Sinar bulan temani malam keduanya kali ini. Dhika sendiri masih meracau tak jelas di kursi penumpang. Perihal Damar yang tak mau menciumnya dan berakhir berucap kalau Damar sudah tak menyayanginya lagi.
Dhika yang mabuk adalah Dhika yang cerewet. Maka tak heran pemuda itu tak berhenti berceloteh, perihal apapun. Kucing di pinggir jalan, lampu jalanan, langit yang penuh bintang dan lainnya.
Dhika yang mabuk jelas terlihat berkali lipat lebih lucu di mata Damar. Bibir mengerucut seraya kata demi kata ia keluarkan.
Damar hentikan mobil tepat di depan rumah Dhika. Terlihat sepi karena orang tua kekasihnya berada di kota lain. Singkatnya Dhika anak rantau.
“Yuk turun dulu udah sampai ini.” Damar beri tepukan lembut di pipi.
“Mau cium!”
Rengekan itu tarik sudut bibirnya naik, lucu sekali sih.
“Sini,” Damar menepuk pahanya.
Tanpa perlu diaba-aba lagi, Dhika beranjak duduk di tempat absolut miliknya seorang. Kedua tangannya lingkari leher Damar.
Dalam jarak dekat, dapat Damar lihat jelas wajah indah pemuda di pangkuannya. Ia amati wajah itu dengan seksama, ia ingat bagaimana rupa wajah sang kasih. Mulai dari mata hingga ke bibir, semua tak ada yang luput dari pandangan.
“Cantik,” bisiknya sebelum menyatukan bibir keduanya.
Ditemani sinar rembulan dan alunan lagu dari radio mobil, jadi saksi bisu keduanya bagi cinta malam itu.
Deru napas terdengar bersahutan, rematan Dhika di pundak menguat, tangan Damar bergerak turun menelusuri lekuk tubuh yang tertutup kaos.
Malam itu dingin seolah tak terasa lagi, terhalau oleh sentuhan lembut nan memabukkan dan cumbuan di bibir.