home

warning: omegaverse , contain male pregnant alpha!mil with omega!hoon

enjoy!

Entah sudah yang keberapa kali Jaehyun menghela napas hari ini. Wajah yang biasa terlihat datar itu kini bercampur dengan raut khawatir, yang mana sangat jarang sekali ia tunjukkan. Suasana hatinya sedang tak baik, itu yang dipikirkan orang lain ketika melihat wajah Jaehyun hari itu.

Sampai tepukan di pundak membuat Jaehyun tersadar dari lamunannya. Mina─sepupunya─menatapnya bingung, tangan wanita itu menyodorokan segelas kopi untuknya dan langsung Jaehyun terima dengan baik.

“Kenapa? Ada yang ganggu pikiranmu, Je?”

Jaehyun meringis kecil, menggaruk tengkuknya canggung. Jaehyun jarang sekali kehilangan fokus disaat jam kerja seperti ini, maka ketika hal itu terjadi ia merasa kesal pada dirinya sendiri.

“Younghoon, ya?” Tebak Mina.

Kali ini Jaehyun mengangguk, memang yang membuatnya tak fokus adalah omeganya. Hampir seminggu tak bertemu membuatnya rindu dan juga khawatir, tadinya Jaehyun tak mau ikut dan minta Juyeon─adiknya─yang mewakilkan dirinya tetapi, tak bisa Jaehyun juga harus ikut ke sana.

“Khawatir, ya?” Mina tersenyum lagi ketika anggukan ia terima, “wajar kok, semua Alpha pasti khawatir meninggalkan omeganya sendirian. Tapi, dia baik-baik aja 'kan?”

“Dia sama bayi kami baik-baik aja, Min, cuma ya itu gue khawatir,” dan kangen juga sih, Jaehyun melanjutkan dalam hati. “Mana lo tahu sendiri, dia enggak bisa diam.”

Iya, saat ini Jaehyun dan Younghoon tengah menantikan kehadiran anak pertama mereka. Makanya Jaehyun khawatir setengah mati ketika harus berjauhan dengan Younghoon.

Mina menepuk pundak kokoh si alpha, “jangan terlalu ngekang dia, Je, enggak baik juga. Younghoon pasti tahu mana yang baik dan enggak untuk dia dan bayi kalian,” Mina menjeda sejenak, “dia juga terbiasa sibuk di resto dan ketika kamu suruh diam di rumah pasti aneh, enggak terbiasa dia-nya.”

“Iya gue paham, cuma khawatir aja dia kecapekan.”

Ya, Jaehyun cukup paham dengan kesibukan Younghoon sebelum menikah dengannya. Memilik restoran dengan cabang yang lumayan banyak, membuat Younghoon tak kalah sibuk dari Jaehyun. Namun, setelah hamil dia perlahan mengurangi dan hanya fokus di satu restoran saja. Jaehyun juga cukup paham pengorbanan yang Younghoon beri untuk dirinya dan calon buah hati mereka. Tetapi hebatnya suaminya itu tak pernah mengeluh, setiap pulang kantor Jaehyun selalu disuguhi Younghoon dan senyum manisnya.

“Jadwal kamu udah aku kosongin sampai si kecil lahir ya, paling sesekali kamu ke kantor untuk rapat, tapi aku usahain supaya kamu bisa melalui online aja.”

Jaehyun tersenyum, “sip, makasih ya, Min. Gue duluan ya titip salam untuk Jihyo sama Jihan.”

“Hati-hati, Je.”

Ah, Jaehyun tak sabar untuk kembali ke rumah.


Jaehyun membuka pintu rumah dengan tak sabaran, setelahnya ia bergegas naik ke lantai dua tempat kamarnya dan Younghoon berada. Sepi sekali, biasa terdengar suara lantunan lagu yang selalu Younghoon putar. Menghilangkan rasa bosan katanya ketika ditanya Jaehyun.

“Hoon,” panggil Jaehyun. Ia kemudian terdiam dan berjalan pelan ketika menemukan Younghoonnya tengah tertidur, dengan tumpukan baju milik Jaehyun bahkan Younghoon kini mengenakan kemeja miliknya juga. Ah, pemuda Kim itu juga rindu padanya ya.

