyadari kekacauan di pikirannya. Jadi Giselle memutuskan untuk fokus ke leher Karina lagi saja. Menciumi lehernya, mengikuti alur dari otot lehernya yang terlihat jelas. Mengikuti tulang leher hingga tulang selangka Karina yang begitu jelas terlihat, membuat figurnya menjadi makin sempurna. Ciumannya lalu turun ke dada Karina.&#xA;&#xA;&#34;Dress kamu besok, bagian ini kelihatan gak?&#34; Tanya Giselle sambil menciumi dada Karina.&#xA;&#xA;&#34;Yang bagian atas kelihatan, tapi bawahnya engga.&#34; Karina menjawab dengan tidak fokus.&#xA;&#xA;&#34;I&#39;ll mark you there, you&#39;re mine.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya, aku punya kamu Gi.&#34;&#xA;&#xA;Giselle melakukannya karena sudah mendapatkan persetujuan dari Karina. Ia turun dari pangkuan Karina. Memposisikan dirinya diantara kaki Karina. Mulai dari perut bagian bawah pusarnya, sampai ke dada bagian bawah Karina ia beri tanda. Karina miliknya. Giselle meyakinkan dirinya sekali lagi.&#xA;&#xA;Karina menarik wajah Giselle untuk mendekat padanya. Mencium bibirnya lagi, menggigit kecil bibir bawah Giselle. Karina berdiri dari sofa, lalu mengangkat tubuh Giselle. Giselle yang terkejut melingkarkan lengannya ke leher Karina.&#xA;&#xA;Karina membawa Giselle ke kasur, membaringkan tubuhnya. Karina memandang kebawah dengan lekat. Seolah ingin mengabadikan Giselle yang sedang berada di bawahnya. Karina membuka kancing kemeja Giselle satu-persatu. Ia tidak berhenti menciumi leher Giselle ketika melepaskan kemejanya.&#xA;&#xA;&#34;Aku cinta kamu Gi, kamu satu-satunya yang aku cinta. Jangan tinggalin aku.&#34; Ucap Karina di leher Giselle.&#xA;&#xA;Giselle memeluk kepala Karina, memasukkan jemarinya ke sela rambut Karina. &#34;Aku juga cinta kamu Rin.&#34;&#xA;&#xA;div style=&#34;text-align:center;width:100%;&#34;♧ ♧ ♧/div &#xA;&#xA;Giselle merasakan kasur sampingnya sudah dingin ketika ia terbangun di pagi hari. Karina pasti meninggalkannya saat ia sudah tertidur semalam. Giselle menahan air matanya. Tidak, ia tidak boleh menangis. Giselle menguatkan dirinya sendiri sambil meremas selimut yang menutupi tubuhnya. Karina miliknya. Giselle berusaha tetap meyakini itu meskipun hatinya terasa seperti terbakar.&#xA;&#xA;Seperti ada yang meremas jantungnya, dan tidak melepasnya sampai ia tidak bisa bernafas. Rasanya ia telah kehilangan hal yang paling berharga dalam hidupnya. Meskipun Karina berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia tetap milik Giselle.&#xA;&#xA;Giselle memejamkan matanya, air matanya sudah tidak terbendung lagi. Tubuhnya bergetar hebat karena tangisannya. Ia berusaha tidak mengeluarkan suara. Ia tidak ingin mendengarkan dirinya sendiri menangisi kekasihnya seperti pecundang. &#xA;&#xA;Ia masih belum ingin mengakui bahwa keputusannya untuk tetap bertahan dengan Karina bukanlah ide yang bagus. Giselle hanya meringkuk, berharap semua kekacauan yang terjadi di hidupnya ini hanyalah sebuah mimpi. Giselle tidak ingin mengakui bahwa mencintai Karina dengan gila seperti ini, bisa membuat hidupnya menjadi sebuah tragedi.&#xA;&#xA;div style=&#34;text-align:center;width:100%;&#34;♧ ♧ ♧/div &#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><strong>Falling so madly in love with you is a tragedy. Nothing in my world will ever seem so beautiful again.— Michael Faudet</strong></p></blockquote>

<p>Giselle sudah lelah menunggu Karina, kini sudah hampir lewat tengah malam. Jamuan makan pernikahan Karina dengan pria yang bahkan ia tak ingin sebutkan namanya itu, mengapa begitu lama? Bukannya besok mereka juga bertemu lagi di resepsi? Giselle tidak bisa mengerti pikiran orang-orang kaya dan keinginan mereka untuk berkumpul-kumpul tidak penting.</p>

<p>Ia memutuskan untuk membeli kopi di kedai kopi sebelah gedung apartemennya. Kedai kopi itu sungguhlah penyelamat hidupnya. Mereka selalu buka 24 jam, cocok untuk manusia yang suka berburu kopi malam-malam sepertinya.</p>

<p>Barista yang berjaga malam kali ini tersenyum kepadanya. Pria ramah yang selalu tidak pernah absen untuk mengajaknya bicara setiap kali Giselle berkunjung. Bagaimana bisa pria itu terlihat begitu bahagia setiap saat? Pekerjaan penuh masalah yang ia lakukan tidak memungkinkan dirinya untuk selalu bahagia seperti itu.</p>

<p>Saat bahagianya hanya terjadi ketika makan siang, mengobrol dengan rekan jaksanya. Atau saat ia menemukan kopi yang pas dengan seleranya. Dan yang terakhir saat ia bersama dengan Karina, kekasihnya. Giselle jadi berangan-angan, apakah ia tetap bisa bahagia saat bersama Karina setelah kekacauan besok?</p>

<p>Giselle memasukkan pin pintu apartemennya setelah mendapatkan segelas Vanilla Latte. Karina bahkan belum menghubunginya sampai kini. Padahal ia berharap bisa menghabiskan waktu dengan Karina lebih lama. Betapa terkejutnya ia saat ia membuka pintu dan ada orang yang langsung mencium bibirnya. Gadis itu menahan leher Giselle dengan tangan kanan, dan menggunakan tangan kirinya untuk menutup pintu apartemen.</p>

<p>Keterkejutannya tidak bertahan lama, karena ia langsung mengenali bibir yang sedang menciumnya itu. Giselle membalas ciuman itu dengan sama intensnya setelah sadar bahwa ia adalah Karina. Tangan kanan Giselle masih memegang kopi, dan tangan kirinya ia letakkan di pinggang Karina. Mendekatkan tubuh mereka yang sudah hampir tidak berjarak.</p>

<p>Karina berjalan mundur menuju sofa, ia bahkan tidak memberikan Giselle kesempatan untuk meletakkan kopinya. Mereka terus berciuman sampai lutut belakang Karina menyentuh sofa. Menyadari Karina berhenti berjalan, Giselle mendorong sedikit tubuh Karina.</p>

<p>“Sebentar.” Giselle meletakkan kopinya ke pantry yang berada di dekat sofa.</p>

<p>“You tastes like vanilla.”</p>

<p>Karina mengejar bibir Giselle lagi, tidak memberinya kesempatan untuk bernafas. Giselle bisa melakukan apa yang ia suka tiap kali mencium Karina kini karena ia sudah tidak memegang kopi. Menelusupkan jemarinya ke surai ungu milik Karina.</p>

<p>Giselle sedikit menarik rambut Karina saat Karina menggigit bibir bawahnya. Giselle melenguh, dan Karina menggunakan kesempatan itu untuk memasukkan lidahnya. “I can taste your coffee now.” Karina berbisik ditengah ciuman mereka.</p>

