Confession – markmin's office romance


Perusahaan Neotech Corps tengah mengadakan makan malam bersama untuk seluruh karyawannya. Kegiatan ini kerap dilakukan kala target pemasaran mereka di tiap kuartalnya mencapai sasaran. Tiga bulan belakangan, perusahaan konsultan IT itu telah menembus angka pemasaran yang melebihi targetnya. Oleh sebab itu, malam ini mereka tengah berpesta guna merayakan kesuksesan baru di perusahaan ternama itu.

“Jaemin,” bisik Chenle dengan dagunya yang mengarah ke pintu utama aula. “Tuh pacar lo dateng.”

Jaemin melirik ke arah yang ditunjuk oleh Chenle. Senyuman mengembang di wajahnya sembari menggumam, “Bukan pacar gue, Le.”

“Calon pacar kali,” timpal Jeno berdiri di antara mereka berdua.

Suara helaan napas lolos dari mulut Jaemin. Bahunya bergidik sembari berkata, “Ga tau deh.”

Jeno dan Chenle saling memberikan lirikan kepada Jaemin yang tengah meneguk champagnenya. Sadar mendapat perhatian itu, Jaemin mengangkat alisnya dan bertanya, “Kenapa? Kok ngelihatin gue begitu?”

“Lo masih belum confess ke Mark?” tanya Jeno melebarkan matanya.

“Belum.”

“Ya ampun! Kok bisa? Bukannya lo bilang kemarin mau confess ke dia pas berangkat ngantor bareng?” kali ini Chenle yang bertanya.

Sekali lagi Jaemin menghela dan menghembuskan napasnya gusar. Ia meletakkan gelasnya di atas meja yang ada di tengah-tengah tempat ia dan para sahabatnya berdiri.

“Ga jadi. Dia keburu mesti meeting kemarin,” jawab Jaemin ketus.

Dua sahabat Jaemin pun membungkam mulut mereka. Kepala mereka mengangguk dan enggan bertanya lebih jauh. Namun, detik berikutnya netra Chenle membelalak. Minuman yang tengah ia sesap segera ditelan.

“Jaemin Jaemin,” Chenle memukul lengan Jaemin. “Itu itu! Si Mark jalan ke sini!”

Jaemin yang mulanya tengah fokus memperhatikan permainan piano di atas panggung pun langsung menoleh. Dilihatnya Mark menyunggingkan senyuman pada wajah tampannya. Langkah kakinya memang benar mengarah ke tempat Jaemin berada, membuat degup jantung Jaemin berpacu cepat tak karuan.

Hey, Jaemin,” sapa Mark ketika telah berdiri tepat di depan si pemilik nama itu. “Hai juga, Jeno, Chenle.”

Jeno dan Chenle membalas sapaan Mark. Mereka seketika melirik ke arah Jaemin yang masih terdiam dan hanya mengulas senyuman tipis.

“Jaemin, will you come with for a bit?”

Mendengar pertanyaan Mark tersebut, alis Jaemin terangkat. Jeno dan Chenle otomatis menatap Jaemin serta memberi kode agar segera mengiyakan ajakan Mark.

“Kemana?” tanya Jaemin.

Just standing right there, in front of the stage.”

“Hm? Ngapain di situ?”

Mark terkekeh pelan dan menjawab, “Nanti juga bakal tahu kok. Yuk?”

Apalah daya Jaemin saat ini? Tak mungkin ia menolak ajakan dari pria yang belakangan tengah mencuri hati dan perhatiannya itu. Maka ia mendekati Mark, mengikuti langkah Mark tepat di sampingnya menuju sebuah meja bundar yang di sana sudah ada Renjun dan dua anggota divisinya yaitu Yeri dan Hendery.

“Kak, aku ga enak ah duduk di sini. Ini kan meja khusus buat kamu sama team leaders di R&D,” bisik Jaemin ketika duduk tepat di sebelah Mark.

It's fine, Jaemin. Santai aja.”

Jaemin akhirnya memilih diam. Ia melempar senyuman sekilas kepada Renjun, Yeri, dan Hendery. Rasanya tidak nyaman, namun saat ia melihat wajah Mark dari samping, hatinya menjadi lebih tenang.

