sunwoo itu cantik.
warning, this story contains:
miljusun ngewe, jadi sudah pasti ini isinya kotor. threesome, dom!je, vers!ju, sub!sun. miljusun pacaran bertiga. usage of vulgar words (penis, ngewe), swear local words (anjing, brengsek) and a lot of harsh words. degradation, humiliation, dirty talk, implisit sex scene, making out, rough sex (kinda). terus di sini sunwoo-nya suka pake rok.
tolong tegur aku kalau ada tags yang nggak dimasukin atau salah, terima kasih.
Dibalik sifat garang dan cueknya Sunwoo, banyak yang tak tahu perihal kecintaan Sunwoo pada rok. Iya, rok. Bukannya menutupi, tetapi Sunwoo pakai rok hanya untuk kedua pemuda kesayangannya saja kok. Bukan untuk orang lain.
Sore itu kontrakan hanya berisi dia dan Juyeon, sedangkan Jaehyun masih satu jam lagi hingga ia menampakan diri di kontrakan.
Jemarinya membuka pintu lemarinya, dengan cepat mencari barang yang ia butuhkan. Setelahnya tersenyum senang. Bermain-main sedikit tak masalah bukan?
“Juyoo!” Serunya dari dalam kamar, setelah mengganti pakaiannya.
“Aku di depan sini!” Balas Juyeon sembari berteriak juga.
Bibirnya cemberut sedikit dan kembali berseru, “ke kamarku dong, mau minta tolong!”
Tak lama Sunwoo dengar langkah kaki beradu di dinginnya lantai. Ia tersenyum penuh kemenangan, berhasil.
Pintu kamarnya dibuka bersamaan sosok tinggi itu memasuki kamar, nampaknya masih belum sadar dengan pakaian yang kini melekat di tubuh Sunwoo.
“Minta tolong apa─brengsek, sengaja ya?” Mata itu menatapnya lekat, seakan menelanjangi diri. Sunwoo bahkan dibuat gemetar oleh tatapan tajam itu.
“Nggak juga?” Sunwoo terkekeh, ia mengambil langkah maju, mendekat ke arah Juyeon.
Kemudian kedua tangannya melingkari leher Juyeon. Jarak antar keduanya nyaris tak ada, hidung keduanya bahkan sudah bersentuhan.
“Suka, 'kan?” Bisiknya sarat akan godaan di sana.
Dapat Sunwoo rasakan lengan Juyeon melingkari pinggangnya. Mengelus pelan, menyusuri pinggang ramping itu. Seolah tinggalkan jejak kepemilikan di sana. Seakan jadi deklarasi kalau pemuda ini sudah ada pemiliknya.
Tangan Juyeon bergerak turun, sebuah senyum muncul di sana, “nakal ya, siapa yang ngajarin kamu, hm?”
Sunwoo meremang kala tangan besar itu mengelus pelan paha dalamnya. Menyelinap masuk ke dalam rok hitam yang ia kenakan. Kemudian, bergerak menuju tubuh belakangnya dan menampar pelan pantatnya.
“Ju,” rengeknya.
“Bukan Ju,” kata Juyeon.
Tangannya Sunwoo bergerak menuju pipi Juyeon, menarik wajah itu mendekat dan berbisik, “iya, Kakak,” setelahnya menyatukan bibirnya dan Juyeon dalam ciuman.
Elusan di sepanjang punggung Juyeon berikan, sesekali meremat pinggang ramping itu. Juyeon selalu suka ketika tangan besarnya bertemu dengan pinggang ramping Sunwoo, rasanya menyenangkan. Melihat tangannya hampir menutupi pinggang itu.
Tak berhenti disitu, ia menarik kemeja putih yang Sunwoo kenakan dan menyelinap masuk. Menyentuh apa yang bisa ia sentuh, merasakan kulit telanjang itu dibawah sentuhannya. Menyentuh otot di perut Sunwoo yang sudah terbentuk dengan indah di sana.
Rengekan Sunwoo semakin jadi dibuatnya. Entah berapa lama mereka bertahan di posisi itu, hingga akhirnya Juyeon mendudukkan diri di kasur Sunwoo dan menarik si empu untuk duduk di pangkuan.
