16 – Rutinitas paginya Hadi dan Redy
“Halo?”
“Halo, ayi.“
“Ayang, aku udah di depan rumah kamu.”
“Oh oke, yi. Ini lagi pake sepatu kok.“
“Oke, ay.”
Sekitar sepuluh menit setelah telepon dimatikan, sosok Hadi langsung muncul keluar dari pekarangan rumahnya. Ia tersenyum menghampiri kekasihnya yang duduk santai di atas motor.
“Morning, Redy bayiiii,” sapa Hadi sumringah.
“Pagi, ayang,” balasnya.
“Sini aku aja yang bawa motornya,” ujar Hadi seraya mengambil kunci motor dari tangan Redy.
Dua remaja itu memulai perjalanan mereka ke sekolah. Redy memeluk tubuh Hadi dari belakang. Hadi pun sesekali akan mengelus tangan mungil tersebut.
“Tadi udah sarapan ga, yi?”
“Udah dooong! Kamu?”
“Udah juga.”
Redy menopangkan dagunya pada bahu kiri Hadi. “Ngantuk ga, ay?” tanyanya.
“Sedikit. Untungnya hari ini cuma mau bahas soal buat persiapan ujian.”
Perjalanan mereka menuju sekolah dihiasi dengan obrolan-obrolan ringan. Entah itu celotehan Hadi yang merasa dongkol karena tim sepak bola kesukaannya kalah, atau Redy yang sibuk bertanya tentang seluk-beluk dunia sepak bola.
Keduanya tak sadar bahwa mereka telah sampai di sekolah. Kondisi parkiran motor mulai ramai karena pelajaran pertama akan dimulai dalam waktu lima belas menit lagi.
“Ayo, aku anterin ke kelas kamu dulu,” ujar Hadi mengamit tangan Redy.
“Ayang, malu ih,” tanggap Redy seraya melepaskan genggaman tangan dari Hadi.
Hadi terkekeh. Ia paham bahwa Redy masihlah tetap seorang siswa teladan yang menjaga image baiknya di depan seluruh warga satu sekolahan ini.
Keduanya tetap berjalan berdampingan hingga tiba di depan kelas Redy. Mereka menyempatkan diri untuk saling berdiri berhadapan dan melempar senyum. Tangan Hadi mengelus surai Redy dengan lembut dan penuh kasih sayang.
“Aku ke kelas, ya,” ucap Hadi.
Redy mengangguk. “Iya. Semangat belajarnya ya, ayang. Jangan ketiduran pas jam pelajaran,” tutur Redy tegas.
“Siap, bos!” seru Hadi, membuat dua remaja itu tertawa bersamaan. “Kamu juga semangat belajarnya ya, ayi. Nanti pulang sekolah tunggu di sini aja, aku jemput kamu ke kelas.”
“Okeeee! Udah ah, sana ke kelas.”
“Iya iya.”
Sebelum beranjak, Hadi menyempatkan mendekatkan wajahnya ke wajah Redy. Ia berbisik, “I love you, bayi” dan cup! sebuah kecupan singkat ia bubuhkan pada pipi Redy.
Redy terkejut dengan yang dilakukan Hadi. Baru saja ia hendak protes, tapi Hadi sudah berlari menjauh sembari terbahak.
“BYE, AYIIII SAYANGKUUUU!”
'Hadi cowok gila.'
schonewords