Hari buruknya Sunwoo

Kalau dulu sunwoo enggak pernah suka terjebak di bus ketika pulang sekolah. Kalau sekarang sih, jangan ditanya dia sengaja cepet-cepet ke halte. Mau ketemu si kakak galak, yang punya senyum super duper manis.

Sunwoo suka, mau lihat lagi senyum manis itu.

Awalnya ketika hari rabu, hari di mana Sunwoo mengecapnya sebagai hari terburuk. Buku tugasnya tertinggal di rumah, salah seragam, terus lupa bawa baju futsal. Super menyebalkan, bukan?

Maka, bibirnya tak berhenti merengut, sampai Eric tak henti meledeknya. Sepanjang hari Sunwoo enggak berenti ngeluh. Apalagi pas pulang sekolah.

Naik bus, di jam pulang sekolah itu sangat menyebalkan. Ramai dan penuh sesak, kalau beruntung keadaan bus enggak terlalu ramai. Tapi, lagi nampaknya hari rabu masih ingin bermain-main dengannya.

Ya, keadaan bus ramai, hingga Sunwoo harus berdiri di tengah banyaknya manusia sore itu. Menyebalkan.

“Eh, Bu, jangan dorong-dorong dong, nanti saya jatuh Ibu mau tanggung jawab?” Omel Sunwoo.

Sensitif seperti wanita mau melahirkan─ini kata Hyunjun omong-omong.

“Jangan lebay deh, saya cuma senggol dikit aja,” si Ibu balas mengomel.

Waduh bakalan ribut nih, mungkin itu yang ada dipikiran orang-orang yang ada di dalam bus. Sunwoo bahkan ingat hari itu dia berdebat dengan ibu-ibu menyebalkan itu, hingga seorang pemuda─mungkin seumuran dengannya─menepuk pundaknya pelan.

“Udah, enggak capek apa debat kayak gitu?” Suaranya halus sekali, astaga Sunwoo jadi salah fokus kan!

Tatapannya tajam, seakan bisa memaksa siapapun untuk tunduk padanya. Intinya pemuda di sebelahnya ini cukup mengintimidasi. Mungkin tipe pemuda yang kaku dan serius? Entahlah Sunwoo tak yakin.

“Minta maaf sana sama ibunya,” kata si pemuda itu.

Lah? Kenapa dia yang harus minta maaf? Itu bukan salahnya! Si Ibu mendorongnya hingga nyaris jatuh, kenapa harus Sunwoo yang minta maaf?

Merasa Sunwoo tak akan menurutinya, maka si pemuda beralih menatap si ibu dan tersenyum, “maafin dia ya, Bu, kayaknya lagi bete di sekolahan.”

Sunwoo kaget, sungguh. Pemuda ini ... kenapa malah dia yang minta maaf?

Entah berapa lama Sunwoo melamun, yang ia tau tangannya ditarik mendekat oleh si pemuda.

“Kalau lagi bete enggak masalah, tapi jangan sampai luapin ke orang yang enggak tau masalah lo,” katanya disertai senyum yang mampu buat Sunwoo mati kutu.

Senyum itu ... Sunwoo mau lihat lagi.

“Nama lo siapa?” Katakan Sunwoo tak tahu malu, nyatanya itu lah dirinya. Lebih tepatnya sih, enggak tahu malu.

Mungkin si pemuda merasa pertanyaan Sunwoo barusan, tak relevan dengan perkataannya tadi. Tapi, senyum itu seakan enggan luntur, masih tetap di sana dan buat jantung Sunwoo berdegub ribut.

Tak lama Sunwoo dengar kekehan keluar dari bibir kemerahan itu, “Chanhee, lo?”

“Sunwoo,” jawab Sunwoo dengan cepat.

Memalukan, tapi terserah. Sunwoo hanya ingin mengetahui nama si pemuda.

“Sekolah di mana?” Chanhee membuka obrolan lagi.

“SMA Cre.ker, lo sendiri?”

Lagi, Chanhee tertawa. Sunwoo tatap pemuda itu bingung. Emang wajah Sunwoo terlihat bodoh ya saat ini? Hingga Chanhee tak henti-hentinya tertawa.

“Gue keliatan masih anak sekolah emangnya?”

Dengan polos Sunwoo mengangguk.

“Gue udah kuliah, Sunwoo. Semester dua.”

Sunwoo ber-ooh ria. Tapi, jangan salahkan dia karena menganggap Chanhee seumuran dengannya. Wajahnya masih cocok untuk jadi siswa sekolah menengah atas, kok.

“Lo turun di mana?”

“Masih dua halte lagi, Kak, lo udah mau turun?”

Chanhee mengangguk, “gue duluan ya, Sunwoo. Jangan ngamuk-ngamuk lagi ya,” katanya sebelum bangkit dari duduknya.

“Kak,” panggil Sunwoo.

Chanhee menoleh, menatapnya penuh tanya.

“Besok naik bus lagi?”

Dan satu anggukan pasti dari Chanhee mampu buatnya bersemangat.

“Oke, ketemu lagi besok ya, Kak!”

“Iya, duluan ya bocil.”

Bocil.

Semua temannya pasti tahu kalau Sunwoo enggak suka dipanggil bocil, tapi ketika Chanhee yang memanggilnya, dia malah tersenyum bak orang kesetanan.

Apa ini efek melihat senyum Chanhee tadi, ya?

Enggak mungkin juga Sunwoo jatuh cinta pada Chanhee, 'kan?

Enggak. Itu pemikiran konyol.

“Huhu Kak Chanhee.”

Dasar remaja.