reksa dan mimpinya

jongseong as reksa sunghoon as satya


Kalau kata orang Reksa itu pemimpi yang handal. Banyak sekali mimpi yang ingin dicapai, tapi Reksa tahu bagaimana cara wujudkannya.

Seperti mimpi sedari lama yang ingin buka toko kue, ia mampu wujudkan beberapa tahun setelahnya. Mimpinya banyak dan Reksa tak pernah keberatan untuk wujudkan satu persatu.

“Sa, menurut kamu aku bisa nggak lanjut studi ke Jepang?” pertanyaan Satya sore itu mampu hadirkan nyeri diseluruh tubuh.

Tapi, Reksa itu juga keras kepala maka dia mengangguk dan berkata penuh yakin, “bisa pasti bisa.”

“Kamu lebih yakin daripada aku sendiri, ya?” Kekehan itu malah buat Reksa semakin kalang kabut.

Ia raih jemari itu dan digenggamnya, “Satya … jangan begitu,” bisiknya penuh permohonan.

Reksa tatap wajah pucat itu dan berujar, “kita masih punya mimpi yang mau diwujudin bareng-bareng, Satya inget kan?”

Mata itu balas menatapnya, seakan sampaikan apa yang dirasa melalui tatap. Sampaikan segala gundah dan gelisah yang dirasa. Salurkan kata yang tak bisa disampaikan melalui lisan.

“Sa, itu … agak sulit. Kamu tahu sendiri kan? Kalau memungkinkan kita bisa wujudinnya bareng-bareng, kalau nggak maaf ya?”

Reksa menggeleng, nggak mau terima maaf yang dikeluarkan barusan. Reksa nggak mau dengar maaf dari mulut Satya malam ini. Nggak mau.

“Satya,” katanya putus asa.

Air mata mulai mengalir turun, basahi pipi Reksa malam itu. Dinginnya ruang rawat Satya tak lagi Reksa pedulikan. Satya-nya lebih penting dari apapun yang ada.

“Aku masih di sini, jangan nangis,” Satya hapus air mata yang mengalir dari manik kesukaannya.

Satya ulaskan senyum, “Reksa, aku masih di sini, kalaupun aku nggak ada, aku masih di sini sama kamu,” jarinya menunjuk dada Reksa.

“Aku maunya sama kamu, maunya ada kamu.”

“Aku juga mau,” balas Satya, ia paksakan senyum, “tapi semesta kadang banyak maunya, Sa.”

Semesta untuk kali ini bisa tidak berpihak pada Reksa?

Reksa hanya ingin dalam setiap lembar cerita yang tertulis ada Satya di dalamnya.

Mimpinya memang banyak, namun untuk kali ini mimpinya satu, Satya tetap bersamanya sampai nanti. Apakah bisa ia wujudkan seperti mimpi-mimpinya yang lain?

Reksa itu pemimpi yang handal, banyak sekali yang ingin dia capai. Tapi, Reksa terkadang lupa satu hal, bahwa dunia yang punya kuasa. Akan hal apa yang terjadi nantinya, bukan lagi kuasa Reksa.

“Satya, jangan pergi, nggak boleh,” malam itu ditemani hujan di luar rumah sakit, Reksa menangis di pelukan Satya.

Memohon pada dunia agar tak ambil Satya-nya secepat itu. Memohon agar dunia berbaik hati pada keduanya. Memohon pada dunia agar punya sedikit belas kasihan padanya.

Malam itu dengan bibir pucat dan tangan gemetar, Satya paksakan keluarkan beberapa kalimat, “aku sayang Reksa, sayang banget. Bahagia terus ya, sayang?”

Bisa tidak Satya diam saja dan tetap memeluknya erat, tanpa harus bersuara. Reksa semakin kalut dibuatnya. Seolah Satya akan segera meninggalkannya sendiri.

Bagaimana Reksa bisa bahagia kalau Satya tak lagi disisi? Reksa nggak bisa. Membayangkannya saja sudah membuatnya mual.

Nyatanya segala pikiran buruk itu benar-benar terjadi. Di antara banyaknya mimpi, Reksa tak pernah terpikir kalau mimpi buruknya malah menjadi nyata.

Satya-nya pergi, tinggalkan Reksa sendiri.

Satya tinggalkan Reksa 'tuk hadapi dunia sendirian.