[3]

“Akhirnya selesai!” seruan itu terdengar kala Sagara berhasil menyelesaikan revisinya, diikuti Reza yang langsung merebahkan diri di lantai kamar Cahaya.

“Kapan bimbingan lagi kalian?” tanya Cahaya yang tengah mematikan laptopnya.

“Tiga hari lagi,” sahut Reza.

“Besok,” Sagara menjawab dengan raut masam.

Di antara ketiganya dosen pembimbingnya lah yang paling susah dan teliti, makanya Sagara selalu mengeluh ketika banyaknya revisi yang menanti.

Reza menyodorkan roti cokelat ke Sagara, “Ayah lo masih dateng lagi?” tanya pemuda itu. Sagara yang tengah mengunyah roti cokelatnya berhenti sejenak, setelahnya tertawa kecil.

“Dia mah balik kalau butuh uang aja, Za, kalau enggak mah mana inget ada gue, anaknya,” Sagara berujar santai seolah itu sudah biasa baginya.

Nyatanya memang ia sudah paham dengan kelakuan Ayahnya. Datang disaat ia butuh uang kalau tidak dapat pukulan diberikan ke Sagara, pergi dan tak pernah kembali kalau sudah memiliki uang. Seolah Sagara hanya tempat meminta uang dan dibuang ketika tak dibutuhkan. Setidak berharga itu presensinya di hidup kedua orang tuanya.

Sagara Sagara, kelahiranmu saja sudah menjadi kesalahan, kehadiranmu tak pernah diinginkan oleh mereka, karena kamu mereka terpaksa berada di satu rumah yang sama. Semua itu karena dirimu. Seharusnya ia tak pernah ada, jadi orang tuanya tidak kesulitan dan tidak saling membenci. Kalau ia tak ada hidup keduanya akan lebih baik bukan? Tidak perlu bersusah payah untuk menghidupinya.

Tetapi, apa Sagara pernah minta untuk dilahirkan? Tidak. Sagara tidak pernah meminta, kalau kehadirannya malah menjadi beban bagi orang tuanya, lebih baik ia tak usah dilahirkan, bukan?

Ketika bayi yang baru lahir disambut penuh suka cita, berbeda dengan dirinya. Terkadang ia selalu bertanya bagaimana rasanya dilimpahi kasih sayang oleh kedua orang tuanya? Pasti rasanya bahagia sekali bukan?

Entahlah ia hanya berandai-andai.

“Udah lari ke mana aja tuh pikirannya?” Cahaya menginterupsi lamunan panjang Sagara.

“Hah?”

“Jauh banget larinya pikiran lo, Cahaya sampai bisa masak mie untuk kita,” Reza menyerahkan semangkuk mie ke Sagara.

“Lo tuh kebiasaan deh, lari ke mana-mana,” keluh Cahaya.

Sagara tertawa pelan sembari memakan mie yang dibuat Cahaya tadi, kemudian berkata, “ya gitu deh.”

Cahaya menatap Sagara serius, “Bunda lo ... pernah ketemuin lo?” tanya gadis itu hati-hati.

Pertanyaan itu membuat Sagara terdiam, matanya menatap mangkuk mie di genggaman. Bundanya ya ... Sagara pun tak tahu kabar wanita yang melahirkannya itu.

“Dia mungkin udah lupa kalau ada anak yang nungguin dia, Ay,” balas Sagara.

Hal itu membuat Cahaya dan Reza saling tatap dan kemudian memilih diam, berpura-pura fokus pada semangkuk mie digenggaman.