damaradin’s sweet night
CW // kissing
“Pumpkin, ayo bangun. Pindah ke kamar kamu.”
Radinka melenguh pelan dengan mata yang dicoba terbuka. Setengah sadar ia melihat Damar tengah tersenyum berada di sisi kirinya—tepat di pinggir ranjang.
Tatkala menoleh ke kanan, Radinka sadar bahwa baru saja ia tertidur sembari memeluk anaknya. Seketika ia mencoba membuka matanya dan terduduk.
“Aku ketiduran ya, Mas? Lama ya?” tanya Radinka berbisik.
“Ngga lama. Baru lima belas menit aja.”
Radinka mengangguk. Ia menengadah untuk kembali melihat kekasihnya setelah matanya diusap pelan.
“Ngantuk banget ya?” tanya Damar.
“Hmm, iya, Mas.”
Damar tersenyum sembari berkata, “Aku gendong aja ya ke kamar kamu?”
Netra Radinka sukses terbuka lebar. “E-eh ga usah, Mas Dam— Mas!” pekik Radinka ketika terkejut badannya sudah digendong oleh Damar ala bridal style.
“Ssstt jangan berisik, Radin. Nanti Vien bangun,” ucap Damar sambil berjalan keluar dari kamar Javien.
Radinka menutup mulut dengan tangannya. Pada akhirnya, salah satu lengannya bertengger di leher Damar. Keduanya saling bertatapan seiring Damar menyusuri koridor remang yang menuju kamar Radinka.
Saat tiba di kamar sang kekasih, Damar dengan perlahan merebahkan tubuh Radinka di atas kasurnya. Ia memilih duduk di sisi ranjang pasca memakaikan selimut di tubuh tambatan hatinya itu.
“Kak Miguel mana? Masih di kamar Nolan?” tanya Radinka.
Kepala Damar mengangguk sembari menjawab, “He texted me earlier, Nolan kebanyakan nangis jadi langsung ketiduran. Miguel is currently making sure that your cousin sleeps very well now.”
“I see,” gumam Radinka. “Kamu mau pulang ya, Mas?”
“Iya, Radin, tapi saya harus pastiin kamu tidur yang nyenyak dulu.”
“Cuddle me, then.”
Damar tersenyum mendengar permintaan Radinka. Perlahan ia naik ke atas kasur, membuat Radinka sedikit bergeser untuk memberi ruang bagi kekasihnya berbaring di sampingnya. Seketika Damar memeluk tubuh mungil Radinka, merengkuhnya erat, sembari tangannya mengelus punggung Radinka dengan lembut.
“So how the family dinner?”
Suara kekehan lolos dari mulut Radinka. Ia tahu pasti bahwa yang ditanyakan Damar bukanlah kelangsungan acara makan malam tersebut, melainkan bagaimana Radinka menyampaikan pemikirannya.
“It went well,” jawab Radinka tenang. “Aku udah nyampein semuanya, Mas. Ya, bertentangan sih dengan para orang tua yang kayaknya masih keras untuk pertahanin peraturan itu, tapi anak-anaknya banyak yang setuju sama aku.”
“I see. You did great then, pumpkin.”
“Of course, I did. Aku bakal ngelakuin apapun untuk matahin peraturan itu.”
Damar kembali mengulas senyuman. Ia sedikit longgarkan pelukan agar dapat mengecup pelan kening Radinka dan kemudian saling bertukar tatap.
“You want to be with me that much?” tanya Damar.
Tegas kepala Radinka mengangguk. “Aku sayang sama kamu, Mas. Aku selalu ngerasa dicintai dan dihargai segitu besarnya dari kamu. Yang terpenting juga, Vien bisa nemuin peranan seorang ayah, selain dari aku, yang selama ini ga pernah dia dapatin dari Jeremy. I'm sure my life and also Vien's life are gotta be so perfect if we are with you, Mas,” ucapnya.
