14 – First Kiss
cw // kissing
“Ih kemana, sih? Kok cuma diread doangggg?” gerutu Redy sembari mengetuk pelan layar ponselnya.
Ceklek!
Pintu kelas Redy terbuka, membuatnya otomatis langsung menoleh ke arah tersebut. Iris matanya melebar dan senyuman langsung terulas tatkala melihat sosok yang hadir dari balik pintu.
“Hai, sayang,” sapa Hadi seraya masuk ke kelas dan menutup kembali pintu tersebut.
Redy langsung beranjak dari duduknya. Dengan cepat ia memeluk Hadi dengan erat dan menyandarkan kepalanya pada bahu sang kekasih.
“Kamu kemana aja sih, ay?” tanyanya dengan nada kesal.
Hadi terkekeh. Tangannya merengkuh erat tubuh mungil pacarnya itu. Sesekali ia akan mengelus surai Redy dengan lembut. “Ga kemana-mana, ayi,” jawabnya santai.
“Bohong!” seru Redy menarik kepalanya, menatap Hadi dengan tajam, namun tangannya masih senantiasa memeluk Hadi erat. “Kamu bau rokok gini nih. Habis ngerokok dimana tadi?”
Hadi hanya bisa nyengir. Tangan kanannya beralih ke pipi Redy untuk dielusnya dengan lembut. Suara rendahnya terdengar mendebatkan jantung Redy ketika ia berkata, “Maaf, ya, aku ngerokok dan ga bilang ke kamu dulu tadi.”
Redy mengurungkan niatnya untuk melayangkan protes. Luluh hatinya dan sirna pula khawatirnya mendengar ucapan lembut dari kekasihnya itu. Kedua tangannya berpindah, menangkup wajah Hadi guna mengelus pipi gembul remaja gemini itu.
“Iya, gapapa, ayang. Jangan diulangin, ya,” ucap Redy tak kalah lembut. “Kalau ada masalah, cari aku. Lari ke aku, peluk aku kayak gini. Walau pun kamu belum bisa cerita, seenggaknya aku bisa bantu nenangin diri kamu.”
Hadi tersenyum manis. Hatinya terasa menghangat oleh rasa haru dan penuh syukur. Bersyukur karena bisa mendapatkan sosok remaja baik ini menjadi kekasihnya yang siap merengkuh lemahnya untuk mencari kuat kembali.
“Iya, sayang,” Hadi mengangguk.
“Janji, ya?”
“Janji.”
Dua sejoli itu setia saling bertukar tatap dan melempar senyum. Hadi mengeratkan pelukan pada sekeliling pinggang Redy, pun si pria mungil itu yang mengalihkan kedua tangannya untuk mengalung pada leher Hadi.
“Makasih, bayiiiii. Makasih udah pengertian dan perhatian gini,” tutur Hadi lembut.
“That's what I should do as your boyfriend, ayang.”
Senyuman Hadi semakin merekah sempurna. Tatapan keduanya tak berpaling pada satu sama lain. Di momen seperti ini, terbesit sebuah pikiran yang menurut Hadi tak semestinya ia pikirkan, terutama ketika ia menatap bibir Redy.
Redy seolah tahu. Otak cemerlangnya mampu membaca situasi ini, mampu memahami apa yang dipikirkan oleh Hadi hanya melalui sorot mata kekasihnya itu. Ia pun menarik leher Hadi dengan kedua tangannya yang senantiasa mengalung di leher si gemini itu.
Netra Hadi terbelalak. Wajah mereka sudah sangat dekat hingga hembusan napas satu sama lain pun menerpa kulit muka masing-masing.
Redy tersenyum tipis. Dengan lirih ia bertanya, “Mau nyoba ga?”
Hadi tampak gugup. Matanya mengerjap lucu, namun berusaha tetap tenang. “Nyoba apa?” tanyanya balik.
“Kissing.”
Degupan jantung Hadi berdebar cepat. Tak terpikirkan olehnya bahwa Redy akan menggodanya seperti ini di dalam ruang kelas dengan suasana sekolah yang kian sepi.
“B-boleh?” tanya Hadi pelan.
Alih-alih menjawab pertanyaan Hadi, Redy dengan sigap memajukan wajahnya, menghapus jarak di antara mereka hinngga labium keduanya bertemu. Ditempelkan bibirnya terhadap bibir Hadi, yang langsung menciptakan sensasi geli seolah perutnya digelitik oleh ribuan kupu-kupu terbang di sana.
Kedua manik Hadi perlahan menutup setelah melirik ke arah kekasihnya yang telah duluan menutup mata. Pelukan kian dipererat. Hadi membiarkan Redy yang memimpin cumbuan itu, mengingat si pria mungil memang sudah pernah melakukan hal ini sebelumnya.
Perlahan Redy mulai melumat bibir Hadi. Ia sesap pelan labium atas dan bawah milik sang kekasih secara bergantian. Hadi pun dengan cepat mempelajarinya, maka, ia lakukan hal serupa.
