Wordsmith

Bara nggak berharap macam-macam selepas dia—bluntlyconfess ke Saka lewat WhatsApp chat sore itu. Saka nggak jawab lagi sih chatnya, jadi Bara asumsikan semua selesai.

Dia cuma perlu lanjut ngerjain semua pekerjaannya sambil nunggu hujan reda. Lalu beranjak pulang dan siap-siap buat ngadepin hari yang lebih menyedihkan esok hari. Itupun kalo nanti malem dia bisa tidur meski sambil kepikiran kemungkinan terburuk yakni Saka jauhin dia.

Sekitar jam enam sore, Bara keluar dari lobby kantor buat nyari udara segar. Rencananya pengen ngerokok bentar di deket taman kecil yang sengaja dibikin biar agak asri, plus buat nyerap air hujan biar nggak menggenang di paving block depan lobby.

Ketika Bara jalan menuju ke arah taman, anak-anak muda yang biasa nongkrong di sana sambil ngerokok langsung bubar jalan. Udah biasa, Bara udah sering digituin. Mereka takut kalo harus duduk bareng sama Bara. Padahal Bara tuh nggak pernah menampakkan wajah intimidatifnya.

Alih-alih jadi nyalain rokok yang udah diapit sama kedua bibirnya, pandangan Bara jatuh ke arah pintu masuk plataran kantornya. Yang berbatasan langsung sama jalanan sempit sebelah gedung, kalo sore gini dipenuhi sama pedagang kaki lima yang udah mulai jualan aneka masakan.

Di sana ada Saka, lagi markirin motor bebeknya bersebelahan sama parkiran ojol yang biasa mangkal di situ. Saka lepas helm dan mulai jalan masuk ke dalem area kantor. Ketika Saka udah hampir masuk ke lobby, dari jauh, Bara manggil Saka dengan suara melengkingnya. Wajah Saka sedikit kaget, dan buru-buru lari kecil ke arah Bara.

Lihat Saka dalam jarak dekat gini, selepas apa yang udah dia ucapin sore tadi, Bara rasanya mau berbalik pergi sambil bodoh-bodohin dirinya sendiri yang begitu lancang manggil-manggil Saka tadi. Harusnya dia nggak segegabah ini ya? Dia aja belom siap kalo harus bener-bener ngomong sama Saka empat mata begini, lebih-lebih harus bahas soal apa yang tadi sore dia kirim ke Saka.

“Mau kopi nggak? Starling tapi, dompet gue ketinggalan di kantor. Cuma bawa gocap.” kata Saka seolah nggak ada apa-apa.

Bara akhirnya cuma senyum mengiyakan dan nyalain rokoknya ketika Saka berlalu berhentiin tukang starling yang kebetulan mangkal di sisi lain pintu masuk ke gedung kantor punya Bara.

Kayaknya Saka nemu tempat duduk yang lebih cozy di deket sana. Di bangku memanjang yang ada sandarannya, jadinya dia lambaiin tangan buat Bara berharap laki-laki seumurannya itu ikut buat duduk di sebelah Saka yang udah terlanjur pewe.

“Semoga nggak mencret ya, Bar, minum kopi murah.” kelakar Saka ditanggapi sama tawa lepas Bara—yang jelas dia pakai buat nutupin kegugupannya waktu sadar kalau Saka ke sini bukan tanpa alasan.

“Jam segini udah turun lo? Mau balik apa emang cuma mau ngerokok?” Saka buka percakapan di antara mereka selepas meneguk sedikit kopi susu panasnya.

“Ngerokok doang, kerjaan masih banyak, Sak.”

Saka cuma mengangguk-angguk mengerti buat nanggepin jawaban singkat dari Bara.

“Si Andy barusan minta video call dari HP eyangnya.”

“Minta apa dia?”

“Nanyain mamanya.”

Jangan tanya gimana keadaan Bara. Perutnya yang kosong dari siang itu berasa ditonjok kenceng banget. Nggak tau, dah. Apa coba motivasi Saka ngomong gini ke dia? Mau curhat? Atau jadi jawaban buat confession Bara tadi sore?

“Terus lo jawab apa?”

“Mama masih kerja.”

Bara hembuskan nafasnya kasar, yang keluar sih asap rokok yang dulu pernah dia benci, tapi semakin dewasa semakin akrab sama dia.

“Lo ... udah kepikiran cari Mama ... baru ... buat Andy?” Bara coba nanya dengan nada yang selembut mungkin, meski waktu ngomong gitu nggak bisa dipungkiri, hati dia ikutan cekit-cekit.

Saka diem lama banget. Neguk kopinya dari cup kertas pelan-pelan, alihin pandang ke taman, ke langit yang mendung menjelang malam, dan ke space kosong di antara badannya dan badan Bara.

“Mungkin jawaban gue akan sekaligus jawab pertanyaan lo tadi sore lewat WA ya, Bar.”

Woah udah dipastikan, jantung Bara hampir keluar dari tempatnya berada sekarang ketika Saka bawa-bawa topik tadi sore untuk dibicarain sekarang.

“Hm?”

“Gue nggak ... ngerti sebenernya alasan lo mendem sebegitu lamanya, dan gue juga nggak paham gimana bisa lo endure rasa sakit, rasa sebel, dan rasa ... sedih tiap kali lo liat gue sama yang lain, selama 24 tahun. Tapi, ketika gue kehilangan Dewi dua tahun terakhir, gue mungkin bisa relate sama lo yang akan rela lakuin apapun asalkan rasa cinta dalam diri lo buat orang itu bisa lo jaga baik-baik dalam hati.”

Bara mengiyakan, bener, semua omongan Saka bener. Semua make sense. Tapi dia nggak berani nanggepin, cuma ngangguk-angguk seolah mengiyakan.

