Damar dan Peraturan Tanwira


Riuh khas keramaian pesta tengah berlangsung di sebuah ruang besar di rumah yang megah pula. Ulang tahun Nyonya Christine Adipati Tanwira menjadi perayaan yang enggan dilewatkan oleh keluarga Tanwira serta kerabat, rekan, dan kenalan mereka.

Di antara keramaian itu, Damar dan Miguel berdiri sembari menyesap champagne yang telah disediakan. Hubungan dua kakak-beradik ini memang sudah erat dengan keluarga Tanwira sejak Miguel pernah menjadi hakim di persidangan kasus korupsi yang menjebak keluarga konglomerat itu. Tak pula lupa bagaimana Damar memenangkan perceraian Radinka dengan telak dan tegas, membuat citra keluarga itu tetap harum di seluruh penjuru negeri, bahkan sampai kancah internasional.

“Sekali lagi gue tanya, Dam. Lo yakin?” bisik Miguel lirih.

Damar terkekeh setelah meneguk minumannya. Ekor matanya menyorot sang kakak dengan kepalanya yang mengangguk.

You knew me very well, bang.”

Sesingkat itu jawaban Damar, tapi mampu membungkam Miguel. Salah satu tangan Miguel yang kosong menepuk pelan bahu Damar, membuat Damar menoleh dan mendapati sang kakak tengah memandang ke suatu sudut sembari menunjuknya dengan dagu.

It’s your time,” ucap Miguel setengah berbisik.

Arah yang ditunjuk sang kakak adalah tempat keberadaan orang tua Radinka. Melihat itu, Damar pun berbisik kepada Miguel, “Wish me luck, bang.”

Miguel mengangguk. Ia pandangi sang adik yang mulai berjalan mendekati Ariawan Tanwira beserta istrinya—Alicia Tanwira. Damar tentu sudah mengenal mereka karena sempat bertemu di persidangan perceraian Radinka.

“Selamat malam, Pak Ari dan Bu Alicia,” sapa Damar dengan ramah.

“Oh, Pak Damar! Ya ampun, udah lama loh kita ga ketemu,” seru Bu Alicia langsung membalas sapaan Damar tak kalah ramah.

Di sebelah wanita itu, Pak Ariawan tersenyum tipis menatap Damar dan mengangguk pelan. Tangannya menepuk pelan bahu Damar sembari berkata, “Segan rasanya disapa langsung pengacara terhebat seantero negeri ini.”

Damar terkekeh dan membalas dengan, “Justru saya yang merasa terhormat bisa menyapa pengusaha tersukses nomor satu di negeri ini.”

Gelak tawa pecah dan terdengar lolos dari mulut Pak Ariawan, Bu Alicia, dan juga Damar. Sang pengusaha hebat itu pun mengajak istrinya beserta Damar untuk duduk pada meja VIP yang sudah disiapkan khusus untuk keluarga Ariawan.

“Duduk, Pak Damar. Radinka sama Vien paling lagi sama Nolan,” ucap Bu Alicia.

“Oh iya, terima kasih, bu.”

Pak Ariawan meneguk wine-nya pelan. Tatkala tangannya meletakkan gelasnya di atas meja, beliau bertanya, “Sudah seberapa jauh hubungan kamu sama anak saya?”

Mendengar itu, Damar mengerling. Alisnya terangkat sembari tatapannya dipertemukan dengan netra Pak Ariawan.

“Hubungan? Hubungan apa? Emangnya Pak Damar ada hubungan sama Radin?” tanya Bu Alicia bingung.

Damar sedikit berdeham. Sigap ia menghadap Bu Alicia sambil mengulaskan senyuman manis.

“Bu Alicia, sudah beberapa minggu belakangan saya pacaran sama Radin.”

Lantas netra Bu Alicia membelalak seketika. Mulutnya terbuka karena terperangah. Beliau menoleh untuk melihat suaminya yang tak menunjukkan ekspresi terkejut sama sekali.

“Papa? Papa udah tahu?” tanya Bu Alicia.

“Cuma tahu mereka dekat. Baru tahu juga ternyata mereka udah pacaran,” jawab Pak Ariawan santai.

Damar tetap mengulas senyum. “Makanya saya mau ngomongin itu sekarang,” ucapnya.

“Damar,” panggil Pak Ariawan. “Radinka udah pernah bilang soal peraturan di keluarga ini soal—”

“Soal anggota keluarga Tanwira harus nikah dengan konglomerat, pengusaha ternama, atau memang keturunan keluarga yang kaya raya,” potong Damar dan masih tersenyum. “Saya udah dengar itu, Pak Ari, tapi bukan dari Radinka. Justru dari mantan menantu bapak yang angkuh itu.”

Pak Ariawan tertawa kecil mendengar itu. Beliau menoleh melihat istrinya yang masih terperangah hingga ia pun mengelus lengan sang istri dengan lembut.

“Ma, this man is probably better than Jeremy,” ucap Pak Ariawan.

Bu Alicia menghela napas panjang. “Ga diragukan lagi sih, pa. Aku yakin Pak Damar jauh lebih baik dari Jeremy, tapi the rules in your family is quite suck at this moment,” tanggap Bu Alicia pelan.

Then, let me break it,” tutur Damar yang langsung menarik perhatian suami-istri di hadapannya.

It’s not going to be easy, Damar Hannan,” balas Pak Ariawan. “Peraturan itu udah ada dari dulu. Radinka ga akan bisa ngelanggar itu.”