<p>“Hmm, shut up.” Giselle menarik Karina untuk duduk di sofa. Giselle memposisikan dirinya untuk duduk di pangkuan Karina. Melanjutkan ciuman intens yang mereka lakukan.</p>

<p>“Aku yang minta ini, tapi kenapa kok kayaknya kamu yang lebih pengen?” Giselle bertanya sambil menciumi leher Karina. Menahan dirinya untuk tidak membuat tanda karena ia masih punya kesadaran diri.</p>

<p>“Aku tadi masuk apartemen, kamu gak ada, kukira kamu ninggalin aku.” Ucap Karina sambil menengadahkan kepalanya.</p>

<p>Giselle selalu memberikan perhatian lebih ke leher Karina. Ia rasa itu adalah bagian tubuh Karina yang menjadi favoritnya. Jemarinya menyusuri leher Karina yang jenjang. Mulai dari rahang, turun ke leher, menuju ke belakang leher Karina.</p>

<p>“Tapi kamu yang ninggalin aku Rin, you know that. Tapi kita gak akan ngomongin itu sekarang, we got something more important to do.” Giselle menarik blouse Karina ke atas.</p>

<p>Karina memakai lace bra hitam malam ini, warna kesukaan Giselle. “Kamu lebih seksi pakai hitam, you know that right?” Giselle berbisik ke telinga Karina, dan menggigit daun telinga Karina di akhir kalimat. Giselle bisa merasakan tubuh Karina menegang, telinganya adalah bagian paling sensitif milik Karina.</p>

<p>“Sengaja sih.”</p>

<p>Karina meremas paha Giselle dengan kedua tangannya, membuat Giselle melenguh. Giselle bisa merasakan adrenalinenya meningkat. Bagian bawah perutnya terasa lucu. Ia berusaha menghiraukan perasaan lain yang muncul di relung hatinya. <em>Karina miliknya</em>. Giselle berusaha meyakinkan dirinya sendiri.</p>

<p>“Gigi...” Giselle bisa merasakan keraguan di kalimat Karina. Ia rasa Karina menyadari kekacauan di pikirannya. Jadi Giselle memutuskan untuk fokus ke leher Karina lagi saja. Menciumi lehernya, mengikuti alur dari otot lehernya yang terlihat jelas. Mengikuti tulang leher hingga tulang selangka Karina yang begitu jelas terlihat, membuat figurnya menjadi makin sempurna. Ciumannya lalu turun ke dada Karina.</p>

<p>“Dress kamu besok, bagian ini kelihatan gak?” Tanya Giselle sambil menciumi dada Karina.</p>

<p>“Yang bagian atas kelihatan, tapi bawahnya engga.” Karina menjawab dengan tidak fokus.</p>

<p>“I&#39;ll mark you there, you&#39;re mine.”</p>

<p>“Iya, aku punya kamu Gi.”</p>

<p>Giselle melakukannya karena sudah mendapatkan persetujuan dari Karina. Ia turun dari pangkuan Karina. Memposisikan dirinya diantara kaki Karina. Mulai dari perut bagian bawah pusarnya, sampai ke dada bagian bawah Karina ia beri tanda. <em>Karina miliknya</em>. Giselle meyakinkan dirinya sekali lagi.</p>

<p>Karina menarik wajah Giselle untuk mendekat padanya. Mencium bibirnya lagi, menggigit kecil bibir bawah Giselle. Karina berdiri dari sofa, lalu mengangkat tubuh Giselle. Giselle yang terkejut melingkarkan lengannya ke leher Karina.</p>

<p>Karina membawa Giselle ke kasur, membaringkan tubuhnya. Karina memandang kebawah dengan lekat. Seolah ingin mengabadikan Giselle yang sedang berada di bawahnya. Karina membuka kancing kemeja Giselle satu-persatu. Ia tidak berhenti menciumi leher Giselle ketika melepaskan kemejanya.</p>

<p>“Aku cinta kamu Gi, kamu satu-satunya yang aku cinta. Jangan tinggalin aku.” Ucap Karina di leher Giselle.</p>

<p>Giselle memeluk kepala Karina, memasukkan jemarinya ke sela rambut Karina. “Aku juga cinta kamu Rin.”</p>

<div style="text-align:center;width:100%;">♧ ♧ ♧</div> 

<p>Giselle merasakan kasur sampingnya sudah dingin ketika ia terbangun di pagi hari. Karina pasti meninggalkannya saat ia sudah tertidur semalam. Giselle menahan air matanya. Tidak, ia tidak boleh menangis. Giselle menguatkan dirinya sendiri sambil meremas selimut yang menutupi tubuhnya. <em>Karina miliknya</em>. Giselle berusaha tetap meyakini itu meskipun hatinya terasa seperti terbakar.</p>

<p>Seperti ada yang meremas jantungnya, dan tidak melepasnya sampai ia tidak bisa bernafas. Rasanya ia telah kehilangan hal yang paling berharga dalam hidupnya. Meskipun Karina berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia tetap milik Giselle.</p>

<p>Giselle memejamkan matanya, air matanya sudah tidak terbendung lagi. Tubuhnya bergetar hebat karena tangisannya. Ia berusaha tidak mengeluarkan suara. Ia tidak ingin mendengarkan dirinya sendiri menangisi kekasihnya seperti pecundang.</p>

<p>Ia masih belum ingin mengakui bahwa keputusannya untuk tetap bertahan dengan Karina bukanlah ide yang bagus. Giselle hanya meringkuk, berharap semua kekacauan yang terjadi di hidupnya ini hanyalah sebuah mimpi. Giselle tidak ingin mengakui bahwa mencintai Karina dengan gila seperti ini, bisa membuat hidupnya menjadi sebuah tragedi.</p>

