rapat dan eric yang menemani

dibuat karena aku liat tweetnya brilli, aku udah izin ke dia ya untuk dibuat oneshot <3

selamat membaca!

Rapat OSIS hari ini tampak sedikit berbeda karena hadirnya satu pemuda yang duduk tenang disebelah sang ketua OSIS. Dengan tangan yang menggenggam roti yang dibagikan sebelum rapat dan mata yang mengedar ke penjuru ruangan.

Sohn Eric, pacar si ketua OSIS. Eric diajak ikut ke ruang OSIS oleh Sunwoo, dengan dalih tak perlu datangi kelas Eric lagi dan bisa langsung pulang.

Pendingin ruangan dinyalakan hingga kini dingin sapa kulit tubuhnya, ia dibuat mengigil karenanya untung masih bisa Eric tahan. Netranya beralih tatap pemuda di sebelahnya yang terlihat serius ketika pimpin rapat. Sisi yang jarang Sunwoo perlihatkan pada banyak orang.

“Karena dana juga agak mepet kalau bisa untuk guest star jangan terlalu banyak, ambil yang paling banyak disukain. Jadi, bisa untuk tutup kekurangan dana yang lain,” jelas Sunwoo.

Eric suka sisi serius Sunwoo saat pimpin rapat, pemuda yang biasa jahil kini terlihat berwibawa. Sunwoo terlihat keren di matanya kini─enggak juga, Sunwoo selalu keren di mata Eric setiap saat.

Sebenarnya Eric sudah sering datangi ruang OSIS, untuk bertemu Sunwoo tentu saja. Tetapi, baru kali ini ia ikut serta anggota OSIS rapat. Tak buruk juga ia bisa makan roti yang disediakan anggota lain untuk rapat.

Kegiatan Eric menyantap roti tertunda ketika Sunwoo menarik hoodie miliknya dari tas ransel.

“Ren, gantiin dulu bentar,” katanya ke Yiren si wakil ketua OSIS.

Ia tatap Sunwoo bingung, mau ke mana?

Rasa penasarannya terjawab ketika Sunwoo tarik kurisnya mendekat dan memakaikan hoodie itu di tubuhnya.

“Rotinya taruh dulu, susah masuknya.” Eric menurut dan letakkan roti itu dibungkusnya. Kembali diam dan tunggu Sunwoo selesai memakaikan hoodie itu ke tubuhnya.

“Udah enggak dingin?”

“Enggak, udah lanjut lagi aja,” sahut Eric dengan pipi memerah samar. Ia malu, terlebih ketika ia bisa rasakan tatapan meledek dari anggota OSIS lainnya.

“Aduh asiknya rapat bawa pacar,” Hyunjin yang pertama kali bersuara.

Disahuti oleh yang lain. Astaga, memalukan!

“Ih udah lanjut lagi rapatnya,” omel Eric yang kini tarik tudung hoodie Sunwoo guna tutupi wajah memerahnya.

Yang lain hanya tertawa ketika lihat si pemuda Sohn itu malu. Rapat kembali berlanjut ketika Sunwoo ambil alih lagi untuk pimpin rapat sore itu. Semua berjalan lancar, satu persatu pembahasan dapat terselesaikan. Eric juga masih diam nikmati roti coklatnya─entah sudah bungkus yang keberapa ia lupa.

Tapi, semua yang ada di situ jelas tahu Eric itu tak pernah bisa diam. Duduk lama seperti ini sudah pancing rasa bosannya untuk keluar. Terlihat ketika ia tarik kursi mendekat ke Sunwoo dan menatap laptop yang menyala itu.

“Lagi bahas apa sih?” Tanya Eric masih sambil memakan rotinya, membuat pipi itu menggembung lucu.

Sunwoo gemas sendiri dibuatnya. Eric sadar tidak sih kalau dia sangat menggemaskan saat ini? rasanya ingin Sunwoo gigit pipi itu.

“Gue kepo deh,” kata Eric lagi, sembari masukkan potongan roti terakhirnya.

Sunwoo alihkan tatap fokus sepenuhnya pada pemuda yang kini asik berbicara dengan Yiren─masih penasaran dengan apa yang dibahas hari ini.

Tawa kecil Sunwoo keluarkan karena tak tahan lihat Eric begitu menggemaskan. Masih dengan menatap Eric dan senyum yang tak kunjung pergi, tangan Sunwoo bergerak temukan rumahnya di puncak kepala Eric, memberi tepukan pelan di sana.

“Lucu banget sih,” gumamnya.

“Ah anjir ini mah rapat sekaligus pacaran,” kali ini Jihoon angkat bicara, menatap adegan bak di film roman picisan yang sering kakaknya tonton.

“Bilang aja lo iri enggak bisa ajak Kak Hyunsuk,” timpal Yeji.

