Hal yang Jihoon benci dari Sunwoo

Hari itu berjalan lebih lama dari biasanya bagi Sunwoo dan menguras banyak tenaganya. Kuliah full dari pagi sampai sore, setelahnya rapat panitia untuk acara fakultas. Intinya Sunwoo sibuk sekali dalam minggu ini. Bahkan ia lupa kapan terakhir kali tidur nyenyak tanpa diganggu rapat dan tugas, kapan ia makan dengan baik.

“Nu, kalau sakit izin aja enggak apa. Nanti hasil rapat gue kasih tahu lewat chat,” kata Hyunjun begitu melihat sang karib lesu ditambah wajahnya pucat.

Tapi, Sunwoo tetap lah Sunwoo, si keras kepala. Maka dia menggeleng dan berkata, “enggak apa, Jun.”

“Lo udah makan belum?” Kali ini Karina bertanya.

“Udah.”

“Tadi pagi?” Eric menyahuti perkataan Sunwoo.

Hal itu membuat Sunwoo meringis kecil. Iya, Sunwoo kalau sudah fokus sama satu hal suka melupakan hal-hal kecil dan makan termasuk ke dalamnya.

“Demi Tuhan, Nu,” Karina menatapnya kesal, “kan udah berapa kali kita bilang, untuk jaga pola makan lo. Udah tahu jurusan kita banyak tugas dan BEM juga lagi ada acara, lo malah jarang makan.”

“Lo tuh ya kebiasaan kalau udah sibuk lupa makan, lupa istirahat,” kata Hyunjun.

Sunwoo hanya diam tanpa membela diri, toh emang salahnya juga sih. Ditambah kepalanya pusing, jadi lebih baik dia diam.

“Tunggu gue beliin roti buat ganjel,” kata Eric lagi.

“Cepet ya, lima belas menit lagi rapat mulai,” kata Giselle, gadis itu kemudian menepuk pundak Sunwoo, “tiduran dulu sana nanti rapat mulai kita bangunin.” Sunwoo mengangguk, mengambil tas dan menjadikannya sebagai bantal.

Namun, belum sempat ia berbaring teriakan Heejin membuat yang lain panik.

“Sunu lo mimisan!”


Mata bulat itu mengerjap berusaha menyesuaikan cahaya yang berebut masuk. Pusing adalah hal pertama yang ia rasa, ringisan kecil terdengar ketika ia mencoba bangun.

“Tiduran aja, nanti bangun malah makin pusing.” Sunwoo menoleh dan mendapati kekasihnya duduk di kursi dekat meja belajarnya, menatapnya datar.

Oh, Sunwoo telah membuat masalah baru.

Ia meringis menatap Jihoon memelas. Nampaknya itu tak membantu sama sekali karena Jihoon tak melembutkan tatapannya. Pemuda Park itu juga tak berpindah tempat dan enggan bersuara lagi. Benar-benar mendiami Sunwoo.

Kalau sudah begini Sunwoo bingung harus melakukan apa. Jadi, pemuda itu memilih diam dan memejamkan mata karena pusing masih melanda.

Jihoon menghela napas pelan, ia akhirnya bangun dari kursi dan berjalan mendekati Sunwoo. Tangannya terulur, memegang dahi pemuda Kim. Panas.

Netra favoritnya itu terbuka, menatap Jihoon yang tengah menatapnya juga.

“Ji,” panggil Sunwoo.

“Apa?”

Masih marah.

“Jangan diem aja dong,” pinta Sunwoo.

Kalau tidak dalam keadaan marah pada Sunwoo, Jihoon yakin ia sudah mencubiti pipi kekasihnya itu. Tapi, kali ini beda, emosi masih menguasai dirinya. Jadi, ia masih diam dan menatap Sunwoo datar.

“Lo tuh makanya udah gue bilang enggak usah ikut kepanitiaan, malah gegayaan ikut. Sakit kan sekarang.” Akhirnya keluar juga omelan yang sedari tadi ia tahan, disertai pukulan di lengan Sunwoo.

