jangan pergi dulu, biru.
warning: suicidal thought , major character death
sunghoon as langit jay as biru
Jangan dulu mati, kita masih punya banyak rencana yang belum dijalankan.
Jangan dulu mati, kamu masih punya aku di sini.
Jangan dulu mati, masih ada pelangi setelah hujan.
Jangan dulu mati, jangan meninggalkan aku sendirian, Biru.
Jangan pergi, aku mohon.
Perkataan-perkataan Langit kala itu terus terngiang di benaknya. Perkataan yang dilontarkan ketika Biru berniat mengakhiri semua rasa sakitnya, menyudahi permainan kejam yang semesta berikan padanya.
Kata Langit dia masih butuh Biru.
Kata Langit, Biru adalah dunianya.
Kata Langit, ia segalanya.
Kata Langit juga, ia tak sanggup ditinggal sendiri oleh Biru.
Karena dengan Biru mereka berdua sama-sama berusaha menutupi luka masing-masing, sama-sama berusaha untuk sembuh dan tetap hidup.
Tetapi, kenapa lelaki itu juga yang pergi meninggalkannya sendiri? Pergi ke tempat yang jauh, yang sulit dijangkau oleh Biru.
Langit asal kamu tahu, Biru pun tak bisa ditinggal sendiri.
Ia harus apa kalau Langitnya memilih pergi?
Kepada siapa dia harus bersandar dan mengadu kala semesta lagi dan lagi menyakiti?
Langit, Biru putus asa.
Ia ditinggal jauh dunianya, ditinggal pergi Langitnya.
“Langit, aku sendirian enggak ada kamu,” kalimat itu tak berhenti ia keluarkan seraya menatap ukiran nama di batu nisan itu.
Nama Langitnya.
“Langit, kenapa perginya sendiri? Kenapa enggak ajak aku juga?” Entah berapa lama ia menangis, Biru sudah tak peduli lagi.
Yang ia butuh hanya Langit di sini.
Kenapa semesta tak pernah berpihak padanya sekali saja? Kenapa sekarang sumber bahagianya ikut diambil juga? Biru memang benar-benar tak boleh bahagia ya?
Tuhan, ia lelah.
“Langit, tunggu ya, tunggu sebentar lagi nanti kita bisa bareng-bareng lagi. Nanti enggak bakal ada yang nyakitin kita lagi.”