rasa yang tak tepat

Semua teman Sunwoo pasti tahu kalau si pemuda Kim itu menyimpan rasa pada mahasiswa semester akhir dari jurusan matematika. Garis bawahi kata semua. Bagaimana tidak? ketika bersama Chanhee dan Changmin yang selalu ia bahas adalah bagimana tampannya rupa si pemuda, bagaimana manisnya senyum itu dan masih banyak lagi.

“Enggak capek apa?” Chanhee bertanya ketika Sunwoo selesai menceritakan perihal si kakak tingkat idamannya itu.

“Udah berapa kali coba?” giliran Changmin yang bertanya, “dua atau tiga?”

“Tiga,” Chanhee menyahuti pertanyaan kekasihnya.

Sunwoo mencibir, “biarin sih, namanya juga usaha,” katanya membela diri.


Pertemuan pertama

Kala itu Sunwoo yang baru masuk kuliah, masih semangat-semangatnya untuk mengikuti serangkaian kegiatan kampus dan organisasi. Entah berapa banyak yang ia ikuti tapi, yang menjadi fokusnya adalah sepak bola. Chanhee dan Changmin pun tahu secinta apa Sunwoo pada sepak bola.

Hari itu di sore hari Sunwoo dan anggota yang lain tengah berlatih, ketika salah satu kakak tingkat menarik perhatiannya. Lee Jaehyun namanya, mantan anggota UKM sepak bola. Itu adalah kali pertama Sunwoo melihat Jaehyun. Padahal kata Eric pemuda itu sering bergabung kala mereka selesai latihan. Pantas saja tak pernah bertemu, Sunwoo selalu pulang lebih dulu ketika latihan usai.

Hari itu sepertinya dewi fortuna berpihak padanya, Jaehyun datang lebih awal dari biasanya.

“Lo mainnya bagus, Dek,” itu adalah kalimat pertama yang Jaehyun katakan pada Sunwoo.

Ia mati-matian menahan senyumnya, “e-eh makasih, Kak.”

Jemari Jaehyun mengusap pelan rambutnya, “lucu banget sih.”

Ternyata ini ya definsi yang diberantakin rambut yang berantakan hati.

Dan dari situ Sunwoo dan Jaehyun menjadi dekat. Jaehyun pun tak segan mengajak adik tingkatnya itu untuk menemaninya mengerjakan skripsi. Intinya keduanya seperti lem dan perangko, tak bisa lepas.


Kedua kali

Ini kali kedua Sunwoo berusaha mendapatkan hati si kakak tingkat. Tak apa kalau yang pertama masih gagal, masih ada kesempatan lain kali. Dan mungkin kali ini adalah saatnya.

Siang itu keduanya berada di rumah Sunwoo, Jaehyun memintanya mengajari bermain gitar dan sebagai gantinya Sunwoo minta diajarkan piano. Imbal balik yang cukup baik bukan?

“Nah itu udah lumayan bagus kok, Kak, tinggal lancarin aja biar jarinya enggak kaku.”

“Pedih juga ya tangannya,” keluh Jaehyun.

Sunwoo tertawa, “ya gitu lah kalau mau main gitar.”

“Eh, Kak, mau tanya deh.”

“Nanya apaan? gue jawab asal jangan tanya skripsi.”

“Kaga elah.”

“Terus mau tanya apa, cil?”

“Yang naksir lo 'kan banyak tuh ya,” Sunwoo mengalihkan tatap ke gitar di pangkuan Jaehyun, “enggak ada satupun yang lo sukain balik gitu?”

Jaehyun nampak terdiam sejenak, “kalau lo yang naksir sih bisa dipertimbangkan,” kata Jaehyun dengan santai.

Apa maksudnya, Lee Jaehyun? teriak Sunwoo dalam hati.

Matanya melotot kaget, “hah?”

Jangan bilang─

“Bercanda!”

Oh ... Sunwoo terlalu berharap sepertinya.

Jaehyun tertawa begitu melihat wajah kaget Sunwoo barusan, “aduh lucu banget sih, Nu!”

'Percuma lucu kalau enggak dipacarin.'

“Serius ih, Kak!”

“Hahaha oke maaf!” Jaehyun berusaha meredakan tawanya, “Jawabannya enggak, ada satu hal lain yang harus gue kejar, Nu,” jawabnya dengan senyum manis, bahkan Sunwoo bisa lihat mata itu berbinar cerah.

Oke enggak apa, Nu, masih ada kesempatan lagi nanti.

Padahal sorot mata Jaehyun sudah menjelaskan semuanya.


Percobaan ketiga

Kali ini Sunwoo sudah lebih berani, sudah tak malu-malu lagi untuk memuji Jaehyun. Tak malu lagi untuk tunjukan perasaan yang sebenarnya. Mungkin Jaehyun pun menyadari, tak masalah bagi Sunwoo toh memang itu niatnya. Agar pemuda itu tahu kalau Sunwoo memendam rasa untuknya.

Hari ini Sunwoo berniat mengajak Jaehyun pergi, sekaligus mengutarakan perasaannya. Ditolak atau tidak itu urusan belakang. Jaehyun pun menyetujui, dia bilang kalau dia ingin membicarakan sesuatu dengan Sunwoo.

Kafe yang berada di pusat kota adalah pilihan keduanya. Sunwoo sudah ada di sana sejak lima belas menit yang lalu, menanti kehadiran Jaehyun. Pemuda itu mendadak tak bisa dihubungi.

Hampir dua jam ia menanti tetapi, sosok Jaehyun tak muncul juga.

Kali ini pun gagal lagi ya?

Ya sudah mungkin lain waktu.


Kembali ke masa sekarang. Sunwoo baru saja sampai rumahnya, setelah tadi berbincang dengan Chanhee dan Changmin. Baru akan melangkahkan kaki ke kamar mandi ponselnya berbunyi, nama Jaehyun tertera di sana. Pemuda yang tak ada kabar nyaris tiga hari, kini mulai menampakan diri lagi. Dengan cepat ia membuka pesan yang dikirimkan oleh Jaehyun.

Seketika senyumnya menghilang, rasa bahagia yang sempat ia rasa mendadak sirna. Ia tertawa kecil seolah menertawakan nasib percintaannya yang tak kunjung berhasil atau malah tak pernah berhasil?

Harusnya Sunwoo tahu bahwa Jaehyun dan dia tak bisa bersama. Harusnya Sunwoo sadar perlakuan Jaehyun padanya hanya karena pemuda itu menganggap Sunwoo seperti adiknya sendiri. Tetapi, Sunwoo terlalu menutup mata akan kenyataan yang terlihat. Ia terlalu naif dan menganggap bisa membuat pemuda itu membuka hati untuknya.

Tiga kali Sunwoo mencoba dan untuk kali ini ia berhenti.

Karena pemilik hatinya ternyata sudah memiliki kisahnya sendiri.