<div style="text-align:center;width:100%;">♧ ♧ ♧</div> 
]]></content:encoded>
      <guid>https://wordsmith.social/karisellelogs/31hczxvt5c</guid>
      <pubDate>Tue, 10 May 2022 04:41:51 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Birthday Dinner </title>
      <link>https://wordsmith.social/karisellelogs/birthday-dinner</link>
      <description>&lt;![CDATA[  &#34;It&#39;s your birthday, but I&#39;m the one who should be celebrating the most. I&#39;m so glad you came into this world, and I&#39;m even more glad you came into my world.&#34;&#xA;&#xA;div style=&#34;text-align:center;width:100%;&#34; ♧ ♧ ♧ /div&#xA;&#xA;Karina merasa, jika ia harus berada di kantornya lebih lama lagi, punggungnya akan menyerah menopang tubuhnya. Jadi ia putuskan untuk menyudahi pekerjaannya dan pulang ke apartemen. Pekerjaan kantornya hari ini terasa dua kali lipat lebih menyebalkan dari hari biasa. &#xA;!--more--&#xA;&#xA;Kepala divisi mencecarnya karena font yang dipakai oleh bawahannya tidak sesuai dengan yang diinginkan. Padahal bawahannya yang membuat itu, bukan dirinya. Karina ingin menjambak anak buahnya, tapi itu hanya akan mencoreng citranya sendiri, jadi ia hanya menyuruh bawahannya untuk mengerjakannya kembali. &#xA;&#xA;Klien yang ia temui hari ini adalah tipikal klien dengan sifat menyebalkan sejak lahir, banyak mau dan suka mencaci. Selesai meeting dengan klien itu, umur Karina serasa baru saja berkurang sepuluh tahun. Energinya benar-benar terkuras habis.&#xA;&#xA;Matahari sudah berada di ufuk barat saat ia menginjakkan kaki di lantai dasar kantornya. Membayangkan dirinya yang masih harus berjalan menuju halte, naik bus, dan berjalan lagi sampai apartemennya, ingin rasanya Karina pingsan di tempat. Lalu dibawa dengan tandu, masuk ambulance, dan diperiksa dokter di IGD. Paling tidak dengan begitu ia tidak harus menggunakan kakinya.&#xA;&#xA;Tapi ia tidak bisa bersandiwara, yang ada nanti satpam kantor akan menertawakannya karena ketahuan berpura-pura. Semua kesialan ini diawali dengan mobilnya yang memutuskan bahwa hari ini adalah hari yang tepat untuk rusak. Ia harus menelfon bengkel, menunggu mobilnya diderek, dan berjalan ke kantornya.&#xA;&#xA;Ia terlambat datang 20 menit, menerima nasib bahwa gajinya harus dipotong bulan ini. Melihat manager divisi sebelah yang terus-terusan menggangunya dengan gombalan tidak penting membuatnya malas mampir ke cafe untuk membeli sarapan. Tidak ingin mendapatkan gombalan tidak penting dari pagi, ia langsung naik ke lantai atas. Ia harus menahan lapar hingga jam makan siang. Sungguh hari yang menyebalkan.&#xA;&#xA;Ditengah pikirannya yang sibuk dan tubuhnya yang lelah, Karina mendengar klakson mobil dibelakangnya. Karina menoleh ke belakang, dan melihat sedan hitam yang sangat familiar mendekatinya.&#xA;&#xA;&#34;Butuh tumpangan neng?&#34; Giselle tersenyum sambil menopang dagunya di jendela mobil yang telah diturunkan. Karina tersenyum secara reflek melihat gadis didepannya.&#xA;&#xA;&#34;My savior&#34; Karina mengelus-elus pipi Giselle dengan kedua tangannya sambil tersenyum. Rasanya itu adalah senyum pertamanya hari ini.&#xA;&#xA;&#34;Ayo buruan naik, udah mau malem.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kita ke apartemen kamu hari ini. Wajahmu udah kelihatan kaya wajah-wajah pengen buruan tidur.&#34; Ucap Giselle sambil tertawa setelah Karina masuk ke mobilnya.&#xA;&#xA;&#34;You know me so well.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Okay let&#39;s go!&#34; Giselle menjalankan mobilnya menuju apartemen.&#xA;&#xA;Perjalanan menuju apartemennya tidaklah jauh, hanya sekitar 20 menit perjalanan. Jalanan sore ini tentu saja macet seperti biasa. Karina merasa matanya sangat berat. Berada di jok mobil yang nyaman dan dingin membuat tubuhnya yang sudah kelelahan menjadi sangat mengantuk.&#xA;&#xA;&#34;Tidur aja Rin.&#34; Karina merasakan Giselle mengelus tangan kanannya. Karina memejamkan matanya yang sudah tidak kuat lagi menahan kantuk. Giselle yang melihat Karina akhirnya menyerah pada kantuknya yang sudah ia tahan dari tadi tersenyum. Karina terlihat lucu karena memaksa membuka matanya sedari tadi.&#xA;&#xA;div style=&#34;text-align:center;width:100%;&#34; ♧ ♧ ♧ /div&#xA;&#xA;Karina mengucek matanya, ia sadar sedang berada di tempat parkir apartemennya.&#xA;&#xA;&#34;Udah nyampe?&#34; Karina melirik jam yang ada di dashboard mobil Giselle. Sudah jam delapan malam. Giselle pasti membiarkannya tertidur cukup lama.&#xA;&#xA;&#34;Yuk turun.&#34; Giselle mengelus pipi Karina.&#xA;&#xA;Karina semakin mendekatkan wajahnya ke tangan Giselle yang berada di pipinya. Menikmati sentuhan lembut gadis yang berada di depannya.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa gak dibangunin? Aku tidur lama pasti di mobil kamu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gapapa, bentar doang kok. Yuk naik.&#34; Giselle yang keluar lebih dahulu membukakan pintu untuk Karina yang masih terdisorientasi setelah bangun tidur. Menggandeng tangan Karina, menuntunnya menuju elevator.&#xA;&#xA;div style=&#34;text-align:center;width:100%;&#34; ♧ ♧ ♧ /div&#xA;&#xA;Begitu masuk kedalam apartemen, Giselle langsung memegang kedua tangannya. Perlakuan Giselle yang tiba-tiba membuat otak Karina sedikit eror. Giselle menatapnya intens dengan senyuman yang tidak terlepas dari wajahnya.&#xA;&#xA;&#34;Kamu pasti lupa ini hari apa.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ini hari senin Giselle, mana mungkin aku lupa.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nope, hari ini bukan hari senin biasa.&#34; Giselle menarik kedua tangannya, mendekatkan tubuh mereka.&#xA;&#xA;&#34;Today is your birthday silly, kamu lupa ya?&#34; Ucap Giselle tepat di telinganya sambil berbisik.&#xA;&#xA;&#34;Gapapa, hari ini ulang tahun kamu, tapi aku orang yang seharusnya paling merayakan hari ini. Aku sangat bahagia kamu hadir di dunia ini Karina. Dan aku lebih bahagia kamu hadir di dalam duniaku. Terima kasih Rin, I love you.&#34;&#xA;&#xA;Karina tertawa, ia membenamkan wajahnya ke ceruk leher Giselle. Karina menggigit bibir bawahnya, menikmati setiap kontak tubuh Giselle yang ia rasakan dengan pelukannya.&#xA;&#xA;&#34;Kamu lupa gapapa, karena ada aku yang bakalan selalu ngingetin kamu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Thank you Gi, and I love you too.&#34; Karina membalas Giselle dengan lembut.&#xA;&#xA;Karina menciumi leher Giselle setelah mengungkapkan rasa terima kasihnya. Karina sedang mempertimbangkan untuk membuat hickey di leher Giselle sebagai tanda apresiasi. Ia mendengar Giselle melenguh dengan perbuatannya dan menarik wajahnya menjauh.&#xA;&#xA;Karina mencium bibir Giselle dengan intens. Tidak memberikan kesempatan untuk Giselle menghentikannya. Giselle yang sedari tadi menahan diri membalas ciuman Karina. Menggigit bibir bawah Karina, memasukkan lidahnya.&#xA;&#xA;&#34;Aku masak tadi.&#34; Ucap Giselle di sela ciuman mereka.&#xA;&#xA;&#34;You what?&#34; Karina bertanya dengan dahi mereka yang bersentuhan. Matanya masih terpejam dengan nafas terengah. Tangannya masih ia kalungkan ke leher Giselle.&#xA;&#xA;&#34;Aku masak buat kamu tadi, sekarang dingin sih pasti, perlu dipanasin bentar.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kalo boleh jujur sebenernya aku laper, tapi aku gak keberatan buat makan kamu dulu sebelum makan malam.&#34;&#xA;&#xA;Giselle memukul bahunya dengan keras, lalu berbalik menuju dapur.&#xA;&#xA;&#34;Ganti baju sana, aku panasin makanannya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nanti abis dinner juga gapapa sih.&#34; Ucap Karina dengan nada menggoda.&#xA;&#xA;&#34;Ganti baju, sekarang!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya iya, ini berangkat ganti baju. Kamu mau aku pake lingerie atau engga?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ku lempar pake sendok nih!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ampun Giii.&#34; Karina berlari menuju kamarnya sambil tertawa karena berhasil menggoda Giselle.&#xA;&#xA;div style=&#34;text-align:center;width:100%;&#34; ♧ ♧ ♧ /div&#xA;&#xA;Karina dan Giselle duduk berhadap-hadapan di meja makan. Mata Karina terus mengikuti pergerakan Giselle yang sedang menyiapkan makan malam mereka. Karina ingin memeluk Giselle dari belakang saat melihatnya, namun ia tahu, bukannya romantis, ia akan dipukuli lagi oleh Giselle. Jadi ia memutuskan untuk menatapnya saja.&#xA;&#xA;&#34;Siapin alat makannya sana, jangan ngelihatin aku mulu.&#34; Ucap Giselle tanpa menoleh ke belakang.&#xA;&#xA;&#34;Iyaa, kusiapin nih.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ini juga udah beres masakannya.&#34; Giselle menata masakannya di meja makan.&#xA;&#xA;Mereka berdua makan berhadap-hadapan. Di meja makan dekat dengan dapur. Sambil bercerita tentang kegiatan masing-masing hari ini. &#xA;&#xA;Giselle mendengarkan celotehnya tentang harinya yang menyebalkan. Giselle berjanji akan mengambil mobil Karina untuknya esok hari sambil terus tertawa. Menertawakan harinya yang begitu sial.&#xA;&#xA;Karina menyadarinya kini, hanya dengan menatap Giselle yang sedang tertawa di depannya. Sambil menopang dagu di meja makan apartemennya dan menggenggam tangan Giselle. Menceritakan semua kesialan yang dialaminya pada Giselle hari ini. Ia merasa bahwa semua itu sudah cukup, ia merasa begitu bahagia. Ia merasa sudah memiliki segalanya di dunia ini.&#xA;&#xA;Ia merasa kesialannya hari ini di kantor tidak lebih dari hal lucu yang membuat Gisellenya tertawa. Semua rasa lelahnya hari ini sirna. Hanya dengan menatap Giselle yang sedang menertawakan dirinya. Gisellenya, miliknya, hanya dirinya. &#xA;&#xA;Karina mencium tangan Giselle yang sedang ia genggam.&#xA;&#xA;&#34;Makasih Gi, kamu bikin hari ini gak seratus persen menyebalkan buat aku.&#34;&#xA;&#xA;Giselle beralih duduk di paha Karina. Menyeringgai penuh kemenangan saat melihat telinga Karina memerah. Giselle menggigit daun telinga Karina dengan lembut sambil berbisik. &#xA;&#xA;&#34;To end this day, should we try the lingerie that you&#39;re talking about earlier?&#34;&#xA;&#xA;div style=&#34;text-align:center;width:100%;&#34;♧ ♧ ♧/div ]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><strong>“It&#39;s your birthday, but I&#39;m the one who should be celebrating the most. I&#39;m so glad you came into this world, and I&#39;m even more glad you came into my world.”</strong></p></blockquote>

