[5]

“Raka,” panggil Sagara setelah meletakkan ponselnya di nakas.

Raka yang tengah duduk di kasurnya dengan laptop di pangkuan menoleh dan menatapnya bertanya, “kenapa?”

“Mau ngobrol.”

Perkataan singkat itu cukup membuat Raka paham maksud dari kekasihnya, maka dengan segera Raka menyimpan dokumen yang tengah ia perkisa dan mematikan laptopnya. Setelahnya ia bergeser memberi ruang untuk Sagara duduk di sebelahnya.

“Nah udah, mau ngobrolin apa?”

“Tapi, janji jangan marah?”

“Tergantung.”

“Raka ih!”

Raka tertawa lagi, “iya mbul janji.”

“Aku kadang mikir aku pantes enggak sih sama kamu─nanti dulu biar aku selesai cerita─kayak lihat kamu, Kak, kamu sempurna sedangkan aku? Apa sih cuma anak kuliahan yang asal usulnya juga enggak jelas.” Manik bulatnya bertatapan dengan manik Raka.

Seulas senyum tipis ia berikan sebelum kembali bersuara, “aku selalu nyusahin kamu sama permasalahanku, permasalahan keluarga aku, semua. Kamu itu pacarku atau apa masa aku buat susah terus, kamu dan sifat baik kamu. Keluarga kamu juga baik banget sama aku, hal itu terus buat aku mikir gimana cara bales kebaikan kalian? Pantes enggak aku nerima itu semua.” Dapat ia rasakan tangan itu mengusap air matanya, setelahnya mengelus pelan pipi gembul Sagara.

“Aku selalu mikirin ini mungkin sepele tapi aku selalu kepikiran sama kita, sama hubungan kita. Aku tahu kamu enggak mungkin mikir tentang aku serendah itu, tapi pikiran jelek ini selalu hadir dan aku kesel sendiri.” Sagara membawa kepalanya mendekat ke arah Raka, hingga kini hidung keduanya bersentuhan, “Raka, am i deserve to be loved by you?”

Dirasa ini waktunya bersuara Raka dengan cepat mengangguk, matanya masih tetap menatap Sagara seolah pemuda itu lah pusat dunianya. Ya, kenyataannya begitu Sagara adalah pusat dunianya, tempat Raka mencurahkan kasih sayang untuk semestanya, dunia yang amat Raka syukuri eksistensinya di hidupnya.

Dunianya memang tak seluas yang lain, mungkin juga tak seindah seperti mereka, dunianya juga memiliki banyak luka dan kekurangan, tetapi dunianya ini lah yang selalu ia pinta keberadaannya, yang selalu mau ia lihat setiap harinya. Raka hanya mau Sagara si pusat dunianya.

Dan Raka sanggup untuk terus mengeluarkan pujian akan betapa bersyukurnya ia memiliki Sagara, akan betapa ia menyayangi pemuda itu dan lainnya. Raka mampu, supaya kesayangannya itu tak lagi rendah diri, supaya Sagaranya tahu kalau ada Raka yang memujanya sebegitu dalam.

“Kamu pantas nerima itu semua, kasih sayang dari mama, papa, kakak dan aku. Kamu pantas, sayang, jangan bilang kamu enggak pantas dapatin itu semua. Saga, kamu enggak perlu mikir untuk balas itu semua, kita semua lakuin itu karena kita ingin, bukan berharap untuk dapat imbal baliknya. Karena kita semua sayang kamu, aku sayang kamu.” Satu kecupan di dahi ia berikan, “aku bukan si sempurna, Sa, kamu yang lengkapin kurangnya aku. Kamu yang ajarin aku supaya aku jalanin hidup lebih baik lagi, semuanya karena kamu.”

“Yang katanya cuma anak kuliahan yang asal usulnya enggak jelas ini, mampu buat Raka jadi pribadi yang lebih baik kayak sekarang.”

Raka ingat betul bagaimana sosok Sagara mampu merubah hidupnya telak.

“Susah emang ngendaliin pemikiran buruk itu enggak apa, Sa, jangan lupa dibagi ke aku ya? Biar kamu enggak mikirin sendirian.”

Katakan pada Sagara bagaimana ia tak bersyukur memiliki Raka di sisinya?

Maka dengan wajah basah akan air mata ia berbisik lirih, “Raka, makasih banyak. Saga sayang Raka.”

“Sama-sama, sayang. Raka juga sayang Saga.”