[4]
“Aduh!” Raka mengaduh sakit ketika merasakan pukulan di lengannya, pelakunya sudah jelas Sagara. Pemuda itu kini menatapnya galak dengan bibir cemberut.
“Jangan gitu gue malah mau nyium lo jadinya, Sa,” kata Raka sembari menutup wajah Sagara dengan tangannya.
“Apa sih?” omelnya sembari menyingkirkan tangan Raka.
Raka hanya mengangkat bahu, kemudian meraih sebelah tangan Sagara dan menggenggamnya, “mau ke mana lagi?”
“Makan?”
“Ayo kita makan,” balas Raka.
“Di rumah aja deh, Ka,” pinta Sagara.
“Mau masak sendiri?”
Sagara mengangguk lagi, entah lah ia kurang menyukai makan di tempat ramai seperti ini. Sagara lebih menyukai makan berdua dengan Raka di rumahnya, dengan begitu mereka juga bisa bebas berbicara tanpa takut terdengar yang lain.
“Selamat makan!” seru Sagara.
“Selamat makan, mbul,” sahut Raka yang langsung menyantap nasi dan lauk yang dimasak oleh Sagara tadi.
Setelahnya hanya terdengar suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring.
“Eh bentar mau ambil camilan dulu,” kata Sagara setelah menyelesaikan makanannya.
“Masih makan lagi?” Raka menatapnya takjub.
Sebenarnya tak heran sih kalau Sagara selalu mencari camilan setelah acara makannya selesai, hanya Raka terkadang kagum dengan porsi makan sang kekasih. Tapi, enggak apa, biar pipinya semakin gembul dan enak dicubiti pikirnya.
“Camilan doang, Raka!”
“Iya iya camilan doang,” Raka tertawa mendengar yang lebih muda menyerukan protes.
Ia kemudian menepuk pahanya, “sini,” sembari menarik Sagara untuk duduk di pangkuannya, Sagara hanya menurut dan duduk dengan tenang di pangkuan Raka sembari mengigit kue cokelatnya.
“Makan yang banyak biar makin mbul,” katanya seraya mengelus pipi gembil itu.
Entah lah beberapa hari ini Sagara tengah sensitif, mudah menangis akan sesuatu. Biasanya perkataan Raka seperti itu tak akan membuatnya mau menangis, tetapi malam ini berbeda. Ia mati-matian menahan air matanya, supaya Raka tak khawatir.
“M-males nanti digigitin lo terus,” katanya dengan suara parau.
Raka tahu ada hal yang tengah memenuhi pikiran sang kekasih dan ia juga tahu Sagara belum mau menceritakannya, maka dia hanya diam dan mengelus pipi gembul itu. Membubuhkan kecup sesekali di sana.
“Ih jangan cium-cium terus,” omel Sagara.
“Lo lucu kayak kucing kecil.”
“Raka,” rengeknya.
Raka tertawa, kedua tangannya menangkup pipi Sagara menariknya mendekat dan mencium bibir kemerahan itu sekilas.
“Rasa cokelat,” katanya setelah mencuri satu kecupan dari Sagara.
Setelah sadar Sagara meletakan toples berisi kue miliknya di meja dan memukul pundak Raka berkali-kali.
“Nyebelin banget!”
“Dih kucing kecilnya jadi galak lagi.” Ia menahan tangan Sagara yang akan memukulnya lagi dan menarik pemuda itu kemudian, ia peluk.
“Jangan galak-galak,” kata Raka dengan tangan mengelus punggung Sagara, “tapi, enggak apa. Marah-marah atau ketawa lagi kayak biasa asal jangan sedih atau nangis, gue sedih lihatnya.”
“Gue tuh tahu kalau lo lagi kepikiran sesuatu, gue sama lo bukan baru sehari atau dua hari, Sa, tapi gue juga tahu lo belum mau cerita ke gue ya enggak masalah, biasanya juga gitu 'kan? tanpa kepaksa lo pasti cerita ke gue.”
“Yang harus lo tahu gue selalu di sini sama lo, kalau lo lagi sedih, marah atau kecewa larinya ke gue aja ya? nanti gue peluk yang lama. Jangan lari ke mana-mana, nanti gue susah nyarinya.”
Raka ini ... benar-benar sesayang itu ya sama Sagara?