<div style="text-align:center;width:100%;"> ♧ ♧ ♧ </div>

<p>Karina merasa, jika ia harus berada di kantornya lebih lama lagi, punggungnya akan menyerah menopang tubuhnya. Jadi ia putuskan untuk menyudahi pekerjaannya dan pulang ke apartemen. Pekerjaan kantornya hari ini terasa dua kali lipat lebih menyebalkan dari hari biasa.
</p>

<p>Kepala divisi mencecarnya karena font yang dipakai oleh bawahannya tidak sesuai dengan yang diinginkan. Padahal bawahannya yang membuat itu, bukan dirinya. Karina ingin menjambak anak buahnya, tapi itu hanya akan mencoreng citranya sendiri, jadi ia hanya menyuruh bawahannya untuk mengerjakannya kembali.</p>

<p>Klien yang ia temui hari ini adalah tipikal klien dengan sifat menyebalkan sejak lahir, banyak mau dan suka mencaci. Selesai meeting dengan klien itu, umur Karina serasa baru saja berkurang sepuluh tahun. Energinya benar-benar terkuras habis.</p>

<p>Matahari sudah berada di ufuk barat saat ia menginjakkan kaki di lantai dasar kantornya. Membayangkan dirinya yang masih harus berjalan menuju halte, naik bus, dan berjalan lagi sampai apartemennya, ingin rasanya Karina pingsan di tempat. Lalu dibawa dengan tandu, masuk ambulance, dan diperiksa dokter di IGD. Paling tidak dengan begitu ia tidak harus menggunakan kakinya.</p>

<p>Tapi ia tidak bisa bersandiwara, yang ada nanti satpam kantor akan menertawakannya karena ketahuan berpura-pura. Semua kesialan ini diawali dengan mobilnya yang memutuskan bahwa hari ini adalah hari yang tepat untuk rusak. Ia harus menelfon bengkel, menunggu mobilnya diderek, dan berjalan ke kantornya.</p>

<p>Ia terlambat datang 20 menit, menerima nasib bahwa gajinya harus dipotong bulan ini. Melihat manager divisi sebelah yang terus-terusan menggangunya dengan gombalan tidak penting membuatnya malas mampir ke cafe untuk membeli sarapan. Tidak ingin mendapatkan gombalan tidak penting dari pagi, ia langsung naik ke lantai atas. Ia harus menahan lapar hingga jam makan siang. Sungguh hari yang menyebalkan.</p>

<p>Ditengah pikirannya yang sibuk dan tubuhnya yang lelah, Karina mendengar klakson mobil dibelakangnya. Karina menoleh ke belakang, dan melihat sedan hitam yang sangat familiar mendekatinya.</p>

<p>“Butuh tumpangan neng?” Giselle tersenyum sambil menopang dagunya di jendela mobil yang telah diturunkan. Karina tersenyum secara reflek melihat gadis didepannya.</p>

<p>“My savior” Karina mengelus-elus pipi Giselle dengan kedua tangannya sambil tersenyum. Rasanya itu adalah senyum pertamanya hari ini.</p>

<p>“Ayo buruan naik, udah mau malem.”</p>

<p>“Kita ke apartemen kamu hari ini. Wajahmu udah kelihatan kaya wajah-wajah pengen buruan tidur.” Ucap Giselle sambil tertawa setelah Karina masuk ke mobilnya.</p>

<p>“You know me so well.”</p>

<p>“Okay let&#39;s go!” Giselle menjalankan mobilnya menuju apartemen.</p>

<p>Perjalanan menuju apartemennya tidaklah jauh, hanya sekitar 20 menit perjalanan. Jalanan sore ini tentu saja macet seperti biasa. Karina merasa matanya sangat berat. Berada di jok mobil yang nyaman dan dingin membuat tubuhnya yang sudah kelelahan menjadi sangat mengantuk.</p>

<p>“Tidur aja Rin.” Karina merasakan Giselle mengelus tangan kanannya. Karina memejamkan matanya yang sudah tidak kuat lagi menahan kantuk. Giselle yang melihat Karina akhirnya menyerah pada kantuknya yang sudah ia tahan dari tadi tersenyum. Karina terlihat lucu karena memaksa membuka matanya sedari tadi.</p>

<div style="text-align:center;width:100%;"> ♧ ♧ ♧ </div>

<p>Karina mengucek matanya, ia sadar sedang berada di tempat parkir apartemennya.</p>

<p>“Udah nyampe?” Karina melirik jam yang ada di dashboard mobil Giselle. Sudah jam delapan malam. Giselle pasti membiarkannya tertidur cukup lama.</p>