Jaehyun duduk perlahan di tepi kasur, tangannya ia bawa untuk merapikan rambut Younghoon yang menutupi matanya. Ia menunduk dan mengecup kening kekasih hatinya.

Sepertinya kegiatan Jaehyun tadi mengusik tidur siang Younghoon, terbukti dari mata bulat itu perlahan terbuka dan bibirnya tanpa sadar mengeluarkan rengekan kecil.

“Hng?”

“Keganggu, ya? Maaf udah yuk tidur lagi,” Kata Jaehyun dengan tangan yang tetap mengelus surai hitam itu.

“Je?”

“Iya, sayang.”

Younghoon bangun perlahan dibantu oleh Jaehyun. Dengan cepat tangannya meraih bantal untuk dijadikan sandaran oleh si omega.

“Kok enggak ngabarin kalau udah pulang?” tanya Younghoon yang kini menyamankan diri dipelukan sang alpha.

“Ngabarin kok, tapi enggak ada balesan dari kamu eh ternyata tidur.” Tangannya ia bawa ke perut buncit Younghoon, di sana ada jagoan kecilnya. Yang sebentar lagi akan menyapa dunia, yang sebentar lagi akan meramaikan rumah mereka.

Jaehyun menunduk menciumi perut buncit itu kemudian berceloteh tentang apapun, mengajak jagoan mereka untuk mengobrol. Hal itu selalu dilakukan oleh Jaehyun. Sementara Younghoon tersenyum dan mengelus surai hitam itu dengan sayang.

“Nah sekarang waktunya Papa bebersih terus tidur, ya,” kata Younghoon.

“Oke bentar ya sayang-sayangnya papa.”


Menginjak bulan kesembilan Younghoon sudah mulai merasakan pergerakannya terbatas, susah tidur juga sudah mulai ia rasakan. Younghoon juga merasa mudah lelah, kakinya sering membengkak ketika ia berdiri terlalu lama. Untuk berjalan pun terkadang harus dibantu oleh Jaehyun.

Seperti hari ini, jam sudah menujukkan pukul dua pagi namun Younghoon masih terjaga, bayi dikandungannya seakan tak mau kalau Younghoon tertidur. Ingin menangis rasanya, ia mengantuk sampai rasanya ia ingin membangunkan Jaehyun tetapi, urung dilakukan karena suaminya itu pasti lelah.

Asik dengan pemikirannya sendiri, Younghoon dikagetkan dengan elusan di perut buncitnya. Jaehyun terbangun, ia menatapnya penuh rasa sesal. Ini pasti karena Younghoon banyak bergerak.

“Enggak bisa tidur?” Tanya Jaehyun dengan suara serak khas orang bangun tidur.

Younghoon mengangguk, “maaf ya aku bangunin kamu,” sahutnya.

“Ngapain minta maaf? Kenapa enggak bangunin aku kalau enggak bisa tidur?” Jaehyun menarik tubuh Younghoon agar semakin masuk kepelukannya, tangan kanannya dijadikan bantal untuk Younghoon.

Jemarinya mengelus lembut perut buncit suaminya kemudian berbisik, “adek tidur yuk? Kasian lho Papi ngantuk, mainnya besok lagi ya, sayang?” Jaehyun menunduk dan mengecup kening Younghoon penuh sayang.

“Tidur ya, aku tungguin sampai kamu tidur.”

Younghoon mengangguk kemudian memejamkan matanya. Jaehyun tersenyum begitu Younghoon tertidur, ia tahu Younghoon sudah mengantuk terlihat dari matanya yang memerah. Namun, sepertinya jagoan kecil mereka belum mau tidur, sudah tak sabar mau keluar dan menyapa dunia nampaknya.

Hal itu hanya bertahan lima jam, saat Jaehyun kembali merasakan pergerakan tak nyaman dari Younghoon. Tangan omeganya itu bahkan mencengkram erat lengannya disertai ringisan. Jaehyun langsung terbangun guna melihat keadaan suaminya.

