home
Erangan kesal tak berhenti Dhika keluarkan. Lagi-lagi salah akun, astaga. Dhika sudah memaki dirinya sendiri kini. Malu sekali rasanya.
Masih belum surut dari rasa malunya, pintu kamarnya dibuka. Pelakunya jelas Damar, orang yang ingin ia hindari kini. Makin jadi lah merah di pipinya.
“Eh eh merah banget pipinya kenapa? Sakit?” Damar berseru khawatir dan persekian detik sudah berada di hadapan dhika, menangkup pipi Dhika. “Tapi enggak panas.” Bodoh.
Gue malu karena lo bego! Ingin Dhika berseru, namun urung. Malas untuk permalukan diri lebih dari itu. Sudah cukup.
“Aduh kok ditabok sih?” Omel Damar yang tangannya baru saja kena pukulan Dhika─enggak sakit kok dia aja lebay.
“Ngapain?”
“Apaan?”
“Lo,” jemari kecil itu menunjuk Damar, “ngapain ke sini?”
“Ketemu lo lah, ngapain lagi?”
Oh, bolehkah Dhika bersenang hati karena dengar penuturan singkat itu? Senyum setengah mati ia tahan agar tak terlihat konyol di mata Damar─setidaknya itu menurut dirinya sendiri.
Rasa ini, sudah berapa lama Dhika tak rasakan lagi? Sudah berapa lama hangat tak hampiri diri? Sudah lama sekali hingga rindu datang menghampiri.
“Kok dipukul lagi?” Dan Dhika lebih rindu dengan kebiasaan mereka ketika masih bersama dulu.
“Berisik ah.” Apa yang diucap, beda dengan yang dilakukan. Terlihat dari jemari itu menyisir rambut yang baru diwarnai itu dengan pelan, disertai senyum di bibir.
“Bagus enggak sih diwarnain gini? Tadinya tuh enggak mau, tapi diajak Karin ya udah ngikut. Soalnya besok gue juga izin─eh gue belum bilang ke lo, ya?” Dhika menggeleng pelan. “Nah iya sekalian bilang, jadi besok gue izin kakak sepupu gue nikahan. Makanya gue berani warnain rambut, besok malem juga udah ke salon lagi.”
Bisa enggak warna rambut ini bertahan lebih lama?
“Padahal lo bagus diwarnain gini,” bisiknya.
Dhika kira Damar tak akan dengar bisikan lirihnya.
“Makin ganteng ya?”
“Iya─hah?”
Selanjutnya ruangan itu terisi suara tawa Damar dan omelan Dhika.