Membuat pemuda itu meringis, “gue lagi sakit?” Sunwoo mengajukan protes. “Aduh kok dipukul lagi?”

“Siapa suruh sakit? Bikin khawatir aja ya lo bisanya!”

Tadinya Sunwoo akan kembali melancarkan protes, tapi begitu mendengar kata 'khawatir', dia malah tersenyum dan menatap Jihoon dengan tatapan meledek.

“Cie khawatir ya,” ledeknya sembari menusuk pipi Jihoon yang kini disertai merah samar.

Huhu gemes.

Hal itu malah membuat Sunwoo jadi sasaran pukulan Jihoon lagi. Kalau begini artinya perkataan Sunwoo tadi benar adanya. Hehehe pacarnya ini lucu sekali sih, rasanya mau Sunwoo gigit pipi gembilnya dan ia peluk seharian!

“Buset udah dulu mukulnya! Gue lagi sakit anjir.” Sunwoo menahan tangan Jihoon dan ia genggam erat. “Manis dikit sama gue kenapa sih.”

Jihoon menatapnya malas, “lo enggak cocok dimanisin.”

Bibir tebal itu melengkung kebawah, “jahat.”

“Abis lo batu, udah gue bilang tadi izin aja. Enggak ikut rapat sehari doang, Nu, yang lain juga pasti paham.” Sunwoo diam karena dia tahu Jihoon masih ingin berbicara, “apalagi jurusan lo yang selalu sibuk tiap saat. Tugas, presentasi hampir tiap hari. Terus rapat BEM enggak berhenti. Coba gue tanya kapan terakhir lo tidur nyenyak? Lo tidur jam lima pagi dan bangun lagi jam tujuh untuk ngampus, kalau masih ada istirahatnya enggak masalah. Lah ini langsung rapat lagi.”

“Gue belum selesai ngomel,” Jihoon kembali berujar ketika Sunwoo akan berbicara.

“Oke lanjut.”

“Terus pola makan lo, kacau. Kalau enggak gue ingetin dan paksa enggak ada tuh makanan masuk ke perut. Lo bahkan hari ini cuma sarapan doang. Gue enggak pernah larang lo untuk ikut organisasi atau apapun itu, tapi 'kan gue udah pernah bilang untuk jaga kesehatan, jangan sampai sakit. Tapi, emang dasar lo anaknya batu, kesel banget gue!”

“Ini gue udah boleh ngomong?”

Jihoon menghembuskan napas kesal, kemudian mengangguk. Sunwoo sempatkan untuk menarik tubuh Jihoon agar mendekat ke arahnya.

“Maaf ya gue emang nyebelin anaknya, enggak mau nurut kalau dikasih tahu. Emang sih gue akuin gue kalau udah fokus sama satu hal, selalu lupain hal-hal kecil. Maaf ya, sering buat lo kesel dan khawatir.”

“Tuh tau! Jadi, stop buat gue khawatir sama kesel.” Tangannya menyibak poni lepek Sunwoo, memberi elusan lembut di sana. “Cepet sembuh,” bisiknya.

Bibir pucat itu mengulas senyum, “iya, sayang. Maaf ya.”

“Tidur lagi, lo butuh banyak istirahat.”

“Peluk?”

Yang membuat Jihoon gemas kalau Sunwoo sakit adalah dia menjadi lebih manja. Yang mana jarang bisa Jihoon lihat kalau si pemuda Kim itu dalam keadaan sehat, namun bukan berarti dia suka kalau Sunwoo sakit ya.

“Iya ini dipeluk, dah tidur,” kata Jihoon lagi, tangannya ia bawa untuk menepuk punggung itu pelan, sesekali mengelus surai merah muda itu.

Nyaman, pelukan Jihoon selalu membuat Sunwoo merasa nyaman dan tak butuh waktu lama untuk Sunwoo terlelap.