“Ka,” panggil Jenggala. Ia masih belum bisa memejamkan mata. Jantungnya berdegub ribut, buat ia makin tak bisa terlelap.
“Masih nggak bisa tidur?” Marka berbalik dan menatap Jenggala.
Jenggala mengangguk, matanya menatap Marka memelas. Marka tertawa kemudian menarik Jenggala mendekat. Ia bawa tangannya mengelus pelan punggung Jenggala, “tidur udah jam dua, kalau nggak tidur nanti dibawa mbak kunti. Mau lo?” Ia biarkan Jenggala beringsut mendekat, hingga kepala yang lebih muda berada tepat di dadanya.
Marka letakkan kepalanya di puncak kepala Jenggala.
“Tidur gih.”
“Nyanyi dong,” pinta Jenggala.
Kebiasaan Jenggala belum berubah, masih sama seperti yang Marka tahu. Minta dinyanyikan kalau nggak bisa tidur, sama seperti waktu mereka kecil.
“Nggak mau nina bobo, awas aja,” ancam Jenggala.
Marka tertawa, teringat sewaktu mereka masih sekolah menengah atas, Jenggala nggak bisa tidur dan sudah jadi kebiasaan Marka kalau malam selalu menginap di kamar Jenggala. Sama seperti sekarang. Ia minta dinyanyikan dan Marka itu diam-diam jahil, maka ia menyanyikan lagu nina bobo.
Jenggala jelas protes, tapi pemuda itu berkilah, “lo kan masih anak kecil!”
Masih sama seperti tahun-tahun dan hari-hari sebelumnya, Jenggala bergelung nyaman di pelukan Marka dan Marka bernyanyi untuknya. Jenggala suka dengar suara Marka ketika bernyanyi.
Suaranya berat namun tetap terdengar lembut. Jenggala suka dan ingin dengar suara indah itu terus.
“Gal, udah bobo?” Marka menjauhkan dirinya guna melihat Jenggala.
Setelahnya senyum muncul di wajah rupawannya, “selamat tidur,” gumamnya dan kembali memeluk Jenggala.
Jenggala, Marka mau begini terus sampai waktu yang lama, bisa nggak?