Mentari Jatuh Hati

Sunwoo jelas tahu bermain-main tak semuanya baik, apalagi perihal hati. Seharusnya ia bisa jaga hati hanya untuk kekasihnya seorang namun, kini ada nama lain lagi yang ikut tinggal dan menetap. Lama kelamaan menggeser posisi sang pemeran utama di sana.

“Mikirin apa?” Sebuah suara menyapa rungu, Sunwoo tolehkan kepalanya ke arah pintu kamar. Di sana pemuda yang mengacak hatinya, pemuda yang seenaknya masuk tanpa permisi membuat Sunwoo dilanda kebingungan.

Tapi, pintu tak akan terbuka kalau tak ada yang buka kuncinya, 'kan?

Sunwoo rasakan lengan kekar itu melingkari pinggangnya, diikut kepala pemuda itu bertumpu di pundaknya. Pelukan yang terasa hangat namun, menyesakkan disaat bersamaan. Dan ia tahu sudah terlampau jauh untuk berhenti, ia sudah jatuh dan tak tahu bagaimana harus keluar.

“Kenapa?” Pemuda itu kembali bertanya sembari bubuhkan kecup di pipi.

“Kak Je,” panggil Sunwoo, mata bulat bak boba itu bersitatap dengan mata pemuda satunya, “pernah kepikiran tentang kita enggak?”

Bisa ia rasakan tubuh yang memeluknya menegang, lengannya merengkuh semakin erat.

“Kak, kamu jelas tau 'kan, kalau kita enggak bisa selamanya begini,” kata Sunwoo lagi, “dari awal ini udah salah, salah banget. Bosen kita jadiin alasan untuk mulai ini semua.”

Pada saat bulan Februari waktu itu tepat sehari setelah hari kasih sayang, Jaehyun datangi Sunwoo. Sebenarnya itu hal biasa, mengingat keduanya adalah teman dekat dari lama. Namun, yang tak biasa adalah perlakuan keduanya. Teman mana yang saling cumbu? Teman mana yang bermesraan? Awalnya hanya sekadar rangkulan, lama kelamaan semakin intim. Keduanya seolah terbuai pada keadaan, membuat mereka jatuh pada lubang yang sama.

Hari itu Jaehyun tumpahkan resahnya dengan Sunwoo memeluknya erat. Jaehyun lelah diabaikan kekasihnya, lelah dinomor duakan, lelah kalah lagi dengan pekerjaan. Jaehyun hanya ingin sehari saja bisa bermesraan dengan kekasihnya namun, Chanhee enggan mengerti. Lama kelamaan rasa bosan menghampiri Jaehyun.

Aku punya pacar rasanya kayak enggak punya, Nu, capek kalah terus sama kerjaan dia. Aku udah coba pahamin dia tapi, kenapa dia enggak pernah coba pahamin aku juga?” Hari itu semua gundahnya tumpah di hadapan Sunwoo.

Hingga perkataan singkat Jaehyun menjadi awal dari segalanya, “malah kayak kamu yang pacar aku, Nu.”

Kembali ke saat ini. Jaehyun masih setia diam, belum mau buka suara akan pertanyaan Sunwoo tadi.

“Kak Chanhee sering nanyain kamu ke aku, katanya apa dia ada salah sama kamu karena kamu agak ngejauh dari dia. Aku cuma bilang enggak tau,” kali ini giliran Sunwoo tumpahkan semua resah yang melanda, “enggak mungkin aku bilang kalau kamu ada sama aku.”

Jaehyun paham seharusnya dari awal dia tak main api. Berdalih ingin menghilangkan sepi dan bosan karena kekasihnya yang terlampau sibuk, ia malah ciptakan satu masalah lagi yang Jaehyun pun tak tahu harus bagaimana menyelesaikannya. Bagai benang kusut yang sulit temukan jalan keluar.

“Aku enggak bisa kehilangan kamu, Nu,” bisiknya.

“Aku pun enggak,” Sunwoo balas dengan cepat.

Jelas Sunwoo tak bisa bayangkan bagaimana harinya ketika Jaehyun tak lagi di sisi. Jaehyun yang menghibur Sunwoo ketika kekasihnya sendiri justru menyakitinya. Jaehyun selalu ada untuk Sunwoo. Mari katakan Sunwoo bergantung pada Jaehyun.

