09 – Kasmaran


Disarankan sambil dengar lagu Jaz – Kasmaran yaaaa


Good morning, Ma'am Eliza, hehehehe.”

Sapaan Hadi mendapat perhatian dari sang guru yang namanya dipanggil, serta beberapa siswa yang berada di booth khusus kelas 11 IPA 1. Ada kernyitan di dahi si guru itu, namun kekehan justru mendominasi para siswa, terutama Redy yang menahan senyumannya.

“Hadi? Ngapain kesini? Stand ini belum siap,” ujar Ibu Eliza.

“Hehehe mau jemput Redy, ma'am,” jawab Hadi cengengesan.

Seluruh perhatian terpaku pada Redy yang hanya tersenyum kikuk. Netranya pun menatap Hadi yang kini tersenyum padanya.

“Hadi pacaran sama Redy?” tanya si guru Bahasa Inggris sekaligus wali kelas 11 IPA 1 itu.

Redy melotot, sedangkan Hadi terkekeh pelan. “Calon sih, ma'am. Doain aja, hehehehe,” respon Hadi yang membuat riuh seluruh teman sekelas Redy.

“Oh gitu. Ya sudah, mau dibawa kemana emang si Redy?” lagi-lagi sang guru menginterogasi.

“Ke dekat panggung doang, ma'am. Saya mau perform soalnya, butuh support system,” kembali Hadi menjawab dengan santai.

Sang guru tersenyum. Detik berikutnya ia mengangguk, seolah memaklumi romansa remaja yang telah biasa ia saksikan selama menjadi pengajar. “Redy, udah dijemput, nih. Nanti balik lagi kesini, ya,” ujar Bu Eliza kepada Redy yang kembali terbelalak.

“O-oh oke, permisi dulu, ma'am,” tanggap Redy yang langsung melangkah mendekati Hadi.

Tanpa basa-basi lagi, Hadi langsung meraih tangan Redy, menuntunnya untuk berjalan menuju panggung bersamanya. Otomatis hal ini menjadi pemandangan indah bagi para siswa yang sudah ramai di lapangan sekolah yang luas. Sorak-sorai pun turut terdengar mengiringi dua pemuda yang memang sudah ramai menjadi bahan perbincangan satu sekolah karena kedekatan mereka.

“Di-”

“Tangan kamu kecil banget deh, Red. Jadi enak megangnya,” tutur Hadi seraya melepaskan genggaman ketika mereka telah sampai di samping panggung.

Wajah Redy sudah merah sedari tadi. Pun mendengarkan ucapan Hadi barusan membuat jantungnya semakin berdebar kencang.

“Hadi, ayo naik ke stage,” panggil Syabil membuat Hadi dan Redy menoleh bersamaan.

“Kamu disini aja, ya? Ini tolong pegangin jaket aku yang kata kamu pake parfum Arab,” ujar Hadi diselingi kekehan.

Redy pun tertawa pelan dan mengangguk. “Semangat nyanyinya, ya. Jangan nervous, ada aku disini,” ucap Redy sembari tersenyum.

Hati Hadi menghangat. Ia pun mengelus pelan surai Redy dan membalas senyuman. “Makasih, Red,” balasnya.

Hadi berlari menyusul kedua temannya ke atas panggung. Mereka sigap mengambil posisi. Tak lupa Hadi menyapa seluruh penonton terlebih dahulu, meminta maaf pula karena tidak adanya Yeira dan Hilman untuk sementara waktu, sehingga ia harus menggantikan Yeira.

“Ya udah, kita mulai aja. Semoga masih terhibur walau pun bukan pake suara Yeira, hehehehe. Ini lagu untuk kalian semua yang lagi jatuh cinta dan mewakili isi hati Syabil juga yang lagi kasmaran, hehehehe,” ucapan Hadi menggema melalui mikrofon, membuat audiensi tertawa. Syabil pun mendelik ke arah Hadi yang hanya dibalas cengiran. Si ketua band itu hanya menggelengkan kepalanya, pasrah ketika namanya dijadikan tumbal.