<p>“Yuk turun.” Giselle mengelus pipi Karina.</p>

<p>Karina semakin mendekatkan wajahnya ke tangan Giselle yang berada di pipinya. Menikmati sentuhan lembut gadis yang berada di depannya.</p>

<p>“Kenapa gak dibangunin? Aku tidur lama pasti di mobil kamu.”</p>

<p>“Gapapa, bentar doang kok. Yuk naik.” Giselle yang keluar lebih dahulu membukakan pintu untuk Karina yang masih terdisorientasi setelah bangun tidur. Menggandeng tangan Karina, menuntunnya menuju elevator.</p>

<div style="text-align:center;width:100%;"> ♧ ♧ ♧ </div>

<p>Begitu masuk kedalam apartemen, Giselle langsung memegang kedua tangannya. Perlakuan Giselle yang tiba-tiba membuat otak Karina sedikit eror. Giselle menatapnya intens dengan senyuman yang tidak terlepas dari wajahnya.</p>

<p>“Kamu pasti lupa ini hari apa.”</p>

<p>“Ini hari senin Giselle, mana mungkin aku lupa.”</p>

<p>“Nope, hari ini bukan hari senin biasa.” Giselle menarik kedua tangannya, mendekatkan tubuh mereka.</p>

<p>“Today is your birthday silly, kamu lupa ya?” Ucap Giselle tepat di telinganya sambil berbisik.</p>

<p>“Gapapa, hari ini ulang tahun kamu, tapi aku orang yang seharusnya paling merayakan hari ini. Aku sangat bahagia kamu hadir di dunia ini Karina. Dan aku lebih bahagia kamu hadir di dalam duniaku. Terima kasih Rin, I love you.”</p>

<p>Karina tertawa, ia membenamkan wajahnya ke ceruk leher Giselle. Karina menggigit bibir bawahnya, menikmati setiap kontak tubuh Giselle yang ia rasakan dengan pelukannya.</p>

<p>“Kamu lupa gapapa, karena ada aku yang bakalan selalu ngingetin kamu.”</p>

<p>“Thank you Gi, and I love you too.” Karina membalas Giselle dengan lembut.</p>

<p>Karina menciumi leher Giselle setelah mengungkapkan rasa terima kasihnya. Karina sedang mempertimbangkan untuk membuat hickey di leher Giselle sebagai tanda apresiasi. Ia mendengar Giselle melenguh dengan perbuatannya dan menarik wajahnya menjauh.</p>

<p>Karina mencium bibir Giselle dengan intens. Tidak memberikan kesempatan untuk Giselle menghentikannya. Giselle yang sedari tadi menahan diri membalas ciuman Karina. Menggigit bibir bawah Karina, memasukkan lidahnya.</p>

<p>“Aku masak tadi.” Ucap Giselle di sela ciuman mereka.</p>

<p>“You what?” Karina bertanya dengan dahi mereka yang bersentuhan. Matanya masih terpejam dengan nafas terengah. Tangannya masih ia kalungkan ke leher Giselle.</p>

<p>“Aku masak buat kamu tadi, sekarang dingin sih pasti, perlu dipanasin bentar.”</p>

<p>“Kalo boleh jujur sebenernya aku laper, tapi aku gak keberatan buat makan kamu dulu sebelum makan malam.”</p>

<p>Giselle memukul bahunya dengan keras, lalu berbalik menuju dapur.</p>

<p>“Ganti baju sana, aku panasin makanannya.”</p>

<p>“Nanti abis dinner juga gapapa sih.” Ucap Karina dengan nada menggoda.</p>

<p>“Ganti baju, sekarang!”</p>

<p>“Iya iya, ini berangkat ganti baju. Kamu mau aku pake lingerie atau engga?”</p>

<p>“Ku lempar pake sendok nih!”</p>

<p>“Ampun Giii.” Karina berlari menuju kamarnya sambil tertawa karena berhasil menggoda Giselle.</p>

<div style="text-align:center;width:100%;"> ♧ ♧ ♧ </div>

<p>Karina dan Giselle duduk berhadap-hadapan di meja makan. Mata Karina terus mengikuti pergerakan Giselle yang sedang menyiapkan makan malam mereka. Karina ingin memeluk Giselle dari belakang saat melihatnya, namun ia tahu, bukannya romantis, ia akan dipukuli lagi oleh Giselle. Jadi ia memutuskan untuk menatapnya saja.</p>

<p>“Siapin alat makannya sana, jangan ngelihatin aku mulu.” Ucap Giselle tanpa menoleh ke belakang.</p>

<p>“Iyaa, kusiapin nih.”</p>

<p>“Ini juga udah beres masakannya.” Giselle menata masakannya di meja makan.</p>

<p>Mereka berdua makan berhadap-hadapan. Di meja makan dekat dengan dapur. Sambil bercerita tentang kegiatan masing-masing hari ini.</p>

<p>Giselle mendengarkan celotehnya tentang harinya yang menyebalkan. Giselle berjanji akan mengambil mobil Karina untuknya esok hari sambil terus tertawa. Menertawakan harinya yang begitu sial.</p>

<p>Karina menyadarinya kini, hanya dengan menatap Giselle yang sedang tertawa di depannya. Sambil menopang dagu di meja makan apartemennya dan menggenggam tangan Giselle. Menceritakan semua kesialan yang dialaminya pada Giselle hari ini. Ia merasa bahwa semua itu sudah cukup, ia merasa begitu bahagia. Ia merasa sudah memiliki segalanya di dunia ini.</p>

<p>Ia merasa kesialannya hari ini di kantor tidak lebih dari hal lucu yang membuat Gisellenya tertawa. Semua rasa lelahnya hari ini sirna. Hanya dengan menatap Giselle yang sedang menertawakan dirinya. Gisellenya, miliknya, hanya dirinya.</p>

<p>Karina mencium tangan Giselle yang sedang ia genggam.</p>

<p>“Makasih Gi, kamu bikin hari ini gak seratus persen menyebalkan buat aku.”</p>

<p>Giselle beralih duduk di paha Karina. Menyeringgai penuh kemenangan saat melihat telinga Karina memerah. Giselle menggigit daun telinga Karina dengan lembut sambil berbisik.</p>

<p>“To end this day, should we try the lingerie that you&#39;re talking about earlier?”</p>

