Biarkan Cintamu Berlalu

warning: cheating , breakup

word count: 1.786

selamat membaca!

─ ?

Rindu itu anarkis, bahkan ugal-ugalan. Sialnya lagi tak pernah berhenti, datang terus menerus tanpa kenal lelah. Tanpa tahu tempat dan waktu. Tanpa peduli kalau ia datang bawa rasa sakit bagi yang merasakan.

Rindu itu menyakitkan bagi sebagian orang. Menyelinap hadir dan bawa rasa sesak karena harus tahan rasa itu sendiri. Bukan begitu, Eric?

Entah berapa kali ia harus tahan rasa rindu itu sendiri. Telan bulat-bulat rasa kecewa ketika sang puja batalkan lagi janji-janjinya. Coba ingatkan diri kalau lelakinya tengah sibuk dengan pekerjaan, ketika ragu dominasi diri. Coba beri percaya lagi ketika rasa itu kini dipenuhi keraguan.

Ia ragu namun hatinya bilang untuk percaya. Katanya, kasihnya tak mungkin begitu. Tak mungkin khianati dan rusak rasa percaya yang ia beri.

Katakan ia bodoh, biar lah Eric hanya coba percaya pada sang kasih. Ia masih mau percaya. Walau dihantam rasa sakit dan kecewa terus-menerus, tak apa. Ia akan tunggu sedikit lagi.

“Mau sampai kapan sih lo kayak gini, Ric?” Suara Soobin kembalikan Eric ke dunia nyata. Matanya berpendar ke ruang kamarnya, ada dua temannya di sana.

“Ric,” kali ini Yiren angkat bicara ketika Eric masih diam, “tanya ke dia minta kepastian, mau diapain hubungan kalian ini. Enggak ada salahnya, Ric.” gadis itu beri tepukan pelan di bahu.

“Sekali dua kali oke lah kalau dia batalin janji karena ada kerjaan mendadak tapi, kalau lebih dari itu?” Soobin kembali berujar, “chat lo aja jarang dibales, enggak kayak sebelumnya 'kan? Yang namanya Sunwoo tuh enggak ada ceritanya abaiin semua chat lo, Ric, lo tau sendiri gimana bucinnya dia ke lo, 'kan?”

Eric benci dengar hal itu.

Eric benci karena yang Soobin ucapkan semuanya benar.

Eric benci.

Benci keadaan yang buat Sunwoo-nya berubah.

“Iya nanti gue tanya dia,” kata Eric singkat.

Yiren menatap Soobin pemuda itu hanya balas anggukan pelan, “jalan yuk? Biar enggak suntuk diem di apart aja. Gue dapet rekomendasi kafe enak deket kantor Yeji.”

Kantor Yeji berarti kantor Sunwoo juga. Ya sudah mungkin nanti ia bisa bertemu Sunwoo di sana?

“Ayo.”


Ajak Eric pergi keluar adalah jalan terbaik. Buktinya senyum manis itu kembali hiasi wajah rupawannya. Sudah mulai lontarkan candaan lagi seperti biasa. Soobin dan Yiren kembali temui sahabat mereka yang biasa.

“Bentar deh mau ke toilet dulu,” kata Eric.

Masih dengan senyum kecil Eric berjalan menuju toilet. Setidaknya siang menuju sore hari itu ia bisa ukir senyum dan uraikan tawa, berkat kedua temannya. Langkahnya ringan seolah tak lagi rasakan beban berat.

Matanya berpendar ke penjuru kafe, rasanya nyaman dan buat Eric betah berlama di sini. Hingga satu titik di pojok kafe tarik perhatiannya. Langkah kakinya ia hentikan dengan mata yang masih terpaku di sana.

Pantas semua pesannya tak pernah dibalas lagi.