What if I can?”

Pak Ariawan dan Bu Alicia menatap Damar dengan lekat setelah mendengar pertanyaan singkat itu. Ada sedikit kekhawatiran tersirat dari tatapan pasangan suami-istri itu.

“Pak Damar,” Bu Alicia bersuara dengan lirih. “Saya tahu Pak Damar punya kekuasaan tinggi, ilmu yang mumpuni soal hukum, dan banyak orang kepercayaan dalam kalangan petinggi juga. Walaupun gitu, saya tetap ragu Pak Damar bisa matahin peraturan yang ada di keluarga ini.”

“Itu Bu Alicia tahu apa yang saya punya,” tanggap Damar dengan seringaian di wajahnya. “Saya bukan keturunan konglomerat, pengusaha, atau keluarga kaya raya, but look at me now. Siapa yang ga kenal saya di negeri ini? Saya bikin diri saya sendiri jadi orang kaya tanpa harus jadi seorang ‘keturunan’.”

Bu Alicia tertunduk, sedangkan Pak Ariawan memilih bungkam. Sorot matanya bertemu dengan netra Damar yang tetap menatapnya tenang.

“Pak Ariawan sama Bu Alicia pernah secara ga langsung menyiksa Radinka dengan peraturan itu. Terus…mau sampe kapan keluarga Tanwira tersiksa cuma karena peraturan kolot itu?”

Ucapan Damar seolah menohok Pak Ariawan dan Bu Alicia. Mereka sempatkan saling melirik sebelum akhirnya tertunduk.

“Saya serius sama Radinka. Saya bahkan udah kepikiran untuk nikahin Radinka dan jadi ayah untuk Javien. Untuk bisa ngewujudin itu, cuma ada dua pilihan,” ucap Damar dengan tenang. “Yang pertama, peraturan itu harus dihapus dari keluarga ini. Yang kedua, Radinka dan Javien yang dihapus dari silsilah keluarga Tanwira. Dan saya yakin, untuk pilihan yang kedua itu ga akan mungkin terjadi, mengingat Radinka justru jadi anak dan cucu kebanggaan di keluarga hebat ini. Iya kan?”

Pak Ariawan mengangguk. Gelas wine-nya kembali diangkat. Disempatkannya sebelum menyesap minuman itu untuk berkata, “Kalau berani ngasih usulan begitu, berarti kamu berani ngasih solusi, Damar.”

Senyuman kembali terulas di wajah Damar. Kepalanya mengangguk sembari menanggapi dengan, “Mungkin saya dan Jeremy ga akan ada bedanya kalau saya bilang pernikahan saya dengan Radin bakal jadi ‘simbiosis mutualisme’ untuk kita semua. But one thing for sure, saya nanti menikahi Radin bukan untuk keuntungan materi saya, karena saya memang cinta sama dia.”

“Apa yang keuntungan buat Radin dan Vien kalo begitu?” tanya Bu Alicia.

“Bu Alicia, saya yakin ibu ga tau apa yang dialami anak dan cucu ibu,” tanggap Damar dan membuat Bu Alicia mengernyitkan dahi. “Radin and Vien need help from a professional for their mental health. Your former son-in-law made them suffer a lot. Saya bisa jamin mereka sembuh kalo sama saya. Saya bahkan udah manggil psikolog khusus untuk mereka, and no worries, pengobatannya di rumah Radin. It’s in private, jadi ga perlu khawatir ketahuan media dan bakal ngerusak image keluarga Tanwira.”

Kembali Bu Alicia terdiam dan tertunduk. Ia cukup terkejut dengan fakta yang baru saja diucapkan oleh Damar hingga membuat air matanya menggenang.

“Lalu untuk keluarga Tanwira? Apa untungnya?” tanya Pak Ariawan.

“Saya bisa ngelindungin keluarga ini dari sisi hukum, selagi keluarga ini memang ga berbuat salah. Dengan kayak gitu, nama Tanwira bakal selalu bersih kan?”

Pak Ariawan mengangguk setuju. Baru saja ia ingin berbicara lagi, tapi tangannya ditahan oleh Bu Alicia.

“Terakhir, Damar. Apa untungnya buat kamu selain memang berhasil ngedapetin Radin dan Vien?”

Damar tersenyum dan menjawab, “I’ll get my best future with my best husband and my best son. Just it. I don’t need anything else, Bu Alicia. For me, having Radin and Vien beside me is more than enough.”

Kepala Pak Ariawan dan Bu Alicia mengangguk. Seketika mereka saling bertukar pandang untuk mengulas senyum tipis.

“Kasih saya waktu, Damar,” ucap Pak Ariawan. “Kasih saya dan istri saya waktu untuk ngeyakinin anggota keluarga Tanwira lainnya buat ngasih kelonggaran peraturan itu.”

Go ahead, Pak Ariawan. Saya juga ga mau buru-buru. Saya tahu, pertimbangan lainnya tentang image Radin yang baru aja cerai beberapa bulan lalu dan jangan sampe ada gosip dia selingkuh sama saya sebagai penyebab perceraian. Jadi, let’s take it easy for everything, Pak Ariawan. Yang penting untuk saya sekarang cukup Pak Ariawan dan Bu Alicia percayain Radin dan Vien ke saya. Saya…”

Ucapan Damar menggantung. Arah matanya memandang ke atas, tepatnya keberadaan Radinka dan Javien yang bergandengan untuk menuruni anak tangga.

“...saya sayang dengan Radin dan Vien.”


schonewords