maaf, yah.
Abang itu nggak pernah banyak minta, selalu diam dan mengalah, apalagi sama adik-adik kembarnya. Abang juga bukan pribadi yang suka menuntut ini itu sama Yayah dan Papa.
Nggak, abang bukan tipe yang seperti itu.
Abang itu kalau kata kakak, si sabar dan penuh kasih sayang.
Abang cinta keluarga lebih dari dia cinta sama dirinya sendiri.
Walaupun kembar dan hanya berjarak beberapa menit dari Abang, dia tetap sosok kakak pertama yang menjaga adik-adiknya.
Yayah dan Papa itu adil kok perihal kasih sayang. Nggak pilih kasih, begitu juga ke Abang. Mereka menyayangi dia sama seperti dua adiknya.
Tapi, namanya manusia terkadang tak pernah lepas dari kesalahan. Begitu juga Yayah dan Papa.
Heeseung memakluminya. Ia pikir wajar saja namanya orang tua, sudah lelah bekerja. Tak masalah baginya, asal dua adiknya tak rasakan sedihnya dia.
Heeseung itu mirip sekali seperti Jaehyun, Younghoon sendiri akui itu. Tak memikirkan diri sendiri.
“Abang,” Younghoon memanggilnya ketika Heeseung berjalan melewati ruang keluarga.
“Iya, Yah?” Pemuda tujuh belas tahun itu berjalan mendekat dan duduk di hadapan sang ayah.
Dari raut wajahnya Heeseung bisa lihat khawatir yang terpasang jelas di sana. Pasti karena tadi siang. Heeseung sudah siap dimarahi kok, tenang saja.
“Ada yang mau kamu jelasin ke Yayah?”
Kalau boleh Heeseung bilang, sifat Younghoon agak berbeda beberapa hari ini. Seolah kehilangan hangat yang biasa melingkupi, terganti dingin yang buat beku sekujur tubuh.
“Abang berantem dan nggak bisa jagain mereka, makanya Adek jatuh dari tangga,” jelas Heeseung singkat.
Mereka bertiga bukanlah orang yang suka berkelahi, Papa bilang itu bukan hal baik untuk diikuti. Tetapi, hari ini adalah pengecualian. Si kembar itu tak pernah terlibat kenakalan di sekolah, catatan di sekolahnya pun selalu baik dan berprestasi.
Makanya ketika mereka terlibat perkelahian, jelas para siswa dan guru yang mengenal mereka kaget.
“Kalau udah tau kenapa masih dilakuin? Yayah kan udah bilang, sekolah yang benar jangan ikut hal nggak baik,” pecah juga amarah Younghoon sore itu.
“Kamu kakak mereka, Bang, jangan beri contoh yang nggak baik. Yayah sekolahin kamu untuk belajar, bukan untuk berantem. Akhirnya apa? Adik kamu luka. Itu yang kamu mau? Adik-adik kamu luka, sakit, itu maunya?”
Heeseung menatap Younghoon terkejut. Seumur hidupnya tak pernah dia dengar Younghoon berujar seperti ini. Younghoon tak pernah seperti ini.
“Yah,” Jaehyun bahkan ikut menegur suaminya itu.
“Jangan dibela terus, dia akan kurang ajar kalau kamu belain terus, Pa!”
“Yayah, apaan sih?” Jaehyun menatapnya tak percaya, “kamu bisa-bisanya nuduh anak kamu begitu?”
“Ya kamu liat aja, kali ini berantem, besok apa lagi? Emang nggak bisa lakuin hal yang bener aja?”
Heeseung sakit hati, jujur.
Ia tak pernah marah kalau Yayah menaruh perhatian lebih pada dua adiknya, tak pernah juga marah kalau ia yang disalahkan, tak pernah sama sekali.
Ia bangkit dari duduknya, menatap Younghoon tepat di matanya, “maaf ya, Yah, kalau Abang nggak becus jadi kakak. Nggak bisa jagain mereka. Tapi, Yah, Abang baru pertama kali jadi Abang, baru pertama kali ini. Banyak hal yang aku sendiri juga nggak paham, jadi maaf kalau banyak kecewa daripada bangganya.” Setelahnya, berjalan menuju pintu keluar, “Abang, mau ke tempat Jaehyuk dulu, siapa tau nanti nyariin.”