12 – Hari jadi Hadi dan Redy


Redy menoleh ketika telinganya menangkap suara derapan langkah kaki yang mendekatinya. Adalah Hadi yang mengulas senyum sembari berjalan ke arah Redy yang terduduk di atas motornya. Redy pun langsung beranjak dan tak lupa membalas senyuman sosok lelaki yang ia sukai itu.

Hey, sorry ya bikin kamu nunggu,” ujar Hadi.

“Gapapa, kok,” balas Redy sedikit kikuk.

Dua pemuda itu secara natural duduk berdampingan di atas motor Hadi. Sempat ada keheningan yang menciptakan rasa canggung di antara keduanya.

“Hadi,” panggil Redy.

Sontak Hadi menoleh, menatap Redy yang justru menunduk dengan salah satu kakinya yang bergerak memainkan pasir dengan pelan. “Kenapa, Red?” tanya Hadi.

“Itu...” ucapan Redy terhenti sejenak. Sesungguhnya ia bingung ingin memulai arah perbincangan ini dari mana. Ia kerahkan segala usaha dalam otaknya untuk merangkai kata dengan baik. “...kata Evanㅡ eh, Jevano...kamu tahu ya soal Kak Mario yang naksir aku?” sambung Redy sembari balik bertanya.

Hadi tersenyum tipis. Ia alihkan pandangannya untuk menatap nanar, mencoba menolak kalau saja nanti Redy menoleh dan melakukan kontak mata. Sejujurnya, ia tidak ingin ada pembahasan ini, tapi toh mungkin ada baiknya dibicarakan dari pada ia menyimpan rasa cemburu.

“Iya, aku tahu,” jawab Hadi singkat.

Redy mendengus pelan. “Yang naksir itu cuma dia kok. Dia memang pernah nembak aku, tapi aku tolak. Aku sama sekali ga ada rasa apa pun sama dia. Nyaman memang ngobrol atau belajar sama dia, tapi semuanya cuma sebatas aku yang anggap dia sebagai abang aku. Ga lebih kok,” tutur Redy guna menjelaskan, walau pun ia tak tahu apakah Hadi membutuh penjelasan ini atau tidak.

“Hmm, gitㅡ”

“Aku sukanya sama kamu, Hadi,” final Redy memotong ucapan Hadi.

Jelas netra Hadi membelalak dan ia segera menoleh ke arah Redy. Tatapan keduanya bertemu. Dapat Hadi lihat keseriusan yang tersorot dari kedua manik Redy. Pun Redy yang bisa merasakan rasa kagetnya Hadi akan ungkapan hatinya barusan.

“Red...kamu serius?” tanya Hadi yang tak percaya.

Redy terkekeh. Jujur, ekspresi kaget Hadi sangat lucu dan menggemaskan menurutnya. Mata yang membulat, mulut yang sedikit menganga, dan tubuh yang sedikit maju hingga jarak mereka mendekat.

“Serius. Ngapain juga aku bohong soal gituan. Lagian, I thought you already knew about it,” jawab Redy santai. Kelihatannya aja santai, padahal jantungnya sudah berdegup kencang bukan main.

Hadi seketika tertawa pelan. 'Benar juga, sih,' batin Hadi. Remaja gemini itu pun memberanikan diri untuk semakin mendekatkan dirinya kepada Redy, hingga kini bahu mereka bersentuhan.

“Makasih, Red. Makasih udah jujur gitu. Makasih udah mau jelasin juga. Tadinya aku udah ngerasa 'kecil' aja dibandingkan Bang Mario,” ujar Hadi. Ia tersenyum memandangi setiap pahatan indah nan sempurna di wajah Redy yang selalu ia sukai. “Aku ga pernah nyangka bakal kamu duluan yang confess gitu, hahahaha.”

Pipi Redy bersemu, menciptakan semburat merah muda yang menambahkan sisi gemas dari dirinya. Kepalanya pun tertunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah itu. “Habisnya, yang waktu itu kan kamu ga jadi, terus ga pernah lagi bahas itu...ya akunya jadi kayak bingung, kamu tuh serius atau engga, kamu tuh sadar atau engga kalo aku juga suka sama kamㅡ” ucapan pelan Redy yang tak beraturan itu terpaksa terhenti ketika ia merasa sesuatu menyentuh pipinya.

Bukan hal yang familiar, tetapi justru hal aneh yang baru pertama kali ia rasakan. Ada sengatan hangat dan mengejutkan di saat yang bersamaan ketika hal itu menyentuh pipinya. Hal itu adalah kecupan singkat dari bibir Hadi yang melayang di pipinya.

Otomatis Redy mengangkat kepalanya. Matanya terbelalak menatap Hadi yang malah tersenyum usil. “Hehehehe, kaget, ya?” tanya Hadi terkekeh pelan.

