After Dinner


Habrian dan Revanda telah sampai di kediaman orang tua Revanda. Rumah yang menemani masa remaja Revanda dan tepat berseberangan dengan rumah orang tua Habrian. Mengingat banyak kenangan dilaluinya di rumah ini, Revanda tersenyum dan hatinya menghangat.

“Kenapa senyum-senyum?” tanya Habrian menatap suaminya dan turut tersenyum pula.

“Gapapa, cuma keinget aja ada anak tetangga dulu yang suka teriak dari rumah yang di depan tuh,” jawab Revanda menggoda suaminya

Habrian terkekeh geli mengetahui bahwa dirinya tengah digoda oleh sang suami. “Tengil banget ya tetangga kamu teriak-teriak,” ujarnya tertawa geli. “Ayo, kita masuk.”

Keduanya turun dari mobil dan memasuki rumah besar yang tak dihuni seminggu belakangan. Revanda mengedarkan pandangan dengan netra yang membelalak. Rumahnya terlihat bersih dan ada beberapa lampu kecil yang menghiasi dinding ruang keluarga.

“Bri, kamu yang nyiapin ini?”

Habrian menggeleng mendengar pertanyaan tersebut. “Pembantu kamu, hehehehe,” jawabnya disertai cengiran.

Revanda terbahak. Ya, kalau dipikir-pikir, Habrian tak punya banyak waktu untuk menyiapkan dekorasi seperti ini. Terlebih lagi, Habrian bukanlah tipe yang mau ribet dengan hal-hal kecil begini.

“Cil, duduk sini,” Habrian menepuk pelan sofa yang ada di ruang tengah.

Revanda menurut. Ia duduk tepat disebelah Habrian, langsung memeluk tubuh suaminya tersebut. “Kamu ngapain bawa aku kesini?” Revanda menengadah untuk bertanya.

Habrian merangkul Revanda dengan erat. Dikecupnya hidung mancung suaminya yang tengah berulang tahun itu. “Papi sama mami kamu ga ada disini hari ini. Aku mau kamu tetap ngerasain adanya mereka buat ngerayain ulang tahun kamu, makanya aku bawa kamu kesini.”

Ah, Habrian dan jalan pikirannya ini selalu menjadi daya tarik tersendiri. Revanda lagi-lagi jatuh cinta untuk kesekian kalinya dengan sosok pria hebat ini. “Makasih, mas,” gumamnya seraya memeluk tubuh Habrian dengan erat.

“Sama-sama. By the way, ini bukan hadiah spesial yang aku maksud loh,” ujar Habrian.

Revanda sontak melepaskan pelukan. Ia menatap suaminya dengan penuh kebingungan, sedangkan yang ditatap hanya tersenyum manis. “Terus? Apa dong hadiahnya?” tanya Revanda penuh rasa ingin tahu.

“Sebentar,” jawab Habrian sembari meraih tasnya yang berada tak jauh dari sofa. Ia mengeluarkan sebuah amplop coklat berukuran besar dan menyerahkannya pada Revanda. “Hadiahnya ada disini,” tutur Habrian.

Revanda langsung meraih amplop tersebut dan mengeluarkan selembar kertas di dalam sana. Iris matanya seketika melebar ketika membaca deretan kata di sana. Mulutnya terbuka. Revanda sepenuhnya terperangah saat final membaca kertas tersebut.

“M-mas...ini...beneran?”


Schonewords