15 – Pelengkap kebahagiaan di hari itu


“Capek ga?” Hadi bertanya sembari mengusap sudut bibir Redy yang terdapat percikan kuah ramen.

Redy mengangguk, namun senyuman lucu terulas di wajahnya. “Capek, tapi aku seneng!”

“Seneng kenapa sih, bayiii?” Hadi mencubit pelan pipi Redy.

“Ya, seneng karena seharian ngehabisin waktu sama kamu. Seneng karena kamu nurutin maunya aku, hehehehe.”

“Kamu kan juga nurutin maunya aku, yi.”

“Hehe, makasih ya, ayang.”

“Sama-sama, Redy.”

Dahi Redy mengernyit. Ia menatap kekasihnya dengan sinis. “Manggil apa tadi?” tanyanya ketus.

“Redyyyy,” ulang Hadi dengan jahil.

“Ih, kamu mah! Pasti mau balas yang aku lakuin tadi ya?”

Hadi terbahak. Ia pun mencubit pelan pipi Redy lagi. “Ga enak kan dipanggil begitu?”

Redy memajukan bibirnya dan mengangguk. “Jangan panggil gitu,” gerutunya.

“Iya, bayiiii.”

Kedua remaja itu lanjut memakan ramen mereka hingga habis. Sesekali mereka akan memainkan HP masing-masing, saling bertukar guyonan melalui meme yang mereka temukan di Twitter, bahkan tak lupa melakukan swafoto untuk mengingat momen bahagia hari ini.

“Sayang,” panggil Hadi.

“Ya?” jawab Redy.

Hadi mengamit tangan Redy dan digenggamnya erat. Punggung tangan kekasihnya dielus lembut dengan terciptanya semburat merah muda di wajah dua remaja itu.

“Manggil aja, sih.”

Redy langsung melayangkan pukulan ringan pada lengan Hadi. Yang dipukul hanya terbahak kencang. Tangan Redy tetap ia genggam dan bahkan ditarik, hingga kini bahu Redy dirangkul untuk menyingkirkan jarak di antara mereka.

“Bercandaaaaa.”

“Iyaaaa, Hadiiiii.”

“Eh, manggil apaan?”

“Hadi Hadi Hadi Hadi Hadi, hahaha.”

Hadi langsung menggelitik pelan pinggang Redy. Sosok yang bertubuh kecil itu pun menahan tangan Hadi dan suaranya tawanya terdengar kuat.

“Ampun, ayyyy. Hahahaha, ampuuun!”

“Hahaha, iya iya,” ujar Hadi dan kembali merangkul Redy. “Aku antar kamu pulang sekarang, yuk.”

Redy mengangguk. Keduanya bersiap dengan mengenakan jaket masing-masing. Tiba-tiba Hadi memiliki sebuah ide.

“Ay, buka dulu jaket kamu,” titahnya.

“Hm? Kenapa?” tanya Redy bingung.

Hadi mengambil jaket Redy ketika kekasihnya melepaskan luaran cukup tebal itu. Netra Redy membelalak tatkala Hadi justru mengenakan jaket miliknya pada tubuh Redy.

“Pake jaket aku aja. Nanti dibawa pulang, ya? Biar malem-malem, bau parfum aku masih kecium di kamar kamu,” ujar Hadi dengan senyuman terulas di wajahnya. “Jaket kamu aku yang bawa. Alasannya sama. Biar kalo malem, aku tidur melukin jaket kamu, bisa nyium bau parfum kamu.”

Redy terkekeh mendengar penjelasan Hadi. Lucu, tapi begitu manis pula. Ia pun mengangguk menyetujui usulan Hadi.

“Ya udah, kita tukeran jaket. Sesederhana itu aja ngomongnya, ay.”

Dua remaja itu tertawa bersama. Mereka beranjak meninggalkan tempat makan tersebut dan melanjutkan perjalanan pulang dengan mengendarai motor Hadi.


schonewords