damaradin's touch


CW // kissing


Pasca menemani Javien tidur hingga terlelap nyenyak, Damar dan Radinka memutuskan untuk kembali ke kamar Radinka. Layaknya malam-malam sebelumnya, Damar merebahkan diri di samping Radinka, mendekap tubuh mungil itu dengan erat, dan menghujani wajah tampan yang tampak lelah itu dengan ciuman-ciuman ringan.

“Capek ya hari ini?” tanya Damar sembari mengelus kepala Radinka dengan lembut.

“Banget,” jawab Radinka. “After this super tiring day, all I need is your hug, Mas.”

Damar tersenyum. Dipeluknya kian erat tubuh Radinka yang langsung dibalas pelukan tak kalah erat dari kekasihnya itu. Tak luput pula kecupan hangat dibubuhkan oleh Damar pada kening Radinka.

It's almost over, right, Mas?” tanya Radinka.

“Iya. Almost.”

Seketika suara kekehan lolos dari mulut Radinka. Dilonggarkannya pelukan untuk menengadahkan kepala hingga bersitatap dengan Damar.

“Kapan dong ga 'almost' lagi?” tanya Radinka dengan nada menggoda.

Soon. Kalau udah clear semuanya dan semua keluarga Tanwira ga keberatan lagi, it's totally over.”

Jawaban Damar ternyata tak memuaskan hati Radinka. Bibirnya mencebik dan tangannya memukul dada kekasihnya itu pelan.

“Ck, kamu ga peka, Mas.”

Mendengar itu, Damar pun terkekeh. Direngkuhnya erat lagi tubuh Radinka yang sempat melonggar dari pelukan.

“Saya terlalu tua buat dikodein begitu, Radin,” ucap Damar disela tawanya.

“Ih iya deh, emang pacarku ini udah tua. Udah om-om jadi susah dikodein,” cibir Radinka dengan nada bercanda.

Damar mendekatkan mulutnya hingga tepat berada di depan telinga Radinka. Ia pun berbisik, “Saya emang tua, tapi bukan berarti saya ga pinter nangkep kode kamu, pumpkin. It's over when I marry you later. Itu kan yang mau kamu dengar?”

Mata Radinka membelalak. Lengan Damar pun dipukul pelan, menciptakan gelak tawa dari Damar.

“Bisa usil juga kamu, Mas.”

“Emangnya saya se-kaku itu?”

Kinda.”

“Hmm,” Damar kembali mendekatkan wajahnya pada wajah Radinka. “Then should I show you more this side of me?”

Wajah Radinka memerah mendengarnya. Sempat ia mundurkan kepalanya, tapi dari bagian belakangnya sigap ditahan oleh Damar.

Pumpkin, the answer?”

Radinka mencoba menarik sudut bibirnya, hingga tercipta senyuman kikuk. Matanya mengerjap lucu dan kepalanya mengangguk. Kedua tangannya menangkup wajah Damar untuk diberi elusan lembut pada pipinya.

“Kamu boleh nunjukkin semua sisi kamu, Mas. Mau kamu yang kaku, serius, usil, dan yang lain-lainnya. Aku pasti tetap suka.”

Damar tertawa kecil mendengar jawaban Radinka. Tanpa bersuara lagi untuk menanggapi, Damar justru memajukan wajahnya. Bibirnya menempel pada bibir Radinka. Sebuah ciuman mesra dibubuhkan hingga membuat keduanya otomatis menutup mata dan memiringkan kepala.

Perlahan bibir keduanya saling melumat. Cumbuan panas mulai tercipta seiring napsu yang kian memuncak. Tubuh mereka sudah saling berpelukan erat dan berdempetan hingga tak ada lagi jarak yang tersisa.

“Hmmhh,” Radinka melenguh ketika merasakan bibirnya dihisap kuat oleh Damar.

Telinga Damar menangkap lenguhan tersebut. Libidonya seketika meningkat. Ia menekan kepala Radinka, memperdalam ciuman, bahkan sampai menghisap lidah kekasihnya itu.

Di sisi lain, Radinka pun enggan membiarkan Damar mendominasi ciuman. Ia berusaha untuk menyesap kuat bibir bagian atas milik Damar. Pelukan pada leher Damar pun dieratkan dengan jemarinya yang terselip di antara surai gelap Damar.

“Mmhh—Mas....”

Ciuman terlepas karena nyatanya dua pria itu membutuhkan asupan oksigen yang kian menipis dari paru-paru. Jarak wajah keduanya berdekatan hingga embusan napas menerpa wajah satu sama lain.

Ibu jari Radinka mengusap bibir Damar yang kini basah dan mengkilat. Senyuman terulas seiring ia berucap lirih, “It's crazy how I always addicted to your lips, Mas.”

