damar’s proposal to radin
CW // kissing
Matahari sudah cukup lama terbenam. Makan malam sudah dilakukan sehabis sesi memanggang daging ala Radinka yang disuguhkan untuk Damar dan Javien. Tak terasa waktu pun telah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.
Javien sudah terlelap nyenyak di dalam tenda yant dipastikan nyaman oleh Damar. Radinka juga turut membantu untuk mengenakan jaket dan selimut tebal yang kini sudah membungkus tubuh mungil itu agar kiranya dinginnya malam khas daerah perbukitan tak menganggu tidur sang anak.
Tersisalah Damar dan Radinka yang masih terjaga. Keduanya duduk beralaskan tikar tepat di depan pintu tenda yang tertutup, membiarkan seorang bocah kecil menikmati perjalanan ke dunia mimpi di dalam sana.
“Mas Damar, makasih ya udah bawa aku sama Vien ke sini. You are so well-prepared for this. Keren banget,” tutur Radinka.
Damar tersenyum. Kepalanya seketika bersandar pada bahu mungil Radinka dan sekilas mengecup leher kekasihnya itu.
“Aku udah pernah bilang bakal mengusahakan apapun untuk bikin kamu sama Vien bahagia, Radin.”
“And I’m so thankful for it.”
Radinka mengecup puncak kepala Damar, membuat sang pengacara hebat itu mengangkat kepalanya. Jarak wajah mereka berdekatan, sehingga hasrat pada satu sama lain diturutin—sebuah kecupan ringan mereka bubuhkan pada bibir satu sama lain.
Perlahan keduanya saling berhadapan. Radinka sigap mengalungkan lengannya pada leher Damar, pun Damar yang mencengkram pelan kedua sisi pinggang Radinka. Pada akhirnya bibir mereka menyatu dalam sebuah cumbuan mesra. Tautan itu lembut, tanpa tuntutan, bahkan tak tersirat napsu yang membara. Hanya sebuah ciuman penyalur rasa cinta mereka yang begitu besar.
“I love you so much, Mas Damar,” bisik Radinka begitu tautan bibir mereka terlepas.
Damar tersenyum. Salah satu tangannya berpindah untuk menangkup pipi sang kekasih dan membubuhkan kecupan selembut kapas pada keningnya.
“My love for you can’t even being described by words anymore, Radin,” balas Damar.
Keduanya kembali pada posisi normal. Radinka kali ini yang menyandarkan kepalanya pada bahu Damar, membuat kepala Damar secara otomatis bersandar pula pada kepala sang kekasih.
Dinginnya malam ini tak mengganggu mereka. Nyatanya cuaca itu justru membuat keduanya semakin menempelkan tubuh lebih rekat dengan Radinka yang dirangkul oleh Damar di dalam rengkuhan hangat.
“Mas, aku boleh nanya sesuatu?” tanya Radinka.
“Sure. Go ahead. What is it?”
“Kenapa kamu seperhatian dan sesayang itu banget sama Vien?”
Senyuman manis terulas di wajah Damar. Dieratkan rangkulan tangannya pada bahu mungil Radinka. Satu tangannya lagi sudah menautkan jemari dengan milik Radinka dalam genggaman.
“Vien harus tumbuh jadi anak yang selalu merasa cukup. Aku mau dia ngerasain kebahagiaan yang cukup di masa kecilnya, ngerasa cukup terpenuhi untuk hal apapun, entah itu tentang materi ataupun kasih sayang. Aku juga mau dia tahu gimana rasanya tumbuh bersamaan dengan rasa cukup dari perhatian yang dia dapatin dari orang-orang terdekatnya.”
Jawaban itu sontak membuat Radinka mengangkat kepalanya dan menengadah. Netranya bertemu dengan obsidian teduh milik Damar yang bertemankan senyuman manis di wajah pengacara tersebut.
Damar menambahkan, “Since he was born, he didn’t get it, Radin. He was born unlucky because his parent passed away. Then he was lucky for being adopted by you, but he should faced a lot of hardships because of Jeremy. Sepuluh tahun di awal hidupnya udah ngerasain banyak kesulitan. Aku rasa udah cukup. Udah waktunya Vien tumbuh dengan semestinya anak-anak seumuran dia yang dapat perhatian, kasih sayang, dan diprioritaskan kebahagiaannya.”
Air mata Radinka mulai berlinang. Tatkala ia berkedip, genangannya mengalir di pipi ayah satu anak itu. Segera tangan Damar menyeka air mata kekasihnya dan menangkup kedua pipi itu.
“Aku tahu rasanya tumbuh tanpa orang tua, Radin. Kamu pun pasti tahu gimana beratnya hidup tanpa perhatian dari orang tua padahal mereka masih lengkap. Jadi, usahain jangan sampai Vien ngerasain hal yang sama ya,” ujar Damar.
Radinka mengangguk. Perlahan senyuman terulas di wajahnya. Dengan lirih ia berkata, “Mas Damar, kamu baik banget. I can tell that you’re going to be the best father soon. Kamu tahu banget caranya menenangkan hati aku dan Vien, sampai bisa tahu how to acts and what to do to make us happy. Aku ga tahu harus berterima kasih gimana lagi ke kamu.”