Kali ini senyum getir hadir di wajah itu, ia mendongak guna halau air mata yang berebut ingin keluar. Eric bawa kakinya melangkah ke arah sebaliknya, berjalan menuju pintu keluar Kafe. Mengetikan beberapa kalimat ke dua temannya kalau ia harus pergi sekarang. Tugas mendadak dari atasan jadi alasannya kini.

Padahal ia sibuk halau rasa sesak yang datang menggerogoti, sibuk tahan air mata yang memaksa keluar.

Ia tatap jalanan melalui kaca jendela dengan pandangan kosong. Pikirannya ribut menerka apa salahnya, padahal Eric yakin kalau mereka baik-baik saja─setidaknya sebelum sebulan ini Sunwoo bertingkah aneh.

Sejujurnya Eric lelah menerka, lelah mengira-ngira, lelah mencari tahu apa salahnya. Apa yang buat Sunwoo perlahan jadi asing bagi Eric.

Mana Sunwoo yang dulu? Mana Sunwoo yang perhatian dan penuh kasih sayang? Mana Sunwoo yang selalu ada untuknya? Semua hilang dalam kurun waktu satu bulan saja.

Dalam satu bulan Eric kehilangan Sunwoo-nya.

Terkadang ia salahkan takdir kenapa begitu jahat padanya. Kenapa ikut permainkan hubungan keduanya?

“Terima kasih ya, Pak,” setelah beri uang pada sang sopir taksi, Eric bergegas masuk ke gedung apartemennya, abaikan sang sopir yang memanggil.

Eric butuh sendiri, ia butuh waktu untuk proses keadaan yang ada.

Pergantian langit sore menjadi kelabu Eric habiskan untuk menangis hingga dadanya sesak. Lelehan air mata itu jatuh bak hujan deras yang tak mau berhenti. Tubuhnya meringkuk bak bayi yang baru lahir, semakin masuk dalam selimut ketika sesak itu tak kunjung pergi.

Sunwoo, rasanya sakit sekali Eric tidak bohong.

Sunwoo, kalau bosan setidaknya selesaikan dulu urusanmu dengan Eric. Jangan dulu buat cerita yang baru.

Sunwoo, setelah semua pahit manis yang kamu lalui dengan Eric, ini caramu untuk membalas penantiannya? Ini caramu untuk balas rasa terima kasihmu?

Sunwoo, tolong ingat Eric yang ada bersamamu dititik terendahmu, membantumu untuk bangkit lagi hingga saat ini dan orang itu bukan pemuda yang ada bersamamu di kafe sore tadi. Orang itu Eric.

“Mama ... sakit banget rasanya.”

Jadi, ini yang dirasakan ibunya ketika sang ayah lebih pilih orang lain ya?


Sunwoo tahu bosan tak seharusnya jadi alasan ia abaikan pesan-pesan yang dikirimi Eric. Tak seharusnya dia batalkan janji dengan Eric, hanya untuk orang lain. Dan tak seharusnya ia buka hati untuk orang lain itu.

Awalnya keduanya hanya sekadar senior dan junior di kantor. Pemuda itu banyak membantu Sunwoo ketika ia kebingungan dan keduanya juga sering terlihat dalam satu pekerjaan yang sama. Intensitas pertemuan yang terlampau sering, buat Sunwoo tanpa sadar beri perhatian lebih pada yang lebih tua. Biarkan hatinya terbuka untuk orang lain, padahal seharusnya hanya ada satu nama di sana. Biarkan sosok itu perhalan menggeser pemeran utama dalam cerita cintanya.

Sunwoo salah langkah dan tak tahu harus bagaimana.

Ia jelas dapat bayangkan raut kecewa dan sedih tampil di wajah rupawan Eric. Selama mereka berhubungan Sunwoo tak pernah ingkari janji keduanya, tak pernah abaikan pesan Eric sesibuk apapun dia. Namun kini? Sunwoo seolah menjelma jadi sosok yang berbeda.

Jadi, sosok asing yang tak dapat Eric kenali.