“Kamu ga sadar ya kalau bibir kamu jauh lebih bikin saya gila, Radin? Setiap saya lihat bibir kamu, saya selalu berusaha nahan diri buat ga nyium kamu.”

Radinka terkekeh. Ia pun mengecup bibir Damar sekilas dan menanggapi dengan, “Oh, jadi ini salah satu sisi lainnya kamu yang harus aku tahu ya, Mas?”

“Iya, sayang,” jawab Damar setengah berbisik. “And perhaps this one.”

Damar berucap sembari menyelipkan tangannya masuk ke dalam kaus yang dipakai oleh Radinka. Seketika Radinka membelalakkan matanya, terperanjat merasakan dinginnya telapak tangan Damar menyentuh kulit punggungnya.

“M-mas....”

I won't do more than this, pumpkin. Pelan-pelan, saya sentuh kamu, supaya kamu mulai berani melawan ketakutan dan trauma kamu.”

Bibir Radinka seketika mengatup dalam bungkam. Tangannya terasa bergetar tatkala meremas bahu Damar.

Relax, pumpkin. Cuma saya elus aja.”

Damar membelai lembut punggung Radinka. Ia pun turut memberikan kecupan-kecupan ringan di dahi kekasihnya yang tampak mulai lebih tenang dan terbiasa dengan sentuhannya.

“Gapapa kan, sayang? Saya ga nyakitin kamu kan?” Damar bertanya dengan lembut dan tangannya masih mengusap punggung Radinka.

“Iya, Mas. Gapapa. Aku ... kayaknya juga udah mulai terbiasa.”

Senyuman tersungging di wajah Damar. Dapat ia rasakan cengkeraman Radinka pada bahunya sudah mulai melonggar. Raut muka Radinka pun sudah tampak lebih santai dan mulai menikmati sentuhan sensual nan lembut dari Damar. Pelan-pelan Damar pun memindahkan elusannya pada perut rata milik Radinka.

“Hmm....”

Radinka melenguh tertahan ketika merasakan perutnya tergelitik. Sensasi geli dan nikmat mulai menyelimuti dirinya. Untuk beberapa menit, Damar terus mengelus punggung dan perut Radinka bergantian guna membiasakan sang kekasih dengan sentuhan selembut kapas darinya itu.

Done,” gumam Damar dan kembali memeluk Radinka. “How was it? Did I hurt you somewhere? Or did I scare you?

Kepala Radinka menggeleng dalam dekapan Damar. “It was good, though. Makasih, Mas, udah initiate to do that buat bantu aku,” ucap Radinka.

“Saya udah pernah bilang, saya bakal bantuin kamu untuk sembuh dari trauma kamu. Asalkan kamu percaya sama saya.”

Radinka melonggarkan pelukan dan menengadah. Netranya bertemu dengan obsidian Damar yang teduh. Keduanya saling melemparkan senyuman termanis mereka yang diselingi kecupan ringan.

“Aku selalu percaya sama kamu, Mas, karena aku sayang sama kamu.”

“Aku juga sayang sama kamu, Radin.”

Mulanya Radinka mengangguk. Namun detik berikutnya, netranya membelalak dan mulutnya terbuka karena terperangah.

“Sebentar,” gumam Radinka lirih. “Mas, barusan kamu bilang ... 'aku'?”

Damar mengulum senyumnya dan mengangguk pelan.

Gosh ... Mas Damar, boleh ulangin lagi ga?”

Kekehan pun lolos dari mulut Damar sembari bertanya, “Aku harus ngulangin apa lagi, pumpkin?”

Damn you, Damar Hannan!”

Radinka memeluk Damar dengan sangat erat. Di balik punggung mungil itu, Damar tertawa kecil sambil membalas pelukan tak kalah erat.

“Mas, makasih udah bikin aku bahagia terus. Malam ini pun aku seneng banget because of your first touch and first 'aku'. Makasih banyak, Mas Damar.”

“Aku senang bisa bikin kamu senang, Radin.”

Kedua pria itu bersamaan melonggarkan pelukan. Seketika bibir mereka kembali menyatu dalam cumbuan lembut dan hangat. Senyuman terulas di wajah mereka tatkala ciuman singkat itu terlepas.

“Aku bakal bikin kamu bahagia juga, Mas. I can't wait to the day I become your husband, gotta make you happy, and to see your smile every day, every time, every minutes.”

“Sebentar lagi, pumpkin. Kita usahakan untuk saling membahagiakan satu sama lain ya.”

Radinka mengangguk. Dikecupnya pelan pipi Damar dan berkata, “I'm so lucky for having you, Mas.”

So do I, Radin.”


schonewords