Napas keduanya terengah, saling bersahutan dalam ruang kamar. Matanya enggan alihkan tatap dari pemuda di pangkuan. Pemandangan indah ini, siapa juga yang rela untuk mengabaikan?
Dia bisa lihat jelas bibir tebal yang bengkak dan mengkilap karena saliva, mata sayu yang menatapnya penuh harap, dada naik turun, pakaian yang berantakan. Sunwoo total indah di matanya.
“Pakai dasi gini,” jemarinya meraih dasi hitam yang Sunwoo kenakan, “biar ditarik pas lagi ngewe, gitu?”
Sejujurnya Juyeon bukan pribadi yang suka berkata kotor dan vulgar. Saat bersama Sunwoo dan Jaehyun adalah pengecualian. Juyeon tak malu untuk melontarkan kata-kata kotor, yang mampu buat nafsu Sunwoo semakin naik dan berakhir merengek untuk dipuaskan.
Dengan cepat Sunwoo mengangguk, “mau ... mau ditarik pas lagi diisi penis Kakak,” kata Sunwoo dengan berani. Jari lentik itu mengusap bibir Juyeon, “mau dienakin sama Kakak, pas pake baju sama rok ini.”
Persetanan dengan pertahan diri yang begitu rendah ketika bersama Sunwoo. Siapa juga yang tahan ketika dengar ucapan kotor barusan? Jawabannya bukan Juyeon apalagi Jaehyun.
“Mau dienakin sama Kakak aja? Kak Jaehyun nggak mau?”
Perkataannya begitu manis dan mampu membuat Sunwoo menurut.
Kepalanya pusing bukan main. Bayangan ketika kedua kesayangannya mengisi dirinya, ketika ia masih mengenakan pakaian lengkap. Tanpa sadar Sunwoo melenguh, pinggulnya bergerak dan kedua penis keras itu saling bersentuhan.
“Mau ... mau Kak Jaehyun─mau kalian─nghh.” Ia jatuhkan kepalanya di pundak Juyeon, tak mampu lagi menatap Juyeon.
Juyeon kecup pipi yang memerah itu, “kalau gitu harus nunggu Kak Jaehyun,” kata Juyeon main-main.
Sunwoo tahu Juyeon sedang menguji kesabarannya dan lagi Juyeon juga tahu Sunwoo bukan si penyabar. Sunwoo selalu mau keinginannya dipenuhi segera.
Ia gerakkan lagi pinggulnya, kembali menyapa penis keras Juyeon. Hadirkan lenguhan dari bibir kakak kucingnya. Tangan besar itu kembali menyapa pinggangnya, menahan agar tak bergerak lagi.
“Anak nakal,” bisiknya. Tangan satunya meraih ponsel di kantung celana. Mencari kontak Jaehyun dengan cepat.
“Kak, masih lama?” Sunwoo merengek pelan, dia benar-benar habis malam ini.
Mata Juyeon menatapnya, seringai hadir hiasi wajah yang sialannya sangat tampan itu.
“Anaknya mau dienakin pas pake rok, terus mau ditarik dasinya pas lagi ngewe. Kira-kira pas denger itu kakak bakal pulang lama atau cepet?”
Setelahnya Juyeon tertawa begitu dengar kasihnya menggeram marah. Oh, sepertinya malam ini ada yang akan mengamuk.
“Jangan lama ya, Kak, kalau lama kita berdua duluan.”
“Anjing. Tunggu Kakak bentar lagi sampai. Tunggu, Kakak, paham?”
Sunwoo dapat dengar jelas suara Jaehyun di sebrang sana. Air mata mengalir tanpa ia sadari. Semua yang menyangkut Jaehyun, memang mampu buat Sunwoo merasa kecil seketika.
Tapi, katakan Sunwoo bebal dan selalu cari masalah. Terlihat ia kembali menggerakkan pinggulnya, membuat Juyeon loloskan satu lenguhan panjang.
“Ah ... Sun─stop.”
“Kak Je, cepetan pulang kita tunggu─hngh Kak Ju,” katanya disela lenguhan yang berebut untuk keluar.