<div style="text-align:center;width:100%;">♧ ♧ ♧</div> 
]]></content:encoded>
      <guid>https://wordsmith.social/karisellelogs/birthday-dinner</guid>
      <pubDate>Mon, 11 Apr 2022 12:12:07 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Ice Cream Love</title>
      <link>https://wordsmith.social/karisellelogs/ice-cream-love</link>
      <description>&lt;![CDATA[  &#34;Bahasaku yang cuma rasa, susah untuk melekat pada kata-kata&#34; -- Dewi Lestari&#xA;&#xA;iframe width=&#34;100%&#34; height=&#34;166&#34; scrolling=&#34;no&#34; frameborder=&#34;no&#34; allow=&#34;autoplay&#34; src=&#34;https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1168243651&amp;color=%23a4946c&amp;autoplay=true&amp;hiderelated=false&amp;showcomments=true&amp;showuser=true&amp;showreposts=false&amp;showteaser=true&#34;/iframediv style=&#34;font-size: 10px; color: #cccccc;line-break: anywhere;word-break: normal;overflow: hidden;white-space: nowrap;text-overflow: ellipsis; font-family: Interstate,Lucida Grande,Lucida Sans Unicode,Lucida Sans,Garuda,Verdana,Tahoma,sans-serif;font-weight: 100;&#34;a href=&#34;https://soundcloud.com/l2shareost41&#34; title=&#34;L2ShareOST41&#34; target=&#34;blank&#34; style=&#34;color: #cccccc; text-decoration: none;&#34;L2ShareOST41/a · a href=&#34;https://soundcloud.com/l2shareost41/wheein-ice-cream-love-one-ordinary-day-ost-part-1&#34; title=&#34;Whee In (휘인) - Ice Cream Love (One Ordinary Day 어느 날 OST Part 1)&#34; target=&#34;blank&#34; style=&#34;color: #cccccc; text-decoration: none;&#34;Whee In (휘인) - Ice Cream Love (One Ordinary Day 어느 날 OST Part 1)/a/div&#xA;Musiknya bisa diputar dengan &#34;listen in browser&#34; button&#xA;&#xA;div style=&#34;text-align:center;width:100%;&#34; ♧ ♧ ♧ /div&#xA;&#xA;&#34;Jadi gamau nih es krimnya?&#34; Giselle yang sedang duduk di sofa bertanya. Ia menatap Karina dengan menopang dagunya, bersandar ke sandaran sofa. Kekasihnya sangat menggemaskan hari ini. Katakanlah itu karakter bawaan lahir Giselle, ia memang tidak pernah bagus perihal berterus terang pada orang lain.!--more--&#xA;&#xA;Dibandingkan mengatakannya, Giselle lebih suka melakukannya langsung saja. Jika Karina meminta hal remeh, tidak peduli ia sedang mengerjakan tugas bersama teman kuliahnya, ia akan bergegas mengabulkannya. Urusan menghadapi kemarahan mereka, ia akan memikirkannya nanti saja. Jadi Ningning memang benar jika mengatakan bahwa ia budak cinta Karina.&#xA;&#xA;&#34;Jadi mau dong!&#34; Karina bergegas melemparkan dirinya disamping Giselle, mengambil es krim yang ia pesan tadi. &#34;Emang paling bener, siang-siang tuh ngemil yang seger-seger.&#34; Karina mengutarakan kebahagiaanya.&#xA;&#xA;Karina lalu bersandar ke bahu Giselle, dan berkata &#34;Makasih ya, pacar aku emang yang paling baik sedunia. Aku yakin kamu sibuk, tapi masih nyempetin beliin aku. Padahal aku cuma iseng loh Gi, ga dibeliin juga gapapa. Gimana ceritanya dulu aku bisa dapetin kamu, gak ada habisnya aku bersyukur. Kamu pacar terbaik yang ada di muka bumi! Dan kamu cuma punya aku.&#34;&#xA;&#xA;Berkebalikan dengannya, Karina merupakan tipe yang sering mengutarakan isi pikirannya. Ia selalu memberikan kata-kata manis kepadanya. Dengan tutur bahasanya yang lembut, Karina sering kali mengatakan apa yang ada di hatinya. Tanpa malu-malu seperti sekarang, sambil memakan es krim, bersandar di bahunya.&#xA;&#xA;Karina selalu memastikan Giselle tau, apa yang ia rasakan. Tidak menyisakan ruang bagi Giselle untuk menerka-nerka. Meskipun Giselle tidak bagus di dalam berkata-kata, ia berharap perlakuannya sudah bisa meneriakkan perasaannya pada Karina. Bahwa Karina sangat berharga baginya, dan ia tak mau kehilangan Karina.&#xA;&#xA;Giselle hanya berdehem menanggapi pidato panjang Karina, &#34;Kamu ga ada kelas Rin?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Si bapak batalin kelasnya siang ini, untung aku belum tancap gas. Tapi sebel, rugi aku mandi tadi gak jadi berangkat.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mana ada mandi rugi?? Tolong jangan pelit-pelit banget mandi Rinnn, kasian temenmu.&#34;&#xA;&#xA;Karina memukul paha Giselle menanggapi ejekannya. &#34;Ih! Nyebelin.&#34; &#xA;&#xA;Karina tidak pernah mempermasalahkan sifatnya yang sulit mengutarakan perasaan itu. Ia rasa, Karina mengerti, bahwa Giselle memang sangat buruk di dalam mengutarakan perasaan. Giselle juga bukan tipe yang memaksa orang lain untuk mengerti perasaannya, karena ia sadar bahwa kebanyakan orang tidak akan mengerti.&#xA;&#xA;Namun berbeda dengan Karina, dengannya ia merasa dimengerti tanpa perlu menjelaskan. Seperti ketika Karina tiba-tiba memegang tangannya, membisikkan &#34;Aku disini, jagain kamu, gak usah takut.&#34; Ketika ia dengan susah payah menahan ketakutannya akan ketinggian. Ia tidak bisa mengatakannya kepada orang lain bahwa ia tidak suka, ia takut akan merusak kesenangan teman-temannya.&#xA;&#xA;Bisikan itu membuatnya menoleh ke arah Karina, melihat senyuman menenangkan yang gadis itu berikan padanya. Ketika itu juga ia sadar, bahwa gadis itu adalah orang yang tepat baginya. Di tengah terpaan angin kencang yang melewati jendela bianglala di pasar malam, ia menyadari betapa berharga Karina baginya. Gadis yang mampu mengerti dirinya tanpa perlu kata-kata.&#xA;&#xA;Giselle berharap Karina tahu, betapa bersyukurnya juga ia dengan kehadiran gadis itu dihidupnya. Karena kata-kata bukanlah sahabatnya, maka ia memilih untuk menunjukkan pada Karina betapa bersyukurnya ia. Dan Giselle-pun berdiri, lalu menghadapkan tubuhnya ke Karina.&#xA;&#xA;Giselle menunduk, mengelus pipi Karina dengan tangan kanannya, menatap Karina dengan intens. Ia perlahan mendekatkan wajahnya, bibir mereka hanya berjarak beberapa centi saja. Giselle mengecup pelan bibir Karina.&#xA;&#xA;Menjauhkan wajahnya, untuk melihat reaksi Karina. Ia begitu suka ketika melihat telinga Karina memerah, selalu begitu tanpa gagal. Lalu Karina mengalungkan tangannya yang masih memegang es krim ke leher Giselle, menariknya lagi untuk mencium bibirnya. Giselle merasa kepalanya seringan kapas yang berterbangan, adrenalinnya terpompa.&#xA;&#xA;Giselle memposisikan dirinya untuk duduk di pangkuan Karina. Bertumpu pada lututnya, ia menghimpit paha Karina. Terus melumat bibir kekasihnya. Tangannya ia gerakkan secara perlahan dari pipi ke tengkuk Karina. Mereka saling memangut dengan intens. Giselle memasukkan tangannya ke sela-sela rambut Karina yang lebat, sedikit menarik rambutnya.&#xA;&#xA;Karina melenguh tanda menyukai apa yang Giselle lakukan. Mereka saling menjauh untuk mengambil nafas. Giselle menatap mata Karina yang begitu cantik, ia tersenyum. Lalu ia meraih tangan kanan Karina yang masih melingkar di lehernya. Es krim stroberi yang masih Karina pegang tadi meleleh ke jemarinya. Giselle melihat jemari Karina, lalu menjilati lelehan es krim itu. &#xA;&#xA;  I took her delicate hand in mine and pressed it to my lips. Softly kissing each finger. “Every second spent with you is a lifetime. Every hour—an eternity.” -- Michael Faudet&#xA;&#xA;Giselle bisa melihat mata kekasihnya melebar, tanda keterkejutan. Setelah bersih, ia menciumi jemari Karina, seolah itu adalah hal yang sangat berharga. Karina menatap dalam kekasihnya, dan menarik lagi Giselle untuk mencium bibirnya. &#34;I love you too.&#34; Karina berbisik di sela ciuman mereka.&#xA;&#xA;Giselle yang mendengar itu memperdalam ciuman mereka, memangut bibir bawah Karina. Mendekatkan tubuhnya ke tubuh Karina, mempertipis jarak mereka. Mereka terus saling melumat bibir sampai kehabisan nafas. &#xA;&#xA;Tangan Giselle berpindah ke bawah,  meraih ujung baju yang dipakai Karina. Memasukkan tangannya kedalam, mengelus pinggang Karina secara langsung. Kulit bertemu kulit. Giselle merasakan Karina mendesah disela ciuman mereka.&#xA;&#xA;Giselle mengalihkan ciumannya ke pipi, dagu, lalu ke leher Karina. Karina menengadahkan kepalanya, menikmati perlakuan Giselle pada lehernya. Tangannya naik, membuat baju Karina tersingkap sebatas perutnya yg rata.&#xA;&#xA;&#34;Babe...&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm...&#34; Giselle terus melanjutkan pekerjaannya membuat tanda di leher Karina yang jenjang.&#xA;&#xA;&#34;Kalo kita lanjutin ini terus, I don&#39;t think I can hold myself.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Jangan ditahan kalo gitu Rin, simple.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Not that simple, soalnya aku bisa dibunuh Ryujin kalo kamu gak buruan balik ke rumah dia.&#34;&#xA;&#xA;Giselle menghentikan ciumannya ke leher Karina. Lalu memeluk kekasihnya, menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Karina. Menghirup dalam-dalam aroma sabun kekasihnya, menenangkan detak jantungnya yang berpacu. &#34;Jadi emang bener kamu abis mandi tadi, bau sabun.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Fokus babe, fokus. Aku bisa beneran dibunuh Ryujin&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gampang nanti aku bunuh duluan sebelum sempet deketin kamu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dia bilang kamu kabur dari kerja kelompok kalian, dan masih banyak yang harus dikerjain.&#34;&#xA;&#xA;Giselle tetap diam sambil memeluk Karina, merasakan detak jantung kekasihnya yang juga masih berpacu dengan cepat. Mendengar Karina yang mengatakan dia juga mencintainya membuat keyakinan Giselle bertambah. Bahwa Karina bisa mengerti apa yang ia rasakan tanpa ia berkata-kata.&#xA;&#xA;  &#34;Dalam diammu, aku mendengar suara. Diammu, berkata-kata&#34; -- Dewi Lestari&#xA;&#xA;&#34;Giii...&#34; Karina mulai merengek khasnya.&#xA;&#xA;&#34;Iya ini mau berdiri aku.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Es krimkuu&#34;&#xA;&#xA;Giselle berdiri dan mengambil tisu di meja, mengambil es krim dari tangan Karina. Lalu mulai membersihkan tangan Karina. &#34;Tenang aja, masih ada satu lagi di freezer.&#34;&#xA;&#xA;Karina tersenyum sangat manis mendengar itu dari Giselle. &#34;Gigi, kamu emang pacar terbaik di dunia!&#34; Karina bergegas berdiri, memeluk erat Giselle. Giselle membalas pelukannya sambil tersenyum, ia merasa seperti manusia paling bahagia di muka bumi.&#xA;&#xA;div style=&#34;text-align:center;width:100%;&#34; ♧ ♧ ♧ /div]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><strong>“Bahasaku yang cuma rasa, susah untuk melekat pada kata-kata”</strong> — Dewi Lestari</p></blockquote>

