10 – Make me feel more special, please?


Redy mengulas senyum ketika netranya menangkap sosok Hadi telah berdiri di depan pintu kelasnya. Langkah kakinya terhenti ketika jarak mereka sudah sangat berdekatan.

“Kok jadi kamu yang nyampe duluan di sini?” tanya Redy heran.

“Ga sabar mau ketemu kamu, jadi lari tadi dari belakang, hehe,” jawab Hadi dengan cengiran khasnya.

Redy terkekeh mendengar itu. Netranya melebar tatkala Hadi meraih tangannya, mulai menggenggamnya dan menuntun Redy berjalan ke sebelah kelas 11 IPA 1 yang kosong. Keduanya berdiri saling berhadapan di tempat yang sepi itu. Senyuman dilemparkan untuk satu sama lain, pun tatapan mereka terpaku pada sosok di hadapan masing-masing.

“Seneng ya tangannya dipegang gini?” Hadi kembali bertanya dengan ibu jarinya yang mengelus lembut punggung tangan Redy.

Yang ditanya hanya mengangguk sambil tersipu malu. Semburat merah muda tercipta di wajah tampannya. “Kamu seneng juga?” tanyanya tanpa berucap untuk menjawab.

“Banget,” jawab Hadi singkat. “Sama kayak kamu, aku juga ketagihan megang tangan kamu gini,” lanjutnya.

Wajah Redy semakin bersemu. Dua remaja itu tak sedikit pun melunturkan senyuman mereka, bersamaan dengan jemari yang saling bermain dalam genggaman.

“Jam berapa perform lagi?” tanya Redy.

“Ga tau. Aku tunggu mereka manggil aja,” jawab Hadi santai. “Nanti temenin lagi, ya?”

Si lelaki aries mengangguk. “Iya, tapi kali ini bohong lagi ga?” cibir Redy meledek Hadi.

Hadi terkekeh. “Enggak, kok. Tiga lagu lagi beneran sarannya Yeira semua. Yang tadi...aku minta maaf. Aku beneran ga bisa buat ga nyanyiin lagu untuk kamu, Red. Maaf, ya?” Hadi tampak melukiskan penyesalan di wajahnya.

Redy mengeratkan genggaman pada tangan Hadi, bahkan ia pun meraih tangan Hadi satu lagi untuk digenggam pula. “Gapapa. Lain kali jujur aja, ya? Tapi, aku jadi penasaran. Kenapa kamu mau nyanyi untuk aku?”

That's my way to express my feelings to you, Red. Aku ga sepinter itu untuk blak-blakan buat nunjukkin perasaan aku, jadi ya-”

“Makasih,” potong Redy.

Hadi terdiam. Ia menatap Redy dengan lekat, pun yang ditatap tersenyum lembut dengan tatapan yang teduh. “Makasih, Hadi. Aku seneng kamu nyanyi buat aku begitu. Aku seneng karena secara ga langsung, kamu ngasih tau ke semua orang tentang perasaan kamu ke aku. I feel so special, but...” ucapan Redy menggantung.

Redy menatap Hadi sama lekatnya. Tubuhnya telah dibawa melangkah maju sehingga jarak mereka sudah sangat dekat, bahkan hembusan napas satu sama lain pun terasa. “...I will feel much more special if you tell me in person. Just two of us. Just in front of me...like this,” lanjut Redy diakhiri dengan senyuman.

Rasa kaget menyambangi Hadi. Jantungnya telah berdebar sangat cepat layaknya pembalap di arena sirkuit. Otaknya telah berhasil memproses setiap kata yang baru saja diucapkan oleh Redy. Maka, ia membalas, “Berdua kayak gini? Berarti aku boleh nanya ga nih?”

Anggukan tercipta di kepala Redy. “Boleh. Mau nanya apa?” Redy balik bertanya. Sejujurnya remaja aries ini pun juga deg-degan, seolah tahu apa yang hendak ditanyakan oleh Hadi.

“Redy, the song that I've sang before was indeed for you, to tell you about my feelings for you. Jadi...kamu mau ga-”

Drrt drrt!

Hadi menghembuskan napasnya gusar. Salah satu tangannya terlepas dari genggaman Redy untuk merogoh ponselnya, menjawab telepon dari Hilman yang langsung mendengungkan teriakan, “DI MANA LU, MONYET? BURU KE STAGE! INI JADWAL KITA PERFORM SEKARANG! CEPAT! LARI!”

Teriakan Hilman bahkan mampu didengar oleh Redy. Ia pun tertawa ketika sambungan telepon itu dimatikan. “Udah sana ke stage. Buruan lari, nanti aku nyusul. Ayo, sana!” titah Redy.

'Shit', batin Hadi.


schonewords