After What Happened on the Backstage – canon ?
CW // kissing, make-out
Best friend ever
Lagu Best Friend Ever selesai dinyanyikan. Semua member siap pada posisi terakhir mereka yang kali ini terlihat… berantakan. Mark, Jeno, dan Jisung tetap di posisi mereka, Jaemin berada di belakang Chenle untuk menggendong adiknya itu. Sedangkan…
Haechan memeluk Renjun. Tidak disangka—bahkan Haechan pun tak menyangka—Renjun tidak memberi perlawan ataupun memiliki pertahanan, sehingga tubuhnya terjatuh ke samping.
Posisinya? Ya, Haechan dan Renjun seolah berada di dunia sendiri. Tak ada intensi Haechan untuk menempatkan mereka pada posisi yang (cukup) sensual.
Haechan jelas terkejut dan matanya sempat membelalak sekilas. Terlebih lagi ia melihat Renjun hanya diam, berpose v-sign ke arah penonton, dan satu tangannya terjepit di antara tubuhnya dan tubuh Haechan. Kembali mata Haechan melotot ketika dirasakannya tangan Renjun itu sempat mengelus pahanya sekilas.
Tepuk tangan meriah dan suara teriakan ricuh terdengar dari arah penonton. Lampu di atas panggung seketika padam.
“Njun, sorry—”
“Gapapa,” Renjun tersenyum dan menolehkan kepalanya ke arah Haechan.
“Aku ga sengaja beneran deh,” ucap Haechan lagi.
“Chan, Njun, bangun yuk ke backstage dulu ayo,” ajak Mark sembari membantu Haechan dan Renjun bangun.
Sigap Haechan dan Renjun berdiri. Tepat saat keduanya berdiri, Renjun langsung menarik tangan Haechan dengan langkah kaki yang berderap cepat. Mereka mengarah ke ruang ganti—di mana baju kostum Haechan yang akan dikenakan untuk penampilan bersama NCT 127 telah disiapkan.
“Njun—”
Click!
Renjun mengunci pintu dan mendorong Haechan ke dinding ruang kecil itu. Kedua tangan Renjun mencengkram bahu Haechan kuat, mendekatkan wajahnya pada wajah Haechan, dan seketika bibirnya menempel pada bibir sang kekasih—Lee Haechan.
Haechan sempat kaget, tapi detik berikutnya ia menutup mata layaknya yang Renjun lakukan. Kedua tangannya mencengkram pinggang ramping Renjun hingga tubuh mereka berdempetan erat.
“Hmmhh,” lenguh Renjun.
Bibir keduanya saling melumat. Ciuman itu bukanlah tautan lembut, melainkan cumbuan panas yang terkesan terburu-buru. Bahkan saliva mulai membanjiri bibir mereka disertai bunyi khas perpaduan labium yang basah.
“Ren—jun…mhhh…”
Tautan bibir mereka sempat terpisah, tapi cepat Renjun satukan lagi. Kedua lengan Renjun melingkar di leher Haechan guna menarik kepala kekasih itu untuk memperdalam ciuman.
Mendapatkan perlakuan itu, Haechan memiringkan kepalanya. Ciuman mereka kian panas. Haechan menggigit pelan bibir Renjun untuk menyelinapkan lidahnya masuk ke dalam kehangatan mulut Renjun.
“Hmphhh….”
Lenguhan Renjun semakin membakar libido Haechan. Pelukan mereka dieratkan dan membuat Haechan berinisiatif menekan bagian bawahnya dengan milik Renjun.
Seringaian Renjunterulas sekilas disela ciumannya. Ia bahkan mendorong tubuh Haechan semakin terpojok di dinding agar kejantanannya ditekan kuat pada kepemilikan Haechan yang terasa sama tegangnya.
“Nghh, Chan….”
“Njun sshh aku mau perform lagi….”
“Sebentar….”
Ditengah kegiatan keduanya yang menggesekkan penis mereka kepada satu sama lain, samar suara WayV terdengar. Renjun menatap mata Haechan yang tampak layu karena dikuasai napsu.
“Hnghh itu WayV masih perform kok, Chan.”
“Itu udah mau selesai, sayang.”
Tok tok tok!
“Chan, Njun, udah dulu. Bentar lagi 127 disuruh stand by.”
Itu suara Mark. Haechan dan Renjun seketika tersenyum tanpa menyelesaikan gerakan pinggul mereka untuk terus mencari kenikmatan dari gesekan di bawah sana.
“Tuh aku udah dipanggil sama Mark hyung,” ucap Haechan.
Bibir Renjun mencebik. Seketika pinggulnya berhenti, tapi wajahnya kembali maju untuk mengecup bibir Haechan.
“Ya udah, kamu ganti baju ya. Nanti kita sambung,” bisik Renjun dengan suaranya yang terdengar lebih menggoda di telinga Haechan.
Haechan tersenyum, mengangguk, dan sembari mengelus pipi Renjun, ia berkata, “Iya, sayang. Ntar di hotel kita sambung ya. Maaf tadi aku nindih kamu jadi bikin kamu turn on ya?”
Renjun mengangguk, tapi tetap tersenyum pada kekasihnya. Kembali dikecupnya sekilas bibir Haechan, ditambah pula kecupan pada leher kekasihnya itu yang masih berkeringat.
“Oke. Kita kelarin dulu konsernya. Abis itu ntar malem kamu tidur di kamar aku ya?” bujuk Renjun manja.
“Iya, Renjun sayangku,” jawab Haechan sambil mengecup bibir Renjun dan meremas pantat si mungil itu. Wajahnya maju untuk berbisik, “Let’s do it tonight, more than what we did just now.”
“I’m ready,” balas Renjun dengan senyuman lucunya.
schonewords