13 – Obat untuk Redy
Raut wajah Redy jelas terlihat masam. Mukanya tertekuk, sorot matanya tajam menyimak penjelasan sang guru olah raga. Ia pun tak menyadari kekasihnya yang telah berdiri di ambang pintu memperhatikannya.
“Oke, nanti bergilir aja ya shoot bolanya. Kita mulai dari Jevano dulu,” sang guru memberi instruksi.
Satu per satu siswa 11 IPA 1 bergiliran memasukkan bola ke arah ring yang tinggi. Semua tampak serius, tak terkecuali Redy yang moodnya telah kacau, namun tetap berhasil melakukan shoot.
“Oke, sekarang coba giliran yang perempuan ya,” kembali instruksi terdengar.
Para siswa laki-laki langsung berdiri menepi di pinggir lapangan. Redy dengan malas-malasan hanya berjalan mundur tanpa membalikkan badan, hingga...
“Red, awas!” teriakan Kiana rasanya sudah tidak ada arti.
Bruk!
Bola basket yang baru saja dilempar oleh Yeira mengenai wajah Redy. Pasalnya bola itu memantul dari pinggiran ring, hingga bolah justru terlempar dan menghantam wajah Redy, tepatnya hidung mancung si lelaki tampan itu.
“Aww!” Redy merintih memegangi hidungnya. Seluruh siswa kelas tersebut beserta gurunya langsung menghampiri Redy.
“Red, gapapa?” Jevano langsung menanyai sahabatnya.
“Gapapa.”
“Redy, sorry banget! Gue ga sengajaaaa,” Yeira langsung merasa tidak enak kepada teman sebangkunya itu.
“It's okay, Yei.”
“Red-”
“Duh, gue gapapa!” seru Redy membuat situasi menjadi hening. Tak ada lagi yang berani berbicara kepada Redy. Yang merasa kesakitan pun hanya menghela napasnya gusar.
“Redy, kamu ke UKS aja. Itu hidungnya dikasih es deh, biar ga keburu memar,” ujar guru olah raga mereka.
“Iy-”
“Bu, permisi. Hehehe. Saya bawa Redy ke UKS, ya? Kebetulan kelas saya lagi ga ada guru, kok,” Hadi berucap ketika mendekati kerumunan yang mengelilingi Redy.
“Oh, boleh kalo gitu. Silakan. Tolong dibantu ya obatin Redy.”
“Siap, bu,” ujar Hadi sembari tersenyum. “Ayo, Red.”
Hadi merangkul bahu Redy dan mulai berjalan menuju UKS. Tak ada yang bersuara sepanjang perjalanan mereka menuju ruang kesehatan siswa itu.
Remaja gemini itu pun mendudukkan pacarnya di salah satu kursi. Dengan lihai ia mengambil es dan memasukkannya ke dalam ice bag compress.
“Nih ditaruh di hidungnya,” ujar Hadi.
“Makasih,” tanggap Redy langsung mengikuti perintah Hadi.
Tangan Hadi terangkat dan mengelus surai gelap Redy. Ia tatap dengan lembut kekasihnya yang terlihat kacau itu. Netra mereka pun bertemu, membuat Hadi mengulas senyum.
“Gapapa sakit sedikit ya, sayang? Ga kuat juga tadi kenanya,” tutur Hadi dengan pelan.
“Ih kamu liat ya tadi? Malu banget aku.”
Hadi pun langsung terkekeh. Ia mencubit pelan pipi pacar kesayangannya itu. “Ngapain malu? Justru bagus aku liat, kan aku bisa bawa kamu kesini jadinya,” ujarnya lembut.
Gemini itu beralih duduk di samping Redy. Tangannya melingkar di pinggang Redy. Dagu Hadi bertengger di bahu mungil kekasihnya. “Kamu kenapa, yi? Mau cerita ga sama aku?” tanya Hadi pelan-pelan.
Redy menghembuskan napasnya kasar. Kepalanya ia miringkan hingga bersandar pada kepala Hadi. “Aku ga lolos seleksi olim kali ini,” jawab Redy.
Sontak kepala Hadi terangkat. Keduanya kembali bertatapan untuk beberapa detik sebelum akhirnya Hadi menarik Redy ke dalam rengkuhannya. Ia peluk tubuh mungil itu untuk pertama kalinya. Tangannya mengusap lembut punggung sang kekasih.
“You did your best already. I knew it. So, you did well, ayi,” ungkap Hadi sedikit berbisik.
Mendengar itu, Redy langsung membalas pelukan Hadi dengan erat. Kepalanya bersandar pada bahu Hadi, menemukan ketenangan yang sekiranya sedari tadi ia cari. “Aku dikira gagal karena sibuk pacaran. Padahal, kamu tau sendiri gimana seminggu yang lalu aku ga fokus ngapa-ngapain karena papi sakit,” gerutu Redy.
Hadi mengangguk. Tangannya terus-menerus mengelus punggung Redy guna menenangkan sang kekasih yang tengah gelisah itu. “Gapapa. Orang mah kalo ga tau, pasti suka bikin asumsi sendiri. Selagi itu ga bener, ga usah kamu ambil hati, ga usah kamu pikirin. Oke?” ujar Hadi.
Pelukan itu dilonggarkan oleh Redy. Ia mengangguk dan tersenyum tipis seraya bertemu tatap dengan kekasihnya. “Makasih ya, ayang. Makasih kamu selalu bisa nenangin aku,” ungkap Redy penuh ketulusan.
“Sama-sama, bayiii. Jangan kelamaan pundungnya ya? Nanti hidungnya makin sakit.”
Redy tergelak, “Hahahaha, apa hubungannya coba? Ngawur aja.”
“Nah gitu dong ketawa! Hehehehe. Kan pacarku paling cakep ini kalo ketawa, walau pun hidungnya merah,” goda Hadi, membuat Redy membelalakkan matanya.
“Hah? Hidung aku merah? Yang bener?” tanyanya panik.
Hadi terbahak kencang. Ia pun mengacak pelan rambut Redy dengan wajahnya yang mendekat dengan muka si aries itu, dan cup! Sebuah kecupan terbubuhi di hidung Redy.
“Itu obatnya biar ga merah lagi,” ucap Hadi dengan senyuman yang manis.
Semburat merah muda tercipta di pipi Redy. Ia tersenyum malu dan tersipu dengan perlakuan Hadi barusan. “Makasih, Hadi,” bisiknya lembut.
“Iya, bayi. By the way, hidung kamu dingiiiin. Boleh aku kecup lagi ga? Biar anget, hehehehe.”
Redy memukul pelan lengan Hadi. Sepasang kekasih itu tertawa bersamaan, memenuhi ruang UKS yang memang hanya ada mereka berdua.
schonewords