“Acara selanjutnya, kita akan mendengarkan kata sambutan dari karyawan terbaik bulan ini, yang bikin Neotech Corps mencapai target pemasaran untuk kuartal kedua ini. Berkat strategi yang dirancang dari hasil riset divisi yang beliau pimpin, Neotech Corps meraih keuntungan yang besar! Langsung saja kita sambut, Mark Lee, kepala divisi Research and Development!”

Iris mata Jaemin melebar menatap Mark. Sosok yang namanya dipanggil itu pun hanya tersenyum melihat Jaemin sebelum akhirnya berjalan ke atas panggung.

“Renjun, dia udah tahu bakal disuruh speech?” bisik Jaemin.

“Iya. Kemarin pas meeting udah dikasih tahu.”

Jaemin hanya bisa mengangguk pelan. Matanya sudah terpaku menatap Mark yang berdiri di atas panggung dan tersenyum lebar membuka pidatonya dengan menghaturkan rasa hormat serta terima kasih kepada para petinggi Neotech Corps.

Well, udah lebih dari tiga bulan saya mengemban jabatan sebagai kepala divisi R&D. Semuanya ga mudah. Mulai dari penyesuaian jobdesc sampai the workloads tho. Saya bersyukur punya rekan kerja yang hebat-hebat di divisi tersebut. Thanks to Renjun, Yeri, dan Hendery selaku ketua dari tiga tim yang ada di divisi ini. Berkat kerja keras kalian dan seluruh anggota tim, ancangan marketing bisa berjalan dengan baik dalam penerapannya. Please give applause to them.”

Seluruh karyawan bertepuk tangan yang meriah. Renjun, Yeri, dan Hendery berdiri sejenak untuk membungkuk menghaturkan terima kasih kepada semuanya yang ada di sana.

“Selamat ya, Ren, Kak Yeri, dan Kak Hendery,” ucap Jaemin saat ketiga orang itu kembali duduk. “Kalian keren banget deh—”

“Dan saya juga mau mengucapkan terima kasih kepada Na Jaemin, asisten manajer HR,” ucap Mark memotong ucapan Jaemin, menarik perhatian Jaemin hingga kini Jaemin sigap menoleh kembali menengok ke panggung dengan netra yang membelalak.

Mark tersenyum di sana. “Na Jaemin, yang jadi asesor saat evaluasi terakhir saya dan Renjun. Na Jaemin, yang dengan ramahnya ngasih selamat atas promosi jabatan saya. Na Jaemin, yang banyak ngasih masukan dalam berbagai hal. Dan...Na Jaemin, yang belakangan selalu ada di samping saya, mau mendengar keluh kesah saya, dan ga pernah capek untuk menasehati,” haturnya dengan tenang.

Suara riuh para audiens terdengar. Hal itu membuat Mark tersipu, pun Jaemin yang wajahnya sudah memerah.

“Jaemin, makasih,” tutur Mark sembari menatap netra Jaemin di bawah sana dengan lekat. “Makasih banyak udah jadi orang yang baik buat saya beberapa bulan ini. Saya jadi yakin kalau ternyata hati saya benar.”

Dahi Jaemin mengernyit. Di sisi lain, semua orang di sana sudah tersenyum sambil berbisik-bisik untuk berasumsi maksud dari ucapan Mark barusan.

My heart was right, Jaemin. Ternyata saya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan orang yang tepat.”

Ucapan itu sukses membuat Jaemin semakin melotot dengan detak jantung yang berdebar kian cepat. Seluruh orang di dalam aula bersorak-sorai riuh yang menjadikan wajah Mark dan Jaemin semakin merah.

Mark menutup pidatonya. Segera ia berjalan cepat turun dari panggung. Tanpa basa-basi dan duduk sedikit pun, ia menarik tangan Jaemin, membawa sang pujaan hati berjalan keluar dari aula.

Jaemin hanya bungkam. Kakinya hanya mampu mengikuti langkah Mark karena tangannya masih digenggam dan ditarik pelan oleh Mark.

