Before Interview
cw // nsfw, mature content, boys sex scene, kissing, nipple plays, blow job, fingering, hand job, penetration, anal sex, saliva as lubricant, harsh words
Gama membuka pintu mobil bagian penumpang di tengah dengan netra yang terbelalak. Pasalnya, sang suami, Gala, tengah menutup matanya dengan tangan yang sibuk memijat kemaluannya sendiri. Lenguhan pun lolos dari mulutnya secara sensual.
“Gamhhh,” erangnya ketika mendapati Gama telah masuk ke dalam mobil dan duduk di sampingnya.
Gama tersenyum. Tangannya dengan lembut mengelus kepala Gala dan mengecup keningnya, “Udah ga tahan ya, sayang?”
Gala mengangguk lemah dan tatapannya sayu. Pemandangan ini meningkatkan libido Gama dengan cepat. Suaminya yang netranya mengerjap lemah, belahan bibirnya yang merah terbuka, dua kancing kemeja bagian atas yang terbuka, dan jangan lupakan ritsleting celana yang telah terbuka di mana tangan mungil itu telah masuk ke dalam untuk memanjakan penisnya.
“Gam, mau tit-”
Ucapan Gala menggantung tatkala Gama meraup bibir si aries itu. Lumatan basah dan kasar tercipta, membuat Gala langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Gama. Tangan Gama menurunkan sandaran kursi, membiatkan Gala mulai terbaring dengan posisi Gama yang setengah menimpanya.
“Hmphh!” Gala menjerit tertahan dalam ciumannya ketika Gama menggigit bibirnya.
'Cup!' Gama mengecup lembut labium Gala tatkala bibir mereka terpisah. Ibu jarinya mengusap bibir mengkilat dan bengka milik Gala.
“Mas Gamaaaa,” panggil Gala dengan suaranya yang serak.
“Ya, sayang?”
Bukannya menjawab, Gala mengeratkan pelukan pada leher Gama. Senyuman terulas di wajah tampan Gama dan mendudukkan tubuh Gala, agar dapat memeluk tubuh mungil itu dengan erat.
“Kenapa, sayangku?” tanya Gama lembut.
“Humm, kamu bosen ga sih liat aku gampang banget horny terus minta mulu sama kamu?”
Gama terkekeh. Tangannya mengelus punggung Gala penuh kasih sayang. “Engga dong, ayang. Ga mungkin aku bosen. Aku malah suka kok,” jawab Gama seraya mengecup leher Gala.
Lenguhan Gala kembali terdengar disebabkan oleh lihainya Gama menghisap lehernya, memberi tanda merah keunguan yang menciptakan rasa nikmat untuk si artis itu. Semakin kuat desahan Gala menggaungkan nama Gama, maka semakin kuat dan bersemangat pula Gama mengerjai leher suaminya.
“Gamhh, kita mau interview nghhh gimana kalo leher aku merah gituuuh.”
Pelukan dilonggarkan. Gama menatap wajah indah suaminya yang tersenyum lemah namun dengan tatapan yang penuh napsu. Pemandangan ini selalu menjadi favorit untuk Gama.
“Gal,” panggil Gama.
“Ya, mas?”
“Kamu cantik, dek.”
“Aku cowok.”
“Tetep aja, kamu cantik. Cantik banget.”
Gala tersipu. Wajahnya bersemu merah muda, membuat Gama gemas dan tak kuasa mengecup pahatan indah itu berkali-kali.
“Mas Gama.”
“Ya, cantikku?”
Gala mendekatkan bibirnya ke telinga Gama untuk berbisik, “Aku udah tegang nih.”
Gelak tawa melesat dari mulut Gama. Bibir Gala kembali ia pagut dan cumbu dengan mesra, sedangkan tangannya langsung terselip masuk ke dalam celana Gala, menyentuh penis suaminya itu secara langsung dan meremasnya pelan.
“Hmhh...”
Tangan Gama dengan lihai memijat penis Gala, memainkan ujungnya dan sesekali meremat bola kembar di pangkal kemaluan kecil itu. Gerakan naik dan turun dilakukan tangannya guna mengocok kejantanan sang suami yang membuat si artis itu mengerang hingga penyatuan bibir mereka terlepas.