Wajah Redy semakin merah, maka ia layangkan pukulan ringan pada lengan Hadi. Ia kembali tertunduk, sedangkan Hadi terbahak kencang seraya mengusap tangannya. “Aduh! Sakit, Reddd. Hahahahaha.”

Redy memicingkan matanya menatap Hadi dengan tajam. “Lagian udah tahu kaget, masih aja pake nanya!” seru Redy yang membuat Hadi semakin tergelak.

Lengan Hadi merangkul bahu Redy. Ia eratkan hingga tubuh mereka berdekatan tanpa jarak. “Maaf, ya. Hehehehe,” ucapnya sembari mengelus bahu si mungil itu.

Redy mengangguk. Wajahnya masih memerah, namun ia telah memberanikan diri menatap Hadi. Ia menjulurkan tangannya yang membuat Hadi mengernyitkan dahi. “Apa nih?” tanya Hadi bingung.

“Mau dipegang tangannya kayak waktu itu,” jawab Redy pelan.

Hadi menahan tawanya, menggantikannya dengan senyuman lebar. Ia raih tangan yang lebih kecil ukurannya dari miliknya itu. Genggaman erat tercipta seiring bertautnya jemari mereka.

“Aku suka banget kalo tangan aku dipegang gini sama kamu,” ujar Redy jujur.

“Aku tahu. Aku juga suka,” tanggap Hadi. “Aku suka megang tangan kamu, merhatiin kamu, ngeliatin muka kamu, liat senyum kamu. Apa pun tentang kamu, aku suka. Intinya, aku suka sama kamu. Hehehehe.”

“Dih apaan sih,” Redy kembali tersipu.

“Hahahaha, gemes banget kalo malu gitu,” Hadi mengusap surai Redy. “Eh, jadi ini kamu yang nembak duluan ya, Red?”

Redy mengangguk dan protes, “Kamu kelamaan. Udah tahu kita saling suka, tapi malah ga nembak juga.”

Hadi kembali tertawa. Ia mengeratkan genggaman tangan mereka dan mengecup sekilas punggung tangan Redy yang halus. “Hehehe, maaf ya. Akhir-akhir ini kamu sibuk banget persiapan olim dan lomba lain, jadi aku ga mau ganggu dulu. Aku mau kamu fokus dulu buat lombanya gitu,” jelas Hadi.

Senyuman terulas di wajah Redy. Ia merasa hatinya menghangat mendengar ucapan Hadi barusan. “Makasih udah pertimbangin itu. Maaf, aku sempat ngiranya kamu malah udah ga tertarik lagi ngajakin aku jadian,” ucapnya.

“Ga mungkinlah! Aku udah ngasih tahu ke seluruh dunia kalo aku suka kamu, masa aku ga mau jadiin kamu pacar aku!” seru Hadi penuh semangat.

“Hehehehe ya udah, santai dong. Sekarang kan udah jadi pacar,” tutur Redy sembari terkekeh.

“Iya. Nanti mau dipamerinlah pokoknya. Akhirnya aku jadi pacarnya seorang Redy Zahid Waradana!”

“Hahahaha, kayak apa aja.”

Kedua remaja itu tertawa bersamaan. Tangan mereka senantiasa saling menggenggam erat tanpa mempedulikan tatapan orang lain yang memperhatikan.

“Red,” panggil Hadi.

“Iya?”

Ibu jari Hadi mengelus tangan Redy dengan pelan. “Nanti...malu ga kamu sebagai siswa kebanggaan sekolah, terus pacarannya sama aku?”

Dahi Redy mengernyit, “Ngomong apaan sih. Of course, not! Why should I feel that way tho?

“Ya, siapa tahu aja. Aku kan ga berprestasi gitu di bidang akademik kayak kamu. Aku cuma anak IPS biasa yang hobinya nge-band, main bola, main basket. Aku belajar cuma di sekolah. Aku ga bimbel, aku ga pernah belajar di rumah juga.”

“Hahahaha, Hadi Hadi,” Redy tertawa pelan mendengar ucapan Hadi. “Ngapain juga aku mesti malu karena hal itu? Biasa aja kali.”

“Serius? Kamu ga malu?”

Redy menggelengkan kepalanya. “Ngga. Kamu keren kok. Kamu udah hebat versi kamu sendiri. Aku suka kamu dengan kehebatan kamu yang tadi kamu sebut,” jawab Redy dengan pasti.

Senyuman pun merekah di wajah Hadi. “Makasih ya, Red,” ujarnya.

“Sama-sama, Hadi.”

“Pulang, yuk? Atau kamu mau kemana gitu? Biar aku anterin.”

Redy sempat berpikir sejenak. Kemudian ia menatap Hadi untuk berucap, “Makan sate padang, yuk! Aku punya tempat langganan yang enaaaak banget! Habis itu, kita jalan-jalan keliling aja. Kalo kamu capek bawa motornya, nanti gantian sama aku. Gimana?”

Hadi mengangguk setuju. “Boleh. Ayo, pergi sekarang!”


schonewords