“That's why you fought for it so badly in the family dinner.”
“Yes,” jawab Radinka cepat. “But I also feel so bad to Nolan. Dia jadi blaming diri dia sendiri buat sesuatu yang ga seharusnya begitu. He feels so sorry to me because of the rules yang ga bisa diganggu gugat dari ayahnya itu.”
“Kamu udah ngelakuin hal yang benar, Radin. Perkara Nolan, justru saya rasa dengan begitu kamu bisa bikin dia sadar untuk memprioritaskan kebahagiaan dia. Kamu pernah bilang ke saya kalau kamu pengen banget ngelihat Nolan bahagia dengan pilihannya sendiri. Mungkin dengan kejadian malam ini, kamu udah membantu dia untuk a lil bit closer to reach his own happiness.”
“Iya sih, Mas. Semoga yang aku lakuin emang terbaik juga buat Nolan, ga cuma buat aku.”
Dagu Radinka digamit dan diangkat oleh Damar. Seketika ia menyatukan bibirnya pada labium sang kekasih. Mata mereka otomatis terpejam seiring cumbuan lembut itu terpatri menjadi lumatan pelan.
“Terima kasih hari ini sudah berjuang untuk kebahagiaanmu dan Vien, Radin. Terima kasih karena sudah berjuang juga untuk kita,” hatur Damar di sela ciuman yang sempat terlepas.
“Sama-sama, Mas. Terus berjuang sama aku ya?”
“Pasti, Radin. Pasti.”
Tangan Radinka menarik leher Damar agar wajah mereka kembali mendekat. Bibir keduanya kembali menempel dan kali ini ciuman menjadi lebih intens. Damar menyelipkan lidahnya di antara belahan bibir Radinka, sehingga hisapan-hisapan mulai terasa, dan saliva mulai saling bertukar.
Radinka merasa malam ini ia ingin terus mencumbui bibir kekasihnya. Kedua tangannya pun mengalung pada leher Damar dan menekan kepala sang pengacara agar memperdalam ciuman mereka. Kepala keduanya saling miring ke kanan dan ke kiri secara bergantian. Tampak jelas bahwa ciuman itu sangat dinikmati hingga keduanya tenggelaman dalam rasa manis yang tersalur melalui tautan basah itu.
“It's time to sleep, pumpkin,” ucap Damar lirih sembari melepaskan ciuman yang menyisakan benang saliva.
“Kamu harus pulang ya, Mas?”
“Iya. Saya harus bawa Miguel pulang juga.”
“Seems like I really need to wait any longer until we sleep together, right?”
Damar terkekeh mendengar pertanyaan Radinka. Maka ia kecup kening dan hidung Radinka secara bergantian sembari menjawab, “Nanti ada waktunya saya habiskan hari saya sama kamu, dari matahari terbit sampai matahari tenggelam, dari terang sampai gelap, dan dari mata kamu kebuka ngelihat saya sampai mata kamu mau tertutup pun ngelihat saya. Until that day comes, let's take everything slowly in this relationship, Radin. Perlahan sembari trauma kamu sembuh.”
Kedua lengan Radinka yang masih bertengger di leher Damar pun mengeratkan pelukan. Damar dan Radinka saling mendekap erat untuk menyalurkan rasa sayang yang membuncah.
“Thank you for always being considerate towards my condition. It makes me fall for you even harder like in every minutes.”
“Your health, happiness, and comfort are the priority now, Radin.”
“Thank you so much, Mas Damar, Aku sayang kamu.”
“Saya juga sayang dengan kamu, Radin.”
Pelukan itu semakin erat. Malam yang kian dingin tak pula dirasakan oleh sepasang kekasih ini.
“Sekarang tidur ya? Saya bakal terus peluk kamu sampai kamu tidur.”
“Oke, Mas. Nighty night.”
“Good night, pumpkin. Tidur yang nyenyak.”
schonewords