Kalau kata Jaehyun Sunwoo itu bagai matahari yang sinari hari-harinya. Maka bagi Sunwoo, Jaehyun adalah bulan yang menyinari langit malam, yang menyinari hari-harinya yang kelabu. Jaehyun tuntun Sunwoo untuk lihat cahaya lagi.

“Inget enggak waktu aku ribut sama Eric?”

“Inget lah kalian berdua babak belur gitu.”

“Kakak 'kan yang nolongin aku, sedangkan pacar aku malah mukulin aku.” Senyum tipis muncul di sana. “Kakak yang selalu nolong aku, sampai enggak sadar rasa itu hadir.”

Kedua mata itu bertemu, saling tatap berusaha jelaskan kata yang tak sanggup mereka jabarkan melalui lisan.

Hati kecil Sunwoo berharap kalau Jaehyun tetap ada di sisinya, sampai nanti. Tetapi semua tak semudah itu 'kan?

Sunwoo tak mau egois. Tak mau lukai orang lain demi bahagianya sendiri.

Jaehyun pangkas jarak keduanya hingga hidung mereka bersentuhan. Dapat Sunwoo rasakan terpaan napas halus Jaehyun.

“Mau sampai kapan, Kak?”

“Aku enggak bisa lepasin kamu, Nu, enggak akan bisa.”

Sunwoo tersenyum sendu, “aku pun begitu tapi, kita egois enggak sih, Kak? Kita ada pacar masing-masing tapi, malah diam-diam pacaran.”

Seharusnya kalau dari awal Jaehyun berani memilih, mungkin keadaan tak akan serumit ini. Tak lagi kebingungan hadapi hari esok.

“Kak Je, hidup itu penuh pilihan. Tinggal kita yang tentukan pilihannya.” Tangan Sunwoo menangkup pipi Jaehyun, memberi elusan lembut di sana. “Kak Je, lepasin aku ya? Bahagia lagi sama Kak Chanhee.”

Jaehyun menggeleng kuat, lengan yang masih setia di pinggang Sunwoo memeluknya semakin erat.

“Jangan suruh aku lepasin kamu, aku enggak bisa.”

“Bisa, pasti bisa. Bahagia lagi sama Kak Chanhee seperti sebelum ada aku di sana.” Sunwoo urai senyum lagi, “aku tau di sini nama Kak Chanhee masih jadi pemenangnya, kamu enggak bisa lepasin aku karena aku yang selalu ada, Kak, kamu hanya terbiasa sama aku. Jadi, perbaiki hubungan kalian ya? Obrolin semuanya.”

“Sunwoo ...” Jaehyun menatapnya memohon.

“Aku lepasin kakak, aku juga lepasin Eric, aku lepasin kalian berdua,” kata Sunwoo lagi.

Sungguh Jaehyun tak pernah tahu kalau saat ini akan datang dengan cepat. Jaehyun kebingungan, ia kehilangan. Seolah sesuatu dalam dirinya diambil secara paksa.

“Aku enggak bisa sama kamu aja, Nu?” Bisik Jaehyun sembari jatuhkan wajah di ceruk leher Sunwoo, hirup banyak-banyak aroma kesukaannya.

Yang nanti tak bisa lagi ia rasakan.

“Kita enggak bisa egois terus, Kak, aku juga enggak bisa hidup dalam bayang rasa bersalahku sama Kak Chanhee.”

Jaehyun, asal kamu tahu Sunwoo sangat berat melepasmu pergi. Lebih berat daripada ia lepaskan Eric tadi pagi.

Jaehyun, kalau Sunwoo egois ia tak akan mau kalah. Ia akan terus paksa kamu ada di sisinya. Namun, Sunwoo bukanlah tipe yang seperti itu. Sunwoo tak bisa sakiti orang lain lebih dalam lagi.

Jaehyun, mataharimu itu sudah jatuh terlalu dalam pada bulan-nya. Walau ia tahu kalau sedikit sekali kemungkinan kalian bersama. Berakhir lukai lagi hatinya sendiri.

Sunwoo sudah jatuh dan tak tahu bagaimana untuk keluar. Jadi, Jaehyun biarlah ia rasakan sakitnya sendiri.

Pelukan yang biasa terasa hangat dan nyaman, hari itu seolah direngut paksa. Setelah ini tak ada lagi pelukan hangat itu. Semuanya sudah usai.