“Gue sangat menghargai pertemanan kita yang udah lama banget ini sih, Bar. Tapi gue juga sangat benci ketika gue harus kecewain lo.”

“Gue nggak pandai baca tanda, gue nggak pandai baca situasi, lebih-lebih baca pikiran dan perasaan orang. Sedihnya, Bar, itu yang bikin gue nggak sadar kalo semua uluran tangan lo yang seolah nggak pengen gue sengsara selama ini tuh ada arti lebihnya.”

Batang rokok di sela jari Bara makin memendek, begitu pula dengan air kopi yang pelan-pelan makin berkurang volumenya dari gelas kertas warna-warni milik Saka, bukti mereka terdiam cukup lama menyelami buah pikir masing-masing.

Saka sejak tadi coba memahami semua perlakuan Bara ke dirinya. Yang makin diresapi justru makin menguatkan asumsi bahwa Bara selama ini nunjukin cintanya, tapi Saka nggak bisa lihat dengan jelas karena spektrum mereka berbeda jauh.

Bara coba mengumpulkan keberanian buat mempertanggungjawabkan semua yang dia lakukan selama ini—yang jelas bikin Dewi marah dulu, karena merasa harga diri suaminya diinjak-injak akibat Bara yang terlalu jauh ikut campur. Atau mungkin bahkan Saka sendiri merasa begitu ya dulu? Tapi nggak cukup punya hati untuk menolak mentah-mentah semua perhatian dari Bara.

“Sak, soal yang tadi sore kalo emang lo nggak nyaman lo boleh lupain kok. Gue ... nggak sehrusnya bilang gitu ke elo ketika lo masih berduka, ketika di hati lo masih ada Dewi. Mungkin emang seharusnya gue nggak usah confess kali ya, Sak? Supaya lo nggak kepikir—”

“Kasih gue waktu enam bulan, Bar?”

Air mata Saka sudah menumpuk di pelupuk matanya, matanya benar-benar merah meski tidak begitu jelas di mata Bara—ini sudah hampir malam.

Please ... biarin gue coba untuk ... kasih lo kesempatan, kasih diri gue kesempatan juga untuk ngeliat lo sebagai sosok yang bukan Bara temen gue.”

Bara nggak kuat, kalau dia pandang lama-lama mata Saka yang keliatan setulus itu, mungkin dia akan berakhir runtuh dan membiarkan Saka bikin dia nunggu lagi.

Dia nggak mau naif. Dia udah cukup capek nunggu terus bertahun-tahun. Bahkan kata capek mungkin udah terlalu nggak relevan buat gambarin seberapa jengah, lelah, dan muaknya dia dengan semua perasaan yang membersamai rasa sayangnya ke Saka.

Dia sadar kalau sekarang semuanya akan semakin rumit misalkan dia ngeiyain permintaan Saka untuk dia nunggu lagi. Ada Malik yang nunggu dia juga.

Bara nggak sejahat itu untuk membiarkan Malik terlalu lama digantung nggak jelas begini. Dia tahu banget rasa sedihnya digantung bertahun-tahun oleh suatu perasaan yang nggak tahu kapan bakal bisa berbalas. Dan Bara jelas nggak mau Malik—orang yang tulus sayang sama dia—harus mengalami hal yang sama kayak Bara. Sama aja kan itu artinya Bara jahat.

Bara pun nggak menyalahkan Saka di sini. Sejak awal juga dia nggak pernah ngomong ke Saka. Dia cuma kasih Saka cinta sebanyak-banyaknya lewat ekspresi dan bahasa cintanya yang nggak selalu dimengerti sama orang lain. Dan Bara jujur merasa bodoh ketika denger ungkapan dari hati Saka barusan. Iya, Saka nggak ngerti kalau semua itu bentuk cinta Bara buat dia. Jadi, sia-sia kan?

Now that Bara merasa Malik ngerti dan paham semua ekspresi sayangnya buat Malik, dan akhirnya mau step-up untuk menyambut Bara, coba menghibur Bara, coba jadi pelipur lara buat Bara, nggak bisa dong Bara diem aja?

Mungkin ... pemikiran Bara yang satu ini jadi suatu take yang kontroversial dan terkesan kejam. Tapi, prinsip dia sekarang, karena dia udah terlalu lelah mencintai seseorang tanpa dicintai balik, dia akan memilih buat coba jalani hidup yang lebih baik di depan sana sama orang yang cinta sama dia. In other words, dia lebih milih buat dicintai duluan ketimbang mencintai duluan. Akhirnya...

Dan saat Bara injak puntung rokok dengan sepatunya lalu beralih menatap Saka penuh keyakinan dan berkata, “sorry kalo gue terkesan labil, tapi kalo lo minta gue buat nunggu lagi, sependek apapun waktu tunggu yang harus gue ambil lagi, gue nggak bisa, Sak. If you want me, then you want me. But if you don't, then I won't stay either.

Air muka Saka berubah jadi redup setelahnya. Hati Bara ikutan sakit, nggak terbiasa dan nggak akan pernah tega kalau harus lihat kesedihan akrab lagi sama Saka yang udah berusaha sembuhin dirinya selama dua tahun terakhir ini.

“Yuk, sebelum balik ke kantor kita makan nasi goreng dulu. Gue pesenin, nggak pedes kan? Tenang aja, yang barusan jangan dipikirin. Gue masih akan jadi temen baik lo, kok, Sak. Forever and always.”

Bara menepati omongannya, nasi goreng yang masih beraroma bakaran arang jadi teman mereka mengobrol ringan menutup hari Rabu melelahkan malam itu.

Masih sebagai teman baik untuk satu sama lain.