“Hei, kamu baik?” Suara halus itu membuat Sunwoo sadar dari lamunan panjangnya.

Sunwoo beri gelengan singkat, “udah selesai?”

“Yuk pulang.”

Sunwoo tahu semua salahnya. Bukan salah Eric, bukan sama sekali. Eric tak pernah menuntut ini itu, Eric selalu diam dan beri semangat ketika Sunwoo bilang ia lelah. Eric selalu ada di situ menantinya, Sunwoo sadar itu.

Bahkan hingga dosa yang ia lakukan kini nama Eric masih di sana, masih pegang tahta tertinggi dalam hati Sunwoo, walau ia beri celah untuk orang baru. Nama Eric masih di sana.

Sunwoo terlalu terbuai suasana, buat ia tanpa pikir panjang lakukan sebuah kesalahan besar. Kesalahan yang tak akan bisa dimaafkan oleh Eric.

Sunwoo egois ia tahu.

Tetapi, lagi ia tak bisa menyangkal kalau pemuda itu menarik perhatiannya. Sunwoo yang tengah jenuh pada hubungannya dan Eric mulai buka celah.

Entah lah ini semua membingungkan, Sunwoo hanya berharap Eric tak tahu dan biarkan ia selesaikan hubungannya dengan seniornya di kantor.

Tetapi, Sunwoo tidak tahu kalau Eric lihat semua dengan jelas. Bagaimana ia tatap pemuda itu penuh cinta, bagaimana tangan itu beri usapan gemas, bagaimana Sunwoo beri ciuman mesra di pipi. Eric lihat semuanya namun, ia pilih diam dan bertingkah seolah tak terjadi apa-apa.

Sunwoo pun tak tahu bagaimana semua itu berdampak bagi Eric. Sunwoo tak lagi peduli dan itu menyakitkan.

Kalau ditanya apa hal yang paling Eric rindukan, ia dengan lugas akan jawab Sunwoo-nya yang dulu.

Rindu Sunwoo yang selalu beri usapan gemas, rindu Sunwoo yang selalu beri pelukan dan kecupan di pipi, Eric rindu Sunwoo yang dulu. Yang selalu jadikan Eric sebagai prioritasnya.

Terbiasa akan kehadiran Sunwoo disisi, Eric kebingungan ketika sosok itu hilang seketika dari jangkauan. Buat Eric dipaksa harus terbiasa sendiri.

Dunia, bisa tidak kembalikan Sunwoo-nya yang dulu? Karena Eric rindu setengah mati.


Apa hal terberat dalam suatu hubungan? Akan Eric jawab merelakan.

Merelakan cintanya pergi.

Melepaskan sang kasih agar bisa cari bahagia baru.

Apakah Eric sanggup?

Tidak tahu.

Buktinya sampai sekarang ia masih diam dan menunggu Sunwoo jujur kepadanya. Walau hal itu tak mungkin terjadi.

Sejujurnya Eric sedikit senang ketika Sunwoo yang dulu kembali padanya. Tetapi, Eric jelas merasa kalau semua sudah berbeda. Tak seperti dulu lagi, semua tak sama. Rasanya aneh dan canggung, Eric tak menyukai itu.

Sunwoo yang dulu ia rindukan kini perlahan kembali pulang tetapi, apa rasa itu juga ikut kembali? Atau hanya presensinya saja?

“Kok bengong?“  Sunwoo menatapnya bingung.

Eric uraikan senyum tipis, “enggak cuma agak bingung aja.”

“Bingung kenapa?”

“Aku ngerasa kayak lagi mimpi, Nu, kamu ada di deket aku lagi. Aku mikir ini nyata enggak ya? Atau ini halusinasi aku aja?” Eric tersenyum, “Udah lama enggak kayak gini ya, Nu? Biasanya kan kita sering ketemu cuma sekadar ngobrol berdua tapi, udah lama enggak kayak gitu. Jadi, ya aku seneng tapi ya bingung juga.”