“Itu tau.”

Dapat Sunwoo rasakan pukulan menghampiri lengannya lumayan kuat hingga ia mengaduh, pelakunya tentu saja Eric.

“Apa sih kok dipukul?”

“Kamu mah, malu tau,” omelnya.

Sunwoo tertawa lagi, “enggak apa sesekali.”

Bibir itu melengkung ke bawah, ia tatap Sunwoo galak─walau percuma karena Eric selalu lucu di mata Sunwoo.

“Aduh gemesnya,” seru Lia yang kini mencubiti pipi Eric dengan gemas.

Membuat Eric kembali merengek malu. Ah tak bisakah mereka berhenti buatnya malu.

Ini salah Sunwoo pokoknya, semua salah Sunwoo.

“Udah eh stop gangguin pacar gue kasian malu,” kata Sunwoo seraya tarik Eric untuk mendekat ke tubuhnya dan menarik kepala itu untuk bersandar di bahunya, menyembunyikan wajah memerah itu di sana.

“Kelarin yuk rapatnya kasian ketos kita mau pacaran,” kata Yiren sembari tertawa melihat Eric kini bersembunyi di bahu Sunwoo.

Rapat kembali dimulai dengan bahu Sunwoo yang masih dijadikan tempat bersembunyi oleh Eric. Hingga tepat lima belas menit rapat sore itu selesai. Eric juga sudah menjauh dari bahu Sunwoo, menatap wajah lelah dari teman-temannya itu.

“Akhirnya kasur!”

“Gue masih harus ngelonin tugas.”

Dan masih banyak keluhan lain yang buat ranumnya mengukir sebuah kurva mungil. Ada-ada saja.

“Makasih ya udah ikut rapat hari ini, sampai ketemu dua hari lagi. Koordinator tiap seksi jangan lupa dikontrol, kalau ada yang kurang atau perlu revisi kabarin dirapat lusa,” kata Sunwoo yang jadi penutup rapat sore itu.

Setelahnya semua berhamburan pergi, tinggalkan Eric dan Sunwoo yang masih berdiam di situ. Matanya menatap Sunwoo yang fokus pada laptopnya.

Wajah itu boleh ukirkan senyum dan tawa lebar tetapi, mata tak dapat bohongi kalau Sunwoo lelah. Kantung mata yang menghitam seolah menjadi riasan baru di wajah Sunwoo.

“Capek ya?”

“Hm?” Sunwoo bergumam masih fokus pada laptopnya, menyimpan semua file penting didokumen terpisah, “lumayan,” sahutnya bersamaan dengan layar laptop itu ia tutup.

“Mau langsung balik apa makan dulu?”

“Bunda di rumah enggak?” Bukannya jawab pertanyaan Sunwoo barusan, Eric malah lontarkan pertanyaan lain.

Sunwoo gelengkan kepala, “nemenin Ayah dinas luar kota, kenapa?”

“Makan dulu berarti, kamu kalau enggak ada Bunda pasti enggak akan makan,” kata Eric yang sudah paham akan tabiat sang kekasih.

“Tapi, habis makan peluk boleh?” pinta Sunwoo penuh harap.

Mata bulatnya kini tatap Eric sepenuhnya, memaksa Eric untuk luluh pada tatapan memelas dari manik kesukaannya.

“Iya nanti dapet peluk.”

“Yang lama?”

“Iya yang lama.”

Bibir tebal itu munculkan senyum manis kala permintaannya dituruti oleh yang lebih muda. Maka, Sunwoo anggukan kepala penuh semangat.

“Yey, ayo cari makan!”

“Dasar dapet cium aja baru semangat.”

“Aku butuh re-charge energi aku, sayang.”

“Halah alasan.”

Perjalanan keduanya sore itu ditemani alunan lagu yang sengaja Sunwoo putar dan canda tawa yang hiasi mobil yang dikendarai Eric. Pemuda itu memaksa untuk menyetir mobil Sunwoo karena ia lihat bagaimana lelahnya Sunwoo kini. Sunwoo hanya menurut toh ada benarnya juga perkataan Eric.

Hal yang Sunwoo sukai ketika perjalan pulang adalah obrolan ringan bersama Eric. Tangan yang saling bertaut dan sesekali memberi elusan lembut di sana. Sesekali ikut melantunkan nyanyian mengikuti lagu yang diputar.

Hari itu memang melelahkan tetapi, Sunwoo bersyukur akan hadirnya Eric yang lengkapi harinya, yang buat harinya lebih baik lagi. Di penghujung hari Sunwoo ukir senyum cerah bukan karena paksaan tetapi, karena ia ingin dan supaya Eric tahu kalau senyum itu hanya ditujukan untuknya─dan kedua orang tuanya tentu saja.

Semuanya jangan lupa bahagia ya!