Di usia yang semakin dewasa Heeseung sadari semakin banyak beban yang dipikul. Banyak yang pergi dan datang dalam hidupnya. Kehilangan sudah jadi makanan sehari-hari.

Buat dirinya lambat laun keras pada diri sendiri, tutup diri dari orang lain.

Hari-hari terbiasa sendiri, menurutnya biasa saja tak ada yang salah. Ia menikmati kesendiriannya. Bangun, pergi kerja lalu, pulang, begitu terus hingga hari-hari selanjutnya.

Semua berjalan seperti biasa sebagaimana mestinya. Ia masih pergi bekerja dan masih lakukan hal yang biasa ia lakukan. Tetapi, ada satu presensi lain yang kini ikut andil dalam keseharian Heeseung.

Sosok yang buat Heeseung patahkan pemikiran kalau sendiri lebih baik, sosok itu mampu singkirkan semua pikiran negatif Heeseung. Sosok yang kehadirannya ternyata sangat ia butuhkan.

Sosok yang kini ia jadikan rumah. Sosok yang penuh kehangatan, yang siap peluk Heeseung kala dunia jahat padanya. Sosok yang siap dengarkan semua keluh kesahnya.

Park Jongseong bak matahari yang sinari bumi, selalu datang tak kenal lelah. Tak peduli berapa banyak penolakan yang ia dapat, ia tetap di sana menanti bumi-nya untuk menoleh.

Park Jongseong, pemuda yang mampu cairkan beku yang Heeseung buat. Jongseong datang dengan segala kehangatan yang mampu tenangkan jiwa.

Di ulang tahunnya Heeseung tak harus lagi diam ditemani sepi. Kini ada Jongseong yang hadir halau sepi dalam diri.

“Selamat ulang tahun Kakak!” lengkap dengan senyum manis dan kue di tangan.

Kemudian bersuara lagi ketika Heeseung masih diam, “make a wish dulu ayo.”

Tangannya bertaut diletakkan depan dada, mata mulai terpejam rapalkan beberapa doa dan harapan.

Aku mau bersama Jongseong sampai nanti.

Mau habiskan waktu dengannya.

Selamanya sama Jongseong tak masalah.

Tuhan, tolong untuk kali ini jangan diambil lagi.

Api di lilin padam seiring matanya terbuka untuk tatap pemuda di hadapannya.

“Yey!” Jongseong tersenyum lagi, “harapanku tahun ini masih sama, semoga bahagia terus ada dideket kakak dan dunia berhenti jahatin kesayangan aku ini. Maaf ya kadonya cuma ini aja, aku sayang kakak!”

“Kecil, makasih banyak. Enggak perlu kado, asal ada kamu aja udah cukup.” Heeseung raih tubuh itu ke pelukan, tangannya mengelus lembut kepala Jongseong dan bubuhkan kecup di kening.

“Aku sayang kamu, sayang banget. Makasih untuk enggak nyerah sama aku, makasih mau bertahan sama aku. Sama aku terus ya.”

Dapat ia rasakan dua lengan itu melingkar indah di lehernya, membalas pelukan tak kalah erat kemudian berbisik, “ayo sama-sama terus, Kak.”

Dan siapa Heeseung yang berani tolak permintaan itu?