Kali ini Sunwoo dibuat bungkam oleh rentetan kata yang Eric lontarkan.

Sunwoo, sudah sejauh apa kamu torehkan luka pada Eric? Dan kamu masih sanggup untuk tujukkan muka di hadapannya?

“Maaf ya,” pintanya.

“Minta maaf untuk yang mana, Nu?”

Apa maksudnya?

“Gimana?” Sunwoo tatap pemuda di hadapannya penuh tanya.

“Iya kamu minta maafnya untuk yang mana?” Eric jelaskan kembali pertanyaannya tadi, “untuk janji-janji yang kamu batalin? untuk semua pesan aku yang enggak kamu bales? Atau untuk buka hati buat orang lain?”

Eric ... darimana ia tahu?

“Eric─”

“Awalnya aku bingung kenapa kamu tiba-tiba ngejauh, suka batalin janji, pesanku enggak dibales. Aku mikir aku ada salah ya? Kok tiba-tiba kayak gitu. Tapi, aku enggak pernah nemu apa yang salah, kamu enggak pernah mau bilang,” Eric menunduk enggan menatap Sunwoo, “dari awal kita bareng aku udah sering bilang 'kan, Nu, kalau aku ada salah tolong bilang ke aku. Jangan tiba-tiba ngejauh pergi dan tiba-tiba balik seolah enggak ada apa-apa.”

“Dan juga aku pernah bilang kalau kamu bosen sama aku, sama hubungan kita kasih tau aku. Jangan buat cerita baru sedangkan cerita sama aku aja belum selesai.”

Ah mungkin ini sudah akhirnya ya? Eric harus bisa melepaskan Sunwoo, 'kan?

“Delapan tahun, bukan waktu yang sebentar ya, Nu?” Helaan napas Eric keluarkan guna halau air mata yang berebut keluar, “dan kayaknya udah cukup buat kita ambil jalan masing-masing.”

Sunwoo gelengkan kepalanya kuat, “enggak, Eric, enggak gitu. Jangan.”

“Terus mau gimana, Nu?”

“Aku minta maaf, iya aku salah maaf aja rasanya enggak cukup tapi, aku enggak mau putus.”

“Dan berharap hubungan kita bisa kayak dulu? Sadar enggak, Nu, dengan kejadian ini hubungan kita enggak akan sama seperti sebelumnya, semua pasti beda walau kita coba lagi. Hati kamu bukan untuk aku lagi.”

Sunwoo menggeleng lagi, “enggak, Eric ...”

“Rasanya enggak pernah sama, kalau kita paksa untuk tetep bareng rasanya aneh dan akan keinget masalah ini lagi. Aku enggak bisa,” kata Eric lagi, kini ia beranikan diri untuk tatap pemuda yang masih ia berikan rasa cintanya, “aku lepasin kamu walau susah.”

Dapat Eric rasakan tangan itu menggenggamnya kembali, ah pasti Eric akan merindukan hal ini.

“Bahagia ya, Nu, bahagiain kak Chanhee juga jangan disia-siain lagi.”

“Eric, please.”

Eric menggeleng, “udah ya, Nu. Aku pulang dulu, hati-hati di jalan.” Ia beri usapan pelan di surai kecokelatan itu, hal terakhir sebelum akhirnya Eric berjalan pergi tinggalkan Sunwoo sendiri di kafe.

Hari itu Eric belajar dua hal, melepaskan dan mengikhlaskan. Eric lepaskan Sunwoo agar keduanya tak menyakiti lebih dalam lagi. Eric ikhlaskan Sunwoo dan cintanya pergi.

selesai

boleh mampir kalau mau, menerima kritik saran, mau cerita atau ngobrol juga boleh, mau ngajak temenan boleh banget :D

https://secreto.site/id/19757644 https://curiouscat.qa/tofuberries