<p><iframe height="166" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1168243651&amp;color=%23a4946c&amp;auto_play=true&amp;hide_related=false&amp;show_comments=true&amp;show_user=true&amp;show_reposts=false&amp;show_teaser=true"></iframe><div style="font-size: 10px; color: #cccccc;line-break: anywhere;word-break: normal;overflow: hidden;white-space: nowrap;text-overflow: ellipsis; font-family: Interstate,Lucida Grande,Lucida Sans Unicode,Lucida Sans,Garuda,Verdana,Tahoma,sans-serif;font-weight: 100;"><a href="https://soundcloud.com/l2shareost41" title="L2ShareOST41" target="_blank" style="color: #cccccc; text-decoration: none;" rel="nofollow noopener">L2ShareOST41</a> · <a href="https://soundcloud.com/l2shareost41/wheein-ice-cream-love-one-ordinary-day-ost-part-1" title="Whee In (휘인) - Ice Cream Love (One Ordinary Day 어느 날 OST Part 1)" target="_blank" style="color: #cccccc; text-decoration: none;" rel="nofollow noopener">Whee In (휘인) – Ice Cream Love (One Ordinary Day 어느 날 OST Part 1)</a></div>
<em>Musiknya bisa diputar dengan “listen in browser” button</em></p>

<div style="text-align:center;width:100%;"> ♧ ♧ ♧ </div>

<p>“Jadi gamau nih es krimnya?” Giselle yang sedang duduk di sofa bertanya. Ia menatap Karina dengan menopang dagunya, bersandar ke sandaran sofa. Kekasihnya sangat menggemaskan hari ini. Katakanlah itu karakter bawaan lahir Giselle, ia memang tidak pernah bagus perihal berterus terang pada orang lain.</p>

<p>Dibandingkan mengatakannya, Giselle lebih suka melakukannya langsung saja. Jika Karina meminta hal remeh, tidak peduli ia sedang mengerjakan tugas bersama teman kuliahnya, ia akan bergegas mengabulkannya. Urusan menghadapi kemarahan mereka, ia akan memikirkannya nanti saja. Jadi Ningning memang benar jika mengatakan bahwa ia budak cinta Karina.</p>

<p>“Jadi mau dong!” Karina bergegas melemparkan dirinya disamping Giselle, mengambil es krim yang ia pesan tadi. “Emang paling bener, siang-siang tuh ngemil yang seger-seger.” Karina mengutarakan kebahagiaanya.</p>

<p>Karina lalu bersandar ke bahu Giselle, dan berkata “Makasih ya, pacar aku emang yang paling baik sedunia. Aku yakin kamu sibuk, tapi masih nyempetin beliin aku. Padahal aku cuma iseng loh Gi, ga dibeliin juga gapapa. Gimana ceritanya dulu aku bisa dapetin kamu, gak ada habisnya aku bersyukur. Kamu pacar terbaik yang ada di muka bumi! Dan kamu cuma punya aku.”</p>

<p>Berkebalikan dengannya, Karina merupakan tipe yang sering mengutarakan isi pikirannya. Ia selalu memberikan kata-kata manis kepadanya. Dengan tutur bahasanya yang lembut, Karina sering kali mengatakan apa yang ada di hatinya. Tanpa malu-malu seperti sekarang, sambil memakan es krim, bersandar di bahunya.</p>

<p>Karina selalu memastikan Giselle tau, apa yang ia rasakan. Tidak menyisakan ruang bagi Giselle untuk menerka-nerka. Meskipun Giselle tidak bagus di dalam berkata-kata, ia berharap perlakuannya sudah bisa meneriakkan perasaannya pada Karina. Bahwa Karina sangat berharga baginya, dan ia tak mau kehilangan Karina.</p>

<p>Giselle hanya berdehem menanggapi pidato panjang Karina, “Kamu ga ada kelas Rin?”</p>