Peluh membanjiri kening, membuat rambut hitam Younghoon menjadi lepek.

“Sayang?” Tangannya menepuk pipi Younghoon. “Kena─fuck, Hoon, bangun ya kita ke rumah sakit sekarang.” Jaehyun dengan tergesa bangun dan mengambil tas berisi baju Younghoon yang sudah mereka siapkan jauh-jauh hari, mengambil ponsel dan kunci mobil.

“Je, sakit,” rengeknya.

Tangannya tak berhenti meremat lengan Jaehyun.

“Iya, tahan ya, sayang. Sebentar lagi sampai.”

Waktu terasa berjalan lambat pagi itu, mendebarkan dan haru bercampur menjadi satu. Semua perasaan itu silih berganti menghampiri keduanya yang tengah menggenggam jemari satu sama lain; mencari penguat akan perasaan yang berlebih. Rasanya haru dan hangat hingga dada keduanya terasa sesak dan penuh.

Tangannya saling bertaut memberi penguatan satu sama lain. Tangis ikut andil mewarnai hari itu, Jaehyun mati-matian menahan tangisnya. Setidaknya dia harus terlihat kuat untuk Younghoon yang tengah berjuang di sana.

Kecupan, bisikan semangat dan elusan selalu ia beri untuk Younghoonnya. Wajah penuh peluh itu ia tatap terus, seakan kalau ia menoleh sedikitpun wajah yang menjadi candunya itu akan hilang.

Hari ini menjadi babak baru bagi kehidupan keduanya, hari ini ada satu lagi malaikat kecil yang akan melengkapi bahagia keduanya. Malaikat kecil yang selalu mereka nanti hadirnya dan hari ini adalah harinya.

Tiap denting jam yang berbunyi membuat jantungnya berdegub kencang, ia terus merapalkan doa untuk sang terkasih. Tangannya ia biarkan digigit kencang oleh Younghoon, berdarah atau terluka itu urusan nanti, yang menjadi fokusnya kini adalah Younghoon dan bayi mereka. Ia terus membisikan kata sayang dan cinta untuk omeganya, untuk Younghoonnya.

Hingga penantian panjang itu terbayarkan dengan tangis kencang malaikat kecil mereka. Si kecil hadir siap menemani mereka untuk memulai langkah baru dalam kehidupan keduanya. Tangis si kecil tadi menjadi penanda bahwa ada nyawa baru yang harus mereka jaga dan limpahi kasih sayang, bahwa ada satu lagi nyawa yang dititipkan Sang Pencipta pada mereka.

“Makasih, Sayang,” bisik Jaehyun disertai kecupan di kening.

Air mata bahkan sudah mengaliri pipi si alpha, air mata yang sedari tadi dia tahan tumpah jua ketika bayi kecil itu menangis. Jaehyun bahagia dan ini sudah lebih dari cukup.

Kini tanggung jawabnya bertambah satu dan Jaehyun tak pernah menyesal akan hal itu.


“Nu, sini dulu pakai bajunya,” suara Younghoon memecah keheningan rumah itu, disertai tawa dari si kecil yang kini sudah tiga tahun usianya.

Si kecil yang dulu masih harus digendong kemanapun ia pergi, kini sudah lincah berlari mengelilingi rumah.

“Ndak! Mau Papa!”

Mau Papa adalah hal yang terus diucapkan oleh Sunwoo sedari tadi pagi.

“Iya, nanti telepon Papa, tapi Sunwoo pakai baju dulu dong. Masa mau nelepon Papa enggak pakai baju?”

Bibir tebal itu cemberut, matanya menatap Younghoon berkaca-kaca.

“Aaaa mau Papa!”

“Eh kok nangis,” Younghoon menghampiri Sunwoo, “mau peluk?” Ketika Sunwoo mengangguk Younghoon segera meraih Sunwoo kepelukannya.

“Nunu, kangen Papa?”

Sunwoo mengangguk pelan, wajahnya ia sembunyikan di pundak Papinya dan tangan kecilnya memeluk Younghoon erat.