Tibalah mereka pada tempat yang tak asing bagi keduanya. Rooftop. Angin malam berhembus menciptakan nuansa dingin, namun tak membuat kedua pria itu merasa demikian. Wajah mereka terasa panas dengan tatapan yang tak berani saling bertemu.

“Kak, tangan kamu,” ucap Jaemin lirih.

Mark sadar tangannya masih menggenggam lengan Jaemin. Maka ia bawa Jaemin untuk berdiri tepat pada dinding pembatas di sana. Detik berikutnya genggaman itu dilepas, membuat Jaemin melipat dua tangannya di depan dada, dan tangan Mark bertumpu pada dinding. Netra keduanya menatap lurus memandangi city lights yang sangat jelas terlihat dari atas atap tertinggi gedung itu.

“Jaemin.”

“Hm?”

It must be surprised you ya?”

Jaemin mengangguk pelan. “Bohong banget kalau aku ga kaget, kak,” jawabnya.

Sorry, Jaem—”

But it makes me happy,” potong Jaemin.

Alis Mark terangkat. Cepat kepalanya menoleh ke kanan, melihat Jaemin yang tengah tersenyum dengan netra yang tengah menatap langit karena kepalanya yang sedikit menengadah.

“Aku seneng, walaupun sebenarnya it was embarrassing,” ucap Jaemin diikuti dengan kekehan pelan. “Thank you, kak.”

Arah pandang Jaemin berubah tatkala kepalanya beralih menengok menghadap Mark. Obsidian teduhnya dipertemukan dengan manik Mark yang masih setengah membelalak.

“Kak, aku hampir aja confess ke kamu kemarin. It failed, karena kamunya harus meeting,” ujar Jaemin lirih. “Hmm, no. It failed because I wasn't ready yet yesterday.”

Mark masih diam terpaku, sedangkan Jaemin mulai merubah posisi tubuhnya menghadap langsung kepada Mark. Kakinya ia bawa maju sedikit hingga jaraknya kian dekat dengan sang pujaan hati. Digamitnya kedua tangan Mark agar dapat ia genggam dengan kedua tangannya pula. Kepala Jaemin tertunduk menatapi tautan tangannya dan tangan Mark tersebut.

“Kak Mark, aku udah notice kamu suka ngelihatin aku dari awal kita ketemu, karena aku pun ngerasain hal yang sama.”

Kedua pria yang mulanya saling nunduk itu secara bersamaan mengangkat kepala mereka. Manik mereka bertemu, kendati dengan ekspresi yang berbeda. Mark yang masih dengan raut wajah penuh kejut, dan Jaemin yang setia mengulas senyum.

“Jaemin...”

“Kak,” potong Jaemin. “Aku tahu ga cuma aku di sini yang jatuh cinta sejak awal, tapi kamu juga. We just two Leo men that fell first and fell harder together in the same time. Aku ga sesusah itu untuk peka sih. Aku cuma ngerasa emang dari kemarin kita nyari timing yang pas aja.”

Ucapan Jaemin itu memberanikan Mark untuk menarik tangan sang tambatan hati. Ia rengkuh tubuh Jaemin untuk masuk ke dalam pelukannya yang erat. Tentu pergerakan ini membuat Jaemin kaget dan terpaku.

Yes, you're right. We are just the two Leo men that crazily in love with each other. Pantesan terlalu mikirin timing,” gumam Mark dari balik bahu Jaemin.

Raut muka yang mulanya kaget pun berubah menjadi senyum sumringah lagi pada wajah Jaemin. Sigap ia membalas pelukan Mark tak kalah erat, membiarkan tubuh keduanya menghangat dalam dekapan masing-masing.

“Akhirnya aku bisa meluk kamu,” bisik Mark.

Jaemin terkekeh. Ia eratkan pelukannya sembari berkata, “Akhirnya aku bisa dipeluk sama kamu.”

Dinginnya angin malam tampaknya kalah pada hangatnya pelukan mereka. Terlebih lagi dekapan itu dimulai dengan ungkapan isi hati yang nyatanya terbalas untuk saling mencinta di kemudian hari. Di mulai dari hari ini dan berharap akan selalu begitu selamanya.


schonewords