<p>“Si bapak batalin kelasnya siang ini, untung aku belum tancap gas. Tapi sebel, rugi aku mandi tadi gak jadi berangkat.”</p>

<p>“Mana ada mandi rugi?? Tolong jangan pelit-pelit banget mandi Rinnn, kasian temenmu.”</p>

<p>Karina memukul paha Giselle menanggapi ejekannya. “Ih! Nyebelin.”</p>

<p>Karina tidak pernah mempermasalahkan sifatnya yang sulit mengutarakan perasaan itu. Ia rasa, Karina mengerti, bahwa Giselle memang sangat buruk di dalam mengutarakan perasaan. Giselle juga bukan tipe yang memaksa orang lain untuk mengerti perasaannya, karena ia sadar bahwa kebanyakan orang tidak akan mengerti.</p>

<p>Namun berbeda dengan Karina, dengannya ia merasa dimengerti tanpa perlu menjelaskan. Seperti ketika Karina tiba-tiba memegang tangannya, membisikkan “Aku disini, jagain kamu, gak usah takut.” Ketika ia dengan susah payah menahan ketakutannya akan ketinggian. Ia tidak bisa mengatakannya kepada orang lain bahwa ia tidak suka, ia takut akan merusak kesenangan teman-temannya.</p>

<p>Bisikan itu membuatnya menoleh ke arah Karina, melihat senyuman menenangkan yang gadis itu berikan padanya. Ketika itu juga ia sadar, bahwa gadis itu adalah orang yang tepat baginya. Di tengah terpaan angin kencang yang melewati jendela bianglala di pasar malam, ia menyadari betapa berharga Karina baginya. Gadis yang mampu mengerti dirinya tanpa perlu kata-kata.</p>

<p>Giselle berharap Karina tahu, betapa bersyukurnya juga ia dengan kehadiran gadis itu dihidupnya. Karena kata-kata bukanlah sahabatnya, maka ia memilih untuk menunjukkan pada Karina betapa bersyukurnya ia. Dan Giselle-pun berdiri, lalu menghadapkan tubuhnya ke Karina.</p>

<p>Giselle menunduk, mengelus pipi Karina dengan tangan kanannya, menatap Karina dengan intens. Ia perlahan mendekatkan wajahnya, bibir mereka hanya berjarak beberapa centi saja. Giselle mengecup pelan bibir Karina.</p>

<p>Menjauhkan wajahnya, untuk melihat reaksi Karina. Ia begitu suka ketika melihat telinga Karina memerah, selalu begitu tanpa gagal. Lalu Karina mengalungkan tangannya yang masih memegang es krim ke leher Giselle, menariknya lagi untuk mencium bibirnya. Giselle merasa kepalanya seringan kapas yang berterbangan, adrenalinnya terpompa.</p>

<p>Giselle memposisikan dirinya untuk duduk di pangkuan Karina. Bertumpu pada lututnya, ia menghimpit paha Karina. Terus melumat bibir kekasihnya. Tangannya ia gerakkan secara perlahan dari pipi ke tengkuk Karina. Mereka saling memangut dengan intens. Giselle memasukkan tangannya ke sela-sela rambut Karina yang lebat, sedikit menarik rambutnya.</p>

<p>Karina melenguh tanda menyukai apa yang Giselle lakukan. Mereka saling menjauh untuk mengambil nafas. Giselle menatap mata Karina yang begitu cantik, ia tersenyum. Lalu ia meraih tangan kanan Karina yang masih melingkar di lehernya. Es krim stroberi yang masih Karina pegang tadi meleleh ke jemarinya. Giselle melihat jemari Karina, lalu menjilati lelehan es krim itu.</p>

<blockquote><p>I took her delicate hand in mine and pressed it to my lips. Softly kissing each finger. <strong>“Every second spent with you is a lifetime. Every hour—an eternity.”</strong> — Michael Faudet</p></blockquote>

<p>Giselle bisa melihat mata kekasihnya melebar, tanda keterkejutan. Setelah bersih, ia menciumi jemari Karina, seolah itu adalah hal yang sangat berharga. Karina menatap dalam kekasihnya, dan menarik lagi Giselle untuk mencium bibirnya. “I love you too.” Karina berbisik di sela ciuman mereka.</p>

<p>Giselle yang mendengar itu memperdalam ciuman mereka, memangut bibir bawah Karina. Mendekatkan tubuhnya ke tubuh Karina, mempertipis jarak mereka. Mereka terus saling melumat bibir sampai kehabisan nafas.</p>

<p>Tangan Giselle berpindah ke bawah,  meraih ujung baju yang dipakai Karina. Memasukkan tangannya kedalam, mengelus pinggang Karina secara langsung. Kulit bertemu kulit. Giselle merasakan Karina mendesah disela ciuman mereka.</p>

<p>Giselle mengalihkan ciumannya ke pipi, dagu, lalu ke leher Karina. Karina menengadahkan kepalanya, menikmati perlakuan Giselle pada lehernya. Tangannya naik, membuat baju Karina tersingkap sebatas perutnya yg rata.</p>

<p>“Babe...”</p>

<p>“Hmm...” Giselle terus melanjutkan pekerjaannya membuat tanda di leher Karina yang jenjang.</p>

<p>“Kalo kita lanjutin ini terus, I don&#39;t think I can hold myself.”</p>

<p>“Jangan ditahan kalo gitu Rin, simple.”</p>

<p>“Not that simple, soalnya aku bisa dibunuh Ryujin kalo kamu gak buruan balik ke rumah dia.”</p>

<p>Giselle menghentikan ciumannya ke leher Karina. Lalu memeluk kekasihnya, menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Karina. Menghirup dalam-dalam aroma sabun kekasihnya, menenangkan detak jantungnya yang berpacu. “Jadi emang bener kamu abis mandi tadi, bau sabun.”</p>

<p>“Fokus babe, fokus. Aku bisa beneran dibunuh Ryujin”</p>

<p>“Gampang nanti aku bunuh duluan sebelum sempet deketin kamu.”</p>

<p>“Dia bilang kamu kabur dari kerja kelompok kalian, dan masih banyak yang harus dikerjain.”</p>

<p>Giselle tetap diam sambil memeluk Karina, merasakan detak jantung kekasihnya yang juga masih berpacu dengan cepat. Mendengar Karina yang mengatakan dia juga mencintainya membuat keyakinan Giselle bertambah. Bahwa Karina bisa mengerti apa yang ia rasakan tanpa ia berkata-kata.</p>

<blockquote><p><strong>“Dalam diammu, aku mendengar suara. Diammu, berkata-kata”</strong> — Dewi Lestari</p></blockquote>

<p>“Giii...” Karina mulai merengek khasnya.</p>

<p>“Iya ini mau berdiri aku.”</p>

<p>“Es krimkuu”</p>

<p>Giselle berdiri dan mengambil tisu di meja, mengambil es krim dari tangan Karina. Lalu mulai membersihkan tangan Karina. “Tenang aja, masih ada satu lagi di freezer.”</p>

<p>Karina tersenyum sangat manis mendengar itu dari Giselle. “Gigi, kamu emang pacar terbaik di dunia!” Karina bergegas berdiri, memeluk erat Giselle. Giselle membalas pelukannya sambil tersenyum, ia merasa seperti manusia paling bahagia di muka bumi.</p>

<div style="text-align:center;width:100%;"> ♧ ♧ ♧ </div>
]]></content:encoded>
      <guid>https://wordsmith.social/karisellelogs/ice-cream-love</guid>
      <pubDate>Sat, 19 Mar 2022 01:43:34 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>