“Ahhh, Masss...”
“Yang ini masih bersih ga?” tanya Gama seraya mengelus permukaan lubang anal Gala.
“Humm, masiiih.”
Gama mengeluarkan tangannya. Dilepaskannya celana Gala, membuat bagian bawah tubuh si mungil itu terekspos bebas, memperlihatkan penisnya yang telah tegang.
Jari Gama diarahkan ke mulut Gala. Kini yang ia dapati adalah pemandangan menggairahkan di mana Gala mengemut jari tengah Gama dengan gerakan sensual.
“Aku masukin jari dulu ke lubang kamu ya, ayang,” izin Gama kepada Gala.
Gala mengangguk. “Tapi, aku sambil emut titit kamu boleh ga, mas? Biar nanti bisa langsung masukin kalo udah agak longgar,” ujarnya.
“Oke, ayang.”
Gama menurunkan celananya hingga sebatas lutut. Gala pun dengan senang hati merundukkan tubuhnya ke arah Gama, mulai menggenggam kejantan suaminya, menjilat penis si gemini itu, dan memainkan lidah di pangkal alat vital kesukaannya itu.
“Nghh,” erang Gama. Tangannya sigap mengelus pinggiran sekitar lubang anal Gala. Jari tengah yang basah itu mulai didorong masuk, membuat Gala melenguh merasakan sakit hingga secara tak sadar menggigit pelan ujung penis Gama.
“Mpphh!”
“Aww, jangan digigit, Gal. Ssh pelan-pelan aja, ay.”
Kegiatan itu terus berlanjut. Gama pun telah menambahkan jari telunjuknya, membuat gerakan menggunting guna melonggarkan lubang kenikmatan itu. Gala pun semakin liar mengeluar-masukkan penis Gama dari mulutnya, membuat kepemilikan sang suami telah sepenuhnya basah oleh air liurnya.
“Mas Gammhh, masukin sekarang kali, yahhh,” pinta Gala.
“Oke, aya- Gal?”
Gama terperangah melihat Gala tiba-tiba menaiki tubuhnya, duduk di atas pangkuan Gama dengan seringaian yang sangat menggoda. Tangannya dengan perlahan membuka seluruh kancing kemejanya, mempertontonkan tubuhnya yang dibaluti kulit putih nan mulus. Dua tonjolan coklat di dadanya pun mulai berwarna merah muda dan mencuat.
“Aku di atas ya, mas?”
“Boleh, ayangku. Nanti aku bantu dorong masukinnya.”
Gala tersenyum puas. Ia tangkup wajah Gama dan memberikan kecupan ringan di seluruh wajah tampan suaminya itu.
Tangannya meraih kejantanan Gama yang telah menegang sepenuhnya. Mulai diarahkannya ke lubang analnya yang membuatnya mengernyitkan dahi menahan perih.
“Nghh aduuh, mas...”
“Sakit, dek?” tanya Gama dengan suara rendahnya seraya mengelus pinggang suaminya.
“Perih, mas.”
Gama mengeratkan pelukan. Ia mengulum salah satu puting Gala dengan lembut sembari penisnya ia dorong perlahan masuk ke dalam lubang anal Gala. Ya, secara perlahan dan gentle hingga alat kemaluannya itu sudah tertanam sempurna di lubang Gala.
“Hnghh...”
“Perih banget, dek?”
“Iyah. Bentar ya, mas. Jangan digerakin dulu.”
“Aku gerakin pelan dulu ya, ayang? Pelan kok. Biar cepet terbiasa.”
Gala mengangguk pasrah. Ia biarkan Gama menaikkan pinggulnya perlahan, membuat penisnya sempat tertarik nyaris keluar dan masuk lagi dengan lembut. Gerakan lambat seperti ini justru membuat Gala semakin terangsang hebat.
“Pelan ginihh bisa ga sampe mentok, Gam?” tanya Gala terengah.