Sisa air mata Radinka masih senantiasa diseka oleh Damar. Wajah mungil yang ditangkup itu sempat ditarik mendekat guna dibubuhkan kecupan pada ranum merah muda Radinka.
“Mulai sekarang lebih banyak tersenyum ya, pumpkin.”
“Iya, Mas.”
“You know, Radin, I love the feelings and the butterflies I get when I see you smiling, when I see Javien smiling. I also would like to keep smiling because of you two and gonna let the world knows that three of us are happy for being the reasons behind our smiles. So….”
Ucapan Damar menggantung seiring tangannya merogoh sesuatu dari saku jaketnya. Tatkala sebuah kotak kecil dikeluarkan dan dibuka, Radinka seketika membelalakkan matanya menatap sepasang cincin silver yang ada di dalam kotak tersebut.
“Mas Damar, ini—”
“So, may I see those smiles of yours and Javien’s and become the reason behind it for the rest of my life, Radinka?”
Senyuman di wajah Radinka merekah. Air mata jelas kembali menggenang di pelupuk mata yang segera ia usap. Iris netranya kembali bertemu dengan manik Damar yang tenang.
“Aku ga punya alasan untuk bilang ‘ngga’. So, it’s a ‘yes’, of course. Let’s us smile a lot to share our happiness together, Mas Damar. This is totally what I’m waiting for.”
Degup jantung keduanya berdebar cepat, tapi rasa bahagia tentu mendominasi beriring kupu-kupu berterbangan di perut mereka. Pasca mendengar jawaban Radinka, tanpa ragu lagi Damar menyematkan cincin di jari manis kekasihnya.
“Kenapa ada dua cincinnya? Biasanya kalau orang propose gitu cuma satu, Mas,” ujar Radinka dengan dahi yang mengernyit menatap satu cincin lagi di dalam kotak tersebut.
Damar tersenyum. Sembari menyodorkan kotak itu kepada Radinka, ia menjawab, “Never even once I wanna fully dominate everything in our relationship. So, now I’m letting you to propose me as well. I know it’ll make you happy, right?”
Iris mata Radinka melebar, pun senyumnya merekah. Ia sempat terkekeh pelan dan kemudian mengangguk.
“You know me that well. As always, a very considerate of you, Mr. Damar Hannan,” Radinka berucap disela tawa kecilnya. “Jadi, Mas Damar, aku mau menua sama kamu, ngelihat pertumbuhan Javien bareng-bareng, dan ngehadapin banyak hal dengan saling nguatin. Will you do it with me, Mas?”
Tak ada lagi ekspresi lain selain tersenyum bahagia yang terlukis di wajah Damar. Kepalanya mengangguk dengan mata yang saling bersitatap dengan Radinka seraya menjawab, “Dengan senang hati aku mau ngelakuin itu semua sama kamu, my dear pumpkin.”
Radinka pun tersenyum dan sigap mengambil cincin satunya. Disematkannya dengan perlahan ke jari manis Damar.
Setelahnya, kedua pria itu saling melempar senyuman. Radinka memajukan tubuhnya dan memberi kecupan singkat pada bibir Damar.
“Makasih banyak, Mas Damar. I got another happy day because of you. My heart feels so full now. Also, thank you for asking.”
“So does mine, Radin. Makasih juga udah nerima lamaran aku dan nanya balik.”
Sepasang kekasih itu pun saling berpelukan. Sekilas mereka saling bercumbu mesra untuk mengalirkan rasa bahagia dalam tautan lembut pada bibir mereka.
Kehangatan menyelimuti Damar dan Radinka. Jemari mereka bertaut, membawa tatapan mereka tertuju pada jari manis yang sudah dilingkari cincin kembar berwarna perak itu.
“Papih,” suara Javien menginterupsi dari dalam tenda.
Damar dan Radinka bergerak cepat membuka pintu tenda untuk masuk ke dalam. Terlihat Javien yang tampaknya hanya terbangun sebentar untuk memanggil sang papi.
“Ya udah sekarang kita tidur juga yuk,” ajak Damar.
“Iya, Mas,” tanggap Radinka.
Maka Damar dan Radinka berbaring di sisi kanan dan kiri Javien. Mereka pun memeluk Javien secara bersamaan dengan tangan yang saling menggenggam.
Malam ini semesta kiranya tengah berbaik hati. Dibiarkannya kehangatan menyelimuti tiga orang yang pernah berjuang penuh luka, untuk kini menjadi obat pencipta bahagia. Mulai dari malam ini, ketiganya menguntaikan harap disela suka cita, memohon agar kebahagiaan ini tak luput dan senantiasa membersamai mereka.
Sederhananya, momen indah ini menjadi awal dari perjalanan indah Damar, Radinka, dan Javien menuju ke masa bahagia di depan mereka menjadi satu keluarga kecil yang utuh.
schonewords