partner in crime?
warning: friends with benefit, implisit sex scene, cheating, harsh word, swear local word (babi, brengsek dll)
intinya jorok.
ga ada posisi kanan kiri, adanya kyunyu di kasur :p
Malam itu Chanhee kembali hadir di ruang kamar Changmin, kamarnya yang bersebelahan dengan Changmin memudahkan ia untuk datang kapan saja. Temani sang karib yang tengah merasa sepi.
Malam minggu yang identik dihabiskan dengan kekasih tak berlaku bagi Changmin. Ia harus berpuas diri menghabiskannya dengan teman sepopoknya─Chanhee. Mengingat sang kasih yang berada di kota lain, memaksanya jalani hubungan jarak jauh.
“Lo enggak sama pacar kecil lo?” Changmin bertanya.
“Mana pacar sih? Temen doang,” kata Chanhee yang masih fokus pada ponsel digenggaman.
“Temen berbagi kehangatan maksud lo?” Hal itu buat sebuah bantal menyapa wajah Changmin, “aduh! Sakit babi!”
“Mulut lo tuh kayak enggak pernah sekolah!” Omel Chanhee setelahnya.
Changmin menatapnya penuh selidik, Chanhee sendiri masih tak peduli.
“Apa sih, Changmin? Mau apa?”
“Yang tadi, jawab,” pintanya penuh paksa.
Mendengar Changmin yang mulai serius Chanhee bangkit dari acara tidurannya dan letakkan ponsel di sembarang tempat. Duduk saling berhadapan di kasur Changmin.
“Ya temen doang, apa lagi?”
Tatapan Changmin masih setia, tak berganti sedetikpun buat Chanhee menyerah.
“Iya oke temen tapi, dia sering minta peluk sama cium. Udah gitu aja.”
Peluk dan cium.
Changmin kira keduanya sudah lebih dari itu, ternyata belum. Hal itu buat senyum muncul di wajahnya. Sontak Chanhee layangkan tatapan heran di sana.
“Kenapa lo senyum gitu?”
Bukannya menjawab Changmin bergerak mendekat, hingga hidung keduanya bersentuhan. Hal itu buat yang lebih tinggi gelagapan, tangannya ia letakkan di pundak Changmin.
“Ngapain?”
“Dia sama gue, enak mana, Chan?”
Chanhee blank seketika. Wajahnya berhias merah, akibat pertanyaan Changmin barusan.
“A-apanya?”
“Ciumannya, Chanhee.”
Ji Changmin, sialan.
Jawabannya sudah pasti Changmin, walau Chanhee berciuman dengan yang lain, nama Changmin selalu ada di sana. Seolah enggan pergi dari pikiran, paksa Chanhee untuk ingat dia terus.
Tetapi, jelas Chanhee ingin bermain sejenak dengan pemuda di hadapannya ini. Maka ia uraikan senyum, matanya tatap Changmin sarat akan godaan, “kenapa enggak lo cari tau sendiri jawabannya, Min?” katanya.
Detik selanjutnya keduanya sudah menyatu dalam ciuman, bibir bertemu bibir melebur jadi satu. Menyesap bibir masing-masing dengan terburu, seolah dikejar waktu.
Tangan pun tak tinggal diam, saling jamah tubuh masing-masing. Rasakan kulit halus itu lewat sentuhan. Chanhee letakkan tangannya di pinggang Changmin, mengelusnya pelan membuat pemuda di hadapannya ini lirihkan desahan.
Changmin mendorong yang lebih tinggi hingga terbaring di kasurnya dengan ia berada di atasnya dan kembali menyatukan bibir keduanya. Keduanya seolah tak mau berhenti walau napas memberat dan berseru minta diisi oksigen kembali, terlampau asik memakan bibir masing-masing.
Tepat detik tiga puluh dua, Changmin lepaskan pagutan keduanya. Deru napas keduanya bersahutan penuhi ruangan.
“Anjing,” makian keluar dari bibir Changmin ketika punggungnya bertemu kasur dengan keras. Pelakunya sudah jelas Chanhee.
Pemuda yang kini berada di atasnya tertawa, bubuhkan kecup di kedua pipi Changmin.
“Maaf terlalu semangat,” katanya tetapi, Changmin tahu pemuda itu sengaja.
Chanhee ketika dalam keadaan seperti ini tak lagi kenal kata pelan dan halus. Kasar dan terburu-buru, dua kata yang cocok gambarkan Chanhee saat ini. Dan Changmin sudah terlampau hafal dengan sifatnya.
“Lo sengaja gue tau,” sahutnya.
Kemudian kembali teringat dengan pertanyaannya tadi, “jadi gimana, Chan? Gue atau degem lo?”
Chanhee menunduk, sejajarkan wajah keduanya. Mata Changmin terpejam sejenak kala rasakan terpaan napas halus Chanhee.
“Kenapa harus ditanya kalau lo juga udah tau jawabannya?”
“Jawab aja.”
“Haus validasi, hm?”
Choi Chanhee brengsek.
“Kalau gue balikin pertanyaannya, enak mana gue sama cowok lo? Kira-kira lo bakal jawab apa, Changmin?”
Mulut itu benar-benar bisa kacaukan kewarasan Changmin. Sialnya lagi, Changmin menyukai itu.
Sebelum menjawab ia sempatkan lingkarkan kedua lengannya di leher Chanhee, munculkan senyum manis, “ya gue bakal jawab lo. Choi Chanhee doang yang bisa buat gue berantakan, iya 'kan?”
“Lo brengsek,” Chanhee berkata seiring ia sembunyikan wajah di leher Changmin, “brengsek tapi, gue sayang.”
“Iya lah yang bisa buat lo desah keenakan kan cuma gue.”
Chanhee tatap lagi wajah itu kemudian tertawa, “mulut lo itu, diajarin siapa hah?”
“Lo,” satu kata singkat mampu buat Chanhee tertampar kenyataan.
Benar juga.
Tapi, Chanhee suka dengar kalimat kotor yang keluar dari bibir pemuda itu.
“Putusin aja pacar lo, pacaran sama gue,” kata Chanhee meledek but he mean it.
“Maunya gitu tapi, nanti deh.”
Gila.
Keduanya memang gila dan mereka akui itu. Tak masalah.
Chanhee tersenyum penuh kemenangan. Chanhee jelas menang dari kekasih Changmin. Hanya dia yang bisa buat Changmin teriak keenakan, hanya dia yang bisa kacaukan Changmin dan hanya dia yang bisa sentuh tubuh indah itu. Bahkan kekasihnya itu tidak bisa.
Dari awal Chanhee sudah menang telak.