“Aku coba dulu, ya.”
Gama tarik lagi perlahan penisnya, kemudian secara hati-hati ia masukkan lagi hingga tertusuk sangat dalam. Dapat ia rasakan ujung kejantanannya menyentuh prostat Gala, membuat Gala mengerang nikmat mendayukan namanya, “A-ahhh, Gamaaahhh. Sshh, mentok, ayangghh.”
“Enak, dek?”
“I-iyah, mas. Mhh, enak banget.”
“Enakan dibuat mentok gini kalo pelan atau cepet?”
“Dua-duanya enak- AHHH! MAS!”
Gama mendorong kejantanannya secara brutal. Prostat Gala tertusuk dengan kasar, namun sensasi nikmatnya jauh lebih menyenangkan ia rasakan.
“Nghh, aku aja yang gerak, Gam.”
Kaki Gala bertengger pada dua sisi paha Gama. Tangannya bertumpu pada bahu lebar Gama. Pinggulnya ia naikkan, dan kembali diturunkan, membuat penis Gama yang menegang sempurna mulai keluar-masuk lubang analnya secara teratur dan cepat.
“Ahhh fuckkk dalem banget masuknya, masss.”
“Iya, dek. Mmhh mentok banget.”
Sembari genjotan di bawah sana semakin cepat, keduanya saling memagut bibir. Lumatan kasar dan terburu-buru tercipta. Saliva meleleh dari sudut bibir mereka, hingga turun ke leher.
Tangan Gama tak tinggal diam. Sebelah kiri ia gunakan untuk memilin puting Gala, sedangkan yang kanan meremas pantat Gala berulang kali dan sesekali memukulnya.
“Gamahh, aku mau keluarrr.”
Mendengar itu, Gama semakin liar. Ia angkat tubuh Gala dan membalikkan posisi. Kini Gala di bawahnya, membuatnya menggenjot lubang anal Gala tanpa ampun.
“Ahh, Mas. Terlalu cepettt nghh ahh, masss. Gamahh!”
Jeritan Gala disusul dengan menyemburnya cairan putih kental yang mengotori perut keduanya. Gala pun melemah seiring sampainya ia pada puncak kenikmatannya itu. Ia bersandar lesu, membiarkan Gama terus menggempur lubangnya.
“Mmhh, ayang, capek yah?”
Gala mengangguk. “Gapapa, ay. Nghh terus ajahh,” titahnya.
Gama menggenjot semakin cepat. Ia rasakan penisnya semakin besar di dalam lubang sempit itu. Terus ia tusuk kencang prostat Gala, membuat Gala tak henti-hentinya menjerit kenikmatan.
“Aku ga keluar di dalam ya, ay? Nanti lengket, kita mau interview soalnya.”
“I-iyah, mas. Ahh! Enak bangettt. Fuck me harder, Gamaaah.”
Perintah Gala membuat libido Gama semakin memuncak hingga ia akhirnya sampai putihnya. Dikeluarkannya penisnya. Dengan cepat ia meraih beberapa lembar tisu untuk menampung cairan spermanya yang menyembur banyak.
“Arghh,” erangnya ketika cairan kental itu keluar.
Gama terduduk di kursi sebelah Gala. Netra Gala pun terpaku pada penis Gama yang terbungkus tisu.
“Humm pengen ituuu. Sayang banget kebuang di tisu,” ujar Gala dengan bibirnya yang mengerucut maju.
Gama terkekeh menoleh menatap suaminya. Ia bersihkan penisnya dan memajukan tubuhnya untuk mengecup bibir Gala sekilas. “ Nanti malam ya di rumah,” ucapnya.
Gala mengangguk cepat dan tersenyum lebar. Diraihnya pula tisu untuk membersihkan penisnya sendiri.
Tok tok tok!
Kaca mobil diketuk dari luar, memperlihatkan bayangan Kirana di sana. Teriakannya pun terdengar jelas.
“GAMA, GALA! ANJING LO BERDUA MALAH NGEWE DI MOBIL! CEPET BERSIH-BERSIH TERUS KELUAR!”
schonewords