Baik Sunwoo maupun Juyeon dapat dengar dengan jelas makian Jaehyun. Sunwoo dan Juyeon sebenarnya sama, sama-sama suka menguji kesabaran Jaehyun.
Persetanan dengan Jaehyun dan hukuman yang menanti, Juyeon tak peduli lagi. Nafsunya sudah diambang batas dan tak bisa menunggu lebih lama.
Ia dorong Sunwoo, hingga kekasih kecilnya itu terlentang di kasur. Jemarinya meraih dasi hitam itu dan menariknya kuat.
“Akh!”
Kemudian menyatukan bibir keduanya dalam cumbuan kasar. Juyeon lepaskan sejenak untuk berujar, “Kak Je, nggak tahan. Boleh buka kancing baju Sunwoo?” Ia nyalakan loudspeaker di ponselnya.
“Fuck. Macet sialan,” Jaehyun sempatkan untuk memaki sebelum menjawab pertanyaan Juyeon barusan, “boleh, Sayang, buka kayak aku biasa buka kemeja kamu. Bisa?”
“Hm, bisa.” Ia tarik dengan kasar kemeja putih itu, membuat beberapa kancing itu lepas dan jatuh entah ke mana.
“Anak pinter, lakuin apa yang mau kamu lakuin. Buat tubuh Sunwoo layaknya kanvas yang harus kamu lukis.”
Juyeon itu anak baik dan penurut. Maka ia lakukan perintah Jaehyun tanpa kurang sedikitpun.
Desahan Sunwoo mulai mengisi ruang kamar. Tangannya meremat helai hitam Juyeon.
“Kak Je,” kepalanya mendongak kala rasakan lidah Juyeon menyapa putingnya, “Ju─Kakak ... ah.”
“Iya, Nu, mau dienakin sama Kakak juga?” Sunwoo mengangguk, mulutnya terlalu sibuk mendesah, tetapi hebatnya Jaehyun mengetahuinya. “Sabar ya, kecil, kakak udah sampai.”
Lagi Sunwoo mengangguk.
Sambungan telepon terputus bersamaan pintu kamar mereka dibuka. Jaehyun di sana, menatap keduanya dalam diam.
Tangan Sunwoo terulur ke arah Jaehyun, “Kakak.” Jaehyun mendekati dua kesayangannya.
“Cantik, cantik banget pakai rok kayak gini,” kata Jaehyun.
“Hngh,” desahnya semakin vocal enggan ditutupi lagi.
Tangannya meraih dagu Juyeon, mencengkramnya erat, “nakal banget mulai duluan.” Jaehyun kecup bibir yang terbuka sedikit itu.
“Maaf,” cicitnya.
Jaehyun menepuk pipi sang kasih, guna menenangkan Juyeon. Tatapannya kembali beralih ke yang paling muda. Sebuah seringai mampir di wajah rupawannya.
“Ini yang katanya mau dienakin sambil pakai rok?” Ia raih dasi hitam yang melingkar apik di leher Sunwoo, ditariknya lumayan kuat hingga wajah Sunwoo terangkat.
“A-ah!”
“Bilang kamu mau apa, mulutnya dipakai, Nu, bisa 'kan?”
Kalau Juyeon suka keluarkan kata-kata kotor, lain lagi dengan Jaehyun. Pemuda itu penuh kuasa, suka mendominasi dan buat keduanya bertekuk lutut. Pemuda itu mampu buat keduanya jatuh dalam kuasanya.
Sunwoo buka matanya perlahan, ia tatap kedua lelakinya bergantian, “mau dienakin, mau diisi sampai tolol, mau dipake kakak. Mau kakak ... mau─akh!” dadanya membusung, ketika penisnya dicengkram kuat oleh Jaehyun.
Akal sehatnya sudah hilang, terkikis oleh nafsu birahi yang membara. Tak ada hal lain yang mampu ia pikirkan, selain Juyeon, Jaehyun dan bercinta.
Juyeon memaki, ia paksa bibir itu mengulum jarinya. Sedangkan Jaehyun tertawa sebelum melepaskan jas yang masih membalut tubuh tegapnya.
“Nu, malam ini nggak akan berakhir dengan cepat. Walaupun kamu nangis, kita nggak akan berhenti.”