Bibir atas Redy mulai dihisap oleh Hadi serta diemut pelan. Begitu pula Redy yang kian bersemangat melumay bibir bagian bawah Hadi. Perlahan, lidah Redy mulai menerobos belahan labium Hadi, hingga melesak masuk dan bertemu dengan lidah Hadi.
“Humh,” lenguhan Hadi terdengar tatkala lidah keduanya saling bersentuhan dan membelit ringan.
Pagutan itu sempat dilepaskan oleh Hadi, membiarkan oksigen mengisi ruang paru-paru mereka. Tatapan mereka bertemu seiring terbukanya netra sepasang kekasih itu. Tak lupa senyuman diulas untuk tambatan hati satu sama lain.
“Thank you for stealing my first kiss. I'm glad the one who took it is you.”
Semburat merah muda terlukis jelas di wajah Redy setelah mendengar ucapan dari Hadi. Ia mengangguk dengan senyuman yang kian mengembang. “Sama-sama. Tapi tadi kamu hebat, cepet pahamnya,” jawab Redy seraya menggoda Hadi.
Hadi pun terkekeh. “Iya, dong. Kan diajarin sama kamu,” ujarnya.
Redy tertawa kecil. Ia pun melepaskan pelukan, menarik tangan Hadi. Si pria kecil memposisikan diri duduk di atas meja, sedangkan Hadi berdiri di antara dua tungkainya yang terbuka.
Sepasang kekasih itu kembali menautkan kedua tangan mereka pada tubuh satu sama lain. Redy pun menarik tubuh Hadi agar semakin merapat dan mengikis jarak.
“Ayi, aku mau nanya deh,” ujar Hadi.
“Apa tuh?”
“First kiss kamu sama siapa? Terus kapan?”
Redy terbahak. Ia pun memukul pelan bahu Hadi. “Oh, hahahahaha. Tahun lalu kok, sama Bang Jaki, mantan pacar aku,” jawab Redy sambil nyengir.
“Bang Jaki yang dulunya juara olim kimia?”
“Fisika. Olim fisika dianya. Aku sama dia kan korban cinlok pas sama-sama latihan olim.”
“Oh, I see,” tanggap Hadi mengangguk. “Terus?”
“Terus apa?” Redy mengernyitkan dahi.
“Di mana ciumannya?”
“Hehehe, di rumah aku waktu lagi kosong. Tapi serius cuma ciuman kok, ay!”
Hadi terbahak. Ia pun mengeratkan pelukan pada pinggang Redy. “Iya, bayiii. Aku percaya kok,” ucapnya.
Redy kembali tersenyum. Lagi, ia kalungkan tangan pada leher Hadi. “Enakan ciuman sama kamu, kok. Bang Jaki pake behel, jadi ciumannya kayak ada yang ngeganjel.”
Suara tawa Hadi pecah dan gelaknya itu benar-benar menggema. Tak kuasa ia menahan rasa geli mendengar ucapan kekasihnya barusan. “Ada-ada aja deh kamu,” ujar Hadi sembari mengacak pelan rambut Redy.
“Serius, ayaaaang.”
“Gitu-gitu juga first kiss kamu.”
“Iya, makanya first kiss aku ga berkesan.”
Hadi masih setia tertawa. Redy pun ikut tertawa seraya mengelus pipi Hadi.
Tatkala gelak itu luntur, Hadi mendekatkan wajahnya pada wajah Redy. Bibirnya mendarat pada kening Redy, mengecupnya dengan lembut dan membuat Redy menutup matanya sembari tersenyum. Ciuman penuh kasih sayang itu seolah menjadi selimut tebal yang menghangatkan hatinya.
“Pacaran sama kamu tuh paket lengkap banget, Red. Kamu sadar ga?” tanya Hadi ketika kecupan itu berakhir.
“Kenapa gitu?” Redy balik bertanya.
“Kamu ganteng, cantik, manis, lucu, pinter, baik, perhatian, penyayang. Aku ga nyangka seorang Redy yang katanya susah didekatin itu, ternyata punya sisi yang bikin aku terus-terusan bersyukur bisa dapatin kamu.”
Redy tersipu mendengar pujian itu. Ia pun membubuhi kecupan pada kedua pipi Hadi dengan lembut. “Aku pun sama bersyukurnya. Siapa yang sangka aku bisa dapatin seorang Hadi yang hebat, ganteng, keren, pinter, dan bucin ini? Padahal yang naksir kamu tuh banyak banget.”
Sepasang kekasih itu saling melempar senyuman termanis mereka. Tatapan mereka terpatri pada satu sama lain, seolah menyuarakan ketulusan rangkaian kata yang mereka haturkan barusan.
“Aku sayang kamu, Redy. Sayang banget.”
“Aku juga sayang kamu, Hadi.”
Dua sejoli itu kembali memagutkan bibir mereka dalam cumbuan lembut yang memabukkan. Rasa sayang mereka terhadap satu sama lain yang begitu besar pun tersalurkan melalui penyatuan bibir mereka, yang menyempurnakan ungkapan kata tadi.
schonewords