Petikan gitar dari Syabil serta pukulan tangan Doni pada cajon menandakan penampilan mereka dimulai. Tangan Hadi pun bergerak santai memainkan shaker tabung untuk meramaikan instrumen musik mereka. Tarikan napas Hadi mulai menjadi sebuah lantunan merdu merapalkan lirik indah.

Aku di sini padamu Sekali lagi padamu Kubawakan rindu yang kau pesan utuh

Deg!

Redy kembali merasa deg-degan mendengar lirik indah dan suara merdu Hadi. Ia yakin bahwa kini ia lagi-lagi jatuh cinta kepada sosok yang tengah bernyanyi di atas panggung itu.

Aku disini untukmu Sekali lagi untukmu Percayalah, tak perlu lagi kau gundah

Netra Redy terpaku hanya pada Hadi seorang. Tangannya mempererat dekapan pada jaket si pemuda gemini itu. 'Lagunya...bukan buat gue, kan?' batin Redy.

Pun aku merasakan getaranmu Mencintaiku seperti ku mencintaimu Sungguh kasmaran aku kepadamu

Para penonton bersorak, seolah tahu kepada siapa lirik itu Hadi lantunkan. Redy hanya tertunduk sekilas berusaha menahan senyumnya. 'Ga mau kegeeran', kembali ia membatin.

Hidup adalah tentangmu Selalu saja tentangmu Sepertinya kau adalah candu bagiku

Hadi menoleh sedikit ke arah kirinya. Netranya bertemu tatap dengan kedua manik Redy, seakan ingin berujar bahwa lirik selanjutnya hanya untuk Redy.

Kau buat aku tak mampu Selalu saja tak mampu Menahan perasaanku atas dirimu

Pipi Redy bersemu merah. Ia tersenyum ketika Hadi pun mengulas senyuman disela-sela nyanyiannya.

Selanjutnya Hadi terfokus bernyanyi, diiringi harmonisasi oleh Syabil dan Doni. Para penonton pun turut bernyanyi bersama seraya mengagumi ketiga lelaki berbakat di atas panggung sana.

Penampilan dengan formasi dadakan itu berjalan mulus. Mereka mampu menyelesaikan performance dengan baik dan lancar. Tepuk tangan yang riuh diberikan sebagai bentuk apresiasi kepada tiga anggota band tersebut.

“Hai, gimana penampilan aku tadi?” tanya Hadi ketika ia menghampiri Redy.

Redy mengulas senyum sembari menyodorkan jaket Hadi. “Amazing as always,” jawab Redy lembut.

Hadi pun membalas senyuman Redy dan meraih jaketnya. Ia tak berucap apapun lagi, hanya terus menatap Redy. Keindahan wajah Redy sangat disayangkan kalau tidak dinikmati dari jarak yang dekat ini.

“Si paling kasmaran,” ucap Redy tiba-tiba diselingi kekehan dan membuat Hadi terbelalak.

“Eh? Itu perwakilan hati Syabil kok, Red,” Hadi mencoba menjawab santai.

Syabil dan Doni menahan tawa mereka dari balik punggung Hadi, yang tentunya bisa disaksikan oleh Redy secara langsung. Redy pun maju satu langkah ke depan, hingga jaraknya semakin dekat dengan Hadi. “Aku ga suka sama orang yang bohong, Hadi. Aku juga ga suka sama orang yang ingkar sama omongannya sendiri,” ujar Redy.

Hadi gelagapan. Jujur, kini jantungnya berdetak dengan cepat, entah karena jarak yang sangat dekat atau karena ucapan Redy barusan.

“Lain kali, jangan begitu lagi, ya?” sambung Redy.

Kepala Hadi mengangguk. Ia tersenyum tipis, “Maaf ya, Red.”

Redy pun mengangguk dan tersenyum manis. Ia menengadah tangannya, terjulur ke depan Hadi. “Akunya ga mau dibalikin ke booth kelas aku?” tanyanya dengan ekspresi lucu.

'Duh gue gigit juga ni cowok. Lucu banget!' batin Hadi menjerit.

Tangan Redy diraih oleh Hadi, digenggam erat. Mereka saling bertatapan sebelum melangkah. “Ayo, aku balikin ke sana.”


schonewords