Astaga lucunya.

Kalau dekat ribut terus, kalau jauh kangen. Itulah dinamika hubungan papa dan anak ini, Sunwoo yang selalu jadi korban kejahilan Jaehyun, makanya ia selalu kesal dengan sang Papa. Tapi, ya kalau berjauhan seperti ini Sunwoo selalu uring-uringan dan rewel seperti sekarang.

“Kita telepon Papa, ya? Atau Nunu masih mau nangis dulu?”

“Mau telepon sekarang, boleh?”

Younghoon tersenyum, “boleh dong, ayo ke kamar Papi. Kita telepon Papa.”

Ketika panggilan itu tersambung layar ponsel Younghoon menampilkan belahan jiwanya di sana, masih dengan pakaian kerja yang melekat di tubuh. Hal itu membuat Younghoon melengkungkan bibir ke bawah, namun dengan cepat ia hilangkan.

“Halo, Sayang, kenapa?” Jaehyun bertanya dengan mata yang masih fokus pada berkas di tangan.

“Lagi sibuk ya?”

“Dikit lagi selesai kok.”

Younghoon mengangguk ia kemudian menoleh dan menatap sang anak yang kini sembunyi di lengannya. Lucu sekali.

“Ini ada yang kangen Papa tapi, malu mau bilang,” kata Younghoon sembari menyentuh pelan pipi gembul Sunwoo dengan telunjuknya, membuat anaknya mengeluarkan rengekan kecil.

Jaehyun berhenti sejenak, meletakkan pena dan berkasnya di meja. Ia kini memfokuskan pandangan pada layar ponselnya.

“Iya? siapa nih yang kangen Papa? kok enggak keliatan ya,” ledek Jaehyun.

“Hayo siapa tadi nangis karena kangen dan enggak berhenti bilang kangen Papa,” Younghoon semakin meledek Sunwoo yang pipinya kini berhias merah samar. “Anaknya malu nih, Pa.”

“Ih,” rengek si kecil, membuat kedua orang tuanya tertawa dan sibuk menahan rasa gemas.

“Nunu kangen Papa ya?” tanya Jaehyun.

Dengan bibir cemberut Sunwoo menggeleng dan berujar, “enggak!” Ah, jagoan kecilnya itu gengsian dan malu mengakui kalau ia rindu Papanya.

Maka Jaehyun tertawa dan menatap si kecil meledek, “oh kalau enggak kangen, Papa enggak pulang deh 'kan Nunu enggak kangen Papa,” katanya dengan nada sedih yang dibuat-buat.

“Hayo Papa enggak pulang tuh,” Younghoon ikutan meledek sang anak.

Membuat anak tiga tahun itu menatap keduanya dengan mata berkaca-kaca, nampak siap menumpahkan tangis. Jemari kecilnya menggengam erat jemari Younghoon.

“Jangan,” anak itu diam sejenak, “Papa ... pulang. Nu, kangen.”

Aduh gemas sekali anak siapa ini.

“Kalau Papa pulang dikasih peluk enggak?”

Sunwoo langsung mengangguk semangat, mata bulatnya memperlihatkan keseriusannya kini.

“Cium?”

Sunwoo mengangguk lagi.

“Oke Papa pulang nanti, Nu, mau nunggu 'kan?”

“Mau.”

Younghoon sedari tadi hanya diam, melihat interaksi anak dan suaminya. Rasa haru melingkupinya kini, tak pernah terbayang menikah dan miliki anak rasanya semenyenangkan ini. Rasanya sulit untuk diungkapkan melalui lisan maupun tulisan.

Rasanya seperti Younghoon ada di rumahnya dan ia akan selalu kembali ke rumah itu apapun kondisinya, sejauh apapun ia pergi. Sunwoo dan Jaehyun adalah rumahnya, tempat ia kembali berpulang, tempat ia menjadi dirinya sendiri dan tempat ia bebas berkeluh kesah.

Dan Younghoon bersyukur akan hal itu.

Sampai nanti bersama Jaehyun dan Sunwoo sudah lebih dari cukup. Younghoon bahagia.